Guru Koq Nyontek?? Malu dong ….

Beberapa hari yang lalu saya diberikan kesempatan untuk mengikuti test untuk menjadi guru pembimbing siswa yang akan mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) tahun 2008. Test ini diikuti lebih dari 100 orang bapak dan ibu guru Matematika, Fisika dan Biologi untuk wilayah (kalau tidak salah) Tangerang dan Banten. Selain itu para siswa pun diseleksi mewakili sekolah masing-masing untuk mengikuti pelatihan OSN yang diadakan Institut Pertanian Bogor.

Kebetulan waktu itu ruangan test untuk guru matematika dan biologi digabung dengan perbandingan jumlah guru matematika dan biologi sama dengan 3 : 2 sedangkan jumlah kursi yang disediakan ada 20 kursi. Pertanyaannya adalah berapa jumlah guru matematika yang hadir?? (eh, maaf koq saya jd nulis soal ya…?)

Ternyata banyak hal-hal menarik yang saya temui ketika mengikuti pertemuan yang di dalamnya banyak berkumpul para guru. Salah satunya adalah ternyata (tapi jgn bilang siapa-siapa ya…?) guru-guru kalau sudah ngumpul tidak kalah rame’nya dengan siswa. Ada yang ngobrol, ada yang sibuk sendiri-sendiri, tapi ada juga lho yang memperhatikan pembicara. Dari situ saya berpikir, ya wajar saja kalo anak-anak di kelas rame’, orang gurunya aja kalo ngumpul juga rame. Buah tidak akan jatuh jauh-jauh dari pohonnya.

 

Funny Question

Back to my story…. Ketika semua sudah siap dan soal sudah dibagikan, tiba-tiba saja ada seorang guru bertanya kepada pengawas test. “Pak, ngerjainnya boleh pake’ kalkulator ngga’?” si pengawas lantas menjawab  “Yah ibu pake’ nanya segala, emang kalo anak-anak ibu lg ulangan ibu ngebolehin pake kalkulator?”. “Ngga’ Pak” jawab si ibu guru. “Ya udah jawaban saya sama kaya’ jawaban ibu tadi”. Beberapa guru tersenyum mendengar pertanyaan ibu guru tadi. Termasuk saya.

Wah, ternyata guru-guru kalo ditest juga merasa butuh pake alat bantu kalkulator ya..? Ngga’ apa-apa ya Bu… namanya juga usaha. Siapa tau aja boleh.

 

Ujian adalah Keniscayaan

Ketika saya ditunjuk untuk menjadi salah seorang wakil dari sekolah tempat saya mengajar, terus terang saya sangat gembira. Ini merupakan kesempatan saya untuk meraih peluang meningkatkan kompetensi diri saya. Plus, sudah lama saya tidak megikuti ujian-ujian. Kan katanya kalo’ kita ingin naik derajat (bukan naikin pak sudrajat lho…), kita harus melewati ujian. Seperti halnya kalau kita sedang diuji oleh Allah SWT, kalau kita berhasil melewatinya dengan baik, maka pasti derajat keimanan dan ketaqwaan kita kepadaNya akan meningkat. Ujian adalah suatu keniscayaan.

Mengikuti test semacam ini mengingatkan saya ketika masih sekolah dulu. Waktu masih SMP dan SMA dulu saya tuh termasuk orang yang pelit. Maksudnya kalo sedang ulangan saya ngga’ pernah (eh, pernah ngga’ ya?) ngasih contekan ke teman-teman saya. Kalo ada teman saya yang nanya, saya cuekin aja. Kira-kira bener ngga’ sih yg saya lakuin?

Nah, hubungannya sama test yang saya ikuti itu adalah …… (jangan kaget ya?) …. ( tapi kaya’nya sih ngga’ bakal kaget) …. (kan udah ada judulnya diatas) ……

Ternyata guru-guru kalo lagi ditest juga ada yang contek-contekan !??!!????!?!?!?!?!?!?

(tapi tidak semua lho…..) Wah..wah..wah… Weleh..weleh…weleh…( kata Si Komo)

Malahan ada yang secara terang-terangan (padahal ada pengawasnya) bertanya dengan guru yang lain. Lalu apa pengawasnya menegur?? Si pengawas hanya bisa bilang “Pak…Bu… kerjakan aja sebisanya. Kalo’ saling bertanya dan semuanya benar, nanti panitia bingung memilih pemenangnya.”

Terus terang (Terang terus), melihat kenyataan ini saya sangat kaget dan sedih (hiks…hiks…) Tapi dalam hati kecil saya ada sedikit rasa maklum. Maksudnya adalah soal-soal yang diberikan memang sangat berbobot sedangkan rekan-rekan guru yang mengikuti test rata-rata sudah berumur diatas 30 thn. Bagi saya yang masih “muda” mungkin saya masih bisa mengerjakan dengan otak saya sendiri. Tapi bagi mereka? Saya pikir di usia mereka sekarang, mereka lebih terfokus pada masalah-masalah keluarga mereka. Pergaulan anak-anak mereka, Pinjaman Bank yang belum lunas, Cicilan mobil masih lama, Istri yang lebih senang curhat (baca: ngegosip) sama tetangga, Suami yg lagi puber ke-3, dan lain sebagainya…

Tapi apakah itu semua bisa menjadi alasan untuk menodai profesi kita sebagai Guru?? Silakan bertanya pada diri kita sendiri….

