Pagi itu adalah hari pertama dimulainya kembali rutinitas kegiatan belajar setelah beberapa pekan liburan sekolah berakhir. Ya, atribut mengajar kembali saya kenakan setelah ia terlipat sesak bertumpuk dengan sabar di lemari tua di pojok kamar. Meskipun ini bukanlah hari pertama saya menjadi guru di sekolah ini dan kegiatan belajar telah dipersiapakan beberapa hari sebelumnya dengan segala perlengkapan yang dibutuhkan, tapi masih ada sedikit kekhawatiran yang saya rasakan. Karena ini adalah tahun pelajaran baru dimana saya harus menghadapi siswa-siswa dan wali siswa yang baru. Di minggu pertama hal tersebut sedikit lebih berat karena proses adaptasi, terutama pada anak. Menangis, tidak mau dilepas atau ditinggal sendiri oleh ayah/ibu yang mengantar, ingin terus didampingi, dll adalah hal yang kerap terjadi pada pecan pertama. Namun keyakinan akan pertolongan ALLAH dan dalam rangka ibadah untuk mengajarkan ilmu pada calon – calon generasi bangsa mampu menepis kekhawatiran yang saya rasakan. Doa pun tak lupa terucap, dan saya pun melangkang dengan mengharap ridhoNYA.
Hari berjalan dengan penuh keistimewaan dan selalu ada pengalaman-pengalaman baru yang kami (saya dan siswa dikelas) rasakan. Ternyata hal yang saya khawatirkan sebelumnya hanya ketakutan saya saja. Siswa-siswa yang saya bimbing mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya dengan sangat baik. Memang pada awalnya ada dari beberapa siswa yang merasa tidak nyaman untuk dilepas dan ingin ditemani oleh ayah/ibunya pada saat itu, ada juga yang terpaksa menangis karena mendadak pendamping mereka sudah tidak terlihat di samping mereka. Alhasil mereka kebingungan mencari pendampingnya sambil sesekali menghapus air mata yang terus mengalir dipipi tembemnya. Terlihat lucu memang, tapi disitulah proses saling mengenal itu dimulai. Mulai dengan merayu dan mendekati mereka dengan mainan-mainan, mengalihkan perhatian mereka dengan cerita atau permainan-permainan yang biasa disukai oleh anak-anak seusia mereka. Alhamdulillah pertolongan ALLAH saya rasakan seketika itu juga. Tangisan mereka mulai berganti dengan senyuman dan tawa gembira. Mereka juga mulai berinisiatif untuk saling mendekat dan bergabung dengan siswa yang lain meskipun masing-masing belum hafal nama temannya dan memanggil dengan sebutan” mbak, mas, bahkan hei !” dan dalam hati saya berkata, hari pertama SUKSES ! Alhamdulillah.
Namun proses saling mengenal tidak berhenti sampai disitu, hari demi hari karakter asli dari tiap-tiap siswa mulai terlihat makin jelas. Nah ! (baru ketahuan sekarang). Yang semula terlihat pendiam dan malu-malu mulai menunjukkan ke-eksistensian dirinya. Ada yang mengekspresikan diri dengan banyak berbicara atau bercerita, ada yang tidak bisa sejenak untuk tenang dan banyak melakukan aktivitas motorik, ada yang sensitive, cepat marah dan mulai menggunakan anggota badan untuk melampiaskannya misalnya memukul, menendang, dan masih banyak lagi karakter yang muncul pada tiap siswa. Hal tersebut pasti dialami oleh semua pendidik di sekolah manapun, dan itu menjadi motivasi tersendiri bagi saya, pengalaman mendidik merupakan pembelajaran untuk saya. Anak-anak tidak hanya belajar atau menimba ilmu dari gurunya namun saya pun banyak belajar dari mereka. Ibarat cermin mereka menjadi media yang membuat saya terus tergugah untuk memperbaiki diri.
