Alkaaf Weblog

Menjalin Silaturrahim Habaib

Pesan Pemimpin Besar Revolusi Islam Menyusul Pembantaian Sadis Warga Palestina di Gaza

Diposkan oleh: alkaaf pada Desember 28, 2008

Bismillahirrahmanirrahim

Innalillahi wa Inna ilahi raji’un

Kejahatan besar yang dilakukan Rezim Zionis Israel di Gaza dan pembantaian ratusan warga; laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang tertindas, sekali lagi menunjukkan wajah bengis serigala-serigala zionis yang haus darah dan membuka kedoknya yang selama bertahun-tahun tersembunyi di balik tabir kedustaan. Kejahatan ini sekaligus menjadi peringatan bagi mereka yang lalai dan para pencari ‘damai’, akan bahaya besar dari kehadiran kelompok kafir harbi ini di jantung negeri umat Islam. Duka yang ditimbulkan oleh pembantaian sadis ini sangat memukul hati setiap insan Muslim, bahkan menyentak siapa saja yang memiliki hati nurani dan kehormatan, di manapun dia berada. Akan tetapi duka yang lebih besar dari itu adalah sikap bungkam bernuansa dorongan yang ditunjukkan oleh sejumlah rezim Arab dan yang mengaku menjadi bagian dari dunia Islam. Bukankah para penguasa negeri-negeri Muslim sepatutnya membela warga Gaza yang tertindas dan berhadap-hadapan dengan rezim perampas, kafir dan agresor, bukan malah menunjukkan sikap yang membuat para pejabat zionis menyebut mereka sebagai pihak yang setuju dengan kejahatan besar itu. Adakah petaka yang lebih besar dari ini?

Jawaban apa yang bakal diberikan kelak oleh para penguasa negara-negara itu ketika mereka berhadapan dengan Rasulullah SAW? Jawaban apakah yang bisa mereka berikan kepada rakyat mereka sendiri yang sudah pasti tengah berkabung atas terjadinya tragedi ini? Sudah pasti hati rakyat Mesir, Jordania dan negara-negara Islam tengah terpanggang menyaksikan pembantaian besar terhadap warga Gaza yang sebelum ini telah mengalami blokade berkepanjangan tanpa adanya suplai makanan dan obat-obatan.

Pemerintahan Bush yang telah melakukan banyak kejahatan, di hari-hari akhir kekuasaannya yang penuh cela kian menenggelamkan rezim Amerika Serikat ke dalam nista dengan keterlibatannya dalam pembantaian ini. Peristiwa Gaza semakin mempertebal berkas kejahatan perang pemerintahan Bush. Rezim-rezim Eropa kembali membuktikan kebohongan klaim-klaim mereka tentang Hak Asasi Manusia dengan sikapnya yang tak peduli bahkan mendukung terjadinya pembantaian besar ini. Sekali lagi mereka membuktikan bahwa mereka berada di barisan front yang memusuhi Islam dan umat Muslim.

Kini pertanyaan yang saya ajukan kepada para ulama dan para rohaniawan di dunia Arab, juga kepada para pemimpin di negeri manapun, bukankah kini telah tiba saatnya bagi Islam dan umat Muslim untuk merasakan adanya ancaman? Bukankah kini telah tiba saatnya bagi kalian untuk melaksanakan kewajiban mencegah kemungkaran dan menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim?

Adakah medan peristiwa lain yang lebih nampak jelas di depan mata ketimbang Gaza dan Palestina yang memperlihatkan kerjasama kaum kafir harbi dengan para munafik di tengah umat dalam aksi menumpas kaum muslimin, sehingga kalian baru merasa adanya kewajiban di pundak kalian?

Pertanyaan saya kepada media massa dan para cendekiawan di dunia Islam, khususnya di dunia Arab, kapan kalian akan mengakhiri sikap tak peduli terhadap kewajiban yang kalian pikul sebagai insan media dan kalangan cendekia? Adakah cela yang lebih besar bagi lembaga-lembaga Hak Asasi Manusia di Barat dan lembaga yang disebut Dewan Keamanan PBB dari apa yang ada saat ini?

Semua mujahid Palestina dan semua insan mukmin di dunia Islam wajib melakukan apa saja yang bisa mereka lakukan untuk membela perempuan, anak-anak dan warga yang lemah di Gaza. Siapa saja yang terbunuh dalam menjalankan tugas mulia dan suci ini berarti dia mati syahid, dan semoga dia dibangkitkan kelak bersama para syuhada Badr dan Uhud yang berjuang bersama Rasulullah SAW.

Organisasi Konferensi Islam (OKI) harus melaksanakan tugas dan kewajibannya pada situasi yang genting dan bersejarah ini. Organisasi ini hendaknya membentuk satu barisan bersama yang tegas dan tak reaktif dalam menghadapi rezim zionis Israel. Rezim Zionis harus dihukum oleh negara-negara Islam. Para pemimpin rezim pendudukan itu harus diseret ke pengadilan untuk diadili dan dihukum karena kejahatan ini dan karena aksi blokade berkepanjangan yang mereka lakukan.

Bangsa-bangsa Muslim bisa mewujudkan harapan itu dengan tekad mereka yang kuat. Tugas yang diemban oleh para politisi, ulama dan kaum cendekiawan pada masa yang genting ini lebih besar.

Saya mengumumkan hari Senin sebagai hari berkabung umum untuk mengenang pembantaian sadis di Gaza dan menyeru kepada para pejabat negara untuk melaksanakan tugas mereka masing-masing terkait peristiwa yang menyayat hati ini.

وَ سَیعلَمُ ‌الذین ظَلَموا اَیّ مُنقلبٍ یَنقلبون

Dan kelak orang-orang zalim akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (Q.S Al-Syu’araa’: 227)

Sayyid Ali Khamenei

8 Dey 1387 HS (28 Desember 2008)

29 Dzulhijjah 1429 H

(www.taghrib.ir)

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Sang Sayyid: Syiah dan Sunni Sadari Makar Musuh Islam

Diposkan oleh: alkaaf pada Desember 17, 2008

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei dalam pertemuan dengan ribuan orang dari berbagai kalangan hari ini, Rabu (17/12), pada peringatan hari raya Ghadir menyebut peristiwa Ghadir Khum yang terjadi tanggal 10 Dzulhijjah tahun 10 hijriyah sebagai peristiwa yang menunjukkan pentingnya masalah pemerintahan dalam Islam. Langkah Nabi SAW di akhir-akhir hayatnya dengan mengumumkan Imam Ali as sebagai penerus beliau untuk memimpin umat Islam sebagai bukti kepedulian besar Islam terhadap masalah kepemimpinan.

Beliau menegaskan bahwa peristiwa Ghadir memberikan pelajaran kepada umat Islam bahwa kekuasaan atas masyarakat Muslim harus diserahkan kepada orang-orang yang menjunjung tinggi sifat-sifat agung yang ada pada diri Amirul Mukminin as, serta berusaha keras untuk mendekatkan diri kepada sifat-sifat yang sangat mulia itu. Imam Ali as adalah figur yang memiliki banyak karakteristik mulia dalam bentuknya yang sempurna seperti kepasrahan mutlak kepada keridhaan Allah swt, jihad di jalan Allah dengan segala kesulitannya dan tanpa henti, pengorbanan di jalan kebenaran dan hakikat, keteguhan yang bagai baja dalam menghadapi musuh Allah, berpaling dari gemerlap duniawi, serta rendah hati di hadapan orang-orang lemah dan tertindas.

Ayatollah Al-Udzma Khamenei menyatakan bahwa Syiah memandang peristiwa Ghadir yang menjelaskan soal imamah dan kepemimpinan Amirul Mukminin Ali as setelah Nabi SAW sebagai pokok utama keyakinan Syiah, dan kaum Syiah terus mempertahankan dan memegang teguh keyakinan ini bersama keyakinan yang lain dan khazanah keilmuannya meski menghadapi berbagai tekanan dan penindasan. Namun Syiah tidak akan mengizinkan keyakinan ini menjadi faktor pemicu perselisihan dan permusuhan di tengah dunia Islam.”

Seraya menyampaikan ucapan selamat kepada bangsa Iran yang mukmin dan kepada seluruh kaum muslimin atas peringatan hari raya Ghadir, beliau mengimbau semua pihak untuk memahami dengan benar pesan yang dibawa oleh peristiwa ini.

Ayatollah Al-Udzma Khamenei di bagian lain pidatonya menerangkan perbedaan persepsi antara Syiah dan Sunni dalam memandang peristiwa Ghadir Khum. Beliau mengatakan, “Meski ada perbedaan persepsi, namun Syiah dan Sunni sama-sama meyakini terjadinya peristiwa Ghadir. Syiah dan Sunni juga meyakini kebesaran figur Imam Ali as. Seluruh umat Islam memandang Imam Ali bin Abi Thalib as sebagai puncak kemuliaan tertinggi yang tak mungkin bisa disamai dalam ilmu, taqwa dan keberanian.”

Beliau menyeru semua pihak, Syiah dan Sunni, untuk bersikap bijak dan tanggap dalam menghadapi makar dan tipu daya musuh yang berusaha menebar perpecahan di tengah umat Islam. Pemimpin Besar Revolusi Islam menjelaskan bahwa Imam Khomeini (ra) dan Republik Islam Iran selalu berusaha mencegah terjadinya perpecahan di tengah umat Islam. “Kaum arogansi dunia terpukul dengan adanya persatuan pandangan dan ikatan hati antara umat Islam, Syiah dan Sunni, yang tercipta berkat kemenangan revolusi Islam. Karena itulah sentimen madzhab yang mereka pandang sebagai cara terbaik dimanfaatkan untuk menebar pertikaian di tengah umat Islam dan menjauhkan kaum muslimin dari Republik Islam Iran. Karena itu dalam menghadapi tipu daya berbahaya ini diperlukan kecerdasan dan kewaspadaan,” jelas beliau.

Rahbar menjelaskan bahwa banyak sumber yang telah mengungkapkan data akurat tentang adanya dana besar yang telah dikeluarkan oleh musuh-musuh umat Islam dalam upaya menebar perselisihan di tengah umat. Beliau mengingatkan bahwa buku-buku yang penuh dengan tuduhan dan cacian terhadap Syiah dan Ahlussunnah diterbitkan dengan dana yang dikeluarkan oleh lembaga di bawah naungan arogansi dunia. Penerbitan buku-buku seperti itu menurut beliau hanya membantu kepentingan AS dan zionisme internasional.

Di bagian lain pidatonya, Ayatollah Al-Udzma Khamenei mengatakan bahwa penulisan dan penerbitan buku-buku yang memuat argumentasi kuat dan logis, seperti yang dilakukan para ulama Syiah sepanjang sejarah dan terus berlanjut sampai saat ini bukan hal yang tercela. Yang tidak bias dibenarkan adalah menerbitkan buku berisi cacian dan tuduhan kepada umat Islam yang lain. Beliau menegaskan bahwa tipu daya kaum arogan tidak akan pernah bisa melemahkan umat Islam, jika bangsa-bangsa Muslim waspada dan sadar.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Pesan Sang Sayyid untuk Muslimin Musim Haji 1429 H

Diposkan oleh: alkaaf pada Desember 8, 2008

Bismillahirrahmanirrahim.

Dengan Nama Allah yang Maha Penyasih Maha Penyayang

payam-hajj1Untuk kesekian kalinya, negeri wahyu menghimpun jumlah besar kaum Mukminin dalam jamuan tahunannya. Kini, di tanah kelahiran Islam dan Al-Quran, betapa jiwa-jiwa perindu dari seluruh penjuru dunia gairah melaksanakan manasik-manasik yang – dengan merenungkan makna-maknanya – dapat menampilkan selayang dari pelajaran abadi Islam dan Al-Quran kepada umat manusia. Itulah amalan-amalan yang merupakan langkah-langkah simbolik dalam menerapkan dan mengamalkan pelajaran tersebut.

Tujuan dari pelajaran besar ini ialah kesuksesan dan kebanggaan abadi manusia yang dicapai dengan jalan mendidik manusia yang shaleh dan membentuk masyarakat yang juga shaleh. Manusia yang shaleh yaitu manusia yang menyembah Allah Yang Maha Esa dengan hati dan perilakunya, membersihkan dirinya dari kesyirikan dan kotoran-kotoran akhlak serta keinginan-keinginan yang menyimpang. Dan masyarakat yang shaleh yaitu masyarakat yang dalam rangka pembangunannya, menerapkan nilai keadilan, kemandirian, keimanan, kegigihan dan segenap tanda-tanda kehidupan dan kemajuan.

Dalam kewajiban ibadah haji, benih-benih dasar pendidikan personal dan sosial telah ditanamkan. Mulai dari berihram, menanggalkan identitas-identitas pribadi dan meninggalkan sekian banyak kesenangan dan keinginan hawa nafsu, hingga bertawaf di sekeliling lambang Tauhid, melakukan shalat di maqam Ibrahim -seorang nabi penghancur berhala dan bapak pengorbanan- dan mulai dari bergerak cepat di antara dua bukit hingga beristirahat di padang Arafat di tengah hamparan luas orang-orang yang beriman dari berbagai etnis dan warna kulit, serta menghabiskan satu malam dengan dzikir dan doa di padang Masy’aril Haram, kerinduan masing-masing hati bersama Allah di tengah keramaian gelombang umat, kemudian berada di Mina dan melontar lambang-lambang setan, lantas mewujudkan makna berkurban dan memberi makan kepada kaum miskin serta orang-orang yang dalam beban perjalanan. Semua dan semua ini adalah pendidikan, pembinaan dan penyadaran.

Dalam rangkaian [manasik] yang lengkap ini; dari satu sisi, ada ketulusan dan kejernihan serta keterputusan hati dari kesenangan-kesenangan dunia; dari sisi lain, ada usaha dan kerja serta kegigihan; dari sisi lain, ada keintiman dan kesendirian bersama Allah; dari sisi lain, ada kesatuan dan keseutuhan hati serta kesetaraan antarsesama makhluk; dari sisi lain, ada upaya merias hati dan jiwa; dari sisi lain, ada kepercayaan pada solidaritas satu tubuh besar umat Islam; dari sisi lain, ada kekhusyukan di hadapan Allah; dari segi lain, ada ketegaran berdiri di hadapan kebatilan; singkatnya, hidup dalam suasana akhirat dari satu sisi, dan kehendak yang kuat untuk merias dunia dari sisi lain. Semua sisi-sisi ini diajarkan dan dipenatarkan secara utuh dan terpadu. Allah Swt. berfirman,

وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Dan dari mereka ada yang berkata, ‘Ya Tuhan kami! Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari siksa neraka.’” (Al-Baqarah: 201).

Demikian pula Ka’bah yang mulia dan manasik-manasik haji sebagai bekal keberadaan dan kebangkitan masyarakat dan kekayaan manfaat bagi umat manusia.

جَعَلَ اللّهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيَامًا لِّلنَّاسِ
“Allah telah menjadikan Ka’bah; rumah Suci itu sebagai pusat (peribadatan dan kehidupan) bagi manusia.” (Al-Ma’idah: 97).

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ

“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.” (Al-Hajj: 28).

Hari ini, kaum Muslimin dari berbagai negara dan suku bangsa harus lebih dari biasanya; menghargai kewajiban besar ini dan memanfaatkannya, karena ufuk di depan mata umat Islam sekarang lebih cerah dari sebelumnya, dan harapan untuk mencapai cita-cita – yang telah digariskan oleh Islam bagi setiap orang dan masyarakat Muslim – semakin lebih terang dari biasanya. Jika umat Islam selama dua abad sebelum ini telah tertimpa keruntuhan dan kegagalan di hadapan peradaban materialistik Barat dan sistem-sistem ateistik dengan berbagai kubu kanan dan kiri mereka, namun kini, di abad kelima belas Hijriyah ini, sistem-sistem politik dan ekonomi Baratlah yang justru terperangkap dalam lumpur dan menderita kelemahan, keruntuhan dan kekalahan. Sementara dengan kesadaran kaum Muslimin, kebangkitan identitas diri mereka, mengemukanya pemikiran yang berasas pada tauhid, logika keadilan dan spiritualitas, maka Islam telah memulai kembali sebuah era baru dari kemajuan dan kewibawaannya.

Orang-orang yang -dalam beberapa masa lalu- membacakan ayat-ayat putus asa dan percaya bahwa bukan hanya Islam dan kaum Muslimin, bahkan pondasi spiritualitas serta hidup beragama telah lenyap di bawah serangan peradaban Barat, akan tetapi sekarang mereka itu justru sedang menyaksikan kekuatan Islam, kebangkitan Al-Quran dan Islam, sekaligus juga kelemahan dan keruntuhan bertahap musuh-musuh yang agresor itu. Mereka menerima kenyataan ini dengan hati dan lisan mereka.

Dengan penuh keyakinan, saya tegaskan bahwa ini masih awal perubahan. Namun, wujud sempurna dari janji Allah ialah unggulnya kebenaran di atas kebatilan, dan kebangkitan umat Al-Quran serta peradaban baru Islam sedang dalam proses.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan berkuasa orang-orang sebelum mereka, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka menjadi aman sentausa sesudah mereka dalam ketakutan; mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (Al-Nuur: 55).

Tanda dari janji yang pasti terwujud ini, pada tahap pertama dan terpenting, ialah kemenangan Revolusi Islam di Iran dan bangunan menjulang negara Islam yang telah mengubah Iran menjadi basis yang kokoh untuk pemikiran kedaulatan dan peradaban Islam. Peristiwa spektakuler ini terjadi tepat pada saat memuncaknya kampanye materialistik dan gerakan pemikiran dan politik – kanan maupun kiri – yang anti-Islam. Namun tiba-tiba muncul perlawanan dan kegigihannya menghadapi hantaman-hantaman politik, militer, ekonomi dan propaganda-propaganda yang dilancarkan dari segenap arah. Perlawanan dan kegigihannya telah menghembuskan harapan baru di dunia Islam dan menciptakan gairah dalam jiwa-jiwa. Semakin waktu berlalu, kegigihan ini – berkat kekuatan dan inayah Allah Swt. – semakin meningkat dan harapan itu pun semakin kuat mengakar. Sepanjang tiga dekade berlangsung pada perubahan ini, Timur Tengah dan negara-negara Muslim Asia dan Afrika menjadi medan konfrontasi yang penuh dengan kemenangan.

Palestina, intifada Islam, berdirinya pemerintahan Palestina dan kaum Muslimin; juga Lebanon dan kemenangan bersejarah Hizbullah dan Moqawamah Islamiyah ‘Perjuangan Islam’ atas rejim kejam dan haus darah Zionis [Israel]; Irak dan terbentuknya pemerintahan Muslimin dan demokratis di atas puing-puing rejim ateis dan diktator Saddam; Afganistan dan kekalahan yang memalukan Uni Soviet dan rejim boneka mereka di sana; demikian pula kekalahan dan kegagalan seluruh politik-politik arogansi Amerika untuk berkuasa di atas Timur Tengah; persoalan dan kekacauan yang tak teratasi di dalam rejim perampas hak (Zionis Israel); juga kejutan kemajuan ilmu dan teknologi di negara Republik Islam Iran walaupun di bawah tekanan embargo ekonomi; kekalahan tim penyulut perang di Amerika dalam kancah politik dan ekonomi; kesadaran identitas dan jati diri pada minoritas-minoritas Muslimin di sekian banyak negara-negara Barat; semua dan semua ini adalah tanda-tanda yang nyata dari kemenangan dan kemajuan Islam dalam konfrontasi dengan musuh-musuh di abad ini; yakni di abad kelima belas Hijriyah.

Saudara-saudari! Kemenangan dan keunggulan ini semata-mata hasil dari jihad ‘perjuangan’ dan keikhlasan. Yaitu, ketika suara Allah dari rongga hamba-hamba Allah sampai ke telinga; ketika semangat dan tenaga para pejuang di jalan kebenaran tumpah di tengah medan, ketika kaum Muslimin membuktikan ikrar dan janjinya dengan Tuhan mereka, maka ketika itulah Allah Yang Maha Tinggi Maha Kuasa akan membuktikan nyata janji-Nya sehingga perjalanan sejarah pun pasti berubah.

