Udah mau jam 23.00 tapi aku keluar kamar karena ga bisa tidur. Mungkin karena kopi jadul indomaret point yang abis isya barusan ku minum. Surprisingly, rasa kopinya enak banget, 11 12 kopi kenangan mantan lah. Worth to try. Liat hp ga ada notofikasi penting, mau ngajak ngobrol temen udah terlalu larut. Terus aku inget blog yang udah lama tak terurus. Boleh lah ya curhat bentar di sini. Tetiba kepikiran kejadian yang terjadi di bulan Ramadhan kemarin. Sayang banget kalau nggak diceritain di sini. Biar kenangannya abadi gitu ya, bisa dibaca nanti-nanti. Sama kayak tulisan-tulisan terdahulu yang pas dibaca lagi, eh pernah ya ngalamin kayak gini.
Jadi ceritanya, aku sama kakakku itu janjian buat ketemuan di masjid akbar/agung Surabaya. rencananya mau ngajakin dua ponakanku yang kebetulan lagi liburan di Surabaya. Mereka berdua ini sekolahnya di Madura, jadi liburan ke Surabaya sebuah hiburan tersendiri bagi mereka. Selama liburan mereka tinggal di rumah kakakku dan belum kemana mana karena memang beberapa hari Surabaya diguyur hujan. Untungnya sore itu hanya mendung manja, jadinya kita wujudkanlah rencana buka bersama (bukber) di masjid agung yang sempat tertunda di hari sebelumnya. Hari itu masjid raya ramai bukan main karena beberapa alasan, pertama karena hari itu malam ganjil 10 hari terakhir di bulan Ramadhan dan kedua karena nggak hujan. Dari pengumuman takmir masjid, aku tahu kalau jamaah yang hadir pada hari itu ±25.000 jamaah (if I am not mistaken ya). Bisa kebayang ya sepadat apa masjid agung Surabaya hari itu.
Sesampainya di masjid aku langsung masuk ke ruangan utama dan di sana sedang ada acara Ramadhan untuk menemani jamaah ngabuburit. Tak berapa lama, kakakku menelponku untuk memberitahu bahwa mereka sudah sampai di parkiran. Langsung lah ku bergegas ke parkiran. Setelah kita semua berkumpul, ku ajaklah mereka semua ke bazaar Ramadhan untuk membeli makanan untuk berbuka. Kita telusuri bazaar dari pintu masuk sampai ujung dan jatuhlah pilihan kita pada es teh, batagor, dan empek-empek. Tak terasa adzan magrib telah berkumandang, kita batalkan puasa dengan minum teh dan kita semua memutuskan untuk kembali ke masjid. Sesampainya di masjid sudah sangat ramai jamaah yang menikmati menu berbuka mereka, kami cari lokasi kosong dan memutuskan untuk duduk dan makan. Setelah itu, kita putuskan untuk sholat magrib. Setelah selesai kita sempatkan untuk berfoto sambil menggunakan mukenah untuk mengabadikan moment kebersamaan di masjid agung karena kita tak tahu kapan lagi bisa ke sini lagi di bulan Ramadhan. Selesai berfoto, kita berniat untuk membeli makanan berat tetapi ketika akan memasukkan mukenah ke dalam tas, hal yang tak terduga terjadi. Dompetku tak ada di tas, dompetku hilang. Aku berusaha tenang dalam kekalutan, aku khawatir dengan per-kartu-an yang ada di dalamnya. Sudah terbayang ruwet dan ribetnya mengurusnya. Uangnya lumayan di sana, tapi itu bukan masalah utama ya, yang terbayang paling utama dalah per-kartu-an itu.
Bergegaslah kami semua dari masjid, menelusuri jalan yang kita lewati tadi, turun ke bazaar yang ternyata sudah jauh lebih ramai dari sebelumnya. Melihat kerumunan orang-orang itu semakin turunlah ekspektasiku untuk menemukan dompet itu. Benar saja, setelah bejubel dengan orang-orang di bazaar, kemudian sampai di gerobak empek-empek, lantas bertanya pada pegawainya ‘ada dompet ketinggalan nggak mas?’ semua kompak menjawab ‘nggak ada mbak’. Okaaay… aku tetap mencoba tenang, mungkin belum rezeki, tapi masih mengganjal masalah per-kartu-an itu. Akhirnya kita putuskan untuk kembali ke masjid saja karena sudah adzan isya. Di perjalanan ku bisikkan nazar ‘ya Allah… kalau dompetku ketemu, aku bakalan ngasih orangnya uang’. Ketika sampai di pintu masuk masjid, lewatkan kami di pos satpam. Entah bisikan dari mana, tiba-tiba aku punya inisiatif untuk bertanya pada pak satpam yang sedang berjaga dengan meminta izin kakakku terlabih dahulu, ‘eh… apa aku Tanya pak satpam ya? Siapa tahu ada yang nemuin’. Kakakku lantas menjawab ‘iya… coba aja’.
