Nyaris genap 2 tahun saya tidak keluar kota sejak nyokap ketahuan kanker. Kombinasi dari menjaga nyokap sakit, berduka karena nyokap tiada + jagain bokap, menjaga rumah karena bokap lama pergi healing, dan menghemat biaya. Tapi sebuah undangan dari Jakarta di awal Oktober memicu pacar untuk mengajak saya ngetrip lagi. Meskipun dihantui sejumlah kekuatiran, rencana segera disusun dan akhirnya membuahkan perjalanan menyinggahi 8 kota di 5 provinsi dalam 16 hari, menambah panjang daftar museum yang dikunjungi.

15. Museum Loka Budaya Uncen, Jayapura
Kembali ke museum antropologi ini setelah 10 tahun ketika pacar main ke Jayapura di Agustus. Sedikit berbincang dengan staff museum membahas koleksi Papua yang ada di museum-museum Belanda. Sepertinya ada yang berubah (atau berkurang), tapi staff museum meyakinkan saya kalo semua patung berhala masih ada. Ingatan 10 tahun memang kabur.
35. Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta
Akhirnya kesampaian kembali ke sini membawa pacar setelah gagal karena renovasi 2023 silam. Hasil renovasi terlihat jelas pada bagian lukisan yang lebih rapi meski galerinya sempit. kali ini sukses membaca setiap penjelasan dan tidak sekedar lewat termasuk di bagian keramik dan kapal karam yang jadi kebanting sejak pernah mengunjungi pameran serupa di ACM Singapura. Museum pertama dalam melanjutkan misi Mencari Raden Saleh. Paham bahwa Raden Saleh adalah pelukis kebanggaan Indonesia dan memiliki karya beliau adalah kebanggaan setiap museum, tapi memajang dua lukisan repro berkualitas rendah di dalam galeri utama bukanlah ide bagus, sementara lukisan asli beliau malah dipajang tanpa lampu sorot.
49. Museum Hakka Indonesia, Jakarta
Kembali lagi ke sini karena pacar pengen lihat. Kali ini sudah buka secara reguler sehingga kami dapat booklet museum. Pagoda besar di Taman Budaya Tionghoa tepat di depan museum juga sudah selesai dibangun dan menjadi obyek foto keren. Meskipun ada penjelasan yang bisa diakses lewat QR Code, banyak penjelasan dalam bahasa Mandarin yang tidak diterjemahkan, padahal kami yang pribumi ini juga tertarik sejarah Hakka.
50. Museum Prangko Indonesia, Jakarta
Kembali ke sini karena pacar pengen lihat. Senang dapat prangko sebagai tiket masuk. Kali ini papan nama museum sudah disandarkan kembali di gerbang. Sama-sama pengoleksi prangko, saya dan pacar jadi membahas prangko apa yang familiar bagi kami di jaman dahulu. Masih bingung kenapa display prangko diberi pagar pembatas padahal ada di dalam etalase kaca. Sudah kecil, remang, jauh pula lihatnya.


