A Story from Netherlands

6 May

Sempat singgah dan menetap di belanda merupakan salah satu pengalaman hidup yang luar biasa, tak pernah terpikirkan akan menuntut ilmu di negara yang sukses menjajah indonesia selama 3.5 abad lamanya. But anyway, stop talking about the history. Belanda tak diragukan lagi menjadi salah satu kekuatan eropa walau luas negaranya cuma sepertiganya pulau jawa.

Dari segi pariwisata, belanda merupakan salah satu destinasi terfavorit didunia, setidaknya setelah menelusuri beberapa situs di internet tentang site wisata di negara ini dan pernah berkeliling dengan tiket daagkart, holland is recommended country to visit!

Image

Groningen Grote Mark

Image

Must visit in Volendam, take a photograph with traditional Holland clothes

Image

Volendam Beach

Image

Amsterdam Dungeon

Image

Amsterdam Arena

Image
Hornse Meer Village, 8 km away from Grote Mark Groningen
Image

Keukenhoff, where flowers rise every spring

Image

Utrecht Tower

Image

Madurodam Den Haag : a Netherlands Miniatur

Image

The Hague Peace Palace

Image

Zaanse Schans : a village with windmill series

Image

Rijksmuseum Amsterdam

Image

I amsterdam mark

Image

Madame Tussaud Amsterdam

Image

Ufo Building Eindhoven

Next time I have chance, I will come back again..

Balikpapan, May 2013

Happy Birthday Dinda Husna

27 Jan

Selamat ulang tahun yang ke 23 Dinda Husna.

Semoga kamu lebih taat pada Allah SWT, berbakti pada orang tua dan selalu menjadi wanita luar biasa bagi setiap orang disekitarmu.

Teriring do’a agar Allah SWT selalu memberikan petunjuk NYA di setiap langkah kehidupanmu agar semua cita – cita kamu tercapai dan mendapat berkahNYA.

You are so special for me
I love you

Almendo Rafki

Baru sadar 9 bulan ga pernah nulis di blog

24 Nov

Pagi ini liat note terakhir yang ditulis di blog ini. Baru sadar kalo terakhir menulis itu bulan desember 2011. Setelah menilik ternyata waktu – waktu setelah itu adalah masa – masa ketika start menjadi employee. 

Oke, ada ga ya kaitannya iseng2 nulis di blog menurun karena kerja di perusahaan ini?

Setidaknya saya jadi ingat dengan pernyataan salah seorang teman saat perkenalan di kelas KLC.

“Dulu hobi saya bermain gitar, setelah masuk perusahaan ini saya tidak punya hobi”

Semua orang tertawa, dan memang mungkin hobi, tindakan iseng2 lain, berkurang drastically setelah jadi employee.

This is life when we start being a labor

This is state of my life when I realize that life is always in balance,

you got money and you do not have time or you chose the other way.

 

Oklahoma, where the wind blows

Nov 23rd, 2012

Fall Season in United States

21 Nov

Kaki ini pun melangkah kembali meninggalkan kampung halaman.

Kali ini, doa orang tua dan keluarga dekat mengiringi perjalanan ku berikutnya. Aku berangkat ke Oklahoma.

Sebelumnya, tak pernah terpikirkan akan mendapatkan kesempatan ini. Sekolah juga yang akhirnya memberikan jalan untuk menginjak benua Amerika. Alhamdulillah ya ALLAH.

Masuk ke Amerika, tepat di musim gugur itu memberikan kesan tersendiri. Sebelumnya, saya mendapatkan kesempatan untuk merasakan musim dingin, semi dan panas di benua eropa. Sungguh indah rencana Allah SWT

Imagey

Image

 

Image

Image

Riverwalk Apartment

20 Nov 2012

10.42 PM

Mama ku Pahlawan ku

21 Dec

Besok, 22 Desember 2011

 

Tepat 23 tahun 8 bulan yang lalu..

Mama berjuang hidup mati untuk membuatku bisa menghirup oksigen untuk pertama kali

—-

Sejak saat itu, belaiannya lah yang membuatku selalu merasakan kasih sayang paling tulus yang pernah ada

Sejak saat itu, air susunnya lah yang menjadi nutrisi paling hebat yang membuat seluruh kelengkapan tubuhku mulai berkembang.

Sejak saat itu, pengorbanan hebat dia lakukan setiap malam, terbangun dan terjaga, agar aku selalu bisa tidur kembali dengan nyenyak

Sejak saat itu, dikecilkannya ambisinya dan memberikan segala perhatian kepadaku

Sejak saat itu, semua waktunya dikorbankan untuk membuatku mendapatkan yang terbaik

Sejak saat itu, tak jarang lelah menghampiri karena harus bekerja sekaligus membesarkanku, rasa jengkel pun kerap hadir karena ulah nakalku

—-

Baginya, Semua itu hilang kala ku bisa tersenyum, ku bisa memanggil “Mama” untuk pertama kali, ku bisa guling kiri dan kanan, merangkak, berdiri, berjalan dan akhirnya bisa seperti sekarang.