Langsunglah ku tanyakan, ‘pak, mau tanya, kalau semisal ada orang yang kehilangan terus ada yang nemuin di masjid ini, diserahinnya kemana ya pak?’
‘emang mbakknya kehilangan apa?’ Tanya pak satpam.
‘ini pak, dompet saya hilang, siapa tahu ada yang menemukan’ jawabku menjelaskan.
‘mbaknya tinggal dimana?’ Tanya pak satpam memastikan.
‘saya domisili Surabaya tapi KTP saya pamekasan’ jawabku.
‘ya udah ikut saya’ jawab pak satpam lantas membawa kami semua ke pos satpam yang lebih besar.
Sesampainya di meja satpam, ku lihat penampakan barang yang benar-benar ku harapkan kehadirannya, DOMPETKUUUU di meja satpam. Aku saking senengnya kayak mau teriak tapi ku tahan. Ya Allah itu DOMPETKUUU. ‘pak ini dompet saya’ ucapku pada pak satmpam.
‘iya sebentar, coba mbak nya sebutkan apa saja yang ada di dalm dompet ini’ Tanya pak satpam untuk memastikan kalau akulah benar-benar pemilik dompet itu.
‘ada ktp, sim, atm, uang, bla bla bla’ ku sebutkan satu per satu secara rinci.
‘alhamdulillah ya mbak masih rezeki, ini saya cek dulu kartunya tapi kalau uangnya nggak saya hitung nanti mbaknya hitung sendiri’ terang pak satpam.
‘baik pak’.
Selanjutnya ku isi formulir pengambilan barang dan ku tunaikan nazarku. Senyum lebar tak bisa ku kontrol karena memang sesenang itu aku malam itu. LEGAAAAA banget pas ketemu. Pak satpam juga mengucapkan selamat karena masih rezeki katanya. Kebayang dong dengan jamaah sebanyak itu malam itu, tapi dompetku ditemukan oleh malaikat tak bersayap yang dengan ringan tangannya menyerahkannya pada pak satpam. Semoga Allah ganjar beliau yang menemukan dompetku dengan rezeki yang berlipat-lipat, aamiin. Kakakku pun nggak habis pikir dengan kejadian yang barusan kami alami, ponakan-ponakanku juga berkali-kali mengeluh capek karena berkeliling mencari dompetku yang sempat hilang. Tak henti-hentinya ku ucapkan syukur dan terimakasih kepada Allah.
Aku jadi teringat ucapan salah seorang sahabat Rosulullah, Umar bin Khattab,
Apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku.
Kalimat ini bener banget sih, relate banget sama kejadian yang barusan ku alami. Tapi kalimat di atas bisa saja dimaknai salah jika tidak dikaji lebih dalam. Kaum pesimis akan memaknai kalimat ini dari sudut pandang pasrah, alih-alih ikhlas. Ya buat apa berusaha, toh sesuatu yang tak menjadi takdir kita tak akan menjadi milik kita. Nggak gitu sih mikirnya, justru ikhtiar adalah alasan paling masuk akal untuk ikhlas. Jadi gini, di setiap kesempatan atau rezeki yang ada di hadapan kita, tugas kita adalah mengupayakan, bahasa kerennya ikhtiar. Ketika ikhtiar telah dilakukan, maka takdir Allah lah yang akan menentukan apakah sesuatu yang kita upayakan itu adalah takdir milik kita atau tidak. Sehingga pembeda antara ikhlas dan pasrah adalah ikhtiar. Ketika kita menemukan kesempatan lantas kita tidak mengikhtiarkannya, maka kita sudah pasrah akan kesempatan atau rezeki tersebut. Begitu pula sebaliknya, ketika kita ada kesempatan di depan mata kemudian kita mengeluarkan ikhtiar maksimal. Maka hasilnya sudah di luar kendali kita, maka apapun hasilnya, rasa ikhlaslah yang muncul setelahnya.
Mengacu pada kejadian hilang dompet yang ku alami. Aku bisa memberikan dua respon terhadap hilangnya dompetku. Pasrah atau ikhlas. Kalau pasrah, tak akan ku cari dompet itu, ku anggap saja sudah hilang karena memang bukan rezekiku tanpa berikhtiar maksimal keliling masjid hingga tempat bazaar. Atau yang telah ku lakukan, ku ikhtiarkan pencarian semaksimal mungkin, lantas hasilnya ketemu atau tidak ku ikhlaskan saja. Jadi, beda ya antara ikhlas dan pasrah, pembedanya adalah upaya atau ikhtiar yang kita lakukan. Kalau ke kamu, sebaiknya aku pasrah atau ikhlas aja? Kamu… iya kamu, wkwkwkwk.









