Keluarga Harmonis, Modal Penting Anak Tumbuh Sehat dan Cerdas

Penulis, Akhmad Muhaimin Azzet, bersama santri TPA Tahfidz Cinta Qur’an Masjid Al-Muhtadin, dan para ustadzah.

Keharmonisan keluarga sangat erat kaitannya dengan perkembangan kecerdasan anak. Bila anak tumbuh dan berkembang dalam sebuah keluarga yang harmonis maka kecerdasannya pun dapat berkembang dengan baik pula. Namun, bila anak dibesarkan dalam keluarga yang tidak harmonis biasanya akan mengalami masalah dalam perkembangan kecerdasannya.

Keluarga yang harmonis tidak harus berasal dari keluarga kaya yang rumahnya bagus, mempunyai mobil mewah, dan pekerjaan dengan gaji yang besar. Keluarga yang harmonis bukan tidak mungkin terwujud dari keluarga yang hidupnya sederhana, bahkan rumah pun masih mengontrak, tidak punya kendaraan pribadi, dan berpenghasilan kecil.

Keluarga yang harmonis dibangun berdasarkan hubungan antar-anggota keluarga yang rukun, saling menyayangi, menghormati, dan membutuhkan. Itulah sendi-sendi utama dalam keluarga yang harus ada. Keluarga yang demikian bisa menjalin komunikasi antar-anggota keluarga dengan baik, hangat, dan akrab. Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang seimbang atau tidak didominasi oleh satu pihak. Misalnya, ada saatnya anak mendengarkan apa disampaikan oleh orangtuanya dan ada saatnya orangtua mesti bisa mendengarkan apa yang disampaikan oleh sang anak.

Ya, dalam keluarga yang harmonis mesti ada komunikasi yang baik. Bukan diam-diaman. Saling bentak dan mendominasi memang tidak terjadi, akan tetapi bila antar-anggota keluarga tidak bisa terbuka ini juga bukan merupakan keluarga yang harmonis. Jika masih ada anggota keluarga yang tidak mau terbuka dengan lainnya berarti masih ada sesuatu yang menyumbat. Sangat perlu dicari penyebabnya dan diselesaikan masalahnya.

Bukan Soal Kaya atau Miskin

Sering kali kita mendengar orang berpendapat bahwa keluarga yang berkecukupan secara ekonomi dijamin lebih mudah dalam membangun keluarga yang harmonis. Pendapat yang seperti ini tidak selamanya mengandung kebenaran. Sebab, tidak sedikit pasangan suami dan istri yang kemesraannya menjadi renggang atau bahkan rusak justru setelah sang suami mendapatkan penghasilan yang jauh lebih besar daripada di awal-awal mereka membangun rumah tangga. Tidak sedikit pula anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga kaya yang ternyata miskin kasih sayang dari orangtuanya karena sibuk dengan pekerjaannya.

Demikian pula dengan kemiskinan. Tidak sedikit orang-orang yang hidup dalam kemiskinan, sayang seribu sayang, hubungan yang dibangun antar-anggota keluarga pun seakan berantakan. Suami dan istri sering bertengkar masalah ekonomi keluarga yang tak kunjung membaik; sedangkan sang anak tidak bisa belajar dengan baik karena turut menanggung beban keluarga yang nyaris tidak bisa membuat suasana yang nyaman dalam kehidupan sehari-hari.

Sekali lagi, yang membuat keluarga harmonis bukanlah masalah keluarga kaya atau miskin, akan tetapi bagaimana keluarga itu dibangun dengan sepenuh tanggung jawab dan rasa kasih sayang. Sungguh, membangun keluarga agar berjalan dengan harmonis ini sangat penting sekali; di samping untuk kebahagiaan berumah tangga yang sudah merupakan tujuan utama dari setiap orang yang membangun mahligai pernikahan, juga sangat penting bagi perkembangan kecerdasan anak-anak.

Ketenangan dan Kegembiraan

Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang harmonis akan mempunyai ketenangan dan kegembiraan. Dua hal ini sangat penting perannya dalam menciptakan suasana agar proses belajar sang anak dapat berjalan dengan baik. Anak-anak yang hatinya merasa tenang karena di dalam keluarganya tidak ada masalah yang membuat hatinya risau akan jauh lebih mudah dalam berpikir dan memahami sesuatu. Demikian pula dengan anak-anak yang hatinya gembira karena orangtuanya tidak memberikan tekanan, seluruh anggota keluarga bisa menjadi sahabat yang menyenangkan, atau orangtuanya selalu memberikan motivasi, sudah barang tentu akan lebih bersemangat dalam belajar.

Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang harmonis akan lebih mudah dalam mengembangkan kecerdasannya karena mendapatkan asuhan dan bimbingan yang hangat dalam lingkungan keluarga yang kondusif untuk belajar. Asuhan dan bimbingan yang hangat dari keluarga merupakan hal yang wajib dilakukan agar kecerdasan anak-anak dapat berkembang dengan optimal. Asuhan dan bimbingan yang hangat ini juga membentuk pribadi anak-anak agar mempunyai kepercayaan diri dan mendorongnya untuk menjadi pribadi yang mandiri.

Di samping hal tersebut, anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang harmonis akan lebih mudah untuk mengembangkan berbagai kecerdasannya, baik itu kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, maupun kecerdasan spiritual dengan lebih baik. Hal ini bisa terjadi karena masing-masing anggota dari keluarga yang harmonis, terutama dibimbing dan diberikan contoh oleh kedua orangtuanya, akan bisa saling memberikan dukungan dan bisa berbagi.

Sungguh, dukungan yang penuh dari keluarga adalah modal yang sangat penting dalam proses perkembangan kecerdasan sang anak. Demikian pula dengan kemauan bisa berbagi dari masing-masing anggota keluarga, sungguh ini adalah modal yang penting agar anak-anak dapat mengembangkan kecerdasannya.

Salam dari Jogja,
Akhmad Muhaimin Azzet

Tinggalkan komentar

Filed under Keluarga

Mengapa Anak Lambat dalam Belajar?

Penulis, Akhmad Muhaimin Azzet, dalam sebuah kajian bersama wali murid, guru, dan siswa di sebuah sekolah dasar.

Inilah yang sangat penting untuk menjadi perhatian bersama. Ketika mendapati anak yang lambat dalam berpikir atau tidak mempunyai prestasi dalam belajarnya di sekolah, tidak selayaknya seorang guru atau orangtua memberikan penilaian bahwa sang anak adalah bodoh. Semestinya kita segera mencari sebab mengapa sang anak mengalami demikian. Kita juga perlu mengevaluasi jangan-jangan cara belajar dan mengajar yang kita berikan kurang tepat untuk sang anak, sehingga mereka mengalami keterlambatan dalam belajar.

Di samping itu, penulis ingin menekankan satu hal lagi, yakni ketergesaan memberikan penilaian bahwa seorang anak bodoh biasanya hanya berdasarkan pengamatan ketika sang anak dinilai kurang cerdas secara intelektul. Sungguh, penilaian ini juga tidak adil. Bisa jadi sang anak mengalami kelemahan secara intelektual, namun anak mempunyai kecerdasan yang menonjol secara emosional atau bahkan secara spiritual. Dalam hal ini, parameter yang dipakai untuk menilai bahwa seorang anak cerdas atau bodoh hanyalah ukuran kecerdasan secara intelektual semata.

Apabila ukuran yang dipakai untuk mengatakan bahwa sang anak cerdas atau bodoh hanya dari kecerdasan intelektual, sesungguhnya sangat tidak layak bila seorang guru atau orangtua membebani anak yang masih membutuhkan asuhan dan bimbingan tersebut dengan sebutan sebagai anak bodoh. Sungguh, menurut penulis, sebutan itu bisa menjadi sebuah beban yang tidak ringan bagi anak. Kecenderungan anak yang diberi julukan bodoh biasanya akan mengalami krisis dalam kepercayaan diri, ia akan mengalami minder, lebih suka menyendiri, bahkan tidak bersemangat untuk belajar karena cap yang ada dalam dirinya adalah sebagai anak yang bodoh.

Memang ada sebagian orang yang ketika dikatakan sebagai bodoh justru itu menjadi pemicu baginya untuk menunjukkan bahwa ia tidak bodoh. Ia tiba-tiba menjadi mempunyai semangat yang lebih berkobar untuk belajar dan segera menunjukkan bahwa dirinya tidak bodoh. Akan tetapi, hal yang demikian bagi anak kecil sepertinya bukan menjadi kecenderungan umum. Itu bisa terjadi biasanya bagi anak atau bahkan orang dewasa yang sudah bisa berpikir secara analisis terhadap kejadian yang ia alami. Kalaupun memberikan reaksi, biasanya anak yang dicap bodoh malah cenderung untuk menunjukkan eksistensi dirinya sebagai anak yang bisa memberontak dalam bentuk-bentuk kenakalan.

Lantas, apa yang dilakukan oleh seorang guru, orangtua, atau siapa saja yang mempunyai perhatian terhadap pendidikan seorang anak bila mendapati sang anak memang kenyataannya mengalami kelambanan dalam belajar? Di sinilah dibutuhkan kejujuran dan perhatian dalam mencari sebabnya yang berkaitan dengan keluarga, motivasi, pemberian semangat, dan cara belajar-mengajar yang diberikan kepada sang anak.

