Menyambung utang tulisan yang sebelumnya :p
Masih Maret 2016
Setelah mengumpulkan informasi, saatnya berkas! Ada yang pernah bertanya soal beasiswa LPDP dan mundur bahkan sebelum berusaha mengumpulkan berkas. Katanya ribet. Kalau menurutku, wajar sih, ada begitu banyak orang yang mau sekolah, mampu sekolah, nah, seberapa pantas dia untuk dibiayai?
Beasiswa itu beragam, kenali dulu sebelum kita memutuskan pilihan beasiswa. Tidak semua beasiswa cocok untuk kita. Ribet? Pasti. Banyak berkas? Yah, lumayan. Seleksi ketat? Hmm, bukannya wajar?
LPDP ditujukan untuk mereka yang mau mengabdi untuk Indonesia. Bukan berarti harus cinta sekali sama Indonesia dan siap hidup mati demi negara juga sih. Cukup dalam tataran kita siap untuk kembali ke Indonesia, tidak tamak dengan penawaran gaji tinggi di luar, dll. Saya pribadi, memang sudah menetapkan pilihan tidak akan kerja di luar, sekolah mungkin iya sampai ke negeri Cina, tapi untuk bekerja jangka panjang, tidak deh.
Selain itu, LPDP juga cukup keras untuk keselarasan program studi pilihan. Misalnya S1 nya politik, baiknya lanjut pendidikan mengarah ke politik juga. Pengabdian, pekerjaan, dan lain sebagainya yang berkaitan sebaiknya juga ada kaitannya dengan program studi. Kecuali, kita punya alasan yang jelas untuk beralih ke manajemen rumah sakit misalnya. Salah satu alasan misal dibutuhkan di tempat kerja sekarang (apalagi kalau tempat kerjanya BUMN atau lembaga pemerintah). Terkhusus pengabdian, info yang saya tahu, LPDP memberi nilai plus untuk mereka yang banyak mengabdi, lewat jalan apapun. Sekecil apapun. Jadi remaja mesjid, jadi relawan ini, koordinator kerja bakti itu, dll.
Karena sudah pas dengan LPDP, mulailah kumpulkan berkas.
- Ijazah asli transkrip asli sesuai jenjang pendidikan terakhir
- SKCK
- Sertifikat TOEFL PBT min. 500 (dalam negeri) atau IELTS atau sertifikat kemampuan bahasa lainnya
- Surat keterangan berbadan sehat, bebas narkoba, dan bebas TBC
- Esai 500-700 kata dengan judul : “Sukses terbesar dalam hidupku” dan “Kontribusiku bagi Indonesia”
- Rencana studi yang mencakup jumlah SKS yang akan diambil, lama studi, silabus mata kuliah, rencana penelitian
- Proposal penelitian (wajib bagi yang S3)
- Bukti-bukti kegiatan dan penghargaan (optional)
Satu catatan untuk semua kelengkapan berkas, jangan pernah dilaminating! Yang ijazahnya dilaminating, boleh cari jasa buka laminating dari sekarang. Kenapa? Saat pemeriksaan berkas nanti, setiap berkas yang dilaminating itu diindikasikan palsu. Jadi hati-hati ya.
Untuk berkas-berkas juga, ada yang pernah bertanya, berapa lama sih lamanya waktu saya mengumpulkan berkas? Jawabannya, semua bisa selesai dalam sehari kecuali sertifikat bahasa. XD
SKCK di polres tempat saya mengurus, bisa selesai dalam 15 menit. Kalau ditambah dengan surat keterangan dari polsek setempat, dan memperhitungkan jarak, paling lama sejam. Lengkapi berkas2 yang dibutuhkan, isi formnya, petugas akan langsung mencetak SKCK, fotokopi sesuai kebutuhan lalu distempel. Selesai
Sertifikat bahasa yang akan butuh sedikit perjuangan. Apakah saya belajar waktu akan tes TOEFL? Ya iyalah. 😀 Saya belajar, saya les. Walau nilai toeflnya nd banyak berubah sih sebelum dan setelah les hehe. Saya les di pusat bahasa Unhas, kurang lebih sebulan, senin-jumat, jam 8 pagi -12 siang. Tiap jumat, simulasi tes TOEFL. Tesnya susah? Iya, susah T_T. Saya hampir nangis waktu selesai tes. Target nilai tidak tercapai, tapi Alhamdulillah, berlalu.
Surat keterangan berbadan sehat, bebas narkoba, bebas TBC. Kalau ini, ke rumah sakit pemerintah terdekat. Saran, jangan minum obat batuk, flu, sebelum tes. Bisa gagal dapat suratnya XD. Lamanya tergantung rumah sakit masing-masing.
Esai adalah salah satu tugas yang banyak membuat bingung. Sedikit tentang esai sukses terbesar dalam hidup. Mungkin, saat kita berada di titik terendah, kita lupa bersyukur. Tapi, untuk sukses terbesar, bagi saya tugas ini ajak menjebak. Bisa jadi, bukan kesuksesannya yang ingin dilihat. Tapi seberapa jauh kita mensyukuri pencapaian kita. Sukses tidak melulu mendapat penghargaan, menjadi juara, atau mempunyai banyak materi. Sukses adalah ketika kita tiba di titik akhir kerja keras, dan kita bisa berkata, “Saya telah melakukan yang terbaik”. Sukses adalah ketika kita menghargai tiap hal kecil yang kita peroleh, tapi juga terus bergerak maju.
Bagaimana dengan kontribusi? Katanya, kebaikan yang dilakukan oleh tangan kanan, jangan sampai diketahui oleh tangan kiri. Tapi, untuk esai ini, tolong jangan pakai prinsip ini ya XD. Merasa tidak pernah berbuat apa2? Yakin? Tengok ke belakang, mungkin, ada kebiasaan kecil yang kamu lupakan, yang sebenarnya bermanfaat bagi orang lain. Mungkin kamu pernah berbagi permen, dan membuat orang lain tersenyum. Mungkin juga saat kamu memungut sampah di jalan kamu mempercantik kotamu? Atau kebiasaanmu mematikan lampu, mematikan air, bayar pajak, bayar bpjs, apa pun. Jual apa yang bisa kamu jual, tapi tetap jadi dirimu sendiri.
Sebelum membuat rencana studi, penting sekali untuk mencari tahu kurikulum yang berlaku di program studi tujuan. Lama studi berapa semester? Mata kuliahnya apa saja, berapa SKS? Tidak bisa menemukan info? Pasti ada, dan harus ada 🙂 google dan web universitas lumayan membantu untuk yang program studi tujuannya di luar wilayah domisili. Untuk yang tidak bisa tertolong dengan itu, carilah senior, teman, kenalan, yang bisa memberi info. Tapi, kalau program studi tujuan masih dalam wilayah domisili, datangilah prodinya. Kalau kita benar-benar menginginkan sesuatu, jangan berharap dalam diam. Omong kosong itu namanya.
Untuk rencana penelitian, pilihlah tema yang disukai, setidaknya ada gambaran judul. Alasan pemilihan judul juga, mau tidak mau harus ada. Bingung? Cara yang sebenarnya adalah buka jurnal sesuai program studi, atau buku teks, cari2 masalah, buat judul. Tidak berhasil? Mari kita mengarang. Hahaha. (maafkan ajaran sesatnya)
Terakhir, siapkan semua sertifikat, piagam, piala, medali, foto, dokumentasi yang bisa menjadikan diri kita menarik di hadapan reviewer dan LPDP. Jujur, bagi saya dokumentasi itu melelahkan. Saya sudah lelah bekerja, lalu saya juga harus membuat dokumentasinya? Demi apa?! Hahaha, tapi jawabnya yah demi saat2 seperti ini. Dokumentasi itu saksi, bukti, surat perjalanan dinas tak terbantahkan. Terima kasih kepada semua pihak yang rajin sekali membuat dokumentasi dan memasukkan saya di dalamnya. Foto antara sadar tak sadar pun tak apa, yang jelas itu tetap bukti.
Bukti lain itu jejak digital. Tulisan dokumen berita. Yah, salah satu alasan saya pernah sangat suka menulis adalah saya ingin tulisan saya dikenang. Alhamdulillah, tulisan saya selama ini belum ada yang bisa dikenang xd. Bikin hampir dapat SP ada sih hahaha. Biasalah kenakalan remaja saat mahasiswa merasa paling jago. Tapi alhamdulillah berlalu.
Hati-hati dengan apa yang kita tulis. Bisa jadi itu berdampak positif atau malah berbalik negatif. Untuk tiap berkas yang kita tuliskan dalam data LPDP, ingat, jadi diri sendiri, jangan palsukan dokumen apa pun, berusaha dari hal kecil, dan jangan lupa berdoa. Karena hasil tidak akan mengkhianati usaha.
Tanpa bermaksud melebihkan,
Salam semangat, ilm