Pohon-Pohon Ibu

Media Indonesia, 18 Juni 2023.

Jikalau Ibu mengajariku untuk berkasih sayang sesama manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan; Bapak sebaliknya: kebencian. Napasnya adalah jerit knalpot truk, lengket kepul timbal, amarah kerap pekat di atas kepala. Gerombolan awan jamur mirip ledakan nuklir itu pula yang membuatnya kabur, menyisakanku dan Ibu menghadapi kemandirian yang dipaksakan.

Dia mencakung di muka pagar, ketika mendung gelap menggelayuti ranting mangga kueni. Wajahnya tak jauh berubah. Selonjor kumis yang dulu sangat kubenci sebab lebih mirip lintah, kini memutih mirip sekubus jadah. Mungkin juga lintah albino. Tas jinjing di tangan kanan, tangan kiri menjentikkan bara rokok. 

Continue reading

Ingatan Mencekam Genosida Rwanda 1994

KOMPAS, 24 Desember 2023.

Jangan sampai kisah dalam novel ini terjadi. Ratusan ribu nyawa melayang, ditumpuk menjadi tulang belulang.

Pada hari-hari itu, Tuhan sedang melihat ke arah lain” (hal. 121). Demikianlah rasa putus asa orang-orang Rwanda ketika terjadi pembantaian. Catatan sejarah dan film dokumenter yang bisa kita akses sama-sama menyajikan betapa Rwanda selama 100 hari menjadi lautan mayat dan darah. Tercatat nyaris satu juta nyawa orang menjadi korban sepanjang April sampai dengan Juni 1994. Tercatat pula hampir dua juta penduduk Rwanda meninggalkan negerinya setelah peristiwa tersebut.

Boris Diop secara sadar mencampurkan bangunan fiksi dengan elemen faktual, membuat jalinan kisah dalam Murambi, Buku tentang Tulang Belulang (2023) kian mencekam dan menebar teror. Seolah tidak sedang membaca novel, tetapi menyusuri lokasi kejadian dengan mata kamera.

Continue reading

Perahu Cinta, Martabat, dan Hidup yang Tidak Hitam Putih

Diskusi buku bersama Seno Gumira Ajidarma dan Cholil Mahmud, Jumat (17 November 2023) di Kios Ojo Keos

Pelacur sudah kadung menyandang makna negatif dalam benak masyarakat. Contoh, orang akan terperanjat ketika mendengar jawaban bahwa suatu malam kita ditemani Para Pelacur dalam Perahu, untuk memberi tahu bahwa kita sedang khusyuk menyelesaikan novel terbaru Seno Gumira Ajidarma. Yang mendengar akan menduga kita sedang ‘membeli’ tubuh orang lain, baik perempuan maupun lelaki. Profesi disebut sebagai profesi paling tua di dunia ini memiliki makna yang selalu buruk, bahkan ketika mereka belum sempat diberi kesempatan menjelaskan, apalagi membela. 

Tidak demikian dalam teks sastra. Sastra haruslah memberi tafsir lain atau ruang baru bagi siapa pun, termasuk kata (atau pun profesi) pelacur. Para Pelacur dalam Perahu, fiksi panjang Seno Gumira Ajidarma yang baru saja terbit ini secara teknis memang mengisahkan para pelacur yang menyusuri sungai dalam sebuah Perahu Cinta, tentulah mereka menjajakan cinta kepada pelanggan sebab dengan ini mereka disebut sebagai pelacur. 

Continue reading

Aroma Bawang

Semenjak itu aku membenci rumah sakit, terlebih rumah sakit untuk orang-orang miskin yang menyediakan sebuah ruangan besar berisikan enam hingga delapan ranjang. Hanya sehelai gorden yang memisahkan masing-masing ranjang. Cita-citaku semenjak itu berubah, semua-mua aku kerjakan agar bila suatu saat aku sakit, aku tidak harus tinggal di ruangan besar yang digunakan bersama di rumah sakit. Bersua dan menghabiskan 24 jam dengan orang-orang yang tidak kukenal. Aku enggan. Aku malas. Aku ketakutan.