Memberikan Perhatian Lebih

Dalam menghadapi anak yang mengalami kelambanan dalam belajar, guru dan orangtua semestinya memberikan perhatian lebih dan memberikan banyak kesempatan sesuai dengan kebutuhannya. Menghadapi kenyataan ini, orangtua harus menerima dengan kesabaran dan menghadapinya sebagai tanggung jawab untuk membimbingnya. Bukankah kita ingat bagaimana dahulu Albert Einstein kecil pernah dicap bodoh karena selalu tidak naik kelas dan akhirnya malah dikeluarkan dari sekolah. Namun, ibunya menerimanya dengan hati yang lapang dan senantiasa memberikan semangat, sehingga ketika besar Einstein malah menjadi ilmuan besar. Oleh karena itu, orangtua tidak perlu memarahi anaknya ketika mendapatinya lamban dalam belajar, apalagi memberikan cap kepadanya sebagai anak yang bodoh, melainkan sangat penting bagi orangtua untuk secara terus-menerus memberikan motivasi yang menyenangkan kepada anaknya.

Secara psikologis, anak yang mengalami kelambanan dalam belajar, sungguh membutuhkan kedekatan dengan guru atau orangtua. Di sinilah dibutuhkan seni pendekatan tersendiri dari guru dan orangtua, sehingga sang anak merasa nyaman dan terbangun semangatnya. Terutama, bagi orangtua, alangkah indahnya bila mampu menjadi sahabat terdekat bagi sang anak, sehingga bisa dijadikan tempat atau sandaran ketika sang anak tercinta membutuhkan untuk bertanya dan berbagi hati.

Satu hal lagi yang sangat penting untuk dimiliki oleh para orangtua, yakni berpikiran positif atau berprasangka baik bahwa setiap anak sudah dibekali dengan potensi kecerdasan oleh Tuhan. Sungguh, kecerdasan ini adalah anugerah-Nya yang sangat luar biasa. Setiap orangtua mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk mengasuh dan membimbing anak-anaknya agar berkembang menjadi anak yang mempunyai kecerdasan, sehingga mereka bisa merasakan kebahagiaan dalam hidupnya.

Salam dari Jogja,
Akhmad Muhaimin Azzet

3 Komentar

Filed under Pendidikan

Ketika Anak Dikatakan Bodoh

Penulis, Akhmad Muhaimin Azzet, bersama Remaja Masjid; bersama menggali potensi diri.

Setiap anak berpotensi untuk cerdas karena kecerdasan adalah anugerah yang sangat luar biasa yang diberikan oleh Tuhan kepada setiap manusia. Lalu, muncul pertanyaan, adakah anak yang bodoh itu?

Julukan bodoh biasanya dialamatkan kepada anak yang mempunyai kelemahan atau kekurangan dalam hal berpikir. Anak ini biasanya lambat dalam menerima pelajaran di sekolah dibandingkan dengan teman-temannya. Justifikasi bodoh ini semakin mendapatkan pembenaran untuk disandangkan kepada mereka dengan adanya nilai-nilai dari pelajaran sekolah yang ternyata jauh di bawah rata-rata kelas. Lebih ektrem lagi, anak-anak yang dikatakan bodoh ini disebut sebagai anak tuna cakap belajar karena dinilai tidak berfungsinya minimal otaknya untuk berpikir atau menerima materi pelajaran.

Lebih spesifik, anak yang dikatakan bodoh biasanya berkarakteristik mempunyai kelemahan dalam berpikir dan menerima stimulus yang diberikan kepadanya, mempunyai intelegensi di bawah rata-rata, tidak menunjukkan peningkatan prestasi dalam pelajaran di sekolah, tidak naik kelas, lambat sekali dalam menjawab ketika ditanyai sesuatu, bersifat pasif, pemalu, suka menyendiri, ketika guru menyampaikan pelajaran di dalam kelas sang anak bodoh suka mengantuk atau bahkan tidur, ketika ulangan menyontek teman, malas belajar, dan sebagainya.

Itulah anak bodoh yang keberadaannya tidak jarang menjadikan orangtuanya malu, orangtuanya mengomeli atau bahkan memarahinya, teman-temannya mencapnya sebagai si bodoh meskipun tidak dengan kata-kata, dan kehadirannya dianggap sebagai penghambat serta menjadi beban kelompoknya dalam meraih prestasi bersama.

Namun, benarkah anak yang dikatakan sebagai bodoh tersebut benar-benar bodoh karena kebodohannya atau karena lingkungan yang tidak mendukungnya menjadi anak yang cerdas?

Menurut penulis, selama seorang anak dilahirkan dalam keadaan normal, dalam arti tidak mempunyai masalah dengan jaringan otaknya atau sesuatu yang membuatnya dikatakan sebagai anak yang mempunyai kebutuhan khusus secara mental sejak lahir, sesungguhnya tidak ada anak yang dapat dikatakan sebagai anak yang bodoh.

Bisa jadi anak yang lambat dalam belajar karena ia memang mempunyai beban yang berat berkaitan dengan keluarganya yang tidak harmonis, sang anak tidak mendapatkan bimbingan yang baik, tidak adanya atau kurang perhatian dari orangtua, anak tidak pernah diberi motivasi namun hanya dibentak dan dimarahi, lingkungan yang sama sekali tidak mendukungnya dalam belajar, sering sakit-sakitan atau bahkan kurang gizi, lahir dan besar dalam lingkungan yang sama sekali tidak mendukungnya dalam belajar, dan sebagainya.

Salam dari Jogja,
Akhmad Muhaimin Azzet

Tinggalkan komentar

Filed under Pendidikan

Mengembangkan Potensi Kecerdasan Anak, Bukan Malah Menghambatnya

Penulis, Akhmad Muhaimin Azzet, tengah,
bersama sebagian santri pondok tahfidz
Cinta Qur’an, Perum Purwomartani Baru.

Setiap anak dianugerahi potensi kecerdasan oleh Allah SWT. Orangtua perlu memperhatikan hal ini. Termasuk memerhatikan tindakan yang alih-alih mengembangkan kecerdasan sang anak, tetapi malah menghambatnya. Misalnya, ketika mendapati anaknya mencoret-coret dinding ruang tamu, orangtua langsung marah, “Hah, kamu ini bagaimana? Tidak boleh mencoret-coret dinding ruang tamu. Kotor tahu! Coba kalau ada tamu, kita akan malu!”

Pada saat orangtua membentak atau memarahi anaknya agar tidak mencoret-coret dinding ruang tamu sesungguhnya pada saat yang sama orangtua telah menghambat salah satu kecerdasan kreatif sang anak. Padahal, tugas dan tanggung jawab orangtua adalah mengembangkan kecerdasan anak; dalam contoh kasus ini yang dilakukan orangtua malah menghambat kecerdasan sang anak. Sungguh, mengenai hal ini perlu dicermati karena tidak sedikit orangtua yang tidak sadar ketika melakukan tindakan serupa ternyata justru menghambat kecerdasan sang anak.

Lantas, apabila mendapati anak-anak mencoret-coret dinding ruang tamu apakah dibiarkan saja?

Barangkali takut menghambat kecerdasan sang anak, atau barangkali salah memahami dan menerapkan ajaran bahwa orangtua jangan sampai berkata “jangan” atau melarang anak, penulis sering mendapati beberapa rumah sahabat penulis penuh dengan coretan anaknya, termasuk dinding ruang tamu. Jujur saja, penulis menilai, yang demikian juga bukan merupakan cara yang tepat.

Ada sebuah cara yang menurut penulis sangat tepat, yakni disampaikan oleh Seto Mulyadi—biasa dipanggil Kak Seto—dalam sebuah perbincangan “Mendidik Anak” di Metro TV (10/4/2010). Mendapati anak mencoret-coret dinding ruang tamu, menurut Kak Seto, orangtua semestinya tetap memberikan apresiasi positif terhadap kecerdasan kreatif anaknya, misalnya dengan mengatakan, “Wah, bagus sekali gambarnya. Tapi, ini di ruang tamu, bagaimana kalau nanti ada tamu dan mendapati dinding rumah kita nanti dikira kotor. Ayo, setelah ini kita lanjut bikin coret-coret di garasi saja.”

Ternyata, sang anak yang mencoret-coret dinding ruang tamu tidak dilarang, apalagi dimarahi, tetapi justru diberikan pujian bahwa gambarnya bagus. Namun, pada saat yang sama orangtua memberikan pengertian bahwa ruang tamu tidak boleh dicoret-coret sembarangan agar tetap bersih dan indah. Selanjutnya, orangtua tetap mengembangkan kecerdasan kreatif sang anak dengan memberikan garasi sebagai tempat untuk dicoret-coret. Bila dinding garasi sudah penuh dengan coretan kreatif anak kita, menurut Kak Seto, orangtua perlu mengajak anaknya untuk membuat kegembiraan baru, yakni bersama-sama mengecat dinding garasi dengan cat yang baru dan lebih menarik lagi.

Anak Banyak Bertanya, Orangtua Capek Menjawabnya

Anak-anak mencoret-coret dinding sebagaimana di atas hanyalah sekadar contoh bagaimana orangtua bisa mengembangkan kecerdasan anaknya dengan cara yang baik dan tepat atau justru malah menghambatnya.

Sebuah contoh lagi yang sering tidak disadari oleh banyak orangtua, yakni ketika anaknya banyak bertanya mengenai ini dan itu, orangtua malah memangkasnya dengan ucapan, “Sudah ya, jangan banyak bertanya. Mama capek menjawab!” Sungguh, penulis sering mendengar jawaban yang seperti ini dari para orangtua. Semestinya orangtua bangga dan dengan senang hati melayani pertanyaan demi pertanyaan anaknya karena hal ini sangat penting dalam mengembangkan kecerdasan sang anak.

