Kurapat-rapatkan mata ini agar bisa terlelap. Miring ke kanan, balik ke kiri, masih sama, tetap tak bisa. Kubenamkan wajah ini ke dalam bantal, semakin sesak kurasa. Instrumental jazz juga kalah. Biang keroknya bukan lagi tiga cangkir kopi, tapi ini perkara kegelisahanku.
Hari ini bagaikan mendapat shock terapi gratis. Kalau aku bisa memilih, lebih baik aku tidak usah tahu dan tidak usah mendengarkannya. Jadi aku bisa merajut mimpi indah malam ini sehingga besok kembali segar mengikuti kuliah.
Lampu tidur di dinding kamar semakin menambah suram pikiranku. Setiap kali mata ini terpejam, aku selalu terbayang cerita-cerita tadi siang. Mataku berkantung. Bukan karena bawaan lahir, tapi karena aku menangis. Meratapi kisah seakan aku menjadi dirinya saat itu.
Dia salah satu sahabatku ketika SMA. Komunikasi kami kembali berlanjut setelah enam tahun lulus SMA. Tahun 2010 aku kembali ke kampung halaman dan mengundang beberapa teman untuk bertemu. Ia datang tidak sendiri, tapi bersama tunangannya. Sekarang keadaan kami sangat berbeda. Wajah-wajah lugu tak lagi tampak. Tertutup oleh riasan serta penampilan yang berbeda dari seragam putih abu-abu. Beberapa orang teman juga sudah berumahtangga dan memiliki putra-putri yang lucu. Tapi hari itu yang hadir hanya kami yang masih berstatus single.
Pertemuan hari itu meninggalkan cerita baru yang penuh dengan kenangan lama saat kami masih SMA.
Beberapa bulan berselang. Aku sudah larut dalam rutinitasku di kota lain. Dan ia sudah menjadi seorang istri. Komunikasi tetap berlanjut walaupun hanya dua bulan sekali. Paling tidak kami tetap saling menyapa dan memberi kabar. Ia menceritakan kehidupan rumah tangganya yang harmonis, rencana-rencana masa depan mereka atau bahkan bercerita tentang keinginan memiliki momongan. Aku, hanya bercerita mengenai pekerjaanku. Terkadang aku iri mendengar cerita teman-teman yang sudah menikah. Tampaknya mereka sangat bahagia dengan pasangannya. Sementara aku, diusia 25 tahun masih sendiri dan hanya bisa menunggu waktu untuk lamaran itu.
Akhir 2012 ia menghubungiku. Nomor yang asing, enggan untuk menerimanya. Tapi kuangkat saja. Ternyata ia ganti nomor. Seperti biasa, obrolan kami butuh waktu paling sedikit dua jam. Entah apa yang dibahas, tapi selalu tak pernah ada hentinya. Sampai akhirnya telpon terputus karena pulsanya habis. Kabarnya baik. Ia menceritakan kesibukannya ketika menjelang lebaran tahun lalu, bisnis kue dan cokelat. Orderan banyak, sampai-sampai waktu tidur hanya tiga jam setiap hari. Lumayan, keuntungannya bisa dijadikan modal untuk melanjutkan bisnis itu. Suami juga sangat mendukung dan ikut membantunya dalam hal materi, kreativitas dan tenaga. Aku senang mendengarnya. Aku juga berencana untuk membantu memasarkan cokelat-cokelat produksinya di kotaku.
Berselang dua bulan, telponnya tak kunjung datang. Aku pikir dia baik-baik saja, karena setiap kami ngobrol, kabar bahagia yang selalu kuterima. Ada sedikit rasa rindu dan aku coba untuk menghubunginya. Sekedar ingin mendengar logat melayunya yang bisa mengobati rasa rinduku pada kampung halaman.
Suara parau menyambut di ujung telpon. Sapaan hangatku seakan menggoyahkan lamunannya. Ia tak sehangat dua bulan lalu. Tidak seriang saat terakhir menyapaku.
“Apa kabar kamu dan suamimu?” pertanyaanku tak langsung disambut, tetapi helaan panjang yang aku dengar.
