racun

Istimewa

gambar dibuat oleh Ryan Nababan, https://www.instagram.com/drrtydobz/

Saat ia marah, sulur-sulur seperti ular mencuat dari sepasang telinganya.

Berbulu tipis namun tajam: liat, lekuk-lekuk pejal yang siap memangsa apa yang ada di hadapannya.

Sementara, benaknya hanya menggeletarkan warna pekat yang berbau asam, sepenuhnya gelap hingga hampir-hampir tidak lagi mengenal cahaya.

Pada hari-hari terbaiknya, ia hanyalah seseorang.

Seseorang yang biasa, seperti seseorang yang bisa kau temui di jalan, di persimpangan, bahkan di pusat perbelanjaan.

Perempuan biasa dengan penampilan yang sangat biasa.

Sekuat tenaga, pada hari-hari yang badai dan buruk dan busuk, ia menahan segala rasa.

Amarah.

Sedih.

Dendam.

Sakit.

Sangat sakit.

Selalu hanya ada sakit yang hadir di sana.

Di dalam benaknya yang sepi, di mana ia mengunci diri.

Ia meringkuk dalam-dalam, seperti anak kucing yang kehilangan induknya. Hanya bergelung disana, menunggu. Entah apa lagi selain hanya jeri.

Dan sakit. Dan sakit lagi.

Di atas, di permukaannya yang biasa-biasa, ia menutup wajahnya yang berkeriut jeri, memulas bedak, memoles senyum.

Bersandiwara seperti orang baik.

Menolong orang-orang.

Memelihara kucing.

Merawat anak-anak burung.

Kemudian datanglah hari, saat rasa marah mendidih di setiap jengkal yang ada di tubuhnya. Sakit itu datang lagi.

Sakit itu baik.

Tuhan berkata.

Sakit itu baik, penebusan dosa, melatih peka.

Persetan, akhirnya perempuan itu nyaring bersuara.

Aku tidak pernah baik, katanya, aku lahir dari rahim perempuan busuk.

Sudah lama aku menyangkal aku. Sekali ini, biar saja aku buruk.

Biar saja aku busuk.

Lalu mengeriaplah wajahnya.

Geletar-geletar sakit yang disimpannya dalam-dalam, perlahan-lahan, ia keluarkan.

Dalam bentuk ular-ular, melata dan merayap-rayap, mendesis-desis.

Seseorang di ujung pernah berkata, jauhilah orang yang beracun.

Aku tertawa, membatin.

Bagaimana jika akulah yang beracun?

Ia tidak pernah bisa menjawabnya.

Aku (dengan huruf A besar agar kamu mengerti)

Istimewa

gambar ini dibuat oleh Ryan Sheehan Nababan (instagram @drrtydobz)

Satu-satunya yang kami takutkan hanyalah, mati.

Tunggu, tunggu mari sejenak kita samakan persepsi.

Kita?

Katamu. Iya, kita.

Kamu, aku, dan para aku.

Tunggu, para aku?

Kamu menyergah, sepasang mata milikmu membelalak heran.

Sayang, bukankah pernah kukatakan bahwa ada banyak aku di dalam aku?

Kamu menunduk, itu, itu aku selalu ingat, ujarmu.

Lalu mengapa kamu masih heran, kami membatin tidak lagi bertanya.

Begini, Aku (kami akan menyebutnya dengan huruf besar agar kau tak lagi bingung).

Aku tahu kau tidak ingin lebih banyak berfikir, karena, yah, untuk apa berfikir?

Bertanya bagi sebagian kita jauh lebih gampang, bukan?

(Jika masih tidak mengerti, berpura-pura sajalah bahwa kau memahami)

Atidak takut jika tubuh ini mati. Tubuh saat mati, ya sudah ia hanya akan mati. Paling-paling hanya akan digerogoti cacing-cacing dan belatung gemuk.

Tapi kamu takut belatung, katamu.

Iya, jawabku.

Dia berisik. Kataku yang lain lagi.

Ssh dengar saja dulu! Kataku yang satu lagi.

Aku jarang sekali satu pendapat. Kami sering bertengkar berbeda suara. Kali ini kami setuju, diamlah dulu.

Aku tidak takut tubuhku mati. Aku hanya takut, mereka semua mati.

Kamu tidak bersuara. Sungguh kamu memang bodoh dan tidak berguna.

Kenapa tidak bertanya, siapa mereka?

Aku takut jika aku, aku, aku, aku, dan aku di sini mati. Satu persatu.

Aku takut, tidak menangis saat melihat ada bencana memorak-poranda segala yang ada.

Aku hanya bergidik saat kutemui aku tidak terusik melihat mayat-mayat hampir busuk akibat epidemi.

Suatu kali, aku bahkan bertanya kepada Aku, kenapa kamu tidak sedih padahal seharusnya kamu menangis sampai mati?
*
Kamu tidak lagi bertanya, rupanya, kamu juga sudah lama mati.

new normal

Istimewa

Belakangan, frasa ini terdengar di mana-mana. Di headline berita, di timeline twitter, di berbagai whatsapp group, di mana-mana.

Ingat, kata-kata memiliki kekuatan. semakin sering digaungkan, semakin bermakna-lah ia. Celakanya, new normal ini bagi sebagian orang (well, most of people) artinya kurang lebih: sudah aman, cuma tambah ribet dikit, wajib pakai masker dan harus sedia hand sanitizer.