Dengan demikian, kecerdasan yang merupakan anugerah dari Tuhan yang luar biasa kepada anak dapat dikembangkan dengan baik oleh orangtua. Ini adalah tanggung jawab yang mesti ditunaikan oleh setiap orangtua. Sebab, di samping anugerah, anak juga merupakan amanat yang diberikan oleh Tuhan kepada orantua. Sedangkan dalam setiap amanat ada pertanggungjawaban; demikian pula dengan setiap orangtua, kelak akan mempertanggungjawabkan di hadapan Tuhan bagaimana dalam mendidik anak-anaknya.

Lebih dari itu, memahami bahwa setiap anak manusia pasti dibekali kecerdasan oleh Tuhan ternyata bisa menumbuhkan rasa optimis bagi setiap orangtua. Dalam menghadapi kehidupan di zaman modern yang penuh dengan persaingan ini, tak jarang orangtua dihinggapi kekhawatiran yang berlebihan akan masa depan anak-anaknya. Di sinilah orangtua bisa bersemangat untuk bisa mengembangkan kecerdasan anaknya dengan baik agar kelak para generasi penerus itu dapat menaklukkan tantangan zamannya yang barangkali jauh lebih kompleks permasalahannya.

Salam dari Jogja,
Akhmad Muhaimin Azzet

Tinggalkan komentar

Filed under Pendidikan

Setiap Anak Berpotensi Cerdas; Kecerdasan adalah Anugerah

Penulis, saat mengisi kajian di Azhar Yogyakarta Islamic School.

Salah satu anugerah yang sangat luar biasa dari Tuhan kepada manusia adalah kecerdasan. Anugerah ini diberikan dengan cuma-cuma alias gratis agar manusia dapat menjadi wakil-Nya atau khalifah di muka bumi, sehingga dapat mengelola kehidupan dengan baik.

Setiap anak manusia yang dilahirkan ke dunia ini sudah dibekali dengan satu triliun sel neuron yang terdiri dari seratus miliar sel aktif dan sembilan ratus miliar sel pendukung yang kesemuanya berkumpul di otak. Setiap satu sel neuron memiliki kemungkinan membentuk seratus ribu sambungan kompleks antarsel neuron yang bekerja mengolah informasi secara random. Kalau digunakan, setiap sel bisa berkoneksi dengan dua puluh ribu sel lainnya. Otak yang demikian canggih ini, sudah barang tentu, mempunyai kapasitas memori yang luar biasa. Menurut para ahli, otak manusia sanggup menyimpan ingatan secara conscious (ingatan di luar kepala) ekuivalen dengan lima ratus ensiklopedia besar.

Berdasarkan potensi kecerdasan sebagaimana yang disebutkan di atas, setiap manusia sesungguhnya berpotensi untuk menjadi manusia yang genius. Namun, sayang sekali, kapasitas otak yang dipergunakan oleh manusia pada umumnya hanya dipakai kurang dari satu persen. Padahal, kalau manusia mau memakai otaknya sampai delapan persen saja, maka ia akan menjadi manusia genius seperti Enstein.

Sebagai orangtua yang sangat mencintai anak-anak, sudah barang tentu mempunyai tanggung jawab yang besar sekaligus mulia untuk bisa mengembangkan kecerdasan pada anak-anaknya yang sudah dianugerahkan oleh Tuhan. Jangan sampai anugerah yang luar biasa dahsyat ini kita biarkan begitu saja. Alangkah disayangkan bila hal ini terjadi; berarti kita menjadi hamba yang tidak bisa berterima kasih kepada-Nya karena sudah diberi anugerah, tetapi tidak dikembangkan dengan baik.

Salam dari Jogja,
Akhmad Muhaimin Azzet

Tinggalkan komentar

Filed under Keluarga

Peran Orangtua dalam Mengembangkan Kecerdasan Anak

Penulis, Akhmad Muhaimin Azzet, di sebuah
pengajian di Perum Griya Perwita Wisata.

Bila sekolah formal atau reguler tempat belajar anak-anak kita telah mengambil peran yang sangat besar dalam mengembangkan kecerdasan intelektual anak, maka peran orangtua di rumah hanya tinggal mendampingi dan memberikan dukungan saja terhadap anak-anaknya dalam mengembangkan kecerdasan intelektual ini. Namun, masih ada dua kecerdasan yang penting untuk diperhatikan oleh orangtua, yakni kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Kedua kecerdasan ini bukan berarti diabaikan atau tidak mendapatkan perhatian di sekolah formal atau reguler, namun bila mencermati kurikulum dan tolok ukur penilaian peserta didik memang harus diakui bahwa kecerdasan intelektual yang menjadi garapan utama. Maka, mendapati kenyataan ini, dalam mengembangkan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual pada anak memang orangtua harus mengambil peran utama.

