Refleksi di umur 33 tahun: persimpangan hidup

Ini sebuah post pencurahan isi kepala dan hati, yang mungkin terkesan random tapi diusahakan memiliki alur.

Pada bulan ini, Oktober, tepat 33 tahun lalu pada 1992, saya dilahirkan di dunia. Kemampuan otak yang memiliki batas membuat saya kesulitan untuk mengingat secara detail semua pengalaman hidup saya ketika masa kecil, hanya fragmen yang paling terkenang yang bisa setiap saat dipanggil ketika perlu dipanggil. Film animasi Inside Out dengan apik menampilkan ilustrasi bahwa ingatan kita sebenarnya selalu terekam. Namun, hanya beberapa pengalaman hidup yang berkesan akan menjadi core memories. Dan juga dari beberapa artikel yang sempat saya baca, otak kita memang dirancang untuk melupakan sebagian dari ingatan agar kita tidak terlalu overwhelmed dengan semua informasi itu. Bahkan di model machine learning yang belakangan ini saya pakai di riset S3, Long-Short Term Memories (LSTM), memang dengan sengaja memiliki forgeting gate, agar informasi yang sebenarnya sudah agak terlalu jauh dan kurang relevan dengan masa kini sebaiknya tidak dijadikan dasar prediksi (atau pengambilan keputusan) yang terlalu signifkan. Tujuannya untuk menghemat biaya komputasi serta membuat hasil lebih relevan dengan kondisi saat ini, tanpa melupakan aspek penting di masa lalu dalam bentuk hidden state yang masih memiliki keterkaitan antara input dan ouput di tiap time sequence-nya. Kalau analogi LSTM ini digunakan di kehidupan saya, kenangan yang paling menempel dan menjadi dasar penentuan keputusan di hidup belakangan ini adalah kehidupan pasca pernikahan di 2015. Dan anggaplah hidup sebelum 2015 ini menjadi hidden state yang juga berkontribusi tapi tidak sesignifikan itu.

Tidak terasa, tahun 2025 ini menjadi genap 10 tahun pernikahan saya dengan istri saya, Padi Puspita. Pada 2015 lalu kami memutuskan mengikat janji untuk hidup bersama. Semenjak itu, lingkaran kehidupan saya berorbit pada keluarga kecil. Keluarga yang dimulai dengan suami-istri, dilanjut pada 2017 lahir putri pertama kami, Keiko. Dari suami-istri menjadi ayah-ibu-anak. Dan pada 2023, lahir putra pertama kami, Taka. Dari ayah-ibu-anak menjadi ayah-ibu-kakak-adik. Makin semarak keluarga kecil kami. Perjalanan hidup setelah 2015, atau berarti semenjak saya berumur 23 tahun, sudah bukan lagi tentang aku, tapi tentang kami. Tentang empat orang yang mendapat amanah oleh Allah untuk mengarungi kehidupan di Bumi-Nya bersama-sama. Lalu sudah jadi apa seorang Rofi di umur 33 ini?

Continue reading “Refleksi di umur 33 tahun: persimpangan hidup”

Tamatin Pokemon Arceus bareng anak

Pagi blogger di zona waktu manapun. Seperti biasa susah sekali menjaga momentum untuk selalu menulis blog karena keseharian sudah sibuk di kampus dan bersama keluarga. Kali ini saya mau tulis kilat mengenai pengalaman memainkan satu game di Nintendo Switch, yaitu Pokemon Arceus.

Game ini sebenarnya sudah direlease dari tahun 2022, tapi karena kami baru punya Nintendo Switch itu tahun 2023 akhir, jadi sudah lewat hype-nya. Meskipun demikian (ea) hal itu tidak menyurutkan keinginan kami untuk menamatkan main story dari Arceus, karena sesungguhnya memainkan game Pokemon merupakan salah satu cita-cita yang tidak kesampaian dari masa kecil (lho kok curcol). Kami ngikutin Pokemon lagi itu semenjak anime Pokemon Journey mengudara, saya dan Keiko selalu setia menunggu di TV setiap Jumat malam. Akhirnya setelah ada rejeki tabungan poin di Yodobashi, kami cus beli Nintendo Switch dan semua game Pokemon yang direlease untuk Switch, yaitu Sword Shield, Arceus, dan Scarlet Violet (kalau game mah dari Mercari aja, second murah masih oke wkwk). Karena mengikuti petualangan Satoshi dan Goh yang berputar di Galar, awal-awal punya Switch kami lebih semangat main Sword. Itu aja rasanya udah mind-blown hehe.

Ranking EVERY Pokemon Game On Switch From WORST TO BEST (Top 11 Games)
Continue reading “Tamatin Pokemon Arceus bareng anak”

(Part 2) Sampah RT: Jepang manajemen sampahnya keren banget

Catatan: Post ini point of view (POV) nya dari masyarakat yang tinggal sehari-hari di Jepang, khususnya di Ota-ku, Tokyo. Semoga suatu saat ada kesempatan sharing dari POV yang lebih mendalam sampai dapurnya manajemen sampah.

Pengalaman yang berkesan saat pertama menjadi “warga” Jepang adalah kunjungan pertama ke 区役所「くやくしょ」, [kuyakusho], ward office, atau kita sebut Kantor Kelurahan lah ya. Di situ kita mendaftarkan ke pemerintah lokal setempat bahwa kita akan menjadi pemukim di sana. Nah saat proses registrasi itu, untuk saya yang tinggal di Ota-ku, Tokyo, saya juga mendapatkan beberapa selebaran. Salah satunya adalah panduan untuk membuang sampah rumah tangga. Panduan ini sangat komprehensif dan bermanfaat untuk saya dan istri, kami tempel di samping kulkas biar bisa dilihat dengan mudah jikalau ada keraguan dalam membuang sampah. Saya share di sini ya dokumen lengkapnya. Tapi at least untuk halaman yang penting saya tunjukkan di post ini. Untuk sederhananya, saya ambil foto dari tepian jalan dekat apartemen kami, di tempat pengumpulan sampah sebagai berikut.

Panduan membuang sampah di lokasi tempat saya tinggal

Jadi sampah di Jepang ini dibedakan jadi empat yang utama, yaitu:

  1. Sampah yang bisa didaur ulang
  2. Sampah yang tidak bisa dibakar
  3. Sampah yang bisa dibakar
  4. Sampah ukuran besar

Mari kita masuk satu persatu dan kenyataannya sehari-hari di rumah tangga saya.

Continue reading “(Part 2) Sampah RT: Jepang manajemen sampahnya keren banget”