Pemikiran itu tidak salah, sungguh, itu sudah sesuai dengan aturan untuk meminimalkan penyebaran COVID-19 yang sungguh merusak tatanan dunia tahun 2020 ini. Semua sektor terdampak, dari kelas kakap sampai kelas ikan teri, semua megap-megap. Kebanyakan dari kita semua sekarat, lapar, dan miskin.

Maka, new normal menjadi semacam angin segar penghiburan (yang halu) untuk bisa kembali menggerakkan roda yang sudah mangkrak selama hampir tiga bulan. Sungguh, ingin rasanya merasa optimis jika badai sudah berlalu.

Namun, satu hal yang perlu kita ingat, COVID-19 ini belum ada obatnya. Belum ada vaksinnya, bahkan, di beberapa penelitian (cek di sini) virus yang ukurannya super kecil ini terus mengalami berbagai mutasi. Kamu bisa saja cuma gatal-gatal di kaki, tapi setelah dicek ternyata positif COVID-19. Kamu bisa saja cuma merasa diare, tapi tiba-tiba susah napas, dan saat ke rumah sakit, sudah terlambat, kawan.

Jadi, bagaimana akan ada vaksin dalam waktu dekat kalau virusnya saja terus berubah-ubah?

Mau tidak mau, setelah skenario new normal ini dijalankan, sektor usaha kembali dibuka, kantor-kantor kembali beroperasi. Sekolah-sekolah akan aktif kembali, maka, kita tidak akan punya pilihan, selain, kita akan bertarung yang sebenar-benarnya.

Seleksi alam akan berlangsung sejadi-jadinya. We’re on our own. Tanpa senjata, kita hanya akan bertarung dengan tangan kosong. Tanpa immunity, tanpa jaminan keselamatan, 

Lemah, kamu mati.

Muda, kamu terinfeksi.

Ada juga, yang muda mati, yang lemah bisa bangkit, atau tetap ikut mati.

Sementara, anak-anak juga banyak yang mati, tapi beritanya tersembunyi.

Berbagai pihak menggadang-gadangkan skenario Herd Immunity sedang dijalankan. Tapi, bukan bermaksud sebagai orang yang pesimis dan tidak mau berusaha, HI itu akan terbentuk jika dalam satu kluster sebaran (yang hitungannya ratusan juta jiwa mati itu), ada kelompok yang sudah terinfeksi dan kebal. 

Bagaimana bisa kebal, jika yang sudah terinfeksi dan sembuh saja bisa terserang kembali? Bagaimana bisa kebal kalau tubuh belum punya “tentara” untuk menjaga si virus agar tidak menginfeksi? 

This sceneario is just sounds like genosides or mass massacres. Cuma diperhalus saja bahasanya agar tidak menimbulkan banyak konflik. 

New Normal tidak sepenuhnya buruk, jika kesadaran kolektif telah terbentuk. Masing-masing dari kita secara sadar harus bisa saling menjaga diri, jaga keluarga, dan jaga lingkungan. Pakai masker tanpa paksaan, sering cuci tangan, dan jaga jarak.

J a g a j a r a k sepertinya hanyalah suatu hal yang sepele dan remeh, namun beberapa kali, saat terpaksa harus membeli kebutuhan di supermarket, masih banyak tuh yang suka mepet-mepet dan tidak mengindahkan anjuran sama sekali. 

Jadi, jika kita mau mencermati dan melihat keadaan sekitar, apakah kesadaran kolektif itu sudah terbentuk? Sedihnya, belum.

Banyak orang merasa abai, meremehkan, dan tidak peduli. Barangkali saya dan kita semua yang sedang membaca tulisan ini masih berlaku hal yang sama. 

Padahal, jika kita sakit, atau menularkan ke sana kemari, pandemi ini tidak akan pernah berakhir. Semakin lama, semakin babak belur langkah kita ke depannya.

Sungguh, resah sekali rasanya. Hidup terasa begitu tidak pasti, apa yang dimiliki sekarang, belum tentu masih ada sampai esok hari. Mari berdoa semoga new normal yang terus digaung-gaungkan ini, benar-benar sebuah kehidupan normal baru dan baik.

Bukan menormalkan angka penderita yang makin tinggi, bukan menormalkan jumlah kematian yang semakin banyak, bukan pula menormalkan budaya abai dan tidak peduli.

Semoga.

 

Kunang-kunang

Hidup berkelindan di antara kebetulan-kebetulan, keajaiban, hal-hal baik, buruk, dan segala yang ada di atasnya yang serba tidak diduga.

Hari ini mungkin saja semua terasa begitu sakit, begitu berat, begitu tidak ada jalan keluar. Betapa sepi, betapa sunyi, dan gelap. Hanya ada gelap dan hanya gelap.

Sesekali ada cahaya, tidak gemerlap, tidak benderang, hanya secercah mungil mirip cahaya dari perut kunang-kunang, tidak cukup hangat untuk menghidupkan tulang, namun cukup sekadar untuk berpegangan.

Kemudian terkadang ada kembang api, letupannya membawa ilusi, bahwa ya, sudah cukup untuk bisa bertahan di sini. Hidup. Hanya harus hidup, buka karena apa-apa, namun sungguh, hidup hanyalah kebetulan-kebetulan berkelindan, keajaiban yang tumpang tindih, harapan yang jalin-menjalin, dan sisanya, ya sisanya hanya cukup untuk dijalani.