“Aku sudah berpisah dengan suamiku. Talak tiga!!” jawabnya lirih. Terkejut bukan main mendengar pernyataannya hingga sesaat aku tak bisa berkata apa-apa. Hening..
“Loh, kenapa? Bukannya kalian selama ini rukun-rukun saja?” tanyaku.
Sudah sebulan lebih dia menceraikanku. Entahlah, waktu seperti tak berpihak padaku, pada pernikahan kami. Suamiku seperti kerasukan setan, dia mencekikku, mendorongku dan menamparku. Terlebih, dia sudah menyakiti hatiku. Dia berubah, tidak seperti yang aku kenal. Aku menangis, aku berdiam diri di kamar, tapi dia tidak datang membujukku dan meminta maaf atas perbuatannya. Aku sakit, aku kecewa. Suami yang kukenal seperti hilang, berubah 360 derajat. Aku ingin mengadu ke rumah mertuaku, tapi aku malu. Terlalu sering ibu mertua mendengar keluhanku tentang putranya ketika kami masih seatap. Aku tak ingin membebani pikirannya lagi. Tapi aku tak tahan dengan perlakuan suamiku, hingga akhirnya aku pulang ke rumah orang tuaku. Kupakai bedak tebal-tebal untuk menutupi wajah sembabku, bibir kupoles dengan gincu merah menyala agar wajah kuyu ini tak terlihat. Wajahku seperti mayat hidup. Di sepanjang perjalanan menuju rumah orangtua pandanganku kosong. Hingga akhirnya ibu memelukku dengan airmata. Memeriksa lenganku yang lebam dan pipiku yang biru karena tamparan dua kali yang aku terima. Rasanya pelukan ibu obat sementara untuk semua perih di hatiku. Aku menceritakan semuanya tapi memohon pada ibu untuk merahasiakannya dari Bapak. Aku takut Bapak marah dan kesehatannya akan terganggu. Dua hari aku di rumah Ibu, tapi suamiku tak kunjung datang menjemput. Dia mengirimkan sms dengan sumpah serapah dan makian padaku. Seperti membabi buta dan tak mengingat lagi kalau aku istrinya, perempuan yang sudah dua tahun hidup mendampinginya. Yang membuat hatiku semakin teriris, dia mengungkit semua nafkah yang telah diberikannya padaku, dia menanyakan kemana saja uang gajinya kuhabiskan. MasyaAllah.. lagi-lagi aku tak menyangka suamiku akan berkata seperti itu. Dia menuduhku menghabiskan uangnya untuk membiayai kedua orangtuaku. Padahal, sejak berumahtangga aku tak lagi menafkahi orangtuaku karena aku tidak bekerja lagi atas permintaannya. Setiap bulan gaji yang diberikannya padaku, aku bagi-bagi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami berdua. Angsuran kredit rumah, bayar listrik, PAM, arisan, pegadaian, belanja, belum lagi pengeluaran tak terduga ketika kami ingin makan malam di restoran atau jalan-jalan ke mall berdua. Dia pikir, gajinya tak akan habis untuk itu. Dia berpikir, semua gajinya itu aku berikan pada orangtuaku, membiayai keberangkatan adikku ke Malaysia. Gaji yang hanya bisa mencukupi kebutuhan kami berdua, bahkan terkadang aku harus berhutang diam-diam untuk menutupi kebutuhan rumah tangga.
Bathinku semakin sakit atas tudingannya kepadaku. Kubalas smsnya dan mengungkapkan kekecewaanku. “Aku sudah tak tahan dengan hinaan ini, abang selalu menuduhku, mengungkit semua yang sudah abang beri. Seandainya aku bisa memuntahkan semua makanan yang telah aku makan dari hasil nafkahmu, akan kumuntahkan dan kukembalikan padamu. Seandainya kotoranku bisa dijadikan makanan, akan kukembalikan juga padamu. Tapi itu semua tak mungkin bisa. Aku berjanji, aku akan bekerja dan kubayar semua hutangku padamu. Abang hitung nafkah yang abang berikan padaku selama dua tahun ini dan akan kulunasi segera. Aku sudah tidak tahan lagi, kita akhiri saja semua ini”.
