Oleh: Angga | Oktober 24, 2024

Tugu Kenangan

Entah kapan sempat kumulai
Namun kuharap telah selesai
Jejak bayangmu di medan hati
Tugu kenangan masih berdiri

Idaman silam meski bernyanyi
Bukanlah dia yang nyata asli
Hasrat apa yang kulayani
Sebatas indah di rimba mimpi

Wahai diri yang tak berhenti mencari
Tuntaslah bahagia dalam naungan kini

Wahai diri yang tak berhenti mencari
Ajaklah benakmu cengkrama dalam kini

Oleh: Angga | September 29, 2019

Ada yang Tak

Ada rasa yang tak lagi sama
Dalam kini yang membaca kala
Kiranya lapar tak lagi menyapa
Adakah jiwa bergeming mendamba

Oleh: Angga | Desember 27, 2016

Kudeta atas Nurani

Ada masa ketika budi pekerti dan akal sehat tidak lagi menjadi bagian dari kelumrahan masyarakat, sehingga seolah tindakan-tindakan yang melanggar nurani di masa itu merajalela dan menjadi sebuah kelaziman. Di masa ini pula berlangsung ketika rasa percaya seseorang terhadap hidupnya nurani yang mengatur tata-susila telah pudar. Norma kesantunan hanya dianggap sebagai mitos dan pelajaran bagi anak-anak, memudar dalam kenyataan hidup yang kian menuntut seseorang untuk tenggelam dalam pilihan-pilihan kelabu demi bertahan hidup.

Ketika nurani padam dan hati menjadi keras untuk memahami hakikat kemanusiaan itu sendiri, di manakah kebijaksanaan bertumpu? Barangkali nilai-nilai junjungan tentang kesusilaan pun pada akhirnya roboh sehingga manusia tak lagi berikat padanya, kecuali bila nilai-nilai itu mampu menjamin kebertahanan hidup. Kiranya di sinilah ketika timbangan kebijaksanaan beralih tangan, dari nurani pada kekuasaan.

Demikian kiranya, sebab kekuasaan seringkali hadir sebagai penjamin kebertahanan hidup dan kesejahteraan manusia. Dalam segala bentuknya, manusia memperbudak diri ke dalam kekuasaan itu demi identitas dan keberlangsungan hidupnya. Telah lazim kiranya sahutan-sahutan demi penguasa, bangsa, atau negeri dikumandangkan ketika umat manusia saling bunuh; bukan karena dendam antara pribadi, namun karena sewujud kekuasaan berusaha memadamkan kekuasaan lainnya, memadamkan identitas dan jaminan keberlangsungan hidup si pribadi.

Ada masa ketika hukum tertulis, hukum positif yang ditulis oleh penguasa, hadir sebagai perangkat untuk menindak kalangan pencilan; kalangan yang tak hidup dengan nuraninya sehingga kerap kali ia melanggar hak sesama insan. Ada potong tangan bagi pencuri, ada penjara bagi kriminal, ada rajam bagi pezina. Kekejaman sanksi hukum itu wajar pada masa itu, sebab tindakan yang mengemukakannya adalah sesuatu yang hina, keji, dan tak mungkin dilakukan oleh seorang insan bernurani. Tak perlu seorang penguasa untuk menghalangi seorang insan melanggar hak insan lainnya, sebab nurani mampu menghentikan tindakannya itu. Insan bernurani mampu berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan.

Namun ada pula masa ketika nurani begitu lemah sehingga sang hukum positif merasa perlu untuk mengkudeta. Hak-hak insan dipatuhi hanya ketika hukum positif menuntut. Pencurian tak terjadi hanya karena ada petugas keamanan, perzinaan tak terjadi hanya karena ada penggerebekan rutin, penghinaan nama baik tak terjadi hanya karena ada pasal undang-undang yang mengatur sanksi. Keburukan tak terjadi hanya karena ada yang melapor pada penguasa.

Pada masa inilah ketika nurani diri tak lagi dipercaya untuk menghadirkan kebaikan, kita berbondong-bondong menghamba pada sesosok penghadir hukum. Bukan karena dia bijaksana, bukan karena dia terilhami sebuah hikmah, namun semata karena ia memiliki kekuatan dan kekuasaan penjamin keberlangsungan hidup.

Ada masa ketika nurani keinsanan begitu lemah untuk hadir dalam akal sehat masyarakat sehingga ia tak begitu dipercaya untuk mewujudkan keadilan, dan masyarakat membaiat penghambaan pada sesuatu yang lain, selain Yang Menghijabi jiwa setiap insan terhadap nurani qalbunya.