وَأَوْفُواْ بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ
“Penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu.” (Al-Baqarah: 40).

إِن تَنصُرُواْ اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
“Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia menolongmu dan mengokohkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7).

وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ
“Dan Allah benar-benar akan menolong orang yang menolong-Nya. Sesungguhnya Allah-lah Maya Kuat lagi Maha Perkasa.” (Al-Hajj: 40).

إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ ءَامَنُواْ فِى الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ

“Sesungguhnya Kami pasti menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman di kehidupan dunia dan di hari bangkitnya saksi-saksi.” (Al-Ghafir: 51).

Ini semua adalah awal perjuangan. Bangsa-bangsa Muslim masih dihadang oleh tantangan-tantangan besar. Tantangan-tantangan ini tidak dapat dilewati kecuali dengan keimanan dan keikhlasan, dengan harapan dan jihad, dengan ketajaman pandangan dan kesabaran. Jalan ini tidak dapat ditempuh dengan putus asa, pikiran negatif, acuh tak acuh, kehendak yang lemah, tanpa kesabaran dan ketergesa-gesaan, ataupun dengan prasangka buruk terhadap kebenaran janji Allah Swt.

Musuh yang sudah terluka telah dan akan terus mengerahkan segenap kekuatan mereka. Kita harus waspada, sadar, berani dan tahu peluang. Dengan cara inilah semua upaya musuh pasti gagal. Selama tiga puluh tahun ini, musuh itu-yakni terutama Amerika dan Zionisme Israel-selama ada di kancah dengan segenap kekuatan yang bisa mereka gunakan, akan tetapi mereka tetap gagal. Pada masa-masa yang akan datang pun mereka akan terus gagal, insyaallah.

Brutalnya tindakan musuh pada umumnya merupakan tanda dari kelemahan dan kegegabahan mereka. Lihatlah Palestina, khususnya Jalur Gaza. Tindakan-tindakan kejam dan jahat musuh (Israel) di Jalur Gaza – yang jarang ditemukan semacamnya dalam sejarah kekejaman manusia – adalah tanda dari begitu lemahnya mereka dalam menundukkan kehendak kuat kaum lelaki, kaum perempuan, anak-anak muda dan anak-anak belia yang tetap gigih menghadapi rejim militer Israel dan pelindungnya; yakni Adikuasa Amerika, dan mereka mencampakkan tuntutan negara-negara ini supaya mereka tidak lagi memihak pemerintahan Hamas.

Salam sejahtera Allah atas bangsa pejuang dan besar itu! Rakyat di Jalur Gaza dan pemerintahan Hamas telah membuktikan makna ayat-ayat abadi ini,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ. الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ. أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan, dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 155-157).

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُواْ أَذًى كَثِيرًا وَإِن تَصْبِرُواْ وَتَتَّقُواْ فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأُمُورِ

“Kalian sungguh-sungguh akan diuji dalam harta dan diri kalian, dan (juga) kalian sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kalian dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kalian bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (Al ‘Imran: 186).

Pihak pemenang terakhir dalam konfrontasi antara kebenaran dan kebatilan ini tidak lain hanyalah kebenaran. Dan inilah bangsa Palestina yang tertindas dan gigih yang pada akhirnya akan mengalahkan musuh,

وَكَانَ اللَّهُ قَوِيّاً عَزِيزًا
“Dan sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”

Pada hari-hari ini pun, selain kegagalan dalam menumpas perlawanan rakyat Palestina, sebuah kegagalan besar telah merusak kewibawaan pemerintahan Amerika dan lebih besar lagi bagi negara-negara Eropa; kegagalan yang tak dapat dibayar kerugiannya dalam waktu sesingkat ini, yaitu dengan bohong mengaku diri dalam kancah politik sebagai pejuang kebebasan, demokrasi dan slogan-slogan Hak Asasi Manusia. Rejim terhina Zionis Israel lebih legam wajahnya dari sebelumnya, dan ada pula sebagian dari negara-negara Arab yang, dalam ujian besar ini, menjadi pecundang yang melengkapi keterhinaan mereka itu.

وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ
“Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (Al-Syu’araa’: 227).

Salam sejahtera atas hamba-hamba shaleh Allah Swt!

Sayyid Ali Husaini Khamenei
4 Dzul Hijjah Yang Suci, 1429 H.

(http://indonesian.khamenei.ir)

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Fadak Masih Menebar Semerbak Aroma Fatimah (as)

Diposkan oleh: alkaaf pada Juni 15, 2008

Sebuah anugerah yang sangat besar ketika rombongan yang menyertai Ketua Dewan Ahli Kepemimpinan Iran Ayatollah Akbar Hashemi Rafsanjani tanpa menduga sebelumnya berkesempatan ziarah ke Fadak, sebidang tanah luas yang diberikan Nabi SAW kepada putri tercintanya Fatimah Zahra (as)

Wilayah itu saat ini telah berganti nama dan dikenal dengan nama Haith berarti dinding karena dikelilingi oleh dinding. Namun warga yang tinggal di sana turun temurun masih menamakannya Fadak. Meski 14 abad telah berlalu sejak Fadak direbut dari tangan putri Nabi itu, namun tanah ini masih menyimpan memori Fatimah dengan lekat. Banyak orang yang menyebut Fadak dengan nama kota Fatimah. Di sana ada sebuah masjid yang diberi nama masjid Fatimah. Lembah di sekitar itu juga bernama lembah Fatimah.

Mohammad Abdur Rahman Jabir, sesepuh Fadak yang mengiringi rombongan Ayatollah Rafsanjani juga menyebutkan tujuh mata air yang diberi nama mata air Fatimah. Perkebunan korma juga dihiasi dengan nama putri Nabi itu (as).

Rafsanjani menyatakan keinginannya untuk meneguk air dari mata air Fatimah. Ketika para pengawal dari Kerajaan Arab Saudi mencegahnya karena khawatir kondisi air yang mungkin tidak sehat dan tak layak minum, Rafsanjani dengan mata yang berkaca-kaca mengatakan, “Bukankah sebuah kerugian jika kita sampai di sini tetapi tidak meneguk air dari mata air Fatimah?” Jawaban Ayatollah Rafsanjani itu membuat mereka yang hadir menitikkan air mata keharuan.

Fadak masih menebar aroma Fatimah Zahra (as), seperti yang dikatakan Ayatollah Rafsanjani.

Posted in Uncategorized | 1 Comment »

Fatimah Al-Zahra (Alaihassalam) Putri Tercinta Rasul (SAW)

Diposkan oleh: alkaaf pada Juni 3, 2008

Fatimah al-Zahra as (ucapan Alaiha Salam [as] sila rujuk misalnya dalam Sahih Bukhari, Juzuk 5, hadith 368, dan 546) adalah puteri kepada Rasulullah s.a.w. Ibunya Khadijah iaitu isteri Rasulullah s.a.w yang pertama dan amat dikasihinya. Tentang bondanya Khadijah, Rasulullah s.a.w pernah bersabda yang bermaksud: “Empat wanita yang terbaik ialah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiah binti Muzahim isteri kepda Firaun.” [Muhibuddin al-Tabari, Dhakha’ir al-Uqba fi Manaqib Dhawi al-Qurba, hl. 42; Al-Hakim alam al-Mustadrak, Juzuk 3, hlm. 157].

Fathimah as mempunyai nama-nama timangan seperti Ummal Hasan, Ummal Husayn, Ummal Muhsin, Ummal A’immah dan Umma Abiha.

Rasulullah s.a.w menggelarkannya Fathimah as sebagai “Ummu Abiha” bermaksud ibu kepada ayahnya. Ini kerana Fathimah as sentiasa mengambil berat tentang ayahandanya yang dikasihi itu. Selain daripada itu gelaran-gelaran lain ialah Zahra, Batul, Siddiqah Kubra Mubarakah, Adhra, Tahirah, dan Sayyidah al-Nisa.

Fatimah dilahirkan pada 20 Jamadil Akhir di Mekah iaitu pada Hari Juma’at, tahun kelima selepas kerasulan Nabi Muhammad s.a.w [Manaqib Ibn Shahrashub, (Najaf), Juzuk 3, hlm. 132; al-Kulaini, al-Kafi; Misbah al-Kaf’ami; Syeikh al-Mufid, Iqbal al-Amal]. Tempat beliau dilahirkan ialah di rumah ayahanda dan ibundanya iaitu Rasulullah s.a.w dan Khadijah ak-Kubra. Beliau AH wafat pada tahun ke-11 hijrah iaitu selepas enam bulan kewafatan ayahandanya Rasulullah s.a.w [al-Bukhari, Sahih, Juzuk 5, Hadith 546]

Kelahiran Fathimah as amat menggembirakan Rasulullah s.a.w. Beliau s.a.w bersabda tentang Fathimah as: “Dia adalah daripadaku dan aku mencium bau syurga dari kehadirannya.” [Kasyf al-Qummah, Juzuk 2, hlm. 24].

Mengapa diberikan Nama Fatimah? Menurut Imam Ali al-Ridha AS nama “Fatimah” diberikan oleh Rasulullah s.a.w Fathimah as dan para pengikutnya terpelihara dari api neraka. Imam Ja’far al-Sadiq AS berkata: ” Rasulullah s.a.w bersabda kepada Ali AS: Tahukah kamu nama mengapa nama Fatimah diberikan kepadanya? Ali menjawab: Mengapa dia diberikan nama itu? Dia (Rasulullah s.a.w) bersabda: Kerana dia dan golongannya akan diperlihara dari api neraka.”

Ketika masih berumur dua tahun Fathimah as turut bersama-sama ayahanda dan bondanya di perkampungan Shi’bi Abi Talib kerana di boikot oleh masyarakat Mekah. Kemudian pada tahun ke sepuluh kerasulan, bondanya Khadijah pula meninggal dunia. Peristiwa ini menjadikan Fatimah banyak bergantung hidup kepada ayahandanya Muhammad Rasulullah s.a.w.