Malam ketiga aku di rumah Bapak dan Ibu. Aku selalu mencoba untuk berdamai dengan hatiku sendiri. Memaafkan perbuatan suamiku dengan alasan dia hanya khilaf dan emosi sesaat. Mataku kabur karena selalu menangis. Wajahku juga semakin kuyu. Aku memutuskan untuk pulang sendiri ke rumah suamiku. Diperjalanan aku sms suamiku meminta dia untuk menjemput di terminal. Dia menjemputku. Di perjalanan aku memeluknya, kuletakkan kepalaku di bahunya dan aku meminta maaf atas semua kesalahanku. Aku hanya terbawa emosi malam itu. Dia hanya diam. Setelah aku sadar, ternyata tujuan perjalanan ini bukan ke rumah kami, tapi ke rumah orangtuaku. “Loh, kok kita ke arah sini bang?” tanyaku pada suamiku. “Bukannya kamu yang meminta agar kita akhiri saja? Sudah aku putuskan, dan berkas-berkas akan aku urus segera” jawabnya. Di sepanjang perjalanan aku diam, aku peluk dia erat-erat seakan tak percaya dengan keputusannya. Orangtuaku terkejut ketika membuka pintu mendapati aku dan suamiku. “Loh, bukannya tadi kamu sudah pulang? Kenapa kembali lagi? Ada yang tertinggal?” tanya Bapak heran. Bapak tidak tahu menahu soal permasalahan ini. Karena aku hanya cerita pada Ibu. Dan Ibu berjanji untuk merahasiakannya dari Bapak. “Uuntuk beberapa hari, izinkah dia tinggal di sini Pak, karena dia tak mau lagi tinggal bersamaku” ucap suamiku. “Loh, aku lari itu karena abang kasar padaku! Abang memukulku!!” balasku setengah berteriak. Bapak terkejut mendengar pengakuanku. Tapi Bapak tetap bijaksana. Aku dan suamiku dinasehati dan menanyakan apa masalahnya. “Kalau masalahnya uang, berarti kamu tidak usah memberikan seluruh gajimu kepada istrimu. Cukup berikan saja dia uang belanja setiap hari atau perbulannya. Dan kamu, tidak usah memikirkan repotnya membayar listrik, PAM, angsuran kredit rumah, pegadaian, arisan dan lainnya. Biarkan suamimu yang mengaturnya. Kamu cukup memasak dan melakukan pekerjaan rumah tangga saja” perintah Bapak. Malam itu suamiku pamit pulang dan aku tetap tinggal di rumah orangtuaku.
Seperti janjinya pada Bapak, besok dia akan menjemputku. Ternyata sudah dua hari dia tak kunjung datang. Aku sms suamiku, jawabnya dia tengah sibuk dengan urusan kantor dan baru sempat menjemput hari minggu. Minggu tak kunjung datang. Aku sms kembali, jawaban perceraian yang aku terima. Aku putuskan untuk mengadu pada mertuaku. Aku pamit pada kedua orangtuaku untuk pulang ke rumah mertua dengan harapan aku mendapatkan perlindungan dan pembelaan di sana. Karena selama ini ibu mertuaku selalu membelaku. “Assalamualaikum” ucapku ketika sampai di rumah mertuaku. Sambutan hangat tak lagi kudapatkan dari ibu mertuaku. Dia menyalahkanku atas semua tindakanku karena aku sudah meninggalkan anaknya. Dan yang lebih menyakitkan lagi, dia mendukung perceraian itu. “Mau diapakan lagi, kalian ini sepertinya memang tidak bisa disatukan lagi, ya memang perceraian adalah keputusan yang terbaik” ucap ibu mertuaku. Tubuhku seakan tak bertulang. Aku lemas mendengarnya. Tante-tante dari suamiku datang menghampiri. Ada sedikit harapan bahwa mereka akan membelaku dan mencegah keputusan ini. “Yang sabar ya nak, mudah-mudahan kamu mendapatkan pria yang lebih baik lagi dari suamimu sekarang” ucap tantenya.