I lu si

Tiba hari dimana kata-kata begitu mudah terucap namun nyata yang mengiringinya begitu sulit untuk dilakukan.

Begitu mudah berbicara. Ternyata tidak ada isinya.

Hari ini aku berkata aku menerima semuanya.

Hari ini pula aku kehilangan segala yang ada.

Hanya kata-kata yang kupunya.

Kata-kata pula yang membuatku harus mengingkarinya.

Dunia begitu kejam.

Aku begitu kerdil begitu tidak ada harganya.

Maaf aku tidak lagi ada.

DUA DUNIA MAYA

Satu. Maya Duri

Maya Duri mencuci bersih peralatan rias yang baru saja ia gunakan. Sore itu terasa begitu getas dan anyir. Ia memang menyukai pekerjaannya, namun semakin sering jasanya digunakan, artinya semakin sering pula ada yang mati. 

Kematian bukan hal yang asing bagi Maya Duri. Ia begitu lekat dengan banyak selongsong tubuh tanpa jiwa. Ia mendandani mereka, membuat wajah-wajah mati itu menjadi rupawan.

Maya Duri memperbaiki rupa yang rusak. Mengembalikan mata ke rongganya, kemudian menutupnya dengan selotip agar tak lagi membuka. Ia juga menutupi luka dan borok dengan alas bedak, kemudian memoles gincu agar bibir biru tak lagi mengganggu. 

Jika seseorang bertanya, Maya Duri, kenapa kamu tak merias mereka yang hidup?

Maya Duri hanya akan tertawa kecil dan menjawab, mereka yang mati juga pernah hidup, dan seperti yang hidup, mereka yang mati juga ingin tampil jauh dari buruk. 

Tidak ada yang sungguh-sungguh mengerti dunia Maya Duri, selain dua sahabatnya, Japa Umbara dan Padme Noir.

*

Japa Umbara bukanlah lelaki yang sabar. Ia sudah menunggu Maya Duri lebih dari lima belas menit lamanya di depan gerbang kos sahabatnya itu yang berwarna tembaga. Lama banget, sih. Gerutu Japa Umbara sambil terus menengok arloji hitam yang melingkar di tangannya. 

Hampir saja laki-laki dengan tato bintang Daud di pergelangan itu menelpon Maya Duri ketika gadis albino dengan rambut putih dan sepasang mata sewarna kersen matang itu menghampirinya dengan tergesa-gesa. 

Penampilan Maya Duri seperti tokoh peri yang begitu saja keluar dari buku dongeng. Dengan keseluruhan rambut dan alis berwarna putih, dan mata merah menyala terang, tidak ada yang pernah bisa terbiasa dengan penampilannya, begitu pun dengan sahabatnya Japa Umbara yang sudah bertahun-tahun menemaninya. 

“Im sorry.”  Tukas Maya pendek ketika melihat wajah Japa yang masam. Maya tahu sahabatnya itu tidak suka menunggu, meski demikian, ia harus mengecek perlengkapan pekerjaannya benar-benar sudah komplit tanpa ada yang tertinggal satu pun. 

“Besok-besok naik taksi aja deh.” Gerutu Japa saat mereka memasuki sedan Volvo miliknya. Maya hanya mengangkat bahu ringan, tahu benar sahabatnya hanya merajuk. 

“Sorry-sorry, Pa! Nanti gue traktir deh abis kerjaan selesai, ok?” Tukas Maya ringan sambil mengecek ponselnya. Ia mengetikkan lokasi di aplikasi map dan mulai membaca rute yang sudah terpampang di layar ponselnya. 

Japa Umbara mendengus pelan mendengar Maya yang berbicara asal-asalan. Selepas pekerjaannya selesai, gadis itu akan sama bekunya dengan mayat yang sudah diriasnya. Sambil bergidik pelan, Japa setengah mengomel pada sahabat yang sudah dikenalnya sejak kecil itu. 

“Lo sebenernya bisa, lho, dapet kerjaan lain yang lebih normal.” Ucap Japa sambil melirik sahabatnya yang sedang memasang lensa kontak untuk menyamarkan mata merah menyala miliknya. 

Alih-alih membalas komentar Japa, setelah selesai memasang lensa kontak yang membuat warna pupil matanya menjadi hitam pekat, Maya membuka jendela sedan Volvo Japa dan mulai menyalakan rokok yang baru diambilnya dari dalam tas. 

“Jadi kerjaan gue ngga normal?” Balas Maya sambil menghembuskan asap rokoknya pelan. 

Japa membelokkan mobilnya dengan hati-hati sebelum menjawab pertanyaan retoris dari Maya. 

“Bukan gitu maksud gue, May, kerjaan lo terlalu berpengaruh sama mood dan kondisi lo sendiri. Setiap habis kerja, lo jadi aneh. Dingin dan kaku, kayak orang mati yang lo rias.” Sahut Japa blak-blakan. 

“You know why.” Kata Maya lirih. Ia tak lagi memandang Japa Umbara, benaknya mengembara entah kemana. 

I know damn well. Batin Japa. Makanya gue gak mau lo terus-terusan ngerias jenazah, but you never listened to me. 

***

Rumah itu terlalu sunyi untuk tempatnya pulang. Maya Duri menangis ditengah hujan dengan pakaian tidur, yang, karena basah menyingkap tubuh mungilnya yang mulai bertumbuh. 

