untuk mencoba saja
Latest Entries »
Rutinitas terkadang menjadi sebuah kebiasaan yang sangat sulit untuk dihilangkan. Bahkan untuk kebiasaan yang terkadang mempunyai nilai kemaslahatan yang kecil. Alhasil, untuk berani membuat perbedaan dari sebelumnya, kita mengalami kesulitan. Karena terkadang sudah ada barrier dalam pikiran kita, sebelum kita melakukannya. Padahal jika kita cermati lebih seksama lagi, kekuatan pikiran kita itu jauh lebih besar dibandingkan dengan kekuatan fisik kita. Namun stigma ketakutan itu selalu muncul mendominasi mempengaruhi tingkah laku kita.
Perubahan memang tidak semudah seperti apa yang diucapkan oleh lisan kita, namun keberadaan pikiran kita mampu mengalahkan kekuatan lisan itu. Karena pikiran kita selalu mencanangkan arti harapan dalam benak kita. Yang dengan harapan itu, akan bisa menyalakan kekuatan kekuatan yang lain yang ada dalam diri kita. Jika selamanya ketakutan itu selalu menggelayuti pikiran kita sebelum bertindak, maka akan selamanya mental kita akan menjadi lemah dan tidak berdaya. Oleh karenanyalah akan terbentuk sebuah mental block yang akan membatasi langkah kita…
View original post 196 more words

Keputusan ini pada akhirnya harus diambil. Untuk sebuah konsekuensi yang sangat panjang dan resiko yang cukup besar, mau tidak mau harus dijalani juga selama setahun kedepan. Aku tidak tahu apa yang membuatku berani untuk mengambil ini, namun yang kupahami, tidak ada lagi langkah untuk mundur ke belakang dan tidak ada lagi penyesalan untuk apa yang kupilih.
Pilihan terberat dalam hidup ini memang jika selalu dibenturkan dengan segala yang berkaitan dengan keluarga. Apapun problematikanya, jika harus disandingkan dengan kondisi di rumah, maka akan menemui jalan buntu untuk pengambilan solusinya. Apa yang tengah merasuk, ternyata pilihanku jatuh untuk kondisi di luar tuntutan di rumah. Yang berarti, keadaan untuk semakin meninggalkan rumah pun terjadi pada saat ini. Aku tidak tahu apa ini sebuah pilihan yang terbaik, tapi yang kutahu adalah pilihanku di tempat yang lain juga merupakan pilihan yang baik. Sehingga yang bisa kulakukan adalah menjadi yang terbaik untuk pilihan di luar sana. Dengan harapan, pengorbanan sebuah kondisi yang sedang terjadi di rumah, tidak menjadi hal-hal yang tersia-siakan begitu saja.
Namun, apakah pilihan ini membuat harus meninggalkan keadaan di rumah sepenuhnya? Sepertinya itu juga bukan merupakan sebuah tuntutan yang harus dilakukan. Karena apapun kesibukan kita, memang idealnya adalah tetap memperhatikan bagaimana kondisi di rumah. Seberapapun sulitnya waktu yang sedikit di setiap aktivitas kita, tetap harus menyediakan secuil saja moment untuk berada di rumah, untuk menjadi solusi terhadap apa yang sedang terjadi di rumah.
So, pada akhirnya dimanapun kita berada atau kapanpun kita beraktivitas, berada di rumah, menjadi hal yang harus dilakukan untuk memenuhi kewajiban kita yang seharusnya. Entah apakah kepada keluarga ataupun kepada tetangga, sosok kehadiran menjadi hal yang sakral dan fundamental untuk selalu digiatkan walaupun untuk sedikit saja itu terjadi.
#Mengisi waktu untuk terus berbagi
-ahzamy-

Pekan kedua bulan Juni 2012, mendapatkan undangan dari salah seorang kenalan di Suku Badui. Yang namanya sebuah undangan, maka sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk memenuhi undangan itu. Akhirnya berangkatlah dari Jakarta menuju Rangkas Bitung ke tempat Suku Badui, lebih tepatnya ke wilayah Badui Dalam dimana tidak semua orang boleh memasuki wilayah itu.
Keberangkatan dimulai dari pukul 16.00 dari Jakarta. Sampai di Ciboleger, kami menitipkan mobil di kaki bukit untuk melanjutkan perjalanan menuju Kampung Cibeo, Badui Dalam. Trekking pun dimulai pada pukul 22.30. Kami memaksakan untuk berjalan malam karena dengan pertimbangan efektifitas waktu dan tenaga. Ternyata perjalanan malam itu cukup memakan waktu dan energi yang cukup besar juga. Faktor penyebabnya dikarenakan gelapnya rute yang ditempuh dan dinginnya cuaca malam yang cukup menusuk sampai ke dalam jantung. Alhasil, kami sampai di Kampung Badui Dalam sekitar pukul 02.30 dini hari. Kondisi kampung di sana sangatlah gelap gulita tanpa ada penerangan sama sekali. Walaupun berjuta bintang sedang bertebaran di langit, tapi tetap ketidakhadiran rembulan membuat pandangan sama sekali hampa dan kosong. Berbekal head lamp dan sedikit lampu HP, kami menemukan rumah Pak Karmain, teman kami di Kampung Badui. Padahal di sana, kondisi rumahnya hampir sama semua, mirip dan persis.
Setibanya di lokasi Pak Karmain, tidak begitu lama, kami segera istirahat karena cukup sangat lelah. Mengingat jalur trekking yang baru saja dilewati itu banyak tanjakan dan turunannya, bahkan sampai ada yang disebut tanjakan 1 Km..wew…
Pagi harinya, mata masih sepet-sepet dan badan juga masih meringkuk kedinginan. Bagaimana tidak, tidur di atas rumah bambu yang bawahnya bolong, berarti angin terus bertiup kencang dari bawah kami. Berasa banget kaya ada Air Conditioner di bawah kami. Tapi karena memang sudah waktunya, yaa kami memaksa bangun untuk melaksanakan shalat subuh. Tapi sebelumnya, untuk mengambil air wudhu pun juga memerlukan perjuangan. Dikarenakan letak airnya berada di kali yang cukup berjarak dari rumah Pak Karmain. Dan pada akhirnya segala aktifitas pribadi bisa terselesaikan sampai pukul 06.30..Bersiap-siap untuk menjawab undangan dari Pak Karmain sebelumnya. Dan Dalam kondisi menyesuaikan dengan Kampung Badui yang juga bersiap-siap mendirikan 10 buah rumah pada satu hari itu juga..
Pada pukul 07.00, kami berkeliling Kampung Badui menyaksikan pembangunan 10 buah rumah yang dikerjakan dalam waktu satu hari. Dari memasang pondasi hingga meletakkan atapnya, dilakukan bersama-sama oleh seluruh masyarakat Kampung Badui, dari anak-anak sampai bapak-bapak tua renta. Ternyata mendirikan rumah ini juga menjadi salah satu proses dari walimah yang dilakukan di sana. Kata orang-orang di sana, proses walimah itu dilakukan sampai 7 harian.
Sekitar pukul 08.00, kami bertemu kembali dengan Pak Karmain dan menyampaikan maksud atas kedatangan kami ke Kampung Badui. titipan dan ucapan pun kami sampaikan kepada beliau, juga kepada anaknya yang baru saja melangsungkan pernikahannya kemarin. Dan setelah itulah kami pada akhirnya pamit untuk kembali melakukan trekking keluar dari Kampung Badui. Karena mempertimbangkan panasnya rute perjalanan kami nanti, maka kepulangan pun dilakukan lebih cepat dari rencana.
