Saturday, January 03, 2026

Kinerja Investasi Saham 2025

Setelah sekian lama dorman dan momen tahun baru 2026, hal yang cukup pas untuk menulis kembali perihal kinerja investasi saham pribadi di BEI. Perhitungan kinerja investasi saham dilakukan dengan metode seperti Reksadana (mulai dari indeks 1000) mengikuti yang dijelaskan di Bolasalju, dimana juga mempertimbangkan multiple account sekuritas.

Perhitungan basis tahun dimulai dari 2021, meskipun saya sudah mulai belajar investasi dan punya akun sekuritas yang pertama di sekitar tahun 2009. Hal itu murni karena sebelumnya belum paham bagaimana menghitung kinerja investasi saham yang ‘relatif tepat’, dengan mempertimbangan dana masuk/keluar, beberapa akun sekuritas dan perhitungan tahun berjalan (YTD: Year-to-Date atau ITD: Inception-to-Date).

Hasilnya seperti pada gambar di bawah, secara keseluruhan:

- IHSG secara tahunan 2025 tumbuh 22.13%, sebuah pencapaian yang bagus meskipun banyak dipengaruhi oleh saham-saham tertentu yang dibuktikan dengan indeks LQ45 yang hanya tumbuh 2.45% saja.

- Sejak 1 Januari 2021 hingga 31 Desember 2025 (5 tahun), IHSG tumbuh secara kumulatif total sebesar 44.62%, sedangkan LQ45 malah turun -9.45%. Secara CAGR atau kumulatif per tahun, selama 5 tahun IHSG menghasilkan kinerja majemuk (CAGR) 7.66% per tahun sedangkan LQ45 malah menghasilkan CAGR -1.97% per tahun.

Alhamdulillah.. dalam periode yang sama, investasi pribadi menghasilkan kinerja total 64.74% atau CAGR 10.50% per tahun. Untuk 2025, investasi pribadi memberikan 28.80%.

Investasi pribadi dibagi dalam 4 akun sekuritas sesuai profil di bawah. Kenapa sampai sebanyak itu? Ide awalnya setiap akun punya tujuan dan cara eksekusi berbeda, meskipun akhirnya tidak selalu konsisten dalam prakteknya 😊

Sehingga bisa disimpulkan bahwa investasi pribadi baik kinerja total, CAGR dan tahunan 2025 lebih tinggi dibandinkan IHSG apalagi LQ45. Meskipun di tahun 2021 dan 2023, kinerja pribadi secara tahunan lebih rendah dibanding IHSG.

Mungkin salah satu pembeda Adalah bahwa kinerja pribadi secara otomatis sudah memperhitungkan dividen yang diterima, sedangkan di IHSG ketika sebuah emiten memberikan dividen maka harga saham nya biasanya turun pada cum-date sesuai dengan nilai dividen per saham nya. Meskipun kemudian harga saham bisa “recovery” atau tetap turun sesuai dengan kinerja emiten itu sendiri.

Terkait dividen, berikut profil dividen yang diterima sepanjang 2025 (lumayan buat ayem-ayem😊).

Secara peningkatan nilai aset, terdapat kenaikan nilai investasi saham dari awal 2021 sampai akhir 2025 (termasuk penambahan/penarikan dana, unrealized loss/profit, dan dividen diterima) sebesar lebih dari 5x lipat. Dimana IHSG sendiri, terjadi kenaikan market cap dari 31 Desember 2020 sebesar Rp 6,586.99 Triliun (IHSG 6,090.70) menjadi sekitar Rp 16,000 T di akhir 2025 (IHSG 8,646.94).

Tentu tantangan selanjutnya untuk menjaga konsistensi kinerja investasi saham selama 5 tahun kebelakang ke nilai investasi yang saat ini sudah lebih besar dibanding 5 tahun lalu untuk terus bertumbuh.

Bismillah.. Semangat! 😊

Thursday, December 19, 2024

19. Jurnal Paper (2024): Incorporating Modularity Approach during Planning Stage for Greenfield Gas Development

Greenfield project is viewed of having less technical complexity compared to brownfield one. In gas development project, greenfield is yet heavily influenced by other complexities such as hydrocarbon evacuation and commercial arrangement. Unlike oil projects, a gas project would never be sanctioned if there is no clarity in the arrangement of sales and its commerciality.

Furthermore, for certain projects which have limited economics, the development concept will play a significant role in determining project feasibility. Some scenarios of cost deployment may be involved such as staging development and buy or rent option. The keys are to optimize project schedule and project cost to meet the minimum economic threshold.

Technology selection will also be critical to optimize the first-gas timeline and its cost. In addition, modular facilities have been matured up in recent years, so that project schedule can be compressed to accelerate the production. It is also expected that cost optimization can be further exercised to support the project economics particularly for marginal development project.

This paper discusses the modularity approach during the planning stage has changed the development strategy and project cost. It is a greenfield development with limited volume of hydrocarbon in typical PSC terms applied in Indonesia. In addition, the possible implementation of CCS program will add burden in the economics that potentially sets project as marginal development.

Keywords: greenfield gas development project, modular facilities, modularity approach, project schedule, project cost, cost optimization, schedule compression

Find out detail at: Jurnal IAFMI Edition-16 published December 2024

Saturday, July 24, 2021

Melihat Laporan Keuangan Berkshire 2020

Saya tertarik melihat kembali Laporan Keuangan (LK) Berkshire Hathaway Inc. (BRK) tahun buku 2020, sebuah perusahaan investasi besar di US dengan CEO & Chairman Warren Buffet (WB), yang kekayaan nya diatas USD 100 billion (sebagian besar dalam bentuk valuasi saham BRK). Laporan keuangan 2020 BRK bisa diperoleh dari link berikut: https://berkshirehathaway.com/2020ar/202010-k.pdf.

