Akhir-akhir ini banyak peneliti di berbagai negara maju yang mulai memperhatikan penyempitan keragaman genetik dari beberapa komoditas penting terutama tanaman padi. Bahkan telah lama banyak peneliti di negara maju yang aktif kembali mempelajari secara genetik kerabat-kerabat liar dari tanaman budidaya.
Dari hasil penelitian terbaru (silahkan buka papers jurnal), diketahui bahwa kultivar padi di Indonesia mempunyai lebih dari 2000 nenek moyang dan memperlihatkan silsilah pedigree yang sangat rumit. Namun demikian dari hasil analisis pedigree, genetic background dari kultivar padi di Indonesia terutama didominasi hanya oleh kultivar dari IRRI. Empat nenek moyang padi Indonesia (Dee-geo-woo-gen, Cina, Latisail, Gampai dan Tadukan) secara bersama-sama telah berkontribusi sebesar 46.1% terhadap gene pool padi Indonesia. Dari total luas pertanaman 10 kultivar padi yang paling banyak di tanam di Indonesia tahun 2005 ( Ciherang, Ciliwung, Wayapoburu, IR42, Widas, Membramo, Cisadane, IR66, Cisokan, Cibogo), gen IR64 berkontribusi lebih dari 50% (50.6). Dengan cluster analysis menggunakan coefficient of parentage, kultivar padi di Indonesia terbagi dalam 5 group utama. Cisadane dan Ciapus baik untuk digunakan sebagai tetua persilangan hasil tinggi. IR8 kurang bagus sebagai tetua persilangan. Daya gabung IR8 boleh jadi berbeda dengan kultivar lainnya. Group Sintanur mempunyai kelebihan aroma yang baik, sedangkan Group Kalimas mempunyai kualitas nasi yang kurang bagus.
Untuk lebih jelasnya bisa dibaca di: (Dalam bahasa Jepang dengan abstrak bahasa Inggris).
Tomohiko Yoshida, Anas, Santi Rosniawaty and Ridwan Setiamihardja. 2009. Genetic Background of Indonesia Rice Germplasm and its Relationship to Agronomic Characteristics and Eating Quality. Jpn. J. Crop. Sci. 78: 335 – 343.