Adab Ta’lim Muta’alim terbagi atas tiga, yakni adab terhadap ilmu, adab terhadap guru, dan adab terhadap murid
I. Adab terhadap ilmu
Adab terhadap ilmu terbagai atas tiga tahap. Yakni sebelum, ketika dan setelah menuntut ilmu.
a. Adab sebelum menuntut ilmu
- Niat yang benar
- Menuntut ilmu diniatkan sebagai ibadah dan hanya karena Allah semata
- Kemudian, menuntut ilmu dengan kerendahan hati.. Meski mungkin kita sudah pernah mendengar ilmu yg sedang disampaikan itu
- Menuntut ilmu dengan niat untuk diamalkan. Karena jika orang mengamalkan ilmunya, maka Allah akan menambah ilmunya.
- Belajarlah ilmu untuk selanjutnya diajarkan kepada orang lain. Jangan pelit dengan ilmu yg kita punya. Bukankah salah satu amal yang tak akan putus pahalanya adalah ilmu yang bermanfaat?
- Berikutnya, mencintai ilmu dengan sepenuh hati. Karena orang akan selalu mengingat apa yang dicintainya. Merasa sulit memahami atau menghapal suatu materi? Bisa jadi itu karena kita tidak atau belum mencintainya.
- Carilah ilmu yang bermanfaat dari guru yang berkapasitas. Ciri ilmu yang bermanfaat adalah, membuat semakin takut kepada Allah. “… Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama…” (QS. Faathir [35] : 28)
b. Adab ketika menuntut ilmu
- Yang pertama, adalah berdo’a di awal dan akhir.. Di awal minimal mengucap basmalah, dan diakhiri dengan hamdalah.
- Berusaha hadir di awal waktu, mencari tempat yang paling baik.. Sehingga dapat mendengar atau membaca dengan baik.
- Dengarlah dengan seksama, jangan sambil berbincang, sms-an, atau malah menelpon.
- Catatlah materi yang dianggap penting.. “Ikatlah ilmu dengan mencatatnya.”
- Bertanyalah jika ada yang kurang dipahami, ketika sudah dipersilahkan untuk bertanya.
- Di dalam menuntut ilmu, kita diharuskan untuk bresabar.
- Jangan meninggalkan tempat kecuali ada sesuatu yang mendesak.
c. Adab setelah menuntut ilmu
- Niatkan untuk mengamalkan ilmu yang sudah didapatkan.
- Niatkan untuk menyampaikan kepada orang lain dengan ikhlas.
- Bertawadhu’ (rendah hati)-lah setelah memiliki ilmu. Tidak masuk surga orang yang di dalam hati ada kesombongan meskipun hanya sebiji sawi.” (HR.Muslim)
- Gunakanlah ilmu di jalan Allah, untuk menambah ketaqwaan kepada-Nya.
II. Adab murid kepada guru.
- Menghormati guru, sebagaimana kita hormat kepada orang tua kita.
- Meminta nasihat kepadanya, karena beliau tentunya lebih bijaksana karena pengalaman dan ilmunya.
- Tidak mendebat guru. Bukan berarti tidak boleh mengoreksi ketika beliau khilaf. Maksudnya adalah tidak boleh “mengadu” guru. Misalnya dengan mengatakan “Guru A mengatakan X, kenapa Anda bilang Y?”
- Tidak menyebut keburukan guru kepada orang lain.
- Memaafkan kesalahannya. Karena guru juga manusia, tak luput dari kekhilafan.
- Menceritakan kebaikan-kebaikannya.
- Mendo’akan guru agar diberi kebaikan dunia dan akhirat.
III. Adab guru terhadap murid yang diajarnya.
- Memberikan ilmu sesuai kemampuannya, serta sesuai kebutuhan murid.. Bahasa ke anak SD tentu berbeda dengan ke mahasiswa.
- Mengasihi murid seperti anak sendiri.
- Tidak menyebut keburukan murid didepan murid lainnya.
- Mendo’akan murid agar diberi kemudahan dalam pemahaman ilmu untuk kebaikan dunia dan akhirat.
ada tradisi yang baik dikeluarga saya. bapak dan ibu mempunyai komunitas kajian sendiri. ikut ormas islam berlambang matahari. jauh sebelumnya mengikut ormas islam yang fanatik, berlambang bumi bertali. sejak berpindah ke solo beliau berdua pindah ke ormas lain. tentu berpindahnya tidak secara spontan langsung ganti ormas, atau pengin sesuatu hal yang baru. tentu tidak seperti itu. dan tidak juga seperti seorang politikus kutu loncat, berpindah dari satu partai ke partai lain untuk hal yang lebih menjanjikan, apalagi kalau bukan materi dunia. kalaupun ada yang mengatakan untuk kepentingan bangsa, negara, rakyat, apapun lah namanya. saya tidak yakin sama sekali. kedok, demikian saya melabelinya. mereka ingin dipilih rakyat. sedang rakyat tak tahu mengapa ia harus dipilih. maka keluarlah sumpah, janji, kontrak politik, sebar sembako, bakti sosial, pengobatan gratis, hadiah, jilbab, bahkan ada juga yang ‘menyumbang’ Quran ‘cuma-cuma’. (hehe.. karena dahulu saya juga pernah berpartisipasi seperti itu, demi partai saudara! duuh… naifnya). beliau berdua memakai proses perbandingan kedua ormas islam tersebut.
aduh ini tentang diri pribadi kok. mau nulis gimana, nggak juga gimana. tapi tetep nulis aja ah. hehe… dahulu kala semenjak masuk SMA suka ikut-ikut kajian. meski ga’ mudeng yang penting berangkat, dan meski diliputi niatan pergi dari rumah sesaat meninggalkan pekerjaan harian (nyapu, nge-pel, cuci piring, hehe). setelah SMA, masuk perkuliahan tahun pertama langsung disuruh ikut kajian umum, nah baru setelah itu ikut halaqoh terdiri 10 orang dan ada murabbi’nya.