Beni seorang murid SD kelas 3 di salah satu Sekolah Dasar Malang, bunuh diri karena tak mampu membayar biaya 2.500 untuk ekstrakulikuler, karena malu dengan temannya dan juga terhimpit dengan kemiskinannya, maka ia pun nekad bunuh diri.
Dalam kasus ini dapat kita aplikasikan melalui teori suicide yang mana dikemukakan oleh Emile Durkheim, yakni tergolong suicide egoistic yakni bunuh diri atas kepentingan diri sendiri, karena si anak tidak dapat membayar uang ekstrakurikuler, faktor kemiskinan yang ia rasakan serta karena malu terhadap teman- temannya, maka ia memilih jalan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.
Dari kasus diatas dapat saya katakan bahwa perilaku menyimpang pada anak, seperti kasus bunuh diri, disebabkan karena ketidaksiapan anak menyikapi kondisi lingkungan sekitarnya. Kecewa pada kondisi keluarganya yang miskin, rasa malu dan amarah yang tidak terkendali. Penyimpangan yang terjadi bersumber pada ketidakmampuan anak mengelola dan mengendalikan emosinya. Dan juga didukung adanya suatu tontonan televisi dimana sekarang ini yang ditampilkan kebanyakan tayangan kekerasan misalnya pembunuhan, bunuh diri dan juga tindak kriminal, yang semua ini sangat mudah diadopsi oleh anak- anak, yang diwujudkan dalam perilakunya. Dan tontonan tersebut memang ada efek tersendiri yakni jera bagi para pelakunya, namun bagi anak- anak sangat berdampak negatif, terlebih lagi pada usia anak- anak terlalu mudah dipengaruhi apa yang mereka lihat, dan hasilnya meniru, apa yang mereka lihat, bahkan orang dewasapun dapat menirunya, dan kasus tersebut bisa melalui sinetron, berita tentang kriminal misal Buser, Sergap dan lain sebagainya, yang kebanyakan dalam acara tersebut merupakan suatu kasus kriminalitas misal bunuh diri, itu mereka yang memilki masalah sepele, namun mereka lebih memilih bunuh diri, karena alasan terdesak kondisi, padahal situasi yang mereka alami itu ada jalan keluarnya, namun mereka enggan susah payah, dan tidak bisa menerima kenyataan yang ada, sehingga seperti anak- anak dengan gampangnya dengan masalah sepele kemudian mengakhiri hidupnya seperti yang mereka lihat dan mereka dengar. Karena bagi anak, segala sesuatu yang dilihat dan didengarnya merupakan investasi bagi perkembangan jiwanya. Dan ini bersangkutan dengan keadaan keluarga dan didikan dari keluarga, dimana anak mampu menyaring mana yang salah dan mana yang benar, sehingga dalam hal perkembangan anak, peran orang tua sendiri sangatlah besar yang berfungsi sebagai benteng bagi anak- anaknya.
Orang tua berperan besar dalam membimbing anak- anaknya, karena pola tingkah dan kejiwaan anak itu mencerminkan pola didikan dari keluarga terutama orang tua, selain dari faktor lingkungan dan media yang ada. Dan juga orang tua itu sangat penting untuk memperhatikan pendidikan anak, misal tentang biaya, dimana seharusnya pendidikan anak itu merupakan hal yang pokok, entah bagaimanapun pendidikan itu memang membutuhkan biaya, dan bagi para orang tua dalam hal ini, harus membanting tulang dalam memenuhinya. Dan seharusnya orang tua itu pun sadar pentingnya pendidikan bagi anaknya, dimana anak merupakan anugerah Tuhan dimana harus dirawat sebaik mungkin termasuk memperhatikan pendidikan mereka, dengan alasan anak merupakan generasi penerus mereka, dan seharusnya orangtua juga sadar, janganlah sampai anak cucu kita lebih sengsara hidupnya dari pada mereka, jadi salah satu usaha untuk itu memperhatikan pendidikan anak mereka.
Bagi orang tua agar lebih bijaksana dalam membimbing anak- anak, misalnya bisa dimasukkan pesantren agar anak- anak itu memahami antara yang tidak baik dan perbuatan baik, begitupun orang tua memberikan contoh yang baik dalam kesehariannya, dan janganlah kesibukan mereka ( orang tua ) menjadi alasan dalam mendidik anak, karena seperti sekarang ini banyak sekali orang tua yang sibuk, dan kesibukan itu menjadikan kurang memperhatikan anaknya, sehingga anaknya merasa tidak diperhatikan, bahkan pendidikan mereka tidak diperhatikan, dan hal inilah yang akan terjadi yakni bunuh diri.
Dan dari pemerintah sendiri seharusnya tegas dalam mengambil sikap terhadap tayangan yang ada di televisi, terutama tayangan yang tidak mengedepankan nilai- nilai pendidikan, dan perlu adanya sensor yang lebih tegas dan berwibawa. Dan bagi media massa itu sendiri perlu disadari bahwa salah satu fungsi dari media massa itu sebagai media pendidikan. Selain itu, pemerintah memperhatikan anak didik yang kurang mampu ( menuntaskan kemiskinan dalam hal pendidikan ), dengan begitu diadakannya beasiswa bagi yang kurang mampu, maka dengan begitu penerus negeri ini takkan layu begitu saja karena masalah sepele tersebut.
Kasus bunuh diri pada anak sering kita dengar, bahkan jumpai maka dari itu untuk mewujudkan tidak adanya kasus tersebut, maka perlu adanya kerjasama antara pihak keluarga, masyarakat, sekolah dan juga pemerintah pada umumnya, dimana kerjasama tersebut harus terjalin sinergis dalam mengemban tanggungjawab pendidikan pada anak.
Referensi :
Derap Guru, No. 55 Th.V- Agustus 2004
Soekanto, Soerjono.2002.Sosiologi Suatu Pengantar.Rajawali Press: Jakarta
Khairuddin, H.SS.2008.Sosiologi Keluarga.Liberty: Yogyakarta



