Hari kemarin merupakan hari yang sangat menyebalkan bagiku. Bayangkan, hari kemarin hujannya tak berhenti-berhenti seharian. Jadwalku untuk pergi ke Ngagel dan Bratang tertunda sudah. (Tapi sebenarnya tertundanya bukan karena hujan, sing dienteni ae sing gak nggenah, takpikir wis teka ndhik kose, ndilalah sik ndhik sepur, gik ndhik perjalanan… 😦 ) Tapi endingnya hari kemarin lumayan bagus. Aku dapat sebuah pekerjaan (task, not job) baru… 😀 Senangnya hatiku, akhirnya aku tak menganggur juga hehehe…
Tapi hari ini hujan kembali terulang lagi tadi Subuh-subuh… Pas air keran mati lagi… Jadinya aku hujan-hujanan untuk mendapatkan air, tak peduli saat ini aku sedang flu…
Ummm… Berharap ya hujan tak terlalu sering… (Tapi dasar bulan Februari, ya memang musim-musimnya hujan deras 😥 )
Hari yang Menyebalkan Tapi…
Updateku
Ups… KP-ku…
Ah, sudah separuh jalan UAS-ku… Semoga saja hasilnya akan baik… Amin…
Tebersit keinginanku untuk mengurus proposal kerja praktik (KP). Sebenarnya kemarin ada masalah tentang ini. Bayangkan, teman KP-ku yang sebenarnya ternyata Baca Selengkapnya..
Hello Again…
Ugh… Akhirnya masuk lagi ke dunia blogging setelah sekian lama vakum… Ah, just say hello dulu… Postingannya menyusul… 😛
Bapak… Emak… Aku Pulang…
Akhirnya setelah berminggu-minggu dan bahkan berbulan-bulan, akhirnya datang juga. Hari untukku pulang walaupun cuma sepuluh hari dan harus membawa beberapa tugas kuliah ke rumah… Ah, tapi semua stress yang selama ini mengungkungku itu akan sirna dengan kepulanganku ke rumah, kembali melihat wajah teduh Bapak dan Emak… Yah, dua hari lagi insyaallah…
Aku jadi ingat dengan lagunya seorang penyanyi Indonesia (lupa namanya), Semalam di Malaysia:
Aku pulang… dari rantau…
Bertahun-tahun di negeri orang… Oh Malaysia…
(Walaupun tak separah itu sih, malah judulnya lagunya akan berubah jadi begini: Bermalam-malam di Surabaya
Aku pulang… dari rantau…
Berbulan-bulan di negeri orang… Surabaya…
Hehehe)
Lagu itu jika aku nyanyikan akan menyiratkan kerinduanku terhadap kampung halamanku. Walaupun memang di sana tak seramai Surabaya (dan yang jelas tak ada mall atau supermarket ), namun tetap saja tersimpan kerinduan yang mendalam akan keramahtamahan orang-rangnya, suasana guyub rukun anggota masyarakatnya, pokoknya yang tidak “Surabaya banget” lah…
Dua hari lagi… And I will be back again to my hometown… Doudoku, I’m coming…
(Tak lupa sebagai pengantar diriku pulang ke rumah, aku ucapkan “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1429 Hijriah, minal aidzin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin…)
Aku dan Puasa Bulan Ini
Uh… Puasa untuk tahun ini sangat tidak berkesan sama sekali buatku…
Bayangkan, baru dua hari puasa sudah jatuh sakit… Dan, saat sudah sembuh pun rasanya badan ini belum fit, bawaannya mau tidur… saja… Ah, entahlah, apakah karena tuntutan tugas yang banyaknya Masyaallah ini ya? Ah, entah…
Tapi yang kurasakan adalah feel puasa itu sendiri hilang dari diriku. Kalau dulu rasanya Baca Selengkapnya..
Stress…
Lama tidak mengunjungi blog ini… Wah… Serasa sudah kangen sekali untuk mengisi artikel, tapi… Ah… Lagi-lagi tugas-tugas berkeliaran di sekeliling bola mataku…
Aku stress sekali menghadapi tugas-tugas ini. Kata senior-senior sih, memang kalau semester lima itu semester yang melelahkan, apalagi dengan tugas, responsi, dan lain-lain…
Ah, cuma ini saja yang mau aku posting, biar semua orang tahu kalau aku lagi stress… (Stress kok dibangga-banggakan? )
Pramuka, Riwayatmu Kini…
14 Agustus lusa, Gerakan Pramuka sedang merayakan ulang tahunnya yang ke-47. Di usia yang sudah menjelang setengah abad tersebut, harusnya Pramuka sudah mampu berkembang menjadi organisasi yang “dewasa” dan “matang”.
Namun, impian hanyalah tinggal impian. Pramuka sekarang hanya meninggalkan gigi yang ompong alih-alih gigi taring yang menjulang tajam. Bahkan, yang lebih parah, beberapa orang mungkin akan terkena sindrom muntah-muntah dan mual-mual bila mendengar nama Pramuka. (Memangnya Pramuka itu pemicu mabuk kendaraan ya? 😛 )
Ah, Pramuka… Riwayatmu kini… Tragis memang. Di satu sisi, Baca Selengkapnya..
Ditulis dalam Pramuka, Sosial Kemasyarakatan, Umum | Tag:abai, Agustus, apel, bangsa, dewasa, esensi, Gerakan Pramuka, gugusdepan, Lemdikacab, loyal, organisasi, Pramuka, Surabaya
“Hanya Barang Sepele…(?)”
