Detektif Benoit Blanc hadir kembali dalam misteri ketiganya, dan kali ini ia menyelidiki tewasnya pendeta di sebuah gereja terpencil di pedalaman New York (?) Kenapa sampai seorang Benoit Blanc berkenan memecahkan misteri di sebuah desa terpencil? Karena pendeta tersebut meninggal di dalam ruang tertutup dan saat itu di depan ruang tertutup terdapat pendeta muda dan para pengunjung rutin gereja tersebut ketika mereka menghadiri misa Paskah.
Misteri yang nampaknya mustahil namun ternyata pelan-pelan mengantarkan kita ke pelaku utama dengan pencarian bukti-bukti utama. Plot twist cukup banyak yang bikin saya sebagai orang awam terkagum-kagum sama cerita yang ditawarkan.
Sebagai penggemar film detektif, saya suka dengan film ini meski kadang-kadang terasa serem-serem horor karena sepertinya menawarkan mistis gitu. Padahal setelah semua berakhir, ternyata semua akibat keserakahan orang-oang saja.
Buat yang suka film detektif, ini menarik, yang pasti misteriusnya terjaga dari awal. Tapi ya mungkin yang sudah expert film detektif bisa menduga ending film ini. Karena saya jarang nonton film detektif ya tetap menarik ya.
Pasangan Judy & Nick yang pada film pertamanya berhasil menemukan siapa pelaku yang membuat hewan-hewan pemangsa yang sebelumnya bisa mengontrol diri menjadi liar dan buas kini kembali dengan misteri baru.
Dari posternya, kita bisa menduga bahwa ini ada kaitannya dengan si ular biru. Namun ternyata misteri tidak cuma ada disitu, mereka harus melibatkan diri dengan penemu alat pengontrol cuaca, para polisi senior, dan ketidakpercayadirian mereka dalam membangun sebuah tim yang hebat.
Disney sebagai story teller tidak usah diragukan lagi, dan kali ini ia seperti kembali kepada jalur yang benar. Bersetting hanya berselang beberapa hari setelah ending film pertamanya, kita diajak menikmati bagaimana Judy dan Nick – si tokoh utama – mencoba untuk bisa beradaptasi dengan kerja bersama mereka, namun juga bagaimana mengatasi pandangan dari polisi-polisi yang lain. Humor yang diselipkan juga beragam, antara bisa dinikmati oleh anak kecil, namun kadang beberapa humor dan referensi dewasa diselipkan sehingga membuat yang menonton ga merasa bahwa tontonan tersebut hanya untuk anak-anak belaka.
Soal ending bisa ditebak lah ya, memuaskan bagi semua, namun cara kita diantarkan menuju ending tersebut yang cukup lihai, pintar dan membuat penonton bisa menikmati semuanya.
Film ini bisa dinikmati oleh satu keluarga, dengan tenang dan santai. Akan sangat membantu jika sudah menonton film pertamanya dulu, agar lebih mengerti konteks dalam film ini. Secara keseluruhan, ini film akhir tahun yang cukup menyenangkan ditonton beramai-ramai.
Dari film terlaris tahun 2024, muncul sekuel yang antara ditunggu-tunggu tapi juga tidak bisa dibayangkan bagaimana membuat sekuelnya. Hadir Boris, Jegel, Bene, dan Oki dari podcast Agak Laen, yang kali ini berperan menjadi 4 anggota polisi yang belum berhasil memecahkan kasus-kasus dan terancam dipecat dari kedinasan. Ketika mereka menemukan kesempatan untuk memecahkan kasus dengan menyusup ke dalam panti jompo, kesempatan itu pun diambil dengan mempertaruhkan karier dan kehidupan pribadi mereka.
Cukuplah penjelasan cerita disana, karena ini film komedi. Seserius-seriusnya film ini tetaplah tujuannya untuk mengocok perut. Boris, Jegel, Bene dan Oki memadukan kemampuan komedi mereka dengan sedikit akting drama. Berhasil? Paling tidak, saya terhibur. Ceritanya sendiri cukup unik dan kesan komedi yang meski absurd namun ceritanya berjalan dengan lancar. Akting mereka didukung oleh Gita Bhebhita, Tissa Biyani, Tika Panggabean, Jajang C Noer, Ario Wahab, Surya Saputra, yang cukup mendukung akting keempat tokoh utama kita ini.
Menonton film ini tidak perlu banyak syarat. Tidak perlu nonton film pertamanya. Tidak perlu mikir cerita sulit. Tidak perlu mengharapkan film kontender FFI. Silakan duduk, nikmati setiap menitnya, dan keluar dari bioskop dengan perasaan terhibur.