Rupa-rupanya, trekking pulang tidak jauh berbeda dari trekking keberangkatan kita. Walaupun rutenya berbeda, tapi beban perjalanannya pun masih sama juga. Begitu banyak turunan dan tanjakan yang cukup menyulitkan kami. Dan untuk rute yang ini, ada jalur yang dinamakan dengan tanjakan cinta, karena ada mitos kalo menyusuri jalur ini, maka mau tidak mau dan terpaksa untuk saling berpegangan tangan gitu..Berarti cukup terbayang betapa terjal dan jauhnya tanjakan ini.
Alhasil, kami sampai di Ciboleger, kampung terluar dari wilayah Badui pada pukul 12.00. Perjalanan yang cukup panas dan melelahkan memang. Tapi yang cukup diherankan, guide kita yang juga ikut dalam perjalanan, sama sekali tidak kelihatan lelah atau berkeringat. Memang berbeda antara kebiasaan kita dengan mereka sepertinya. Dan inilah sebuah perjalanan dan perjuangan tersulit yang pernah dilakukan dalam menghadiri sebuah undangan pernikahan. Karena membutuhkan waktu 10 jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan, dan 10 jam lagi melakukan trekking berjalan kaki. Dan hasilnya, Subhanallah, begitu nikmatnya suasana silaturahim yang terjalin karena perjuangan ini..^^

Telah lewat sudah setahun perjalanan dari Gunung Ciremai bersama guru-guru Sekolah Alam Indonesia. Dan kini di akhir tahun 2012, kembali kami melakukan perjalanan pendakian menuju Gunung Lawu, sebuah gunung yang sempat kami janjikan bersama di akhir penghujung pendakian di Gunung Ciremai. Walau jumlah peserta tidak sebanyak ketika pendakian di Gunung Ciremai, Alhamdulillah 5 orang guru Sekolah Alam Indonesia tetap berkomitmen melakukan pendakian ke Gunung Lawu, Jawa Tengah. Sengaja kami memilih gunung ini, karena nuansa mistik yang selalu terdengar di sana.
Perjalanan dimulai hari Jum`at tepatnya pada pukul 21.00. Dari Ciganjur meluncur menuju Jawa Tengah menggunakan mobil melewati Jalur Utara, ke arah Weleri untuk singgah ke rumah salah seorang guru Sekolah Alam Indonesia dan kemudian melanjutkan perjalanan ke arah Tawangmangu. Tiada disangka, sampai di daerah Tawangmangu, tepatnya di kaki Gunung Lawu sekitar pukul 21.30. Yang berarti jika ditotalkan perjalanan kendaraan kami, kurang lebih sampai 24 jam. Mungkin penyebab utamanya dikarenakan jalur perjalanan yang terlalu panjang dan berputar-putar. Tapi Alhamdulillah sampai juga walau dengan perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan.
Pukul 21.30 kami sampai di Cemoro Kandang, salah satu jalur pendakian di Gunung Lawu. Rehat sejenak untuk packing ulang dan makan malam di warung depan pos pendakian. Melihat waktu yang cukup singkat, maka kami memutuskan untuk tidak camping di atas Gunung Lawu, melainkan one way trip, atau pendakian sekali jalan. Dengan keputusan yang telah diambil, maka beberapa barang akhirnya kami tinggal di mobil, seperti tenda yang bobotnya cukup memberatkan barang bawaan kami. Setelah siap perlengkapan kami, pendaftaran juga telah selesai diurus, shalat pun juga telah dituntaskan, maka telah tiba saatnya kami memulai perjalanan mendaki Gunung Lawu tepat pada pukul 23.00.
Gunung Lawu sendiri memiliki 5 pos utama dan 1 pos bayangan menuju puncak Gunung Lawu jika mendaki dari jalur Cemoro Kandang. Begitu juga jika pendakian dari jalur Cemoro Sewu. Di sana terdapat 5 pos utama menuju puncak Gunung Lawu. Karakter kedua jalur ini memang berbeda, jika dari Cemoro Sewu, jalur pendakiannya merupakan jalur ziarah, yang berarti jalurnya sudah terbentuk rapih tersusun dari batu-batu besar sampai ke puncak, sedangkan jika dari Cemoro Kandang, jalurnya menyusuri hutan, semak belukar dan jalannya merupakan jalur tanah. Sehingga dari kedua karakter ini kami memutuskan untuk mendaki naik melewati jalur Cemoro Kandang dan turun menyusuri jalur menuju Cemoro Sewu.