Sssh jangan menangis… . 

Suara itu begitu berat dan berbau masam. Aroma apak tembakau menguar di penciuman Maya ketika pemilik suara itu berbisik terlalu dekat di telinganya. 

Kamu mimpi Mahla lagi?

Suara itu berbisik di telinga Maya Duri yang terus menangis. Gadis sepuluh tahun itu memimpikan Mahla Duri, saudara kembarnya yang sudah mati, tujuh hari yang lalu. 

Jangan sedih, ada aku. Jangan sedih, aku selalu bersamamu.

Sesudahnya, yang diingat Maya Duri hanyalah pagi dimana daun-daun masih basah, dan juga celana dalam yang berdarah. 

***

“Udah sampai.” Tegur Japa saat mendapati Maya tak kunjung bergerak. Where are you? Batin Japa melihat sahabatnya itu masih mematung. Pelan-pelan Japa menggerakkan tangannya ke arah Maya untuk mencolek bahu gadis itu. 

“Don’t touch me.” Desis Maya yang menghentikan gerakan Japa dengan tiba-tiba. 

“Gue panggil lo ngga jawab.” Sahut Japa ketus sembari mengawasi Maya yang mulai bergerak gesit mengambil peralatannya. 

Still, dont touch me.” Ujar Maya memperingatkan. Japa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, terlalu malas untuk mendebat gadis berambut putih seperti hantu itu. 

“Gue jemput dua jam lagi.” Seru Japa pada Maya yang mulai beranjak menjauhi mobilnya. Gadis itu hanya membalas dengan lambaian tangan sekenanya.

Japa Umbara memandangi punggung Maya Duri yang menunggu pintu rumah duka di depannya terbuka. 

Punggung itu masih sama rapuh dan luka Maya masih terlalu menganga untuk bisa disentuh dan disembuhkan Japa. 

***

“Kamu siapa?” Tanya Japa kecil pada gadis aneh bermata merah dan berambut putih yang bermain ayunan di depan rumahnya. 

“Aku suka rumahmu.” Jawab gadis kecil aneh itu, sama sekali tak menjawab pertanyaan Japa. 

“Kamu sudah pernah ke sini?” Tanya Japa lagi. Ia melihat rambut putih gadis itu tertiup angin saat ayunannya mulai bergerak. 

Apa dia hantu? Batin Japa kecil saat melihat manik mata gadis itu sewarna buah kersen matang yang tumbuh tak jauh dari rumahnya. 

“Rumahku di sana.” Seru gadis itu sambil mengarahkan telunjuk. Rumah besar di ujung jalan. Japa teringat ibunya sempat datang ke rumah besar itu dan mengatakan ada gadis kecil yang tenggelam di kolam. 

“Kamu hantu?” Tanya Japa sambil mundur pelan-pelan. 

“Bukan. Tapi aku harap aku memang hantu.” Jawab gadis aneh bermata merah itu. “Kalau aku hantu, Luca tidak akan pernah lagi bisa menyentuhku.” 

Japa kecil tidak mengerti. “Siapa Luca?” Tanya Japa. Maya tidak menjawab pertanyaan Japa. Ia hanya bermain ayunan dengan Japa yang terpesona melihat sosoknya. Rambutnya yang putih, matanya yang merah, senyumnya yang menawan. 

Japa seolah tersihir setiap kali melihat tubuh Maya berayun ke depan. Ke belakang.

“Aku boleh datang ke sini?” Tanya Maya Duri yang disambut anggukan kencang kepala Japa Umbara.

“Masuk, yuk! Kukenalkan ibuku.” Ajak Japa, ia menghentikan laju ayunan Maya Duri dengan memegang lengannya. 

Japa tidak pernah melupakan ekspresi jijik dan kesakitan di wajah Maya Duri saat ia menyadari tangan Japa memegang lengannya. 

“Maaf, maaf!” Seru Japa sembari melepas pegangannya begitu saja. Wajah mengernyit Maya langsung menghilang. Ia kembali tersenyum. 

“Aku suka kamu, tapi jangan sentuh aku. Aku juga suka kue madu.” 

Setelah itu, Maya Duri melangkah dengan mantap di mana ibu Japa Umbara menunggu mereka di depan pintu dengan senampan penuh kue madu. 

Sejak hari itu, Japa Umbara tidak pernah bisa jauh dari Maya. 

***

Bulan Darah

Tangan-tangan kasar itu mulai menjamah tubuh gadis itu dari ujung sampai ke ujung lagi. Sesekali mereka berhenti di tengah-tengah, di atas sepasang payudara yang mengkal, sembari mendesah. Bibir-bibir busuk hitam dengan lidah panas dan bau, mendecak-decak, mencecap sejengkal demi sejengkal bukaan kulit yang baru saja dilucuti dengan paksa. 

“Makanya jangan sok pinter!”

Ujar laki-laki satu, ia tersengal-sengal  seraya menjilati tubuh gaids yang kini sudah tidak melawan lagi. Rambut merahnya tergerai dengan serampangan di atas jalanan penuh lubang yang kotor dan berbau pesing. 

“Cakep bener dia, bos! Mulus lagi!”

Geram lelaki kedua, hidung besarnya yang menyerupai moncong babi mengendus-endus rambut merah lebat yang dulunya milik perempuan dengan wajah elok itu. Tubuh moleknya kini tidak menggunakan penutup suatu apa. Kedua payudaranya yang baru mengkal, tergantung lemas di bawah wajahnya yang sudah pias. Pangkal pahanya mengalirkan darah segar yang merembes perlahan ke badan jalan. 

