“Kring……!!!!!”, handphone-ku berdering untuk yang ketiga kalinya, nama yang tertera di layar masih sama “Mama XL”. Ya, ini kali ketiga dalam rentang waktu kurang dari enam jam mama menelepon dan menanyakan keberadaanku. Setan-setan yang menggelayut mesra di pundakku sedari tadi sambil membisikkan sejuta rayuan maut sepertinya sedang bergembira, setelah dua kali gagal menjebakku dalam lingkaran emosi, mereka kini berhasil menjebloskanku ke dalam lingkaran itu. Mereka menang dan sepertinya saat ini sedang bersorak gembira, meninggalkanku tertunduk lesu, menyesali hal yang baru saja terjadi.
“Ini lagi di angkot, Ma…”, kupelankan intonasi suara, berusaha menyamarkan ketidaknyamananku atas sikap mama akhir-akhir ini yang terlalu protektif. Entah kenapa, belakangan ini sikap mama mulai berubah dari sikapnya yang cuek menjadi absolutely protektif. Sebelumnya, mama hanya meng-sms atau meneleponku satu kali saja setiap harinya, sekedar menanyakan kabar dan posisi terakhir. Biasanya aku hanya menjawab dengan satu atau dua kata saja, “Di angkot…!”, “Sudah”, atau “Iya”, dan setelah mendengar jawabanku yang super singkat, mama dengan segera menutup telepon dan membiarkanku melanjutkan kegiatan atau perjalanan. Tetapi akhir-akhir ini mama berubah, perubahan yang pelan-pelan membuatku merasa risih dan sedikit (banyak) sebal. Sebentar-sebentar sms, menanyakan apakah aku sudah makan atau belum. Kalau sms tidak dibalas, maka mama dengan segera menelepon kemudian memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan lain yang membuatku segera menjauhkan telepon dari telinga sampai akhirnya yang terdengar hanya bunyi “Tuttttt”, panjang. Begitu juga saat pulang kerja, setiap tiga puluh menit sekali menanyakan posisi terakhir. Ohh, ya ampun, aku bukan lagi anak tk atau sd atau remaja tanggung yang perlu diawasi seketat ini. “Aku ini bukan anak kecil lagi Mama…!!!”, batinku berteriak lantang setiap kali mamaku bertindak seperti itu.
“Iya, ini juga mau pulang Ma…Kayak anak kecil aja deh…!”, kress, tanpa bisa di stop mulutku terlanjur mengucapkan kata-kata itu, “Kayak anak kecil aja deh”, dengan intonasi lebih tinggi dari sebelumnya. Kumpulan kalimat yang selama ini kuteriakan dalam hati saja dan diniatkan untuk tidak diucapkan, kini kadung meluncur dari mulutku. Sejenak hening menyergap dan rasa kalah dan bersalah muncul, sesebal apapun, tidak seharusnya kata dan intonasi seperti tadi keluar dari mulutku. Berondongan kalimat yang meluncur deras dari mulut mama di seberang sana, membuatku semakin merasa kalah, “ Ya udah, kalo gitu mama ga akan tanya-tanya lagi…!”, dan telepon pun ditutup, tak ada berondongan kata lagi, yang tersisa hanya nada telepon yang terputus, dan rasa sesal bercampur sebal dan kesal. Huuhhh…!!
