h1

bad reason to start writing (again)

Maret 26, 2010

I have had a light head trauma. It started last week, my scooter crashed and my head hit the road, literally. Lost my conscience for about 3 hours,  and it is still quite hard to remember the whole story prior to the accident.

Anyway, one of the effects of the concussion was my diminishing ability to think perpetually. It was too tiresome. I felt dizzy every time I started to think hard….See, there, it happens again.

Gosh, now I know, for me, writing these unimportant lines should be considered a hard thinking job. Hhh, I envy people that can easily write everything that jump on their minds.

But then again, it’s all about getting used to it, right? So, starting from now on, writing unimportant things, no matter how unimportant they are, will be my daily — or make it monthly — activities!

and it begins with this writing.

h1

in the anticlimactic life

Juni 3, 2009

Loads of Harry Potter fans, including myself at the moment, were hoping for another story after the seventh book, a kind of alternate version of Potter in the future.. we  surely missed them — Harry, Hermione, Ron, D-army..

But then I realized that it can never be made. It would have been lame to read the next book, if there were such a thing, cause then it would be anticlimactic.

A lot of TV series were great movies at first, but they became dull after their 100th-episode because the makers just didn’t know when to stop..and continued the story even after the climax.  The ambition to succeed more and more, has made them forget sometimes in the state they were in at that time.

And it is – more or less – similar to this real day-to-day story of ours.

We often pass certain peaks in life, and due to greediness  we forget to stop — just for a while to reach another climax ; and instead living the anticlimactic life. And what a dull life we would have experienced by then.

h1

dark side of the Light

Mei 5, 2009

A friend of mine once sent me an article about conversations between a professor and his student. The details were not that interesting for me, except a single statement that mentioned how good and evil were interconnected. It was like the relation between dark and light. As you may think that darkness is the opposite of light, it isn’t — so he said. It is the absence of light. Just like cold is the absence of heat, not the opposite of it.

In a world where people blame each other for being bad, we sometimes forget that nobody’s perfect. So as our norm tries to dichotomize everything — heaven and hell, virtue and sin, angel and demon, good and evil…we forget that there are infinite states between them, of which we — if by any means could be parameterized — are scattered inside the lines.

So in the single dimension of righteousness, the dark side of the light is just an ameliorated phrase of imperfection, in which we agree to be entitled with. Instead of hating the darkness, we might as well focusing on the intensity of light. Pure virtue is something we could never have, albeit dream of. What makes a human being a special creature is not his perfectness, but how his imperfection drives him to be the wise of all beings, the Homo sapiens.

h1

speak good broken english

Januari 23, 2009

(dari milis tetangga…hahaha)

Don’t Judge a book by the Cover

Jangan menghukum buku karena dia meninggalkan koper

Like father like son

Suka bapaknya, suka juga sama anaknya

The beauty is under the skin

Jadi cakep kalo udah ganti kulit

Just bee Yourself

Kesengat tawon, itulah kamu (muka kamu)

The truth is out there

Yang bener boleh keluar

The right man in the wrong place

orang di sebelah kanan, salah tempat (harusnya di kiri)

Love is blind

pacarilah orang buta

h1

la vita e bella

Januari 23, 2009

with two slices of ‘kue lapis’ (not mine) and two pieces of ‘pisang molen’ (also not mine) and the song ‘Don’t know why’ by David Benoit and all the anxieties I dump in my head, I am trying to refill my blog i’ve once left . it’s all of because that silly facebook thingy…damn.

Anywho, smooth jazz (if  it not make you sleepy) will surely raise the melancholistic side of you, dramatize the effect of problems..don’t know why.

Don’t know why either, i got trapped in this corner of life right now. Though i sometimes hoped to be here, i never expected that the tides were so strong, and could drag me this far, no matter how much i tried to resist.

so here I am, with so many things in front of me i tried to left behind (paradoxical isn’t it ?), waiting for some crazed miracle, if any, to make me move on..

and then again, c’est la vie. problem was the one that made human evolve in so many way they could..to be the star of mrs.mother earth’s precious children.Thank God, mine is not as huge as hitler’s. i would have took the pills halfway of his life if i were him.

you know what, life is beautiful — if you see it with the right perspective. So go on, change the glasses..and be thankful !

h1

kekuatan berpikir positif

Desember 13, 2008

percaya sama kekuatan berpikir positif ?
untuk beberapa hal, saya percaya….