Tanpa Mama, ku tak kan bisa sekuat ini

Tanpa mu Mama, ku tak ada apa – apa

—-

Terima kasih telah menjadi mama yang hebat selama 23 tahun 8 bulan ini. Engkaulah motivasi ku untuk terus bergerak. Kuharap bisa membuatmu selalu bangga telah mendidik dan merawatku. Aku ingin menjadi seorang prajurit terbaik berikutnya, karena Engkaulah Mama, Engkaulah Pahlawanku

 

Selamat Hari Ibu

Untuk Ibu – Ibu diseluruh Indonesia

Khususnya, Mama ku tersayang, Elfi Luciana.

di Kampung Halaman

 

Bandung,21 Desember 2011

Almendo Rafki

 

 

 

 

Image

Wisuda Master

9 Dec

Wisuda Master

Another state has been passed..now I am ready for the new challenge..

Guratan Indah di Mata Mereka

8 Nov

Hari ini, Selasa, 8 November 2011. Kumulai hari ini sejak dini hari tadi dengan merencanakan sepenuhnya apa yang akan kulakukan dari pagi sampai malam ini. Dengan berbekal aplikasi notepad yang ada, kucoba merangkai rute perjalanan dan time schedule agar setiap kegiatan bisa terlaksana dengan baik.

Perencanaan telah berhasil dan kuyakin bisa berjalan dengan baik. Setelah mengurus beberapa administrasi di jurusan. Aku pun memulai sebuah kegiatan yang menjadi kegiatan yang luar biasa, tak sempat terfikir sebelumnya oleh ku, tapi terpikirkan olehnya. Kegiatan yang paling hebat yang kulakukan dibanding kegiatan – kegiatan lain ku hari ini.

Dialah sang masterpiece..

Nanti akan kujelaskan siapakah Dia. Terlebih dahulu kucoba sedikit menuliskan narasi tentang kegiatan hebat hari ini.

Dengan berbekal sepeda motor pinjaman, aku menemani dia ke warung terdekat untuk membeli sekardus air botol mineral dan dilanjutkan ke sebuah warung makanan untuk mengambil pesanan nasi bungkus yang kami order kemarin.  Di warung makanan, kami melakukan penggabungan antara nasi bungkus dan air mineral dalam sebuah kantong plastik dan disimpan di dua kantong plastik yang lebih besar. Dalam jumlah yang lumayan banyak, aku pun mulai memisahkan kantong pertama berada di depan sepeda motor dan yang kedua di belakangku, tepat dipangkuannya.

Yang akan kami lakukan adalah membagikan makanan tersebut ke ‘orang – orang yang kurang beruntung’ agar dapat merasakan makan siang yang berbeda hari ini,nasi bungkus pemberiannya. Perjalanan pun dimulai, kira – kira pukul 11 siang. Dimulai dengan mengikuti jalur Dipati Ukur – Gasibu – Gedung Sate – Riau – Tongkeng (istirahat sebentar karena menunggu hujan reda) – lanjut ke daerah jalan Lombok – belakang Jonas Photo – Jalan Merdeka depan BIP dan berakhir di Jalan Dago (Djuanda). Sepanjang rute tersebut Dia selalu dengan ramah membagikan satu – satu nasi bungkus yang telah ada untuk mereka, dan sepanjang rute itu juga aku mulai merasakan bahwa satu – satu bagian hatiku terhenyak karena begitu banyak orang – orang yang mungkin di saat aku beristirahat kehujanan tadi, masih mendorong gerobak sol sepatunya di jalanan, masih kedinginan di pinggiran jalan dengan perut lapar, masih berpikir untuk menahan lapar dan terus berusaha mengambil botol – botol air kemasan, masih melamun di pinggiran jalan sampai seseorang memintanya untuk mengayuh becaknya dan mengantar sampai tujuan. Segelintir mereka memang kurang beruntung, tapi mereka masih berusaha, setidaknya tetap percaya bahwa jikalau mereka berusaha akan ada pintu rejeki.

Aku hanya bisa terenyuh dan terus mengendarai motor..

Ide ini original datang dari Dia jauh sebelum hari ini. Dia ingin sekali melakukan kegiatan ini dan akhirnya hari ini terwujud. Tidak banyak yang dapat aku lakukan, tapi yang jelas aku sangat mendukung sekali idenya dan berusaha semaksimal mungkin membantu sekuat tenaga. Tidak banyak materi yang bisa diberikan kepada orang yang kurang beruntung di luar sana, tetapi, Dia selalu percaya kita bisa melakukan sesuatu untuk orang lain.