Ibuku mengaduh suatu pagi, lututnya kesakitan. Dia, sebagaimana perempuan tua pada usianya, memang kerap mengeluhkan sendi entah itu di lutut atau di pergelangan kaki yang linu dan kesakitan setiap berdiri sehabis duduk mengupas bawang—ibuku petani bawang dan tidak mau mendelegasikan semua pekerjaan kepada orang lain, dia harus tetap terlibat dalam setiap proses. Kupikir dan berulang kali kusampaikan, dia perempuan yang sudah bau bawang ditambah bau minyak urut. “Mending bau wangi, Bu,” kataku yang kerap disambut dengan layangan tangan.

Continue reading

Suara Tunggal dari Bali

Belakangan, Bali riuh dibicarakan sebab tingkah-polah oknum turis asing yang semakin ajaib, untuk tidak menyebutnya kurang menyenangkan. Bali adalah undangan agung bagi mereka, hingga apa pun akan dilakukan untuk tetap tinggal di pulau penuh pesona itu. Citra Bali sangat “turis” dan keragaman destinasi wisata memang ibarat tanda lahir yang tidak akan bisa dipisahkan. Bali dalam kacamata wisata hanya memiliki cerita tunggal; potongan surga penuh pesona. Eksotisme baik berupa alam, budaya, adat istiadat, dan kehidupan masyarakat menjadi daya tarik turis. Pokok-pokok yang menjadi identitas Bali ini juga yang dalam pengantar penulis buku Malam Pertama Calon Pendeta ini menyimpan persoalan kompleks. 

Gde Aryantha Soethama dalam pengantar buku ini menulis, “…sejak lama pula orang-orang tahu kehidupan adat dan kasta di Bali adalah sumber konflik di tengah masyarakat.” Dalam pengantar ini secara tersurat disampaikan bahwa sudah sejak lama sastrawan Bali menulis perkara tata kehidupan adat eksotis sekaligus menyimpan persoalan yang berlapis. Pilihan lokus penceritaan menjadi sesuatu yang krusial. Perlukah menjadi pembeda atau sekadar mengikuti apa yang sudah jamak dilakukan oleh kebanyakan penulis Bali, dan mengimani cerita tunggal di kacamata umum. 

Tujuh belas cerita pendek dalam buku ini masih mengupas konflik-konflik adat yang terjadi di Bali. Gde Aryantha Soethama masih memandang perkara adat, kelas, strata yang mengakar di kehidupan masyarakat Bali sebagai persoalan penting. Kelas lebih tinggi tidak boleh menikah dengan kelas yang lebih bawah, lebih mulia dan kurang mulia sebuah kasta, hingga perkara-perkara adat yang terselip dalam keseharian masyarakat Bali.

Continue reading

Manusia Soliter dan Problematika Berat Badan

Naskah yang semula berjudul Berat, didapuk sebagai pemenang kedua sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta 2021. Ketika terbit ada sedikit penyesuaian judul menjadi Bagaimana Cara Mengurangi Berat Badan (Penerbit Banana, 2023), yang sekaligus menjadi novel kedua Amalia Yunus setelah Tutur Dedes: Doa dan Kutukan (Penerbit Banana, 2022). Ada yang menggelitik secara sekilas-pandang dari novel ini, tebalnya tidak begitu meneror dan tema plus judulnya yang seketika membuat orang berhenti. Berhenti untuk menerka kemungkinan dalam novel akan didedah cara jitu menurunkan berat badan, sekaligus manggut-manggut tertampar.

Novel ini dibuka dengan pantikan pertanyaan, kematian bersih itu yang bagaimana? Kematian bersih adalah tidak perlu ada muntahan darah, tubuh terpotong, atau ledakan serpihan daging manusia. Kematian bersih, seperti yang harus dihadapi tokoh utama dalam novel ini, sejenis kematian perlahan sebab obesitas. 

Continue reading

Arum Manis, Akhirnya….