Dalam peristiwa hijrah ke Madinah, Fathimah as bersama-sama dengan rombongannya iaitu Fatimah binti Asad bin Hashim iaitu ibu kepada Imam Ali AS, Fatimah binti al-Zubair bin Abdul Muttalib,Fatimah binti Hamzah, dan juga Ayman dan Abu Waqid al-Laithi berhijrah ke Madinah. Rasulullah s.a.w telah sampai dahulu di Quba, Madinah. Sebelum meninggalkan Mekah Rasulullah s.a.w telah mengarahkan Ali bin Abi Talib supaya menyusul bersama keluarganya kemudian. Justeru, rombongan hijrah tersebut diketuai oleh Ali bin Abi Talib AS.

Keperibadian Fatimah al-Zahra as

Fathimah as termasuk dalam Ahlul Bayt Rasulullah s.a.w sebagaimana yang dinyatakan dalam ayat al-Tathir dalam surah al-Ahzab: 33. Dalam Surah Al-Ahzab: 33 bermaksud:

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan kalian daripada kekotoran (rijsa), wahai Ahlul Bayt dan menyucikan kamu sebersih-bersihnya.”

Dalam ayat di atas, Fathimah as adalah salah seorang daripada Ahlul Bayt Rasulullah s.a.w dan Allah SWT telah menyucikan Fathimah as dari sebarang dosa-dosa, bermakna Fathimah as adalah seorang yang ‘maksum’ – pendapat sesetengah ulama Ahlul Sunnah. [Sila baca Riwayat hadith al-Kisa]

Riwayat Hadis Al-Kisa

Di bawah ini disebutkan beberapa ulama dan ahli tafsir yang telah meriwayatkan hadith tersebut melalui berbagai sumber. Semua riwayat tersebut saling berhubungan di dalam bentuk yang berbeza-beza dan berikut adalah sebahagian daripadanya:

  1. Muslim, Sahih, Kitab Fadail al-Sahabah, Bab Fadail Ahl Bayt al-Nabi, Jilid VII, hlm.130.
  2. Ahmad bin Hanbal, Musnad, Jilid I, hlm.331; Jilid III, hlm.151-259 dan 285, Jilid IV, hlm.5 dan 107; Jilid VI, hlm. 292, 296, 298, 304, dan 322.
  3. Al-Tirmidzi, Sahih, K-44, Surah H-7, K-46, B-31 dan 60.
  4. Jalal al-Din al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, Jilid V, hlm. 198-199
  5. Syaikh Abd. al-Haq Muhaddith Dehlavi, Asya’atal al-Lamaat, Jilid IV, hlm.278-379.
  6. Abu Dawud al-Tayalisi, Musnad, Jilid VIII, hlm.474, hadith 2055.
  7. Ibn Hajar al-Makki, Al-Sawa’iq al-Muhriqah di bawah tajuk Barahin Qat’iah.

Fatimah az-Zahra AH mempunyai sifat-sifat kemuliaan yang dinyatakan dalam al-Qur’an. Ulama dari pelbagai mazhab bersetuju bahawa ayat al-Qur’an surah Al-Insaan (76); 8-9 ditujukan kepada keluarga Fathimah as iaitu yang bermaksud: “Dan mereka memberikan makanan yang disukai kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberikan makanan kepada kamu hanyalah untuk mendapatkan keredhaan Allah. Tidaklah kami mengharapkan balasan daripada kamu dan tidak juga (ucapan) terima kasih.”

Ayat di atas mengisahkan Hasan dan Husayn AS sedang dalam keadaan sakit. Rasulullah s.a.w dengan beberapa orang sahabat menziarahi mereka. Rasulullah s.a.w mencadangkan kepada Ali AS bernazar kepada Allah SWT bahawa dia dan keluarganya akan berpuasa selama tiga hari apabila anak mereka sembuh dari penyakit tersebut. Ali, Fatimah, dan pembantu mereka, Fizzah bernazar kepada Allah SWT. Apabila Hasan dan Husayn AS sembuh, mereka pun berpuasa. Pada waktu berbuka datang seorang pengemis meminta makanan kepada mereka. Pada hari itu mereka hanya berbuka dengan sahaja. Keesokan hari ini datang seorang anak yatim meminta makanan daripada mereka pada waktu berbuka dan sekali lagi mereka hanya berbuka dengan air sahaja. Pada hari ketiga, datang pula seorang tawanan perang meminta makanan. Selepas memberikan makanan, Ali membawa anak-anaknya ke rumah Rasulullah s.a.w. Rasulullah s.a.w berasa sedih melihat keadaan cucunya itu. Ali AS membawa Rasulullah s.a.w ke rumah mereka. Sampai di sana Rasulullah s.a.w melihat Fathimah as sedang berdoa dengan keadaan yang amat lemah. Rasulullah s.a.w berasa amat sedih. Turun malaikat Jibril berkata kepada beliau s.a.w,” Wahai Muhammad ambillah dia (Fatimah). Allah memberikan tahniah pada Ahl Bayt kamu.” Lalu Jibril membacakan ayat tersebut.[Al-Hakim al-Haskani, Shawahid al-Tanzil, jld.II, hlm.298; al-Alusi, Ruh al-Ma’ani, jld.XXIX, hlm.157; Fakhur al-Razi, Jild.XIII, hlm.395]

Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud:

“Fatimah adalah sebahagian daripadaku. Barang siapa yang membuat dia marah, akan membuat aku marah.” [a-Bukhari, Jilid II, hlm.185]

Imam Ali al-Redha AS berkata bahawa Rasulullah s.a.w bersabda bermaksud:

“Hasan AS dan Husayn AS adalah makhluk yang terbaik di dunia selepasku dan selepas bapa mereka (Ali AS) dan ibu mereka (Fathimah as) adalah wanita yang terbaik di kalangan semua wanita.”.

Dari Imam Ali AS dari Rasulullah s.a.w berkata kepada Fathimah as bermaksud:

“Sesungguhnnya Allah marah kerana kemarahanmu dan redha kerana keredhaanmu.” [Mustadrak al-sohihain, juzuk 3, hlm152]

Dari Aisyah berkata bahawa:

“Tidak pernah aku melihat seorang pun yang lebih benar dalam berhujah daripadanya melainkan ayahnya (Rasulullah s.a.w).”[Mustadrak al-Sohihain, Juzuk 3, hlm.160]

Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadith dari Aisyah berkata bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: “…..Tidakkah engkau redha (wahai Fatimah) bahawa engkau adalah saidati-nisa fil-Jannah (pemimpin wanita di syurga) atau pemimpin wanita seluruh alam…” [Sahih Bukhari, Jld. IV, hadith 819]

Dalam hadith yang lain al-Bukhari meriwayatkan dari Aisyah sebuah hadith yang panjang dan di sini dinyatakan sebahagiannya:

“….Wahai Fatimah! Tidakkah engkau redha bahawa engkau adalah saidati-nisa il-mu’minin (pemimpin wanita mu’minin) atau saidanti-nisa-i hadzhihi il-ummah (pemimpin wanita umah ini)?” [Al-Bukhari, Jilid 8, hadith 301]

Al-Bukhari meriwayatkan hadith dari Imam Ali AS bahawa pada suatu ketika Fathimah as mengadu tentang kesusahannya mengisar tepung. Apabila beliau AH mendengar berita ada beberapa orang hamba dari rampasan perang telah dibawa kepada Rasulullah s.a.w, beliau AH lalu pergi (ke rumah Rasulullah s.a.w) untuk menemui baginda s.a.w bagi mendapatkan pembantu tersebut, tetapi pada ketika itu (Rasulullah s.a.w tidak ada di rumah) Aisyah tidak dapat mencari baginda s.a.w. Lalu Fatimah menceritakan hasratnya kepada Aisyah. Apabila Rasulullah s.a.w pulang, Aisyah menyatakan kepadanya perkara tersebut. Rasulullah s.a.w kemudian pergi ke rumah kami….Mahukan kamu aku nyatakan suatu perkara yang lebih baik daripada apa yang kamu minta? (Iaitu) apabila kamu hendak masuk ke tempat tidurmu, maka ucapkanlah Allahu Akbar 34 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Subhan Allah 33 kali. Ini adalah lebih baik daripada yang kamu pohonkan.”[Al-Bukhari, Jld. VI, hadith 344]

Amru bin Dinar meriwayatkan dari Aisyah berkata:

“Tidak pernah aku melihat seseorang pun yang lebih benar daripada Fatimah salamullah ‘alaiha selain daripada ayahnya.” [Hilyatul-awliya, Juzuk 2, hlm. 41]

Ibnu Abbas meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud:

“Pada malam aku diangkat ke langit (mi’raj), aku melihat di pintu syurga tertulis bahawa Tidak ada Tuhan melainkan Allah, Muhammad Rasulullah, Allah mengasihiku, dan Hasan, dan Husayn sofwatullah (sari yang terbaik dari Allah), Fatimah Khiratullah (sesuatu yang terbaik dari pilihan Allah), laknatullah ke atas mereka yang membenci mereka.” [Tarikh al-Baghdadi, Juzuk 1, hlm. 259]

Fatimah al-Zahra as mempunyai sifat-sifat berikut seperti ayahnya dan suaminya serta anggota keluarganya: (1) menemukan jalan yang benar (ihtida’) (2) mentaati prinsip-prinsip Islam (iqtida’), dan (3) berpegang teguh serta menyakini kewajipan-kewajipannya (tamassuk).” [Nasa’i dalam Khashais Alawiyyah]

Kezuhudan Fatimah al-Zahra as

Imam Hasan AS meriwayatkan,” Aku belum pernah melihat seorang wanita yang lebih alim daripada ibuku. Ia selalu melakukan solat dengan begitu lama sehingga kakinya menjadi bengkak.” Imam Hasan AS juga meriwayatkan:

“Aku melihat ibuku, Fatimah berdiri solat pada malam Jumaat. Beliau meneruskan solatnya dengan rukuk dan sujud sehingga subuh. Aku mendengar beliau AH berdoa untuk kaum mu’minin dan mu’minah dengan menyebut nama-nama mereka. Beliau berdoa untuk mereka semua tetapi beliau AH tidak berdoa untuk dirinya sendiri.”Ibu,” Aku bertanya kepada beliau AH.”Mengapa ibu tidak berdoa untuk diri sendiri sebagaimana ibu berdoa untuk orang lain?” Beliau menjawab,” Anakku, (berdoalah) untuk jiran-jiranmu diutamakan dan kemudian barulah dirimu sendiri.” [Abu Muhammad Ordooni, Fatimah The Gracious, hlm.168-169; Sayyid Abdul Razak Kammoonah Husseini, Al-Nafahat al-Qudsiyyah fi al-Anwar al-Fatimiyyah, Juzuk 13, hlm.45]