Satu hal yang masih terngiang di kepalaku sampai saat ini adalah bagaimana guratan senyum itu hadir di wajah mereka sewaktu kami membagikan makanan tersebut. Guratan ikhlas penuh kebahagiaan kecil yang sampai sekarang membuatku bangga bahwa aku telah menemani seseorang untuk berbuat baik. Jauh didasar hatiku, aku bertekad untuk terus melakukan yang terbaik dan terus berbuat baik dalam menjalani kehidupanku sebagai hamba ALLAH SWT. Guratan itu kuanggap sebagai hal terindah yang pernah kusaksikan seumur hidupku.

Terima kasih telah mengajakku untuk melaksanakan ide hebatmu. Hari ini begitu berarti bagiku.

————————————————————————————————————————-

Siapakah sang masterpiece?

Dia bernama Dinda Husna. Dia hanyalah seorang manusia biasa yang hidup sederhana dan datang dari keluarga yang hebat. Kekuatannya berasal dari kepeduliannya, Idenya berasal dari niat tulus yang datang dari hati, dan keberhasilannya berasal dari do’a keluarganya.

“Semoga berkah ya dek sarjananya dan semoga kegiatan – kegiatan berikutnya juga diberkahi ALLAH SWT, belum ada yang memesan nasi bungkus untuk niat ini sebelumnya”, seru Ibu warung penjual makanan.

Iya, ide hebat ini adalah nazar dari Dinda Husna, jika beliau berhasil menamatkan pendidikan sarjananya.

Menurutku, tak banyak yang akan berpikir dan merealisasikan tentang ide ini untuk nazar kelulusannya, even untuk saya pribadi.

Dialah Dinda Husna, yang dengan semangatnya selalu berbuat yang terbaik dan selalu peduli.

Bandung, 8 November 2011

Almendo Rafki

InsyaAllah November

2 Nov

Tulisan ini saya buat di awal bulan November 2011,di kota Bandung yang sedang sering hujan.

Banyak harapan yang ingin dicapai, entah esok hari entah bulan depan entah setahun kedepan atau dalam tempo yang lebih lama lagi.

Hari ini, ku tak lagi ke kampus untuk menghadiri kuliah ataupun ke laboratorium untuk mengerjakan serangkaian eksperimen.

Hari ini ku sadar bahwa ada jalan lain yang harus ditempuh.

November 2011, aku berharap telah mendapatkan kabar yang berbahagia sebelum tahun 2011 berakhir.

Aku ingin segera bekerja di tempat yang terbaik

Tempat yang bisa meningkatkan performa dan menumbuhkembangkan potensi

Tempat bekerja sekaligus berkarya

Tempat yang bisa membuatku mengerti tentang kehidupan lain yang mungkin jauh dari zona kampus yang nyaman selama ini

Tempat yang bisa membuatku mengerti tentang hidup.

InsyaAllah jika ALLAH SWT yang maha besar memberikan kasih sayangnya, Bulan November 2011 akan menjadi perjuangan tersendiri bagiku, semoga menjadi bulan pembelajaran yang diberkahi oleh ALLAH SWT.


							

ITB – Zernike Institute Research Exchange 2011

31 Oct

Post ini telah diunggah sebelumnya di website kimia ITB

http://www.chem.itb.ac.id/index.php?limitstart=5&lang=en

Dengan judul : Berbagi Wawasan dengan Research Exchange di Rijksuniversiteit Groningen Belanda

 

“Sejauh ini, pengalaman 6 bulan di Belanda ini merupakan pengalaman paling berharga dan berkesan yang pernah saya lalui”. Itulah kesan yang tergambarkan Almendo Rafki, mahasiswa yang terdaftar di jurusan magister fast-track kimia ITB pada tahun ajaran 2010 – 2011. Diawal Juni tahun 2010, Rafki berhasil menamatkan pendidikan sarjana di Kimia ITB dan langsung mengikuti program magister jalur cepat (fast-track). Program ini memungkinkan adanya pengambilan materi S2 semasa di tahap sarjana sehingga tahap S2 dapat diselesaikan dalam waktu satu tahun.

Perjalannya menuju Belanda dimulai pertengahan Juni 2010, Rafki mengikuti sebuah tes interview (teleconference) dengan pimpinan Zernike Institute for Advance Materials, University of Groningen, Belanda. Kerjasama ini sendiri telah berlangsung sejak tahun 2007 dengan pemberian kesempatan beasiswa riset selama 6 bulan oleh Zernike Institute bagi mahasiswa FMIPA ITB. Singkat kata, Rafki beserta 5 orang teman – temannya berhasil lolos seleksi ini dan bisa melakukan riset S2 di Zernike Institut pada rentang bulan Februari – Juli 2011.