Ya Allah, mengapa jalan hidupku malang seperti ini? Seminggu yang lalu aku masih makan malam di restoran berdua dengan suamiku. Dia masih memindahkanku ke ranjang ketika aku tertidur di atas sajadah seusai shalat malam. Tapi sekarang aku menerima pil pahit yang tak kubayangkan sebelumnya. Malam itu juga aku diantar kembali ke rumah orangtuaku. Tapi kali ini tidak berdua, melainkan bersama dengan Ayah mertua, adik ipar, tante dan om suamiku. Seperti rombongan ketika datang meminangku. Tapi malam ini mereka ingin memulangkanku.
Lagi-lagi Bapak terkejut menerima kedatanganku dan suami beserta keluarganya. Betapa terkejutnya, tadi pagi aku pamit pulang, jam 10.00 malam aku pulang kembali tapi tidak sendirian. Bapak mempersilahkan kami masuk dan duduk meski di wajahnya masih menyimpan pertanyaan besar. Tanpa basa-basi suamiku angkat bicara. “Maaf Pak sebelumnya. Selama beberapa hari saya sudah memikirkannya baik-baik, saya juga sudah shalat tahajud dan saya sudah memutuskan, hubungan rumah tangga kami tidak dapat dilanjutkan lagi. Saya tidak mau menanggung beban keluarga Bapak. Dan malam ini, saya menceraikan putri Bapak, TALAK TIGA!!” ucap suamiku. Seakan tak percaya, aku merintih sejadi-jadinya di ruang keluarga. Aku lemah. Aku tak bisa berbuat banyak. Talak sudah dijatuhkan dan langsung talak tiga. Seakan hidupku harus berakhir hari itu juga. Rombongan suamiku pamit pulang dan Bapak menjadi emosi. Dia memarahiku. Aku pilih untuk diam. Selain tenagaku sudah habis karena makan hati dan menangis seharian, aku juga ingin menghindari amukan Bapak atas luapan kekesalan terhadap tindakan menantunya.
Hingga hari ini aku tinggal di rumah orangtuaku. Sudah satu bulan setengah setelah kejadian mengerikan itu. Airmataku juga sudah kering. Dia pernah mengirimkan sms padaku untuk bertemu. Katanya ingin berdamai. Tapi aku tak mau. Aku menjelaskan padanya, kita bukan suami istri lagi. Aku takut dengan rayuannya dan aku takut nanti akan melakukan zina jika bertemu dengannya. Dia bilang bahwa talak yang dijatuhkan tempo hari tidak sah di mata hukum dan agama, jadi dianggap batal. Karena di dalam talak tidak boleh langsung menjatuhkan talak tiga, tapi harus bertahap, sehingga dianggap batal. Jadi kita masih suami istri katanya. Tapi aku masih kekeuh dengan keyakinanku, setiap tal ak yang dijatuhkan suami, itu sah di mata agama. Aku bukan lagi istrinya.
Dia tak mau mengurus gugatan cerai ke pengadilan agama. Katanya “kan kamu yang minta cerai, ya kamu saja yang urus sana”. Sedikit-sedikit kukumpulkan uang dari hasil jualan cokelat untuk mengurus surat cerai itu. Aku tak mau berlama-lama berkaitan lagi dengannya. Ingin kuselesaikan segera.
Di ujung telpon aku hanya terdiam menahan isak agar tak terdengar olehnya. Aku bisa merasakan pedih yang dialaminya. Hatiku jadi gamang memikirkan bagaimana kehidupan rumah tanggaku nanti. Apakah segetir ini? Aku jadi semakin takut. Suaminya yang begitu baik bisa berubah menjadi pria iblis yang tidak dikenalinya lagi. Hanya karena masalah sepele dan emosi sesaat bisa memecahkan keduanya. Ya Allah, begitu mudahnya Engkau membolak-balikkan kehidupan kami. KuasaMu sungguh tak bisa ditebak oleh siapapun di dunia ini.
-0.789275
113.921327