Asma’ binti Umays meriwayatkan:

“Pada suatu ketika aku sedang duduk-duduk bersama Fathimah as apabila Nabi s.a.w datang. Beliau s.a.w melihat Fathimah as memakai rantai di lehernya yang telah diberikan oleh Ali bin Abi Talib AS dari bahagiannya yang diambil daripada harta rampasan perang.” Anakku”, beliau s.a.w berkata,”Janganlah tertipu dengan apa yang orang katakan. Anda adalah Fatimah puteri Muhammad, anda memakai barang perhiasan (yang menjadi kesukaan) orang-orang yang bongkak.” Beliau AH serta-merta melucutkan rantainya pada ketika itu juga dan menjualnya. Dengan wang dari jualan tersebut, beliau AH membeli dan kemudian membebaskan seorang hamba lelaki. Apabila Rasulullah s.a.w mendengar apa yang beliau AH lakukan, beliau s.a.w berasa gembira dan mendoakan rahmat kepada Imam Ali AS. [Al-Hakim, Al-Mustadrak, Juzuk 3, hlm. 152]

Karamah Fatimah al-Zahra as

Abu Sai’d al-Khudri berkata: “Pada suatu hari Ali AS berkata bahawa beliau AS berasa amat lapar. Beliau AS kemudian meminta Fathimah as menyediakan makanan. Fathimah as bersumpah bahawa tidak ada makanan yang tinggal untuk menghilangkan kelaparan Ali AS. Imam Ali AS bertanya mengapa Fathimah as tidak memberitahukan kepadanya bahawa di rumah mereka sudah tidak ada makanan lagi. Fathimah as menyatakan bahawa dia AH berasa malu untuk menyatakan perkara itu, dan dia AH juga tidak mahu menuntut apa-apa dari Imam Ali AS. Imam Ali AS keluar dari rumah dengan rasa tawakal kepada Allah SWT. Beliau AS meminjam wang sebanyak satu dinar dengan hasrat untuk membeli makanan untuk ahli rumahnya. Dalam perjalanan pulang, beliau bertemu Miqdad ibn Aswad sedang terbaring di atas jalan pasir yang panas terik oleh bahang matahari yang membakar. Miqdad kelihatan sedih dan tidak bermaya. Lalu Imam Ali AS bertanya kepadanya apa yang terjadi tetapi dia enggan menyatakan perkara yang berlaku kepada Imam Ali AS. Tetapi akhirnya dia menyatakan juga rahsia itu dan berkata:

“Wahai Abul Hasan! Aku bersumpah bahawa ketika aku keluar rumah tadi, ahli rumahku berada di dalam kelaparan yang teruk. Anak-anakku kebuluran dan aku tidak sanggup menonton keadaaan mereka menangis itu. Lalu aku meningggalkan mereka, dan berusaha mencari jalan untuk mengatasi masalah tersebut.”

Air mata Ali AS jatuh berguguran dan mengenai janggutnya apabila mendengar kisah tersebut. Ali AS berkata kepadanya:

“Aku bersumpah bahawa aku juga mengalami keadaan yang sama seperti engkau.”

Ali AS lalu menyerahkan wang yang dibawanya kepada Miqdad. Ali AS kemudian pergi ke masjid di mana pada ketika itu Nabi s.a.w sedang solat. Ali AS bersolat di tempat suci itu, dan selepas selesai menunaikan kewajipannya, beliau AS menemui Nabi s.a.w di pintu masjid. Rasulullah s.a.w bertanya Ali AS tentang makanan yang dia ada untuk makam malam, sama ada Nabi s.a.w dijemput oleh menantunya untuk makan malam.

Ali AS tunduk dan tidak berkata apa-apa. Beliau AS tidak tahu apa yang harus dikatakan. Kelihatannya Rasulullah s.a.w tahu tentang kisah wang satu dinar itu. Telah diwahyukan kepada Nabi Muhammad s.a.w bahawa hendaklah beliau s.a.w bersama Ali AS pada petang itu.” Mengapa anda tidak berkata sesuatu?” tanya Nabi Muhammad s.a.w. Ali AS dengan menjawab: ” Diriku di tanganmu.”

Nabi Muhammad s.a.w memegang tangan Ali AS dan dua orang yang agung ini berjalan bersama-sama ke rumah Fathimah as. Apabila sampai di sana, Fathimah as baru selesai menunaikan kewajipannya (solat), dan di atas tungku ada satu periuk masakan sedang di masak dan ketika ia sedang mendidih. Fathimah as kemudian keluar apabila mendengar bunyi tapak kaki ayahnya datang dan menyambut kedatangan mereka. Nabi s.a.w mengucapkan salam dengan lembut.” Semoga Allah SWT memberi rahmat ke atas kamu berdua, dan semoga kamu dapat menyediakan kami hidangan makan malam!” sambung Rasulullah s.a.w.

Fathimah as mengambil periuk tersebut dan meletakkan di hadapan ayahnya s.a.w dan suaminya, Ali AS, yang terkejut dan bertanya isterinya bau makanan yang lazat di dalam periuk itu. Fathimah as berkata: ” Adakah anda marah dengan memandangku dengan pandangan yang demikian! Adakah aku telah melakukan sesuatu yang salah menyebabkan aku layak menerima kemarahanmu!?”

Ali AS berkata: ” Mengapa tidak? Semalam engkau bersumpah bahawa engkau tidak mempunyai sedikit makanan pun untuk kita hidup selama beberapa hari! Apa ertinya ini semua?”

Dengan memandang ke langit Fathimah as menyambung: ” Tuhanku yang berkuasa ke atas langit dan bumi akan menjadi saksi bahawa apa yang akan aku katakan ini adalah benar.”

Ali AS menambah: ” Wahai Fatimah! Sudikan anda menyatakan kepada kami kisah sebenarnya. Sudikan anda dengan jujur menyatakan kepada kami siapakah yang menghantar hidangan yang lazat ini yang menjadi makanan kita!”

Rasulullah s.a.w dengan lembut meletakkan tangannya ke atas bahu Ali AS dan berkata: ” Wahai Ali! Semua ini adalah sebenarnya anugerah dari Allah SWT kerana kemurahan yang kamu tunjukkan ketika memberikan wang dinar tersebut.

“…Sesungguhnya Allah memberikan (rezeki) apa yang dikehendakiNya tanpa hisab.”(Ali-Imran: 37)

“Dan apabila Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrabnya, dia mendapati jmakanan di sisinya.” (Ali-Imran: 37) , [Amali Tusi, Jilid 2, hlm.228-230]

Sikap Rasulullah s.a.w Terhadap Fathimah as

Rasulullah mengaitkan Fathimah as dengan dirinya s.a.w. Justeru Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud:

“Fatimah adalah daripadaku dan barang siapa yang membuat dia marah, akan membuat aku marah.” [Al-Bukhari, Jilid V, hadith 111]

Ketika berpergian, Fathimah as adalah orang yang paling akhir beliau s.a.w mengucapkan selamat tinggal, dan ketika pulang dia (Fathimah as) adalah orang yang pertama yang ditemui oleh ayahya s.a.w. [Ahmad bin Hanbal, Musnad, Juzuk 5, hlm.275; Al-Baihaqi, Sunan, Juzuk 1, hlm.26].

Imam Ali AS suatu ketika bertanya kepada Rasulullah s.a.w:

“Wahai Rasulullah! Siapakah di kalangan keluargamu yang paling dekat denganmu?

Fatimah binti Muhammad,” jawab baginda s.a.w. [Al-Tabari, Dhakair al-Uqba; Al-Tirmidzi, Sunan. hlm.549; Al-Mustadrak, Jilid 3, hlm.21 dan 154]

http://www.asyraaf.net

Posted in Kisah Teladan | Leave a Comment »

60 Tahun Yaum Nakbah, Hari Melapetaka

Diposkan oleh: alkaaf pada Juni 3, 2008

Ahmad Hafidh Alkaf

Bagi mereka yang tidak pernah mengalami hak-haknya dinistakan, negerinya dirampas, sanak keluarganya dibantai, identitasnya dilenyapkan, mungkin makna dari kata Nakbah tidak bisa dipahami dengan penuh. Namun rakyat Palestina mengerti betul makna kata-kata itu. Karenanya, tak ada pilihan selain melawan untuk hidup atau mati terhormat.

Tanggal 14 Mei setiap tahun diperingati sebagai hari nakbah atau hari petaka. Betapa tidak, 14 Mei tahun 1948, sekelompok orang Yahudi (baca zionis) yang umumnya pendatang mengumumkan berdirinya sebuah negara bernama Israel. Deklarasi itu direstui oleh Kerajaan Inggris hanya selang sehari sebelum Britania harus hengkang dari Palestina yang didudukinya sejak negeri ini lepas dari kekuasaan Ottoman, buah dari Perang Dunia I.

Mungkin Anda pernah mendengar atau membaca tulisan yang menyebutkan bahwa berdirinya Israel adalah kesalahan orang-orang Palestina yang menjual tanah-tanah mereka kepada orang Yahudi zionis. Tak heran ketika orang-orang zionis sudah memiliki tanah yang luas mereka mendeklarasikan berdirinya sebuah negara yahudi, Israel. Benarkah, orang-orang Palestina telah menjual tanah mereka kepada Yahudi Zionis?

Tidak benar. Mungkin ada orang Palestina yang menjual tanahnya kepada orang Yahudi, namun jumlahnya sangat kecil. Sebab, yang terjadi sebenarnya adalah peristiwa lain. Orang-orang zionis merampas tanah-tanah bahkan rumah-rumah warga Arab Palestina secara paksa dan dengan kekerasan atau intimidasi. Pembantaian Deir Yassin adalah contohnya.