“Tuhan, maafkan diri ini, yang tak pernah bisa menjauh dari angan tentangnya… Namun apalah daya ini… Bila ternyata sesungguhnya aku terlalu cinta dia…”
Percayalah, kalau sudah menonton film ini, lagu Terlalu Cinta dari Lyodra akan memberikan kesan berbeda kepada penonton film ini.
Bagaimana penerimaan film ini? Tidak mengecewakan sih. Dari waktu saya menulis resensi ini ( 7 hari setelah premiere 27 November ), film ini sudah mengantungi 3juta penonton. 7 hari. 3 juta penonton. Agak Laen beneran jadi pundi uang Imajinari. Yang pasti, dengan konsep meniru Warkop DKI dimana film-filmnya tidak terasa sebagai sequel, Agak Laen punya masa depan yang cerah di jagad hiburan Indonesia ini.
Penantian 1 tahun berbuah manis. Pertanyaan saya juga sebenarnya hampir sama dengan yang orang lain tanyakan, apa yang menarik dari seri kedua ini setelah semua yang seru telah disajikan di seri pertama. Tapi saya ternyata salah. Wicked For Good, berhasil memberikan bagian-bagian yang menarik dari sisa-sisa cerita yang ada. Yang pasti, mengetahui cerita The Wizard of Oz itu adalah suatu kewajiban biar enggak bingung sama keseluruhannya.
Elphaba kesal. Niatnya baik, tapi ternyata dianggap buruk. Glinda bingung, tapi dia menikmati menjadi si baik meski menurut dia jika disuruh melawan Elphaba, dia gak akan mungkin bisa. Bahkan ketika Fiyero yang ia coba jerat untuk bertunangan dan menikah dengannya lebih memilih Elphaba, Glinda tidak bisa marah kepada Elphaba. Dan kemudian petualangan berlanjut ketika Dorothy dari The Wizard of Oz muncul dengan tugas dari The Wizard, untuk membunuh Elphaba. Elphaba berusaha bersabar meski adiknya Nessa terbunuh, Boq berubah menjadi manusia timah yang dendam terhadapnya, dan Fiyero yang berubah wujud menjadi manusia jerami, namun bagaimanapun juga kalau semua harus terus dilawan, akan capek sendiri. Elphaba pun memutuskan berkolaborasi dengan Glinda agar semua ini bisa terselesaikan…
Jujurly, awal-awal ceritanya emang agak-agak boring bin membosankan begitu. Saya sempat ngantuk-ngantuk nontonnya. Lagunya juga kurang populer dibandingkan lagu dari film pertama, namun ketika konflik semakin menebal dan kemudian lagu For Good-nya terputar… Sudahlah. 2 jam awal yang agak boring itu langsung hilang.
Sebagai penggemar broadway-nya, saya mah suka film ini. Untuk yang lain, saya kurang tahu ya, bisa saja film ini akan terasa membosankan karena memang diisi nyanyian pada beberapa dialog-nya. Tapi justru itu yang membuat film dan cerita ini menjadi lebih hidup. Dan menyenangkan untuk ditonton nanti berulang-ulang.
Seri keempat dari The Conjuring ini… Setelah The Conjuring, The Conjuring 2, The Conjuring – The Devil Made Me Do It dan yang terakhir, The Conjuring – Last Rites ini.
Serial The Conjuring untuk saya yang penakut ini sebenarnya agak-agak serem ya, karena saya takut nonton, tapi penasaran pengen tau kelanjutannya. Akhirnya saya memberanikan diri setelah diputer di HBO Max.
Kisah singkatnya, keluarga Warren bertemu kembali dengan kasus yang pernah mereka tangani saat kelahiran putri mereka, Judy, saat menghadapi kasus keluarga Smurl. Keluarga Smurl menghadapi teror yang cukup berat sejak mereka membeli dan membawa pulang sebuah cermin, dan ternyata cermin itu pernah berusaha ditangani oleh suami istri Warren. Dalam episode kali ini, Judy putri mereka dan calon suaminya, Tony, ikut membantu dalam petualangan yang menegangkan ini.
Serem? Iya. Serius. Serem. Saya kan penakut ya, jadi kadang suka kaget-kaget sendiri. Mana tone filmnya gelap. Membosankan. Jadi pengen misuh keras-keras karena aktor aktrisnya serasa lebih memilih untuk mempersulit diri sendiri. Di beberapa adegan, jumpscare-nya cukup bekerja, yang bikin saya meluk bantal lebih keres.
Secara keseluruhan sih oke ini. Masih teras kuat feelingnya pelan-pelan membangkitkan penasaran dan seramnya. Yang awalnya biasa-biasa jadi mulai noleh kiri dan kanan cari teman.
