Semoga Allah mudahkan
Random
Too many things happen dalam 2 tahun terakhir yang rasanya tidak ada passion untuk saya tuliskan di sini. Too many things I’ve missed out. Well, akhirnya saya baca2 lagi apa yang sudah saya tulis terakhir kalinya dan kapan postingan itu terpublish. Rasanya hanya judgement pribadi untuk merasa malas menulis, entah semangat menulis itu rasanya seperti iman yang naik turun. Ada kalanya saya sangat antusias tuk menulis, adakalanya saya merasa ingin menarik diri dari dunia virtual dan menghapus jejak.
My last post kurang lebih 2 tahun lalu saat saya memutuskan untuk resign dari dunia kerja yang telah saya geluti sejak lulus S1, dunia yang telah meningkatkan level skills dan ilmu dari yang cuma sebatas buih jadi gelombang ilmu yang selalu ingin saya bagi kepada orang lain, dunia yang -mungkin- sudah mengantarkan saya ke arah kebebasan finansial. Bukan sesuatu yang mudah untuk memutuskan saat itu bahwa saya akan beralih profesi. Bahwa dunia kerja baru yang akan saya masuki merupakan sesuatu yang amat jauh berbeda. Bahwa dunia kerja baru yang saya tuju merupakan suatu naluri alamiah yang selama ini selalu saya tutup-tutupi.
Ya, saya selalu menutup diri bahwa secara naluriah saya memiliki passion untuk mengajar, menjadi guru dan pendidik. Suatu profesi yang selama ini tidak pernah saya pikirkan, tidak pernah saya bayangkan, bahkan tidak pernah masuk dalam list cita2 saya sejak dulu. Saya sadari bahwa mungkin tidak terlambat untuk memulai sesuatu yang tidak pernah saya inginkan sebelumnya.
Saya percaya bahwa segala sesuatu merupakan skenario Allah. Tidak ada satu daunpun yang jatuh melainkan atas izin Allah. Dan atas izin Allah lah saya menapakkan diri, melalui hari-hari di sini, di Menara 165 – sebagai pengajar. Dan sebagai manusia saya sangat bersyukur Allah ‘melemparkan’ saya ke sini, memberi saya kesempatan untuk lebih bermanfaat bagi orang lain, memberi saya cara memperbaiki diri, memberi saya kesempatan mengembangkan potensi yang mungkin selama ini hanya tertanam di dalam diri tanpa pernah dimanfaatkan.
Dalam 2 tahun kurang lebih saya telah jadi bagian dari ESQ, bagian dari ESQ Business School. Dalam kurun waktu tersebut ternyata saya belajar banyak sekali hal baru. Saya belajar bahwa mengajar dan mendidik bukanlah suatu proses satu arah dari dosen kepada mahasiswa, tetapi merupakan proses belajar kontinue dua arah. Saya banyak belajar untk mengajar lebih baik lagi dari mahasiswa2 saya. saya belajar untuk mengajar dengan passion dan dengan hati bukan hanya delivery materi dari para mahasiswa. Saya belajar bahwa profesi pengajar atau pendidik tidak akan menjadikan kita berkurang ilmu, tapi justru makin bertambah.
Selain mengajar saya juga berkesempatan ‘mencicip’ dunia lainnya, yaitu dunia assessor dengan sertifikasi kompetensinya. Alhamdulillah saya bisa banyak bertemu orang baru dari kalangan akademisi, trainer, dosen, guru dalam interaksi asesmen kompetensi. Saya belajar bahwa semakin sering kita mengases orang lain, semakin banyak yang bisa kita perbaiki dari diri sendiri.
Di lain kesempatan, saya diberi amanah untuk mengelola event2 besar seputar kampus. Dulu sekali saat jadi mahasiswa saya memandang keikutsertaan dalam organisasi adalah investasi yang baru akan terasa di masa datang. Saat masih mahasiswa, banyak hal yang harus dikorbankan untuk dapat aktif berorganisasi. Dan ternyata konsep tersebut baru benar2 terasa saat saya harus me-lead sebuah tim. Tidak mudah memang, tetapi yakin pertolongan Allah selalu menyertai.
Baru-baru ini saya memiliki kesempatan berbagi ilmu dalam sebuah pelatihan development program untuk Pupuk Kaltim di Bontang. Bagi saya ini benar2 sebuah pengalaman baru, saya dapat share pengetahuan kepada peserta yang jauh berbeda dibanding audience saya biasanya, mahasiswa. Lagi-lagi banyak hal yang saya ambil dari keikutsertaan saya dalam project ini.
The last words, I feel grateful being here 🙂
Curcol di Sosmed
Udah sering kayanya ya kita denger kasus seseorang di-bully netizen gara2 curcolannya di sosmed. Sebenernya sah2 aja sih mau curcol di sosmed macam fesbuk, twitter, path, dsb dsb. Ya namanya ada fasilitas, lagi punya unek2, ga ada temen yang bisa diajak ngobrol, jadilah si sosmed tempat pelampiasan hehe..
kalau jaman batu dulu orang masih curcol di buku diary, dan merasa sangat malu klo tulisannya dibaca orang lain, maka jaman sekarang orang justru berlomba2 share ceritanya biar dikomen orang lain, di-like, di-retweet, dsb dsb. Hmm… kembali lagi ke kepribadian setiap orang sih. Ada memang tipe2 orang yang ekstrovert yang begitu mudah mengeluarkan isi hati, ga pandang orang ga pandang tempat, bawannya curcool melulu. Tapi sebaliknya (masih) ada orang introvert di jaman ini yang begitu sulitnyaaaa mengeluarkan unek2.. Nah bagi orang2 introvert ini, kadang sosmed bisa jadi tempat pelampiasan isi hati. Karena ga perlu ngomong, ga perlu tatap muka dan merasa ga enak, cukup tuliskan apa yang dipikirkan, langsung berasa lega.
Tapi dengan adanya kasus bully gara2 curcolan yg kelewatan di sosmed, mestinya sih ga semua hal dikeluarin unek2nya. Apalagi teman2 di jaringan sosial kita berasal dari banyak kalangan. Ada temen kantor, temen kuliah, temen sd-smp-sma, kakak kelas-adek kelas, guru, dosen, kenalan baru, dan orang2 lainnya yang mungkin memandang kita dari sisi beda.
Kalau saya, jujurrr ga nyamaan banget curcolan saya dibaca orang, dikomen orang, apalagi di-like sampe diretweet. cukuplah curcol melalui tulisan sebagai sarana melampiaskan rasa sebel, marah, muak, dan rasa-rasa ga enak lainnya tanpa harus dishare ke semua teman di jaringan. So saya lebih suka nulis di blog (meskipun blog juga masuk kategori sosmed :D) daripada di sosmed tipe jaringan macam fesbuk dkk. pembaca blog saya bukan orang2 yang berinteraksi langsung dengan saya, ngga bener2 tau n paham mungkin isi curcolan saya yang ga penting.
gambar dari http://bloggless.com/wp-content/uploads/2014/03/social-media.jpg