Kurik Kundi
Kemarin cari-cari lagunya Siti Nurhaliza lagi, ternyata aku menemukan lagu yang bernama Kurik Kundi. Lagu ini dibuat berdasarkan pantun lama Melayu:
Yang kurik kundi
Yang merah saga
Yang baik budi
Yang indah bahasa
Atau versi Minangkabaunya:
Nan kuriak kundi
Nan merah sago
Nan baik budi
Nan endah baso
Lagu ini aku suka sekali, karena menggambarkan keberagaman adat berbahasa dari negeri Malaysia, yang digambarkan dalam lagu itu “yang tinggi bagai bintang, yang rendah bagai intan”. Lagu ini mengajarkan kepada pendengarnya, utamanya rakyat Malaysia, untuk mencintai keberagaman budaya negerinya sendiri sekaligus mengajak untuk melestarikan budaya pantun yang merupakan kebanggaan seluruh masyarakat Melayu dahulu. Bisa dibilang lagu ini adalah sebuah lagu “pengobar semangat kebangsaan” bagi masyarakat Malaysia. Ini syair lagunya:
KURIK KUNDI
Dinyanyikan oleh: Siti Nurhaliza(ramai):
Nak berkhabar tingginya budi kita ya tuan
Nak berkisah kaya tutur bicara
Kalau tinggi untung jadi bintang
hoi…
Kalau rendah masih jadi intan(solo):
Teratak mahligai bak dipayung teduhnya
bila budi melingkar anak asuhan
Adat yang lama berbudi berbahasa
akar kehidupannya(ramai):
Yang kurik itu kundi
Yang merah saga
Baik budi indahlah bahasa
hoi…
Pantun lama tinggi kiasannya(solo):
Berpantun seloka sambil menari canggung
serentak melangkah rentak timur diarak
Gurau, senda,
sopannya dijaga
Sepakat makin kukuh terikat(loghat utara)
(ramai):
Hang dok pi hang dok mai
Lagu tu lagu mana
Pi sini pi sana depa menghela sakan
Awatlah dok kalut megah condong ke barat
Mai kita…
(solo):
…pakat tarik ramai ramai
biar ke timur condongnya…tu kah(ramai):
Nak berkhabar tingginya budi kita ya tuan
Nak berkisah kaya tutur bicara
Kalau tinggi untung jadi bintang
hoi…
Kalau rendah masih jadi intan(Perak)
(solo):
Ada O, ada E
bunyinya tidaklah serupa,
erti tidak berbeza(ramai):
Betoi yong betoi sungguh
Betui ape dikate(solo):
Selembut tarian hoi…
nak muda berlotah
tutur bahasanya(ramai):
Maghi yop maghilah yong
Maghi kita memikio
Parit dengan kuala
Pakap tidak serupe…ateh(solo):
Dihitung beratus-ratus bilangan
Digali beratus-ratus terpendam
Di lubuk yang mana,
tak terjangkau ingatan
Makin dibongkar makin banyak yang terpendam(ramai):
Di sini ibunya,
tersurat kurik itulah kundi,
tertulis merah itulah saga
Saga dalam lagu pada indah syairnya
Kundi dalam tarian indah lenggok tarinya
Aduhai indahnya(Negeri Sembilan)
(solo):
Mana usang diperbaharui
Mana lapok hai dikajangi
Mana elok dipakai ondeh dipakai
Kalau singkat cantik manis
disambungkan…
Kalau panjang cantik manis
minta dikerat…yo lah(ramai):
Yo sungguh yo bonar
kato sungguh dikato
(solo):
Muafakat ya tuan
ibu adat ya ondeh tidak dilupaTak boghadat
minum tidak bergula
Tak bobudi
pohon tidak berbuah
Tak boghadat
minum tidak bergula
Tak bobudi
bagai pohon tidak berbuah(ramai):
Yang kurik itu kundi
Yang merah saga
Baik budi indahlah bahasa
hoi…
Pantun lama tinggi kiasannya(Kelantan)
(solo):
Halus manis hai bila berkata
Hai lapik berkias
molek sungguh lah wei
Santun lakunya wei merendah suara
bagai berpayung wei rasa teduhnya
(ramai):
Teghtek teghning oghe kito
hok tu keno jago
Jange sape berlete kale
L’uar napok come
jange d’ale habih k’uca lembe
L’uar napok come
jange d’ale habih k’uca lembe(Sabah)
(solo):
Membubutlah bayu
lalu limpas siring semalu
mengalai bagai tari sesuku
tari sesuku(Sarawak)
(ramai):
Selembut madah begitu taghi
Sek ada sakit ghasa di hati
Kame’ nyambut madah tuan hulurkan
Kita’ nyambut madah kame’ tuturkan(ramai):
Nak berkhabar tingginya budi kita ya tuan
Nak berkisah kaya tutur bicara
Kalau tinggi untung jadi bintang
hoi…
Kalau rendah masih jadi intanYang kurik itu kundi
Yang merah saga
Baik budi indahlah bahasa
hoi…
Pantun lama tinggi kiasannya
Kemudian, aku bergumam: Kapan orang Indonesia mempunyai lagu “pengobar semangat kebangsaan” seperti ini???
Ditulis dalam Nusantara Raya, Seni Budaya, Sosial Kemasyarakatan | Tag:adat, bahasa, bangsa, budaya, Indonesia, Kurik Kundi, lagu, Malaysia, Melayu, musik, pantun, ragam budaya, semangat, Siti Nurhaliza


Komentar Terbaru