here, after

After this, where will we go?
will we go to a void?
or a limbo?

or maybe straight to the oblivion
where the memories of our existence are forever gone

will we continue our journey
to a place where our sights are blurry?

“I have no idea,” said you
“Aren’t we believers, are we?” said he
she responded, “I don’t know. How can I assure? I’m not The Almighty.”

see!
our eyes are teary
meanwhile, we have our souls so weary

here, we are laid among white clothes and dust
after, tell no lie is a must

here, we all admit, none of us is ready
but, to escape cannot we
our vessels are no longer able to move freely
like they used to be

(Memory Series No.: JKT210831)

Homo puppy

What are we but a prisoner of our own mind
Trapped in an idea that at least to ourselves we’re kind
And we don’t let people to judge who we are
But in silence observing and drawing conclusions of someone into an idea are not that far

Our head is too small
To hold all the ego that won’t fall
We select people who come into our lives very subtle
Don’t even dare to realise we’re already making a bubble

The life of ours becomes artificial
For our relation with others is shallow and superficial
We only ask them when it’s necessary and beneficial
We forget that human relationships are not meant to be merely transactional

Who are we really?
What kind of human we’re going to be?
We know that intention of ours is not always purely white,
Alas, we pretend it to be with smile and clothes which are bright.

And when we cease to learn
It’s too late to know that we’re already buried beneath vines and fern

(Memory Series No.: PWK210801)

Siti Ingin Pulang

Agustus 2015
Siti menimbang apakah ia akan menunggu hingga bulan kesembilan untuk tetap tinggal di tanah yang menjanjikan no. 1.
Tetapi,
jiwa Siti sudah mulai tak nyaman.
Siti yang paling tahu, ia sedang sangat kacau.
Ia ingin pulang.
Namun,
Siti terlalu gegabah.
Keputusannya untuk kembali terlalu mentah.

Siti pulang disambut sesak.
Nahas,
nafas Siti tersengal-sengal dicekik asap yang masuk lewat celah ventilasi rumah orang tuanya.
Siti menggerutu, menyesal, buat apa ia kembali.
Semakin lama ia berdiam, semakin Siti merasa berdosa.
Setiap waktu menggerutu,
mengeluh,
mengutuk nasib,
memuntahkan sumpah serapah
kepada pemerintah.

September 2019
Siti kembali lagi.
Kini dari tanah yang menjanjikan no. 2.
Lagi-lagi
Kepulan asap dari hutan di pekarangan menyambut kedatangan Siti.
Tetapi,
Siti tidak pulang ke tanah kelahirannya.
Siti telah belajar membaca alam.
Kedatangannya pulang dari tanah jauh bukan pembawa kabar baik.
Tak pula membawa hujan yang setiap waktu Siti selipkan di ujung doanya.

Suatu waktu di tahun 2030
Apakah Siti akan kembali pulang dari tanah yang menjanjikan entah nomor ke berapa?
Mungkin no. 1, mungkin juga no. 2, atau nomor-nomor lain yang belum Siti tandai.
Tanah mana lagi yang akan terbakar dan menyambut Siti
dengan selimut kabut asap panas,
dan abu yang menusuk hingga ke paru?
Tetumbuhan dan hewan yang menjadi debu,
setelah rumah mereka dirampas lebih dulu
kini menjadi satu dengan tanah yang kering.

Siti masih ingin pulang
Namun ia tidak dapat kembali
Langkahnya terhenti
Rumah yang ia cari tak ada lagi

(No. Seri Memori: #210711)

When Night Came to Visit

There was a night inside a pot
stirred in the kitchen
made by bunch of little quiet crowd
pairs of hands.
Followed by the warmth of white pepper,
summer ambience,
and unset sun which would not leave till 10pm, sharp.

Men and women sat together
at one table
enjoying the dishes
swallowing pieces of the night
inside bowl full of soup
filling the presence, celebrating the change
of earth cycle
with cups and mugs filled with relishing liquids
on a jammed table
and shattered silence.

From the end of the table, a pair of eyes stared
to the eyes of friends,
to every motion
from his mouths, few words were spilt
yet, his ears were widely open
as night with its open hands to the darkness
he closely listened to the sounds
of lips, tongues, and teeth
searching the meaning of the unspoken words
behind the visible conversation.

It was eleven post meridiem
the night went farther and farther
the shade of the sun perfectly merged with the gloom
replaced by dimmed lights behind bar’s windows across the street.

His head had been full and packed
absorbing words,
pondering, analysing
like his meal-filled abdomen,
and suddenly heavier body.
His head and stomach respectively were digesting,
his digging eyes,
gravity-pulled eyelids,
stiffed lips, uttering.

He said goodbye
and never return.

(a)marah

jangan marah
nanti tanganmu berlumur darah!
bukan dari siapa-siapa
melainkan dari anggota badanmu yang tak menahu apa-apa
karena kau ada masalah dengan murka
kau lumat habis dalam tembolok, sisa di bibir bersih terseka

padahal amarah dalam tubuh mekar menjadi tuba
yang merisak hatimu tanpa iba
sepenuh-penuhnya tenaga kau coba lepehkan barang sedikit
namun yang ada semakin menjadi-jadi rasa sakit
menjalar dari nadi hingga perut
menjadikan sesak dan muak yang tak kunjung surut

barangkali tak semua takdir hadir berpasangan dengan harap
yang selalu menjadi isi doa agar tak hinggap pun tak disangka datang menyergap
inginmu marah tanpa menjadi kelu
tetapi bibirmu abadi membisu

Pembuluh

pembuluh darahnya menyerupai akar serabut berwarna biru dan ungu
mengintip dari balik kulit, menuju transparan dibasuh air pancuran
tangannya mengusap bagian tubuh yang dapat dijangkau
bola matanya mencari-cari, pembuluh yang semestinya tersembunyi
petir ungu kebiruan di betis kanan
titik-titik hematoma di kanan dan kiri
garis-garis tipis jembatan hidup dan kematian di pergelangan

Waktu Malam Bertamu

Ada malam dalam sepanci sup
yang diaduk di dapur
diolah beramai-ramai
berpasang-pasang tangan.
Diajaknya hangat dari merica
juga hawa musim panas
dan matahari yang belum beranjak hingga pukul dua puluh dua.

Para manusia duduk bersama
dalam satu meja
menikmati hidangan
menelan potongan-potongan malam dalam mangkuk yang berisi sup
mengisi kehadiran, merayakan pergantian siklus bumi
dengan cangkir-cangkir dan gelas yang berisi minuman
di atas meja yang penuh
dan sunyi yang pecah dari mulut-mulut yang bersahutan,
bergantian.

Dari ujung meja, satu pasang mata menatap jauh
pada mata kawan-kawannya, pada gerak-gerik
dari bibirnya tidak banyak kata-kata yang meluap,
hanya sekenanya
namun, lebar-lebar dibuka telinganya
sewajarnya malam yang tangannya membuka pada gelap
didengarnya seksama bunyi-bunyi dari gerak kombinasi bibir, lidah, dan geligi
mencari makna dari kata yang tak disuarakan
di balik apa-apa yang lalu-lalang menjadi pembicaraan.

Pukul dua puluh tiga
malam semakin tinggi
bayangan dari matahari hilang paripurna
digantikan lampu remang-remang dari balik jendela bar di sisi jalan.
Kepalanya sudah penuh dan sesak
menyerap kata-kata,
memahami, lalu menganalisa
seperti abdomennya yang semakin penuh
hingga tubuhnya semakin berat.
Kepala dan perutnya sama-sama mencerna
matanya yang menggali, pelupuknya ditarik gravitasi
ia pamit pulang
lalu tak pernah kembali.

(No. Seri Memori: #190514)

Dum Spero, Suus ‘Ardere

Harapannya bukan dari batu bata
yang disusun membuat dinding
empat sisi
dengan genteng tanah liat di puncaknya
yang tersusun berbaris
teratur dan rapi
membentuk limas sederhana
tak beralas.

Harapannya berbentuk pondasi
dari kayu besi
yang dibeli dari penebang liar.

Ia rakit sedemikian rupa
hingga kokoh dan tahan gempa
tapi ia masih dalam jasad dan sadar manusia
si maha pelupa.
Kayu tak pernah tahan api.

Harapannya dibunuh ambisi
yang menyulut menyala
menjilat-jilat dan melumat kayu-kayu yang sudah disusunnya rapi
hingga hangus, goyah, dan rapuh.

Kemudian sebagiannya ikut hilang
ditelan lahapnya ambisi yang meminjam rupa api
yang hanya menyisakan puing-puing harapan
yang sudah kehilangan bentuk
yang sudah berganti warna
yang sudah berubah massa

Ia tak suka.
Terlalu bertubi-tubi
harapan dikikis,
dibiarkan terbakar menjalar,
terlalu cepat semestanya berubah.
Harga harapannya terjun bebas
tanpa sempat ada tawar-menawar.

Ia amini bisikan-bisikan kepasrahan,
“harapan tinggal harapan”.

Ia ingin bersegera akhiri tulahnya
dengan menceracau
satu doa serampangan
agar harapan mati
dan bergegas berganti.

Kemudian ia akan kembali lagi
menunggu harapan yang baru dilahirkan,
harapan yang anti-api.

Kata-Kata Kata

Kata berkata:
Kata-kata adalah doa dengan iringan puji-pujian.
Kata-kata adalah kutukan, yang melekat dengan ancaman.
Kata-kata adalah perekat, bagi yang jauh lalu tak berantara.
Kata-kata adalah obat, yang membalur jiwa yang sesak, mengalihkan pedih, lalu lupa bahwa rasa sakit itu pernah nyata.
Kata-kata juga candu, untuk para kekasih yang lena dalam rayu.

Kata berkata:
Kata kata menghibur, melipur gundah hingga lebur.
Kata-kata menguatkan; menyatukan asa-asa yang patah dan berserak. Ia menghimpunnya, memeluk hingga kembali padu.
Kata-kata melemahkan, pelan-pelan, diam-diam, melalui bisikan, melalui lisan dan tulisan.
Kata-kata memisahkan, mencerai-berai apa yang telah dipersatukan.
Kata-kata mengoyak, menusuk, menggores, menjadikan luka yang tak kasatmata.
Namun, kata-kata pula yang akan membasuhnya, bukan waktu!

Kata berkata:
Saat kata bertemu matematika, hidup siapapun tak akan cukup
menghitung seberapa meruah kata-kata sanggup berpadu menjadi kalam.
Karena, kata-kata merangkum isi semesta.
Melaluinya, Tuhan menitipkan peta jalan pulang,
untuk manusia yang maha pelupa.

Cermin di Kamar

di kamarku tidak ada cermin.
dinding-dindingnya polos, tak berwarna, tak bergambar.
untuk apa kupasang cermin?
jika dengan mata telanjang yang tampak hanya wajah yang rata.
mata, hidung, mulut, dahi, dan pipi;
terlihat serupa. campur aduk tanpa garis pembatas yang tegas.
dosa si mata yang lelah tak mampu kembali melihat dengan jelas.
jadi untuk apa ada cermin di kamarku?

jika
nanti suatu saat kugantung cermin di dinding,
apakah ia akan selalu berujar dengan jujur?
perihal apa dan bagaimana pasang-pasang mata manusia lain,
memandang diri yang karnal.
suatu keniscayaan tak ada yang tunggal dalam persepsi.
padahal cermin hanya memantulkan satu bayangan.
jadi, untuk apa ada cermin di kamarku?

jika
dengan dua mata berpagar kaca berbingkai ini tidak mampu menangkap pantulannya, lalu apa guna ada cermin di kamar?
pun dengan ia ada, tak ada janji untuk ia membantu bersolek,
menutupi bercak-bercak di bibir yang mulai berkarat
dan di mana-mana yang tak kasatmata.
jadi, untuk apa ada cermin di kamarku?

atau jika
suatu saat ketika pada akhirnya aku menyerah pasrah
dan kupasang cermin di dinding kamarku yang kosong
hanya agar membungkam pertanyaan orang lain tentang kamarku yang tak bercermin.
bayangan di dalamnya barangkali akan halus membisik,
“tak usah lagi kau takut. aku tak berkhianat untuk menjadikanmu yang lain. aku adalah sama seperti dirimu, berdua kita sama-sama palsu.”