Pos Awal Cemoro Kandang – Pos 1 (Taman Sari Bawah)
Di pos awal Cemoro Kandang, terdapat musholla dan kamar mandi yang cukup untuk kami bersiap-siap. Terdapat juga sebuah monumen kecil untuk tempat pemujaan warga sekitar terhadap gunung ini. Dengan bekal yang cukup, kami berangkat menuju pos 1 yang bernama Taman Sari Bawah. Perjalanannya menyusuri hutan dengan jalur yang relatif cukup jelas melewati jalan setapak. Dengan jalur yang cukup menanjak, kami sampai di pos 1 pada pukul 24.00 atau tepat satu jam perjalanan kami dari pos awal pendakian. Dan di pos ini, tidak ada sumber mata air yang bisa dijadikan bekal untuk perjalanan berikutnya. Walaupun terdapat bangunan beratapkan seng yang cukup kondusif untuk melakukan camping di sana, kami tetap akan mendaki sesuai dengan kesepakatan awal menuju pos berikutnya.
Pos 1 (Taman Sari Bawah) – Pos 2 (Taman Sari Atas)
Perjalanan dari pos 1 menuju pos 2 ini relatif cukup sama dengan sebelumnya. Menyusuri hutan melewati jalur setapak hingga sampai juga di pos 2 pada pukul 01.00. Di pos ini juga terdapat bangunan seperti pos 1 yang juga beratapkan seng. Namun di pos ini, terdapat lapangan yang cukup luas untuk membuat tenda lain di luar. Dan dari pos ini, bisa terlihat bulan dengan cukup jelas jika sedang melakukan perjalanan malam. Pemandangan yang bisa membuat berdecak kagum jika mendaki di waktu yang tepat. Alhamdulillah kami melakukan perjalanan di tengah bulan, sehingga terlihat jelas bulan penuh pada saat itu. Yang bahkan jika semua lampu senter dimatikan, jalur dan kondisi sekitar bisa terlihat dengan jelasnya.
Pos 2 (Taman Sari Atas) – Pos 3 (Penggik)
Sejak pos 1 sampai dengan pos 2, tidak ada sumber air yang didapatkan dari jalur ini. Pun perjalanan menuju pos 3 juga tidak ditemukan adanya sumber air. Dari pos 2 menuju pos 3, perjalanannya mulai berbeda dari sebelumnya, karena rutenya menyisiri gunung menapaki tebing-tebing yang curam. Sehingga dari perjalanan menuju pos 3 ini, terlihat sangat jelas pemandangan kerlap-kerlip kota dari atas gunung. Namun yang perlu diketahui, terpaan angin sangat terasa ketika melewati jalur ini. sekitar setengah jam perjalanan, kami sampai di pos bayangan yang berada di tepi tebing. Sempat beristirahat selama 5 menit, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju pos 3 dikarenakan angin yang sangat kencang. Perjalanan dari pos 2 menuju pos 3 ini merupakan perjalanan yang paling panjang dan cukup berat, karena membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam untuk sampai di pos 3 dari pos 2 dan tanpa adanya sumber air yang bisa diambil. Dengan kondisi yang sudah terkantuk-kantuk menginginkan tidur, dan langkah yang mulai cukup berat, kami paksakan untuk terus sampai di pos 3, mengingat kondisi tempat selama perjalanan tidak ada yang kondusif untuk mendirikan tenda. Angin kencang terus menerpa, suara-suara yang tidak jelas dari mana asalnya juga terdengar ketika dalam perjalanan, dan mata yang sedikit sedikit terpejam terus menjadi godaan dalam perjalanan ini. Dan akhirnya setelah melakukan perjalanan panjang, sampai juga di pos 3 pada pukul 03.30. Tanpa berpanjang aktivitas lagi, kami langsung menyiapkan segala peralatan untuk camping di pos 3 di dalam bangunan beratapkan seng itu. Ganti baju dengan pakaian yang kering, menggelar plasit dan matras sebagai alas dan memakai sleeping bag untuk menghangatkan diri di tengah kondisi yang sangat dingin pada saat itu. Beristirahatlah kita di pos 3 untuk mengembalikan stamina dan energy kita.
Pos 3 (Penggik) – Pos 4 (Cokro Suryo)
Pukul 05.00 kami semua terbangun dengan suasana angin yang masih kencang menerpa. Segera kami melaksanakan shalat subuh, packing dan sarapan roti. Sampai segala sesuatunya beres, barulah kami berangkat dari pos 3 menuju pos 4 sekitar pukul 6.45. Tidak jauh dari pos 3, terdapat sebuah mata air yang bisa diambil untuk dijadikan perbekalan di sana. Kami langsung melanjutkan perjalanan dengan jalur yang mulai mendaki menuju puncak. Jalurnya memang berputar-putar dan berbatu, namun jika ingin memotong garis lurus menuju ke atas pun sebetulnya bisa, tapi jalurnya lebih sulit dan curam lagi. Hampir sekitar 1,5 jam kami melakukan pendakian menuju pos 4 hingga akhirnya sampai di pos 4 bernama Cokro Suryo. Terdapat taman yang cukup lapang dengan bangunan beratapkan seng di tengah taman itu. Sesampainya di pos itu, kami langsung menyiapkan perapian untuk menyediakan makan pagi. Tak jauh-jauh dari mie instan kami sarapan di pagi hari itu. Sarapan yang tidak memakan waktu lama untuk mempercepat perjalanan kami menuju puncak. Kami tiba di pos 4 sekitar pukul 09.40 dan melanjutkan perjalanan kembali setelah sarapan pada pukul 10.20.
Pos 4 (Cokro Suryo) – Pos 5 (Perapatan)
Dari pos 4 menuju pos 5, perjalanan menyusuri bukit-bukit. Tidak terlalu terjal dan tidak terlalu landai. Dari pos 4 membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk sampai di pos 5. Di pos ini tidak ada lagi mata air, namun dekat dari pos ini, terdapat warung tempat kita bisa mendapatkan makanan dan minuman. Penjaga di warung ini bernama Mbok Yem yang semua pendaki telah mengenal beliau. Dari pos ini, tidak jauh perjalanan menuju hargo dalem ataupun hargo dumilah tempat puncak tertinggi di Gunung Lawu. Sempat beristirahat di warung Mbok Yem, kami melanjutkan kembali pada pukul 11.00 menuju Hargo Dumilah, puncak tertinggi Gunung Lawu. Namun karena kabut yang cukup tebal, kami tidak bisa melihat suasana sekitar gunung Lawu. Hanya beberapa orang yang kami dapatkan sedang berada di sana.
Telah sampai kami di puncak tertinggi Gunung Lawu, menikmati pemandangan di sana kurang lebih selama setengah jam, kemudian kami siap untuk melanjutkan untuk menuruni Gunung Lawu.
Perjalanan untuk menuruni Gunung Lawu, kami mulai dari pukul 11.00 dengan arah jalur menuju Cemoro Sewu. Seperti yang sudah disebutkan, jalur ini merupakan jalur ziarah yang sudah terbuat dari batu yang tersusun. Namun walaupun tersusun, kondisinya cukup terjal dan tinggi untuk sebuah tangga. Alhasil, perjalanan menuruni gunung ini pun cukup terasa berat. Tapi karena kami mengejar target untuk sampai di bawah pada jam 15.00. maka kami menyegerakan langkah kami untuk turun. Dengan ditemani hujan rintik-rintik, kami mempercepat langkah kaki hingga akhirnya orang pertama yang melaju, bisa sampai di pos Cemoro Sewu pada pukul 13.30 atau sekitar 2,5 jam perjalanan. Dan orang terakhir yang berjalan dengan santai, sampai di pos Cemoro Sewu pada pukul 15.00. Menyelesaikan administrasi, berbenah, beres-beres, akhirnya kami telah siap untuk kembali ke Jakarta usai mendaki Gunung Lawu. Tercatat, tepat pukul 18.00 kami telah siap untuk melakukan perjalanan kembali menggunakan mobil menuju Jakarta.

