Baru-baru ini saya ditelpon oleh nomor 14040 berkali-kali, sengaja tidak saya angkat karena saya tau siapa yang menghubungi saya dan apa yang akan disampaikan. Setelah saya siap, pagi tadi akhirnya saya angkat panggilan 14040, dan menyampaikan apa yang perlu saya sampaikan. Penelpon memahaminya, dan saya pun terbebas dari teror telpon yang saya alami.
Saya dan mungkin Anda kadang mengalami kondisi di mana kita tidak ingin berkomunikasi dengan orang lain, mungkin lebih tepatnya orang tertentu. Alasannya bisa macam-macam, mulai dari hutang piutang, luka hati, salah sangka, atau bahkan keinginan menggebu… Itulah Hambatan Komunikasi.
Suatu saat Hambatan Komunikasi mungkin sesimpel yang saya alami. Tidak ada konflik pribadi di antara kami, cuma saya saja yang merasa tidak enak untuk sekadar bilang “Tidak”. Dan bahkan penelpon sudah dilatih 1000 kali untuk mendengar kata itu dan selalu dimotivasi agar tidak menyerah. Tetap saja itu menimbulkan persoalan, setidaknya buat saya yang tidak biasa membiarkan seseorang berharap dan tidak saya kabulkan harapannya.
Tapi terkadang Hambatan Komunikasi bisa menimbulkan persoalan yang lebih besar. Belum lama seorang mahasiswa saya harus Drop Out karena kondisi ini, dan saya termasuk orang yang sangat menyayangkan itu terjadi. Jika saja saya mengetahui kondisinya jauh lebih awal, mungkin hal yang tidak saya harapkan ini bisa dihindarkan. Qodarullah kondisinya berlanjut dan berlarut hingga sulit dipulihkan. Ternyata Hambatan Komunikasi bisa bermuara menjadi Luka Hati yang sulit untuk disembuhkan… namun saya masih berharap mereka bisa saling bertemu kelak dan menyembuhkan itu. Karena lagi-lagi tidak ada yang tau jika suatu saat mereka akan bertemu dan harus berurusan dengan tanpa ada Hambatan Komunikasi. Semoga…
Hai, Gaes. Semoga semua sehat ya. Alhamdulillah saya sehat sehingga bisa menulis dan berbagi pengalaman dengan hobi saya yang satu ini: MEMBACA.
Kalo dibilang hobi, mestinya membaca adalah aktifitas yang paling banyak dilakukan terutama di waktu2 senggang. Kenyataannya saya punya perpustakaan mini di rumah, dulunya yang punya obsesi punya perpus adalah mendiang istri saya, yang 90% bukunya belum saya baca tuntas. Tapi tidak ada salahnya saya mulai serius dengan hobi saya ini, setuju kan Gaes.
Nah, ada orang bijak bilang “Ikatlah ilmu dengan menulis”. Karenanya saya mo menulis apa yang sudah saya baca, supaya saya inget terus isinya dan ilmunya bisa bermanfaat tidak hanya untuk saya. Baik, judulnya: Just for Parents. Bacaan Wajib Orangtua dan Pendidik.
Buku ini ditulis oleh pasangan suami istri yang membidangi konsultansi keluarga, Bambang dan Hanny Syumanjaya. Tema utamanya: parenting. Dicetak tahun 2010 oleh PT. Gramedia Pustaka Utama. Jumlah halamannya 132 + 14, disusun dalam 12 bagian utama. Berikut ini materi yang saya serap darinya.
Bagian 1. Mengenali Ranjau-ranjau Keluarga. Di bagian ini penulis mengenalkan saya dengan jenis-jenis ranjau/bahaya/ancaman dalam keluarga di antaranya: ranjau waktu (waktu dengan anak yang tidak berkualitas), ranjau sisi koin negatif (selalu melihat kepada kekurangan/kesalahan anak), ranjau tidak konsisten (berubah-ubah dalam bersikap), ranjau persepsi salah (persepsi bahwa anak harus baik dan berprestasi), ranjau “problem solver” (selalu menyelesaikan masalah anak), ranjau disiplin yang destruktif (disiplin yang keliru/keras), dan ranjau tidak ada keteladanan (selalu menyuruh tanpa memberi contoh). Penulis sekilas juga memberikan informasi akibat apa jika orangtua membiarkan adanya ranjau-ranjau tersebut, di antaranya: anak menjadi pasif, kecewa, marah, pemalas, pemberontak, dan kesepian. Penulis menyampaikan bahwa ranjau-ranjau muncul karena: orangtua enggan belajar, masih menggunakan metode lama, suka lupa dan tidak mau praktik. Langkah antisipasi yang ditawarkan penulis: mengevaluasi waktu bersama anak, mengenali kebutuhan cinta pasangan dan anak, serta tidak berhenti belajar.
Bagian 2. Prinsip 5-T dalam Mendidik Anak. Penulis mengemukakan 5 prinsip dalam mendidik anak (parenting) yaitu: Time (quality time), Telling (komunikasi terbuka dan efektif), Teaching (proses pembelajaran), Training (metode parenting I do You watch, I do You help, You do I help, You do I watch), dan Together (kebersamaan sebagai keluarga). Metode yang digunakan penulis adalah 4-M yaitu: Membaca, Merenungkan, Melatih diri dengan melakukan, dan Memperbarui.
Bagian 3. Tipe-tipe Orangtua. Penulis menyinggung bahwa komunikasi adalah dasar kehidupan manusia. Komunikasi yang baik adalah yang bersifat dua arah. Adapun orangtua meliputi jenis-jenis sebagai berikut: Attacher (selalu mendekat ke anak, menjaga citra, mengacu pada emosi, perasaan dan penerimaan), Detacher (menjaga jarak, mengacu ke pikiran, konsep, dan aktifitas mental), dan Defender (selalu membela diri, mengacu pada fisik, naluri, dan penghargaan). Penulis menyarankan saya untuk fokus kepada kelebihan dari setiap tipe, sehingga bisa mengatasi kekurangannya.
