Golput tidak haram, Namun lebih bijak bila memilih
Fenomena Golput timbul tenggelam seiring waktu, ketika pilihan tidak lagi bermakna golput merupakan pilihan yang tepat. Kapankah kita “harus” melakukan Golput? dan kapan kita “harus” menetapkan pilihan dengan cara mencontreng sesuai aturan yang berlaku?.
Menurut hemat penulis:
Sebelum membahas lembih lanjut, tidak pernah dapat dibenarkan bila seseorang atau golongan mengharamkan perilaku masyarakat pemilih Golput. Mengapa demikian? karena Golput merupakan pilihan !! ah kok gitu? iya apabila terpenuhinya kriteria : Pertama :”BILA MEMANG TIDAK ADA LAGI YANG PANTAS DI PILIH” apa yang harus dilakukan kecuali harus ” mengabaikan waktu yang tersita hanya untuk melakukan sesuatu yang tak berguna (contreng) “. Kedua: Apabila suara kita tidak lagi berguna atau terabaikan. Tidak dapat dipungkiri pada rezim Orde Baru… pemilu bagaikan pepesan kosong, yang mana suara pemilih dapat di rekonstruksi sedemikian rupa, hal tersebut mengandung makna bahwa hasil pemilu sudah di desain sesuai kepentingan rezim berkuasa.
Namun sekarang…. pada pemilu 2009? Penulis beranggapan bahwa Golput bukan lagi pilihan yang tepat. Mengapa demikian? walaupun KPU dan KPUD masih carut marut dalam melakukan perhitungan, Namun masyarakat pemilih masih mempunyai ranah hukum untuk meminta pertanggung jawaban terhadap kinerja KPU dan KPUD.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kesadaran berpolitik masyarakat belum teruji, masih banyak masyarakat pemilih masih memandang sebelah mata terhadap pelaksanaan Pemilu. Fenomena tersebut tidak boleh di sepelekan, peran aktif pelaksana pemilu (KPU), tokoh masyarakat dll. sangat di butuhkan guna menepis atau meluruskan pandangan sebagian masyarat pemilih tersebut.
Ironisnya? penulis merasakan gejolak menggelikan yang dilakukan oleh sebagian orang atau tokoh yang berpikiran dangkal. misal : ajakan atau anjuran untuk melakukan Golput. Berpikiran dangkal? ya. secara fulgar penulis ngatakan demikian, bisikan Golput di teriakkan oleh para “politisi” yang tidak memiliki tanggung jawab moral terhadap proses pembelajaran berpolitik pada masyarat pemilih. dan anehnya beberapa masyarakat mengamini dan meneruskan ajakan tokoh tersebut ” tanpa mengetahui alasannya”
Sebagai penutup, penulis mengajak semua pihak untuk secara arif ” berkenan memberikan pembelajaran berpolitik masyarakat pemilih “, tidak hanya melakukan dagelan opini, hasutan yang hanya akan melemahkan proses pembelajaran berpolitik.
Semoga Ibu pertiwi tak lagi bersusah hati. Jayalah selalu Indonesiaku
Filed under: campuran | Tagged: Golput, Golput sudah enggak relevan, Pemilu | 5 Comments »