Di Zernike Institut, Rafki memilih kelompok penelitian Nanostuctured Materials and Interfaces Group yang diketuai oleh Prof. Dr. Ir Bart. J. Kooi (http://nmi.phys.rug.nl/index.php). Meskipun Rafki berlatar belakang sarjana kimia dan grup ini termasuk salah satu yang mengkaji di bidang fisika, Rafki tetap maju karena diyakinkan oleh keinginan untuk mengkaji ilmu baru. Selain itu, Rafki juga menerima informasi dari kakak kelas yang menyatakan bahwa institut ini didirikan untuk bersama – sama meneliti tentang advance materials dan bidang kajian ilmunya telah saling terintegrasi dan mendukung. Contohnya fisika-kimia, fisika-biologi, biologi-kimia, fisika-komputasi, kimia-komputasi dan ada beberapa grup yang menggunakan 3 kombinasi sekaligus untuk menghasilkan tujuan riset yang diinginkan.

Selama di Belanda, Rafki telah berhasil melakukan penelitiannya, dengan judul “Crystallization of Ge-In-Sb-Te Films”, yang mengkaji campuran logam terdeposisi untuk aplikasi pada bidang teknologi memori. Alloy ini biasa disebut dengan Phase-change materials yang dapat digunakan sebagai material untuk PRAM (Phase-change Random Access Memory). Memory cell jenis ini diproyeksikan bisa menggantikan Flash Memory (USB Stick) dalam beberapa tahun kedepan karena memiliki karakteristik dan mekanisme penyimpanan data yang lebih baik.

Prinsip kerja PRAM adalah switching dari fasa amorf (1 state) ke fasa crystalline (0 state). Dengan menggunakan swiching dari fasa crystaline ke fasa amorf dengan menggunakan energi yang tinggi dalam waktu singkat maka data dapat tersimpan, proses ini disebut Melt-Quenching. Sedangkan perubahan fasa dari amorf ke kristalin akan memungkinkan penghapusan data dari memori menggunakan medium energi dan dalam waktu yang cukup lama, proses ini disebut annealing (secara fisik yang terjadi adalah kristalisasi dari material tersebut). Proses kristalisasi alloy Ge-In-Sb-Te (Ge8In13Sb47Te32) inilah yang Rafki pelajari dalam penelitian ini menggunakan alat HRTEM (High Ressolution Transmission Electron Microscopy) dengan menggunakan in-situ heating. Setelah mempelajari proses kristalisasi ini kita bisa memperoleh data suhu kristalisasi, laju kristalisasi, waktu untuk pertumbuhan kristal, energi aktifasi untuk pertumbuhan kristal dan parameter lain yang bisa menggambarkan bagaimana proses tersebut berlangsung. Penelitian ini sendiri merupakan lanjutan dari penelitian sebelumnya menggunakan komposisi material yang berbeda. Selain menggunakan TEM, Rafki juga di training menggunakan SEM dan mikroskop optik.Teknik wet chemical etching untuk mendapatkan sampel yang baik untuk diamati di TEM juga dilakukan dalam penelitian ini.

“Kebebasan menyampaikan ide sewaktu pertemuan grup dan mengkonversinya menjadi aksi langsung di Lab adalah comfort zone bagi saya sehingga enjoy elaksanakan penelitian disana”. Akses bebas ke jurnal – jurnal internasional, pemberian fasilitas lengkap di ruangan kerja, dan peralatan lengkap membuat pengaturan rencana kerja lebih baik dan efisien.

“Saya sangat mengapresiasi program research exchange yang digagas oleh FMIPA ITB ini. Disamping dapat menyelesaikan tesis master lebih baik, mahasiswa diberikan pengalaman dan wawasan lebih tentang budaya – pola pikir masyarakat eropa. Satu hal yang paling berkesan adalah ‘Mereka lebih “blak-blakan” dalam mengutarakan pendapatnya, berbeda dengan orang Indonesia yang lebih ga tegaan’, tutup mahasiswa yang pernah menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Kimia (HMK) AMISCA ITB periode 2009/2010 ini.

Ordinary People by Rachmawati Faturachman

11 Jul

Sebuah tulisan yang sangat simple dan penuh dengan pemahaman akan cara memandang setiap keunikan manusia. We are not perfect, we are just ordinary people.

Silahkan dinikmati,

—————————————————————————————————

Ordinary People – Rachmawati Faturachman (13 Juli 2008)

A: Apa pendapatmu tentang orang itu?

B: Dia… Aku sering melihatnya menghabiskan waktu berjam-jam di taman. Hanya untuk melamun. Bayangkan, dia membuang waktu tiap harinya untuk melamun. Kurang kerjaan sekali. Dia mengerjakan hal yang sia-sia. Apa coba yang dipikirkan orang seperti itu?

A: Berapa lama kau kenal dia?

B: Baru-baru ini, dikenalin sama temen.

A: Berapa lama kau berinteraksi dengannya?

B: Jarang, hanya pernah berbicara dengannya sekali dua kali. Tapi aku sering melihatnya melamun berlama-lama di taman itu. Sungguh perbuatan yang sia-sia.

A: Jadi dalam hitungan satu minggu, total waktumu berinteraksi langsung dengannya berapa lama?