Setiap orang pasti akan pernah merasakan sebuah kesendirian. Karena terkadang kesendirian itu sebuah pembinaan yang diberikan oleh Allah SWT untuk mendidik kita menjadi lebih dewasa dan tegar menghadapi tantangan yang lebih sulit. Oleh karenanya, salah satu yang ditekankan di Bulan Ramadhan ini adalah dengan fokus menunaikan ibadah secara personal. Dengan harapan kita bisa lebih fokus meningkatkan capaian ibadah-ibadah kita.
Di hari keenam Bulan Ramadhan ini, ada satu hal yang bisa diambil menjadi sebuah pembelajaran. Yakni segala kesuksesan kita itu ditentukan dari niat kita yang kokoh. Sebagai contoh untuk kejadian riil, ketika kita sudah berniat untuk berpuasa esok harinya, walau sehari sebelumnya tidak makan besar dan paginya tidak sahur pun, ternyata niat masih menjaga semangat kita untuk melaksanakan ibadah puasa di keesokan harinya. Berbeda dengan hari hari biasa di luar Bulan Ramadhan, terkadang jika sudah tidak berniat untuk berpuasa, menahan lapar dan haus untuk jeda waktu yang singkat saja terasa sulit. Bagaimana jika harus menahan lapar dan haus di waktu yang lebih lama. Brarti ada satu hal yang bisa diambil hikmahnya,
“Bukanlah kondisi kita yang berat yang membuat kita menjadi merasa lemah, tapi hati kita yang lemah yang menjadikan semua kondisi kita terasa berat”

Hari ini adalah hari penentuan untuk sesuatu yang baru. Karena tepat hari ini di hari kelima di Bulan Ramadhan, aku bergabung dengan sebuah komunitas yang lebih besar dari sebelumnya. Jika selama ini aku tergabung dengan komunitas backpacker dalam lingkup nasional, maka sekarang aku telah masuk ke sebuah komunitas dengan judul “komunitas backpacker dunia”. Ketika aku melihat lebih ke dalam lagi di situsnya, ternyata lokasi-lokasi yang dikunjungi pun juga tidak lagi sebatas Indonesia melainkan negara-negara dengan berjuta keindahannya. Sebut saja ada Maldive, Paris, Nepal dan lain lain. Maka aku semakin harus membuka diri untuk siap melihat cakrawala yang lebih luas lagi.
“di atas langit masih ada langit. Ketika kita sudah merasa di tempat yang paling tinggi, maka sudah sepantasnya hati kita menjadi yang paling tunduk rendah”
Bulan Ramadhan memang bulan penuh dengan renungan. Dengan bergabungnya aku ke dalam komunitas ini, bukan akhirnya menjadikan diri ini menjadi lebih hebat. Karena justru perasaan inilah yang menyebabkan kehancuran dari seseorang itu sendiri. Benar, rasa sombong itulah yang akan membuat kita takluk terhadap diri kita.
Tepat di hari yang sama, diadakan sebuah acara buka bersama di komplekku. Tetap Bulan Ramadhan menjadi bulan yang luar biasa. Karena kehadiran Bulan Ramadhan ini, hampir seluruh keluarga di komplekku bisa berkumpul untuk melakukan kajian sebelum berbuka puasa. Di situ terlihat interaksi yang menurutku berbeda dari sebelumnya. Terlihat lebih ramah dan santai dibandingkan dahulu. Mungkin inilah berkah di Bulan Ramadhan, keberkahan yang tidak akan pernah bisa tergantikan di bulan-bulan yang lain. Maka sungguh, telah kusaksikan istimewanya Bulan Ramadhan untuk seluruh masyarakat.

Tidak terasa sudah menginjak hari keempat di Bulan Ramadhan. Rasanya seperti masih belum optimal apa yang dikerjakan di Bulan Ramadhan. Mungkin perasaan ini menjadi sesuatu hal yang baik juga. karena bisa memotivasi kita untuk berbuat lebih baik lagi dibandingkan sebelumnya. Akhirnya, yang bisa kita lakukan adalah do the best and let Allah do the rest.
Tampaknya setiap hari memang harus dihabiskan dengan pergi beraktivitas keluar. Dan kali ini, tujuan yang ditempuh adalah Tanah Abang. Tentunya ketika mendengar tempat Tanah Abang, pasti yang akan terngiang dalam pikiran kita adalah barang-barang grosiran. Dan benar sekali!, karena tujuanku kesana adalah untuk membeli barang-barang grosiran hasil pesanan untuk sebuah acara. Dalam pikirku, subhanallah. Betapa tidak, dengan kondisi di Bulan Ramadhan, aktivitas perdagangan masih berlangsung dengan sangat ramainya. Hiruk pikuk orang-orang berjualan masih terlihat semangat dan antusias seperti tidak ada bedanya antara orang yang berpuasa atau tidak. Melihat hal ini, aku hanya teringat sebuah pesan dari salah seorang saudara,
“Bulan Ramadhan itu adalah bulan dimana kita akan merubah drastis kualitas ibadah kita. Segala dana yang telah kita kumpulkan selama 11 bulan, akan kita keluarkan di Bulan Ramadhan ini. Segala waktu istirahat yang telah kita kumpulkan selama 11 bulan, maka pada saatnya digunakan untuk mengoptimalkan tiap waktu yang ada di Bulan Ramadhan. Hingga pada akhirnya Bulan Ramadhan akan menjadi sepenuh-penuhnya bulan ibadah”
Teringat pesan itu, aku justru sedikit heran. Karena di Tanah Abang justru aku dapatkan begitu banyak orang yang mengeluarkan dananya untuk berbelanja banyak sekali barang grosiran (termasuk aku sebetulnya…tapi itu karena sudah pesan jauh hari sebelum Ramadhan..”Alesan aja Dody”). Namun aku hanya bisa berpikir baik bahwasanya segala kegiatan itu memang sepenuhnya diniatkan untuk Allah SWT, sehingga segala perdagangan yang mereka lakukan adalah bernilai ibadah.

Indah memang Bulan Ramadhan ini. Sebuah Bulan yang teristimewa yang dengan keberadaannya mampu mengubah orang 180o, dari hitam menjadi putih, dari bawah menjadi atas atau dari buruk menjadi baik. Salah satu parameter aku bisa mengatakan ini mungkin dengan media yang coba aku amati. Begitu banyak sekarang tayangan-tayangan di televisi yang berubah menjadi media islami. Segala judul tayangan diambil dari kosakata islam. Seluruh iklan juga telah berubah tajuk menjadi kebermanfaatan dan nasehat. Yang menurutku, justru tayangan-tayangan seperti iklan dan sebagainya itu yang lebih kreatif dan lebih bagus dibandingkan iklan-iklan di luar Bulan Ramadhan. Alangkah indahnya jika ini bisa terus bertahan dan menjadi benchmark di setiap media televisi di Indonesia. Dan aku yakin, jika ini bisa dipertahankan, maka sedikit demi sedikit langkah perubahan moral pun akan terjadi di masyarakat Indonesia.
