Oleh : Arif Budiyono (Mahasiswa Pascasarjana Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI)
Berdasarkan pengamatan saya terhadap Journal of Islamic Economic and Business Research Vol. 4 Number (1), Page 1-25, (June) 2024 berjudul The Current Issue of Reporting Zakat in Indonesia: A Critical Analysis dengan penulis Mohammad Qutaiba, Mohd Owais, Abdus Salam Muharam yang semua dari kampus International Islamic University Malaysia, Malaysia
Jurnal ini meneliti tentang praktik BAZNAS dan LAZ sebagai pengelola zakat Indonesia, dalam menjalankan tugasnya dilapangan terutama LAZ sepertinya belum benar benar mengutamakan transparansi dan tata Kelola yang baik, bahkan beberapa LAZ jauh dari kata tranparansi.
Ada 32 LAZ yang menjadi objek penelitan online, dari 32 lembaga ini ada yang nilainya baik, diatas rata dengan parameter keuangan ada 4 dan yang buruk ada 4. Sisanya menengah.
Mungkin karena ketidak tahuan atau belum mampu nya LAZ yang masih kecil untuk membuat laporan baik keuangan maunpun non keuangan yang teraudit sehingga ada diantara mereka yang bahkan tidak menyajikan laporan keuangan yang bisa diakses dengan mudah oleh Masyarakat.
Dampak dari hal ini adalah, ketidak percayaan masyarat kepada LAZ masih cukup tinggi, data riset yang ada menunjukan hal ini. Untuk meningkatkan kepercayaan Masyarakat kepada LAZ, sebaiknya semua LAZ diwajibkan memiliki laporan keuangan teraudit yang bisa diakses oleh Masyarakat dengan mudah, bisa ditaruh diweb site masin masing LAZ, faktanya ada 4 yang belum memiliki website.
Disamping itu laporan non keuangan juga perlu ditampilkan diwebsite dan mudah diakses oleh Masyarakat, selain itu LAZ perlu membuat promosi yang menarik untuk mengenalkan LAZ kepada Masyarakat bahwa LAZ itu memang layak dipercaya Masyarakat muslim.
Jurnal ini bukan tanpa kritik, karena memang dilakukan oleh secara daring, online dengan cara mengumpulkan data yang ada di internet. Tentu data ini kurang valid, contoh dari 32 LAZ ada 4 yang tidak memiliki website, ternyata informasi ini tidak semua benar, misalnya LAZ PERSIS sudah punya website, tetapi memang website tersebut bukan berdiri sendiri dengan domain mandiri, tetapi menumpang di website utama PERSIS dan nampaknya ini tidak bisa ditemukan dengan cara online.