Akhirnya saya mau menerbitkan buku. Kumpulan cerpen “Arum Manis”. Kumpulan cerpen ini adalah kumpulan cerpen perdana dan bolehlah saya menyayanginya seperti anak pertama. Berisi beberapa cerpen yang sudah dimuat media, majalah, menang lomba, dan tentu ada cerpen yang baru. Temanya ditautkan oleh judul Arum Manis dan covernya. Sesuatu yang besar itu kadang sebenarnya hanyalah sesendok gula, a.k.a hidup ini semuanya kamuflase dan topeng belaka.

Dan di buku ini pula, saya akan membongkar fakta bahwa saya menggunakan beberapa nama pena untuk beberapa publikasi cerpen. Entah kenapa saya dulu suka sekali dengan nama pena, mungkin salah satunya adalah dengan nama pena punya kesempatan banyak publikasi.

Bukunya akan segera terbit dan masuk masa pre-order. Semoga bisa dinikmati banyak orang.

Salam saya
Teguh Afandi yang untuk fiksi saya menulis dengan Teguh Affandi dan beberapa nama pena lain.

Melarat dan Membenci Kemapanan

Orwell benar-benar menyindir. Menyindir yang mendewakan uang. Juga menyindir yang kerap terbuai glorifikasi bernama idealisme.

PADA 21 JANUARI 2021, tepat 70 tahun pasca berpulangnya George Orwell (25 Juni 1903-21 Januari 1950), menandai karya-karya Orwell masuk ke ranah public domain, lepas dari aturan copyrights. Animal Farm dan 1984, dua karya monumental Orwell pun akan menjadi milik umum dan semua berhak menerbitkan. Setidaknya pada 2021 dan 2022 ini beberapa karya Orwell terbit dalam edisi bahasa Indonesia.

Continue reading

Aman, Kiri, dan Nama-Nama Binatang

Jawa Pos, 13 Desember 2020.

Esai-esai dalam buku ini membuka lapisan dasar interaksi manusia sebagai pengguna bahasa dan betapa kaya sekaligus cairnya bahasa itu sendiri.

BAHASA tidak hanya menunjukkan bangsa, bahkan tidak pula sekadar menentukan harga, bila meminjam istilah Samsudin Adlawi dalam buku ini. Bahasa dengan sengaja juga menunjukkan politik dan maksud tertentu si pengguna. Kita mengalami perubahan istilah dari jongos, babu, pembantu rumah tangga, hingga asisten rumah tangga. Sebab, setiap istilah yang dipergunakan memiliki maksud tertentu.

Situasi dan sejarah membuat sebuah kata maupun frasa dapat memiliki maksud tidak sekadar makna kamus sendiri. Misalnya, aman dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan bebas dari bahaya; bebas dari gangguan (pencuri, hama, dan sebagainya). Namun, oleh sebuah rezim, kata aman-amankan-amanken justru bahaya sekaligus membawa rasa tidak aman. Sebab, bila kata tersebut sudah dipergunakan, itu berarti akan ada yang ditahan, dijebloskan penjara, atau bahkan dihilang-musnahkan. Contoh lain, kata kiri tidak hanya menunjukkan arah. Continue reading

Jagat Cilik Bernama Minimarket

Dimuat di Ruangliterasi.com

DALAM sebuah artikel yang dirilis electricliterature, Sayaka Murata dimasukkan dalam delapan penulis perempuan modern yang patut diperhitungkan. Sebagai pembanding dalam daftar tersebut disebut nama-nama yang sudah lebih dulu mengorbit di dunia (baca: karyanya diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan diterima dengan baik), Banana Yoshimoto dan Yoko Ogawa.

Gadis Minimarket bisa dibaca sekali duduk. Namun, pergulatan yang dialami tokoh perempuan bernama Keiko Furukura dijamin akan terus bergema dalam kepala. Yang dialami Keiko adalah yang kerap juga mendera manusia modern sekarang. Di ambang status quo antara mengimani yang diyakini atau menyesuaikan kredo normal masyarakat.

Continue reading