Seminggu lalu, saya lupa password HP saya. Lalu saya reset HP nya dan menyebabkan semua kontak dan photonya menjadi hilang. Tidak hanya itu, semua aplikasi pun auto uninstalled sehingga memori dan disk nya menjadi lebih ‘bersih’, termasuk aplikasi Instagram yang banyak menemani waktu luang saya.
Seminggu tanpa Instagram ternyata membuat saya lebih ‘produktif’. At least,rasanya komunikasi dan relationship dengan sekitar membaik. Ini membuktikan, semakin banyak kita terikat dengan dunia maya, semakin buruk relasi kita dengan sekitar. Saya akan melihat dalam 30 hari ke depan, mampukah saya bertahan puasa Instagram dan medsos lainnya serta mempertahankan ‘kewarasan’ dan ‘ketenangan’ yang dirasakan saat ini? (Saya harap mampu dan bertahan lebih dari sebulan!)
Puasa Whatsapp mungkin akan agak susah, karena inner circle saya seperti Keluarga dan kawan dekat banyak disana. Puasa Facebook lebih mudah,karena saya memang jarang membuka FB. Walaupun FB apps auto terinstall di HP saya, tetap saya tidak begitu tertarik untuk rutin mengeceknya karena pertemanan saya di FB sangat luas sehingga waktu saya bisa ‘terbuang’ banyak jika sy sering mengeceknya. Walaupun begitu, FB masih cukup berharga buat saya karena ada beberapa photo, teman dan kenangan yang tersimpan disana. Lebih berharga dari twitter dan quora tentunya,yang hampir bertahun-tahun tidak lagi saya cek.
Sebagai seseorang yang relatif ‘easy going’ dan ‘introvert’, puasa IG saya sebenarnya ngga akan berdampak banyak pada lingkungan sekitar saya. Toh saya memang tidak rutin sharing atau posting kegiatan dan perubahan yang terjadi di kehidupan saya, hanya sesekali saja saya posting jika sedang merasa ‘sangat antusias’ atau ‘euforia’ terhadap sesuatu. Saya sadar bahwa saya lebih suka physical relationship, maksudnya berteman dengan kawan yang ketemu langsung secara fisik sehingga pertemanan di dunia mayapun umumnya untuk menjaga relasi yang sudah terbentuk di dunia nyata. Beberapa teman atau ‘tokoh’ yang saya ‘temui’ d dunia maya, pada akhirnya pun ‘hanya’ terhubung begitu saja, no emotional relationship jika saya ngga membuka HP saya (tentu saja!)
Beberapa tahun lalu,saya pernah memiliki akun Instagram dan juga berakhir begitu saja (Maksudnya HP saya ganti,dan lalu lupa dengan password IGnya sehingga saya buat saja akun yang baru saking ‘easy going’ nya saya). Jika IG itu mencerminkan kepribadian, malang kali nasib saya, bisa berganti kepribadian dalam beberapa tahun saja dan punya 3 kepribadian sekaligus! Untunglah tidak demikian, karena saya yakin bahwa akun IG itu sebenarnya merupakan salah satu indikator keberhasilan suatu medsos saja, semakin banyak pengguna/akun nya, maka semakin sukses medsos tersebut, walaupun tentunya single account lebih ‘berharga’ daripada ‘multiple account’ yang tidak dirawat. Begitu pulakah dengan pasangan? (Oh No, ini bukan tentang poligami!)
Last but not least, apakah kamu pernah juga berpuasa Medsos? jika pernah atau sedang menjalaninya, saya yakin kamu orang yang PRODUKTIF!