Bagian 4. Anak adalah Subjek Parenting. Penulis mengajak saya menyadari bahwa orangtua seringkali lebih mudah melihat kesalahan dan kekurangan anak dibanding menyadari kesalahan dan kekurangan kita sebagai orangtua. Hambatan orangtua menyadarinya yaitu: merasa tahu dan mampu, memberikan teladan yang salah, gengsi, serta kurang pengetahuan. Penulis membagikan tips bagi orangtua, yaitu: menyadari keunikan setiap manusia, mengenali dan mengembangkan anak sesuai potensinya, serta mengapresiasi dan mengevaluasi perkembangan anak.
Bagian 5. Menjadi Orangtua Efektif. Penulis berbagi pengalaman dan tips menangani ranjau keluarga “problem solver” yang berakibat anak menjadi: malu, rendah diri, tidak bertanggung jawab, dan memberontak. Orangtua sebaiknya menyadari bahwa anak juga bertumbuh, mengubah paradigma sehingga anak belajar bertanggung jawab, dan melatih mereka mengelola dan merespon masalah.
Bagian 6. Membeli Waktu. Sebuah kisah pendek tentang anak yang ingin menghabiskan waktunya dengan sang ayah sehingga harus mengumpulkan uang untuk menggaji ayahnya, sangat menyentuh dan inspiratif. Waktu efektif orangtua bersama anak adalah waktu di mana orangtua dapat menyampaikan perhatian, kasih sayang, dan pendidikan/pelatihan kepada anak-anak mereka. Waktu efektif akan menghasilkan emosi positif pada anak, karena anak menikmati rasa aman, nyaman, terlindungi, berbagi, dan bisa mengungkapkan isi hati serta pikirannya.
Bagian 7. Sisi Koin Negatif. Penulis mengajak saya menjadi orangtua yang efektif melalui proses pembelajaran sepanjang hidup. Orangtua seringkali hanya melihat kesalahan dan kekurangan anak (sisi koin negatif), tanpa memuji dan membangun keunggulan anak yang akibatnya anak merasa serba salah, pasif dan apatis, berorientasi negatif, mengalami hambatan studi dan kehidupan. Karenanya orangtua diberikan tips untuk memperbaikinya dengan melihat koin dari dua sisi, fokus pada kekuatan/kelebihan, dan tidak lupa memberikan apresiasi terhadap kebaikan anak.
Bagian 8. Ranjau Tidak Konsisten. Salah satu hal umum dari orangtua adalah sikap tidak konsisten. Ketidakkonsistenan orangtua menyebabkan anak menjadi bingung, menimbulkan sikap memberontak, atau mengambil kesempatan untuk kesenangannya. Penulis memberikan tips agar saya menghindari sikap tidak konsisten dan membangun kesepakatan dengan anak agar anak memahami keinginan orangtua.
Bagian 9. Menanam Persepsi yang Salah. Penulis membuka dengan bagian ini dengan cerita pengalaman beliau dengan curhatan seorang remaja yang merasa tertekan dengan standar tinggi orangtuanya. Penulis mengajak saya memahami bahwa kehidupan tidak selalu berarti prestasi tinggi, dan jika anak tidak berprestasi artinya anak tidak berharga sehingga harus dihukum. Orangtua semestinya menyadari anak tetap berharga meskipun mereka tidak berprestasi, karena mereka anak-anak kita dan kita mencintai mereka tanpa syarat. Orangtua sebaiknya menyadari bahwa manusia selalu terdiri dari kombinasi baik dan buruk, kuat dan lemah. Tidak ada manusia yang sempurna, selalu baik dalam segala hal, demikian pula anak-anak bahkan kita sendiri. Beberapa persepsi salah menurut penulis: saya harus baik dalam segala hal, keberhargaan diri saya adalah dari prestasi-prestasi saya, mengekspresikan emosi negatif adalah adalah hal yang buruk, semua orang harus menyukai saya, membuat kesalahan atau meminta pertolongan adalah salah. Akibat dari persepsi yang salah ini pada anak di antaranya: anak menjadi marah dan depresi, anak kehilangan rasa aman dan harga dirinya melemah, anak tidak mampu mengekspresikan emosi, dan anak menjadi ragu serta tidak asertif. Tips untuk orangtua yaitu: membentuk persepsi “sehat”, mengarahkan anak sesuai potensi dan keunikannya, mengajari anak mengekspresikan perasaan dan pendapat.
Bagian 10. Disiplin dengan Cinta. Ilustrasi menarik ditampilkan terkait bagaimana orangtua Indian mengantar anak mereka menuju kedewasaan, dan setiap masa orangtua mempunyai cara unik dalam menjalaninya. Terkadang orangtua menjalankan kedisiplinan yang destruktif karena ingin anaknya memiliki tanggung jawab, namun yang diperoleh adalah anak menjadi terluka dan kecewa. Karenanya penulis menyarankan kepada saya agar melakukan disiplin yang lembut tapi tegas, yang mengubah perilakunya dan bukan pribadinya. Menjalankan kedisiplinan berupa reward and punishment yang berimbang dan tidak semena-mena. Penulis berbagi tips mendisiplinkan anak, yaitu: mengerti keunikan pribadi anak, mengajarkan disiplin tidak dengan emosi atau amarah, menegakkan disiplin dengan kasih sayang, dan dengan keteladanan.
