Sore itu saya baru bisa beranjak meninggalkan kantor sekitar pukul setengah lima sore, saat tanah basah usai diguyur hujan yang tak lagi ragu menyapa rumpun bunga. Tak ada yang berbeda dari biasa, saya menghampiri motor yang terparkir di salah satu sudut fakultas. Beberapa meter sebelum mencapainya, saya pandangi motor saya. Rasanya ada yang aneh.
Saya melihat sekeliling, pada satu demi satu motor yang terparkir di sana, lalu pada hamparan paving di sekeliling yang terjangkau pandang. Helm saya tidak ada di situ. Ah. Tadi pagi, karena memperkirakan bahwa hujan akan turun seperti biasa, helm tidak saya jepit di jok agar tidak menampung hujan. Saya mulai menertawakan diri sendiri. Kalau keledai bisa naik motor, tentu hanya keledai yang berulangkali kehilangan helm dengan cara yang sama.
Hidup adalah soal menjaga harapan. Maka saya menaiki motor menuju pos satpam. *Dasar pemalas, jalan kaki saja kenapa.* Saya menanyakan apakah ada yang menemukan helm BMC merah. Tapi salah satu satpam malah menunjukkan helm KYT hitam. Dan satpam yang lain menyarankan untuk menanyai petugas parkir. Maka menuju petugas parkir yang nongkrong di dekat laboratorium anatomi-lah saya.
Setelah menanyakan tentang helm merah, petugas parkir memberi kemungkinan bahwa helm saya sepertinya jadi korban kado silang. Tadi siang ada mahasiswi kehilangan helm, dan sebagai ganti helmnya, di motornya terletak helm merah. Maka dibawa pulanglah olehnya helm merah itu, dengan asumsi bahwa pengambil helmnya cukup baik hati untuk tidak membiarkannya pulang tanpa helm. Saya melongo.
“Apes mbak,” kata petugas parkir, tanpa ampun.
Apes? Apa itu apes? Saya sedang tidak ada mood untuk apes. Saya tidak ingin apes hari-hari ini. Apalagi soal helm. Hari ini saya ada janji bertemu beberapa orang. Besok juga. Ah.
Sore ini mau tidak mau saya pulang tanpa memakai helm. Setelah itu saya pergi dengan helm pinjaman yang hanya bisa dipinjam di waktu malam. Paginya saya ke kampus dengan helm sepeda, yang tidak ingin saya pakai untuk naik motor ke tempat sejauh yang saya tuju sorenya. Saya sudah pernah kehilangan helm (yang juga BMC merah) sebelumnya di kota ini. Saya tidak mau menerima kenyataan kalau harus beli helm lagi. Maka saya memutuskan untuk memperjuangkannya. Pagi itu, tidak bisa tidak.
Seperti maling helm amatiran, saya menelusuri helm demi helm merah pada motor yang terparkir di fakultas satu per satu. Tidak lama, saya menemukan helm yang saya tempel-tempeli stiker dengan kombinasi yang tiada duanya itu. Saya menuju tempat nongkrong petugas parkir, tapi karena petugas parkir pagi dan sore beda orang, saya harus menceritakan ulang. Akhirnya, saya hanya meninggalkan surat tanda klaim helm pada motor itu dan memotretnya, lalu pergi praktikum dengan riang gembira.
Singkat cerita, sang pengendara motor yang saya tinggali surat menghubungi. Saya dipersilakan mengambil kembali helm saya. Dia berkali-kali meminta maaf karena dia mengira saya mengira bahwa dia mengambil helm saya. Sedangkan saya juga minta maaf karena dia sampai mengira bahwa saya mengira dia mengambil helm saya. *Ah apa sih ini.* Akhir yang indah untuk saya dan helm saya. Tapi cukup menyedihkan juga untuknya yang kehilangan helm KYT hitam dan tak mendapat helm BMC merah yang dikira pengganti.
Kalau benar bahwa helm itu diambil orang dan bukannya keselip, jatuh, dll, berarti si pengambil tidak hanya telah merampas hak milik orang lain tetapi juga membuat orang lain saling berprasangka atau saling merasa diprasangkai. Satu tindakan tak baik oleh seseorang ternyata bisa menarik orang-orang lain dalam pusaran tindakan tak baik lainnya. *Akhirnya di note ini ada hikmahnya!*
Tunggu sebentar. Bukankah dua kali helm KYT hitam disebut-sebut dalam kisah ini? Ah, iya. Bisa jadi helm hitam di pos satpam adalah helm hitam kepunyaan mbak yang kena kado silang dengan helm saya. Ya ampun kenapa baru kepikiran. Oke, saya sms mbaknya habis ini. Maaf mbak, sepertinya saya sedang kurang gula.
Malang, 23 November 2013




Pernah ada seorang teman yang bertanya, “Kenapa sih Na kamu bisa selalu semangat begitu?”. Teman yang lain pada periode yang lebih lampau pernah bilang, “Kamu kalau ngomong selalu sambil senyum ya.”






