BUNUH DIRI

Malang, 16 Desember 2004

Beni seorang murid SD kelas 3 di salah satu Sekolah Dasar Malang, bunuh diri karena tak mampu membayar biaya 2.500 untuk ekstrakulikuler, karena malu dengan temannya dan juga terhimpit dengan kemiskinannya, maka ia pun nekad bunuh diri.

Dalam kasus ini dapat kita aplikasikan melalui teori suicide yang mana dikemukakan oleh Emile Durkheim, yakni tergolong suicide egoistic yakni bunuh diri atas kepentingan diri sendiri, karena si anak tidak dapat membayar uang ekstrakurikuler, faktor kemiskinan yang ia rasakan serta karena malu terhadap teman- temannya, maka ia memilih jalan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

Dari kasus diatas dapat saya katakan bahwa perilaku menyimpang pada anak, seperti kasus bunuh diri, disebabkan karena ketidaksiapan anak menyikapi kondisi lingkungan sekitarnya. Kecewa pada kondisi keluarganya yang miskin, rasa malu dan amarah yang tidak terkendali. Penyimpangan yang terjadi bersumber pada ketidakmampuan anak mengelola dan mengendalikan emosinya. Dan juga didukung adanya suatu tontonan televisi dimana sekarang ini yang ditampilkan kebanyakan tayangan kekerasan misalnya pembunuhan, bunuh diri dan juga tindak kriminal, yang semua ini sangat mudah diadopsi oleh anak- anak, yang diwujudkan dalam perilakunya. Dan tontonan tersebut memang ada efek tersendiri yakni jera bagi para pelakunya, namun bagi anak- anak sangat berdampak negatif, terlebih lagi pada usia anak- anak terlalu mudah dipengaruhi apa yang mereka lihat, dan hasilnya meniru, apa yang mereka lihat, bahkan orang dewasapun dapat menirunya, dan kasus tersebut bisa melalui sinetron, berita tentang kriminal misal Buser, Sergap dan lain sebagainya, yang kebanyakan dalam acara tersebut merupakan suatu kasus kriminalitas misal bunuh diri, itu mereka yang memilki masalah sepele, namun mereka lebih memilih bunuh diri, karena alasan terdesak kondisi, padahal situasi yang mereka alami itu ada jalan keluarnya, namun mereka enggan susah payah, dan tidak bisa menerima kenyataan yang ada, sehingga seperti anak- anak dengan gampangnya dengan masalah sepele kemudian mengakhiri hidupnya seperti yang mereka lihat dan mereka dengar. Karena bagi anak, segala sesuatu yang dilihat dan didengarnya merupakan investasi bagi perkembangan jiwanya. Dan ini bersangkutan dengan keadaan keluarga dan didikan dari keluarga, dimana anak mampu menyaring mana yang salah dan mana yang benar, sehingga dalam hal perkembangan anak, peran orang tua sendiri sangatlah besar yang berfungsi sebagai benteng bagi anak- anaknya.

Orang tua berperan besar dalam membimbing anak- anaknya, karena pola tingkah dan kejiwaan anak itu mencerminkan pola didikan dari keluarga terutama orang tua, selain dari faktor lingkungan dan media yang ada. Dan juga orang tua itu sangat penting untuk memperhatikan pendidikan anak, misal tentang biaya, dimana seharusnya pendidikan anak itu merupakan hal yang pokok, entah bagaimanapun pendidikan itu memang membutuhkan biaya, dan bagi para orang tua dalam hal ini, harus membanting tulang dalam memenuhinya. Dan seharusnya orang tua itu pun sadar pentingnya pendidikan bagi anaknya, dimana anak merupakan anugerah Tuhan dimana harus dirawat sebaik mungkin termasuk memperhatikan pendidikan mereka, dengan alasan anak merupakan generasi penerus mereka, dan seharusnya orangtua juga sadar, janganlah sampai anak cucu kita lebih sengsara hidupnya dari pada mereka, jadi salah satu usaha untuk itu memperhatikan pendidikan anak mereka.