Bagian 11. Mengajar Problem Solving pada Anak. Permasalahan hidup anak-anak kita akan jauh lebih rumit/besar dibanding permasalahan hidup orangtuanya. Hal ini menuntut orangtua mempersiapkan anak-anak mereka untuk menghadapi dan mengatasinya. Terutama mengajarkan anak-anak tanggung jawab, di tengah-tengah masa mereka tumbuh secara fisik, berkembang secara kognitif dan psikis, serta hambatan dalam bersosialisasi. Orangtua yang selalu menjadi problem solver bagi anak-anaknya sesungguhnya sedang menyiapkan kesulitan besar bagi mereka di masa depan, karena melemahkan semangat juang dan rasa tanggung jawab anak-anak. Penulis menyarankan metode: I do You watch, sampai dengan You do I watch untuk mengajarkan anak menyelesaikan permasalahan mereka. Jika tidak maka anak-anak akan menjadi: pasif, egois dan cenderung penikmat/malas. Orangtua mesti menempuh tahapan pembelajaran anak agar bertanggung jawab yaitu: diskusi, kesepakatan bersama (atas konsekuensi logis), dan evaluasi.
Bagian 12. Merenda Tanggung Jawab Sejak Dini. Banyak orangtua menginginkan anak-anak mereka kelak bertanggung jawab di manapun mereka berada, baik di sekolah, kampus, rumah tangga, maupun lingkungan tempat tinggalnya. Meskipun demikian, orangtua mesti menyadari bahwa kedewasaan khususnya tanggung jawab tidak selalu berbanding lurus dengan usia. Jika anak-anak tidak disiapkan untuk bertanggung jawab maka akibatnya bisa berupa: studi gagal, rumah tangga gagal, dan kehidupan gagal. Bertanggung jawab diartikan secara sederhana melakukan sesuatu dengan baik, namun bisa dijabarkan menjadi: finishing well dan giving the best. Anak-anak yang tidak siap bertanggung jawab maka akan memiliki sikap: menyalahkan orang lain dan menyalahkan situasi. Karenanya penulis memberikan tips kepada saya untuk mengajarkan dan mencontohkan kepada anak-anak yaitu: action more than expected, support more than another, dan giving more than requested. Ingatlah bahwa tanggung jawab yang membawa kepada keberhasilan ada pada: pikiran, kata-kata, tindakan, kebiasaan, dan harapan.
Boleh jadi ini buku kesekian yang saya baca rampung, dan untuk buku setipis ini saya harus menghabiskan waktu hingga 3 bulan. Buat saya itu prestasi, namun di balik itu alasan saya membaca buku ini tentu bukan sekadar mengisi waktu kosong tetapi karena setelah menjadi orangtua lebih dari 18 tahun untuk anak-anak saya ternyata masih sedikit ilmu yang saya pahami tentang bagaimana mendidik dan mengasuh anak agar kelak mereka survive. Meski demikian semoga ini menjadi awal yang baik bagi saya untuk menunaikan tugas saya sebagai seorang ayah, sebagai orangtua. Semoga bermanfaat…
Tara…. (setelah After A Moments Later yang itu lebih dari 3 tahun wkwkwk)
…. akhirnya saya kembali menulis, di akhir bulan pertama semester kedua tahun 2024 ini (keliatan banget otak saya glibet gak karuan ya, gaes…). Mengapa saya menulis lagi? Entahlah, tapi sepertinya saya butuh media untuk mengasah otak dan memori saya (apakah itu benda yang berbeda?) supaya tidak pikun (dan kalopun saya pikun, saya bisa baca2 di sini biar inget). Jadi hingga saat ini saya masih bergolak dalam batin, apakah saya harus menjadi penulis novel (yang mana itu lebih banyak pake otak kanan) atau harus tetap berusaha menjadi penulis paper penelitian (yang mana itu lebih banyak pake otak kiri). Saat ini saya putuskan saya akan menulis blog saja (tidak ada dalam pilihan ganda tersebut yay…), semoga baik otak kanan maupun otak kiri saya sama2 bisa terangsang dan saling bercumbu satu sama lain (duh pikiran mulai kotor…).
Hidup memang misterius, hanya Sangpenulis-skenario-hidup saja yang tau ke mana arahnya. Yang saya yakini, semua yang terjadi ini adalah ujian bagi kita dan pasti ada hikmahnya. Trus apa hubungannya dengan tulisan ini? Pada tulisan pertama saya (baca: Kisah Seorang Dosen (Bag. 1) ya), saya menyebutkan momen awal saya menjadi dosen dan drama2 yang muncul di momen krusial saya tersebut. Walhasil saya belum bisa menjadi dosen ideal, meskipun tridharma saya setelah lebih dari 9 tahun ini tidak bisa disebut jelek juga sih. Jujurly (supaya tercatat saya bisa bahasa kekinian), karena saya belum beranjak dari urusan pelayanan (2016-2022: pelayan dosen, 2022-sekarang: pelayan mahasiswa) maka skor tridharma saya belum bisa melonjak seperti para senior bahkan junior saya. Evaluasi dosen oleh mahasiswa (EDoM) untuk saya bisa dibilang tidak menonjol dan SINTA saya juga bukan 10 besar di kampus. PR saya masih banyak ternyata, dan apakah saya menuju arah ideal sekarang? Secara tegas saya jawab: BELUM!