Dalam tulisan ini, hanya akan melihat 2 bagian summary dalam LK BRK + 1 hal unik yang selalu ada di cover Letter WB. Untuk Letter WB atas kinerja BRK tahun 2020 bisa diperoleh disini: https://berkshirehathaway.com/letters/2020ltr.pdf.   

1. Posisi Aset (Assets)

Dari summary asset di akhir 2020, nilai saham yang dipegang BRK (marketable securities/perusahaan terbuka atau tbk) sebesar USD 281 bn, yang dihitung sesuai harga market 31 Desember 2020. Dengan total asset BRK sebesar USD 873 bn, maka sekitar  32% komposisi asset dalam bentuk equity securities dan cash & equivalents termasuk T-bills sektar USD 150 bn atau 17% dari total asset.  

Diluar equity securities dan cash & equivalents tersebut, artinya lumayan besar porsi direct investment (porsi sekitar 51% asset) di perusahaan yang dibukukan baik dengan metode pembukuan equity-method (BRK termasuk controlling group, meskipun anak perusahaan tersebut tbk) maupun dengan metode consolidated (aset & liabilitas anak usaha dimasukan ke dalam buku LK Berkshire) dimana BRK sebagai controlling group (pemegang saham yang bisa mengendalikan perusahaan) dan anak-anak usaha non-tbk. 

Ada 2 poin yang menarik dari posisi aset tersebut:

- Kalau hanya membandingkan total asset equity securities (saham perusahaan tbk) dan cash equivalents saja maka komposisi nya menjadi 65% vs 35%. Artinya komposisi tersebut masuk dalam range komposisi Portfolio Saham dan Kas yang disarankan Benjamin Graham antara 25-75% (Ref: The Intelligent Investors). Graham sendiri adalah panutan dan mentor WB. 

-  BRK sebagai perusahaan holding investasi, ternyata porsi asset securities & cash nya 'hanya' 51%, dan 49% nya adalah dari operating companies sebagai anak usaha nya. Jadi, terdapat manajemen resiko yang historically proven di BRK terutama saat menghadapi kemungkinan market crash di pasar saham. 


2. Pendapatan (Revenues)

Yang juga menarik adalah komposisi pendapatan BRK 2020, dimana mayoritas berasal dari anak usaha operasional (operating companies) USD 237 bn. Lalu, pendapatan dari dividen saham sebesar USD 8 bn atau dividend yield (tingkat dividen, nilai dividen dibagi harga saham) sekitar 3% dari nilai saham nya (USD 281 bn). Sedangkan estimasi capital gain dari nilai investasi USD 40 bn. 


Seperti yang dijelaskan di Letter WB, gain dihitung dari biaya yang dikeluarkan BRK untuk membeli saham tbk dan harga saham tersebut per 31 Desember 2020. Tentunya pendapatan gain untuk 2020 adalah khusus perubahan harga saham selama 2020, diluar tahun-tahun sebelumnya. 

Terdapat 2 poin juga yang bisa diambil dari profil pendapatan BRK 2020 tersebut:

- Dividend Yield (DY) 'wajar' secara tahunan dari saham di pasar adalah 3%, ini bisa menjadi kriteria yang digunakan jika ingin menjadikan histori DY sebagai salah 1 pertimbangan memilih saham. Meskipun secara histori, harga saham naik turun sehingga dimungkinkan juga penyesuaian hingga misal 2% atau bahkan 1% tergantung jenis industri.  

-  Estimasi kenaikan nilai saham (capital gain securities) untuk tahun 2020 sebesar USD 40 bn, artinya secara persentase adalah 40 / (281 - 40) = 18.1%. Hasil ini tentu saja sangat impresif dalam setahun capital gain, dengan dana yang di investasikan sebesar itu tentu lebih sulit mendapatkan return tahunan 18.1% tersebut (relatif lebih mudah mencetak return 20% dari 1 Juta dibandingkan dari 1 Triliun karena konsekuensi resiko yang lebih besar). Plus DY maka secara total kinerja investasi tahun 2020 di pasar sekitar 21%. 

3. Return tahunan nilai saham 

Ini hal yang menarik untuk melihat kinerja saham BRK dibandingkan dengan kinerja saham  dalam S&P 500 (500 saham yang dimasukan dalam kelompok oleh Standard & Poors). Histori dimulai di 1965 hingga 2020, menghasilkan total kenaikan saham BRK sebesar 2.8 juta % (iya, diatas 2 juta persen!), dibandingkan S&P 500 sebesar 23.4 ribu %.    


Jika dihitung menggunakan CAGR (compounded annual growth of return) atau bunga majemuk (dalam istilah sederhana bunga ber-bunga), capaian CAGR saham BRK sebebar 20% per tahun vs S&P 500 sebesar 10.2% per tahun. Bisa juga diartikan kenaikan harga saham BRK rata-rata 20% per tahun, sekitar 2 kali dari kenaikan harga saham dalam kelompok S&P 500. Meskipun dalam tahun-tahun terteentu, saham BRK tidak selalu 'mengalahkan' S&P 500, namun secara jangka panjang mampu berkinerja diatas market. 

Jadi, investors yang membeli saham BRK sehingga terdapat kenaikan harga saham BRK di pasar tentu melihat kinerja perusahaan BRK. Dan berbicara tentang kesatuan perusahaan BRK, kinerja tersebut merupakan kombinasi antara capaian operating companies dan market value (termasuk dividen) dari investasi securities yang dilakukan di pasar dengan baik. Sebuah contoh yang sangat baik!