“Buat apa cakep kalo banyak bacotnya!” Seru lelaki yang dipanggil bos itu. Kawanan itu kemudian tertawa dengan tawa kasar yang parau. “Biar dia rasa, jadi buruh nggak usah kebanyakan tingkah! Tau rasa kan, lo sekarang!” Seru laki-laki satu seraya kembali mengoyak tubuh gadis itu.

Sakit, tolong!

Gumam perempuan itu ditengah-tengah napasnya yang terakhir. Lehernya telah dicengkeram begitu rupa, sementara bagian-bagian tubuhnya lumat oleh kawanan preman yang tadi mencegatnya. Ia bisa merasakan tangannya dijilati, sementara kaki-kakinya dicengkeram sama kuatnya dengan cengkraman di lehernya, sehingga ia tak bisa lagi bergerak.

Tolong! Sakit! Hentikan, tolong!

Perempuan molek itu pernah meminta hingga suaranya serak. Ia telah menjerit dan berteriak. Menendang dan mencakar-cakar. Ia mengiba dengan putus asa, bagai anak domba di bawah cengkeraman para serigala: segalanya sia-sia.

Serigala-serigala itu berwujud lelaki satu, dua, tiga, dan empat, yang sama sekali mengabaikan permintaannya. Mereka menyergap, lalu menyeretnya ke dalam gang sempit yang jarang dilalui manusia. Di dalam sana, kawanan lelaki itu kemudian berpesta. Mengganyang si wanita sampai puas. Mereka mencabik-cabik tubuh itu hingga koyak, sampai tuntas, habis napasnya. 

“Wah, bos, kayaknya dia mati, nih!” Seru lelaki empat dengan bekas luka yang melintang di wajahnya. Ia baru saja menunaikan hasratnya yang begitu mendesak, sampai-sampai mengabaikan bahwa tubuh di bawahnya itu sudah kaku, jelas sekali tidak ada kehidupan yang tertinggal di dalamnya. 

Lelaki itu tak akan melupakan betapa wajah mayat bisa membuatnya ketakutan. Ia tak akan lupa bagaimana sepasang bola mata yang tadinya begitu hidup dan menawan, berubah mengerikan saat yang tertinggal hanyalah selongsong tubuh kosong, tanpa jiwa. 

“Masa? Yaudah, ayok! Cepetan cabut!” Perintah lelaki satu sambil membetulkan letak celananya. Ia telah berkali-kali ejakulasi di dalam liang si perempuan yang tak berdaya. Ketiga kawanannya bahkan harus memaksanya pergi dari liang itu untuk kemudian bergantian menggunakannya. 

Perempuan itu mati dengan tubuh rusak dan berdarah-darah, sementara bulan di atas sedang bersolek dengan begitu besar dan megahnya. 

***

Banou adalah buruh wanita yang memiliki wajah rupawan, dengan rambut merah panjang ikal sampai sebatas pinggang. Hari itu, ia memimpin rapat serikat buruh di tempatnya bekerja untuk menuntut hak-hak mereka yang disunat habis. Ia ingin memperjuangkan hak-hak buruh demi mendapatkan penghidupan yang lebih layak, dan jam kerja yang lebih manusiawi. Sudah lama sekali ia menggadang-gadang gerakan buruh yang bisa mengubah nasib mereka semua.

“Kita sudah terlalu lama diam, jika bukan kita sendiri yang bergerak, dan melawan, siapa lagi?” Ujarnya berapi-api. Banou dikenal sebagai perempuan dengan pendirian keras, meskipun usianya baru beranjak sembilan belas. Dilahirkan dalam keluarga miskin dan serba berkekurangan, mental Banou sudah ditempa dengan kesulitan dan sengsara, yang membuatnya menjadikan tekadnya lebih keras dari baja. 

Banou, meskipun tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah menengah, memiliki wawasan luas karena kegemarannya membaca berita. Banou juga merupakan salah satu buruh yang cukup vocal, sehingga suaranya sering didengar di berbagai media. 

Gadis yang hanya tamat sekolah dasar itu, selalu bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia hanya tinggal bersama dengan ibu dan adik kembarnya yang masih balita. Hidupnya dihabiskan dengan berpindah dari satu pabrik ke pabrik lainnya, beraneka ragam pelecehan telah diterimanya sejak belia. Banou sudah kenyang dengan rasa sakit, karenanya, ia ingin bergerak, dan bisa membuat perubahan. 

Ia percaya, orang kecil sepertinya, bahkan wanita, berhak memiliki hidup yang layak, serta sama berharganya dengan hidup orang-orang berduit di atas sana. Kini, Banou mengumpulkan rekan-rekan buruh yang memiliki tujuan sama dengannya selepas pulang kerja. Mereka berkumpul di tanah lapang tak jauh dari pabrik, pertemuan itu dilakukan secara terbuka, Banou sengaja melakukannya dengan terang-terangan, agar para atasannya bisa dengan mudah mengetahui, bahwa gerakan yang digagasnya sama sekali jauh dari pemberontakan. 

