Aku Pernah, Namun Gagal..


Kalian pernah merasa kegagalan dalam hidup? Itu sudah pasti.. Gagal menikah, gagal dalam pekerjaan atau gagal dalam usaha. Aku pun sama. Kali ini aku gagal menjadi Ibu yang baik bagi janinku. Aku gagal mewujudkan doa-doaku sendiri menjadi nyata. Aku gagal menjadi ibu bagi janinku sendiri. Tak perlu waktu lama bagiku untuk mendapatkannya setelah menikah. Tak ada bulan madu, tak ada program ini itu, tak ada pil lina linu. Aku diberi satu. Tapi aku tak bisa menjaganya dengan baik. Dia luruh, dia kembali beku dan kaku keluar dengan peluhku.

Ini penyeselan terbesar dalam hidupku. Aku gagal menjaga bagian dari diriku. Suamiku Pilu..

Note : kurates, 18 Agustus 2014 (RS.Pelabuhan Boom Baru Palembang)


Dear my blog,

Setengah tahun sudah aku tak menulis. Terakhir kali kita saling sapa saat hujan warna warni membasahi jubah dan toga hitamku di halaman gedung Prof. Sudharto Tembalang. Cukup lama ya? Maafkan aku.. Sungguh, bukan maksudku untuk berhenti menulis. Sepertinya aku memang belum mampu membagi waktu. Hingga saat ini aku bingung dan kembali meraba, harus bagaimana dan mulai menulis apa…

 

Hujan Penuh Warna


Seorang teman, pernah bercerita padaku tentang hujan yang pernuh warna. Kalian tahu seperti apa hujan itu? Apakah khayalan kalian sama denganku? Aku harap kita sejalan dalam dunia imaji. Ya, banyak warna di sana. Kau tahu? Langit tidak kelabu, tapi berwarna biru cerah, sama seperti langit yang kulihat pada subuh itu.

rainbow picUntuk melihat hujan penuh warna itu, kalian harus melewati banyak kisah yang penuh dengan cerita. Langit pada waktu itu masih kelabu, bahkan awan pun hampir hitam. Aku hampir tak bisa melihat cahaya terang saat itu. Terkesan hiperbola, tapi memang itulah kenyataannya. Aku melewati berkali-kali badai. Jangan kalian pikir aku kuat. Tidak, aku sangat lemah. Setiap perjalananku selalu penuh dengan tangisan, keluhan, kepasrahan dan bahkan hampir menyerah. Tapi, tangisan, keluhan, kepasrahan itu semua kutumpahkan kepadaNya, Sang pencipta hujan itu. Di tengah kesusahanku, selalu ada Dia yang hadir menolongku. Dari situ aku menjadi yakin, setelah badai pasti akan ada pelangi. Dan ternyata lebih dari yang kusangka, air hujan satu warna berubah menjadi berjuta warna. Aku tak butuh payung untuk melindungi tubuhku. Aku juga tak membutuhkan mantel untuk menghangatkan tubuhku. Semua berubah berwarna, dan kuharap setelah badai kalian dapat melihatnya.

Yakinlah, dalam ketekunan akan ada kebahagiaan yang menanti di ujung jalan. Rasanya pasti indah. Seindah hujan yang penuh warna, secerah langit biru pada subuh itu.. Dan aku sudah melihatnya..

Curhat Mahasiswa Semester Akhir


Ga ada yang bisa menghentikan rasa dag-dig-dug ini. Sama ketika aku akan menjalani sidang-sidang sebelumnya ketika usia 23 tahun. Saat itu aku harus bertanggung jawab atas apa yang telah kubuat. Empat pasang mata seakan ingin menerkamku. Mengulitiku dengan tatapannya yang tajam, menelanjangi seluruh kemampuanku yang aku pikir, hanya 0.05 persen memenuhi otakku. Ya, sangat kecil. Itu yang kupunya. Terlebih lagi dengan nyaliku yang persentasenya di bawah angka 0.05. Keringat dingin keluar begitu saja. Semua buyar dari ingatan. Tak ada gunanya semalaman begadang untuk latihan menjawab pertanyaan2 dari mereka. Semuanya seakan boomerang yang bertubi2 menghunus jantung yang paling dalam. Dan itu kurasakan lagi sekarang.

Sidang itu.. Antara Pesimis dan Pasrah Hampir Menyerah..mahasiswa-dan-tuga-akhir

Berkali-kali aku seperti ini. Merasakan perasaan takut yang sama, satu warna. Kali ini tingkatnya lebih tinggi dari yang pernah kurasa sebelumnya. Aku rasa aku akan menyerah. Tapi aku belum mencobanya. Aku tak yakin akhirnya akan seperti apa. Apakah baik atau biasa saja seperti yang ku pasrahkan padaNya. Apakah kalian kira aku akan menyerah semudah itu? Aku rasa, mungkin.  Bisa saja aku akan tertunduk, duduk dan lunglai tanpa tenaga di ragaku. Tapi aku ingin ketika rasaku kosong, aku akan merasa lega karena aku sudah mendapatkan hasil dari perjuanganku. Semoga..

Tulislah Apapun Itu


Aku pernah membaca sebuah tulisan yang mengatakan, tulislah apapun yang kau rasakan setiap hari, suatu saat tulisan-tulisan itu akan bermanfaat banyak untukmu. Aku rasa penggalan kalimat itu ada benarnya. Ya, paling tidak bisa menjadi penghibur suatu saat ketika rambutku sudah mulai memutih. Atau ketika ingatanku berangsur-angsur berkurang karena demensia. Atau ketika aku sudah ditinggal jauh oleh suami dan anak-anakku. Haha.. terkesan lucu dan konyol memang. Usiaku saat ini baru 27 tahun dan belum menikah, apalagi bersuami dan punya anak-anak, tapi sudah mengandai-andaikan kejadian dua puluh tahun mendatang. Sebenarnya tak ingin mendahului Tuhan, bukan, bukan begitu maksudku. Aku selalu terbiasa menyusun planning apa saja yang akan aku lakukan ketika aku berada pada posisi-posisi kritis dan menakutkan seperti itu. Ya, kurang lebih hampir sama seperti sekarang. Sendiri. Terkadang kesendirian itu banyak manfaatnya, terlebih untuk bebas berfikir, berekspresi dan yang paling spesialnya aku jadi bisa menulis. Tunggu dulu, tapi hal apa yang dapat ku tulis? Kesendirian ini telah membungkam segalanya. Tak ada bahan yang bisa kujadikan sebagai tulisan. Hasilnya, tulisan-tulisan sejenis inilah yang akan tercipta. Tak tentu arah dan tak jelas tujuannya. Hanya ngelantur nganar ngidul istilah kerennya. Ya, tak apalah.. Kembali lagi pada tulisan yang pernah aku baca sebelumnya, tulislah apapun yang kau rasakan setiap hari. Yah, paling tidak, hari ini aku tidak alfa menulis, meskipun tulisanku ngelantur seperti ini. Tapi aku suka 🙂

• SMG|rabu|27/11/2013|23:10

Apes di hari raya, file Tesis dibawa kabur maling


Selamat Idul Fitri Sop.. Udah lama ya kita tak bersua dalam blog ini. Maklum, dua bulan full kembali pulang ke rumah orang tua itu rasanya sesuatu banget.. Hampir-hampir asosial ga pernah muncul..

Kali ini benar-benar nasib apes menimpa aku dan keluarga sop.. Di hari pertama Idul Fitri, 2013 sepulang dari sholat Id’ di masjid dekat rumah, aku mendapati rumah dalam keadaan berantakan. Jendela samping terbuka lebar dan ada bekas congkelan yang bisa dibilang ga kreatif, soalnya congkelannya ga rapi, jendela jadi rusak.. lemari pakaianku jugaaa hikss.. Semakin menambah kegilaanku, tak kutemui lagi netbook putih berisi semua data-data tesisku. Aku meletakkannya rapi bersama susunan koleksi buku di lemari. Lebih parahnya lagi, dua flashdiskku juga raib dikantongi maling. Ah, benar-benar apes! >_< Apa yang diharapkan maling dari dua flashdisk itu? Handphone, ya, handphone milikku juga disikatnya beserta beberapa handphone nokia yang bersenter. Uang THR Ibu yang akan dibagi-bagikan kepada cucu-cucunya juga hilang. Celengan gentong plastik warna merah berisi uang (untuk umroh Ibu) juga disikatnya. Oh benar-benar hebat maling itu.. What Amazing Ied Mubarok!! Kami sekeluarga terlebih aku, harus dengan terpaksa mengikhlaskan semua yang telah diambilnya demi hari yang fitri ini. Barakallah, semoga Tuhan memberikan gantinya dengan yang lebih baik dari netbook putih sebelumnya (semoga) 😦

Mengadu Bukan Berarti Mengeluh


*(Surat untuk Soekarno dalam rangka lomba posting blog menulis surat untuk film Soekarno)

Negeriku, 11 Juni 2013

Kepada YTH
Bapak Ir. Soekarno

Assalamualaikum, wr,wb.
Selamat malam Pak..
Salam hangat untukmu di manapun engkau berada. Aku yakin, tempatmu di sana jauh lebih tentram jika dibandingkan dengan tempatku saat ini. Aku tinggal bersama dengan saudara-saudara yang tak peduli dengan bangsanya sendiri. Aku hidup bersama teman-teman yang tak mengenal rasa nasionalisme sedikit pun. Mereka mengatakan, semua hanya omong kosong belaka. Hidup ini urusan masing-masing. Tak usah ambil pusing dengan sekitar, orang lain apalagi negara. Aku asing di tempat tinggalku sendiri. Mungkin anda mulai kasihan dengan nasibku. Apakah anda ingin tahu aku tinggal di mana? Sudah lama aku ingin mengadu padamu, tapi aku takut mengganggu kedamaianmu di sana. Tiap kali aku mengingatmu, ada gemuruh yang muncul dari dalam diri, seakan ingin marah, tapi tak kuasa. Hingga akhirnya, kuberanikan diri untuk menulis surat ini kepadamu..

Bapak Soekarno yang terhormat,
Saat ini aku tinggal di negara yang pernah anda pimpin dulu. Negeri yang anda perjuangkan kemerdekaannya. Aku sangat hafal, tak sedikit pengorbanan yang anda berikan kepada negeri ini. Tak juga sedikit harapan anda untuk kemajuan bangsa ini. Aku hanya anak desa, satu dari sekian puluh ribu putri Indonesia yang saat ini masih sangat mengenalmu. Usia kita boleh saja jauh berbeda, tapi aku cukup jelas mengenal semangatmu. Hingga hari ini, aku mewarisinya. Kita memiliki darah yang sama, darah juang untuk bebas merdeka. Tapi saat ini sudah berbeda Pak. Musuh kita tak lagi orang asing berkulit putih dan berambut pirang seperti zaman anda dulu. Musuh kita saat ini, saudara kita sendiri..

Bapak Soekarno yang aku kagumi,
Anda pasti terkejut membaca suratku ini. Maafkan aku sudah memberikan kabar yang kurang baik tentang negaramu yang kini negaraku. Tapi aku tak sanggup lagi untuk menahannya. Pasti anda tak habis pikir, mengapa saudara-saudara sebangsaku tega menjadi penjajah di negaranya sendiri? Jawabannya sangat sederhana, karena anda sudah tak lagi di sini, bersama kami.
Tak ada lagi pemimpin yang mereka hormati di negeri ini, hingga semua orang merasa dialah pemimpin. Segala kecurangan dan keserakahan secara terang-terangan dilakukan. Rakyat yang harusnya merdeka seperti yang engkau harapkan dulu, sangat jauh dari kenyataan. Aku rasa, sejak anda pergi selangkah meninggalkan kami, di saat itulah benih-benih penjajahan mulai bereaksi. Berawal dari pondasi yang cukup kuat hingga sulit untuk dirobohkan.

Bapak Soekarno yang terhormat,
Sekali lagi maafkan kelancanganku yang telah berani menuliskan surat ini kepadamu. Saat ini aku bingung, terlalu banyak persoalan yang terjadi di negara ini. Lantas, apa yang harus kami perbuat sebagai generasi penerusmu? Bisakah anda hadir kembali di tengah-tengah kami? Mungkin dalam sidang atau rapat para pemimpin di meja bundar di ibukota sana? Bisakah anda menitipkan surat balasan untuk suratku ini? Agar aku bisa mengetahui apa yang harus kami perbuat selanjutnya?!

Bapak Soekarno yang kami rindukan,
Saat ini, kami putra-putri bangsa belum bisa berbuat banyak untuk membersihkan negeri ini dari penjajah. Kami hanya bisa melakukan tugas kami sebagai pelajar. Tapi aku dan putra-putri lain yang memiliki semangat yang sama denganmu, berjanji, suatu hari nanti kami akan memusnahkan mereka yang telah menindas negara ini hingga ke akar-akarnya. Agar anda percaya, darah juangmu benar-benar mengalir dalam darah kami.

Bapak Soekarno yang terhormat,
Terima kasih telah meluangkan waktu membaca suratku ini. Tak hentinya aku mengucapkan ribuan permintaan maaf karena telah membuatmu khawatir dengan keadaan bangsamu. Ini surat pertama dan surat terakhirku. Jangan khawatir, kami akan meneruskan perjuanganmu.

Salam hangat dari negerimu,
Indonesia.

Persiapan Sebelum Menjadi Penyiar Radio


Seperti yang pernah aku janjikan sebelumnya, aku akan membagikan pengalaman baik (versi aku) selama menjadi seorang penyiar radio. Maksudku tak lebih, hanya ingin berbagi pengalaman, terutama kepada kalian yang masih berusia belia. Aku harap kalian termasuk dalam golongan abegeh yang hobby membaca. Kalau tidak, siap-siap kalian akan tertinggal jauh hehehe…

Menjadi seorang penyiar radio itu tidak sulit. Modal yang dibutuhkan hanyalah niat dan kemauan ingin terus belajar. Belajar itu bisa di mana saja dan kapan saja. Dan setiap orang adalah guru (ingat ucapan kak wita). Jadi, sebelum menjadi penyiar, tolong turunkan dulu kesombongan kalian yaa.. Selalu rendah hati, tapi jangan rendah diri 😛

Menjadi seorang penyiar radio tidak perlu harus memiliki suara yang merdu seperti penyanyi seriosa (tapi kalau bisa bernyanyi dengan baik itu jadi nilai plus buat kamu), tak perlu juga bakat (karena bakat bisa muncul ketika ada niat dan kemauan serta diasah). Yang pertama harus kalian persiapkan adalah mulailah mendengarkan seluruh stasiun radio yang ada di kota kamu. Ingat, buat jadwalnya sendiri. Satu stasiun radio cukup kamu dengarkan maksimal dua hari saja. Setelah itu kamu pilih stasiun radio lain. Tapi jangan hanya mendengarkan lagu-lagunya saja ya.. Yang penting di sini adalah mendengarkan keseluruhan isinya, ga perlu semua program.. cukup satu program saja, tapi harus dari awal sampai habis. Terus kamu lakukan sampai kamu temukan mana radio yang cocok buat kamu. Cocok di sini dalam arti, kamu cocok menjadi bagian di dalamnya. Sesuai dengan keinginan kamu (entah itu radio kawula muda, radio berita, radio rohani atau radio wanita). Masing-masing memiliki segmentasi yang berbeda sehingga style tiap-tiap radio akan berbeda pula. Setelah misi ini selesai, kita lanjut ke misi berikutnya..

Jadi penyiar radio itu harus punya wawasan luas. Jangan malu-maluin diri sendiri saat siaran tiba-tiba kamu kehabisan “bahan” alias speechless, dengan gamblangnya kamu langsung mengatakan “don’t go anywhere.. I’ll be back after comersial break/this song” naikin lagu.. Itu sudah kelihatan sebatas mana wawasan kamu. Jadi mulai sekarang harus banyak membaca. Baca apa saja, ga harus baca buku pelajaran kok. Kamu bisa buka internet, cari situs-situs informasi seperti yahoo, detik, infokita, atau portal informasi lainnya. Dengan cara itu wawasan di ingatan kamu semakin bertambah dan semuanya bisa kamu keluarkan satu persatu ketika kamu berada di depan mic dan siap untuk mengudara. Soal lagu-lagu terbaru, itu bisa berjalan seiring waktu. Tapi kalau soal wawasan, modalnya harus ada sebelum kamu terjun ke dunia broadcast. Ingat, seorang penyiar akan kelihatan bodohnya dari apa yang dibicarakannya ketika mengudara.

Oke, aku rasa cukup. Besok kita lanjut ke pembahasan berikutnya setelah kalian diterima pada stasiun radio yang kalian pilih. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat sebagai modal awal untuk kalian.

Aku Ingin Jadi Adik Kecil Kalian Saja!


Rasanya aku ingin berlari segera ke pelukan ibu. Menumpahkan semua tangisanku malam ini. Sama seperti dua puluh tahun yang lalu, ketika abang sulungku menghukumku karena tak mau tidur siang. Atau ketika abang keduaku menjahiliku dengan berbagai macam cara hingga aku menjerit dan menangis. Aku ingin mengadu pada ibuku. Meluapkan kekesalanku atas perlakuan usil abang-abangku. Sama seperti malam ini. Aku menangis, tapi hanya sendiri. Aku tak berani mengadu pada ibu, aku malu pada usiaku sekarang. Aku bukan lagi gadis kecil berusia empat tahun.

Aku sadar betapa manjanya aku pada mereka. Sedikit saja perkataan keras dari mereka, tak pelak membuat airmataku jatuh menggenang. Rupanya sampai sekarang, ketika usiaku sudah hampir dua puluh tujuh tahun. Mau jadi apa aku ini? Aku tak mungkin seperti ini terus. Tapi rasanya, aku ingin kembali jadi adik kecil mereka saja. Aku rela dihukum karena tidak tidur siang, karena setelah aku dikurung dalam kamar gelap, aku menangis sejadi-jadinya, lantas abang sulungku langsung memelukku dan menenangkanku. Dia langsung menggendongku meminta maaf sambil menghapus airmataku dan mengecup keningku. Tak beda jauh dengan abang keduaku. Di balik sikapnya yang keras, dia sangat sayang padaku. Aku adik kecil yang selalu ada dalam pikirannya.

Aku ingin jadi adik kecil kalian saja. Saat aku demam, kalian selalu ada di samping tempat tidur untuk menghiburku. Merebuskan telur dan menggambarnya dengan spidol, membuat mata, hidung dan mulutnya. Kalian menggendongku di pundak sambil bercerita tentang si opu kaki seribu, dongeng kesukaanku. Berjalan kaki beriringan mengantarku ke nenek urut. Menungguiku, mengusap-usap keningku dari keringat yang berpeluh.

Aku ingin jadi adik kecil kalian saja. Yang setiap saat kalian janjikan boneka beruang besar. Setiap saat kalian ceritakan hal-hal baru yang melambungkan imaginasi kanak-kanakku. Menjanjikan aku sepatu roda, nintendo, melarangku bermain panas, jajan limun dan minum es. Memberiku cokelat kalau aku juara kelas. Menanyakan kabarku dalam setiap surat yang kalian kirimkan pada ibu.

Aku ingin jadi adik kecil kalian saja. Yang selalu menantikan kepulangan kalian tiap kali hari raya datang. Antusias membaca surat-surat yang kalian kirimkan untukku. Selalu bersemangat untuk kembali bangun ketika kalian menelepon larut malam melalui telepon rumah tetangga. Selalu senang mencium aroma parfum berpadu dengan bau rokok di baju kalian.

Rasanya, aku ingin jadi adik kecil kalian saja. Tak peduli berapapun usiaku nanti..

Penyiar Radio, Pekerjaan Menyenangkan


297144_2272033092722_1502769320_n

Ini hanya sementara, aku akan kembali ke meja ini

Pernahkah terlintas di pikiran anda ingin menjadi seorang penyiar radio? Entah itu penyiar radio kawula muda atau radio berita yang penuh dengan informasi terkini.. Kalau pernah, anda patut membaca tulisanku ini, step by step aku akan berbagi mengenai dunia kepenyiaran 🙂

Sebelumnya aku ingin kilas balik mengenai perjalananku di dunia broadcasting yang membuatku jatuh cinta dengan dunia ini. Tahun 2004 lalu aku SAH menjadi mahasiswa baru di salah satu universitas swasta di kota Palembang. Berbagai unit kegiatan mahasiswa kuikuti, salah satunya UKM Radio, Blue Ozon Station namanya atau disingkat menjadi BOZS FM. Pada awalnya hanya iseng, mungkin saat itu aku tergolong orang yang kemaruk dengan semua kegiatan kampus. Di UKM ini diajarkan cara berorganisasi dengan baik. Banyak yang dipelajari di sini, hingga akhirnya aku memperoleh jadwal siaran setiap hari rabu. Meskipun suaraku hanya bisa didengar oleh kalangan mahasiswa yang ada di sekitar kampus, tapi rasanya sudah berbangga hati. Saat itu, Radio BOZS FM satu-satunya UKM yang bisa dinikmati oleh seluruh mahasiswa yang menjangkau seluruh fakultas.

Banyak pelajaran yang aku peroleh secara gratis di UKM BOZS FM, hingga akhirnya menguatkan nyaliku untuk mengikuti audisi penyiar yang diadakan oleh REAL Radio 97.5 FM di tahun 2006. Saat itu sekitar dua ratusan lebih peserta yang mengikuti audisi yang diadakan di sebuah cafe salah satu mall di kota Palembang. Hingga giliranku tiba, dengan modal kepercayaan diri, aku tampil dengan apa adanya aku. Ada juga sesi unjuk bakat. Aku menyanyikan lagu Segitiga dari Cokelat Band sambil solo gitar listrik yang untuk pertama kalinya kumainkan. Ternyata juri (pada saat itu ada bang Indra Bunayu, bang Omar dan yang satunya saya lupa siapa namanya.. hehe..) memilihku untuk bergabung dalam 35 orang yang terpilih, salah satunya ada Putri Syahrial, Dede Malik, Abe Pane, dll yang tak saya ingat lagi namanya. Kurang lebih tiga bulan siaran di radio ini membawakan program School Visit School pukul 14-16 sore setiap hari. Entah kenapa, pergaulan dengan teman-teman di sana bertolak belakang bagi pemahamanku yang pada saat itu juga aktif dalam organisasi sosial. Aku memutuskan untuk keluar dengan cara yang kurang baik saat itu, menghilang dan tidak pernah hadir dalam rapat mingguan *(bagian ini jangan dicontoh yah).

Tiga bulan terjun di dunia broadcast komersil membuatku semakin tertantang untuk menjajaki dunia ini lebih dalam lagi. Kali ini aku mencoba peruntungan mengikuti audisi di Radio Elita 98.3 FM Palembang. Sama seperti sebelumnya, lagi-lagi jumlah peserta audisi yang membludak. Dari sekian banyak peserta, aku terpilih dalam 5 peserta terakhir. Saat itu bersamaan dengan Mayang Ismed dan yang tiga orang lagi (aku juga sudah lupa namanya hehe..) Mayang yang paling ingat, karena saat audisi kami duduk bersebelahan dan ngobrol banyak. Ternyata, aku tak terpilih hanya karena satu pertanyaan dari Om Aan; “anda ke sini naik apa?” Dengan polos aku menjawab “bis kota” *Hmm.. Aku rasa tak ada yang salah dengan jawaban itu bukan? Entahlah 🙂

Masih di tahun yang sama, lagi-lagi seniorku (Kiki Florin a.k.a Cek Nona di Radio Ramona Palembang) mengajak untuk mengikuti audisi di Radio La Nugraha 105 FM Palembang. Aku tak tahu itu radio apa. Niatku hanya untuk menemaninya dan meramaikan suasana saja, kebetulan hari itu aku bebas dari kegiatan kuliah dan organisasi luar kampus.  Hari itu aku membuat surat lamaran dan CV. Hari itu juga aku harus menerima kenyataan harus berdiri pada barisan ke seratus sekian. Ternyata minat anak muda untuk menjadi seorang penyiar radio begitu besar. Berminggu-minggu audisi ini dilakukan, dengan penyaringan peserta yang lumayan ribet. Dimulai dari tes tertulis, take voice, wawancara dengan bang Heri Irawan dan hingga akhirnya aku masuk dalam 5 besar (katakanlah finalis :)) Ada Negar, Visca, Barbara, aku dan Vere yang diperkenankan wawancara langsung dengan owner. Tapi sangat disayangkan, yang terpilih hanya Negar, Visca dan Vere. Aku dan Ara yang sama-sama tidak berkerudung tak terpilih. Yah, apa boleh buat, yang penting aku sudah berusaha. Toh ini hanya sekedar iseng-iseng berhadiah mencoba peruntungan ujarku membesarkan hati.

Dari iseng-iseng berubah menjadi pesimis. Aku sadar, aku tidak terpilih karena aku sudah menyia-nyiakan kesempatan di Real radio kemarin. Aku juga tidak terpilih karena aku kurang paham dengan stasiun radio itu. Jujur, dari awal kepindahanku ke kota ini, aku hanya menyukai satu stasiun radio, Warastra Female 90 FM Palembang. Hampir semua penyiarnya kusuka. Dina Olivia, Lily Tobing, Syifa Faradilla, Leni Hasan, Arlin Keisya, Lita Maulita, Lana Surya, Anggi Amaraz. Suara mereka memberikan imajinasi eksklusif kepadaku, dengan bayangan setiap kali siaran, mereka berpakaian rapi dengan stelan blazer bak penyiar televisi pada umumnya. Suara mereka cantik, pasti juga parasnya. Radio ini terdengar berbeda, penyiarnya bertutur kata baik dan santun. Smiling voicenya terdengar khas. Penyampaian informasinya juga berbeda dengan radio-radio lain yang ada di kota ini.

Tanpa sengaja aku mendengar lowongan pekerjaan sebagai penyiar di Radio Warastra Female ini. Sikap pesimisku terkalahkan oleh rasa penasaran akan radio ini. Aku pikir, aku harus mencoba apapun hasilnya. Ternyata jumlah peserta audisi tak sebanyak radio yang sebelumnya pernah kuikuti. Mungkin karena segmentasinya berbeda, ini radio dewasa. Ekspetasiku, hanya anak muda yang berpikiran dewasa yang suka mendengarkan radio ini, sehingga yang mengikuti audisi juga sedikit, ada sekitar 38 orang. Tapi yang membuatku ketar-ketir, di antara 38 orang peserta itu mereka bercakap-cakap dengan bahasa inggris. Sementara englishku carut-marut. Bagaimana aku bisa bergabung dengan mereka? Ditambah lagi dengan tampang tomboy kucel yang kumiliki, membuat semakin down. Ya, mau tak mau harus tetap maju walaupun langkah kaki ini sudah setengah gentar.

Tuhan berkata lain kali ini. Aku terpilih! Dari 38 orang peserta dipilih hanya 4 orang (bersama Elva Mozza, Desi Arisna, Nitra Andini). Tahun 2007 aku bergabung di radio ini dengan status trainee selama tiga bulan sebelum akhirnya diangkat menjadi penyiar freelance. Minggu pertama berlalu hingga akhirnya Nitra Andini keluar dengan alasan yang kurang kumengerti. Kami tinggal bertiga. Di awal pelatihan banyak diskriminasi yang kurasakan. Aku, yang memiliki suara pas-pasan selalu dibanding-bandingkan dengan kedua temanku. Ku akui, mereka memang lebih unggul. Cambukan yang sangat sakit ketika mendengar ucapan dari Ferdy Ramzi bahwa suaraku seperti “kaleng kosong” ketika dilemparkan. Suaranya berisik, cempreng dan tak enak didengar. Jujur, aku hampir menangis. Ini benar-benar penghinaan yang kejam. Aku dipermalukan di depan rekan-rekan lain.
Aku rasa, sudah cukup di minggu kedua saja. Aku harus menunjukkan kepada mereka, bahwa aku berbeda dari kedua temanku dan aku bisa lebih unggul. Biasanya setiap hari sabtu diadakan rapat mingguan yang dihadiri oleh seluruh penyiar dan Kak Reza (Manajer) radio ini. Benar, pembuktian ini membuahkan hasil. Kini giliranku yang mendapat bertubi-tubi pujian dari sang manajer dengan perkembangan yang pesat. Ferdy Ramzi berujar, hinaan itu tak sesungguhnya, itu hanya taktik untuk membuatmu menjadi lebih baik. Aku tersenyum.

Selama beberapa minggu kami dilatih oleh senior yang sudah ditentukan. Aku mendapat kesempatan jadwal siaran bersama penyiar favoritku, Dina Olivia dan Lily Tobing. Berjam-jam aku betah berlama-lama memperhatikan apa yang mereka lakukan. Cara mereka berbicara, cara mereka memulai, cara mereka menyampaikan, cara mereka menyapa, cara mereka berinteraksi dsb. Aku mencuri. Aku mencuri semua cara mereka. Seperti mengcopy dan mem-paste nya pada diriku sendiri. Mereka datang, aku datang. Mereka pulang, baru aku pulang. Mungkin mereka bosan melihatku setiap kali siaran. Tapi persetan dengan yang ada di otak mereka, fokusku adalah mencuri cara mereka. Hasilnya, aku menjadi duplikat mereka.

Aku bukan manusia yang bodoh. Dua penyiar yang berbeda, pasti memiliki cara dan style yang berbeda pula. Ini namanya menyelam sambil minum air. Kugabungkan keduanya dan jadilah Aku. Aditha Rachman, itu nama siarku atas saran dari Ferdy Ramzi. Aku berjalan dari tertatih hingga akhirnya aku berlari kencang. Itu berkat mereka berdua, guruku yang dengan diam-diam kucuri semua ilmunya. Tidak hanya sampai disitu aku mencuri, setiap kali Lily Tobing mengerjakan produksi pembuatan iklan, aku selalu nimbrung. Kuamati setiap klik yang dilakukannya. Sedikit banyak aku paham bagaimana membuat iklan dengan program cool edit pro. Dan ada tiga iklan buatanku yang dipakai saat itu 🙂

Aku tidak puas sampai di sini. Aku selalu melatih dan mengeksplor kemampuanku ketika siaran. Setiap rapat bulanan aku selalu merengek minta dikritik oleh rekan-rekan dan seniorku. Sampai mereka heran dengan caraku. Aku haus akan kritikan. Karena dengan cara seperti itu aku bisa memperbaiki diriku. Tak sedikit pujian yang aku terima, terlebih dari bosku sendiri. Banyak pendengar yang mengenal namaku saat itu yang menjadikan aku sebagai penyiar favorit mereka. Tapi aku tak mau besar kepala, aku tetap rendah hati dan tetap terus berlatih meskipun sudah empat tahun aku siaran di radio ini. Bersama rekanku Haikal Mustafa, aku mencoba mengeskplor cara siaranku. Siaran berdua ternyata lebih asyik. Ada komunikasi yang baik di sana. Hingga setiap senin, kami berceloteh bersama.

Banyak yang aku dapatkan di radio ini. Hingga di tahun kelima kejenuhan itu datang menghampiri. Aku ingin mencoba hal baru, terutama di radio news (berita). Tepat pada Mei 2011 aku resmi resign dari Radio Warastra Female dan bergabung menjadi News Announcer di Radio SmartFM Palembang. Di sana aku benar-benar belajar dari awal. Cara menulis berita, membaca berita, membuat berita, editing berita dsb. Ya, ini ilmu baru yang aku miliki. Aku semakin cinta dengan dunia kepenyiaran. Sayangnya hanya setengah tahun aku di radio smart ini. Aku harus melanjutkan studiku ke jenjang S2 dan menetap di Semarang. Pengalamanku selama lima tahun terakhir (2007-2011) memberikan pelajaran berharga yang sampai saat ini bisa bermanfaat bagiku. Salah satunya saja, saat presentasi di depan kelas, aku juaranya 🙂 Memulai pembicaraan dengan orang asing yang baru aku kenal, aku jagonya 🙂

Aku sudah kepalang jatuh cinta dengan dunia kepenyiaran. Kalau masih diberi kesempatan, selepas kuliahku nanti, aku ingin kembali menjadi penyiar, walau hanya seminggu sekali dan hanya mendapatkan jatah satu jam. Itu sudah lebih dari cukup. Pengalaman-pengalaman lainnya selama aku menjadi penyiar akan kubagi dalam blog ini. Pastinya harus sabar menunggu postingan berikutnya, karena akan kumuat secara bertahap (tergantung moodnya hehe..)

Bersambung..

*(Cerita ini berdasarkan pengalaman pribadi yang aku jalani. Mohon maaf apabila ada pihak yang tersinggung, ini hanya ajang berbagi pengalaman dengan pembaca. Satu lagi, aku ingin mengabadikan kisah ini agar  jika aku pikun nanti, aku masih bisa mengingat bagian ini dengan membaca blogku sendiri).

Tiga Dara Berhati Baja


3 Dara Berhati Baja

Judul Buku : Tiga Dara Berhati Baja
Pengarang : Ruthanne Lum McCunn
Penerjemah : Yanto Musthofa
Penyunting : M.S. Nasrulloh
Penerbit : Q-Press
Tebal Buku : 372 Halaman
ISBN : 978-979-1174-23-7
Cetakan I, April 2007

Ini adalah  salah satu dari koleksi novel yang saya peroleh dengan cara memburu bazar-bazar buku murah. Dengan uang jajan yang terbatas, saya masih bisa memperoleh buku-buku bacaan menarik yang dapat memuaskan minat baca yang saya miliki. Selain melahirkan Thousand Pieces of Gold di tahun 2004, Rauthanne Lum McCunn kembali menghipnotis pembaca dengan kisah kehidupan pahlawan perempuan Cina pada abad ke-19 M. Dituturkan dengan bahasa-bahasa hiasan yang syarat akan makna.

Novel ini kaya akan penguasaan sejarah yang memikat karena mampu menangkap kejayaan dan kemenangan spirit manusia. Bertutur tentang hasrat pencapaian pada suatu masa, seakan tak mungkin direngkuh bak bulan bersalju; kemerdekaan perempuan..

Novel ini menceritakan asal mula perjuangan kaum perawan di distrik Sun Duk, Delta Sungai Mutiara di wilayah selatan Cina pada tahun 1830 an. Kewajiban yang harus dijalani oleh setiap perawan di desa Ulat Kuat dan desa Bukit Kembar. Sejak usia 9 tahun, setiap perawan di Sun Duk harus tidur di Rumah-rumah Gadis yang dikepalai oleh Nenek Tua sebagai orang tua yang dihormati. Di Rumah Gadis ini mereka diajarkan cara pengabdian kepada mertua dan suami. Mereka selalu dibayangi oleh ketakutan-ketakutan dengan kerugian-kerugian yang akan dialami oleh pengantin perempuan.

(21-22) Dia harus meninggalkan keluarganya, teman-temannya, semua yang menyenangkan, setiap orang, tempat dan benda yang ia kenal, untuk pergi dan tinggal di tengah orang-orang asing. Seorang mempelai perempuan seperti orang mati yang hampir menyeberangi Sungai Kuning menuju Neraka. Peti mayatnya adalah kursi tandu yang membawanya ke suami dan ayah mertuanya. Jika ia tidak bisa meluapkan perasaannya dalam lagu-lagu ratapan, bagaimana ia bisa menanggungnya?

Para gadis yang ada di rumah gadis diajarkan menyanyikan lagu-lagu ratapan yang nantinya akan dapat membantu mereka jika mengalami kesakitan dalam hidup dengan menyenandungkannya. Ketakutan ini semakin menghantui tiap gadis yang ada di Ulat Kuat maupun Bukit Kembar.

Pencari Jodohku,
Pembuat matiku,
Aku akan mati.

Bayang, Mei Ju dan Ayam Jago adalah tiga dari beberapa gadis yang tidur di rumah gadis di desa Ulat Kuat. Mereka yang paling menentang tradisi ini. Mereka memiliki keinginan yang berbeda dari gadis-gadis lainnya. Mereka ingin belajar membaca dan menentang kebohongan yang terpahat bahwa belajar buku bagi para gadis membuka pintu bagi kejahatan. Sampai akhirnya mereka mengucapkan ikrar keperawanan di depan altar Seh Gung.

(180-181) Dengan takzim, mereka masing-masing menyalakan dupa, menunduk dalam sekali, dua kali, tiga kali ke kakek moyang masyarakat dan Dewi Keberkahan Gwoon Yun. Saat mengangkat kepala dari rundukan terakhir, mereka melepas ikatan jalinan rambut perawan mereka, menggoyang-goyangkannya sampai longgar sehingga rambut terburai seperti kerudung-kerudung kemilau hitam yang menjangkau pinggang.
Dengan tersenyum mereka membawa keluar kotak peniti dan kendi kecil pow fa sehingga mereka bisa memulai menata rambut mereka dengan gaya yang menandakan mereka bukan lagi gadis, tetapi perempuan. Proses yang panjang dan rumit ini selalu dilakukan untuk pengantin oleh orang lain, tetapi untuk menunjukkan kepercayaan mereka, mereka melakukannya untuk diri mereka sendiri.

Dengan mengencangkan jubah masing-masing, mereka membuat ikrar keperawanan dengan suara yang keras dan mantap.

(182) Perempuan bernama Wong Mei Ju ini tidak akan pernah menikah. Dia akan tetap suci, dan dia berdoa agar engkau, Seh Gung dan engkau, Gwoon Yun, akan memberi berkah dan perlindunganmu.

(196) Lihat ke belakang jalan yang telah kulalui.
Dan nilailah bila ada yang lebih baik yang ditemukan.
Tak ada suami yang mengklaim pengabdianku.
Tak ada mertua yang menguasai setiap nafasku;
Tak ada anak yang bergantung di tanganku,
Tak ada pengusik di sayap-sayap rohku.
Sebebas angin di gunung,
Atau burung-burung yang membumbung tinggi ke matahari,
Dengan intan baiduri aku merias diri,
Dengan mutiara bulan aku bermahkota.
Siapa yang setia mengikuti langkahku,
Semoga mendapat bagian dari keberuntunganku yang tak terkira;
Dan dia yang cukup berani untuk menyerah,
Akan tahu apa akibatnya.

Ini baru permulaan dari perjuangan mereka yang sebenarnya. Di saat kehidupan baru dimulai, mereka harus menjadi orang-orang buangan yang dikucilkan. Tinggal bersama cemara-cemara gunung dengan serapah mati tak berguna. Hidup di antara tangisan dan kaok burung-burung gagak membuat mereka merasakan kebebasan yang tiada tara yang mengubah keberuntungan menjadi perempuan-perempuan yang cakap. Hingga pada akhirnya, pengakuan yang mereka terima.

Semoga riview ini bisa bermanfaat bagi anda 🙂

Putri Tidur; Itu yang terbaik


sleeping beautyHai dunia! Aku kembali menyapamu lewat blog ini. Sekali lagi maafkan keegoisanku. Aku sadar, aku hanya mengingatmu ketika aku merasa sendiri. Sama seperti hari sebelumnya, minggu ini yang tersuram selama setahun terakhir. Entah bagaimana aku mengungkapkannya dengan kata-kata. Yang pasti kau akan tahu jika kau pernah hidup sendiri.  Ada saat dimana kau merasakan kebosanan yang tak terbatas, itupun tanpa sebab yang jelas. Hatimu seakan meronta menginginkan keramaian. Walaupun hanya sekedar sebuah teguran sapa, sudah lebih dari cukup. Minggu ini, seperti itu adanya hatiku. Aku ingin menjadi putri tidur setiap waktu. Terus dan terus memejamkan mataku, tak ingin membukanya. Karena dengan aku tertidur, aku bisa memperoleh kondisi yang aku inginkan. Tidak seperti saat ini, sendiri. Ya, meskipun kenyataannya pahit, paling tidak aku bisa bergelut dengan mimpi-mimpi yang dengan sengaja kukarang dengan durasi yang aku inginkan. Ketika terbangun, aku mendapati mata yang sembab dengan pipi tembam layaknya seperti wajah bantal.

Putri tidur, aku lebih suka menjadi seperti itu. Aku bisa menjangkau semua aktivitasku di masa lalu. Juga bisa menemui siapa saja yang ingin kutemui. Aku membenci cermin yang selalu saja berkata jujur tentang garis wajahku. Setiap kali aku memandangnya, aku merasa ngeri melihat warnaku sendiri. Begitu suram dan harapan itu sama. Aku membenci mandi. Kubiarkan tubuhku kumel, bau dan dekil. Aku tak berharap ada orang yang mengajakku jalan-jalan ke taman, sekedar bercerita tentang indahnya kebersamaan, karena aku tahu itu hal yang mustahil. Untuk itu mandiku sia-sia. Aku cukup membasuhnya sekali-sekali ketika aku ingin bertemu denganNya.

Bibirku tak pernah lagi tersenyum, aku sengaja mengatupnya rapat-rapat, agar aku tetap larut dalam kesendirian ini. Aku membenci diriku sendiri, yang ikut terbuai dalam caraku yang bodoh ini. Karena aku bingung harus seperti siapa dan menjadi bagaimana. Aku ingin kembali menjadi diriku yang dulu. Aku yang penuh dengan warna. Bukan kelabu.

Pertemuan Kafe Hijau


Di cafe hijau ini untuk pertama kalinya kita bertemu. Tidak saling bertatapan ataupun berjabat tangan. Mungkin saat itupun kau tidak pernah melihatku. Kita larut dalam kebersamaan masing-masing, duduk di bangku masing-masing dengan tawa masing-masing. Topik perbincangan kita pun berbeda. Sore itu, beberapa jam setelah kami, kau menyusul dengan teman-temanmu.

Pertemuan itu tidak disengaja, dan kau tidak melihatku..

Seperti biasa, setiap kali berkumpul denga teman-teman, pasti akan ramai. Bisa dikatakan (malah) hingar bingar. Suasana kafe yang harusnya cozzy, berubah seperti pasar. Penuh tawa dan lelucon yang sebenarnya garing :). Ya, aku dan teman-temanku memang seperti itu setiap kali berkumpul.

Dua orang temanku, kenal baik denganmu. Kalian sempat berbincang dalam seulas percakapan. Ketika aku menuju wastafel, aku melihatmu. Terucap kata, “cakep” (pliss jangan GR ya.. aku sadar, aku jarang memujimu). Tapi hari itu hanya sekedar ucapan, yang sangat sering aku ungkapkan setiap kali melihat kaummu yang rupawan.

Kau dan teman-temanmu, baru saja datang ketika kami bersiap-siap bubar. Aku tergolong orang yang humoris dan suka ngocol diantara teman-temanku. Banyak celetukan konyol yang aku keluarkan, atau bahkan keusilan yang sering kulakukan di tempat umum. Salah satunya berucap “waduh, cowok cakep lewat lagi nih!!” kelakarku. Ternyata gumamanku ini ditanggapi gila oleh teman-temanku. Alhasil, kartu nama expired yang entah zaman kapan sampai di tanganmu.

Kita berpisah hari itu, tanpa kau melihatku..

Aku tetap menjalankan rutinitasku, kuliah dan bekerja paruh waktu. Tak lagi mengingat kejadian kemarin sore yang ternyata menyisakan rasa penasaran untukmu. Saat ini kau tengah berpikir keras, mencoba mengingat-ingat, yang mana pemilik kartu nama ini? Dari sekian banyak gadis yang tertawa di antara temanmu, kau tak berhasil menemukan aku dalam ingatanmu.

Sama seperti aku yang hari ini melupakanmu.

Hingga seorang teman bertanya “Apa kau sudah dihubungi olehnya?” Aku nggak nyambung dengan pertanyaan itu. Hanya menggeleng. “Siapa maksudmu? tanyaku balik. “Dia.. apa kau sudah di telpon olehnya?” lanjut temanku. “Dia?? Dia siapa?? Perasaan nggak pernah punya teman namanya Dia deh.. hmm..” tanyaku sambil berpikir keras mencoba mengingat-ingat nama asing itu. Ya, namamu memang sangat asing di telingaku. Bahkan baru pertama kali aku mendengar nama itu. Setelah temanku mengingatkan “Cowok yang kita kasih kartu nama kamu sewaktu di Green kemarin.. Ingat nggak??” tanya temanku. “Oooohh……” aku mengiyakan. “Emang kenapa dengan dia?” selidikku. “Kamu sudah dihubunginya belum?” tanya temanku lagi. “Belum..” jawabku singkat. “Ini, aku ketemu FB nya..” ujar temanku sambil menunjuk komputer kerjanya. Aku tak langsung bergegas menghampirinya. Kuhabiskan sisa makananku dan aku berjalan menuju meja kerjanya. “Alah… cowok kayak gini mah, gampang ditebak… kalo nggak playboy, ya homo!!” ujarku sambil berlalu meninggalkannya. Haha.. Komentar yang mungkin membuat wajahmu memerah marah kalau kau mendengarnya saat itu. Aku tahu, itu fitnah yang paling kejam untukmu. Tapi maafkan aku karena pernah berkata seperti itu tentangmu.

Dua hari berselang, saat aku berkumpul dengan sepupuku, untuk pertama kalinya kau menghubungiku. Aku benar-benar tidak mengingat siapa namamu. Hingga berkali-kali kau mencoba mengingatkan, dan akhirnya aku malu. Selama beberapa hari terakhir kau berusaha menghubungi nomor yang ada di kartu nama itu. Tapi hasilnya NIHIL, selalu tidak aktif. Bagaimana bisa nyambung, nomor itu sudah hampir setahun tak kupakai lagi. Usahamu mendapatkan informasi tentangku dari salah satu juniorku membuahkan hasil.

Sore itu, untuk pertama kalinya kau mengajakku bertemu. Tapi tidak di kafe itu.

Pertemuan pertama kita, mungkin terkesan biasa-biasa saja. Kita banyak bercerita tentang hal-hal biasa. Tak ada yang istimewa. Tapi waktu terasa sangat cepat berjalan, hingga akhirnya kita harus kembali pada rutinitas masing-masing.

Aku punya banyak teman lelaki, tetapi semua hanya sebatas teman, tidak lebih. Mereka senang berteman akrab denganku. Bahkan ada beberapa teman yang mengatakan, “Dit, kau sangat layak dijadikan teman dekat bahkan saudara. Karena jika lebih dari itu, aku takut suatu saat akan kehilanganmu”. Itu yang aku tau. Jadi aku tak pernah berharap lebih dari pertemuan kemarin.

Aku tak tau apa yang kau rasa setelah pertemuan itu. Kau rutin menanyakan kabarku atau hanya sekedar mendengar suaraku. Aku juga tak berharap banyak. Menganggap hal yang wajar saat punya kenalan baru.

Pertemuan kedua sore itu menyisakan bulir hujan di dedaunan. Jalanan basah. Kita nikmati sabtu malam berdua-dua, bercerita, tertawa dan bercanda. Seolah sudah mengenal lama. Sama, waktu terasa cepat berlalu. Kau tak ingin segera pulang meninggalkanku. Malam itu, kita duduk bersama menikmati gerimis di awal bulan Mei. Aku dan kau, mencoba berjalan bersama dengan gelora muda yang saat itu tak mengenal cinta. Hanya ada rasa suka.

Kata orang, cinta datang karena terbiasa. Itu berlaku bagiku dan untukmu. Tiga tahun kita jalan bersama, tertawa bersama, bahkan menangis bersama. Aku pernah kehilangan sahabat terdekatku, dan kau gantinya. Kau jadi sahabat terbaikku, demikian juga aku. Hingga kini cinta itu datang, menimbulkan rasa tak ingin kehilangan. Dan akhirnya, aku jatuh cinta padamu..

*bersambung

Dalam Do’aku


(Sapardi Djoko Damono, 1989, kumpulan sajak
“Hujan Bulan Juni”)

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku

Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu

Sewindu Aku Menantimu


Langit keemasan tertutup mega kelabu
Segaris kilat muncul satu persatu bersahutan
Pertanda tetesnya akan menyentuh dahanku
Tak sampai semenit gemercik irama terdengar syahdu
Bersama gemuruh beradu tandus

Sewindu sudah kunantikan melodimu
Dengan rasa takut yang telah larut dalam setiap rintiknya
Bersama kicauan kenari bersembunyi di bawah rindang daunku
Seakan ruh ini hadir kembali pada tiap ruas batang hingga akarku
Gersang hilang berganti kuncup yang akan mekar

Kali ini, aku tidak sedang peluh di bawah terikmu
Kita tidak sedang menikmati senja dengan semburat jingga
Melainkan instrumental alam yang selalu aku tunggu

Sampai saat ini,
Aku masih menyebutmu air kasih dari surga,
Dan kau tetap melihatnya sebagai hujan.

Semarang, 24 Januari 2013

Gelora Kakak Ada Padaku


Tak terhitung sudah berapa kali aku membaca isi potongan kertas kecil ini. Isinya sangat singkat, tetapi membuatku bergelora setiap kali membacanya. Sama seperti hari ini setelah sembilan tahun yang lalu mendapat potongan kertas itu terselip di dalam buku kumpulan puisiku.

Aku suka puisi-puisimu. Kau berbakat.

Aku mengenalnya tahun 2004 lalu, di hari pertama menjadi mahasiswa baru. Ia seniorku, yang selalu membangunkan geloraku.

Hari ini aku bertemu lagi dengannya setelah tiga tahun yang lalu. Kami bercerita banyak hal dengan situasi yang berbeda. Berkejaran dengan waktu. Profesi sebagai jurnalis membuatnya semakin sibuk. Bahkan setiap kali bertemu, obrolan kerap dilakukan di sela-sela liputan. Hingga waktu terasa singkat, terlebih lagi bagi pertemuan kami.

Dari SD aku memang suka menulis. Kata kakak, wajar bakat ini ada pada dirimu, sejak dalam rahim, kau sudah dicekokin ilmu menulis oleh ibumu. Tapi aku tak seserius kakak. Gelora menulisku masih labil. Hingga hasil tulisanku juga masih terlalu jauh dari kata lumayan.

Meskipun aku tak serahim dengannya, tapi aku merasakan sesuatu yang berbeda ketika mengingatnya. Apalagi bersamanya. Dia kakakku, yang selalu memotivasiku. Menertawakanku saat menangis mengadu tentang kecurangan dalam hidup. Ia tak pernah segan menyebutku “bodoh”, ketika aku merasa kalah dari orang lain. Ia ingin aku selalu menjadi cerdas. Sama dengan keinginannya sendiri yang selalu ingin menjadi orang cerdas.

Ia kakakku, yang selalu berkata aku konyol dengan kekonyolanku. Tertawa terbahak-bahak ketika keirianku datang dan menamparku dengan perkataan yang menyadarkanku.

Mungkin sampai saat ini ia tidak menyadari, betapa besar pengaruh dirinya terhadap semangatku. Karena ia kakakku, yang tak perlu menghitung setiap pengaruh itu.. -NJ-

Panggil Aku Sily, Kak!


Hampir sepuluh menit kami membisu, larut dalam pikiran masing-masing. Tatapan matanya jauh memburu setiap kerlipan bintang di langit. Aku pun demikian. Kunikmati kemilaunya yang jika dipandang semakin terasa keberadaannya. Udara dingin malam ini tak lagi terasa, karena aku bersebelahan dengannya. Prabu Siliwangi, bocah lelaki usia 13 tahun yang aku kenal tahun 2006 lalu. Ketika akan menemui pejabat pemerintah nomor satu di Propinsi kami, di ruang tunggu aku berkenalan dengannya.

Hari itu pukul 10.00 WIB, aku bersama seorang teman mahasiswa menjadi bagian dari beberapa orang tamu yang menunggu giliran untuk menemui Bapak. Mengenakan jaket almamater biru aku duduk bersebelahan dengannya. Matanya bersinar penuh harapan. Mengenakan baju kaos warna merah, celana pendek berwarna biru (sepertinya seragam anak SMP), serta sendal jepit warna hijau. Melihat penampilannya, sepertinya ia bukan berasal dari kota ini.

“Dari tadi dek?” tanyaku. “Iya kak, sudah hampir setengah jam menunggu” jawabnya. “Mau nemuin siapa?” sambungku lagi. “Bapak wakil kak” jawabnya singkat. “Wah, sendirian saja?”. “Iya kak sendirian” jawabnya.

“Oooh…” aku diam seraya mengakhiri pembicaraan itu.

Sudah hampir dua puluh menit kami menunggu. Tapi pintu Bapak masih tertutup. Hanya sesekali terbuka, ajudannya yang keluar atau staf lain yang masuk. Bosan juga menunggu seperti ini. Kalau bukan karena urusan dana proposal KKN (Kuliah Kerja Nyata) yang kami ajukan, mungkin sudah dari tadi kutinggalkan ruang tunggu ini. Feelingku mengatakan sepertinya hari ini pundi-pundi itu akan cair. Paling tidak kami harus bersiap-siap menjawab pertanyaan Bapak seputar program kami untuk mendapatkan persetujuan darinya.

“Kakak mau ketemu Bapak wakil juga?” tiba-tiba ia menyambung percakapan basa-basi yang sempat berakhir tadi. “Oh bukan, tapi Bapak Kepala” jawabku setengah terkejut. “Kamu ada keperluan apa menemui Bapak Wakil?” sambungku. “Mau minta bantuan pengobatan Kak”. “Siapa yang sakit? Orangtuamu?” tanyaku. “Bukan Kak. Aku yang sakit” jawabnya sambil menekan-nekan perutnya. “Kenapa perutmu?” tanyaku sambil serius memperhatikan bagian yang ditekan itu. “Aku tak tahu Kak, sepertinya ada tumor di dalam. Coba Kakak pegang!” perintahnya. Aku ragu-ragu menuruti permintaannya. Temanku yang sedari tadi ikut mendengarkan percakapan kami segera memegang perutnya. “Disini Bang!” tunjuk bocah itu. Temanku menekan-nekan posisi yang dimaksud. “Iya, keras sekali Dis” ucap temanku. “Masa sih?” tanyaku kurang yakin. Untuk menepis keraguanku, segera kupegang perutnya. Ya, keras sekali, seperti ada benjolan sebesar telur angsa tertinggal di dalamnya.

“Kamu merasakan sakit?” tanyaku sambil meringis. “Terkadang iya Kak” jawabnya. “Sejak kapan kamu merasakan benjolan itu?” selidikku. “Sebulan yang lalu. Aku sudah ke rumah sakit umum di kabupaten tempat tinggalku. Tapi aku tidak punya biaya untuk operasi Kak. Kata orang-orang di desaku, Bapak Wakil ini putra daerah desaku. Mereka menyarankanku untuk pergi ke kota dan menemuinya. Warga desa meyakinkanku bahwa Bapak Wakil akan membantuku dengan segera”.  “Jadi kamu ke sini sendirian? Tidak bersama orangtuamu?” sambungku lagi. “Bapak sudah meninggal dua tahun yang lalu Kak. Mamak harus pergi ke kebun menyadap getah. Dan tidak mungkin meninggalkan adik-adik sendirian di rumah” jawabnya. “Kamu ke sini kapan?” tanyaku lagi. “Kemarin Kak, tapi begitu sampai kantor sudah tutup. Jadi aku ke sini lagi hari ini. “Tidur dimana kamu semalam?” tanyaku sedikit hawatir. “Di pos satpam depan gerbang itu Kak”. Di dalam hati aku mulai iba pada anak ini. “Apa kamu sudah buat janji dengan Bapak Wakil?”. “Memangnya harus buat janji dulu ya kak?” tanyanya dengan nada bingung. Aku diam tak menjawab.

“Adik-adik mahasiswa, silahkan masuk!”. Suara bernada wibawa terdengar dari balik pintu. Aku berdua dengan temanku melangkahkan kaki perlahan ke dalam ruangan itu menuruti langkah ajudan Bapak. Baru pertama kali aku masuk ke ruangan Bapak. Orang nomor satu di Propinsi ini. Temanku sumringah dengan wajah tegang. Sebenarnya sama dengan keteganganku saat itu. Tapi aku coba untuk menutupinya dengan santai. Aku kira saat itu kami harus menjawab berbagai pertanyaan dari Bapak, sama ketika kami menghadapi dosen-dosen killer di kampus. Tapi ternyata setelah di dalam kami hanya diminta untuk menandatangani berkas-berkas pencairan dana proposal yang kami ajukan minggu lalu. “Bapak sudah membaca proposal kalian. Bapak juga ingin membantu sepenuhnya dari total dana yang kalian tuliskan di proposal ini” ujar Pak Ajudan. Aku menoleh ke temanku. Terlihat senyumnya semakin melebar tanda senang. “Silahkan adik-adik tanda tangan di sini, dan bawa berkas ini ke bagian bendahara”.

Keluar dari pintu berukir emas, masih kudapati bocah kecil itu duduk tertunduk lesu. “Masih belum dipanggil dek?” tanyaku. “Belum Kak, sepertinya Bapak Wakil sedang sibuk. Tadi kata bapak Pol-PP itu tunggu saja sebentar lagi. Tapi ini sudah satu jam lebih” jawabnya murung.

“Kamu sudah makan?” tanyaku. “Sudah Kak tadi pagi aku makan. Masih ada bekal nasi yang dibawakan Mamak kemarin”. “Oh, ya sudah. Kakak pergi duluan ya. Ini buat jajanmu” kuselipkan uang selembar ke dalam sakunya dan berlalu meninggalkannya. Teriakan terima kasih masih kudengar menggema di lorong-lorong berpintu kanan-kiri sebelum aku berbelok menuruni anak tangga.

Aku tertawa lebar dengan temanku. Tak menyangka proposal yang kami ajukan bisa cair secepat ini. Mungkin ada bantuan rekomendasi dari abangku, terima kasih ucapku dalam hati.

Sesampai di Posko Kelurahan, aku disambut oleh 8 orang teman dari kelompokku. Mereka terkejut sekaligus senang mendengar berita ini. Hari itu menjadi hari yang bersejarah untuk memulai program-progam kerja di Kelurahan ini.

Semakin malam semakin ramai. Sepertinya acara yang diadakan oleh EO tempatku bekerja paruh waktu bisa dikatakan sukses. Dari pagi masyarakat kota ini antusias mengikuti seluruh rangkaian acara. Dibalik terali pembatas, mataku menangkap wajah yang tak begitu asing. Wajah yang pernah aku lihat beberapa bulan yang lalu. Aku berpikir keras untuk mengingat dimana terakhir kali kutemui wajah itu. Ya, untung ingatanku bisa diandalkan. Ia bocah yang kutemui ketika duduk di ruang tunggu. Tapi mengapa penampilannya sekarang berbeda? Ia telanjang dada. Memikul karung di pundaknya. Menenteng kardus di tangan kirinya. Rambutnya merah seperti terbakar matahari. Wajahnya kuyu. Tapi mata itu.. Aku kenal sekali mata itu! Mata yang penuh harapan!

Kupungut semua sisa-sisa kardus yang ada di areal acara. Kudekati ia. “Dek!” sapaku dari belakang. Dia menoleh dan terkejut melihatku. “Kak Adis? Kakak masih mengenaliku?” tanyanya. “Kamu Sily  kan? Prabu Siliwangi?” jawabku dengan senyum ceria. “Iya Kak! Terima kasih kakak masih mengingatku” jawabnya dengan senyum lebar. Kami dikejutkan oleh teguran anggota Sat Pol PP yang bertugas malam itu. “Hey, kamu! Pergi dari sini!” sentak anggota itu. Hatiku marah. “Jangan diusir Pak! Dia adikku!”.

Aku mengajaknya untuk menepi dari keramaian malam itu. Aku duduk di portico seberang jalan tempat acara itu digelar. Sambil membantunya menyusun kardus-kardus yang kubawakan tadi, aku mengobrol dengannya. “Sejak kapan kamu jadi pemulung begini?” tanyaku sedikit kecewa. “Wah, panjang ceritanya kak”. Ia menarik nafas dalam-dalam. Seperti ada beban yang bersarang dalam dirinya. Aku menatapnya. Mengharapkan penjelasan darinya. “Setelah pertemuan kita di kantor Bapak Wakil kak. Aku tidak pernah pulang ke desa” ujarnya. “Kenapa kamu tidak pulang? Bagaimana mamakmu? Pasti khawatir. Sekolahmu tidak kamu lanjutkan?” tanyaku beruntun. “Mamak sudah aku kabari lewat telpon. Aku bilang kalau aku baik-baik saja dan aku tinggal bersama Bapak Wakil”. Aku terdiam, mencoba menerka-nerka sendiri jalan pikiran anak ini. “Penampilan kakak sekarang sudah berbeda ya? Aku tadi sempat pangling melihat kakak di atas panggung. Apa benar itu kak Adis ya? Atau hanya mirip? Aku lihat kakak dari tadi sore. Tapi aku takut menghampiri kakak. Takut salah hehehe” sambungnya sambil tertawa. “Ah kamu Sily, inikan hanya sementara. Cuma penampilan di atas panggung saja. Besok juga sudah berubah seperti biasa. Tomboy lagi” jawabku ikut tertawa.

Disela-sela perbincangan kami, aku mengirim sms kepada temanku untuk minta tolong membelikan dua bungkus nasi ayam. Tak lama temanku datang membawa bungkusan yang ternyata isinya ada tiga. “Kamu pasti belum makan kan? Dari tadi kakak dengar suara gaduh dalam perutmu” ledekku. Suasana makan malam kali ini berbeda dari biasanya. Aku tak lagi memikirkan keadaan sekitar yang sangat ramai. Dengan dandananku yang berlebihan malam itu, sepertinya sangat tidak pantas makan nasi bungkus di emperan portico bersama seorang anak yang bertelanjang dada dengan tumpukan kardus di sampingnya. Tawa kami bertiga mengalahkan keriuhan masyarakat yang berkumpul di Plaza itu.

“Terima kasih kak untuk makanan yang lezat malam ini” ucapnya. “Sama-sama. Besok pasti kita akan makan enak lagi. Kamu doakan saja kakak punya rezeki yang banyak, hahaha..” jawabku. “Terus, kamu tidur di mana malam ini?” sambungku. “Tiap malam aku tidur di bawah bangku-bangku di Plasa ini kak” jawabnya. Hatiku tersayat membayangkan betapa dinginnya angin malam yang menembus kulitnya. “Kenapa kamu tidak menumpang tidur di pos jaga?” sahutku. “Di bawah bangku itu aku merasa sudah nyaman kak” jawabnya.

Malam itu awal dari pertemuan berikutnya. Setiap sore menjelang malam kami bertemu di portico Plasa itu.

Malam ini sedikit lengang. Hanya ada beberapa pengunjung yang hadir di Plasa ini. Ia tidak lagi bertelanjang dada. Bajunya sudah rapi. Ia mandi dan sikat gigi. Semua atas permintaanku dan nasehatku. Aku ingin ia hidup normal kembali. Tidak menjadi gembel seperti kemarin. Setelah menikmati nasi bungkus, ia mengajakku memandangi bintang sambil mengobrol. Katanya, mengobrol denganku mengingatkannya dengan Bapak. “Kak, mungkin Bapakku ada di antara bintang-bintang itu ya?”. Lamunanku terpecah oleh pertanyaannya. Aku menoleh ke arahnya. Kedua tangannya dijadikan bantal sebagai alas kepalanya. Matanya masih menerawang jauh menikmati kerlipan cahaya. “Aku rindu sama Bapak, Kak” bisiknya. Aku lihat aliran air tumpah di sudut matanya. Setiap kali bertemu, aku selalu membujuknya untuk pulang ke Desa. Aku tak tega melihatnya hidup luntang-lantung seperti ini. Kulanjutkan bujukanku hingga malam ini. “Dek, pulanglah ke Desa! Apa kamu tidak rindu pada Mamak? Adik-adikmu, Shinta dan Larasati? Apalagi kemarin kita dapat kabar kalau Mamakmu sakit kan?” kataku. Jumlah aliran airmata itu semakin banyak dan deras. Mataku juga jadi basah. Kembali kami larut dalam pikiran masing-masing.

Ia keras kepala. Ia malu untuk pulang ke desa sejak kegagalannya menemui Bapak Wakil beberapa bulan yang lalu. Ia mengaku kepada Mamaknya kalau ia sudah menemui Bapak Wakil dan sudah dioperasi. Sekarang ia tinggal dan disekolahkan oleh Bapak Wakil. Itu pengakuannya. Entah bagaimana jalan pikirannya. Setiap hari aku mengoceh di depannya. Memberikan pemahaman yang baru padanya tentang masa depan. Pentingnya meneruskan sekolahnya. Dan pentingnya kembali kepada orangtuanya. Hari ini, aku rasa aku setengah menyerah. Dalam hatiku aku berujar, kalau ia masih menolak semua pandangan yang aku berikan, aku akan pergi. Aku tidak mau lagi mengurusi anak yang keras kepala seperti dia. Anak bodoh, yang mau menyia-nyiakan hidupnya karena pemikirannya yang salah. Tekadku sudah luntur karena kekerasan hatinya.

“Kak, besok aku akan pulang ke desa” ucapnya sambil menghapus sisa-sisa airmata yang menggenang. “Aku akan kembali pada Mamak. Aku akan sekolah lagi kak.”

Aku bangkit menatapnya yang sudah lebih dulu dengan posisi duduk. “Kamu benar mau pulang?” tanyaku meyakinkan. “Iya kak, aku besok pulang” jawabnya. “Kakak jaga diri baik-baik ya di sini. Aku sayang sama kakak”. Mata itu kembali bersinar penuh harapan. Sama seperti mata yang aku temui hari itu di ruang tunggu kantor Bapak Kepala. Hatiku lega mendengarnya. Kuusap-usap rambutnya “Kamu memang, Boy!!” ucapku sambil tertawa senang.

Mungkin malam ini pertemuan terakhirku dengannya. Langit yang tak akan kulupa sepanjang waktuku.

Berselang dua hari, aku mendapat telpon dari nomor asing. Kuangkat, ternyata suara Sily terdengar. Ia menghubungiku melalui wartel di desanya. Minggu depan ia akan kembali bersekolah. Saat ini sedang musim durian di desanya. “Kak, aku tunggu kakak di desaku. Salam juga dari Mamak, Shinta dan Larasati” ucapnya. “Pasti kakak akan ke sana menjengukmu” jawabku.

Itu terakhir kali aku mendengar suaranya. Enam tahun yang lalu. Mungkin sekarang ia sudah besar. Atau bahkan sudah menjadi seorang pemuda yang tangguh. -Sily-

Talak Tiga dari Suamiku


Kurapat-rapatkan mata ini agar bisa terlelap. Miring ke kanan, balik ke kiri, masih sama, tetap tak bisa. Kubenamkan wajah ini ke dalam bantal, semakin sesak kurasa. Instrumental jazz juga kalah. Biang keroknya bukan lagi tiga cangkir kopi, tapi ini perkara kegelisahanku.

Hari ini bagaikan mendapat shock terapi gratis. Kalau aku bisa memilih, lebih baik aku tidak usah tahu dan tidak usah mendengarkannya. Jadi aku bisa merajut mimpi indah malam ini sehingga besok kembali segar mengikuti kuliah.

Lampu tidur di dinding kamar semakin menambah suram pikiranku. Setiap kali mata ini terpejam, aku selalu terbayang cerita-cerita tadi siang. Mataku berkantung. Bukan karena bawaan lahir, tapi karena aku menangis. Meratapi kisah seakan aku menjadi dirinya saat itu.

Dia salah satu sahabatku ketika SMA. Komunikasi kami kembali berlanjut setelah enam tahun lulus SMA. Tahun 2010 aku kembali ke kampung halaman dan mengundang beberapa teman untuk bertemu. Ia datang tidak sendiri, tapi bersama tunangannya. Sekarang keadaan kami sangat berbeda. Wajah-wajah lugu tak lagi tampak. Tertutup oleh riasan serta penampilan yang berbeda dari seragam putih abu-abu. Beberapa orang teman juga sudah berumahtangga dan memiliki putra-putri yang lucu. Tapi hari itu yang hadir hanya kami yang masih berstatus single.

Pertemuan hari itu meninggalkan cerita baru yang penuh dengan kenangan lama saat kami masih SMA.

Beberapa bulan berselang. Aku sudah larut dalam rutinitasku di kota lain. Dan ia sudah menjadi seorang istri. Komunikasi tetap berlanjut walaupun hanya dua bulan sekali. Paling tidak kami tetap saling menyapa dan memberi kabar. Ia menceritakan kehidupan rumah tangganya yang harmonis, rencana-rencana masa depan mereka atau bahkan bercerita tentang keinginan memiliki momongan. Aku, hanya bercerita mengenai pekerjaanku. Terkadang aku iri mendengar cerita teman-teman yang sudah menikah. Tampaknya mereka sangat bahagia dengan pasangannya. Sementara aku, diusia 25 tahun masih sendiri dan hanya bisa menunggu waktu untuk lamaran itu.

Akhir 2012 ia menghubungiku. Nomor yang asing, enggan untuk menerimanya. Tapi kuangkat saja. Ternyata ia ganti nomor. Seperti biasa, obrolan kami butuh waktu paling sedikit dua jam. Entah apa yang dibahas, tapi selalu tak pernah ada hentinya. Sampai akhirnya telpon terputus karena pulsanya habis. Kabarnya baik. Ia menceritakan kesibukannya ketika menjelang lebaran tahun lalu, bisnis kue dan cokelat. Orderan banyak, sampai-sampai waktu tidur hanya tiga jam setiap hari. Lumayan, keuntungannya bisa dijadikan modal untuk melanjutkan bisnis itu. Suami juga sangat mendukung dan ikut membantunya dalam hal materi, kreativitas dan tenaga. Aku senang mendengarnya. Aku juga berencana untuk membantu memasarkan cokelat-cokelat produksinya di kotaku.

Berselang dua bulan, telponnya tak kunjung datang. Aku pikir dia baik-baik saja, karena setiap kami ngobrol, kabar bahagia yang selalu kuterima. Ada sedikit rasa rindu dan aku coba untuk menghubunginya. Sekedar ingin mendengar logat melayunya yang bisa mengobati rasa rinduku pada kampung halaman.

Suara parau menyambut di ujung telpon. Sapaan hangatku seakan menggoyahkan lamunannya. Ia tak sehangat dua bulan lalu. Tidak seriang saat terakhir menyapaku.

“Apa kabar kamu dan suamimu?” pertanyaanku tak langsung disambut, tetapi helaan panjang yang aku dengar.

“Aku sudah berpisah dengan suamiku. Talak tiga!!” jawabnya lirih. Terkejut bukan main mendengar pernyataannya hingga sesaat aku tak bisa berkata apa-apa. Hening..

“Loh, kenapa? Bukannya kalian selama ini rukun-rukun saja?” tanyaku.

Sudah sebulan lebih dia menceraikanku. Entahlah, waktu seperti tak berpihak padaku, pada pernikahan kami. Suamiku seperti kerasukan setan, dia mencekikku, mendorongku dan menamparku. Terlebih, dia sudah menyakiti hatiku. Dia berubah, tidak seperti yang aku kenal. Aku menangis, aku berdiam diri di kamar, tapi dia tidak datang membujukku dan meminta maaf atas perbuatannya. Aku sakit, aku kecewa. Suami yang kukenal seperti hilang, berubah 360 derajat. Aku ingin mengadu ke rumah mertuaku, tapi aku malu. Terlalu sering ibu mertua mendengar keluhanku tentang putranya ketika kami masih seatap. Aku tak ingin membebani pikirannya lagi. Tapi aku tak tahan dengan perlakuan suamiku, hingga akhirnya aku pulang ke rumah orang tuaku. Kupakai bedak tebal-tebal untuk menutupi wajah sembabku, bibir kupoles dengan gincu merah menyala agar wajah kuyu ini tak terlihat. Wajahku seperti mayat hidup. Di sepanjang perjalanan menuju rumah orangtua pandanganku kosong. Hingga akhirnya ibu memelukku dengan airmata. Memeriksa lenganku yang lebam dan pipiku yang biru karena tamparan dua kali yang aku terima. Rasanya pelukan ibu obat sementara untuk semua perih di hatiku. Aku menceritakan semuanya tapi memohon pada ibu untuk merahasiakannya dari Bapak. Aku takut Bapak marah dan kesehatannya akan terganggu. Dua hari aku di rumah Ibu, tapi suamiku tak kunjung datang menjemput. Dia mengirimkan sms dengan sumpah serapah dan makian padaku. Seperti membabi buta dan tak mengingat lagi kalau aku istrinya, perempuan yang sudah dua tahun hidup mendampinginya. Yang membuat hatiku semakin teriris, dia mengungkit semua nafkah yang telah diberikannya padaku, dia menanyakan kemana saja uang gajinya kuhabiskan. MasyaAllah.. lagi-lagi aku tak menyangka suamiku akan berkata seperti itu. Dia menuduhku menghabiskan uangnya untuk membiayai kedua orangtuaku. Padahal, sejak berumahtangga aku tak lagi menafkahi orangtuaku karena aku tidak bekerja lagi atas permintaannya. Setiap bulan gaji yang diberikannya padaku, aku bagi-bagi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami berdua. Angsuran kredit rumah, bayar listrik, PAM, arisan, pegadaian, belanja, belum lagi pengeluaran tak terduga ketika kami ingin makan malam di restoran atau jalan-jalan ke mall berdua. Dia pikir, gajinya tak akan habis untuk itu. Dia berpikir, semua gajinya itu aku berikan pada orangtuaku, membiayai keberangkatan adikku ke Malaysia. Gaji yang hanya bisa mencukupi kebutuhan kami berdua, bahkan terkadang aku harus berhutang diam-diam untuk menutupi kebutuhan rumah tangga.

Bathinku semakin sakit atas tudingannya kepadaku. Kubalas smsnya dan mengungkapkan kekecewaanku. “Aku sudah tak tahan dengan hinaan ini, abang selalu menuduhku, mengungkit semua yang sudah abang beri. Seandainya aku bisa memuntahkan semua makanan yang telah aku makan dari hasil nafkahmu, akan kumuntahkan dan kukembalikan padamu. Seandainya kotoranku bisa dijadikan makanan, akan kukembalikan juga padamu. Tapi itu semua tak mungkin bisa. Aku berjanji, aku akan bekerja dan kubayar semua hutangku padamu. Abang hitung nafkah yang abang berikan padaku selama dua tahun ini dan akan kulunasi segera. Aku sudah tidak tahan lagi, kita akhiri saja semua ini”.

Malam ketiga aku di rumah Bapak dan Ibu. Aku selalu mencoba untuk berdamai dengan hatiku sendiri. Memaafkan perbuatan suamiku dengan alasan dia hanya khilaf dan emosi sesaat. Mataku kabur karena selalu menangis. Wajahku juga semakin kuyu. Aku memutuskan untuk pulang sendiri ke rumah suamiku. Diperjalanan aku sms suamiku meminta dia untuk menjemput di terminal. Dia menjemputku. Di perjalanan aku memeluknya, kuletakkan kepalaku di bahunya dan aku meminta maaf atas semua kesalahanku. Aku hanya terbawa emosi malam itu. Dia hanya diam. Setelah aku sadar, ternyata tujuan perjalanan ini bukan ke rumah kami, tapi ke rumah orangtuaku. “Loh, kok kita ke arah sini bang?” tanyaku pada suamiku. “Bukannya kamu yang meminta agar kita akhiri saja? Sudah aku putuskan, dan berkas-berkas akan aku urus segera” jawabnya. Di sepanjang perjalanan aku diam, aku peluk dia erat-erat seakan tak percaya dengan keputusannya. Orangtuaku terkejut ketika membuka pintu mendapati aku dan suamiku. “Loh, bukannya tadi kamu sudah pulang? Kenapa kembali lagi? Ada yang tertinggal?” tanya Bapak heran. Bapak tidak tahu menahu soal permasalahan ini. Karena aku hanya cerita pada Ibu. Dan Ibu berjanji untuk merahasiakannya dari Bapak. “Uuntuk beberapa hari, izinkah dia tinggal di sini Pak, karena dia tak mau lagi tinggal bersamaku” ucap suamiku. “Loh, aku lari itu karena abang kasar padaku! Abang memukulku!!” balasku setengah berteriak. Bapak terkejut mendengar pengakuanku. Tapi Bapak tetap bijaksana. Aku dan suamiku dinasehati dan menanyakan apa masalahnya. “Kalau masalahnya uang, berarti kamu tidak usah memberikan seluruh gajimu kepada istrimu. Cukup berikan saja dia uang belanja setiap hari atau perbulannya. Dan kamu, tidak usah memikirkan repotnya membayar listrik, PAM, angsuran kredit rumah, pegadaian, arisan dan lainnya. Biarkan suamimu yang mengaturnya. Kamu cukup memasak dan melakukan pekerjaan rumah tangga saja” perintah Bapak. Malam itu suamiku pamit pulang dan aku tetap tinggal  di rumah orangtuaku.

Seperti janjinya pada Bapak, besok dia akan menjemputku. Ternyata sudah dua hari dia tak kunjung datang. Aku sms suamiku, jawabnya dia tengah sibuk dengan urusan kantor dan baru sempat menjemput hari minggu. Minggu tak kunjung datang. Aku sms kembali, jawaban perceraian yang aku terima. Aku putuskan untuk mengadu pada mertuaku. Aku pamit pada kedua orangtuaku untuk pulang ke rumah mertua dengan harapan aku mendapatkan perlindungan dan pembelaan di sana. Karena selama ini ibu mertuaku selalu membelaku. “Assalamualaikum” ucapku ketika sampai di rumah mertuaku. Sambutan hangat tak lagi kudapatkan dari ibu mertuaku. Dia menyalahkanku atas semua tindakanku karena aku sudah meninggalkan anaknya. Dan yang lebih menyakitkan lagi, dia mendukung perceraian itu. “Mau diapakan lagi, kalian ini sepertinya memang tidak bisa disatukan lagi, ya memang perceraian adalah keputusan yang terbaik” ucap ibu mertuaku. Tubuhku seakan tak bertulang. Aku lemas mendengarnya. Tante-tante dari suamiku datang menghampiri. Ada sedikit harapan bahwa mereka akan membelaku dan mencegah keputusan ini. “Yang sabar ya nak, mudah-mudahan kamu mendapatkan pria yang lebih baik lagi dari suamimu sekarang” ucap tantenya. 

Ya Allah, mengapa jalan hidupku malang seperti ini? Seminggu yang lalu aku masih makan malam di restoran berdua dengan suamiku. Dia masih memindahkanku ke ranjang ketika aku tertidur di atas sajadah seusai shalat malam. Tapi sekarang aku menerima pil pahit yang tak kubayangkan sebelumnya. Malam itu juga aku diantar kembali ke rumah orangtuaku. Tapi kali ini tidak berdua, melainkan bersama dengan Ayah mertua, adik ipar, tante dan om suamiku. Seperti rombongan ketika datang meminangku. Tapi malam ini mereka ingin memulangkanku.

Lagi-lagi Bapak terkejut menerima kedatanganku dan suami beserta keluarganya. Betapa terkejutnya, tadi pagi aku pamit pulang, jam 10.00 malam aku pulang kembali tapi tidak sendirian. Bapak mempersilahkan kami masuk dan duduk meski di wajahnya masih menyimpan pertanyaan besar. Tanpa basa-basi suamiku angkat bicara. “Maaf Pak sebelumnya. Selama beberapa hari saya sudah memikirkannya baik-baik, saya juga sudah shalat tahajud dan saya sudah memutuskan, hubungan rumah tangga kami tidak dapat dilanjutkan lagi. Saya tidak mau menanggung beban keluarga Bapak. Dan malam ini, saya menceraikan putri Bapak, TALAK TIGA!!” ucap suamiku. Seakan tak percaya, aku merintih sejadi-jadinya di ruang keluarga. Aku lemah. Aku tak bisa berbuat banyak. Talak sudah dijatuhkan dan langsung talak tiga. Seakan hidupku harus berakhir hari itu juga. Rombongan suamiku pamit pulang dan Bapak menjadi emosi. Dia memarahiku. Aku pilih untuk diam. Selain tenagaku sudah habis karena makan hati dan menangis seharian, aku juga ingin menghindari amukan Bapak atas luapan kekesalan terhadap tindakan menantunya.

Hingga hari ini aku tinggal di rumah orangtuaku. Sudah satu bulan setengah setelah kejadian mengerikan itu. Airmataku juga sudah kering. Dia pernah mengirimkan sms padaku untuk bertemu. Katanya ingin berdamai. Tapi aku tak mau. Aku menjelaskan padanya, kita bukan suami istri lagi. Aku takut dengan rayuannya dan aku takut nanti akan melakukan zina jika bertemu dengannya. Dia bilang bahwa talak yang dijatuhkan tempo hari tidak sah di mata hukum dan agama, jadi dianggap batal. Karena di dalam talak tidak boleh langsung menjatuhkan talak tiga, tapi harus bertahap, sehingga dianggap batal. Jadi kita masih suami istri katanya. Tapi aku masih kekeuh dengan keyakinanku, setiap tal ak yang dijatuhkan suami, itu sah di mata agama. Aku bukan lagi istrinya.

Dia tak mau mengurus gugatan cerai ke pengadilan agama. Katanya “kan kamu yang minta cerai, ya kamu saja yang urus sana”. Sedikit-sedikit kukumpulkan uang dari hasil jualan cokelat untuk mengurus surat cerai itu. Aku tak mau berlama-lama berkaitan lagi dengannya. Ingin kuselesaikan segera. 

Di ujung telpon aku hanya terdiam menahan isak agar tak terdengar olehnya. Aku bisa merasakan pedih yang dialaminya. Hatiku jadi gamang memikirkan bagaimana kehidupan rumah tanggaku nanti. Apakah segetir ini? Aku jadi semakin takut. Suaminya yang begitu baik bisa berubah menjadi pria iblis yang tidak dikenalinya lagi. Hanya karena masalah sepele dan emosi sesaat bisa memecahkan keduanya. Ya Allah, begitu mudahnya Engkau membolak-balikkan kehidupan kami. KuasaMu sungguh tak bisa ditebak oleh siapapun di dunia ini.