Bagi orang tua agar lebih bijaksana dalam membimbing anak- anak, misalnya bisa dimasukkan pesantren agar anak- anak itu memahami antara yang tidak baik dan perbuatan baik, begitupun orang tua memberikan contoh yang baik dalam kesehariannya, dan janganlah kesibukan mereka ( orang tua ) menjadi alasan dalam mendidik anak, karena seperti sekarang ini banyak sekali orang tua yang sibuk, dan kesibukan itu menjadikan kurang memperhatikan anaknya, sehingga anaknya merasa tidak diperhatikan, bahkan pendidikan mereka tidak diperhatikan, dan hal inilah yang akan terjadi yakni bunuh diri.

Dan dari pemerintah sendiri seharusnya tegas dalam mengambil sikap terhadap tayangan yang ada di televisi, terutama tayangan yang tidak mengedepankan nilai- nilai pendidikan, dan perlu adanya sensor yang lebih tegas dan berwibawa. Dan bagi media massa itu sendiri perlu disadari bahwa salah satu fungsi dari media massa itu sebagai media pendidikan. Selain itu, pemerintah memperhatikan anak didik yang kurang mampu ( menuntaskan kemiskinan dalam hal pendidikan ), dengan begitu diadakannya beasiswa bagi yang kurang mampu, maka dengan begitu penerus negeri ini takkan layu begitu saja karena masalah sepele tersebut.

Kasus bunuh diri pada anak sering kita dengar, bahkan jumpai maka dari itu untuk mewujudkan tidak adanya kasus tersebut, maka perlu adanya kerjasama antara pihak keluarga, masyarakat, sekolah dan juga pemerintah pada umumnya, dimana kerjasama tersebut harus terjalin sinergis dalam mengemban tanggungjawab pendidikan pada anak.

Referensi :

Derap Guru, No. 55 Th.V- Agustus 2004

Soekanto, Soerjono.2002.Sosiologi Suatu Pengantar.Rajawali Press: Jakarta

Khairuddin, H.SS.2008.Sosiologi Keluarga.Liberty: Yogyakarta

Global warming

Pemanasan global yang berakibat pada perubahan iklim (climate change) belum menjadi mengedepan dalam kesadaran semua pihak. Pemanasan global (global warming) telah menjadi sorotan utama berbagai masyarakat dunia, terutama negara yang mengalami industrialisasi dan pola konsumsi tinggi (gaya hidup konsumtif).

Perubahan iklim akibat pemanasan global (global warming), pemicu utamanya adalah meningkatnya emisi karbon, akibat penggunaan energi fosil (bahan bakar minyak, batubara dan sejenisnya, yang tidak dapat diperbarui). Penghasil terbesarnya adalah negeri-negeri industri seperti Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Kanada, Jepang, China, dll. Ini diakibatkan oleh pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat negera-negara utara yang 10 kali lipat lebih tinggi dari penduduk negara selatan.

Untuk negara-negara berkembang meski tidak besar, ikut juga berkontribusi dengan skenario pembangunan yang mengacu pada pertumbuhan. Memacu industrilisme dan meningkatnya pola konsumsi tentunya, meski tak setinggi negara utara. Industri penghasil karbon terbesar di negeri berkembang seperti Indonesia adalah perusahaan tambang (migas, batubara dan yang terutama berbahan baku fosil). Selain kerusakan hutan Indonesia yang tahun ini tercatat pada rekor dunia ”Guinnes Record Of Book” sebagai negara tercepat
yang rusak hutannya.

Secara umum yang juga dirasakan oleh seluruh dunia saat ini adalah makin panjangnya musim panas dan makin pendeknya musim hujan, Serta meningkatnya cuaca secara drastis, yang tentunya sangat dirasakan di negara-negara tropis. Jika ini kita kaitkan dengan wilayah Indonesia tentu sangat terasa, begitu juga dengan kota-kota yang dulunya dikenal sejuk dan dingin makin hari makin panas saja. Contohnya di Jawa Timur
bisa kita rasakan adalah Kota Malang dan lain sebagainya.

