Semua orang menantikan detik-detik pergantian tahun, kulihat dari sudut jalan merayakan simbol gaya hidup dari teriakan terompet, teriakan klakson motor dan mobil berparade. Gempita musik mix amarah hampir disetiap sudut kota ibarat kios rokok yang hadir setiap 100 meter berpesta pora memakan darahnya sendiri.
Namun disisi lain di kaum urban mereka semakin merintih melihat, mendengar setiap teriakan kepapaan. Terbayang keinginan untuk dapat sarapan seperti khalayak yang berpesta pora hanya mimpi penghibur diwaktu tidur.
Aku bertanya pada diriku, “Apakah pesta pora ini akan terus berlangsung setiap tahun?”
memang sulit tuk dijawab dan itu bukan untuk dijawab, tetapi semua orang berperan untuk memecahkan permasalahan pesta pora dimulai dari sekarang.
Kucoba tuk membayangkan, apabila pesta pora dialihkan untuk membangun daerahku kota Pontianak tercinta mungkin rintihan kaum urban terluka yang mendengar gegap gempita pesta pora bisa sedikit terobati.
Janji politik untuk pendidikan hanya isapan jempol kaki kiri.
Aku berdoa semoga rintihan mereka (red; Kaum Urban) bisa didengar dan mereka tidak merasa kelaparan akan naungan pendidikan. semoga kepapaan mereka terobati ….