Tanggal 9 April 1948, atau sekitar 35 hari sebelum deklarasi Israel, terjadi pembantaian mengerikan di desa Deir Yassin. Tiga milisi zionis internasional, Haganah, Irgun, dan Stern Gang menyerang desa yang terletak di sebelah barat Beitul Maqdis atau Yerusalem itu. Lebih daripada 100 orang, baik pria, wanita, dan anak-anak dibantai. Sebagian korban bahkan dimutilasi dan diperkosa sebelum dibunuh. 25 orang lainnya dari desa itu diarak hingga ke Yerusalem lalu dieksekusi. Orang-orang zionis pun berdatangan ke desa itu dan berebut rumah dan tanah. Nama Deir Yassin diubah dengan nama Ibrani dan desa Palestina itu lenyap dari peta dan tak berbekas. Bagi rakyat Palestina, Deir Yassin adalah simbol hilangnya tanah tumpah darah mereka.

Kejadian Deir Yassin didengar oleh warga Palestina di tempat-tempat lain. Ketakutan pun merebak. Khawatir menjadi korban, banyak warga Palestina yang meninggalkan rumah dan kampung halaman mereka untuk menyelamatkan diri. Pasukan teroris zionis menyerang desa-desa lainnya dengan brutal. Semakin hari semakin banyak desa Palestina yang jatuh ke tangan orang-orang zionis, hingga akhirnya pada tanggal 14 Mei, dideklarasikan berdirinya Israel. Saat itu lebih dari 700 ribu warga Palestina telah terusir dari kampung halaman mereka, dan kini jumlah mereka telah melampaui angka 4 juta jiwa. Mungkinkah mereka kembali? Semoga.

Sejarawan Israel bernama Benny Morris melaporkan terjadinya 24 pembantaian di Palestina selain peristiwa Deir Yassin yang dilakukan gerakan Zionis Internasional, dan kemudian negara Israel, pada 1948. Menurut Morris, “Dalam beberapa kasus, empat atau lima orang dieksekusi. Dalam kasus lain, angka-angka itu mencapai 70, 80, dan 100… Kasus-kasus terburuk adalah Saliha (70-80 dibunuh), Deir Yassin (100-110), Lod (250), Dawayima (ratusan) dan barangkali Abu Shusha (70)…”

Menurut data, sedikitnya 450 kota dan desa Palestina dibasmi penduduknya lewat serangan militer milisi Zionis atau karena ketakutan akan serangan-serangan seperti itu. Sebagian besar kota dan desa itu diratakan dengan tanah.

Kini sudah 60 tahun berlalu sejak Israel dideklarasikan, dan 60 tahun sudah rakyat Palestina menderita. Negeri mereka dirampas. Mereka terusir. Tak sedikit yang terbunuh di tangan kaum zionis yang haus darah.

Pada ulang tahun ke-60 hari Nakbah, satu setengah juta rakyat Palestina di Jalur Gaza berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan akibat blokade penuh Israel. Bagi rezim zionis yang terbentuk dari aksi terorisme dan pembantaian warga Palestina, apa yang terjadi di Jalur Gaza bukan hal yang perlu dikhawatirkan. Padahal, lembaga-lembaga internasional sudah penyuarakan peringatan jika kondisi ini berlanjut, tragedi kemanusiaan besar akan terjadi di sana.

Israel pantas menaruh kebencian kepada Jalur Gaza. Pasalnya, rakyat Palestina di wilayah ini telah belajar dari pengalaman 60 tahun pendudukan bahwa tak ada jalan selain melawan Israel. Semangat perlawanan dengan landasan Islam inilah yang ditakuti oleh Israel. Kesadaran dan semangat berjuang rakyat Palestina yang kian hari kian membara semakin mendekatkan Israel ke ambang kehancuran. Alaisas subhu bi qariib. (taghrib/ahf)

Posted in Dunia Islam | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

Sekilas Tentang Empat Periode Kehidupan Imam Khomeini r.a

Diposkan oleh: alkaaf pada Juni 3, 2008

Mohammad Moeini

Khomeini adalah nama yang selalu dirndukan oleh jutaan Muslim di seluruh dunia. Tatapannya yang tajam menggetarkan Barat dan Timur. Pemimpin bersahaja ini telah mengubah alur sejarah, bukan hanya Iran, negerinya, tetapi juga seluruh dunia.

Imam Khomeini (r.a) lahir pada tanggal 20 Jumada Thaniyah tahun 1321 hijriyah. Kelahirannya bertepatan dengan hari lahir Sy. Fatimah Zahra putri Nabi Muhammad SAW. Imam Khomeini yang terlahir dengan nama Ruhullah Mostafavi (Musavi) berasal dari keluarga yang dikenal dengan ketinggian ilmu, taqwa dan perjuangan melawan kezaliman. Ayah beliau, Ayatollah Sayid Mostafa Musavi gugur Shahid di tangan berandalan lokal karena pembelaannya terhadap orang-orang yang tertindas. Ketika itu, Ruhullah masih berusia lima bulan.

Sepeninggal ayahnya, Imam Khomeini hidup di bawah bimbingan ibunya (Banu Hajar) yang penyayang, bibinya (Sahebeh Khanoum) yang dikenal bertaqwa dan pemberani, serta pengasuhnya yang saleh (Nane Khavar). Sejak kanak-kanak beliau sudah mempelajari kemahiran berkuda dan menembak.

Peridoe Pertama

Masa kanak-kanak dan remaja dilewati oleh Sayid Ruhullah ketika Iran sedang mengalami gejolak besar politik dan sosial. Sejak masa itu, Ruhullah telah mengenal dari dekat kesulitan yang dialami oleh masyarakat umum. Keterlibatan keluarganya dalam membela hak-hak kaum tertindas membuatnya kelak tumbuh menjadi pejuang hakiki. Ketika masih kanak-kanak ia sering melukiskan perasaannya yang memprihatinkan kondisi masyarakat sekitar dalam corat-coret buku gambarnya. Di masa remaja, perasaan itu semakin dalam ia rasakan. Dalam salah satu bukunya yang ia tulis di masa remaja, Ruhullah yang kala itu masih berusia antara 9 dan 10 tahun menulis demikian;

Di manakah kecemburuan Islam?

Di manakah gerakan kebangsaan?

Kepada bangsa Iran Sayid Ruhullah menulis;

Wahai bangsa Iran, Iran terancam petaka

Negeri Daryush dijarah bangsa Nicholas (1

Tulisan itu bisa disebut sebagai statemen politik pertama yang dibuat oleh Sayid Ruhullah remaja yang kelak akan memimpin bangsa Iran, sekaligus menunjukkan perhatiannya yang besar kepada nasib negeri dan bangsanya.

Sayid Ruhullah sangat tertarik kepada tokoh-tokoh pejuang. Ketika Mirza Kucik Khan Jangali bangkit berjuang dengan mengangkat senjata, Ruhullah ikut membantu menyampaikan pidato dan membaca syair tentang Mirza Jangali. Ia juga terlibat mengumpulkan dana untuk membantu gerakan Mirza. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk bergabung dengan kelompok Jangali dan bertemu Mirza. (2

Pendidikan

Sayid Ruhullah Musavi (Mustafavi) memiliki kecerdasan yang luar biasa. Ia berhasil menguasai berbagai cabang ilmu. Selain ilmu fiqih, ushul dan filsafat, ia juga menguasai irfan. Kedalaman ilmunya diakui oleh para gurunya sendiri. Sayid Ruhullah belajar dari sejumlah guru di kota Khomein, Arak dan Qom. Hanya dalam waktu enam tahun ia berhasil mempelajari banyak cabang ilmu sebelum akhirnya mengukuhkan diri sebagai salah seorang ulama dan pengajar di pusat ilmu Islam di kota Qom. (3

Pidato Resmi Pertama

Ketika masih menjadi pelajar agama di kota Arak, Sayid Ruhullah Mosavi yang kala itu berusia 19 tahun untuk pertama kalinya mendapat kesempatan secara resmi berpidato di depan umum. Pidato itu dalam acara memperingati tokoh penting Revolusi Konstitusi Mojtahed Tabatabai. Pidato yang lebih mirip dengan statemen politik itu disampaikan oleh seorang pelajar agama yang masih muda untuk mengenang jasa tokoh perjuangan Revolusi Konstitusi. (4

Imam Khomeini mengenai hari itu menceritakan demikian;

“…Aku diminta untuk menyampaikan khotbah di atas mimbar. Tawaran itu aku terima dengan baik. Malam itu aku tak banyak tidur, bukan karena takut berbicara di depan umum tetapi karena aku meyakini bahwa aku bakal berdiri di mimbar milik Rasulullah SAW. Karena itu aku memohon kepada Allah untuk memberikan pertolonganNya kepadaku, agar di antara semua yang ku ucapkan sejak awal hingga akhir, jangan ada kata-kata yang tidak ku yakini. Permohonan ini adalah ikrar antara aku dan Allah. Khotbahku yang pertama kali berlangsung panjang, tapi tidak ada orang yang merasa lelah…Aku mendengar suara sebagian orang yang memuji pidatoku. Terlintas di hatiku perasaan senang mendengar pujian itu. Karena itu undangan kedua dan ketiga untuk berpidato aku tolak dan selama empat tahun setelah itu aku tidak pernah naik ke mimbar dan berkhotbah.” (5

Periode Kedua

Periode ini dimulai ketika Sayid Ruhulah Mosavi hijrah ke kota suci Qom. Saat itu, Reza Khan Pahlevi, raja pertama dinasti Pahlevi melanjutkan kebijakannya yang anti agama. Di masa ini, Sayid Ruhullah yang sedang sibuk dengan aktivitas belajar, mengajar dan menulis buku, mulai berkenalan dengan para ulama pejuang seperti Ayatollah Haj Agha Nurullah Esfahani, Ayatollah Modarres dan sejumlah nama besar lainnya. Di masa kekuasaan Reza Khan ini tercipta kondisi yang sangat mencekik. Karena itu para ulama berjuang untuk mempertahankan dan melindungi hauzah ilmiah yang merupakan pusat pendidikan agama Islam di Qom. Bisa dikatakan bahwa perjuangan mempertahankan hauzah di zaman itu tidak kalah pentingnya dari membentuk pemerintahan Islam yang kelak terjadi tahun 1979. (6

Periode Ketiga

Periode ini dimulai ketika Imam Khomeini (ra) menginjak usia 40 tahun. Saat itu terjadi dua peristiwa besar, pertama berkecamuknya Perang Dunia II dan jatuhnya Iran ke tangan pendudukan asing, dan kedua larinya Reza Khan ke luar negeri dan anaknya yang bernama Mohammad Reza naik ke singgasana kekuasaan.