 

Sekali lagi ini adalah kenyataan.

 

Kalau begitu wajar aja anak-anak didik kita nyontek ketika ulangan. La Wong gurunya juga begitu. Iya ngga’ sih….. ?

 

Guru kencing berdiri, Murid kencing berlari (Asal jangan dicelana aja,..!)

 

============================================================================

Jika Anda terinspirasi dengan tulisan-tulisan saya di blog ini dan ingin mengutip/ menyadur sebagian atau seluruh isi tulisan saya, maka saya akan sangat bahagia sekali jika Anda mengirimkan e-mail permohonan ijin terlebih dahulu ke ajw_nfbs@yahoo.com . Serta mencantumkan nama penulis dan ng-link blog ini. Tidak diperkenankan mengambil tulisan saya untuk kepentingan bisnis dan komersil (kecuali ada perjanjian dengan saya). Sedangkan jika digunakan untuk kemaslahatan umat manusia, boleh-boleh saja asalkan mencantumkan sumber dan mengirimkan e-mail dulu.

============================================================================

 

February 9, 2008 at 10:37 pm Leave a comment

Melebihi Amalan Sahabat Umar dan Abu Bakar RA

Pagi tadi ada tausiah dari Ust Hafidz di waktu apel pagi. Ternyata di sekolah kami ada santri tholibah yang amalannya ‘melebihi’ Sahabat Umar dan Abu Bakar dalam hal berinfaq. Memang beberapa waktu lalu di sekolah kami sedang gencar-gencarnya melaksanakan program infaq. Bahkan besar minimal infaqnya pun di batasi (lho koq gitu… ?). Dalam hati kecilnya sebenarnya saya tidak setuju kalo besarnya infaq dibatasi. Tapi saya mencoba untuk berkhusnudzon. Mungkin dengan cara ini saya bisa lebih teratur dalam berinfaq. Karena sesungguhnya di dalam harta kita terdapat haknya orang-orang yang kurang mampu.

 

Kembali ke cerita saya tadi. Di dalam sirah dikisahkan Sahabar Umar menginfaqkan separuh dari hartanya untuk berjihad di jalan Allah sedangkan Sahabat Abu Bakar tidak tanggung-tanggung, ia menginfaqkan seluruh hartanya. Nah, ternyata di sekolah kami ada seorang tholibah (santri wanita) yang ia menginfaqkan seluruh uang tabungannya plus ngutang Rp. 5000 . Dengan kata lain, seluruh tabungannya habis diinfaqkan dan ia juga berhutang kepada wali asramanya untuk berinfaq. Sungguh di luar dugaan. Mungkin bagi orang biasa tidak terpikir untuk berhutang agar bisa berinfaq.

 

Ceritanya belum selesai. Setelah wali asramanya mengecek berapa sih jumlah tabungan anak tadi. Barulah ketahuan mengapa ia bisa berpikir untuk ngutang. Ternyata setelah di cek, jumlah tabungannya hanya tiga ribu rupiah. Ooooo…jadi wajar kali ya ia berhutang karena jumlah tabungannya cuma segitu.

 

But Anyway… kita harus menghargai ketulusan hati si tholibah tadi. Kan dalam berinfaq yang penting adalah niat dan keikhlasannya. Buat apa infaq banyak kalo’ hanya ingin di bilang dermawan. Itu mah namanya riya’. Mendingan sedikit tapinya kita ikhlas. Tul ga’….????

 

 

============================================================================

Jika Anda terinspirasi dengan tulisan-tulisan saya di blog ini dan ingin mengutip/ menyadur sebagian atau seluruh isi tulisan saya, maka saya akan sangat bahagia sekali jika Anda mengirimkan e-mail permohonan ijin terlebih dahulu ke ajw_nfbs@yahoo.com . Serta mencantumkan nama penulis dan ng-link blog ini. Tidak diperkenankan mengambil tulisan saya untuk kepentingan bisnis dan komersil (kecuali ada perjanjian dengan saya). Sedangkan jika digunakan untuk kemaslahatan umat manusia, boleh-boleh saja asalkan mencantumkan sumber dan mengirimkan e-mail dulu.

============================================================================

February 9, 2008 at 10:34 pm Leave a comment

PeDe Walau Bukan S.Pd

Oleh Agus JW

Tulisan ini terinspirasi dari perkataan rekan saya ketika diminta memberikan presentasi tentang kiat pembelajaran PPKn. “Sebenarnya saya kurang Pede bicara di depan sini berhadapan dengan para guru yang S.Pd” katanya. Memang rekan saya ini bukan lulusan ilmu pendidikan, melainkan Sarjana Hukum. Walaupun demikian kalau saya lihat dari caranya mengajar ternyata tidak kalah dengan yang lulusan ilmu pendidikan.

Begitu juga dengan saya. Basic saya bukan pendidikan. Mungkin bisa dibilang saya sudah mengambil lahan pekerjaan orang yang kuliah di ilmu pendidikan. Tapi menurut saya, menjadi seorang guru tidak hanya membutuhkan title S.Pd. Itu saja tidak cukup…

Yang paling utama adalah bagaimana kita seorang guru dapat mendidik siswa-siswi kita pendidikan memperoleh ilmu tentang cara dan gaya mengajar. Tapi itu semua kan hanya sebatas teori. Saya berpendapat begini lantaran saya melihat beberapa rekan-rekan saya yang titlenya S.Pd ternyata dalam hal mengajar tidak lebih baik dari rekan-rekan saya yang bukan S.Pd.

Saya pikir pengalaman kita dalam mengajarlah yang menentukan sukses atau tidaknya kita dalam menjalani profesi sebagai guru. Dengan banyak pengalaman mengajar, kita jadi tahu bagaimana cara menyampaikan materi yang tepat kepada anak didik kita. Saya sendiri merasakan, saat ini saya enjoy dalam mengajar matematika. Berbeda dengan ketika awal saya mengajar. Kaya’nya keringat terus bercucuran. Dan juga materi yang disampaikan kurang teratur dan sistematis. Sesuai dengan istilah Bisa Karena Biasa.

Anda tahu artis Naysilla Mirdad? Itu lho anaknya Jamal Mirdad dan Lydia Kandau . Di sinetron pertamanya (kalo ga’ salah) Liontin di RCTI, mungkin Anda melihat aktingnya tidak terlalu bagus. Terkesan kaku. Tapi kalo Anda lihat sekarang aktingnya di sinetron Intan dan Cahaya, sudah terlihat sekali perbedaannya. Sekali lagi Bisa Karena Biasa.

Masih bicara tentang artis. Kalau kita perhatikan sekarang ini banyak bermunculan artis-artis pendatang baru yang masih muda belia. Apa mereka lulusan IKJ? Belum tentu. Apalagi kalau kita lihat usia mereka. Tapi ternyata mereka akting layaknya seorang lulusan IKJ atau sekolah akting. Sebagian dari mereka bahkan belajar akting secara otodidak alias belajar sendiri.

Udah dulu ngomongin artisnya.

Kembali ke Lap…..Top. (Tukul Mode: ON)

Anda yang bukan S.Pd sebenarnya mempunyai kelebihan dibandingkan dengan yang S.Pd. Yaitu Anda mempunyai basic pengetahuan yang lebih dalam tentang ilmu yang Anda ajarkan. Sehingga itu dapat menjadi “senjata” Anda dalam mengajar. Contohnya saya Sarjana Sains jurusan Matematika. Di bangku kuliah saya sudah belajar sampai Kalkulus III. Kalau yang di pendidikan, saya yakin tidak sampai materi itu. Nah, materi-materi “lebih” yang kita punya tadi dapat kita gunakan untuk memperkaya khasanah pengetahuan siswa yang berpotensi. Contohnya kalau ada Olimpiade Sains Nasional.

Bapak dan Ibu guru yang saya hormati, setelah kita tahu bahwa kita sebenarnya punya kelebihan selanjutnya tinggal kita melengkapi apa-apa yang belum kita dapatkan. Seperti cara-cara membuat Silabus, RPP, ProTa, ProSem, dll. Yang itu semua bisa kita dapatkan dari buku, internet, pelatihan-pelatihan atau bisa juga dengan kita mengambil kuliah Akta IV. Kalau itu semua sudah kita kuasai, maka kita tidak kalah dengan yang kuliah di ilmu pendidikan. Malahan lebih.

Nah, buat rekan-rekan guru (atau calon guru) yang bukan S.Pd, jangan buru-buru Ga’ PeDe ya… Terus cari pengalaman dan informasi tentang cara mengajar yang baik. Setiap orang pasti memiliki gaya mengajarnya masing-masing. Seiring berjalannya waktu, Anda pasti akan menemukan gaya mengajar Anda sendiri. Just Be U’r self…..

 

============================================================================

Jika Anda terinspirasi dengan tulisan-tulisan saya di blog ini dan ingin mengutip/ menyadur sebagian atau seluruh isi tulisan saya, maka saya akan sangat bahagia sekali jika Anda mengirimkan e-mail permohonan ijin terlebih dahulu ke ajw_nfbs@yahoo.com . Serta mencantumkan nama penulis dan ng-link blog ini. Tidak diperkenankan mengambil tulisan saya untuk kepentingan bisnis dan komersil (kecuali ada perjanjian dengan saya). Sedangkan jika digunakan untuk kemaslahatan umat manusia, boleh-boleh saja asalkan mencantumkan sumber dan mengirimkan e-mail dulu.

============================================================================

 

January 24, 2008 at 4:47 am Leave a comment


January 2026
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Blog Stats

  • 655 hits

Recent Comments


Design a site like this with WordPress.com
Get started