Beberapa rekan buruh di hadapannya tampak mengangguk semangat, namun ada pula yang tampak ragu-ragu dan diliputi ketakutan. “Ban, ada peribahasa yang mengatakan, anjing tidak pernah mengigit tangan yang memberinya makan.” Sela salah satu kawan buruhnya. Rekannya itu lelaki berbadan tambun, yang rupanya berbanding terbalik dengan nyalinya. 

“Ya, tapi apa kamu mau disamakan kayak anjing, Gon?” Sahut Banou sengit. Goni, rekan yang tadi menyahutinya tampak wajahnya memerah karena malu. “Sekalipun kita ini anjing, tapi bos-bos di atas sana itu cuma kasih kita remahan sisa. Sekarang lihat, deh, mana ada di antara kita semua yang makan enak, hidup layak? Padahal, tenaga kita diperas sampai tinggal ampas, boro-boro bisa napas!” Seru Banou lagi seraya menghidupkan batang rokok klobot yang dilintingnya sendiri. 

Terdengar beberapa gumaman mengiyakan di sana-sini. “Dengar, hari buruh memang sudah lama lewat, tapi tuntutan kita dari tahun kemarin belum juga diloloskan, masa kalian mau diam dan menyerah begitu saja?” Desak Banou seraya mengamati wajah-wajah lelah dan kuyu di hadapannya. Banou tahu, kebanyakan di antara mereka hanya ingin segera pulang, dan meletakkan lelah di bahu malam. 

Ia pun merasakan hal yang sama, namun Banou bertekad, malam itu, suara mereka harus bulat untuk tiga tuntutan utama serikat buruh yang diketuainya. Satu, bayarkan upah buruh yang libur karena melahirkan. Dua, bayarkan upah lembur buruh, dan tiga, lindungi buruh perempuan dari kekerasan seksual. 

“Kenapa kita nggak minta naik gaji juga, sih Ban?” tanya seorang kawannya yang lain. Banou menghembuskan asap rokoknya dengan berat. “Dunia lagi resesi, Cok! Kita mau nuntut juga harus realistis, gaji kita udah sesuai UMR, kok. Cuman jam kerjanya aja yang gak jelas, tuh! Makanya kita nuntut dikasih duit lembur!” Jelas Banou panjang lebar. Ia kemudian merasa lebih lega saat dilihatnya banyak kepala-kepala yang mulai mengangguk karena setuju dengan pendapatnya. 

“Oke, gua liat lo pada udah capek, jadi rapat bisa selesai sekarang. Tapi udah pada setuju, kan? Ingat, besok kita mogok kerja, dan mulai long march dari pabrik sampe ke alun-alun, ngga boleh rusuh dan jarah-jarah. Ajak buruh lain yang lo kenal, yang belum ikut di sini.” Ujar Banou menutup rapat mereka. 

Setelah kerumunan itu menggumamkan “ya” sebagai persetujuan, satu persatu buruh yang dikumpulkannya mulai membubarkan diri. Saat itu, seseorang yang sangat dikenalnya mendekatinya dengan wajah cemas. “Ban, gue denger lo mau ngomong sama media?” Tanya temannya itu khawatir. 

Banou mengangguk pelan, “Ya, suara gue udah mulai didenger sama wartawan, kayaknya.” Sahut Banou acuh. Rekannya itu kemudian menahan lengan Banou dengan wajah khawatir, “Tapi, Ban, lo bilang ada yang ancam-ancam elu.” Bisiknya dengan suara lebih rendah. 

Gadis itu mengamati Riwan, sahabat laki-lakinya itu dengan seksama. Riwan salah satu rekan kerja Banou di pabrik yang bisa dipercaya olehnya. Beberapa hari yang lalu memang ada beberapa orang yang “mengajaknya bicara” di tempat sepi. Banou tidak mengindahkan ancaman itu karena baginya kebebasan berpendapat adalah sesuatu yang harus dijunjung tinggi.  

“Lo tenang aja, Wan, gue bisa jaga diri. Cuma preman-preman remeh yang datengin gue, gak akan surut langkah gue, Wan!” Balas Banou mantap. Riwan mengangguk resah mendengar ucapan Banou, “Inget, Ban, bos-bos kita itu gak suka kalo usaha mereka diganggu.” Ujar Riwan tampak sangat khawatir. 

“Ya, tapi mereka juga harus belajar ngehargain orang-orang yang kerja sama mereka, Wan. Lagian, tuntutan kita gak ada yang aneh-aneh, kok.” Jawab Banou ringan seraya mulai melangkahkan kakinya. 

Riwan memandangi punggung sahabatnya itu dengan gundah, pemberitaan demo buruh pada media tidak akan membuat pemilik pabrik itu senang. 

*

Banou melangkah dengan gontai sembari menatap bulan bundar besar di atasnya. “Lo cantik banget malam ini.” Puji Banou pada bulan yang dilihatnya. Ia tak pernah percaya pada hal-hal di luar akal sehat atau semacamnya, namun melihat bulan begitu besar dan indah malam itu, mau tak mau rasa optimis mulai menjalari dirinya. Seolah-olah wajah bulan sedang tersenyum dan memberinya restu.

“Semoga besok berjalan sebagaimana harusnya, kasihan temen-temen gue diperlakukan semena-mena hanya karena buruh kecil.” Gumam Banou penuh harap. Ia kembali melangkah menyusuri malam yang sudah jatuh, dan melahirkan bayang-bayang. 

Jalanan itu cukup sepi, namun Banou tak pernah risau, ia selalu melewati jalan itu tiap kali pulang bekerja. Sebenarnya, ia bisa naik mikrolet untuk sampai di rumahnya, namun Banou lebih memilih jalan kaki untuk menghemat pengeluarannya. Lagipula dengan berjalan kaki, Banou jadi bisa lebih banyak berpikir dan merenung sendirian.

Di tengah-tengah perjalanannya, ada empat sosok laki-laki yang menghadangnya. Banou teringat ucapan Riwan saat akan pulang tadi. “Centeng-centeng bos, nih.” Gumamnya mulai panik. Ia bisa saja berani dan percaya diri di siang hari saat banyak mata bisa melihatnya. Namun di tengah-tengah jalan sepi yang tidak ada manusia?

Banou mulai melihat ke sekeliling, namun tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Rasa takut mulai menjalari tubuhnya, darahnya berdesir lebih cepat, dan degup jantungnya mulai bertalu-talu. Jalanan itu memang jalan alternatif yang sangat sepi dengan banyak aspal rusak, yang jarang sekali dilalui manusia.

Dengan memberanikan diri, Banou melangkah dengan hati-hati. Barangkali cuma orang nongkrong, batin Banou menenangkan diri. Harapan itu pupus, saat salah satu lelaki yang menghadangnya melemparkan seringai menyeramkan. Ia bisa saja berbalik, namun jarak mereka sudah terlalu dekat. 

“Ini to, buruh sok tahu yang mau koar-koar di media?” Tanya salah satu laki-laki yang merintangi jalan yang akan dilalui Banou. Gadis itu kemudian bermaksud menuruti instingnya, ia langsung berbalik arah dan berniat melarikan diri. Namun, kawanan preman di hadapannya itu berjumlah empat orang, dan lebih gesit darinya. Belum sempat Banou melangkahkan kaki, mereka sudah berhasil menangkapnya. Ia menjerit saat diseret seperti boneka kain tak berdaya.

*** 

Riwan menemukan tubuh itu telanjang, koyak, dan babak belur dengan bulan bulat benar di atasnya. “Malam ini blood moon, Banou, sayang sekali.Gumam lelaki yang dekat dengan Banou itu miris. “Harusnya kamu tidak usah banyak tingkah, kamu bisa saja menghabiskan waktu bersamaku, alih-alih mengurusi serikat buruh yang tidak jelas juntrungannya itu.” Bisiknya sedih. 

“Kamu juga sudah diperingatkan, tapi kamu sangat keras kepala.” Sambung Riwan lagi, sementara, dirasakannya ponsel di saku celananya bergetar. Perlahan lelaki itu membaca pesan yang masuk di ponselnya itu.

“Bagaimana?” Bacanya pada pesan yang diterimanya. “Beres.” Jawab Riwan pendek seraya mematikan ponsel. Ia yakin ayahnya bisa bernapas cukup lega sekarang, serikat buruh yang digadang oleh Banou membuatnya gelisah akhir-akhir ini, sampai-sampai Riwan harus menyusup di antara mereka demi menghentikan gerakan itu.

Riwan lantas menatap sedih pada gadis yang disukainya namun sangat keras kepala itu. ia termenung beberapa lama, kemudian melangkah gontai meninggalkan tubuh Banou dengan mata yang masih membelalak tanpa nyawa. 

“Maaf, Banou, ayahku tidak mau kamu bicara dengan media.”

marianne

Sebuah lubang, rekah di badan tanah begitu saja. Rebah di atasnya, sepasang telinga mendengarkan deru yang berhembus dari dalamnya.

Aku memakan debu dan tanah, untukmu, bisiknya.

Mulutku penuh dengan debu, karena ingin menggapaimu.

Emma!

Emma!

Bisikannya mengundang.

Bisikannya merasuk.

Bisikannya merambat.

Di antara tanah.

Di bebayang batang.

Di keriap daun.

Di percik udara sehabis hujan.

Emma.

Di selembar kulit yang terpotong dari tubuh, di dalamnya, sungguh di dalamnya akan ada torehan darah di sana, – seperti menampar wajah Tuhan! seseorang pernah berkata.

Ya, Tuhan toh akan memberikan pipi kirinya, bukankah Ia?

Lalu harus ada sebuah gigi yang tanggal. Harus gigimu sendiri. Harus kau tanggalkan sendiri, agar supaya kau bisa meneluhkan kata-kata milikmu sendiri.

Kamu harus mengikatnya. Ikatlah, ikatlah dengan segumpal rambut.

Ikat kuat namun jangan terlalu ketat.

Ikat dan letakkan ia menggantung.

Di pintu.

Di langit-langit.

Di tempat-tempat yang ingin kau buat neraka.

Emma, bisik suara dari tanah itu lagi.

Tulis dia lagi, Emma, sebelum Selasa. Saat dia mati. Saat dia lahir kembali.

Neraka berada di tepi laut, kata Camille. “Kau melihatnya juga?”

Camille tidak lagi mau berbicara.

Dia tidak pernah pergi tanpa membawa sesuatu.

Dia tidak pernah berbohong akan namanya.

Apakah kau Marianne?

Bukan, aku Emma.

Kau bertemu pria dari jauh itu, di kota di tepi laut?

Tidak. Aku tidak bertemu iblis yang telah menjadikannya istri.

Di mana Marianne?

Mati. Dia terbakar. Api telah menjadikannya debu yang abu.