Melihat kondisi yang ada, Sayid Ruhullah Mosavi merasa bahwa inilah saat yang tepat untuk melakukan gerakan kebangkitan demi memperbaiki kondisi negeri yang carut marut. Meski telah melakukan banyak usaha, namun kebangkitan yang diinginkan tidak terjadi. Imam Khomeini yang telah dikenal sebagai salah seorang ulama besar di Qom memiliki kecakapan yang seharusnya untuk memimpin sebuah gerakan kebangkitan rakyat. Beliau sudah merasakan 20 tahun kekuasaan Reza Khan dan memiliki wawasan politik yang luas. Pada tanggal 11 Jumada Thani tahun 1363 hijriyah atau sekitar tahun 1944 masehi, Imam Khomeini merilis sebuah statemen yang menyerukan rakyat bangkit dengan memanfaatkan kondisi yang ada. “Hari ini bertiup angin ruhani yang sejuk dan hari ini adalah hari yang paling baik untuk sebuah kebangkitan demi perbaikan. Jika kalian lewatkan kesempatan ini dan tidak bangkit demi ridha Allah serta tidak mengambalikan syiar agama ke posisinya semula, maka besok, orang-orang tak bermoral dan pengumbar Shahwat akan menguasai kalian. Mereka akan mempermainkan kehormatan kalian demi kepentingannya.” Demikian bunyi statemen itu. (7

Periode Keempat

Periode keempat kehidupan Imam Khomeini berbarengan dengan dua peristiwa duka. Pertama adalah wafatnya Ayatollah al-Udzma Boroujerdi pada tanggal 29 Maret 1961. Dengan wafatnya marji besar Syiah ini, dunia Islam kehilangan salah satu tokoh penting yang membentengi Islam, dan di sisi lain musuh-musuh Islam dan Iran bersuka cita atas kepergian Ayatollah Boroujerdi (ra). Peristiwa kedua adalah wafatnya Ayatollah Kashani, pejuang besar dalam melawan kekuasaan imperialisme Inggris. Nama Ayatollah Kashani cukup membuat hati penguasa Britania Raya dan musuh-musuh Islam bergetar. Wafatnya dua ulama besar ini terjadi seiring dengan dimulainya periode masuknya pengaruh Amerika Serikat (AS) di Iran.

AS gencar menekan rezim Shah Pahlevi untuk memberlakukan perubahan di semua bidang sesuai kemauan Washington. Imam Khomeini menangkap sinyal bahaya besar di balik perombakan gaya AS ini. Langkah-langkah rezim Pahlevi hanya akan membuka jalan bagi AS dan Israel untuk menguasai Iran. Imam Khomeini gencar mengingatkan semua pihak untuk menyadari bahaya dari langkah-langkah Shah. Rezim melakukan pembalasan atas gerakan Imam dengan sebuah tindakan yang brutal. Tentara dan dinas keamanan (SAVAK) tanggal 22 Maret tahun 1963, bertepatan dengan peringatan Shahadah Imam Jafar Shadiq (as), dikerahkan untuk menyerang madrasah Feiziyah di Qom, tempat Imam Khomeini mengajar. Banyak pelajar agama yang gugur Shahid dalam peristiwa itu.

Peristiwa Feiziyah semakin mendorong Imam Khomeini untuk melanjutkan gerakannya. Memperingati 40 hari gugurnya para pelajar Feiziyah, Imam Khomeini menyampaikan pidatonya yang berapi-api. Beliau mengumumkan tidak akan diam sebelum menundukkan rezim Shah. Malam harinya, Imam Khomeini ditangkap dan dijebloskan ke penjara Qasr. Pagi hari, berita penangkapan Imam Khomeini didengar oleh masyarakat luas di Tehran dan kota-kota lainnya.

Massa dalam jumlah besar berbondong-bondong memenuhi jalanan dan bergerak menuju istana Shah. Mereka berjalan dengan meneriakkan yel-yel “Khomeini atau Mati”. Dengan slogan ini mereka menuntut rezim untuk membebaskan ulama pejuang ini. Rezim pun melakukan tindakan brutal dengan membantai para demonstran. Korban pun berjatuhan.

Kepemimpinan Imam Khomeini dalam gerakan melawan Shah nampaknya reda ketika rezim mengasingkan beliau ke Turki lalu Irak. Namun aktivitas perjuangan Imam Khomeini tidak berhenti meski di pengasingan. Tahun 1978, putra tertua Imam Khomeini bernama Ayatollah Sayid Mostafa Khomeini dalam sebuah peristiwa mencurigakan didapatkan terbujur kaku di kamarnya. Banyak bukti yang mengarah kepada keterlibatan SAVAK dalam pembunuhan Ayatollah Mustafa yang selalu menyertai ayahnya dalam setiap langkah.

Syahidnya Ayatollah Mostafa Khomeini kembali menyulut gelora perjuangan yang selama ini dilakukan di bawah tanah. Gelora itu kian membara setelah koran Ettelaat memuat tulisan artikel yang menghujat Imam Khomeini dan kalangan ulama secara umum. Masyarakat Muslim menggelar aksi demo dan memprotes kekurangajaran koran Ettelaat. Aksi demo itu berujung pada peristiwa pembantaian yang dilakukan tentara terhadap warga kota Qom. Gerakan kebangkitan rakyat silih berganti terjadi di beberapa kota penting, Qom, Tabriz, Isfahan, Yazd, Shiraz dan kota-kota lainnya. Puncak politik tangan besi rezim Shah terjadi pada peristiwa yang dikenal dengan nama peristiwa 17 Shahrivar 1357.

Shah Mohammad Reza Pahlevi yang menyaksikan kondisi Iran sudah tidak memungkinkan baginya untuk menetap lebih lama, segera angkat kaki meninggalkan Iran dan singgasananya. Dengan larinya Shah, Imam Khomeini yang saat itu berada di Paris memutuskan untuk kembali ke Iran. Jutaan warga menyambut kedatangan Imam Khomeini. Tiba di Tehran, Imam langsung menuju Behesht-e Zahra, taman makam para pahlawan perjuangan melawan rezim Shah. Di sana beliau menyampaikan pidatonya yang bersejarah. Imam menyatakan bahwa kekuasaan yang ada saat ini tidak legal.

Tiba tanggal 1 Februari 1979, Imam Khomeini segera memimpin langsung perjuangan rakyat Iran menumbangkan kekuasaan despotik Shah Pahlevi yang sudah di ujung tanduk. Tanggal 10 Februari, PM Shapour Bakhtiar mengeluarkan undang-undang darurat militer dan jam malam. Imam dalam sebuah amaran singkatnya menyebut jam malam tidak legal. Selama 24 jam terjadi bentrokan bersenjata antara rakyat dan tentara yang masih setia kepada rezim Shah.

Pagi hari tanggal 11 Februari 1979, dengan kaburnya Bakhtiar ke luar negeri, kekuasaan Shah Pahlevi berakhir. Sebagai gantinya berdiri pemerintahan baru dengan sistem Republik Islam.

Sejak kemenangan revolusi Islam hingga 2 Juni 1989 (hari wafat Imam Khomeini) terjadi banyak peristiwa penting di Iran yang menunjukkan betapa Amerika Serikat (AS) memusuhi pemerintahan Islam ini. Kelompok pemberontak sayap kanan atau kiri di Iran yang berusaha menumbangkan pemerintahan Islam didukung secara penuh, baik secara politik maupun financial, oleh Barat dan Timur. Adi daya dunia pun mendorong Saddam Hossein, dikatator Irak untuk menyerang Iran. Perang pun meletus dan berlangsung selama delapan tahun.

Berbagai makar dan tipu daya dalam skala besar dilakukan oleh adi daya Barat dan Timur untuk menggulung pemerintahan Islam di Iran. Namun berkat pertolongan Allah dan di bawah kepemimpinan Imam Khomeini, semua tipu daya itu dapat digagalkan dan pemerintahan Islam di Iran tetap berdiri dengan tegaknya.

Tanggal 2 Juni 1989, Imam Khomeini memenuhi panggilan Tuhannya. Rakyat Iran tenggelam dalam duka. Rasa duka juga dirasakan oleh jutaan pencinta Imam Khomeini di seluruh dunia. Imam Khomeini, sang Pemimpin Besar Revolusi Islam telah tiada, namun rakyat Iran tetap teguh memperjuangkan cita-citanya. Salam bagi Imam Khomeini (ra). (taghrib)

Catatan kaki:

1) Kautsar (Kumpulan Pidato Imam Khomeini r.a), diterbitkan oleh Yayasan Penyusunan dan Penerbitan karya Imam Khomeini, cetakan pertama, jilid 1 hal: 615 .

2) Sayid Ali Qaderi, Ruhullah Khomeini (Biografi Imam Khomeini r.a), Yayasan Penyusunan dan Penerbitan karya Imam Khomeini, cetakan ketiga, jilid 1 hal: 232 – 236.

3) Amir Reza Sotoudeh, Pa be Paye Aftab (Kumpulan kisah hidup Imam Khomeini r.a), jilid 1 halaman: 30.

4) Sayid Ali Qaderi, Ruhullah Khomeini (Biografi Imam Khomeini r.a), Yayasan Penyusunan dan Penerbitan karya Imam Khomeini, cetakan ketiga, jilid 1 hal: 260, juga Sar Gozashtehaye Vijeh jilid 6 halaman: 11.

5) Sayid Ali Qaderi, Ruhullah Khomeini (Biografi Imam Khomeini r.a), Yayasan Penyusunan dan Penerbitan karya Imam Khomeini, cetakan ketiga, jilid 1 hal: 260

6) Buletin Khabar Nameh yang diterbitkan untiuk seminar Haj Agha Nurullah Esfahani nomor 1 halaman 16 – 17 dan nomor 2 halaman 12 – 13, mengutip pernyataan Ayatollah Pasandideh dan Ayatollah Mazaheri.