B: Kalau ditotalkan… mungkin hanya tiga jam. Mmm… mungkin kurang, aku tak begitu dekat dengannya.

A: Kau tau apa yang dia lamunkan di taman itu?

B: Tidak.

A: Lalu kenapa kau menganggap itu perbuatan sia-sia?

B: Ah, ayolah. Ini jaman modern, waktu adalah uang. Bagaimana negara bisa maju kalo orang-orang hanya melamun dan melakukan hal yang sia-sia?

A: Kau tidak tau apa yang dia lamunkan tapi kau bisa langsung menganggap itu sia-sia?

B: Hmm… aku melihat kenyataan itu dengan mata kepalaku sendiri, salahkah bila aku menyimpulkan itu perbuatan sia-sia?

A: Kau tau apa yang dilakukannya malam hari?

B: Tidak.

A: Tiap malam ia bermunajat pada Allah, ia tundukkan dirinya di hadapan Rabbnya. Air mata yang jatuh di atas sejadahnya adalah saksi bisu. Tiap hari ia meluangkan waktu dua jamnya di taman itu. Ia merenungkan apa yang telah ia lakukan kemarin, dan menyusun rencana untuk hari esok. Apakah kegiatan melamunnya itu sia-sia?

B: Jika seperti itu… tampak bukan hal yang sia-sia.

A: Apakah kau juga tau ia donatur tetap sebuah panti asuhan?

B: Tidak.

A: Apakah kau juga tau dia rajin shaum sunnah?

B: Tidak.

A: Apakah kau tau seberapa banyak ilmu Allah yang dikuasainya?

B: Tidak.

A: Apakah kau tau kadang ia pun memuroja’ah hafalan Al-Qur’annya di taman itu?

B: Tidak.

A: Lalu kenapa kau menganggap kegiatan melamunnya sia-sia?

***

A: Kau kenal dia?

B: Ya, dia orang yang hebat. Jam terbangnya tinggi. Ia aktif di berbagai organisasi. Ia berakhlak baik, sangat santun.

A: Kau pikir dia orang yang hebat?

B: Tentu, apa ada istilah lain untuk orang seperti itu? Orang tuanya pasti sangat bangga.

A: Apakah kau tau setiap malam Ibunya sering menangis?

B: Ibunya pasti menangis mendo’akan anak kesayangannya. Pasti begitu. Ibunya pasti amat sayang padanya sampai ia menangis karena bahagia.

A: Kenyataannya tidak seperti itu.

B: Apa maksudmu?

A: Ibunya menangis karena sedih. Anak itu terlalu sibuk di luar. Ia hampir melupakan keluarganya.

***

A: Kau senang melihat orang itu?

B: Ya. Ia orang yang sangat periang. Ia selalu tersenyum pada siapa pun. Ia punya segalanya. Hampir aku iri padanya. Ia tampak bahagia tiap hari. Tidak pernah kulihat wajahnya sendu karena kesedihan.

A: Apakah kau bersamanya tiap hari?

B: Tidak, tapi aku akan sangat bahagia bila bisa bersamanya lebih lama. Ia teman yang sangat menyenangkan. Jika di dekatnya kau akan terbawa bahagia. Ia mudah tertawa, membawa suasana riang di mana saja.

A: Kau tau ia sering menangis?

B: Ah, mana mungkin. Ia tak punya alasan untuk menangis, ia tampak bahagia tiap hari. Ia punya segalanya.

A: Kenyataannya ia sering menangis.

B: Benarkah? Tapi mana mungkin.

A: Ia menangis karena kesepian.

B: Itu sangat tidak mungkin! Kalaupun ia kesepian, mengapa ia tidak membaginya denganku? Aku akan dengan senang hati menghiburnya.

A: Justru karena engkau menganggapnya orang yang periang, ia jadi enggan membagi kesedihannya.

B: Benarkah?

A: Seharusnya kau bisa lebih peka.

***

A: Kau kenal dia?

B: Ya, ia anak yang sangat manja, juga keras kepala. Ya Tuhan… kalau kau melihatnya kau pasti langsung ill feel. Dikit-dikit dia mengeluh, dikit-dikit bermanja-manja, dan sangat cerewet. Sungguh bukan tipe calon ibu yang baik.

A: Seberapa sering kau berinteraksi dengannya?

B: Sangat jarang. Untuk mengenalnya lebih dekat saja aku enggan. Bukankah kita harus pandai-pandai memilih teman? Kadang aku merasa gaya hidupnya sangat hedon. Ia sangat royal. Bisa kau bayangkan… uang yang ia habiskan mungkin cukup untuk menanggung uang makanku selama satu bulan. Ya Tuhan… kadang aku tak habis pikir. Bukankah wanita itu tiang negara? Bagaimana negara maju kalo wanitanya seperti itu?

A: Kau membawa nama Tuhan, menarik. Apakah kau pernah mengikuti kegiatan sehari-harinya selama satu minggu?