Pecinta horor harus nonton ini sih kalo menurut saya. Memang tidak sadis-sadis banget, tapi lumayan bikin jantung deg-degan sesaat.
Serial Korea yang terdiri dari 12 episode ini sudah cukup lama mondar-mandir di tampilan awal Netflix. Awalnya sih enggak terlalu minat, namun ketika diri ini gabut mencari hiburan yang cukup nikmat untuk ditonton sambil makan pas istirahat siang di kantor, banyak yang merekomendasikan serial ini. Okelah, kalau begitu.
Berkisah mengenai Koki Yeon si pemenang kompetisi masak Michelin yang secara misterius kembali ke masa lalu yang dipimpin oleh si tiran Raja Yi Heon setelah membaca buku misterius untuk ayah sang koki. Meski awalnya sempat konflik (seperti biasa), namun keahlian Yeon memikat sang raja yang memang doyan kulineran dan punya kegemaran mencoba masakan-masakan enak. Hubungan mereka beralih dari permusuhan… Kemudian antara boss dan anak buah… Terus berlanjut ke percintaan. Namun semua tidak semulus itu karena terjadi pemberontakan di dalam pemerintahan Yeong. Apakah yang selanjutnya akan terjadi?
Bagaimana menurut saya serial ini?
Saya cukup menikmatinya, dengan penggambaran saat proses memasak yang bikin penasaran akan rasanya, ekspresi ketika memakannya, dan kemudian penasaran dengan apa lagi yang akan terjadi selanjutnya. Yang awalnya terasa kayak gemes-gemes aja ternyata makin berlanjut ke dark di episode akhir-akhirnya dan kemudian jadi konspirasi pemberontakan yang bakal sampai bunuh-bunuhan.
Namun, apapun itu cerita ini bisa dinikmati dan memiliki ending yang cukup memuaskan meski ga jelas bagaimana dia bisa mencapai cara itu. Dan yang pasti, tentu saja enggak bisa enggak kalau bicara drakor pasti ada lebay-lebay romantis yang bikin senyum-senyum sendiri sambil pengen lempar sang cowok dan ceweknya pake bakiak kayu masjid yang biasa dipake untuk wudhu.
Yah, tapi emang kadang, sebuah cerita butuh satu hal di luar nalar supaya kita bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang fiksi belaka. Tapi untuk saya, nonton drakor ini bisa banget dinikmati, itung-itung sambil belajar sejarah Korea. Jadi ya, tetap ditonton saja.
Mariah Carey. Diva Internasional dari Amerika Serikat yang lagu-lagunya sudah menghiasi hidup saya dari tahun 90an, datang ke Indonesia untuk berkonser dan saya tidak menghadirinya? Tentu saja tidak. Begitu dia mengeluarkan jadwal konser 4 Oktober 2025 di Sentul International Convention Center, saya langsung membeli tiketnya dan juga membeli kamar hotel untuk menginap di area tersebut.
Kondisi saat masuk ke lingkungan konser lumayan teratur menurut saya. Mobil antri untuk mencari parkir (ok, memang tidak ada akses transportasi selain harus bawa mobil sendiri yah). Kemudian proses penukaran tiket yang sederhana, cepat, dan ga terlalu antri juga. Dan yang salut, konser dimulai tepat waktu di jam 20:00. Okey.
Penyanyi pembuka konser ini adalah jebolan boyband asal UK, yaitu Keith Duffy dari Boyzone dan Brian McFadden dari Westlife. Catatan pribadi: Keith Duffy disini suaranya jelek banget, banyak nada yang enggak pas yang membuat si McFadden kayaknya harus extra effort untuk menutupi suara Duffy. Pasti dia menyesal ya, kenapa dia keluar dari Westlife. Semoga kalian bisa bersatu lagi ya, biar enggak kaya One Direction yang sudah keburu ga akan bisa kembali lagi seperti dulu.
Konser Mariah Carey sendiri ditampilkan dalam 4 babak, dimana setiap babak diakhiri dengan mbak Mariah Carey pamit ke backstage dan memulai babak baru dengan kostum baru. Jumlah lagu yang dibawakan sebanyak 25 lagu dengan tampilan tidak full. Paling lagu yang dibawakan berdurasi 3 menitan, namun esensi lagu yang dinyanyikan sudah bisa melambungkan penontonnya ke masa lalu ketika mereka pertama kali mendengar lagu tersebut. Tercatat lagu Emotions, Touch My Body, Can’t Let Go, Vision of Love, Dreamlover, Always Be My Baby, Hero, Without You, Fantasy, Honey/Heartbreaker, My All, dan We Belong Together. Itu lagu yang saya tahu sih.
Secara keseluruhan, Tampilan mbak Mariah Carey sangat menghibur. Kalau ada yang bilang dia ga banyak gerak, dia udah berusia pertengahan 50-an, dan malam sebelumnya dia melakukan konser yang sama. Selain itu dia juga 2 hari sebelumnya sempat shock saat ketemu ondel-ondel (hahaha!), tapi dia melakukan yang terbaik dengan membuktikan bahwa suara emasnya tetap seperti yang kita denger berpuluh-puluh tahun sebelumnya, Alasan yang sama juga kenapa dia ga komunikatif. Well, she’s a diva!! Overall, saya sangat menikmati menonton konser beliau ini dan menyukai fakta bahwa saya sudah memenuhi 1 check list saya. She’s still the goddest!
Kalo lagi iseng, ambillah sebuah film Queen Latifah dan nikmati tontonan yang intinya menyenangkan bagi semua. Salah satu contohnya adalah Last Holiday. Film mimpi yang ceritanya sangat sederhana, namun suka saya ulang karena ya itu tadi, bikin senyum-senyum sendiri. Film ini juga tidak kalah niatnya, meski overall, saya lebih memilih Last Holiday.
Jadi, si tokoh utama ini paling jago lah dalam merawat rambut tamunya, apalagi ia memiliki spesial kondisioner yang punya kandungan ajaib gitu lah. Dan seperti biasa, dia bekerja di tempat yang memiliki atasan yang buruk. Singkat cerita dia dipecat dan kemudian memutuskan untuk membuka salon sendiri, dan saat awal-awal membuka salon dia menghadapi penolakan dan berbagai masalah, namun seperti biasa, semua akan menjadi baik-baik saja untuk dia dan teman-temannya.
It is like you already know the whole story and the ending, but yet, you still watch it till the end.
Beauty Shop ini berusaha menjadi sempilan/cabutan dari film Barbershop yang cukup laris, dengan cara memamerkan foto bersama mereka, meski menurut saya sih ga efektif dalam memperkenalkan hubungan mereka. Film ini juga menggambarkan tokoh baik dan tokoh jahat dalam warna yang sesungguhnya, jadi ga usah berharap ada plot twist aneh-aneh. Ya itu tadi, nonton ga pake mikir ala saya.
Jadi gimana, rekomen ga film ini? Buat saya sih ya santai, tapi kalo disuruh milih nonton ulang film ini, saya lebih memilih nonton Last Holiday yang tadi dah disebut.
Filmnya sih dah agak lama di layanan streaming, tapi baru ada niat buat nonton akhir-akhir ini.
Ceritanya adalah seorang wanita usia 40 tahun yang secara tidak sengaja berkenalan dengan penyanyi boyband terkenal dan menjalin hubungan asmara yang berarti mempertaruhkan kehidupan pribadinya termasuk keluarganya.
Manakah yang akan ia pilih? Kebahagiaan diri atau makna privacy?
Sebuah film ringan yang bikin senyum-senyum sendiri tapi juga ikut mikirin dilema, apa yang sebaiknya mereka lakukan ya? Kalau iseng mo nonton ga mikir apa-apa dan senyum-senyum haru haru sepanjang film, film ini bisa jadi pilihan. Santai dan imut. Ending yang dipilih juga ending kompromi yang bisa menyenangkan semua pihak, meski kalau menurut saya agak absurd karena kan mereka sudah sama-sama semakin berusia… Ceritanya.
Sekelompok penghuni panti jompo mewah memutuskan untuk membentuk kelompok penuntaskan teka-teki khusus pembunuhan yang berkumpul setiap kamis untuk memecahkan misteri tak terpecahkan. Group mereka makin bertambah semarak ketika Joyce – seorang perawat bergabung dengan klub mereka.
Belum selesai kasus yang sedang mereka coba pecahkan, misteri sesungguhnya hadir ketika pemilik rumah jompo terbunuh dan menyebabkan partner-nya menjadi tersangka utama. Namun ketika korban mulai berjatuhan, Elizabeth, Ron, Ibrahim, dan Joyce harus mulai memutar otak dengan cepat agar korban tidak berjatuhan dan jangan sampai mereka ikut menjadi korbannya.
Garapan Chris Columbus yang sudah tersohor dengan Home Alone dan Harry Potter ini cukup menyenangkan untuk ditonton. Boleh dibilang kadar aksinya minim, dialognya cerdas, seperti menyaksikan Murders in the Building versi lebih smart. Gabungan antara RED dan Murders in the Building lah ini kalo menurut saya.
Sebagai tontonan santai, menurut saya ini rekomen sih.