Namun, sesuatu bertumbuh, terasa ranum dan getas, Selasa itu, di dalam perutmu, Emma, di dalam perutmu, tunasnya telah tumbuh!


🎵
-Marianne born on a Tuesday, happy on a Wednesday, married on a Thursday, witch on Friday, caught on Saturday, judged on Sunday, executed on Monday, buried on Tuesday 🎵


Ditulis bebas berdasarkan serial Netflix berjudul Marianne. Gambar diambil dari https://womantalk.com/pop-culture/articles/dipuji-stephen-king-serial-horor-terbaru-netflix-marianne-wajib-jadi-tontonan-yaVg4

Somewhere Only We Know

avatar nyimazzzdininyimazzzdini

“Somewhere only we know”

“Di mana?”
“Yang mana?”

Sudah lama sekali aku tidak mengenal apa itu ‘Rumah’ atau ‘Tempat untuk pulang’

Sudah lama juga hatiku kebal dengan arti kata ‘Bahagia’ ataupun ‘Sedih’.

Bagiku semuanya sama.
Bagiku tak ada yang berbeda.
Entah itu di dalam kamar, di kafe kenangan, atau di tikungan jalan.
Sama – sama sepi.

Lalu aku bertemu kamu,
Seseorang dari masa lalu.
Belajar mencintaimu lagi.
Merasakan dicintaimu kembali.

Dan tiba – tiba saja, kalimat pembuka diatas jadi punya arti.
Penuh makna.
Aku tahu.
Aku tahu benar tempat itu.
Tempat yang hanya kita berdua yang tahu.
Ya, pelukan masing – masing.
Aku di dalam pelukmu.
Kau di pelukanku.
Kita sama – sama tahu.

~~~

#TulisanDini #KataDini #31HariMenulis

Lihat pos aslinya

tentang kata-kata

Kata-kata, pada dasarnya hanya memerlukan segumpal daging liat di dalam rongga mulut untuk memuntahkannya.

Ia memiliki kekuatan yang tiada tara.

Ia bisa didaraskan dalam puja.

Ia akan mengayomi, membuatmu mencintai setulusnya.

Teduh layaknya akasia di ujung jalan, yang, menjadi tempat banyak kepala singgah saat siang terasa terik.

Atau, kita akan bernaung di bawahnya saat malam tiba. Waktu itu, kepalamu sedang butuh taman bermain.

Namun, kata-kata juga beracun.

Ia seperti arsenik yang membunuh hati pendengarnya.

Jahat, begitu tajam menghunjam jiwa.

Ia bisa melecut luka.

Ia telah berulang kali memantik dengki, sehingga memacu api diam-diam, bernama: dendam.

Kata-kata, seyogyanya hanya membutuhkan sepersekian detik dari kepala untuk merangkainya.

Apakah kata-kata itu baik?
Apakah kata-kata itu buruk?
Apakah baik?
Apakah buruk?
Baik atas apa?
Burukkah ia, lalu mengapa?


Aku mengetuk pintu-pintu, berulang. Berkali-kali.

Di mana aku bisa bertanya?

Karena, sungguh Tuhan tidak pernah ada di dalam bilikNya.

Di sudut ruang berbentuk hati berwarna merah muda, nurani berbisik, lirih serta berdetak hati-hati: “Masih ada aku di sini, kenapa kau tak pernah bertanya?”

usang

gambar dibuat oleh Ryan Nababan @dobygobloq


Di luar sana, dunia begitu gaduh.

Begitu riuh: hingar-bingar, pesta-pora, saling tertawa, hanya berdansa, menjambak, atau mencakar.

lalu setelah habis: semuanya hanya akan saling memangsa.

Suara kembang api meletup, menyerbak kuncup-mekar-kuncup api biru-merah-hijau-kuning. Barisan terompet menyalak, panjang-panjang melolong, lalu hanya sunyi yang tersisa.

Berpasang-pasang kepala, terkulai ke bahu, dahulu gemerlap binar sepasang-sepasang cahaya di balik mata. Perlahan meretih, lalu padam sepenuhnya.

Kaki-kaki tersaruk menghasilkan deru suara, mengalahkan lolongan malam yang jauh dari bising.

Satu demi satu, mereka masuk. Mengunci pintu, lalu rebah masing-masing di bahu sepi.
*
Ia menutup jendela setelah mengemasi mimpi di dalam saku.

Mereka tidak butuh aku, ia membatin.

Mereka tidak mengenal aku, ia berujar lagi.

Tetapi dunia selalu bergerak, mekar, berputar.

Kamu akan berada di atas.

Kamu tidak akan di bawah selamanya.

lalu kamu akan turun.

kamu akan terinjak-injak dan terhina.

Tetapi tidak dengan aku, ia membantah.

Aku akan hidup terus di sini. Melihat kembang api. Merayakan sorak sorai yang telah usai. Mengemasi mimpi.

Tapi apakah kamu bahagia? Tuhan bertanya.

Ia termangu.

Aku terpaku.

Satu-satunya air mata, jatuh tak sempat merengkuh bumi. Jemarinya secepat cahaya, menangkup tetesan dari gulir pipinya, mengesutnya ke keliman kemeja.

Dunia boleh gegap gempita, namun setelahnya, kita semua hanyalah sama:

Jiwa-jiwa tua yang mati terpenjara.*


*Tulisan ini pernah diposting di sini.