Bismillahirahmanirahiim…
Manusia…, tumbuh dan berkembang. Secara fisik, emosional, dan intelektual. Jadi pastinya segala apa yang di alami manusia setiap sesi hidupnya akan mempengaruhi fisik, emosional dan intelektualnya. Terutama di masa masa kecilnya.
Tiap anak membutuhkan kehadiran sosok ayah dan ibu. Kita bisa melihat sebagian besar anak anak yatim piatu itu ‘bertingkah’ dan menyebabkan label ‘nakal’ terpatri pada mereka. Sebenarnya hal ini menjadi hal yang masuk akal karena mungkin hanya itu yang mereka pahami untuk mengetahui siapa siapa manusia di sekitarnya yang di anggapnya pantas di sematkan ‘figur ayah dan ibu’. Penilaiannya tentang kehidupan, baik dan buruk, adalah tanggung jawab sosok sosok yang di panggilnya ayah dan ibu. Jadi ingat hadist nabi yang di riwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dengan lafadz:
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَثَلِ الْبَهِيْمَةِ تَنْتِجُ الْبَهِيْمَةَ، هَلْ تَرَى فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟
“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
Atau ada pepatah yang mengatakan = apel jatuh tak jauh dari pohon nya. Kedua pepatah diatas tidak hanya mengacu pada unsur gen saja, tapi segala informasi verbal maupun non verbal dari orang orang yang dianggap penting oleh si anak.
Jadi …, akan menjadi sangat sangat menjengkelkan saat mengetahui banyak manusia yang memutuskan menikah, dan memiliki anak, namun tidak perduli dengan kebutuhan anak akan orangtua, dalam tumbuh kembangnya. Kebutuhan anak anak di sekitarnya akan figur yang di embannya, sebagai ibu atau ayah.
Beberapa kali menemukan pasangan yang memutuskan menikah, namun setelah adanya anak tidak membuat anak anak mereka sebagai pusat perhatian, dan ketika para anak itu membuat masalah, mereka saling menyalahkan. Semakin heran lagi saat menemukan cukup banyak pasangan yang memutuskan bercerai, namun masing masing pihak tidak ada yang mau memelihara anak anak yang dahulunya mereka namakan ‘buah cinta’ mereka. Apapun alasan yang di kemukakan untuk mendukung putusan itu. Tidak adakah yang perduli pada perkembangan anak anak itu nantinya?. Ingin sekali kuteriakkan bahwa kemungkinan rasa sedih dan tertekannya akan jauuuuh lebih besar daripada para yatim yang paham bila kedua orang tua mereka meninggal. Selain itu ada rasa tersisih dan terluka yang begitu besarnya namun harus ia tutupi karena mereka tak berdaya. Kehadiran orang tua penggantipun takkan semudah pada yatim di tinggal mati, dalam mengisi figur ayah dan ibu. Karena mereka masih bisa melihat ayah ibu aslinya bahagia justru dengan membuang nya dari kehidupan mereka.
Hmm…., belajar parenting sebenarnya menyenangkan. Saat menyisihkan waktu untuk mengetahui mengapa generasi setelah kita nampak tak sekuat generasi kita.
Dan…, aku bingung menutup tulisan kali ini. Wes pokok-e kalau berhubungan dengan anak anak, tiap individu, berusahalah untuk menempatkan diri kita di pikiran dan perasaan anak anak itu, bukan hanya berdasar masa lalu positif kita (yang sebagian besar bahagia) yang membuat kita hidup bahagia dan berpandangan positif. Karena bisa jadi kitalah yang akan membuat masa lalu anak itu di masa depannya menjadi nilai negatif . wes pokok-e kalau sudah berinteraksi dengan anak anak, buang egois…. Hmmmm mungkin begitu saja. Tulisan tanpa ilmu ini, yang sekali lagi hanya tertulis karena kegusaran/anxiousness ku akan peristiwa dan diskusi tak nyamanku dengan lingkungan eh orang orang ‘cerdas’ beberapa waktu lalu.
…. Finnally done….