Kebanyakan dari manusia adalah kepo. Sudah kodrat sepertinya. Terlebih dengan orang yang kita ada rasa tertarik kepadanya. Padahal hanya pada Tuhanlah sudah sepantasnya kita kepo maksimal. Tapi yasudahlah.
Dan beberapa kali ketika mbaca al-Qur’an, gua menemukan pattern bahwa sebetulnya Allah itu selain tidak menitik beratkan pada fisik hamba-hamba-Nya, Dia juga tidak menitik beratkan pada nama juga rupanya. Banyak individu yang diceritakan Allah dalam al-Qur’an tapi nama mereka tidak disebutkan di dalamnya. Dia hanya ingin kita fokus pada pembelajaran yang bisa kita ambil dari hidup mereka. Termasuk seorang wanita yang ingin gua bahas kali ini.
Seorang wanita rupawan, berkedudukan terhormat, dari kalangan bangsawan, hidup bergelimang kemewahan, dan indah akhlaknya. Seorang wanita yang dari dulu gua tertarik padanya. Suka gua mendengar cerita tentang dia. Sumber inspirasi, dan gua ingin seperti dia, (kecuali bagian disiksanya, kayaknya gua ga mau, T_T).
Namun yang bikin gua sedih adalah, Allah tidak menyebutkan namanya. Wkwkwk. Padahal dia adalah salah satu wanita teratas, terhormat, tertinggi di Surga Firdaus. Ini kayak gua kesengsem sama cerita dia, pen tahu siapa dia, tapi Tuhan tidak memperkenan gua untuk mengenalnya lebih jauh di dunia ini. Eh nggak deng, Allah ternyata ngasih clue banyak tentang wanita ini. Dan dengan segenap energi kekepoan gua, gua menemukan kebahagiaan mencari tahu jati diri wanita ini di runutan panjang kisah sejarah bangsa-bangsa kuno.

Tersebut seorang raja geje ga tahu berterima kasih bin kurang ajar yang hidup di satu masa di mana perbudakan suatu bangsa ia legalkan. Raja ini adalah raja pertama dari kalangan bangsanya yang mengaku dirinya adalah tuhan, tuhan tertinggi, yang dia tidak merasa ada tuhan lain di samping dirinya. Allah pun ga sudi menyebut nama aslinya di al-Qur’an. Ga penting juga. Mending gua belajar mengenali nama-nama bunga daripada tahu namanya. Tapi gua jadi kepaksa harus tahu namanya kalau gua mau tahu gebetan surgawi yang satunya.
Jadi, si raja akhlakless bin kasar ini, punya istri yang halus hatinya. Kita sebut saja sang Ratu. Sang Ratu, suatu hari, menemukan basket berisi bayi di sungai yang melewati tempatnya. Dia pun melihat bayi ini, tatapan mata sang bayi membuat sang Ratu terkesima dan bergetar. Dia pun membawa si jabang bayi ke hadapan raja seraya mengajaknya untuk mengadopsinya menjadi anak laki-laki mereka. Si raja tampaknya tertarik juga melihat si jabang bayi, tumbuh rasa cinta pada bayi tersebut.
Singkat cerita si bayi tumbuh menjadi pemuda perkasa, rupawan, nan baik fisiknya. Tersebut pemuda ini sanggup membuat KO seseorang hanya dengan sekali hajar. Masya Allah, alpha male sekali. Eh bentar, ngapain kok dia main hajar-hajaran? Si Doi jadi ini suatu hari pas lagi ngider jalan-jalan, menemukan dua orang bertikai, seorang dari bangsanya dan seorang dari bangsa yang memperbudak bangsanya. Dia pun langsung menghajar orang dari bangsa yang memperbudak bangsanya. Koit dong. Si Doi ketakutan, khawatir dikejar aparat karena sudah membunuh seseorang. Dan apesnya, yang dibela ternyata individu yang bermasalah. Jadi yang sebetulnya salah adalah yang dibela, dan yang benar adalah yang koit tadi. Sebuah pembelajaran, janganlah jadikan kebencian kita pada seseorang, membuat kita tidak adil padanya. Nah, yang dibela ini super kurang asem banget, malah sebar identitas si Doi bahwa Doilah yang membunuh orang kemarin. Halah, orang kayak gini mending ditendang aja tititnya, ditolong malah nggigit. Kemudian, si Doi pun kabur ke negeri lain khawatir ditangkep. Doi memohon pada Tuhan untuk diselamatkan dari kaum lalim ini.
Anyway, singkat kata, si Ratu kan jadi sendirian di istana. Ga deng, pelayan-pelayannya masih di sekeliling dia. Si raja masih berkutat dengan dosa-dosanya. Terjadilah insiden di istana mereka. Ada anak si raja yang lapor ke raja bahwa, tukang make-up-nya abis ngaku kalau dia beriman pada Tuhan-nya si bapak. Si bapak ketrigger, dia kan ngerasa dia adalah tuhan, kok ada orang yang beraninya bilang kalau dia punya Tuhan. Dipanggillah si tukang make-up ini. Si tukang make-up tidak menyanggah. Maka diperintahkanlah dibuatkan kuali gede membara berisi minyak panas dan diperintahkan si tukang make-up dan ketiga anaknya dilempar ke dalam kuali tadi. Bangsat emang si raja ini. Anak pertama diceburin. Anak kedua diceburin. Dan pas anak ketiga mo diceburin, si ibu gamang. Ajaibnya, si bayi ngomong, kalau si ibu ga usah takut, karena siksa Tuhan di akhirat ga ada apa-apanya dibandingnya kuali anget begini. Si tukang make-up ini pun akhirnya tegar diceburin sama si bayi ke dalam wajan.
Drama pun berlanjut. Semua yang nonton pasti syok dong. Ada bayi bisa ngomong sedari kecil. Mana konten omongannya berkebalikan sama si bangsat tadi. Siapapun yang melihat adegan itu pasti bergetar hatinya dan goyah melihat mukjizat. Dan di situ tentu saja hadir sang Ratu. Klo gua inget-inget lagi ya, kadang gua mikir, duh mba, ngapain juga kawin sama bangsat kayak gitu. Sifat mereka kayak berkebalikan 180 derajat. Si bangsat penghuni kerak Neraka, dan si Ratu wanita jajaran teratas di Surga.

Lanjud. Trauma melihat kejadian begituan. Si Ratu pun ngomong ke raja ini bilang, +-, ‘Aku tidak beriman kepadamu. Aku tidak perduli kamu mau ngapain sehabis ini.’ Drama gelombang selanjutnya pun mengudara. Sudah ada 2 sampling di sini, dari kalangan kasta terbawah, si tukang make-up anak raja, dan dari kalangan teratas bangsawan istana, beriman kepada Tuhan semesta alam. Jika sampel dari dua kubu ekstrim ada, maka bisa dipastikan, di antara kedua kubu tadi, pasti ada juga orang-orang dari berbagai lini kehidupan yang sudah tidak percaya pada kebullshitan raja tadi. Dan yang menjadikan adegan ini spesial adalah yang mengingkari sang raja adalah orang kedua terkuat di seantero kerajaan, yaitu si Ratu itu sendiri.
Jadi kayak, kamu sudah punya segalanya, dunia di dalam genggamanmu, dan kamu tidak perduli lagi kebahagiaan duniawi lagi karena ada yang lebih penting daripada itu, yaitu Tuhan. Si raja pun menyuruh si Ratu ditelanjangi di depan umum.
😦
Hmmm… Ya Allah, ini Ratu, orang-orang di sekelilingnya melihatnya langsung atau menyentuhnya langsung aja pasti mikir-mikir. Seseorang yang dari kecil, tidak pernah mendapatkankan perlakuan kurang ajar, selalu disayang, selalu dibanggakan, selalu ditreat dengan baik dan penuh kasih sayang dari orang-orang sekelilingnya, sekarang tiba-tiba mendapatkan penghinaan memalukan seperti itu. Dan si Ratu ini ga perduli. Dia tegar dan kuat menghadapi raja asem ini. Sang Ratu pun mulai disiksa oleh si raja. Orang-orang pun melihat penyiksaan itu.
Ini sebetulnya si raja ga pandang bulu menghukum, seakan dia mengirim sinyal jelas ke orang-orang, siapapun yang melawan dia bakal dihukum. Hingga akhirnya, menuju puncak penyiksaan sang Ratu, para algojo diperintahkan untuk menggelindingkan batu dari puncak bukit dan dijatuhkan ke tubuh sang Ratu di bawah. Sang Ratu tidak bergeming. Dia menjadi contoh keberanian bagi siapapun yang melihatnya. Jangan cengeng. Apapun strata kehidupanmu, apapun jabatanmu, berdirilah tegak di atas kebenaran.
Sang Ratu berdoa kepada Tuhannya, untuk diselamatkan dari orang-orang lalim ini. Doa yang sama yang dipanjatkan oleh si Doi. Si Doi ternyata tumbuh dengan baik di bawah asuhan ibu angkatnya ini. Si Doi belajar banyak kebaikan dari sang Ratu ini. Dan kini, apa yang Ratu ajarkan pada anak angkatnya, ia pergunakan untuk dirinya sendiri.
Tepat sebelum batu tadi jatuh di atas tubuhnya, sang Ratu memohon kepada Tuhan.
… رَبِّ ٱبْنِ لِى عِندَكَ بَيْتًا فِى ٱلْجَنَّةِ …
… Tuhanku, bangunlah untukku di dekat-Mu sebuah Rumah di Surga … [Q66:11]
Ya Allah indah bat. Ini susunan pemilihan kata-katanya pun sungguh indah. Coba ya kita lihat. Dia memulai dengan memanggil “Tuhanku”. Dia pingin dapat perhatian dari Raja diraja, Tuhan semesta alam. Dia mengucapkan kata kerja “Bangunlah”, yang artinya dia ingin Tuhan melakukan sesuatu. Untuk siapa? Kata lanjutannya adalah “Untukku”. Apakah itu?
Dia melanjutkan, “di dekat-Mu”.
Ini menarik banget sebetulnya. Dia masih belum menspesifikasikan apa yang dia inginkan. Pikirannya dia kembali lagi kepada siapa yang dia panggil di awal tadi, yaitu Tuhan. Yang sebetulnya dia inginkan adalah Tuhan melakukan sesuatu untuknya. Karena sang Ratu sebetulnya ingin dekat-dekat dengan Tuhannya. Simpelnya, modus. Gapapa, sang Ratu mengajarkan kita cara modusin seseorang. T_T. Tapi modusnya indah. Karena modusnya masih tentang diri-Nya, maka sang Ratu pun ingin agar keinginan dia yang kedua tersampaikan.
Dia ucapkan “Rumah”. Ini jujur, indah banget. Satu kata namun beragam maknanya. Si Ratu ini orang yang cerdas sebetulnya. Pemilihan katanya efisien dan menyasar pada semua lini kehidupannya. Dan bisa jadi, orang-orang yang kelak akan mendengar cerita tentangnya.
Pertama, kata “Rumah” ini bisa merujuk pada rumah mewah yang ia tinggalkan sekarang di dunia. Kehidupan mewah yang dia miliki sekarang. Seakan dia berkata pada Tuhan, bahwa dia meninggalkan rumah dunianya untuk rumahnya yang lebih baik di dunia sana.
Kedua, kata “Rumah” ini bisa merujuk pada gelar yang dipergunakan oleh raja bejad tadi. Kata “Fir’aun”, sebelum raja bejad ini berkuasa, memiliki makna yang sederhana sekali, yaitu “Rumah” atau “Rumah Besar”. Ini adalah gelar yang biasa dipakai orang-orang dari kalangan istana. Kemudian, kata ini dipergunakan oleh raja bejad ini, pertama kalinya, dalam sejarah bangsanya, sebagai kata yang bersinonim dengan dirinya, atau raja. Sehingga, ketika orang-orang menyebut kata Fir’aun, benak mereka akan teralihkan pada dua hal, yang pertama “Rumah Besar” dan yang kedua si raja bejad itu sendiri. Dan si Ratu, meminta ke Tuhan, untuk dibangukan “Rumah” yang sesungguhnya untuk dirinya.
Ketiga, karena kata “Rumah” tadi ini bisa merujuk pada suaminya, maka Ratu tadi meminta Allah sebagai penemannya kelak, pengganti suaminya yang mengkhianati dirinya sendiri, suami yang ia pilih tinggalkan di dunia ini. Dia meminta Allah sebagai pengganti suaminya. Di mana? Kata terakhir ratu adalah “di Surga”. This is actually a bold thing to ask. Yet, extremely beautiful.
Sang Ratu tidak kehilangan kehormatannya. Sang Ratu tidak kehilangan kekayaannya. Sang Ratu tidak kehilangan kebahagiaannya. Dia hanya memindahkan kehormatannya, dari dunia menuju akhirat. Dia memindahkan kekayaannya, dari dunia menuju akhirat. Dia memindahkan kebahagiaannya, dari dunia menuju akhirat.
Allah pun membukakan tabir langit, menampakkan calon Rumah sang Ratu, langsung di hadapan mata sang Ratu, tepat sebelum kematian menghampirinya. Semua penderitaan yang dialami sang Ratu hilang seketika. Sebuah Rumah yang jika mata memandangnya, lenyaplah seluruh penderitaan yang pernah dialami di dunia. Sebuah Rumah yang begitu indahnya, membangkitkan kebahagiaan bagi siapapun yang memandangnya. Sang Ratu tertawa melihatnya. Allah menghiburnya kontan langsung di hadapan orang-orang bejad yang menyiksa dia. Mereka menyangka sang Ratu gila. Namun sesungguhnya merekalah yang gila, memperlakukan orang terbaik di seluruh penjuru bumi dengan kejahatan yang kelak balasannya akan mereka rasakan sendiri di kerak neraka terdalam.
Selesai.

Dan, Allah tidak menyebutkan nama asli sang Ratu. Seorang pahlawan terindah sepanjang masa.
Ada sih dalam hadith disebutkan nama sang Ratu. But then, it is just a simple little name. Bahkan bisa jadi nickname. Berhubung orang-orang di area tersebut biasa punya nama panjang-panjang dan ribet. Nama lengkapnya nggak disebutin. Tapi gapapa, ada hikmahnya, Allah sengaja membangkitkan rasa penasaran bagi siapapun yang penasaran tentangnya. Dan namanya sebetulnya terekam indah di bumi ini. Nama yang begitu terkenal dan indah.
Asia.
I hope we can meet there. I am your fan. I wish I know more about you. I wish I know more about your story. I wish I know more about your mother, your father, your family, your friends, and your Son in law. They raised you and educated you in the way that is extremely perfect. You are molded in the perfect environment for you to grow. And I wish, I can be your close friend there. This is my prayer to You, my Lord. So forgive me with a beautiful forgiveness, for I also try to forgive others who hurt me.