B: Tentu tidak. Untuk apa aku menghabiskan waktu bersama anak manja seperti itu? Itu hanya akan jadi hal sia-sia.

A: Kau pernah melihatnya mengajar?

B: Apa?! Mengajar?! Aku tak membayangkan anak cengeng seperti itu mengajar. Ya Tuhan… membayangkannya pun sulit. Mungkin anak didiknya diajarin hal yang nggak-nggak. Mungkin diracuni dengan gaya hidup hedonnya. Sungguh kasihan anak-anak didiknya.

A: Kau pernah menjadi anak didiknya?

B: Tentu tidak. Kau ini ada-ada saja.

A: Lalu kenapa kau menyimpulkan ia guru yang tidak baik? Salah seorang muridnya berkata ia guru yang paling menyenangkan.

B: Aku tidak percaya. Mana mungkin anak hedon seperti itu jadi guru yang baik?!

A: Gaya hidupnya itu justru jadi modal. Ia seperti anak kecil, karena itu ia bisa menyelami jiwa anak-anak didiknya. Ia sering bermain, kau menyebutnya hedon. Tapi justru karena itulah ia bisa nyambung ngobrol dengan anak didiknya. Ia mengajar tepat sasaran juga tepat teknik. Ia pandai bicara, kau menyebutnya cerewet, tapi dengan itulah ia menjadi guru yang baik, ia menyampaikan ilmu dalam bahasa yang mudah dimengerti anak didiknya. Kau pernah menjadi guru? atau tutor mungkin?

B: Ya, aku pernah mengajar privat, digaji perjam.

A: Berapa banyak murid yang kau punya?

B: Kelas kecil, sekitar 4-5 orang.

A: Mungkin kau perlu mencoba mengikuti arus hidup anak hedon itu selama seminggu.

B: Kenapa?

A: Ia meluangkan waktu dua jamnya per hari, mengajar suatu kelas besar, dan gratis.

B: Ah, itu tidak mungkin, ia anak yang royal, dia pasti termasuk cewek matre juga, tidak mungkin ngasi les gratis.

A: Kau belum pernah mencoba gabung dalam kehidupannya, kenapa cepat sekali menyimpulkan sesuatu?

B: Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Ia sangat royal, materialistis.

A: Anak hedon itu menyisihkan sebagian uang bulanannya untuk shodaqah. Kalau dia sering belanja, bukan salahnya jika ia terlahir sebagai anak orang kaya. Dan bukan pula salahnya jika ia besar di keluarga yang penuh cinta hingga ia tumbuh menjadi anak yang sedikit manja.

B: Ah, itu hanya pembenaran. Keluargaku juga keluarga bahagia penuh cinta, tapi aku tidak manja. Dan ingat, kalo mau siapapun bisa ngasi les gratis.

A: Kalau mau. Ya tentu, kalau mau. Apakah kau juga tau apa yang dia lakukan tiap malam?

B: Tidak.

A: Ia menyisihkan waktunya menghafal Al-Qur’an. Ia menghiasi malam-malamnya dengan qiyamul lail.

B: Benarkah?

A: Kau belum pernah benar-benar masuk dalam dunianya. Harusnya engkau coba.

B: Aku sangsi dia seperti itu.

A: Itu karena kau tidak kenal dia. Engkau hanya tau sekelumit saja dari kesehariannya.

B: Ya, dan aku menganggap apa yang dia lakukan itu sangat sia-sia.

A: Kau ingin tau fakta yang lain lagi?

B: Apa?

A: Anak itu sering bermain ke desa terpencil di akhir minggu. Ia kadang memberi penyuluhan.

B: Ah, anak hedon itu. Tampak tidak mungkin.

A: Ia juga merintis industri kecil di desa itu. Ia merekrut banyak pegawai di sana. Hebat bukan? Usahanya mengurangi jumlah pengangguran.

B: Anak itu…

A: Ya, anak yang kau sebut hedon dan manja. Ia sudah berkontribusi nyata. Apa yang telah engkau lakukan untuk masyarakat sekitarmu?

B: Belum ada.

A: Jadi anak manja itu mengalahkanmu?

***

A: Kau mengaguminya?

B: Ya, mungkin ia adalah tipe suami ideal. Dia ganteng, kaya, sangat baik, dan sangat pintar. Apalagi yang perempuan cari dari seorang laki-laki kalo bukan itu semua? Kadang keberadaannya membuat minder. Kalo engkau berada di dekatnya, kau akan sangat menyadari adanya jurang yang sangat tinggi.

A: Tidak semua perempuan mencari hal seperti itu. Yang utama itu adalah ketentraman. Kau yakin ia bisa membahagiakan istrinya?

B: Tentu.

A: Kau tau mengapa ia belum menikah?

B: Mungkin… ya, bisa kau bayangkan… hidupnya sangat settle, dia pasti mencari istri yang setara dengannya. Jangankan dia, aku pun akan melakukan hal yang sama, mencari yang setara. Kau menikah satu kali, tentu saja kau ingin mencari seseorang yang sesuai denganmu.