Saya mengajarkan pada mereka untuk sabar, saling berbagi, saling memberi dan meminta maaf, membiasakan berdoa di tiap aktivitas belajar, belajar beribadah dengan khusyu’, mengaji, menasehati mereka untuk selalu patuh pada orangtua, saling menyayangi dan rukun dengan saudara, murah senyum, saling menyapa dan memberi salam, dan masih banyak lagi anjuran-anjuran yang telah saya sampaikan pada mereka. Hal itu memaksa saya untuk merenung dan menginstroseksi diri saya, apakah saya juga telah melakukan semua hal yang sama? dengan cara yang baik pula?
Hikmah besar telah tampak di depan mata, bahwa mengajar, mendidik, membimbing atau apalah sebutannya, tidak hanya sekedar membagi ilmu yang kita punya, tidak hanya sekedar membantu siswa untuk menemukan dan mengasah bakat serta potensi mereka, atau hanya membantu mereka menjadi siswa cerdas saja, tapi juga harus mampu mengajarkan pada diri untuk mengaplikasikan dalam perjalanan hidup kita. Saya memberi nasehat pada mereka untuk tidak mudah putus asa, selalu semangat dalam memperluas wawasan ilmu, dll maka hal tersebut pun harus saya lakukan. Meski dalam perjalanannya akan banyak hambatan, tidak semudah seperti saat menyampaikan dalam perkataan namun disitulah letak perjuangannya. Gampangnya, mereka belajar kitapun harus belajar.
Pernah suatu saat, siswa dikelas saya selalu mengatakan”saya tidak bisa” pada setiap kegiatan belajar yang dilakukan terutama pada kegiatan yang mengharuskan dia untuk memegang pensil atau semacamnya, misalnya mewarnai atau menulis. Pada tiap kegiatan belajar dan tugas mulai dibagikan maka dia mulai sibuk memanggil ustadzahnya dan mengatakan hal yang serupa. Pada awalnya hal itu lumrah karena dia baru masuk sekolah, tetapi hal tersebut berlanjut ditiap kegiatan belajar.
Sebut saja namamya Adi. Kalimat pertama yang Adi ucapkan adalah“ustadzah, adik ngga bisa”, kata-kata itu diucapakan berulang-ulang padahal dia belum melihat tugas yang diberikan. Hal tersebut membuat saya berpikir, apakah metode yang saya gunakan salah ya? apa bimbingan atau arahan-arahan yang saya sampaikan tidak jelas atau bahkan kurang menarik sehingga dia selalu mengatakan kalimat tersebut. Kemudian, apakah hanya Adi saja yang tidak bisa atau mungkin beberapa siswa lain juga merasakan hal yang sama, hanya mereka tidak berani mengutarakan secara langsung seperti yang dia sampaikan. Saya coba me-recheck pada masing-masing siswa. Ternyata memang ada juga siswa lain yang tidak bisa menyelesaikan tugas juga, hanya dia tidak menyampaikan dan menunggu untuk di bantu ustadzahnya untuk menyelesaikan. Berarti cara saya memberikan penjelasan atau instruksi kurang tepat, kemudian saya mencoba memperbaiki cara dalam memberi bimbingan dalam menyelesaikan tugas. Untuk siswa yang lain hal tersebur member pengaruh yang lebih baik tapi tidak dengan si Adi. Dia tetap mengatakan kalimat yang sama, dan tidak menunjukkan sikap untuk mencoba terlebih dahulu. Adi akan pasang tampang cemberut ketika saya mulai mendekati dan memintanya untuk mencoba dulu, saya mulai membimbing dengan menuntun jemarinya memegang krayon untuk menggoreskan warna pada gambar yang ada, Karena pada saat itu kegiatan belajar mewarnai gambar. Namun seperti ada penolakan, Adi sangat tidak bersemangat dan gerakan jemarinya menunjukkan kalau dia tidak tertarik dengan kegiatan tersebut. Hari-hari selanjutnya saya beri dia kebebasan untuk mengerjakan tugasnya dengan cara dia sendiri, tidak ada target harus selesai, asalkan Adi mau menggoreskan penanya saja itu sudah cukup sambil terus memotivasi dengan kalimat positif misalnya”adi bisa, adi pasti bisa, adi pandai, adi sholih, dst”. Saat itu saya juga ingin mengamati apa yang akan dia lakukan, dan bagaimana cara dia menyelesaikan tugas tersebut. Apa yang terjadi ketika saya tidak mendampingi saat Adi mengerjakan tugas? Dia berkeliling dan mulai beraksi dengan menggoreskan krayon pada lembaran tugas milik temannya, kelas menjadi sedikit gaduh. Hal ini cukup membuat saya pusing dan penasaran untuk dapat segera menemukan jawaban, kenapa ya? Apa ya? Bagaimana ya? Dan banyak pertanyaan-pertanyaan yang mampir di otak saya.
