Assalamualaikum wr wb.
Sudah empat tahun lamanya aku menulis kembali sejak post terakhir di blog ini kutulis. Heran sekaligus mem-flash back, kemana saja aku selama empat tahun itu ya? Dahulu, menulis menjadi kawan dalam meluapkan isi hati, berbagi pikiran, atau sekedar mencatat hal baik yang tidak ingin kulupa. Bagaimana caraku mengutarakan itu semua selama kurun empat tahun terakhir, ya?
Jari jemariku kaku, kosakataku canggung, wawasan sudut pandang menulis ku miskin. Setidaknya itu menjadi satu pembuka yang cukup menjelaskan sebelum kulanjutkan kembali menulisku. Menulis yang atas saran dari banyak orang sebagai terapi psikologis yang sedang kubutuhkan saat ini. Menulis, satu hal yang dulu “gue banget” dan sempat hilang, selama empat tahun.
Pertanyaan sebelumnya belum terjawab. Bagaimana caraku mencurah ide dan uneg-uneg tanpa menulis selama empat tahun. Ternyata aku terbiasa untuk mengutarakan langsung dengan orang-orang terdekat, dalam hal ini keluarga. Suami, lebih tepatnya. Dan selepas memiliki anak, rasanya ku tidak punya cukup waktu untuk menyendiri dan mengetik isi pikiran dalam tulisan. Namun, hari ini kuberanikan diri untuk mulai menulis kembali. Untuk menjadi kawan dalam luapan emosi dan pikiranku.
Hari ini, tepat 40 hari peringatan kematian almarhum suami. 40 hari sudah, isi pikiran dan luapan perasaan hanya bisa kusimpan sendiri. Tangisan mungkin pecah di depan beberapa orang, tapi apa sih yang bisa dikatakan oleh air mata dibandingkan banyaknya kenangan yang masih berseliweran di hatiku? Oleh karenanya, ku mengetuk pintu hati untuk berani menyapa kawan lamaku, untuk berkenan menjadi tempatku bercurah kenangan.
Di tengah kesedihan yang jujur belum bisa sepenuhnya hilang dari hati, ku upayakan untuk tetap berpikir positif atas apa yang sudah digariskan oleh-Nya. Sesekali tangis rinduku pecah, biasanya di kala malam saat tidak ada siapapun yang melihat. Namun setiap hari kucoba untuk bangkit, bangkit, dan bangkit. Mengingat hidupku harus berlanjut walau ia sudah tiada.
"Salah satu caraku untuk bangkit adalah dengan memandang bahwa aku adalah orang yang begitu berharga, setidaknya bagi almarhum. "
Pada hari itu di ruang rawat inap, kondisi suami sedang menurun. Kemoterapi yang ia jalani memberikan efek lumayan besar terhadap fungsi organ lainnya, khususnya ginjal. Ia begitu lemah hingga untuk bangkit dari tempat tidur saja sangat kewalahan. Bahkan, untuk menggerakkan kaki agar posisi tidurnya lebih enak pun harus kubantu. Belakangan ku ketahui bahwa itu adalah efek dari racun tubuh yang tidak dapat dikeluarkan oleh ginjalnya. Racun itu yang membuatnya berangsur lemas, koordinasi otak dan ototnya menurun, berbicara pun sudah mulai terbata-bata.
Malam itu, aku menopangnya untuk berdiri, menuntunnya berjalan ke kamar mandi, kemudian menahan bobot tubuhnya agar tidak langsung terjatuh di atas tempat tidur. Walaupun bobotnya sudah menyusut 25 kg sejak kemo pertama setahun lalu, namun tetap saja menopangnya seorang diri sungguh sangat berat.
Melihatku begitu, ia kemudian tertegun dan menangis terisak. Aku yang kelelahan bergegas mengambil tisu dan mencoba menghiburnya. Sejak sakit, ia memang jadi lebih melankolis, mungkin juga sambil merasakan bahwa tubuhnya nyeri.
Sambil mengusap air matanya, kubertanya apa yang membuatnya sedih. Ia hanya terisak sambil berusaha keras menyampaikan “Terimakasih”.
Aku bingung, namun tetap membelai kepalanya yang sudah tak berambut, efek dari kemoterapi.
“Ibu pasti capek ya, setahun merawat Ayah”, lanjutnya dengan susah payah.
Aku memeluknya, berharap ia tidak lanjut semakin sedih. Aku takut kondisi psikis nya yang sedih memengaruhi kondisi fisiknya. Saat ini, yang dibutuhkan adalah kuat. Aku hanya bisa memeluknya tanpa mengatakan apa-apa, karena aku pun sedang menahan tangis. Di telingaku, ia berbisik, “Terimakasih ya, Bu. Ayah cinta sekali sama Ibu”.
Aku hanya bisa memeluknya dengan lebih erat.
“Ibu juga sayang sekali sama Ayah”, ucapku bergetar, kali ini disertai tangisan.
Buru-buru aku usap air mataku, berusaha untuk terlihat tegar dan menghiburnya, bahwa ia tidak perlu memikirkan hal itu. Saat ini ia harus berpikir positif, agar kondisinya semakin membaik.
Setelah ia tenang, aku mengambil beberapa tisu untuknya, merapikan selimut dan mengatur bantalnya agar ia bisa tidur dengan nyaman. Tak kusangka, itu adalah malam terakhir kami dapat berkomunikasi satu sama lain. Ia harus dibawa ke ICU, karena kondisi kesadarannya yang terus menurun.
Hari-hari berlalu, aku hanya bisa menatapnya dari balik kaca ruangan yang tirainya dibuka setiap siang dan sore hari. Samar terlihat ventilator yang membantunya bernapas, akses cuci darah yang terpasang di paha nya, serta selang-selang lain yang menopang hidupnya. Dari balik kaca ruang ICU, aku teringat memori bed talk terakhir kami. “Terimakasih”, bisikku saat itu. Terimakasih, karena dengan merawatmu, aku sadar betapa Allah memberikanku kesempatan mendulang pahala. Atas keridhoanmu padaku sebagai suami, menjadi kesempatanku untuk mendapat ridho dari-Nya. Dan pada saat itu, hatiku merasa lebih ringan untuk menyetujui satu kata yang selama ini selalu kulawan, “Ikhlaskan”, Insya Allah apapun keputusan Allah adalah hal yang terbaik, untukku, untuknya, untuk kami semua.
Dua hari setelahnya, Ia dipanggil menghadap Sang Khalik, untuk selamanya.
Di tengah kesedihan yang jujur belum bisa sepenuhnya hilang dari hati, ku upayakan untuk tetap berpikir positif atas apa yang sudah digariskan oleh-Nya. Sesekali tangis rinduku pecah, biasanya di kala malam saat tidak ada siapapun yang melihat. Namun setiap hari kucoba untuk bangkit, bangkit, dan bangkit. Mengingat hidupku harus berlanjut walau ia sudah tiada. Salah satu caraku untuk bangkit adalah dengan memandang bahwa aku adalah orang yang begitu berharga, setidaknya bagi almarhum. Dan kuyakin ia pun tenang di sisi-Nya, karena ia tahu selama hidupnya ia begitu berarti, setidaknya bagiku dan keluarga kami.
Terimakasih, Allah, karena telah menghadirkan sosoknya dalam hidupku.
Terimakasih, Sayangku, telah membuatku merasa begitu berharga di matamu.
Di Jannah nanti kita bertemu.