***
“Ada apa dengan mama”, pertanyaan itu seharusnya kutanyakan dulu, saat terjadi perubahan pada sikap mama. Sayang, aku kadung merasa diriku sudah dewasa, kadung menganggap diriku sudah tahu segalanya, kadung merasa bahwa aku ini sudah mandiri, sudah bisa berdiri sendiri, dan kadung melupakan sesuatu yang utama, kepekaan hati. Memang benar kata orang-orang, ketika seseorang merasa paling benar, maka kebenaran perlahan akan menjauhinya. Ketika seseorang merasa dirinya pintar, paling tahu segalanya, maka perlahan dia menjadi orang yang tidak tahu apa-apa. Ketika seseorang merasa dirinya paling mandiri, sudah bisa berdiri sendiri, maka dengan sendirinya yang muncul bukanlah kemandirian, melainkan kesombongan yang membutakan mata hati, mengendapkan kepekaan hati. Andai saja dulu kupertanyakan dan kucari tahu sebab dibalik perubahan sikap mama, bukannya sibuk mencecar dan menggerutu dalam hati, mungkin rasa sakitnya tidak akan sebesar ini.
***
Hari ini, Jum’at Mubbarak. Jujur saja, aku tidak mengerti dengan istilah Jum’at Mubbarak, aku hanya mengutip kalimat yang tertulis dengan apik di flyer yang menggantung di lorong-lorong stasiun. Senang saja mengutipnya. Hari ini cerah sekali, langitnya biru terang, awan putih menggantung manis, berkolaborasi menciptakan pagi yang indah.
Cahaya matahari menerobos masuk lorong-lorong stasiun, kemudian menyentuh pipiku, seketika hangat menjalari tubuhku.
Aku berjalan pelan sambil menenteng koper dan menggendong ransel. Orang-orang bergegas menuju pintu keluar, beberapa dari mereka terlihat terburu-buru, berjalan sambil sedikit-sedikit berlari. Kutengok jam tangan pemberian Ibu Lia, orangtua murid privatku dulu, kenang-kenangan katanya, dan aku mulai mengerti kenapa orang-orang itu berjalan tergesa-gesa
Hari ini aku cuti kerja. Sengaja aku ambil jatah cuti yang masih tersisa empat hari lagi untuk membereskan barang-barang pribadi di kosan baru. Ya, kosan baru, akhirnya aku memutuskan untuk kos. Alasan utamanya karena tidak tahan dengan sikap mama yang semakin hari semakin over protektif. Aku bertengkar hebat sebelum akhirnya bisa keluar rumah atas seizin ayah (sikap ini bukan berarti ayah mendukung penuh keinginanku untuk kos, melainkan mencegah terjadinya pertengkaran yang lebih besar lagi). Bayangkan, untuk pergi kos di Jakarta saja harus bertengkar hebat dulu, apalagi kalau izin pergi ke Papua, bisa-bisa baru bisa pergi jika salah satu mati.
***
Pada kenyataannya, aku harus mengakui bahwa aku memang tidak mengerti apa-apa, persis seperti yang diucapkan mama sehari sebelum aku memutuskan untuk kos. “Kamu ngga ngerti apa-apa, Ta…!”, mama berbicara dengan tegas tapi tidak galak. Emosiku meledak saat mama mengatakan bahwa aku ini tidak ngerti apa-apa. Harga diriku seperti terinjak saat mama dengan enteng mencapku tidak mengerti apa-apa.
“Rita ngerti Ma, Rita ini udah dewasa. Rita bukan lagi anak kecil yang harus dikuntit, yang harus diawasi dengan ketat. Bukan lagi anak tk yang harus selalu bersama mamanya untuk pergi ke mana-mana. Bukan lagi anak SD yang harus dapat izin dari mamanya untuk bisa sekedar main di rumah teman beda komplek. Bukan lagi remaja tanggung yang masih bingung dengan jalan pikir dan sikap. Rita udah dewasa Mah…!”. Rita tau mana yang bener dan mana yang salah…!”, kata-kataku meluncur deras, tak kuberikan sedetikpun mamaku mendapat giliran bicara.
“Mama yang ngga ngerti apa-apa. Sikap mama berlebihan, apa mama tahu itu?”, entah setan mana yang merasuki pikiranku, deretan kata yang kusimpan apik didalam hati mengalir deras malam itu. Mamaku mematung, dan aku senang melihatnya kalah seperti itu, “Sekali ini saja biarkan aku menuturkan semuanya, Ma”, batinku membela diri.
