
Monday, 16 Sept 2019
Class Fundamental of Water engineering
Class Colombo Theatre 12.00-16.00
Hari Senin tanggal 16 September 2019 adalah hari pertama saya kuliah di Master Civil Coursework di UNSW, Sydney. Kuliah pertama ini membuat saya memutar memori 8 tahun yang lalu ketika saya pada bulan yang sama di tahun 2011 lulus sebagai ST (Sarjana Teknik) dari Universitas Diponegoro, Semarang.
Menjadi pengalaman yang sangat seru untuk saya bisa mewujudkan salah satu cita-cita saya untuk bisa sekolah di luar negeri dengan gratis. GRATIS??? Satu kata yang bisa benar dan bisa juga tidak benar. Benar dalam arti saya tidak mengeluarkan biaya dari kantong sendiri atas biaya kuliah dan biaya kebutuhan hidup di Sydney. Tidak benar dalam arti, pemberian beasiswa ini memiliki konsekuensi ke depannya, kontrak kerja, tanggung jawab moral dan sosial. Terkait penjelasan kontrak kerja, tanggung jawab moral dan tanggung jawab sosial akan saya jelaskan di tulisan yang lain. CAS (Catatan Agus Susi) kali ini saya akan bercerita tentang komposisi mahasiswa, bagaimana materi kuliah disampaikan.
Di CAS (Catatan Agus Susi) ini saya akan berbagi pengalaman kuliah pertama saya di UNSW. Australia dikenal sebagai negara bule, negara maju, dan salah satu negara dengan kualitas pendidikan tinggi yang masuk top 50 dunia. Fakta yang saya hadapi, ternyata komposisi mahasiswa yang hadir pada matakuliah yang saya ambil adalah 99 % mahasiswa Asia ( China, India, Pakistan, Bangladesh, Indonesia) dan 95% dari 95% mahasiswa Asia adalah mahasiswa yang berasal dari China. Semoga penglihatan saya mendekati data administrasi yang resmi, karena saya hanya mengandalkan penglihatan saya. Beruntungnya saya tidak sendirian sebagai mahasiswa asal Indonesia, ada satu lagi teman saya @ayasansor lulusan ITB yang sedang digembleng Abinya untuk melanjutkan dan mengembangkan gurita bisnis keluarganya.
Situasi kelas yang saya gambarkan di atas, membuat saya tertawa dalam hati serta buru-buru posting feed di Instagram (@agussusie) dengan redaksi “Suatu hari di negara bule yang ku tak melihat bule” dengan foto yang menggambarkan situasi di kelas. Kebetulan saya mengambil sudut dari kursi paling belakang. Mengapa saya duduk dibelakang? Karena saya harus mengatur waktu antara Sholat dan Jam kuliah. Saya memutuskan sholat dhuhur dulu kemudian lari menuju kelas yang dimulai pukul 12.00 Waktu Australia (GTM+10).
Hal baru yang saya temui saat pertama kuliah di UNSW adalah, mata kuliah ini diajarkan sebuah kelas besar lebih dari 75 orang atau disini disebut dengan “lecture” dengan durasi 2-4 jam. Kelas tersebut menggunakan “Theatre” dengan dua layar depan di depan atas, satu meja podium serta posisi tempat duduk yang semakin ke belakang semakin meninggi, bayangkan saja sedang menonton bioskop, tapi filmnya adalah materi kuliah. Jika saya bandingkan dengan kelas waktu kuliah S1, model kuliah seperti ini mungkin hanya disampaikan kalo ada seminar-seminar saja. Fakta selanjutnya adalah, ternyata kelas ini tidak pakai absen, bisa dibayangkan kalo saya atau kita sedang lemah iman, bisa-bisa memilih untuk absen kelas. Meskipun kita absen masuk kelas, mahasiswa masih bisa mendapatkan materi secara online lewat “Moodle” semacam aplikasi yang isinya semua materi kuliah plus rekaman pengajaran “lecture recording” atau Bahasa mahasiswa disini adalah “lectcord”.
Mau pilih mana? Masuk kelas? Atau Belajar online?