A: Hmm… kau tau apa yang dia katakan?

B: Tidak, tapi aku sangat ingin tau.

A: Kemapanannya tidak selamanya menguntungkan. Justru karena hal itu, ia sulit menemukan perempuan yang benar-benar mencintai dirinya, bukan mencintai hartanya.

B: Benarkah?

A: Tidak selamanya hal-hal yang membuatmu iri itu menguntungkan.

B: Kau menyarankan aku mensyukuri diriku apa adanya?

A: Tentu. Memangnya apa yang kau dapatkan dengan terus membanding-bandingkan dirimu dengan orang lain? Kau jadi lelah sendiri bukan?

***

A: Berapa lama engkau mengenalnya?

B: Sudah setahun… hmm… mungkin lebih.

A: Apa kesan pertamamu terhadapnya?

B: Ia… sangat tidak ramah, ia juga tinggi hati. Oh iya, dia juga sangat galak, kalau kau bertemu dengannya kau pasti akan jengkel padanya. Aku tak habis pikir mengapa ada anak seperti itu.

A: Berapa umurnya?

B: Mungkin sekitar 25. Ah tapi kalau bersamanya kau hanya akan geleng-geleng kepala. Ia sangat tidak dewasa.

A: Dan kau sudah mengenalnya kurang lebih satu tahun?

B: Ya.

A: Kau tau apa yang dialaminya 24 tahun silam?

B: Maksudmu?

A: Ya, kau bilang dia berumur 25, dan kau baru mengenalnya satu tahun. Apa yang kau ketahui tentang kisah hidupnya selama 24 tahun sebelum kalian berkenalan?

B: Aku tidak tau. Untuk apa aku tau, kaya orang kurang kerjaan saja.

A: Ia pernah mengalami masa-masa sulit. Karena itulah ia jadi kurang ramah padamu.

B: Aku tidak ada hubungan dengan masa lalunya, kenapa ia marah-marah padaku?

A: Kau pikir trauma itu bisa hilang dalam waktu sekejap?

B: Tidak.

A: Ya, kau tidak akan pernah tau jika belum mengalaminya langsung.

B: Aku tidak mau trauma. Itu pasti mengerikan. Bagaimana aku menjalani hidup dengan baik kalo aku habiskan waktuku dalam fase trauma?!

A: Jika kau bisa berspekulasi seperti itu, harusnya engkau pun bisa lebih sabar menghadapi temanmu itu.

***

A: Kau kenal orang itu?

B: Ya, ia orang terkenal. Siapa sih yang gak kenal dia. Pemikirannya brilian. Dia juga pekerja keras, sangat serius kalo menghandle sesuatu. Ia sangat disiplin terhadap waktu, tak heran kalo ia masuk jajaran orang sukses. Pemikirannya mendalam dan terstruktur, pokoknya dia orang yang hebat. Semua orang mengaguminya.

A: Kau yakin semua orang mengaguminya?

B: Ya tentu, tak ada alasan untuk tidak mengagumi orang itu. Dia berpikiran jauh ke depan, penuh pertimbangan, sangat terstruktur.

A: Kemarin ia membuat seorang perempuan menangis.

B: Ah, pasti perempuan itu cengeng, atau mungkin ia teledor dalam pekerjaannya.

A: Perempuan itu bukan karyawatinya. Ia temannya.

B: Lalu kenapa ia menangis? Patah hati?

A: Hahah, tidak…tidak, bukan patah hati.

B: Lalu?

A: Kau tadi menyebutkan ia orang yang serius, dan berbagai sifat hebat yang lainnya.

B: Ya. Lantas?

A: Orang itu terlalu asik dengan dunia kesuksesannya. Ia melupakan hal-hal sederhana yang sifatnya sosial.

B: Apa hubungannya dengan perempuan tadi?

A: Kau pernah dengar celotehan: orang yang sukses dalam karir belum tentu sukses dalam cinta?

B: Ya, kenapa emangnya?

A: Orang itu kurang aware dengan hal-hal kecil, ia menyamakan cara menghandle perempuan dengan cara menghandle kerjaan.

B: So?

A: Ia selalu beranggapan apa yang dilakukan teman perempuannya sebagai hal yang sia-sia, tidak istimewa, tidak penting, buang-buang waktu.

B: Ya Tuhan… konyol sekali. Mungkin ia lupa bersosialisasi, atau mungkin ia tidak sempat belajar psikologi.

A: Yah… dia orang yang baik, hanya saja pikirannya kurang terbuka.

B: Ah, kau kan tau. Itu hanya masalah ego laki-laki barangkali.

A: Yah, ungkapan men are from Mars and women are from venus mungkin ada benarnya. Laki-laki dan perempuan bicara dengan bahasa yang berbeda. Punya pandangan yang beda terhadap sesuatu, dan tentu saja, punya kebiasaan yang beda dalam mengekspresikan sesuatu.