“Tolong Mama percaya sama aku…!”, belum sempat aku melanjutkan kalimat lainnya, ayah datang memotong. Ayah yang sejak tadi hanya duduk saja di depan TV, mendengarkan pertengkaranku tanpa ada keinginan untuk ikut bergabung, paling tidak memberikan pendapatnya, menariku keluar dari ruang keluarga dan memaksaku masuk ke kamar. “Kalau Rita mau nge-kos, ya udah nge-kos aja”, itu kata-kata ayah sebelum akhirnya ia menutup pintu kamar. Yess, aku menang.
***
Satu hari berlalu sejak kejadian malam itu, mama belum juga meneleponku. Aku tenang.
Dua hari berlalu, mama belum juga meneleponku. Aku senang.
Tiga hari berlalu mama masih belum juga meneleponku. Aku mulai menikmati hidup baru sebagai anak kos yang mandiri.
Satu minggu berlalu, hidupku sebagai anak kos mulai teratur. Lebih sering kumpul dengan teman-temanku. Mulai merasa hidup dan merasa mandiri. Ini hidup yang aku mau.
Satu bulan, agak sedikit heran belum ada kabar dari rumah, tapi masih enggan untuk memulai komunikasi. Biarlah, sebentar lagi juga mama bakalan telepon.
Tiga bulan berlalu, ini rekor!! Sudah tiga bulan mama tidak menguntitku lewat sms atau telepon. Tidak ada kabar sama sekali, aku senang, mungkin mama sudah mulai berubah. Namun, aku terlalu angkuh untuk mengakui bahwa aku rindu dengan sms dan telepon mama, hanya sesekali.
“Kringgg…..!!”, handphone-ku berbunyi, di layar tertera “Mama XL”. “Tuh Kan…!”, pikirku menang sambil tersenyum. Saat kuangkat telepon, suara yang muncul bukan suara mama, melainkan suara ayah. Tidak seperti biasanya, suara ayahku bergetar, sesekali menarik nafas, mencoba membuat teratur suaranya yang terbata-bata. Setelah ayah menyelesaikan kalimatnya, aku tertegun.
***
(#)Rita sudah Dewasa, umurnya sekarang dua puluh tiga. Sekarang dia sudah bekerja dan juga sudah punya pasangan, mungkin satu atau dua tahun lagi akan menikah dan meninggalkanku berdua saja dengan ayah. Kalau Rita tidak keberatan, aku akan memintanya untuk tinggal di rumah setelah menikah, tapi aku ragu Rita akan setuju.
(#)Hari ini hari terakhirku mengajar. Umurku sudah tidak muda lagi, meskipun sejujurnya, semangatku jauh lebih baik dibandingkan guru muda yang akan menggantikanku nanti. Tapi ini kontrak mati, pensiun adalah sebuah keharusan. Semoga aku tidak mati kebosanan di rumah nanti, Amin.
(#)Selalu ada hikmah dibalik peristiwa. Ini adalah kesempatanku untuk menjadi Ibu seutuhnya untuk Rita. Selama ini, aku sibuk bekerja, memperhatikannya sesekali saja. Mulai saat ini aku ingin lebih dekat dengannya, memperhatikannya, mengembalikan perhatianku padanya yang dulu tersita pekerjaan. Sebelum ia pergi dan membentuk keluarganya sendiri, membuat jarak kami semakin besar saja.
(#)Aku menelpon Rita tadi siang, tapi dia hanya menjawabku singkat saja. Mungkin Rita sedang sibuk. Lain kali aku bisa bercerita panjang lebar dengannya, aku rindu sama Rita.