Hari ketiga di Bulan Ramadhan ini tampaknya menjadi hari yang kerja keras. Pasalnya, dengan tuntutan target ibadah yang harus dikejar, aktivitas pekerjaan juga tidak bisa ditinggalkan. Kesibukan-kesibukan pekerjaan di sekolah yang memakan waktu hampir satu hari penuh, membuat targetan ibadah harus dikejar di segala tempat dan sedikit waktu yang ada. Entah apa yang merasuk di hatiku, namun setelah tercanangkannya semangat untuk pergi umroh di awal tahun, aktivitas untuk melaksanakan ibadah semakin mudah untuk dijalani rasanya. Orientasi-orientasi dalam setiap pekerjaan langsung dengan gampangnya diarahkan menuju negeri Jeddah di sana. Dan mungkin, ini salah satu skenario yang diperuntukkan untuk diriku agar terus semangat untuk memperbaiki diri.

Hari kedua di Bulan Ramadhan bertepatan dengan hari Kamis. Tidak ada yang spesial memang di hari Kamis. Tapi yang membuat spesial adalah, suasana liburan yang sedang terjadi di awal-awal Ramadhan. Bukannya penuh motivasi untuk mengejar ibadah, ternyata godaan-godaan untuk bersantai ria dan tidur-tiduran sepanjang hari sangatlah besar. Bagaimana tidak, kasur yang terbentang empuk itu selalu ada di depan mataku, beberapa godaan buku dan komputer juga terasa memanggil-manggil namaku untuk aku hinggap di mereka. Hmm…hmm…berpikir terus dan terus berpikir..mencari suasana nyaman atau bekerja keras mendapatkan yang terbaik…maka terpikir saja sebuah statement,
“Suasana nyaman itu sangat mudah untuk dicari dan didapatkan, namun sebuah kesempatan itu tidak dapat dicari dan sangat sulit untuk didapatkan”
Dengan tegas kupancangkan dalam hati slogan itu…cieh…lalu beranjaklah aku untuk mengejar targetan-targetan yang ingin kucapai. Lalu menyikapi kondisi yang akan berulang begini, maka sengaja kubuat lagi targetan itu dalam bentuk tertulis, sama seperti masa-masa muda dulu ketika menginjak bangku sekolah (sekarang juga masih sangat muda belia sih). Dengan alasan biar termotivasi secara personal untuk menggapai target yang telah dicanangkan.
Baru sebentar mau mengejar target di subuh hari, tiba-tiba teringat kalau ternyata di hari Kamis ini, ada urusan di sekolah yang harus dikejar. Maka mau tidak mau persiapan untuk hari ini dialokasikan sepenuhnya untuk keperluan sekolah. Dan hampir seharian penuh aku di sekolah untuk menyelesaikannya. Bahkan sampai waktu berbuka pun, aku masih berada di dalam perjalanan. Sehingga buka puasa aku lakukan di rest area jalan tol. Dan tiba-tiba, temanku kembali menghubungiku lagi untuk menanyakan kepastian keikutsertaanku dalam umroh backpacker. Sempat pusing berputar-putar karena dana yang kumiliki tidaklah cukup. Tapi karena kesempatan itu tidak datang dua kali, maka dengan tegas saja aku bilang..”OKEH SIAP AKU IKUT!!!”. Namun tentunya ada kata-kata pengiring di belakangnya, yakni “hmm…tapi aku boleh ditalangin sebagian g ya?”
Alhamdulillah, ternyata jika memang ada niat, semua akan dimudahkan. Temanku ternyata menawarkan untuk membayarkan tiketku sebagian. Maka setelah urusan tiket ini selesai, urusan selanjutnya adalah dengan meminta restu orang tua untuk diijinkan berangkat mengingat mereka juga belum pernah umroh dan sangat ingin kesana. Dan luar biasanya, kedua orang tuaku ternyata mengizinkan dengan ekspresi yang senang. Mereka bahkan meminta untuk didoakan juga. Melihat kondisi ini, maka aku pun semakin berani untuk melangkahkan kakiku untuk tujuan ke Tanah Suci Mekkah.