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla, apabila ingin membinasakan seorang hamba, Dia akan mencabut dari dirinya rasa malu. Apabila sudah dicabut dari dirinya rasa malu, maka engkau tidak mendapatkannya kecuali sebagai seorang pembenci lagi dibenci. Apabila engkau tidak mendapatkannya kecuali sebagai pembenci lagi dibenci maka akan dicabut dari dirinya amanah. Apabila dicabut dari dirinya amanah, maka engkau tidak akan mendapatkannya kecuali sebagai seorang pengkhianat lagi dikhianati. Apabila engkau tidak mendapatkannya kecuali kecuali sebagai pengkhianat lagi dikhianati maka akan dicabut dari dirinya rahmah. Apabila dicabut dari dirinya rahmah maka engkau tidak akan mendapatkannya kecuali sebagai orang yang terkutuk lagi mengutuk. Apabila engkau tidak mendapatkannya kecuali sebagai orang yang terkutuk lagi mengutuk maka akan dicabut dari dirinya Islam,” (HR. Ibn Majah).

“….Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada dalam jiwa-jiwa mereka sendiri…” (Ar-Ra’d [13]: 11)

Allahu a’lam

Oleh: Angga | Juli 16, 2016

Pesona Pujatresna (Asmarandana)

Syair hati puja cinta
Jelang temu bidadari
Dinanti pamungkas sore
Berkawan senyapan senja
Cakrawala bermalam
Rembulan mengiring pandu
Manisnya berungkap rasa

Di relung semayam tresna
Bertumbuhnya kian hari
Bak merdu senandung mure
Luapkan hangatnya sukma
Rindu kian berpendam
Sang masa iringkan degup
Dekatkan kala menjumpa

Bidadari dan sahaya
Bayang benak resah hati
Gelapkan pandir dan pande
Hilanglah pikir nan waras
Biarlah hilang masa
Impikan hanya hadirmu
Dalam tahun kuberlena

Oleh: Angga | Juni 12, 2016

Setetes Hikmah

Setetes madu hikmah jadikanku bahagia
Kenalkan mulutku murninya rasa
Berat langkahku dalam lena
Bersandar di Cinta sang Maha Rahman

Setetes anggur hikmah jadikanku mabuk
Lalaikan mataku dari dunia
Lidahku kelu hingga terkata
Senandung puji Cinta sang Maha Rahman

Setetes susu hikmah jadikanku padu
Ajarkan aku rasa yang bertetap
Ketika hati telah berjangkar
Dalam naungan Cinta sang Maha Rahman

Setetes air hikmah jadikanku segar
Pada hati yang bersemayam payau
Larutkan angan pengundang durjana
Hadirkan hanya Cinta sang Maha Rahman

*47:15

Oleh: Angga | Juni 7, 2016

Mestika Embun Puspita

Tertuang embun di genggam teraba
Bertetes lembut yang menyapa suka
Dalam manja si kelopak bunga
Berurai dalam manisnya kurasa

Siapa yang tahu ke mana hadapan hati
Ketika asmara singgah mengetuk diri
Sejuknya aliri ceruk, pahatan karya sepi
Dinginnya sunyi berganti hangatnya kini

Kelopak manja, janjikan ranumnya madu
Rama-rama datang bak undangan tamu
Kumbang terpana, dalam hasrat teramu
Gundah jiwaku, menyemai semua benalu

Madumu khazanah agung
Mahkotamu peti harta karun
Biarlah embun di genggam teraba
Segarkan hadirmu menyongsong cahaya
Kelopak manja, bukan saatku merindu indahmu
Sebab bukanlah aku kumbang yang merindu madu

Kiranya awan bersalut air ‘kan segarkan hadirmu
Kudamba ia adalah hadirku
Kiranya fajar berselimut embun ‘kan hidupkan mekarmu
Kudamba ia adalah hadirku
Kiranya pagi mengawal mentari ‘kan tampakkan senyummu
Kudamba ia adalah hadirku

Oleh: Angga | Mei 30, 2016

Rembulan Selaksa Angan

Kuterima kiranya bila tak semua kisah
Layaknya ‘Ali dan Fathimah
Sebab di ujung sana telah terkisah
Tentang Qays dan Layla yang tersudah

Qays si Majnun, tergila menyaru rindu
Qays si Majnun, tergila menyimpan angan
Qays si Majnun, tergila terbungkam dendam
Qays si Majnun, tergila mendamba Layla

Oh, Layla, bayangmu menyimpan malam
Dahaga hati, merindu akan tegukan
Tertuang cahaya rembulan
Menyeruak dalam angan

Oh, Layla, kudamba bayangmu dalam sirapan rembulan
Rembulan yang kini jauh, menyaru dalam kenangan
Kiranya waktu bolehkan kita bersua
Rinduku ‘kan tetap sembunyi selaksa kata

Oleh: Angga | Mei 23, 2016

Seteguk Sejati

photo_2016-05-23_23-14-10

Pahitmu dalam cecapan
Tiada ingin kutambah gula
Sebab manis menipu sejatimu
Tiada ingin kucampur susu
Sebab gurih hanyalah sesaat

Segarmu dalam belalak
Degupmu dalam jantung
Alirmu dalam pembuluh
Sejatimu

Manisnya dunia tiada sejati
Gurihnya hidup tiada abadi

Pahitpun hanya ilusi
Namun ia sadarkan akan sejati
Yang kelak menyapa abadi

Oleh: Angga | Mei 22, 2016

Seteguk Hidup

“Ga pake gula, kang?”

“Engga…”

“Ga pahit, kang?”

“Lho… justru di situ alasan saya menyeruput benda ini, agar lidah ini akrab dengan pahit dan asamnya seduhan.”

“Kok rasa yang seperti begitu suka sih, kang?”

“Kadang bukan karena suka, namun memang hidup seringkali akrab dengan pahit dan asam.”

“Nah, kalau hidup akrab dengan pahit dan asam, kenapa bahkan bersantai pun harus memaksa lidah bertemu pahit dan asam pula?”

“Agar lidah dan jiwa ini bisa bahagia dengan manis yang sedikit, dinda, dan bersyukur ketika rasa manis itu berlimpah tanpa lalai untuk kembali bertemu dengan pahit dan asamnya hidup…”

photo_2016-05-22_23-48-24

Oleh: Angga | Mei 21, 2016

Cangkul dan Kaum Hawa

Apa jadinya peradaban tanpa cangkul? Tanpa cangkul, mungkin tak pernah kita kenali tumbuhnya permukiman tepi sungai. Semusim, sungai meluap membasahi dataran banjir di tepian. Semusim yang lain, sungai menyusut, meninggalkan endapan subur. Ribuan tahun lamanya, umat manusia berpengalaman mencangkuli endapan subur tepi sungai untuk dijadikan ladang dan kebun, ditanami sayur-mayur segar dan pepohonan berbuah ranum di tiap musimnya. Dengannyalah kemudian umat manusia menetap di tepi sungai, membangun pusat kegiatan, kehidupan bermasyarakat, budaya, dan peradaban. Tanpa cangkul, mungkin naik dan surutnya sungai hanya gejala alam yang berulang-ulang. Namun dengan cangkul, umat manusia menghadirkan daulatnya atas bumi, menundukkan siklus air bah menjadi benih-benih peradaban.

Tak heran jika masyarakat Mesir kuno mengasosiasikan hiroglif cangkul sebagai simbol terhadap Maat, sang personifikasi keadilan, hukum, kebenaran, dan moralitas. Masyarakat Sumeria kuno pun menganggap cangkul sebagai anugerah yang diterima umat manusia langsung dari Enlil, tetua tertinggi majelis dewan langit. Begitu eratnya simbolisasi cangkul terhadap lahirnya peradaban. Tak berlebihan kiranya bila cangkul dianggap sebagai anugerah budaya yang menjadi teman manusia dalam mewujudkan kehadirannya sebagai pewaris bumi. Ia lebih tegas memaknai kedudukan manusia sebagai raja di atas bumi daripada mahkota emas bertelekan permata ataupun pedang baja penakluk para naga.

Tiba gilirannya kita membahas kaum Hawa yang lazimnya bermakna teman hidup para laki, kaum Adam. Bila Adam bermakna “manusia”, maka kamus bahasa Semit mengartikan Hawa sebagai “kehidupan”. Betapa indahnya Sang Pencipta memasangkan laki dan perempuan sebagai simbol perjodohan kosmik antara manusia dan kehidupan. Betapa indahnya pula Sang Pencipta pun memberikan perumpamaan perjodohan ini seperti petani yang berladang, menuai benih peradaban ke dalam bumi, mengalirinya dengan air, menyemainya dari hama, dan memanennya dalam bahagia.

Ah, masa panen, apa lagi yang lebih menggembirakan dari itu, ketika kaum pria berkelimpahan dengan raupan panen, kemudian mempersembahkan kelebihannya bagi para wanita. Sayur-mayur dan buah-buahan tak lagi sekadar makanan, berubah menjadi mahar-mahar yang dipersembahkan pada Sang Pencipta yang telah menciptakan ciptaan berdaya cipta. Siapa lagi ciptaan yang berdaya cipta kalau bukan para wanita? Berapa raja yang lahir dari rahim sang ciptaan berdaya cipta? Berapa pahlawan pemberani yang datang dari buaian sang ciptaan berdaya cipta? Berapa kaum bijak yang hidup dari asuhan sang ciptaan berdaya cipta?

Cangkul dan kaum Hawa, kalian anugerah langit; laki hanyalah hewan kiranya kalian tak dikenal.

Bagaimana bisa hari ini kalian bersatu sebagai simbol kekejian lelaki?

Older Posts »

Kategori

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai