Pengalaman pertama selalu mendebarkan. Ada rasa antusias, takut, gugup,gembira, semua tercampur menjadi satu. Pengalaman pertama mengajar Bahasa Inggris di salah satu lembaga kursusan Bahasa Inggris di Kampoeng Inggris Kecamatan Pare Kabupaten Kediri bernama ELFAST kependekan dari English Language As Foreign Application Standart memberi banyak warna dalam perjalanan hidup ini. Syukur Alhamdulillah saya telah dipercaya menjadi staf pengajar speaking di ELFAST ini.
Saya dipercaya memegang kelas Grammar Speaking, kelas speaking yang bertujuan utama menegajarkan kepada penuntut ilmunya agar bisa berbicara bahasa Inggris dengan baik dan benar secara grammatical bahasa Inggris.
Setelah selama kurang lebih satu bulan lamanya menjalankan masa-masa “training” menjadi tutor Bahasa Inggris sudah saatnya saya harus lepas kandang menunjukkan taring-taring ini.
Hari pertama mengajar Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua setelah bahasa Indonesia, murid-murid yang hadir di kelas ada sepuluh orang banyaknya. Lumayan banyak kalau untuk hitungan pemula seperti saya, hal itu juga tak bisa dipungkiri dari nama besar tempat saya bekerja.
Hari kedua, jumlah siswa menurun menjadi 8 orang saja.Kecil hati ini jadinya, baru hari kedua muridnya sudah hilang dua. Usut punya usut, kedua murid tersebut berpindah ke kelas lain dengan alasan kurang bisa mengikuti jalannya pembelajaran karena merasa kurang mampu. Ada rasa lega juga karena bukan karena takut dengan tutornya, tapi sedih juga karena harus tinggal 8 orang murid saja, tetapi show must go on.
Mengajar itu bukan sesuatu yang gampang ternyata dan saya merasa salut kepada para guru di Indonesia yang telah berhasil mengantarkan anak didiknya berhasil mendapatkan ilmu untuk menapaki kehidupan. Saya tetap mengajar dengan kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri saya. Mengajar kelas speaking tak semudah yang saya kira. Saya juga dituntut untuk kreatif menciptakan suasana kelas yang tidak membosankan, menjadikan siswa-siswa tersebut tetap bersemangat belajar ternyata butuh perjuangan ekstra keras.
Kendala yang saya hadapi adalah setiap hari saya mengajar dua kali untuk kelas yang sama, terutama untuk sesi kedua karena proses pembelajaran berlangsung siang hari jam 11.30 saat hari terik dan panas-panasnya. Hal ini saja bisa membuat siswa dengan enggan datang ke kelas, atau siswa mengambil program lain dan harus dengan terpaksa meninggalkan kelas saya.
Saya masih mencari bagaimana cara mengajar yang baik. Saya banyak mencari informasi, baik dari browsing internet, membeli buku-buku tentang bahasa Inggris, mengikuti kelas orang lain untuk mengetahui cara mengajar bahasa Inggris agar kelas tidak bosan, agar teman-teman didik saya menjadi kerasan dan nyaman dengan kelas dan gurunya.
Hari pertama dan kedua saya hanya bisa berharap bisa melewati waktu-waktu mengajar bisa berjalan cepat. Apa jadinya, kelas menjadi sangat membosankan dan hal ini bisa saya rasakan juga dari ekspresi wajah-wajah siswa-siswa tersebut dan hal ini benar-benar membuat saya khawatir sekali.
Saya mengakui banyak hal yang kurang dalam mengajar bahasa Inggris, saya juga masih belajar dalam menggunakan bahasa internasional ini. Banyak hal yang perlu saya perbaiki. Tak bisa dipungkiri juga mungkin hati teman-teman didik saya terbersit sekilas “Apakah tutor saya yang di depan sedang mengajar saya ini seorang yang kompeten?” Pertanyaan sama juga muncuk dari diri saya sendiri. Ada rasa tanggung jawab yang sedang saya emban untuk mengantarkan teman-teman didik saya bisa mengerti apa yang sedang saya ajarkan.
Ada rasa bangga juga, saya bisa menjadi seorang guru bahasa Inggris, tanpa saya minta ada kata sandang baru yang melekat di nama saya Mr. begitulah teman-teman didik saya memanggil tak hanya di situ, ada beberapa teman diluar kelas yang memanggil saya seperti itu. Saya sebenarnya agak geli juga mendengarkan teman-teman memanggil saya dengan embel-embel Mr. sebagai kata sandang yang melekat di nama saya. Sebenarnya saya lebih suka dipanggil dengan nama saya saja.
Waktu dua minggu untuk suatu periode mengajar bahasa Inggris bukanlah waktu yang cukup. Saya hanya mengaacu pada kuriikulum sebagai panduan saya dalam mengajar. Namun hal itu saya rasa kurang mumpuni untuk membantu teman-teman didik saya untuk bisa, setidaknya memupuk kepercayaan diri untuk berbicara dalam bahasa Inggris. Saya juga merasakan dan bahwa waktu dua minggu adalah waktu yang singkat adanya. Menurut saya jika saya berposisi sebagai seorang yang menuntut ilmu hal itu bukanlah waktu yang cukup. Dalam bahasa begitu banyak hal yan gseharusnya saya dapatkan.
Berikut adalah kutipan-kutipan kritik dan saran dari teman-teman didik saya ketika kelas pertama saya berakhir.
“Assalamulaiakum….
Saya senang bisa bergabung di kelas Grammar Speaking, bisa punya kenalan baru.
Saya merasa kemampuan saya berbicara dengan Bahasa Inggris jauh lebih baik berkat bantuan Mr. Fikri dan teman-teman lainnya.
Kelas ini sudah berakhir tapi masih boleh konsul kan Mr. Fikri! He… he…
Terima kasih atas bantuan dan motifasinya selama ini, saya akan selalu mengenangnya.
Wassalam…”
“1. Harus lebih terstruktur lagi dalam menyampaikan materi.
2. Harus konsisten terhadap metode yang digunakan selama ini.
3. Harus bisa meningkatkan semangat perserta didik.
4. Perbanyak soal latihan grammar.
5.Perbanyak waktu presentasi.”
“Saran : Tingkatkan kualitas, harus lebih tegas J
Pesan: Di awal program harusnya dikasih rincian pembelajaran selama 2 minggu, jadi kita bisa mempersiapkan sebelumnya.
Kesan: Merasa jauh lebih baik setelah belajar di program ini meskipun Cuma 2 minggu. saya harap dapat bertemu kembali di lain waktu. Terima kasih J”
“1. Mr. Fikri baik dan sebaiknya lebih baik lagi nantinya.
2. Lalu sebaiknya member materi dengan lebih luwes, lebih menyenangkan.
3. Kasih semangat ke teman-teman juga dengan lebih menyenangkan biar teman-temannya yang lain lebih semangat lagi.
4. See ya… J”
Itu lah komentar-komentar, saran-saran, kesan-kesan, kritik-kritik yang diberikan kepada saya selama mengajarkan materi program Grammar Speaking kepada teman-teman didik saya.
Terima kasih untuk semuanya, kerjasamanya, semangatnya. Semoga saya bisa konsisten dan istiqomah dengan jalan yang saya pilih.
Sukses selalu untuk kalian. Beni, Hury, Cyin-Cyin, Andri, Ratna, Sule, Arif.