***

A: Seandainya ada yang berkata sesuatu yang negatif tentang dirimu, apa yang akan kau rasakan?

B: Sedih mungkin.

A: Kalau engkau sedih, maka orang lain pun akan seperti itu. Harus dibiasakan berhati-hati memilih kata-kata.

B: Ya, tentu. Belajar menghormati perbedaan.

A: Sekarang… kau dan aku ngobrol cukup lama di sini. Ditemani jus, iringan musik, dalam sebuah restoran terkenal. Di luar sana, mungkin ada yang berpendapat, kau dan aku melakukan perbuatan yang sia-sia. Hedon mungkin, istilah yang sering kau ucapkan. Apakah kau akan sedih mendengar hal itu? Marah mungkin?

B: Hmm… sedih mungkin, tapi kalo marah…tidak.

A: Mengapa?

B: Orang itu berpendapat buruk tentang kegiatan ini karena ketidaktahuan.

A: Cerdas. Jangan biarkan perkataan orang membuatmu sedih. Kata-kata orang tidak lantas menambah atau mengurangi kualitas dirimu. Engkau tidak perlu orang lain untuk menegaskan nilai dirimu sendiri. Selama kau punya dasar dalam berperilaku, manfaat lebih besar dari mudharat, bisa mempertanggungjawabkan itu semua di hadapan Sang Khalik, biarkanlah dirimu berkembang.

B: Tentu.

A: Orang yang berpendapat buruk tentang dirimu belum tentu punya kuasa memberi safaat dan manfaat di hari akhir. Gunakan, nikmati, dan hidupkanlah hidupmu.

B: Ya. Terkadang tak sadar aku menilai seseorang sekenanya, padahal aku tidak tau betul hidup kesehariannya, apalagi isi hatinya. Kadang aku menilai secara kasat mata saja. Bisa jadi sudah banyak orang yang sakit hati karena penilaianku yang tak tepat itu.

A: Hidup itu proses. Yang beruntung adalah yang sering berpikir dan berusaha mencari ibrah dari tiap hal, yang sekilas mungkin bukan hal yang berguna. Sekilas kita anggap itu sia-sia. Tidak ada yang diciptakan di bumi ini sia-sia. Kita menganggap suatu hal tidak penting karena ketidaktahuan.

B: Kau menyarankan aku menuntut ilmu lebih banyak ya?

A: Tepat sekali. Kau ingat hakikat tujuan penciptaan manusia?

B: Khalifah?

A: Ya. Khalifah yang baik adalah yang bisa berbicara dalam berbagai bahasa…bahasa anak kecil, bahasa ABG, bahasa sepuh. Bisa merangkul semua lapisan, mulai dari rakyat kecil sampai pejabat tinggi. Punya ilmu yang luas, mulai dari agama, sosial, ekonomi, psikologi, bahkan teologi. Harus bisa merakyat, tidak eksklusif. Supel dalam bergaul, tidak hanya memilih aman di lingkungan homogen.

B: Tampak berat.

A: Tidak berat jika prosesnya dinikmati dan dihayati.

B: Optimis?

A: Kalau menurutmu menjadi pesimis lebih menguntungkan, kau pilih saja peran sang pesimis. Saat engkau berbuat baik, yang akan menuai hasilnya ya dirimu sendiri. Tapi yang pasti, harus belajar sabar dan ikhlas dalam menghadapi hidup. Semua orang memiliki dunianya masing-masing, sepaket dengan karakteristiknya. Mungkin ada yang beririsan, mungkin ada yang berbenturan. Sang pesimis mungkin berharap semua orang memiliki karakter yang sama dengan dirinya, sepaham sepemikiran, sejalan seiringan. Kau mau masyarakat seperti itu?

B: Tidak. Jika semua orang seperti itu, dunia akan sangat membosankan. Asal tidak berbenturan dengan syariah, aku kira tiap orang berhak memiliki keunikan masing-masing.

A: Betul. Everyone deserves to have a unique outstanding world. Perlu diingat juga, kamu tidak bisa memaksa orang sepaham dengan dirimu, kamu tidak bisa memaksa semua orang berpendapat baik tentang dirimu… dan memang jangan pula kamu punya keinginan seperti itu.

B: Ya, tentu. Yang paling utama bukanlah pendapat manusia, melainkan pendapat Allah.

***

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain, (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik daripada wanita (yang mengolok-olok). Janganlah kamu mencela dirimu sendiri (baca: sesama saudara seiman) dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk (berbau kefasikan) sesudah seseorang beriman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.(11)

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. (12)

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (13)

[Q.S. Al Hujurat: 11-13]

Astaghfirullaahal’adzim

Astaghfirullaahal’adzim

Astaghfirullaahal’adzim

[written on July 13th, 2008]

Design a site like this with WordPress.com
Get started