(#)Rita mungkin sedang sibuk, aku benar-benar rindu padanya. Aku sms tidak dibalas, maka aku putuskan untuk meneleponnya, tapi aneh, Rita tidak banyak bicara. Sebenernya banyak hal yang ingin aku bagi dengan Rita. Tentang tanaman hias yang baru saja kubeli dari Pak Ujang. Tentang pohon cabai yang baru saja aku tanam. Tentang resep masakan yang berhasil aku taklukan. Tentang rajutan yang sedang aku pelajari. Oh iya, kalau sudah jago merajut, aku mau membuatkan Rita sweater. Nanti kalau Rita sudah punya anak, aku juga mau buatkan baju hangat yang lucu-lucu untuk mereka. Love you Rita. Always.
…..
Mataku mengembun, pipiku basah. Kenapa Rita, kenapa tidak pernah terpikirkan hal ini sebelumnya…?
(#)Rita marah padaku. Dia bilang, “Kayak anak kecil saja”. Ayah bilang, mungkin sikapku terlalu berlebihan. Aku membela diri. Aku bukannya berlebihan. Aku hanya ingin memberi perhatian. Aku ingin berlama-lama bercengkrama dengan anakku sendiri. Aku ingin mendengar kisahnya. Dan aku ingin dia mendengar kisahku. “Apa aku salah, Ayah?”, tanyaku pada suamiku, orang yang paling setia mendampingiku, susah ataupun senang. Ayah diam saja waktu itu, aku sebal dengan sikapnya yang tidak membelaku. “Apa salah jika aku ingin dekat dengan anakku? Apa aku salah jika mengkhawatirkannya? Dimana letak kesalahannya????”. Ayah menjawab dengan singkat, “Coba ubah sedikit caranya, lebih manis, Ma…”. Aku berdamai, baik, aku akan bersikap lebih manis lagi.
…..
(#)Hari ini ulang tahunku. Kira-kira Rita kasih aku kado apa ya?
Ingatanku tersedot kembali ke masa lalu. Waktu itu, emosiku masih ada di puncak. Aku masih sebal dengan sikap mama yang memperlakukanku seperti anak kecil dihadapan teman kerjaku. Aku memilih menginap di kosan Icha saat itu dan melewatkan ulang tahun mama. Buliran halus mengaliri pipiku, asin terasa dibibir, dan perih menusuk-nusuk di hati.
(#)Rita marah besar padaku. Ayah benar, mungkin caraku memperhatikannya salah. Mungkin aku berlebihan. Rita benar, aku tidak mengerti apa-apa tentang dirinya. Aku sedih, benar-benar sedih.
Dan tulisan mama berhenti setelah kejadian malam itu. Aku mematung.
***
Bayu mendekapku erat, aku hanya diam saja. Air mataku sudah tidak keluar lagi. Mataku sudah tidak menangis lagi. Ya, mataku memang sudah berhenti menangis sekarang, tetapi bagian tubuhku yang lain masih menangis. Sakitnya berkali-kali lipat. Penyesalan menggunung, berat. Dadaku sesak. Rasanya ingin membekukan waktu, kembali ke masa-masa itu. Akan kudengarkan semua cerita ibu tentang tanaman hias yang dibelinya dari mang Ujang. Akan kubantu dia merawat tanaman-tanaman itu setiap libur kerja. Akan kucoba semua masakan terbarunya, mungkin ikut memasak bersama. Aku aku kujawab semua pertanyaannya dengan jawaban terbaikku. Akan kudengarkan semua kisahnya, tentang dirinya, tentang murid-muridnya, tentang ayahku yang suka menggodanya, tentang semuanya. Akan kubagi setiap detil kebahagiaanku padanya. Akan kuisi kesepiannya dengan kebersamaan kami. Andai aku tahu semua akan secepat ini. Andai aku tahu rasa sakitnya akan seperti ini…
Hanya ingin, kunyanyikan, senandung dari hatiku untuk mama
Hanya sebuah lagu sederhana, lagu cintaku untuk mama..(Kevin)
Jum’at 4 November 2011
Selamat hari ini J
***