7) Sahifeye Nour, Yayasan Penyusunan dan Penerbitan karya Imam Khomeini, cetakan ketiga, jilid 1 hal: 4 – 6.

Posted in Dunia Islam | 1 Comment »

Melecehkan Islam, Menyebarkan Islam

Diposkan oleh: alkaaf pada Mei 31, 2008

Kesucian agama Islam sering kali diusik. Dari penyebutan Islam sebagai agama teror, pemuatan kartun menghina Nabi SAW dan penistaan terhadap Al-Qur’an, makin hari semakin deras. Ada apa di balik itu semua?

Belum reda kemarahan dan ketersinggungan umat Islam lantaran penghinaan yang dilakukan prajurit Amerika Serikat di Irak terhadap al-Qur’an al-Karim, kitab suci ini dilecehkan lagi dan perasaan satu setengah milyar Muslim kembali dipermainkan. Perusahaan penerbit terkemuka di Jepang, Shueisha melakukan penghinaan dalam film seri animasi mereka Jojo’s Bizzare Adventure. Di Jepang, DVD film ini telah terjual sebanyak 70 juta keping dan rencananya akan diedarkan ke seluruh penjuru dunia. Perusahaan itu memang telah menyampaikan permohonan maafnya kepada seluruh umat Islam dan membatalkan pengapalan DVD animasi itu ke luar negeri.

Apa sebenarnya yang dilakukan perusahaan Shueisha? Film animasi Jojo’s Bizzare Adventure adalah film yang diangkat dari cerita komik yang telah menyebar ke seluruh dunia dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Di komik tersebut diceritakan tentang terjadinya pertempuran dengan memuat gambar pertempuran di masjid. Pertempuran itu melibatkan karakter penjahat. Sedangkan dalam versi animasi ditampilkan sang penjahat yang mengambil bacaan salah satu surat dalam al-Quran-surat Ar-Ra`d-ketika memerintahkan eksekusi terhadap tokoh pahlawan dan teman-temannya. Tak ayal, penggunaan al-Quran dalam versi DVD dan gambar pertempuran dalam masjid di versi buku komiknya, memicu kemarahan di lebih dari 300 forum kalangan Arab dan Islam di internet.

Belum lama ini, umat Islam di berbagai negara khususnya Irak menggelar aksi demo mengecam tindakan tentara Amerika Serikat (AS) di Irak yang berlatih kejituan menembak dengan sasaran al-Qur’an. Berbagai aksi demo dan kecaman akhirnya memaksa komandan militer AS di Irak untuk meminta maaf. Tak hanya, George W Bush, Presiden AS, juga ikut mengucapkan maaf setelah Perdana Menteri Nuri Maliki memberitahukan kepadanya kemarahan warga dan para ulama Irak atas tindakan prajurit AS tersebut.

Apa sebenarnya yang mendasari tindakan brutal tentara AS itu dan apa pula motif yang mendorong perusahaan penerbit Jepang menerbitkan komik dan film animasi yang melecehkan Al-Qur’an? Adalah mustahil jika dikatakan mereka tidak mengetahui bahwa al-Qur’an adalah kitab suci bagi umat Islam dan bahwa umat ini meyakininya sebagai kitab yang turun dari sisi Allah. Tak heran jika banyak yang menyatakan bahwa kedua aksi penistaan itu memang sengaja dilakukan dan merupakan bagian dari skenario terencana untuk menyerang Islam.

Mungkin perusahaan penerbit Shueisha merasa sudah meminta maaf sehingga menganggap masalah ini selesai. Namun perusahaan ini telah melakukan tindakan yang lebih menyakitkan dengan menyebut pelecehan itu sebagai ketidaksengajaan dan meski salah, namun kesalahan ini ‘kecil’. Sama halnya dengan yang dilakukan Bush dan Komandan miiliter AS di Irak.

Umat Islam memang sering menjadi target pelecehan, dan sangat mungkin hal itu terkait erat dengan gerakan Islamophobia yang terjadi di dunia Barat khususnya, yang kian menjadi-jadi pasca peristiwa 11 September 2001. Oleh Bush dan kubu neo konservatifnya, tragedi itu langsung dikaitkan dengan jaringan terorisme internasional yang dilakukan oleh Al-Qaeda. Tentunya ketika menyebut al-Qaeda, Bush tidak menunjuk kepada jaringan pimpinan Osama bin Laden semata, tetapi kepada seluruh umat Islam. Buktinya, entah disengaja atau tidak, Bush menyebut peristiwa teror 11 September sebagai awal dari dimulainya perang salib baru.

Genderang perang melawan teror langsung ditabuh dan negara-negara Barat mengamini langkah AS. Media massa pun dikerahkan untuk mengesankan keterkaitan Islam dan umat Islam dengan terorisme. Akibatnya gelombang Islamophobia yang sudah ada di masyarakat non Muslim, khususnya Barat, semakin menjadi-jadi.

Lalu, mengapa ada ketakutan terhadap Islam dan apakah sebenarnya yang mereka takutkan dari Islam? Mungkin itulah pertanyaan mendasar yang perlu dicarikan jawabannya.

Gerakan kebangkitan Islam yang didengungkan sekitar 200 tahun lalu oleh Sayid Jamaluddin Asadabadi (Afghani) kini telah memperlihatkan buah dan hasilnya. Jika di era penjajahan dahulu, gerakan ini muncul dengan kebangkitan bangsa-bangsa Muslim melawan penjajah, di zaman ini kebangkitan itu berjalan dengan semangat melawan imperialisme baru. Kemenangan revolusi Islam di Iran mungkin dapat disebut sebagai peristiwa besar yang mengilhami bangsa-bangsa Muslim lainnya untuk bangkit.

Jika di Iran, di bawah kepemimpinan ulama besar, Imam Khomeini (ra), bangsa ini menjungkalkan kekuasaan monarkhi dukungan AS, Shah Pahlevi, di Lebanon, gerakan moqawamah Islam berhasil mengusir rezim zionis Israel keluar dari wilayah selatan negeri itu yang telah diduduki selama dua dekade. Di Aljazair, ketika pemilihan umum yang bebas dan adil diselenggarakan dan partai berbasiskan Islam diperbolehkan ambil bagian, kemenangan diraih oleh partai Islam. Hasil pemilu memang lantas dibatalkan karena kekhawatiran berkuasanya kubu Islam di negeri itu.

Jika Palestina sejak tahun 1948 diduduki dan berbagai gerakan perlawanan dan perjuangan nasionalisme Arab dalam beberapa dekade gagal membebaskannya dari cengkeraman kaum zionis, kini muncul secercah harapan yang semakin hari semakin menguat. Harapan itu muncul seiring dengan lahirnya gerakan-gerakan perjuangan baru yang berbasiskan Islam.

Di Irak yang diduduki oleh tentara AS sejak tahun 2003, seluruh skenario Gedung Putih untuk menempatkan bonekanya di kursi kekuasaan tidak membuah hasil. Lewat pemilu yang bersih dan adil, mayoritas kursi parlemen jatuh ke tangan kubu Aliansi Irak Bersatu yang islami.

Di negara-negara non Muslim, Islam mulai dikenal dan banyak orang ingin mengetahui lebih banyak tentang agama ini. Berbagai sumber menyebutkan bahwa jumlah mereka yang tertarik kepada Islam dan akhirnya mengumumkan keislaman mereka di negara-negara non Muslim semakin hari semakin bertambah.

Melihat itu semua, tak heran jika muncul kekhawatiran Islam dengan jumlah pemeluknya sekitar satu setengah milyar jiwa akan menggeser Kristen (dengan berbagai sekte dan alirannya) menjadi agama terbesar di dunia. Baru-baru ini Vatikan mengeluarkan pernyataan tentang populasi umat Islam yang melebihi jumlah umat Katholik di seluruh dunia. Menurut Vatikan, populasi umat Katholik di dunia sekitar 1,13 milyar jiwa dan jumlah itu lebih kecil dibanding dengan umat Islam. Memang Vatikan dalam laporan itu tidak menyebutkan jumlah populasi warga Muslim dunia. Namun berbagai laporan menyebutkan bahwa muslimin di dunia berjumlah sekitar satu setengah milyar jiwa.

Di Belanda, terlepas dari niat sebenarnya, tindakan Wilders anggota parlemen negara itu yang membuat film Fitna yang menghebohkan itu mungkin juga dipengaruhi oleh pemikiran adanya ancaman dari Islam terhadap peradaban dan dunia Barat. Wilders hanyalah satu dari sekian banyak tokoh politik, pejabat dan pemikir barat yang merisaukan perkembangan Islam.

Tindakan pelecehan terhadap kesucian Islam yang terjadi di Barat semisal penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW dalam kartun yang dimuat oleh majalah Denmark dan lalu tersebar di kebanyakan media Barat, pembuatan film Fitna dan kini penembakan al-Qur’an dan penghinaan terhadap kitab suci ini dalam komik dan film animasi buatan Jepang mungkin dimaksudkan untuk menjauhkan masyarakat dunia dari Islam. Apalagi propaganda yang menyejajarkan Islam dengan terorisme sampai saat ini masih belum reda.

Namun yang terjadi justeru sebaliknya. Rasa ingin tahu akan Islam di masyarakat non Muslim semakin besar. Dan seperti yang mudah diduga, mereka yang berkenalan dengan Islam akan tertarik kepada agama yang menawarkan perdamaian, logika, kesucian dan kemajuan ini. Data menunjukkan bahwa di AS dan negara-negara Barat, jumlah warga negara Barat yang masuk Islam selalu bertambah setiap harinya. Maha benar Allah ketika berfirman,

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, dan Allah menyempurnakan cahayaNya walaupun orang-orang kafir tidak menyukai.” (Q. S. Al-Shaf ayat 8). (taghrib/ahf)

Posted in Uncategorized | Dengan kaitkata: | Leave a Comment »

Hello world!

Diposkan oleh: alkaaf pada Mei 31, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment »

 
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai