hehe…
Lagi – lagi ttg ekonomi, sperti aq bilang kmaren2, emang ekonomi tuh sumber dari segala sumber obrolan sekaligus masalah. oke, langsung saja, “ekonom itu orang hebat :p”. sebentar, itu bukan maksud maksut memuji loh.
Begini, lagi – lagi sepengetahuan saya. Sepengetahuan saya yang namanya ilmu ekonomi itu kalau sudah tingkat lanjut, saya yakin pasti ekonomi itu tak ubahnya seperti matematik. Aplagi ekonomi keuangan dan makro, pasti, dijamin itu banyak rumus – rumus dan persamaan – persamaan gak jelas di sana. dari sini, itu artinya ekonom itu sudah mengantongi dua predikat, sebagai orang yang ahli ekonomi dan ahli matematik dan kalkulus. wah hebat… tepuk tangan…
Kebanyakan mahasiswa ekonomi juga seperti itu, jadi mereka akan lebih merasa bangga dan merasa nyaman dengan masa depannya kalau mereka menguasai itung – itungan makro ekonomi yang canggih – canggih. Mereka akan merasa risih atau gak betah kalo dihadapkan pada tema – tema ekonomi layaknya ekonomi kerakyatan atau ekonomi pembangunan. Dan lebih anenya lagi, keliatan aneh saat ada mahasiswa yang concern pada ekonomi kerakyatan atau ekonomi pembangunan.
Wal hasil, buku – buku ekonomi pembangunan seperti buku “Ekonomi Dunia Ketiga dan Teori Pembangunan” – nya Todaro tidak akan lebih menarik dibandingkan dengan buku – buku ekonometri, seperti “Basic Econometrics” – nya Gujarati, “Econometrics” – nya Maddala, Johansen, ataupun Haris. Padahal, buku – buku itu tuh isinya total rumus – rumus ekonomi yang dahsyat, yang hanya dapat dihitung dengan software pemrograman matematik yang bahasanya rumit, seperti mathlab, eviews, sahzam, minitab, dan program sejenisnya. Wah sampe disini, ekonom itu sudah memiliki tiga keahlian hebat, dua sebelumnya adalah ekonomi dan matematik, ditambah sekarang keahlian programming. WOW…. Hebat..
Mereka itu mungkin ngrasa hidup di amrik kali ya. Apa – apa serba komputer, serba software, serba bahasa mesin, serba coding. Oh ya, ini ni yang lucu, jadi saat mereka melakukan itung2an ekonomi datanya tuh didapetin dari IFS CD ROM ato www.ifs.org, yaitu lembaga statistik yang bernanung di bawah IMF. Everyone knows lah, “siapa si IMF?”. Ngrasa aneh ga, jadi nganalisis negara sendiri, berhubungan kelengkapan data kurang, datanya dari luar.
Sekarang begini, ini hubungannya dengan tema ekonomi kemarin “Wo alah yo… yo… urip kok soyo angel…”. Saya pengen tegaskan sekali lagi, dan ini bisa direnungkan oleh siapa saja, “ekonomi kita, ekonomi Indonesia, itu bukanlah ekonomi yang dapat dianalisis dengan hanya mengandalkan data – data makro dan itung – itungan canggih ala barat”. Ekonomi itu mutlak merupakan multidisiplin ilmu, banyak disiplin – disiplin ilmu lain yang “HARUS” dilibatkan didalamnya. Jadi ekonomi itu bukan “EKONOMIMETRI = Ekonomi dan Ekonometri”. Parahnya, sekarang ini ekonomi kita banyak yang dikendalikan oleh sistem – sistem ekonomimetri. Ya maklum lah, kan ekonom – ekonom kita lulusan sekolah – sekolah ekonom barat, ya lumrah klo mereka pulang “mempraktikkan” ilmunya.
Ingat, banyak dari data – data kita yang diragukan kevalidannya, gak sama dengan kondisi sebenarnya. Bukannya meragukan kualitas BPS, tapi ya kita bisa lihat sendiri berapa besarnya negeri kita ini, sementara taraf kemajuan kita masih seperti ini – ini saja, ya apa ya mungkin kita bisa mengumpulkan satu data yang benar – benar merepresentasikan kondisi masyarakat sebenarnya.
Waktu terus berjalan dan sistem tetap demikian, ya sudah dirasakan saja, dinikmati saja, kondisi kita ya bakalannya tetep seperti ini saja. Gak bakalan ada perkuatan fundamental ekonomi.
Oh iya, mungkin gini aja deh, dari obrolan di atas kita kan udah dapet beberapa terminologi, yaitu sekolah barat, data – data barat, dan praktik barat, semua serba barat kan. Jadi sebenarnya untuk beralih, ya tinggal ganti aja beberapa kata barat itu jadi sekolah barat, data – data indonesia, dan praktik indonesia. Logis kan…, kalo sekolah dibarat (memang sana lebih maju dari kita, kita cari ilmu disana) abis itu kita praktikkan dengan menyesuaikan dengan keadaan sini. Jadi bukan memaksakan ilmu pada kondisi, tapi lebih kepada memaksakan kondisi pada ilmu, sehingga efeknya ya perubahan kondisi itu.
Sekarang gini aja, klo semuanya serba kebarat – baratan, dan ngrasa nyaman dengan kebarat – baratan, wah.. wah.. wah… ada apa ini. Nekolim kah ini?