“(harga) BBM, ayo turun….turun….turun !!!”

and so it has — Q.E.F

h1

berkeringat (tanpa) harus berkeringat

Desember 5, 2008

Saya melihat orang-orang yang mengalami begitu banyak pengalaman, semua pahit-getir perjuangan untuk sekadar bertahan dan eksis dalam komunitas yang harus saling menyikut untuk bisa hidup. Saya menghargai itu…Saya menghargai orang-orang yang mengerti pentingnya semangat-pantang-mundur karena kesuksesannya dibangun dari langkah demi langkah kegagalan..Saya menghargai orang-orang yang mau berjuang untuk orang lain karena dalam hidupnya ia merasakan betapa pedihnya harus berjuang sendiri. Saya menghargai orang-orang yang menyaksikan dengan mata-kepalanya sendiri bahwa hidup itu berat, tapi tak pernah menyerah karena tidak ada alasan untuk itu.

Tapi ada saatnya, kamu ngga perlu mati untuk tahu bahwa hidup itu berharga khan ?

Di dunia ini bertabur banyak sekali pelajaran hidup. Dunia adalah lembaran-lembaran buku filsafat kehidupan….ya, dan kadang satu-dua orang literally menuliskan pelajaran itu dalam lembaran buku. Kamu bisa belajar dari pelajaran dunia saat ini — kemarin — atau 20 tahun lalu, sebagaimana bapakmu biasa bercerita ;  tentang dari dirimu sendiri, keluargamu, lingkungan terdekatmu, atau masyarakat…..

Atau, kamu bisa belajar dari hidup 2000 tahun silam, tentang semua pelajaran di seluruh dunia. Kamu bisa belajar dari jejak-jejak hidup masa lalu, dalam Agama, Filsafat, atau Norma-norma budaya.

Filsafat ngga bikin kamu gila, karena mereka yang gila karena filsafat berarti bodoh..

Agama, juga ngga bikin kamu menderita, karena mereka yang menderita karena agama berarti belum memahami itu sepenuhnya.

Filsafat, Agama, Nilai, adalah pilihan bagi manusia untuk membangun sudut pandang yang tepat (kalau bukan benar) baginya tentang hidup. Mereka membuatmu menghargai kehidupan tanpa harus bergelut dengannya. Mereka membuatmu mencintai alam ini tanpa harus menjelajahinya sudut demi sudut. Mereka membuatmu, – dalam istilah saya – berkeringat tanpa harus berkeringat.

h1

bunga (?) bangkai

November 19, 2008

Saya nemu makhluk ini di Situ Lembang, Bandung..di tengah-tengah hutan pinus yang udah diberantas vegetasi bawahnya karena mau dipake buat nanem kopi.

img_2823
(….Makasih ke AW buat fotonya…)

Ada yang tau ini apa ?

Saya juga belum tau. Mungkin perlu dibawa ke Herbarium untuk diidentifikasi. Tapi, dari bentuknya sih keliatan seperti bunga (?)..

Tau cerita tentang bunga bangkai ? Bunga bangkai (Rafflessia spp.) adalah bunga dari parasit yang hidup di akar-batang jenis liana spesifik yang namanya Tetrastigma. Selama masa tumbuhnya, parasit ini ngga menampilkan wujudnya. Tapi begitu masuk ke fase reproduktif, baru dia munculin bunganya yang seperti bangkai dan baunya busuk.

Kenapa seperti bangkai ? karena dia butuh serangga tertentu untuk membantu penyerbukan. Yang biasanya kita tau khan, serangga tertarik ke bunga-bunga yang cantik atau harum. Itu, karena serangga spesifik tersebut emang berko-evolusi dengan bunga seperti itu. Beberapa bunga anggrek sepintas keliatan seperti lebah..dia menarik lebah jantan untuk berkopulasi, thus membantu membawa serbuk sari dari satu bunga ke bunga lain. Bunga lain punya warna cerah sebagai tanda ke serangga bahwa ” saya punya nektar yang bisa kamu ambil, nih..” Berbagai bentuk bunga berkaitan juga dengan bagaimana cara ia melakukan penyerbukan — dalam kasus penyerbukan dengan serangga, bentuk bunga berkaitan dengan serangga apa yang ingin ia tarik.

Kembali ke bunga bangkai..karena serangga yang dia tarik untuk menyerbuki adalah lalat yang “suka” dengan bangkai, maka seperti itulah bentuk bunganya.

Saya masih belum yakin kalo foto di atas itu bunga. Mungkin juga jamur. Tapi, bentuk seperti bangkai sepertinya ngga berguna untuk jamur. Borok hitam di sekitar lubang, menyerupai bangkai khan. Saya juga sempet lihat beberapa serangga masuk ke dalam lubangnya..

Masih saudaranya bunga bangkai Rafflessia ? biar para ahli yang ngejelasin..

h1

Tabula rasa (Trilogi Cinta #3)

Oktober 15, 2008

karena manusia terlahir bagai sebuah kertas kosong, tabula rasa”

Lalu mengapa ada orang yang bisa menjadi egois dan sombong ?

Para psikolog Freudian, katanya, berusaha menjawab itu dengan mengaitkan bagaimana diri kita sekarang dengan apa yang terjadi di masa kecil kita. Katanya juga, ada periode perkembangan dimana kepribadian anak dibentuk oleh lingkungannya. Anak tidak memiliki gambaran penuh atas dirinya sendiri, dan karena itu mempersepsi dirinya dari gambaran yang diberikan lingkungan kepadanya. Ia mencerap pandangan orangtuanya tentang dirinya, dan menjadikan itu identitas dirinya ; juga pandangan lingkungan terdekatnya, kakak-adik, saudara, keluarga besar..di usia remaja, ia mulai membentuk dirinya dari lingkungan yang lebih luas ; teman, sekolah, tetangga. Ini, katanya lagi, disebut periode pencarian jati diri. Meski setelah melewati masa-masa ini, idealnya ia sudah memiliki gambaran penuh atas dirinya, tidak jarang hingga usia 25 tahun atau lebih, gambaran itu belum sepenuhnya terbentuk. Dalam kasus ekstrim, beberapa bentuk neurosis bisa terjadi.
——-
Okay, sekarang bayangin lagi, apa jadinya jika anak selalu dikatai bodoh atau jelek sejak kecil ? Ya, dia akan mencerap itu dan menjadikan itu bagian dari identitasnya..demikian juga jika yang terlontar di keluarga adalah kebencian, atau jika orangtuanya selalu mengeluh bahwa hidup mereka susah, atau jika — perhatikan ! — anak tidak pernah diberi kasih sayang yang cukup. Ia tidak akan menyayangi diri sendiri sepenuhnya, dan — karena disayangi adalah kebutuhan alami manusia, ia akan selalu merasa butuh disayang orang lain sepanjang hidupnya !

——-

Jadinya intinya apa sih ? Bagi saya, di usia berkembang, saat seorang anak manusia membangun kepingan-kepingan identitas dirinya dari apa yang ada di sekitarnya…. biarkanlah dia membangun dirinya sebagai manusia yang utuh —

manusia yang mengenal cinta dan kasih sayang, manusia yang memiliki optimisme dan semangat hidup, manusia yang menghargai dirinya sepenuhnya sehingga ia bisa mencintai orang lain dengan tulus pula,

manusia yang memegang nilai-nilai yang bisa membantunya berkembang menjadi lebih baik, bukan nilai yang memberikan pembenaran atas kebenciannya pada kehidupan..

Berat memang, menjejali anak melalui berbagai teori perkembangan anak.  Cara mudahnya ? ajarkan kepada mereka melalui apa yang kita miliki…kasih sayang yang tulus, nilai hidup yang juga kita pegang — tidak hanya kita hafal…

karena apa ?

karena kita tidak bisa memberikan apa yang tidak kita miliki…” setidaknya itu yang saya yakini.

h1

seni mencinta (Trilogi Cinta #2)

Oktober 15, 2008

The Art of Loving, bukan buku mesum tentang seni bercinta (cuman negasin aja buat anda-anda yang mikirnya ngga jauh dari ke-ranjang..hohoho), tapi muntahan pemikiran brilian dari seorang pemikir abad ini, Erich Fromm. Dia bercerita gimana “mencintai diri sendiri” begitu terkait dengan “mencintai orang lain”, dan justru jauh berseberangan dengan selfishness.
Di sudut waktu yang lain, Scott Peck di bukunya “The Road Less Travelled” mencoba menjelaskan apa itu cinta — yang mana menurutnya sangat susah sehingga yang bisa ia lakukan hanya menjelaskan apa yang BUKAN cinta. Dari sana, ia bisa bilang kalau perasaan yang menyebabkan kita ngga bisa berpikir logis, atau kepasifan dan kontraproduktif, atau sadomasochisme sosial, atau posesivitas, atau apapun yang meniadakan/menghambat jiwa manusia untuk berkembang menjadi lebih baik — entah itu bagi yang mencintai atau dicintai, bukanlah cinta. In other words, cinta merupakan upaya aktif manusia untuk membantu yang dicintainya berkembang dalam hidup menjadi lebih baik.
——-
Wuss..wusss….balik lagi, balik lagi. Fromm bilang, mencintai diri sendiri tidak senegatif yang banyak orang anggap, karena ia justru berbeda jauh dengan keegoisan. Mencintai diri sendiri adalah juga menghargai diri, beserta semua kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya, utuh sebagai manusia. Dia, yang mencintai diri sendiri, tidak mempermasalahkan jika ia jelek, atau bodoh, atau miskin –atau apapun label-label yang disediakan oleh tata nilai sosial kita –, tapi ia menghargai bahwa ia adalah manusia, sama dengan pengusaha terkaya atau fotomodel tercantik di seluruh dunia.
Mencintai diri sendiri akan mengarah ke kelapangan diri, dan bukan kesempitan. Mencintai diri mengarah ke pengakuan atas kesamaan hak dasar setiap manusia dan kemampuannya untuk menjadi lebih baik. Mencintai diri sendiri, berarti juga mencintai orang lain – karena mereka juga manusia, sama dengan kita – dan berhak untuk hidup dan berkembang. Jika kita menghargai diri kita sepenuhnya, kita akan mengakui bahwa di dalam diri kita pasti ada keburukan — iri, sombong, prasangka, kebencian, yang melekat di dalam setiap manusia …dan karenanya segala kejahatan tidak boleh meniadakan eksistensi diri pelakunya sebagai manusia. Get the point ? Bahkan orang terjahat sekalipun adalah manusia biasa.

——–
Lalu kalau begitu, apa itu selfishness ? Dia juga khan, bentuk kecintaan terhadap diri kita ? Terus apa masalahnya ? Kenapa selfish malah jadi berlawanan dengan self-love ? Coba lihat deh runutan ini…
Selfishness melihat diri sebagai “pusat” dengan meniadakan eksistensi orang lain. Coba tanya lagi apa yang membuat kita selfish :
saya berbeda — Kenapa kamu bisa berbeda, padahal kita semua sama-sama manusia ?
Saya berbeda karena saya mempunyai apa yang orang lain tidak ; keunggulan, keunikan..
Tapi jika kamu mencintai diri kamu karena kamu berbeda, atau unggul, atau unik, lalu apakah kamu akan mencintai diri kamu karena kamu manusia ? Apakah itu berarti bahwa jika di satu waktu kamu menyadari bahwa diri kamu tidak lagi unggul atau unik, kamu akan membenci dirimu ? Apakah kamu akan menerima keburukan kamu ? atau apakah kamu justru berusaha meniadakannya ?

Pertanyaan seperti itu yang mengganggu para psikolog untuk mengatakan bahwa selfishness, justru adalah bentuk ketiadaan cinta atas diri sendiri..ketika manusia tidak bisa mencintai dirinya sepenuhnya, ia akan berusaha mengkompensasi hal itu dgn mencintai sebagian dari dirinya yang ia suka — dan meniadakan bagian darinya yang lain.

Lalu bagaimana bisa manusia tidak memiliki cinta atas dirinya ?

Pemikiran kakek Freud dan pemikir-pemikir di belakangnya mencoba menjelaskan dengan mengambil satu premis, bahwa seperti apa seseorang saat ini berhubungan dengan bagaimana lingkungan membentuknya  di masa kecil.. karena manusia terlahir bagai sebuah kertas kosong, tabula rasa.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai