
Entah mengapa akhir-akhir ini saya menonton anime dengan judul panjang. Dulu judulnya ya pendek-pendek ya, paling hanya Dragon Ball, Kungfu Boy, Doraemon. Sekarang, saya justru menonton Hero Without a Class: Who Even Needs Skills?!Who Even Needs Skills?! . Judulnya menjadi satu dengan komentar atau curahan hati karakter utamanya ya x__z.
Dunia pada serial ini adalah dunia yang penuh keajaiban. Sebagian besar penghuninya memiliki kemampuan spesifik tergantung dari kelas pekerjaannya masing-masing. Ketika mencapai usia sekitar 10 tahun, semua anak dapat dideteksi masuk kelas apa. Kelas inilah menentukan keahlian khusus dan jurus spesial yang dapat muncul ketika dilatih dengan optimal.
Jenis-jenis kelasnya seperti pada permaian fantasy RPG (Role Playing Game). Ada kelas penyihir, ahli pedang, pemanah, dan lain-lain. Kemudian terdapat pula kelas turunan yang menunjukkan jurus khusus dan keahlian yang lebih kuat dan spesifik.
Memiliki 2 orang tua dengan kelas turunan yang bergengsi, tidak membuat Arel (Kensho Ono) serta merta memiliki kelas yang sama bersinarnya dengan orang tuanya. Alat pendeteksi justru mengkategorikan Arel sebagai classless. Artinya Arel adalah seseorang yang tidak memiliki kelas. Maka kemungkinan besar ia pun tidak akan memiliki keahlian tertentu.
Bagaimana bisa? Ayah Arel adalah Archmage legendaris dengan julukan Magic King. Ibu Arel adalah Sword God dengan julukan Sword Princess. Arel tidak memperoleh keduanya.
Menolak untuk menyerah, Arel terus melatih dirinya untuk menguasai keahlian dan jurus khusus yang ia inginkan. Menjadi seorang classless ternyata memberikan ruang terbuka bagi Arel untuk bebas berkembang. Ia dapat memilih menjadi apapun yang ia inginkan. Semua dapat dilakukan tanpa harus tunduk kepada kotak-kotak kelas pekerjaan yang berlaku di masyarakat.

Selain kerja keras dan giat berlatih, Arel ternyata memiliki satu bakat khusus. Kemampuan dalam mengamati. Ketika sudah beberapa kali melihat jurus khusus atau kemampuan khusus seseorang, Arel dapat melakukan replikasi. Bukan hanya meniru, ia bahkan lama kelamaan mampu mengembangkannya menjadi lebih dahsyat. Jurus ahli pedang dapat Arel buat menjadi lebih mematikan. Aneka sihir dari 5 elemen mampu Arel satukan menjadi 1 sihir berkekuatan besar. Banyak lagi yang mampu Arel lakukan sebagai seorang classless.

Ada perasaan menyenangkan ketika melihat Arel mengguli karakter-karakter yang memandangnya sebelah mata. Orang-orang akan mengganggap Arel lemah ketika mereka melihat label Arel sebagai seorang classless. Saya sadar betul ini agak medioker ya. Tapi tetep saja serial ini berhasil memberikan rasa senang yang tidak berkurang.

Namun bagaimanapun juga, terkadang saya agak bosan karena Arel ini 99% pasti menjadi nomor 1. Kisahnya relatif mudah ditebak.
Fan service pada serial ini pun seringkali menjadi-jadi. Karakter wanita seolah tergila-gila oleh Arel. Seorang classless yang pada akhirnya mendapatkan segalanya.

Inipulalah yang membuat saya merasa bahwa serial ini bukan untuk anak-anak. Gaya animasinya cocok bagi anak-anak sih. Tapi beberapa komedinya adalah komedi dewasa. Kisah singkatnya pun ada yang agak tabu yaaa. Entah remaja pun cocok untuk menontonnya. Semua ini hadir dalam perkataan dan cerita saja yaa, bukan dalam bentuk visual.
Serial Hero Without a Class: Who Even Needs Skills?!Who Even Needs Skills?! ini memang asalnya merupakan novel ringan yang kemudian diadaptasi menjadi manga dan anime. Jadi konsep awalnya memang bukan untuk anak kecil.

Sebagai hiburan ringan yang tidak perlu memerah pikiran, serial ini terbilang menyenangkan untuk diikuti. Saya rasa serial ini layak untuk memperoleh nilai 3 dari skala maksimum 5 yang artinya “Lumayan”.
Sumber: a-cat.co.jp




































