Meningkatnya suhu ini, ternyata telah menimbulkan makin banyaknya wabah penyakityang terus bermunculan seperti demam berdarah, diare, malaria. Padahal penyakit-penyakit seperti malaria, demam berdarah dan diare adalah penyakit lama yang seharusnya sudah lewat dan mampu ditangani dan kini telah mengakibatkan ribuan orang terinfeksi dan meninggal. Selain itu, ratusan desa di pesisir Jatim terancam tenggelam akibat naiknya permukaan air laut, indikatornya serasa makin dekat saja jika kita tengok naiknya gelombang pasang di minggu ketiga bulan Mei 2007 kemarin. Mulai dari Pantai Kenjeran, Pantai Popoh Tulungagung, dan pantai lain di pulau-pulau di Indonesia.

Iklim memang mengisi ruang hidup kita baik secara individu maupun sosial, maka tidak mungkin menegakkan keadilan iklim tanpa melibatkan kesadaran dan komitmen semua pihak. Bahwa tidak bisa dibantah, kita hidup dalam dunia yang sama, sehingga jika ada bagian yang bocor dan tidak seimbang, itu semua merupakan ancaman bagi kita semua. Maka kita semua harus mengubah gaya hidup kita untuk tidak konsumtif. Sebab dengan begitu kita bisa menempatkan apa yang kita butuhkan bisa ditunda tidak, yang harus kita beli membawa manfaat atau tidak dan yang paling penting barang yang kita konsumsi itu berpengaruh dengan kerusakan lingkungan sekitar kita apa tidak??

Dari adanya global warming itu berkaitan dengan teori sosiologi setelah comte, yang termasuk ke dalam mazhab geografi dan lingkungan yakni sebuah teori yang dikemukakan oleh Edward Bucle dari Inggris, dimana dia telah menemukan beberapa keteraturan dari hubungan antara keadaan alam dengan manusia. Dimana, kita sebagai manusia yang menghuni bumi ini, sebaiknya kita menjaga lingkungan sekitar kita, dimana itu menyangkut bagaimana kita menggunakan barang yang kita konsumsi yang tidak merugikan ataupun merusak lingkungan kehidupan kita, karena kita sendiri yang akan merasakan resiko yang akan ada nantinya. Bahkan taraf kemakmuran suatu masyarakat juga sangat tergantung pada keadaan alam dimana masyarakat itu hidup. Semakin manusia mampu mengendalikan dirinya dalam kehidupan, dan juga mampu mengatur lingkungan hidupnya, maka akan terciptalah suatu kemakmuran dalam hidupnya.

Ini semua adalah cerminan bagi mereka yang berusaha dan sadar sepenuh hati demi keberlanjutan kehidupan sosial yang berkeadilan secara sosial, budaya, ekologis dan ekonomi. Namun, itu semua juga tergantung pada diri individu masing- masing, atas kesadarannya, apakah ia akan mengembangkan dunia yang akan semakin panas, ataupun mengubah hidupnya untuk tidak komsumtif yang akan mensejahterakan kehidupan semua pihak, tindakan seorang individu sangat berpengaruh untuk kehidupan seluruh manusia di dunia ini.

Untuk kebijakan pemerintah sendiri seharusnya membuat peraturan untuk menetapkan jeda tebang hutan di seluruh Indonesia agar tidak mengalami kepunahan dan wilayah kita makin panas. Menghentikan pertambangan mineral dan batubara seperti di Papua, Kalimantan, Sulawesi, hal ini bisa dilakukan dengan bertahap. Selanjutnya kebijakan dengan mempraktekkan secara nyata jeda tebang dan kedaulatan energi harus dilakukan jika kita tidak mau menjadi kontributor utama pemanasan global.

Selain itu untuk semua pihak supaya menjaga lingkungan, menghindari terjadinya kebakaran hutan baik disengaja ataupun tidak, melakukan reboisasi, mengelola SDA dan lingkungan sebaik mungkin. OKE semua, ayo peduli lingkungan.jaga lingkungan, jaga bumi kita.

Referensi :

Basrowi, M.S.2005.Pengantar Sosiologi.Bogor: Ghalia Indonesia

KOMPAS, 16 Desember 2007

Pembredelan Lima Buku oleh Kejagung

Akhir 2009, Kejagung mengukir tragedi baru berupa pembredelan lima buku, yakni

1. Dalih Pembunuhan Massal Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto karya John Rosa.

2. Suara Gereja bagi Umat Tertindas: Penderitaan Tetesan Darah dan Cucuran Air Mata Umat Tuhan di Papua Barat Harus Diakhiri karya Cocratez Sofyan Yoman.

3.  Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965 karya Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan.

4.   Enam Jalan Menuju Tuhan karya Darmawan.

5.   Mengungkap Misteri Keberagaman Agama karya Syahrudin Ahmad.

Jamintel melakukan penelitian terhadap buku-buku yang telah dilakukan clearing house tertanggal 3 Desember 2009 terhadap 5 buku.” Hal itu disampaikannya dalam jumpa pers Laporan Kinerja Kejagung Tahun 2009 di Kejagung, Jl. Sultan Hasanuddin, Jakarta Selatan, Rabu, 23 Desember 2009.
Buku-buku yang dilarang tersebut dianggap mengganggu ketertiban umum, bertentangan dengan UUD 1945, dan Pancasila. Tidak disebutkan secara rinci bagian mana dari kelima buku itu yang mengganggu ketertiban umum, bertentangan dengan UUD ’45, dan Pancasila. Kapuspenkum Kejagung Didiek Darmanto hanya mengatakan, clearing house adalah memeriksa substansi buku. “Kami hanya memeriksa substansi bukunya, tidak pada orangnya,” ujar Didiek. “Kejagung tidak turut memeriksa pengarang buku-buku tersebut.”
Kalau dikatakan substansinya melanggar UUD ’45, Mantan Jamintel Kejagung seharusnya menyebutkan bagian yang mana yang melanggar UUD ’45 dan Pancasila.

Kalau dikatakan substansinya melanggar UUD ’45, Mantan Jamintel Kejagung seharusnya menyebutkan bagian yang mana yang melanggar UUD ’45 dan Pancasila. Dari kelima buku yang dilarang Kejagung itu, saya sudah membaca dua buku untuk kepentingan akademis, yakni Dalih Pembunuhan Massal dan Lekra Tak Membakar Buku. Kedua buku itu mendeskripsikan dan mengungkap kembali sejarah nasional Indonesia periode 1950-1966. Perspektif yang dipakai memang bukan perspektif yang sama dengan penguasa Orde Baru. Namun, disajikan secara objektif dan ilmiah. Data-data dalam kedua buku tersebut bisa dirujuk ke sumber tertulisnya.

Saya menilai pelarangan ini merupakan bentuk kesewenang-wenangan seorang Mantan Jamintel Kejagung dalam membatasi kebebasan berpikir dan kebebasan berpendapat di negeri demokrasi ini. Sebuah pembredelan membunuh generasi yang akan maju. Tindakan represi ini juga memperlihatkan ketidakpekaan aparat Kejagung akan kebebasan berekspresi yang dijamin dalam UUD 1945. Pembredelan juga memperlihatkan bahwa cara berpikir masyarakat tengah dibatasi.

Dan dari kasus diatas dapat kita masukkan teori sebelum comte yakni teori John Locke, dimana ia mengemukakan bahwa manusia itu mempunyai hak- hak asasi yang berupa hak untuk hidup, kebebasan dan hak atas harta benda. Dan kebebasan seseorang itu meliputi hak beragama, berkumpul, berpendapat entah dalam bentuk lisan ataupun tertulis, dalam hal ini pemerintah sendiri sudah menyetop hak warga negara untuk berpendapat melalui suatu tulisan, entah bagaimanapun bentuk pendapatnya tersebut, seharusnya tidak diperkenankan dengan melakukan pembredelan, itu akan menghilangkan jiwa jurnalitik di dalam dunia politik, apalagi bahwa sangat penting adanya jiwa jurnalistik itu dalam perpolitikan, untuk kita instropeksi diri, namun pemerintah telah menyurutkan para penulis untuk berkarya dalam dunianya tersebut. Dan para penulis ini mempunyai daya respon yang ataupun kepekaan rasa nurani bangsanya dan mengekspresikannya. Bahkan kehadirannya untuk mengisi kekosongan dan menghidupkannya untuk keperluan suatu perubahan. Sebenarnya, kesempatan kebebasan untuk berekspresi dengan tema yang lebih tajam untuk menyentuh dinamika spirit bangsa seperti tentang kedilan, hak kemanusiaan dan lain sebagainya. Maka, sejatinya seorang penulis dalam hal politik itu sangat penting untuk menggugat semangat bangsa untuk lebih baik.

Referensi :

Djatmoko Ario.2004.Sehatlah Jiwanya, Sehatlah Badannya Untuk Indonesia Raya.Pusat Pergerakan Pemuda Indonesia: Jakarta Timur

KOMPAS. Kamis, 24 Desember 2009

Pemilwa UNY 2009

Pemilwa UNY yang dilaksanakan pada tanggal 15 Desember 2009, sangatlah mengherankan. Sebuah lembaga yang seharusnya independen, ternyata main belakang. Pada pelaksanaan Pemilwa UNY 2009 yang notabenenya harus bebas dari segala bentuk kecurangan, tenyata malah jauh menyimpang. KPU yang seharusnya menjadi lembaga  netral dan egaliter, nyatanya telah melakukan banyak manipulasi, dengan hal seperti itu dimana kita terapkan pedoman, LUBER pada pihak KPU, ataukah itu hanya sebuah slogan yang hanya kita untuk menghafalnya, tanpa realita?????

Pemilwa yang seharusnya menjadi ajang demokrasi, realitasnya hanya didominasi oleh kelompok tertentu saja, karena dalam pemilwa tersebut yang terdiri dari partai Tugu dan PBP sebenarnya kedua partai yang menjadi kandidat berasal dari kelompok yang sama, yakni KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia). Sehingga, pihak mana yang menang ataupun kalah, pada akhirnya pihak KAMMI juga yang mendominasi, dalam hal ini sama saja tidak ada suatu persaingan partai yang ketat, bahkan yang ada hanya suatu solidaritas dari kedua partai tersebut. Apakah ini kebetulan saja yang memang dari hasil verifikasi beberapa partai, hanya keduanya yang benar- benar lolos??? KPU sendiri, membuat kecurangan dimana, di salah satu partai yakni Partai Gaul yang itu merupakan salah satu kandidat dari HMI yang pada akhirnya menyerah untuk mengundurkan diri.

Dalam hal ini tidak adanya suatu kompetisi antar kedua partai tersebut, karena berasal dari akar yang sama yakni KAMMI, jadi dalam hal ini dapat kita masukkan teori Robert.A.Dahl tentang prinsip budaya demokrasi( partai politik ) yakni ada tiga prinsip Kompetisi, Partisipasi dan Kebebasan. Dalam hal ini yang berkaitan itu kompetisi, dengan jargon indonesia itu negara yang demokrasi, dalam artian memberikan peluang yang sama untuk bersaing bagi setiap individu, kelompok ataupun organisasi ( partai politik ) untuk menduduki posisi kekuasaan, namun apa yang tercermin dalam pemilwa kemarin, tidak adanya kompetisi yang ketat, bahkan pemilwa itu terasa janggal karena sebenarnya hanya satu kelompok saja yang maju ke dalam pemilwa tersebut. Demokrasi itu berdasarkan pancasila, dari hal ini dapat dipetik dimana arti demokrasi bagi mahasiswa ( perpolitikan ), yang mana partisipasi dari pihak lain malah dienyahkan begitu saja. Dimana pancasila diterapkan,dan dimana hak asasi untuk berkompetisi, dan tidak memberikan kesempatan kepada pihak lain untuk berpolitik. Dalam pemilwa kemarin terlihat adanya suatu homogenitas yang sangat tinggi.

Siapa saja memang boleh mendominasi ataupun menguasai bidang perpolitikan mahasiswa di Universitas Negeri Yogyakarta ini, namun dengan cara yang sehat, dari adanya Pemilwa kemarinpun saya kecewa bahkan yang lainnya pun juga seperti itu. Bagaimanapun kita mahasiswa seharusnya tahu tentang perpolitikan yang sehat, karena dari hal tersebut kita sebenarnya masih belajar dalam perpolitikan, jika masih mahaiswa saja, sudah membuat suatu kecurangan yang cukup besar, gimana nantinya jika kita esok terjun ke dalam masyarakat. Mahasiswa adalah ujung tombak atas perubahan, jadi adanya suatu label yang telah ada dalam diri mahasiswa tersebut, maka semaksimal mungkin kita bisa menghilangkan atas suatu homogenitas yang ada di dalam perpolitikan yang ada, bahkan jangan meniru kebiasaan yang sudah ada, bahkan kita tahu itu kurang baik, maka sebagai generasi mendatang kita menjunjung tinggi suatu keadilan, dan berkompetisi secara sehat dalam lingkungan politik.

Bahkan pada hari H pemilwa, masih ada suatu keteledoran KPU dalam mempersiapkan surat suara, dimana itu menyangkut kapasitas sekor dalam penghitungan nantinya, yakni ada pihak yang tidak menyoblos surat suara tingkat universitas dimana itu semua karena pihak KPU. Sehingga, hak asasi pihak tersebut tidak dihargai sepenuhnya. Dan juga adanya surat suara pada beberapa pos juga kehabisan.

Bahkan Dalam penyelenggaraan debat capres-cawapres (10-11/12), jawaban yang diberikan kedua pasangan dari partai Tugu dan PBP tidak memuaskan banyak pihak, terutama panelis sebagai pemberi pertanyaan. Bahkan ada beberapa pertanyaan dari mahasiswa lain yang sengaja  tak dijawab oleh kandidiat capres-cawapres dari partai Tugu. Ini menandakan bahwa kemampuan intelektualitas  mereka belum pantas untuk menjadi presiden BEM REMA UNY.

Sangatlah memprihatinkan jika kita melihat secara detail akan pemilwa 2009 kemarin, Semoga dengan realita politik yang sudaha ada, mudah- mudahan masa yang akan mendatang menjadi lebih baik. Tegakkan keadilan, dan wujudkan demokrasi dilingkungan politik kampus.

Referensi :

Selasa, Expresi 15 December 2009

Djatmoko Ario.2004.Sehatlah Jiwanya, Sehatlah Badannya Untuk Indonesia Raya.Pusat Pergerakan Pemuda Indonesia: Jakarta Timur

Sunarso.2006.Pendidikan Kewarganegaraan.UNY Press: Yogyakarta

Artis Terjun Ke Dunia Politik

Artis Terjun Ke Dunia Politik

Sebuah fenomena yg cukup menarik bagi kita, dimana para artis di Indonesia berbondong-bondong alih profesi menjadi politikus maupun caleg di negeri ini. Seperti wulan guritno, rano karno dan lain sebagainya. Patut di pertanyakan alasan mereka mengambil keputusan tersebut, apakah mereka sudah merasa tergusur oleh para pendatang baru utk tampil di layar kaca??? atau mereka memanfaatkan aji mumpung ketenarannya??? atau mereka memang layak dan pantas secara kualitas untuk memimpin negeri in??? ato bahkan mereka sendiri yg di manfaatkan oleh suatu partai politik untuk meraih suara terbanyak karena memandang figur keartisannya?? Semua itu belumlah terjawab dengan jelas, semoga tak ada salah satu alasanpun artis terjun ke dunia politik, karena aji mumpung dan lain sebagainya, tapi karena memang mereka mampu dan pantas menduduki panggung politik.

Jika kita lihat dari kacamata keseharian artis, mereka menghabiskan waktunya di depan kamera dimana, untuk menyelesaikan suatu film ataupun pembuatan album barunya, dan waktu istirahat para artis juga hanya untuk pergi ke salon untuk mempercantik diri, untuk menambah fansnya dan juga hidup dengan glamournya, dan kegiatannya selain itu belanja, nongkrong dan lain- lain yang semua itu membutuhkan biaya yang tak sedikit, dan hal itu kadang merupakan kesempatan untuk para artis untuk mengembangkan relasi mereka dalam dunia keartisannya. Dan kita harus mengerti para artis itu di depan kamera mereka semua OK, tapi bagaimana mereka jika dihadapkan ke ranah politik dimana banyak rapat dan juga masalah tentang negara, debat, kunjungan ke suatu tempat dan lain sebagainya.  Kalaupun dipaksakan tentu akan ada dampak yang harus ditanggung, tidak hanya pada dirinya sendiri melainkan bagi seluruh warga negara yang dipimpinnya. Dia sendiri akan meninggalkan dunia keartisannya yang boleh jadi dia sudah mahir dalam bidang itu berganti dengan dunia baru yang pasti ada penyesuaian yang tidak mudah. Belajar lagi mulai awal tentang ilmu-ilmu dibidang politik dan pemerintahan yang boleh jadi asing dan tidak disukainya.Buku yang dibaca, Koran yang dibaca, siaran televisi yang dilihat.  Membangun lagi kebiasaan-kebiasaan baru yang sangat jauh berbeda dengan dunia keartisan seperti hal diatas. Kalau dia gagal dalam penyesuaian ini yang boleh jadi menuntut cepat, dia akan malu di depan publik dan bisa jadi dia dianggap tak pernah tahu tentang dunia politik bahkan bisa diremehkan, dan politisipun siap mempolitisir dirinya. Padahal untuk sampai di kursi politik itu dia harus berkorban dana ratusan bahkan milyaran juta rupiah, yang ditabungnya bertahun-tahun dari hasil menjadi artis. Sekarang penghasilan menjadi artis tidak ada lagi, padahal modal belum kembali, bagaimana lagi jalan mengembalikan modal kalau tidak lewat jalan korupsi. Apakah mereka tetap nyambi menjadi artis selain sebagai pejabat pemerintahan? Akibatnya akan semakin lama ia menyesuaikan diri didunia politik dan pemerintahan.

Dari hal tersebut memang perlu dipertanyakan sejauh mana sih, para artis mengetahui tentang dunia politik???? Jelas dari kacamata kesehariannya mereka hanya menghadapi kamera, dan kehidupan yang jauh dari politik dimana para politikus yang sudah menggeluti dunia politik tersebut sangat jauh bisa dikatakan foya- foya, bahkan mungkin tak pernah mengalaminya seperti artis kebanyakan. Dari sinilah kita harus mengoreksi diri, dalam memilih pemimpin itu janganlah karena tampang ataupun karena ketenaran mereka seperti artis tapi lihat kebijaksanaan, dan juga kualitas dari calon pemimpin. Jika kita hanya memilih seperti ketenaran ataupun tampang, maka rakyat indonesia akan mempunyai kehidupan yang seperti apa, bahkan masa depan negara akan seperti apa?? Kita semua harus menyadari akan resiko yang ada apakah dengan pemimpin artis maka kesejahteraan rakyat apakah semakin maju ataukah terpuruk??? Kita harus lebih bijak memilih calon pemimpin, jangan karena kita mengidolakannya dan lain sebagainya, karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak, dan juga rakyat indonesia sendiri menginginkan adanya perubahan yang lebih baik, tentang keadilan, kemakmuran dan juga kesejahteraannya, dan yang kita inginkan bukan hanya janji tapi bukti.

Referensi ;

KOMPAS, 26 September 2008

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Design a site like this with WordPress.com
Get started