Bagaimana langkah-langkah yang bisa dilakukan oleh orangtua dalam mendampingi tumbuh dan berkembang anak-anak agar dapat mengembangkan kecerdasan emosionalnya, mengenai persoalan ini sudah penulis bahas dalam buku berjudul Mengembangkan Kecerdasan Sosial Anak. Dalam kajian ini, sengaja penulis khusus untuk membahas persoalan bagaimana langkah-langkah yang bisa dilakukan oleh orangtua agar dapat mengembangkan kecerdasan spiritual pada anak.

Sungguh, kecerdasan spiritual ini jangan sampai diabaikan oleh para orangtua karena bahagia atau tidak anak-anak kita dalam menjalani kehidupan ini sangat tergantung dari kecerdasan spiritualnya. Jika kecerdasan spiritualnya tinggi maka seseorang akan mudah dalam meraih kebahagiaan; namun jika kecerdasan spiritualnya rendah akan sulit seseorang akan merasakan sebuah kebahagiaan. Betapa penting hal ini untuk diperhatikan. Sebab, kebahagiaan adalah inti atau hakikat dari tujuan hidup seorang anak manusia.

Salam dari Jogja,
Akhmad Muhaimin Azzet

2 Komentar

Filed under Keluarga

Mengembangkan Kecerdasan Anak

Penulis, Akhmad Muhaimin Azzet, bersama para santri TPA Tahfidz Cinta Qur’an, Perum Purwomartani Baru.

Setiap orang mempunyai harapan agar kehidupannya dapat mencapai kesuksesan. Demikian pula dengan para orangtua, sudah barang tentu menginginkan agar anak-anaknya dapat meraih kesuksesan. Dalam rangka untuk meraih kesuksesan tersebut, kecerdasan intelektual dipercaya sebagai jalannya. Sehingga, banyak orangtua akhirnya memilih sekolah yang maju dan favorit agar kecerdasan anak-anaknya dapat terasah dengan baik. Tak jarang orangtua juga mengikutkan berbagai les pelajaran tambahan buat anaknya agar kecerdasan intelektual anaknya dapat berkembang secara optimal.

Namun, kecerdasan intelektual (IQ) yang sering dibanggakan oleh kebanyakan orangtua sebagai pertanda bahwa anaknya telah berprestasi dinilai oleh banyak penelitian tidak berbanding lurus dengan kesuksesan hidup sesorang. Ternyata, faktor yang paling dominan memberikan pengaruh bagi kesuksesan hidup seseorang adalah kecerdasan emosional (EQ). Kecerdasan emosional—termasuk di dalamnya adalah kecerdasan sosial—dipercaya lebih mudah membuat seseorang untuk mencapai kesuksesan dalam hidupnya.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan penelitian di bidang psikologi, selanjutnya ditemukan kecerdasan yang dinilai sebagai kecerdasan yang paling utama dalam diri manusia, yakni kecerdasan spiritual (SQ). Kecerdasan intelektual memang penting agar seseorang mempunyai kemampuan dalam menganalisis dan berhitung, terutama terkait dengan ilmu pasti. Demikian pula dengan kecerdasan emosional, keberadaannya harus dikembangkan dengan baik agar seseorang dapat lebih mudah dalam meraih kesuksesan dalam hidupnya. Namun, untuk menemukan makna hidup dan kebahagiaan, seseorang memerlukan kecerdasan spiritual.

Ya, kecerdasan spiritual membantu seseorang untuk menemukan makna hidup dan kebahagiaan. Inilah kenapa kecerdasan spiritual dinilai sebagai kecerdasan yang paling penting dalam kehidupan seseorang. Karena, menemukan makna dari kehidupan dan kebahagiaan adalah tujuan dari setiap orang dalam hidupnya. Untuk apa mempunyai kecerdasan intelektual yang tinggi bila hidupnya tidak berbahagia? Untuk apa dapat meraih kesuksesan, baik itu dalam karier, kekayaan, maupun dalam kehidupan sosial, bila tidak bisa merasakan sebuah kebahagiaan? Itulah kenapa kecerdasan spiritual dikatakan sebagai kecerdasan yang paling penting dan tinggi.

Jika memang kecerdasan spiritual dinilai sebagai kecerdasan yang paling penting dan tinggi karena terkait dengan kemampuan seseorang dalam meraih kebahagiaan, pertanyaan yang segera muncul adalah apakah kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional menjadi tidak penting lagi dalam kehidupan manusia?

Kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang sangat penting untuk dikembangkan dalam diri manusia. Ketiganya merupakan karunia Tuhan yang tidak boleh diabaikan agar manusia dapat menjalani dan menikmati kehidupannya dengan baik. Akan tetapi, hal yang tidak diinginkan adalah mengembangkan kecerdasan yang satu, namun mengabaikan kecerdasan yang lainnya. Misalnya, kebanyakan orangtua dan para guru merasa bangga bila anak-anak mencapai prestasi yang baik dalam kecerdasan intelektualnya; dan mereka seakan lupa bahwa masih ada kewajiban untuk mengembangkan kecerdasan yang lainnya dalam diri anak, yakni kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Jadi, hal yang penting untuk diperhatikan adalah porsi dalam mengembangkan masing-masing kecerdasan yang ada dalam diri anak dengan baik.

Salam dari Jogja,
Akhmad Muhaimin Azzet

Tinggalkan komentar

Filed under Anak

Pengertian Bimbingan dan Konseling

Penulis, Akhmad Muhaimin Azzet, bersama santri TPA Tahfidz Cinta Qur’an.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “bimbingan” diartikan sebagai petunjuk (penjelasan) cara mengerjakan sesuatu. Sedangkan “konseling” adalah pemberian bimbingan oleh yang ahli kepada seseorang dengan menggunakan metode psikologis. Konseling juga bisa diartikan sebagai pemberian bantuan oleh konselor kepada konseli sedemikian rupa sehingga pemahaman terhadap diri sendiri meningkat dalam memecahkan berbagai masalah.

Bila merujuk kepada kamus tersebut, bimbingan dan konseling adalah petunjuk atau penjelasan yang diberikan oleh yang ahli kepada seseorang dengan metode psikologis sehingga seseorang semakin memahami dirinya agar dapat menghadapi suatu masalah dengan baik.

Bimbingan dan konseling yang dijalankan di sekolah mempunyai makna yang tidak begitu berbeda dengan pengertian di atas. Bimbingan dan konseling adalah upaya dalam memberikan pelayanan bantuan kepada anak didik agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal. Pelayanan bantuan ini bisa dilakukan kepada anak didik secara perorangan atau kelompok. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka membantu anak didik dalam mengembangkan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kemampuan belajar, dan merencanakan kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Pengertian bimbingan dan konseling sebagaimana di atas juga sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 28/1990. Dalam PP tersebut, yakni pasal 25 ayat 1, disebutkan, “Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenali lingkungan, dan merencanakan masa depan.”

Bantuan kepada Siswa

Pemberian bantuan kepada anak didik ini dipandang penting agar mereka dapat memilih, mempersiapkan diri, memegang tanggung jawab, dan mendapatkan hal yang berharga dari keputusan yang diambilnya. Dengan demikian, bimbingan dan konseling adalah upaya pemberian bantuan kepada anak didik agar dapat memahami dirinya sehingga sanggup mengarahkan diri dan bertindak dengan baik sesuai dengan perkembangan jiwanya. Upaya ini dilakukan dengan menciptakan lingkungan perkembangan yang kondusif serta dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan.

Pemberian bantuan dalam bimbingan dan konseling ini dilakukan secara terencana, termasuk menggali segala hal yang terkait dengan anak didik, berdasarkan identifikasi kebutuhan mereka, tujuan pendidikan, dan harapan dari orangtua peserta didik. Hal ini dilakukan oleh seorang tenaga profesional dalam bimbingan dan konseling agar anak didik bisa secara mandiri mengatasi masalah yang dihadapinya dengan baik.

Salam dari Jogja,
Akhmad Muhaimin Azzet

2 Komentar

Filed under Bimbingan Konseling

Pentingnya Bimbingan dan Konseling di Sekolah

Penulis, Akhmad Muhaimin Azzet

Anak atau peserta didik adalah pribadi yang tumbuh dan berkembang menuju kedewasaannya. Seiring dengan bertambahnya usia, anak atau peserta didik mengalami proses belajar yang terus-menerus dari yang sebelumnya tidak mengetahui menjadi mengetahui; dari yang sebelumnya tidak mengalami menjadi mengalami secara langsung pengalaman hidupnya. Di sinilah sesungguhnya dibutuhkan seorang guru dalam proses pendidikannya agar dapat mendampingi sang anak atau peserta didik dalam belajar dan memahami sesuatu.

Di dalam sekolah, semua guru adalah pembimbing bagi anak didiknya dalam proses belajar mengajar. Seorang guru tidak hanya menyampaikan ilmu pengetahuan kepada anak didiknya, namun juga mendampingi mereka dalam meraih keberhasilan pendidikan. Dalam menjalani setiap aktivitas dalam belajar mengajar ini tugas guru adalah juga memberikan bimbingan kepada anak didiknya.

Akan tetapi, anak didik juga membutuhkan bimbingan secara khusus, terutama ketika menghadapi persoalan yang terkait dengan kepribadian, agar dapat menyelesaikan persoalannya dengan baik. Di sinilah sesungguhnya penting keberadaan bimbingan dan konseling di sekolah. Secara profesional, bimbingan dan konseling dilakukan oleh seorang konselor.

Salam dari Jogja,
Akhmad Muhaimin Azzet

Tinggalkan komentar

Filed under Bimbingan Konseling

Anak Suka Memberontak, Bagaimana Mengatasinya

Penulis, Akhmad Muhaimin Azzet

Anak yang memberontak biasanya disebabkan oleh keadaan yang membuatnya tidak nyaman atau ingin mengungkapkan ketidaksetujuannya terhadap sesuatu. Mengatasi anak yang memberontak secara efektif sudah tentu harus dilihat terlebih dahulu penyebab dari mengapa anak kita melakukan pemberontakan. Untuk mengetahui penyebabnya ini dibutuhkan ketenangan dari orangtua; tidak jarang orangtua justru panik ketika anaknya menunjukkan sikap memberontak sehingga yang terjadi akhirnya orangtua mengambil jalan pintas dalam mengatasi anaknya, yakni membentak atau menunjukkan kemarahan.

Di antara penyebab anak memberontak adalah sebagai berikut:

  1. Perbedaan Sikap Kedua Orangtua

Tidak jarang seorang ayah menghendaki anaknya harus berbuat begini, akan tetapi ibunya menghendaki anaknya harus berbuat begitu. Perbedaan sikap dari kedua orangtua biasa terjadi berkaitan dengan cara mendidik atau cara menanamkan nilai tertentu dari orangtua kepada anak. Meskipun keduanya bertujuan baik, namun perbedaan sikap dari kedua orangtua akan membuat anak merasa bingung dalam menyikapi kedua orangtuanya. Kebingungan pada diri sang anak biasanya diwujudkan dengan sikap memberontak. Bila hal ini yang menjadi penyebab anak memberontak, sudah tentu kedua orangtua harus segera menemukan titik temu dalam bersikap kepada sang anak.

  1. Orangtua Bertindak Tidak Adil

Sikap orangtua yang bertindak tidak adil kepada anak ini terjadi kalau orangtua sudah mempunyai anak lebih dari satu. Kepada anak yang pertama, misalnya, orangtua memberikan rasa sayang yang lebih dibanding dengan anak yang kedua; atau sebaliknya. Sikap dari orangtua yang membedakan anak yang satu dengan yang lainnya bisa menumbuhkan rasa iri—bahkan dendam—dalam hati sang anak. Pada saat seperti ini, sesungguhnya orangtua secara tidak langsung juga mengajarkan sifat yang tidak baik tersebut kepada anaknya. Akhirnya, rasa iri—bahkan dendam—yang ada pada diri anak yang merasa diperlakukan tidak adil oleh orangtua mendorongnya untuk menunjukkan atau melawan ketidakadilan tersebut dengan memberontak.

  1. Orangtua Menuntut Secara Berlebihan

Orangtua kadang menginginkan agar anaknya melakukan sesuatu atau bersikap sesuai dengan yang dinginkannya; atau orangtua memerintahkan kepada anaknya untuk melakukan sesuatu dengan cara mendesak. Namun, bila hal ini yang dilakukan oleh orangtua, biasanya orangtua tidak akan mendapatkan hasil yang diinginkannya. Anak cenderung memberontak atau tidak mau melaksanakan apa yang dituntutkan kepadanya bila dilakukan secara berlebihan atau diperintah secara mendesak. Di saat seperti ini, orangtua semestinya memahami kondisi sang anak. Cara yang paling efektif untuk mengatasi anak yang memberontak akibat dari “tekanan” dari orangtua seperti ini adalah mengurangi ketegangan dengan cara orangtua memberikan kesempatan kepada anaknya untuk melakukan sesuatu atau bersikap sesuai dengan keinginan, kondisi, dan kebutuhannya.

  1. Orangtua Bersikap Kaku

Sebelum membahas masalah ini, ada pertanyaan penting yang perlu kita jawab, yakni bagaimana perasaan kita apabila menghadapi orang yang bersikap kaku, hanya pendapatnya yang dianggap benar, dan tidak mau kompromi dengan orang lain? Sudah tentu kita akan merasa tidak nyaman, kurang suka, dan rasanya tidak ingin menjalin komunikasi lebih lanjut. Demikian pula dengan anak kita. Apabila kita sebagai orangtua bersikap kaku atau bahkan keras terhadap anak-anak justru akan membuat mereka tidak nyaman, kurang atau bahkan tidak suka, dan akhirnya menjadi pemberontak. Sungguh, sikap mau kompromi dan lunak dari orangtua sangat dibutuhkan untuk mengatasi anak yang sudah telanjur menjadi pemberontak oleh karena sikap kaku orangtua.

Demikianlah beberapa cara yang efektif dalam mengatasi anak ketika menunjukkan sikap memberontak. Satu hal yang harus orangtua pahami adalah setiap sikap memberontak dari anak selalu terjadi oleh sebab tertentu. Nah, mencari penyebabnya inilah yang dibutuhkan ketenangan dan kejujuran dari orangtua agar dapat mengatasi masalah yang terjadi.

Salam dari Jogja,
Akhmad Muhaimin Azzet

2 Komentar

Filed under Anak, Keluarga