Hampir 10 tahun menjadi dosen dan mestinya itu waktu yang cukup panjang bagi saya belajar menjadi mahasiswa yang ideal. Selama kurun waktu itu saya baru bisa melakukan beberapa penelitian bersama dosen lainnya (sifatnya pribadi), penelitian bersama kelompok keilmuan (sifatnya institusional), dan membimbing penelitian mahasiswa. Supaya anak/cucu saya bisa membaca porto-folio ayah/kakek mereka berikut ini referensi saya: SINTA, Google Scholar dan Scopus. Hmm… posisi saat ini saya masih di jabatan muda, dan punya rencana setidaknya saya pensiun di jenjang madya (biar anak/cucu dan ortu gak malu2 amat lah…). Tentu keinginan itu bukan cuma alasan material, melainkan alasan2 substantif lainnya seperti mendapatkan porsi kontribusi lebih banyak di penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Karena setelah saya ingat2 lagi memori saya waktu kecil, sepertinya saya pernah punya cita2 menjadi peneliti. Nah… akhirnya saya punya kesempatan dalam hidup untuk mewujudkan cita2 masa kecil saya (cita2 jadi dokter skip, mungkin jadi doktor saja…). Dari pengalaman hidup saya yang hampir paruh baya ini, kekuatan do’a (dan harapan) ternyata bukan kaleng2. Saya bahkan sempat tidak menyadari bahwa harapan (yang mungkin adalah do’a) saya telah dikabulkan oleh Sangpencipta, meskipun jalan menuju ke sana tidak selalu sama dengan apa yang saya pikirkan.
Di saat saya menulis ini, selintas dalam pikiran saya: woi… kamu masih punya PR: review tugas2 akhir mahasiswa, review paper2 jurnal kampus, review paper teman, baca buku2 pinjaman Perpus dan ngoreksi UTS/UAS mahasiswa. Argh…. seumuran ini saya baru menyadari betul ungkapan: “Pekerjaan yang harus kita selesaikan jauh lebih banyak daripada waktu yang kita miliki”. Pantaslah kalo dalam terminologi Islam disebutkan bahwa salah satu ciri orang yang beriman adalah mereka yang meninggalkan pekerjaan/hal yang sia2. Buat seseorang yang tau bahwa waktu yang dioptimalkan bisa menghasilkan uang yang lebih banyak, menganggur tentu bukan pilihan dalam hidup. Bagaimana dengan kita? Pilihan menjadi dosen, yang sebelumnya tidak pernah muncul, ternyata membawa konsekuensi yang tidak sedikit bagi saya. Ada yang menyenangkan tetapi banyak juga yang tidak menyenangkan tentunya, di antaranya:
Mendapatkan Penghasilan Lebih. Sebagai dosen di PT K/L, artinya juga menjadi PNS/ASN, yang mendapatkan level jabatan (fungsional) cukup menguntungkan dengan penghasilan yang juga cukup bagus. Selain gaji, tunjangan kinerja dengan level cukup tinggi, ditambah honor kelebihan beban kerja (mulai dari mengajar, membimbing, menguji, sampai publikasi penelitian).
Mendapatkan Pengakuan Akademis. Dosen, seperti halnya profesi lainnya, punya konotasi positif di masyarakat termasuk di lingkungan kantor sebagai pribadi yang mengedepankan keilmuan dan intelektualitas. Karenanya dalam berbagai kesempatan dosen sering dilibatkan untuk memikirkan atau merumuskan berbagai kebijakan baik di organisasi maupun masyarakat.
Mendapatkan Jejaring Horizontal dan Vertikal. Sebagai pengajar sekaligus peneliti, dosen tidak bisa dipisahkan dengan murid/mahasiswa dan mitra sejawat. Mengajar atau lebih tepatnya mendidik, tentu menghasilkan koneksi dengan murid/anak didik yang tidak terputus selama ilmunya dimanfaatkan, demikian pula mitra sejawat yang banyak sharing proses/hasil penelitian. Jejaring ini jika dirawat bisa memberikan manfaat bagi dosen tentunya.
Yang tidak menyenangkan di-skip dulu…
Bulan ini bulan terakhir sebelum masuk ke tahun akademik baru. So far so good, meskipun di kampus kami mesti ada mahasiswa yang mengulang tingkat dan ada pula yang drop out (DO). Untuk yang mengulang tingkat dulu memang ada, tapi konsepnya beda dengan yang sekarang. Sedangkan untuk DO sejak dulu masih sama, dan ini kali ketiga saya harus mengantarkan mahasiswa kembali ke rumah orang tuanya karena putus kuliah. Sedih memang, tapi mo gimana lagi. Sistemnya sudah dirancang untuk demikain, segala potensi risiko yang dinilai akan menghambat atau mengganggu banyak pihak segera ditindaklanjuti agar tidak menyebabkan kerugian yang sesungguhnya. Kalo di perusahaan mungkin analoginya adalah PHK, dan mestinya ada pegawai yang khusus menangani komplain terkait PHK ini.
Sementara itu dulu, kita sambung lagi di Kisah Seorang Dosen (Bag. 3), insya-Allah.
Selalu ada masa kita menata kembali kehidupan kita tidak peduli seberapa berantakan atau sukses hidup kita karena setiap manusia pasti menemui masa jenuh. Tidak penting kapan kita melakukannya, beberapa orang menggunakan awal tahun sebagai starting point. Mumpung masih bau awal-awal tahun saya juga mo memanfaatkan momentum ini untuk hidup saya. Mari kita buat resolusi awal tahun.
Beberapa poin yang saya masukkan ke resolusi saya tahun 2022 adalah:
Membaca 1 judul buku perbulan
Menulis 1 judul tulisan bebas perpekan
Belajar 1 tema ketrampilan persemester
Menulis 1 paper jurnal pertahun
Nah… saatnya beraksi. Progresnya akan saya tuliskan di sini atau di judul terpisah. Insya-Allah.
Sebelum membahas lebih jauh, mari kita simak foto-foto berikut…
Proyek-proyek di wilayah Depok
Bagus ya, fasilitas umum ditingkatkan dari waktu ke waktu. 2 foto yang di kiri atas, proyek saluran air di Jalan Nusantara dekat Perum Depok Utara. Saat saya foto belum keliatan papan proyeknya jadi saya belum tau total anggarannya berapa. Sedangkan 2 foto sisanya, proyek pejalan kaki di Jalan Raya Margonda, dekat kantor Walikota Depok. Nah, dari 4 foto di atas, bagaimana menurut Anda?
Tentu ada pro-kontra setiap kali ada proyek semacam ini. Coba kita daftar ya biar berimbang. Pro: proyek sesuai kebutuhan masyarakat, proyek meningkatkan layanan kota, manfaat akan didapatkan setelah proyeknya selesai. Kontra: proyek merusak keindahan kota, proyek cuma menghabiskan anggaran di akhir tahun, proyek tidak mengindahkan keselamatan dan kenyamanan warga. Nah, itu beberapa contoh komentar yang pro dan kontra atas pelaksanaan suatu proyek. Tentu masih banyak lagi jika kita melihat, mendengar dan membaca informasi lainnya dari sumber-sumber yang bisa kita peroleh.
Sebagai warga Depok tentu saya tidak begitu saja terpengaruh dengan komentar-komentar baik yang pro maupun yang kontra. Mengapa? Karena komentar-komentar itu sedikit sekali mengubah keadaan, setidaknya menurut pengalaman saya. Berapa banyak sambutan positif warga atas suatu proyek yang berujung kekecewaan warga. Tidak sedikit pula kritik pedas yang tidak menjadi pelajaran buat proyek-proyek berikutnya. Lalu sebagai warga apa yang mesti kita lakukan? He he he, saya juga belum nemu solusinya. Tapi, beberapa waktu lalu saya diberikan informasi oleh seseorang yang saya juga lupa siapa kalo kita sebagai warga Jawa Barat bisa menanyakan dan bahkan melaporkan kepada pemda Jawa Barat tentang sesuatu hal terkait layanan dan pembangunan di lingkungan sekitar kita melalui aplikasi SP4N LAPOR!
Baiklah, mari kita coba berikan komentar yang konstruktif tidak menyanjung tapi juga tidak menjatuhkan. Harapannya ada pembelajaran sehingga baik kita sebagai warga, pemerintah, maupun pengusaha (pelaksana proyek) bisa mendapatkan lesson learned (istilah yang lagi ngehit). Misalnya seperti apa?
1. Informasi Proyek. Penting sekali bahwa masyarakat mendapatkan informasi terkait suatu proyek baik sebelum, saat maupun sesudah pelaksanaan. Mengapa? Karena proyek ini tentu memengaruhi aktifitas masyarakat di lokasi tempat proyek dilaksanakan. Kita tidak berbicara warga sekitar tempat proyek saja tetapi masyarakat umum. Karena yang terdampak tidak hanya warga sekitar saja tetapi sangat mungkin masyarakat lainnya juga. Sebagai contoh proyek saluran air di Jalan Nusantara, galian tanah untuk memberi tempat bagi blok-blok beton (baca: U-ditch) biasanya menghasilkan tumpukan tanah yang lalu ditempatkan begitu saja di samping galian sehingga menghalangi pejalan kaki atau bahkan pengguna kendaraan bermotor. Informasi sebelum dan saat proyek dilaksanakan menjadi penting sehingga warga sekitar dan masyarakat pengguna jalan bisa mengantisipasi kondisi yang muncul dari proyek tersebut. Contoh sederhananya, efek proyek di jalanan adalah meningkatnya kemacetan yang perlu dihindari oleh masyarakat yang hendak melalui jalanan tersebut. Berikut ini contoh informasi proyek untuk masyarakat.
Sumber: suarajogja.id
2. Keselamatan Proyek. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah sesuatu yang digembor-gemborkan setiap pelaksana proyek, bahkan ketika syarat K3 tidak dipenuhi pelaksana maka proyek tidak akan diberikan izin atau malah dibatalkan. Nah, K3 ini menurut saya belum tampak dilaksanakan oleh penyedia proyek-proyek sebagaimana 2 contoh di atas. Bagaimana tidak? Saya tidak melihat ada pembatas tegas antara lokus proyek dengan ruang aktivitas masyarakat. Kita bisa melihat para pejalan kaki melintasi sisi jalan karena trotoar dipenuhi yang sebenarnya itu sangat berbahaya buat mereka. Pejalan kaki bisa saja terpeleset oleh tanah galian dan yang lebih berbahaya terserempet atau tertabrak kendaraan bermotor yang juga melalui sisi jalan tersebut. Mestinya sepanjang jalan yang ada galian ditutup dengan papan penghalang sehingga tidak ada selain pekerja proyek yang bisa memasuki lokasi proyek itu mengingat risikonya. Selain itu dibuat pembatas antara jalur pejalan kaki dan kendaraan bermotor pada sisi jalan, untuk menjamin keselamatan pejalan kaki dan ketertiban pengguna kendaraan bermotor agar lebih berhati-hati. Berikut ini contoh pagar proyek dan pembatas jalur yang saya maksud.
Sumber: ayoindonesia.com
3. Komitmen/Tanggung Jawab. Hal yang tentu menjadi harapan masyarakat adalah pelaksana proyek yang punya komitmen pada kepentingan umum dan bukannya keuntungan perusahaan semata. Mengapa komitmen menjadi penting? Kita melihat bahwa beberapa pekerjaan dilakukan tidak sesuai prosedur, sebagian lainnya tidak sesuai spesifikasi teknis, dan yang paling jamak seakan tidak diawasi oleh pihak berwenang. Sebagai contoh ketika tanah galian yang semestinya diangkut keluar dari trotoar dan sisi jalan tetapi seolah dibiarkan teronggok menggantikan fungsi penutup proyek. Sepintas itu jadi pembenaran, ketika tidak ada papan penghalang maka gundukan tanah menjadi pagar sementara. Padahal itu tidak memenuhi standar keselamatan apalagi kenyamanan/estetika. Juga sesudah proyek rampung maka bekas pekerjaan seperti galian atau tumpukan tanah kadang masih teronggok di lokasi proyek. Tidak jarang fasilitas yang tadinya dalam kondisi baik sebelum proyek malah menjadi rusak setelah pelaksanaan proyek tersebut. Sebagai contoh, pemasangan u-ditch pada saluran air sepanjang jalan yang sudah diaspal/dicor dan dilengkapi trotoar, maka sesudah proyek posisi trotoar menjadi berubah/tidak rapi dan sebagian aspal/cor jalanan berlubang atau kotor oleh sisa-sisa semen. Masyarakat tentu akan mengapresiasi pelaksana proyek yang dengan penuh kesadaran memenuhi tanggung jawabnya untuk mengembalikan kondisi lokasi proyek yang semula sudah baik menjadi tetap baik. Berikut ini contoh kerusakan akibat proyek tidak bertanggung jawab.
Sumber: detik.com
Nah, itu sedikit pemikiran saya terkait proyek-proyek kejar tayang. Memang akhir tahun itu menggiurkan bagi para pencari untung, bukan hal yang haram tetapi tentu jika tetap memerhatikan aturan yang berlaku dan kepentingan masyarakat luas. Semoga menjadi tambahan wawasan dan pembelajaran bagi kita semua.
Mungkin Anda punya cerita sendiri terkait proyek akhir tahun? Silakan tulis link cerita Anda di kolom komentar ya. Terima kasih.
Alkisah, tersebutlah saya di sebuah PT K/L (bukan singkatan PT Kaki Lima) di daerah Jawa Barat…
Bukan mimpi pingin jadi dosen di kampus tempat saya belajar dan lulus sebagai , A.Md. (bukan saingan Intel) tapi memang takdir yang sudah digariskan Illahi semenjak di masa ruh entah sampe kapan. Saya back to campus di 2015, dan mungkin by accident. Kenapa gitu? Ya itu, karena jadi dosen bukan impian saya. Ya sebenarnya masuk kampus ini juga bukan impian saya, tetiba aja muncul di realita dan harus ditanggapi dengan dewasa (meskipun saat itu saya masih kanak-kanak secara pemikiran). Toh walaupun bukan impian ini tetap jadi kenyataan.
April 2015 jadilah saya mendapatkan sebutan dosen, dan menjalaninya dengan niatan baru: belajar. Nah lho, koq belajar… bukannya jadi dosen itu mestinya ngajar? Ya ya ya, karena semenjak masuk kampus ini prinsip hidup saya (dan mungkin 22 orang teman saya lainnya) berubah total menjadi learning by doing. Kalo frasanya dibalik maka didapatkan, doing is learning… makanya jadi dosen (ngajar dll itu) adalah belajar buat saya. Saya trauma setiap kali membaca dan mengingat proses saya menulis Tesis (di kampus ternama di pinggiran ibukota) sedemikian hingga saya pingin memperbaikinya dengan belajar jadi mahasiswa beneran itu gimana.
Ternyata niat belajar saya mesti diperkuat dengan takdir saya kehilangan belahan jiwa (yang ada ceritanya di Blog ini), menjadi asisten pelayan dosen di akhir 2015 dan mendapatkan pengobat jiwa (belum ada ceritanya di Blog ini) di awal 2016 hingga sekarang. Akhir tahun kedua pandemi Covid-19 (supaya bisa dijadikan tagline) adalah tahun kelima saya menjadi kepala pelayan dosen. Banyak cerita, berdarah-darah malah, tapi ibarat sebuah kisah heroik ini baru awal kisah karena inti cerita, tokoh utama sebagai dosen, belum muncul. So, sementara saya masih harus bersabar untuk melanjutkan kisah ini supaya bisa lanjut ke Kisah Seorang Dosen (Bag. 2)
Nah, ada kurun waktu di 2015 itu sebelum saya jadi asisten pelayan dosen di saat saya benar-benar full-time dosen. Sayangnya saya masih dosen muda, ehm… umur saya waktu itu masih kepala 3. Jadi saya masih naif, menghabiskan waktu di luar kelas bukan untuk belajar jadi dosen tapi malah menghibur diri dengan nonton TV kabel (kebetulan Jurusan masih sewa TV kabel) atau bermain dart sama Kajur/staf Jurusan lainnya (waduh… mestinya ini off the record ya).
Kalo saya resapi, boleh jadi waktu-waktu tidak efektif itulah yang menyebabkan saya ditegur Illahi. Woi, jangan enak-enakan di comfort zone, sudah gak ngurusin anggaran dan program eh malah gak belajar jadi dosen beneran…! (kira-kira seperti itu tegurannya). Tapi saya dapat pembelajaran yang disiplin dari dosen senior saya a.k.a Kajur (satu dari 22 orang yang saya singgung di atas) dengan mengikuti PEKERTI dan beberapa kegiatan peningkatan kompetensi lainnya (ada abdimas dan pelatihan). Saya juga dilibatkan sebagai instruktur kokurikuler (dengan materi Tesis saya) sekaligus pengolah bahan laporannya.
Sebenarnya saya belum puas dengan proses pembentukan saya sebagai dosen. Saya baru menyadari sekarang kalo jadi dosen yang beneran itu akan lebih banyak kegiatan yang kudu dikerjakan ketimbang waktu yang dimiliki. Dosen punya kewajiban, sebut saja Tridharma PT (pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat) dan untuk melaksanakan itu butuh pengetahuan, ketrampilan, sikap dan pembimbingan. Untuk pendidikan dan pengajaran, saya banyak belajar dan dibimbing oleh Kajur. Untuk pengabdian kepada masyarakat, saya diberikan kesempatan Kajur dan difasilitasi PPM. Nah, yang sulit, untuk penelitian saya belum pernah diawasi dan diajarin siapapun. Dan ini motivasi yang jadi PR saya sampe sekarang,
Walhasil saya belum bisa jadi dosen yang mampu meneliti meskipun sudah 5 tahun menjadi pelayan dosen. Ya sebenarnya di 2 kewajiban lainnya juga belum bener juga sih… jadi malu. Itulah pembuka Kisah Seorang Dosen, semoga berlanjut.
Departemen Rekruitmen dan Training PSDM One Day One Juz
ODOJ SPIRIT MESSAGE (OSM)
BERHENTI SEJENAK
Setiap diri kita ada saat dimana hati galau, capek, dan bahkan bosan dengan kondisi yang sama dan terus menerus dihadapi. Menjadikan jasad bahkan pikiran kita terkendalikan oleh rasa itu.
Berhenti sejenak untuk merenovasi hati adalah kemungkinan yang bisa kita lakukan. Dengan cara dan metode yang akan membuat kita bersemangat kembali.
Salah satu caranya adalah menyapa alam, berinteraksi dengan sekitar, berbagi cerita dan juga bertukar pengalaman dengan sahabat kita.
Cara yang lebih ampuh lagi adalah dengan meningkatkan kualitas ibadah kita, menghadirkan hati kita dalam setiap ibadah yang kita lakukan. Sehingga kita lebih merasakan keterlibatan Allah dalam kondisi apapun yang kita alami.
Berhenti untuk melanjutkan perjalanan dan pekerjaan bukan hanya berhenti untuk meninggalkan semuanya. Namun kita hanya butuh penyegaran untuk meningkatkan semangat kita kembali.
Dengan semangat yang baru, hati kita akan lebih termotivasi untuk bertahan di dalam kebaikan. Menjadikan hari- hari kita untuk lebih bermanfaat bagi orang lain.
Khotimah Harahap Dept. Rekruitmen dan Training PSDM-
Pekan ini saya mencoba peruntungan dengan mengikuti lomba logo di kampus sendiri. Bukan soal hadiahnya yang cukup menggiurkan meski tidak banyak, tapi tentang meninggalkan warisan turun-temurun buat almamater. Hal yang saya nilai worthed untuk diperjuangkan.
Niatnya sudah sejak awal pengumuman lomba, tapi kenyataan berkata lain saya baru memikirkan konsepnya bahkan ketika lomba sudah hampir ditutup (H-2). Kebiasaan SKS sejak kuliah, kebawa sampe sekarang bahkan ketika saya harus membimbing mahasiswa wkwkkwk. Jadi yang satu ini, plis jangan dicontoh ya gaes…
Bukan sekali ini saya mendesain logo, tapi memang bukan perkara mudah setiap kali menjalaninya. Satu yang saya ingat ketika membuat logo sebelumnya, menjadi diri sendiri that’s all folks! Tapi tetap saja, bagus jika kita punya metode kerja yang standar supaya setiap ada kerjaan yang sama kita tidak bingung mesti ngapain. Seperti halnya mendesain logo, awalnya asal gambar. Eh koq mentok… hari H deadline baru kepikiran mestinya berangkat dari makna filosofis logo yang diambil dari visi, misi atau sistem nilai objeknya.
Jadilah saya mulai dari menggali definisi dari jurnal yang mo saya desain logonya. Lihat KBBI daring, tuliskan sebagai kerangka. Cari simbol-simbol dari template aplikasi logo maker yang bersesuaian dengan makna yang tertulis di kerangka, susun agar indah secara estetis dan selesai…!! Walhasil logo yang saya inginkan telah jadi, tinggal save jadi image. Wait… kenapa koq gak bisa di-save dan malah minta bayaran? Ternyata saya pake aplikasi free tapi berbayar, waduh… terpaksa deh pake screen capture saja.
Sesudah logo siap, saya jelaskan lagi makna filosofis yang ingin diwujudkan dari simbol-simbol pada logo tersebut. Tentunya nilai-nilai ideal dan tetapi membumi bagi kami yang mengenal jurnal dan kampus ini. Berikut ini arti logo di atas.
Siluet bangunan berwarna biru melambangkan kampus untuk mempelajari ilmu yang luas, seluas samudera
Tulisan JURNAL INFO KRIPTO berwarna putih melambangkan jurnal dibangun dengan dasar netralitas keilmuan (objektifitas)
Siluet gembok segitiga berwarna merah bata dan kuning emas melambangkan ilmu Keamanan Siber yang menjaga aspek keamanan, keutuhan dan ketersediaan (CIA)
Siluet cabe bulu berwarna merah putih melambangkan ilmu Kriptologi/persandian yang selalu menjaga keutuhan NKRI
Demikian kira-kira ceritanya, nanti saya update tulisannya apakah saya termasuk 3-10 orang yang beruntung atau hanya jadi penggembira. Tapi bener lho, untuk kerjaan eh keisengan yang satu ini saya benar-benar gembira dan tidak terbebani. Akhir kata, semoga Jurnal Info Kripto sukses proses go daring-nya dan semakin berjaya di dunia publikasi penelitian. Aamiin…
Alhamdulillah kami sehat wa ‘afiat. Semoga juga Ummi, selalu dalam rahmat Allah. Sejak Juni lalu kami kumpul di rumah. Kakak Fida sudah hampir 2 tahun sekolah di pesantren, jadi paling bisa kumpulnya kalo pas lebaran dan tahun baru aja.
Oh ya, sekarang kami bertujuh lho. Sejak 17 Juli ada anggota keluarga baru, namanya Alfani. Kami biasa memanggilnya dek Fani. Suasana rumah jadi tambah ramai lho, Mi. Sebenarnya bukan karena dek Fani suka rewel, tapi karena sudah sejak Maret lalu anak-anak sekolah di rumah karena pandemi Covid-19. Syukurnya waktu lahiran dek Fani ada mbah putri yang menunggu anak-anak, abi jadi gak kalang kabut.
Mi, kangen gak sama anak-anak? Pasti lah ya, mosok abi pake nanya segala. Abi bahagia anak-anak sudah tumbuh jadi remaja, cuma kadang abi merasa haru kalo membayangkan saat-saat nanti kalian bertemu. Kira-kira Ummi masih inget mereka gak ya? Kakak Fida sekarang sudah lebih tinggi dari mamanya, sudah kelas 3 SMP sebentar lagi SMA. Waktu awal di pesantren badannya nyusut, pipinya tirus tapi jadi tambah cantik kalo kata eyang kakung. 3 bulan di rumah sudah balik lagi sih endutnya, sudah seperti sebelum masuk pesantren.
Mas Faqih sudah kelas 6 SD. Badannya mekar dan tinggi, makannya banyak dan tenaganya juga kuat. Selain suka menghafal Quran, Mas Faqih juga suka bahasa Arab lho. Sepertinya Mas Faqih bakal kiliah di Timur Tengah nih, Mi. Kalo mas Faisal sekarang sudah SD, kelas 1 sih tapi sudah mulai berani. Mas Faisal orangnya kalem, penyayang dan perhatian banget. Mas Faisal selalu bilang masih inget Ummi lho, padahal sudah sejak 2 tahun gak ketemu kan.
Abi cuma bisa bersyukur, Mi. Abi diberikan Allah kesempatan ketemu penerusnya Ummi, yang sayang banget sama anak-anak. Abi sendiri takjub, bagaimana bisa anak-anak sudah menganggap mamanya seperti ibu mereka sendiri. Malah kadang abi merasa, bahkan dek Fat lebih sayang pada anak-anak ketimbang abi sendiri. Abi masih bisa jengkel sama anak-anak, kadang marah-marah. Tapi dek Fat orangnya sabar banget, mungkin karena dia dekat sama Al Quran. Anak-anak meski kadang bandel, juga lebih nurut sama mamanya sekarang. Abinya kalah…
Ummi, hampir setiap bulan abi mengajak anak-anak dan mamanya menjenguk pusara Ummi. Mereka selalu abi ingatkan kalo dulu ada ibu yang menyanyangi dan mengasuh mereka sejak dalam kandungan. Abi selalu bilang, jadilah anak yang sholih karena hanya dengan begitu kalian bisa ketemu lagi sama Ummi. Karena Ummi kan istri dan ibu yang sholihah, tentu kami hanya bisa kumpul lagi jika kami juga sholih. Semoga kelak kita akan dipersatukan lagi, sebagai keluarga besar. Inget gak dulu waktu awal kita menikah, Ummi sempat nanya abi mo punya anak berapa? Waktu itu abi bilang di tengah-tengah antara jumlah anak dari keluarga abi dan Ummi saja. Keluarga abi anaknya 3, keluarga Ummi anaknya 7. Sekarang anak abi ada 5, pas kan.
Kapan-kapan abi ceritain deh tentang kak Fia, anak perempuan abi yang jagoan. Kalo ketemu dia Ummi pasti gregetan deh, antara rambut kritingnya yang gemesin sama tingkah polahnya yang gak kalah sama mas-masnya yang cowok. Insya’Allah abi akan cerita panjang lebar, semoga Ummi gak bosen ya.
Salam dari kami semua buat Ummi di sana, semoga selalu diterangi rahmat Allah dan ditemani amal-amal baik Ummi ya biar gak kesepian. Aamiin.
Sampai ketemu di surga-Nya. Wassalamu ‘alaikum wr. wb.
Di ultah perkawinan kami, istri membuat program baru untuk anak-anak: Bintang Kebaikan. Apa itu? Simak tulisan berikut.
Study from Home
Kita sama memahami, untuk mencegah meluasnya penyebaran Covid-19 maka pemerintah mengimbau seluruh masyarakat untuk #stayathome selama masa tanggap darurat Covid-19. Salah satu imbasnya adalah program sekolah di rumah #studyfromhome #SfH yang berjalan hampir 3 pekan terakhir.
Awalnya tentu anak-anak merasa senang ketika tidak harus bersekolah tapi lambat laun mereka merasa bosan berhari-hari tinggal di rumah saja. Kali ini mereka juga tidak boleh bermain di luar seperti saat liburan. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri buat ortu. Salah satu kendala utama #StudyfromHome adalah ketika anak-anak tidak punya ritme yang teratur dalam aktivitasnya sehingga banyak sekali kegiatan tidak positif yang mereka kerjakan. Main hape mungkin satu yang paling banyak dikeluhkan netizen di status WA mereka, yang lain berkisar nonton TV, berantakin mainan, dan lain-lain. Nah, bagaimana kami mengatasinya?
Bintang Kebaikan
Ini dia, program besutan istri di ultah ke-4 perkawinan kami. Entah dari mana idenya, pagi-pagi habis Subuh istri menyampaikan program ini ke anak-anak dan langsung mendapat sambutan positif. Mantap istriku 👍👍
Seperti apa programnya? Tunggu ya, kami mo sholat Dzuhur berjama’ah dulu…