Sementara saya belum menemukan cara lain, selain terus mendamping Adi saat dikelas dan tidak berhenti untuk terus memberi bimbingan dengan cara yang berbeda tiap harinya. Dan saya juga terus berdiskusi dan meminta masukan pada teman pengajar yang lain. Hingga suatu saat dia bercerita tentang kakaknya yang kebetulan juga sekolah ditempat yang sama, yang saya tangkap Adi mengidolakan kakaknya pada saat itu. Adi juga suka singgah sebentar didepan pintu kelas kakaknya dan melihat kakaknya beraktivitas. Muncul ide untuk menjadikan sang kakak sebagai senjata untuk memotivasinya supaya mau mengikuti atau setidaknya mencoba mengerjakan tugas yang diberikan. Kalimat yang saya sampaikan sangat sederhana, saat adi mengucapkan”ustadzah adik tidak bisa” saya mulai bertanya dan mengatakan bahwa “kakak juga sayang sama adik, disekolah kakak juga melakukan hal yang sama, dikelas kakak juga menulis, mewarnai,dll. Alhamdulillah pertolongan Allah kembali saya rasakan. Setelah hari itu, kalimat”ustadzah adik tidak bisa!” berubah menjadi “ustadzah, adik sudah bisa!” dia mengucapkan dengan senyum mengembang dan penuh percaya diri sambil menunjukkan hasil karya yang sudah dia selesaikan. Meskipun masih dikerjakan dengan sederhana namun semangat dia untuk mau berusaha menjadi kelegaan tersendiri buat saya. Sejak saat itu Adi sudah tidak pernah lagi mengatakan “tidak bisa” kalaupun ada kesulitan saat belajar dia akan menanyakan dan minta diberitahu agar dapat menyelesaikan kegiatan belajar dengan mandiri.
Kadang-kadang hal yang kita anggap sulit ternyata hanya membutuhkan solusi yang simple dan mungkin sangat sederhana. Pengalaman-pengalaman mengajar anak usia dini menjadi pembelajaran yang istimewa untuk saya pribadi. Bahwa belajar itu tidak mengenal waktu, dan belajar itu harus diupayakan. Menjadi guru bukan berarti kita telah pandai dalam berbagai hal, tapi menuntut kita untuk terus memperluas keilmuan dan terus berinovasi dalam membimbing siswa, meng-up grade diri untuk menjadi semakin baik dan masih banyak lagi hal yang harus dilakukan. Hal yang terpenting yaitu me-niatkan bahwa setiap aktivitas yang dilakukan sebagai ibadah dan semata-mata mengharap Ridlo Allah SWT. Insyaallah kemudahan-kemudahan akan didapat, dan ilmu yang dipelajari atau disampaikan kepada anak didik akan bermanfaat untuk masa depan mereka kelak. Karena mereka adalah calon-calon pemimpin umat masa depan yang akan mengubah peradaban bangsa ini ke arah yang lebih baik.
Saya yakin tiap guru mempunyai pengalaman yang lebih istimewa dan menarik bahkan mungkin luar biasa untuk diceritakan. Ini hanya sebagian dari cerita sederhana yang mudah-mudahan bisa sedikit menginspirasi para guru atau para pembaca yang membaca tulisan ini. Semoga.
Buat para pendidik, Terus berjuang! dengan izinNYA, insyaallah BISA !