h1

EKSISTENSI SOSIOLOGI DIDALAM MASYARAKAT

Januari 17, 2010

Sosiologi sebagai satu disiplin yang membicarakan struktur sosial mengandaikan sebuah bentuk yang ideal. Perubahan sosial yang sangat cepat di masyarakat sangat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh ilmu dan teknologi serta pertumbuhan berbagai sistem kepercayaan dan pandangan hidup.

Sekalipun perubahan merupakan hal yang pasti karena sebagai mana sebuah adigium bahwa di dunia ini tidak ada yang berubah selain perubahan itu sendiri, perubahan juga meniscayakan adanya sebuah bentuk idela yang menjadi acuan bagi masyarakat untuk mengejar dan mencapai bentuk ideal itu.

Tidak dapat dipungkiri bahwa para pakar sosiologi (sosiolog) senantiasa melaihat kondisi sosial berdasarkan sudut pandang yang berbeda sesuai dengan latar belakang akademik dan pengalaman hidupnya. Namun bagi masyarakat beragama, mempecayai bahwa kitab sucinya juga telah menggariskan satu bentuk ideal masyarakat sebagai acuan umat beragama dalam kehidupan sosial.

Sosiologi  sendiri mengkaji dan juga mempelajari suatu system dan nilai yang ada dan berkembang didalam masyarakat. Sosiologi  adalah suatu ilmu yang tidak menilai sebuah fenomena social dalam masyarakat berdasarkan benar dan salahnya, sosiologi membahasnya berdasarkan pada sudut pandang yang luas, menilai berdasarkan baik dan buruknya berdasarkan setiap sudut pandang masyarakat yang berbeda later belakang, baik dari sudut pandang ras, etnis, suku bangsa, agama dan budaya.  Suatu yang dinilai baik dalam satu masyarakat belum tentu baik di masyarakat lainnya. Sosiologi selalu terbuka terhadap barbagai hal, baik itu baru maupun lama. Namun sosiologi begitu cermat dan teliti dalam mengamati hal yang ada didalamnya.

Sosiologi ini mempunyai peran yang sangat besar dalam masyarakat. Semua aspek kehidupan masyarakat selalu ada dalam kajian sosiologi, mulai dari hal yang kecil sampai hal yang besar dalam masyarakat.

Hal ini terbukti dari teori para tokoh-tokoh sosiologi yang selalu membahas tentang masyarakat dan apa saja yang ada didalamnya. Tokoh tersebut antara lain, yaitu:

1. Emile Durkheim

Durkheim mengkaji masyarakat ideal berdasarkan konsep solidaritas sosial. Solidaritas sosial menunjuk pada satu keadaan hubungan antara individu dan atau kelompok yang berdasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. Ikatan solidaritas sosial menurutnya lebih mendasar daripada hubunga kontraktual yang dibuat atas persetujuan rasional, karena hubungan-hubungan serupa itu mengandaikan sekurang-kurangnya satu derajat konsensus terhadap prinsip-prinsip moral yang menjadi dasar kontrak itu. Solidaritas sosial ini terbagi kepada dua bagian : solidaritas mekanik dan solidaritas organik.

Solidaritas mekanik pada suatu “kesadaran kolektif” bersama, yang menunjuk pada totalitas kepercayaan-kepercayaan dan sentimen-sentimen bersama yang tergantung pada individu-individu yang memiliki sifat-sifat yang sama dan menganut kepercayaan dan pola normatif yang sama pula. Karena itu, individualitas tidak berkembang; individualitas itu terus-menerus dilumpuhkan oleh tekanan yang besar sekali untuk konformitas. Ciri khas yang penting dari solidartas mekanik adalah bahwa solidaritas itu didasarkan pada suatu tingkat homogenitas yang tinggi dalam kepercayaan, sentimen dan sebagainya. Homogenitas serupa itu hanya mungkin kalau pembagian kerja sangat minim.

Sebaliknya solidaritas organik muncul karena pembagian kerja bertambah besar. Solidaritas itu berdasarkan pada tingkat saling ketergantungan yang tinggi. Saling ketergantungan itu bertambah sebagai hasil dari bertambahnya spesialisasi dalam pembagian pekerjaan, yang memungkinkan dan juga menggairahkan bertambahnya perbedaan di kalangan individu. Munculnya perbedaan-perbedaan di tingkat individu ini merombak kesadaran kolektif itu, yang pada gilirannya menjadi kurang penting lagi dasar untuk keteraturan sosial dibandingkan dengan saling ketergantungan fungsional yang bertambah antara individu-individu yang memiliki spesialisasi dan secara relatif lebih otonom sifatnya. Bila diskemakan maka dua solidaritas itu bisa dilihat dari skema di bawah ini :

Solidaritas mekanik Solidaritas organik
– Pembagian kerja rendah

– Kesadaran kolektif kuat

– Hukum represif dominan

– Individualitas rendah

– Konsensus terhadap pola-pola normatif penting

– Keterlibatan komunitas dalam menghukum orang yang menyimpang

– Secara relatif saling ketergantungan rendah

– Bersifat primitif-pedesaan

– Pembagian kerja tinggi

– Kesadaran kolektif lemah

– Hukum restitutif dominan

– Individualitas tinggi

– Konsensus pada nilai-nilai abstrak dan umum penting

– Badan-badan kontrol sosial yang menghukum orang yang menyimpang

– Saling ketergantungan tinggi

– Bersifat industrialis – perkotaan

Demikian perhatian utama Durkheim dalam struktur sosial (masyarakat) lebih ditekankan pada bentuk-bentuk integrasi atau solidaritas sosial. Dab bila diperhatikan Durkheim juga sependapat dengan Comte dan Sorokin mengenai ide dasar konsensus intelektual dan moral yang perlu sebagai dasar untuk keteraturan sosial yang bersifat harmonis dan terintegratif.

2. Max Weber

Weber memberikan perhatian tentang masyarakat ideal berdasarkan konsep rasionalitas. Konsep ini sama pentingnya dengan konsep solidaritas untuk Durkheim, dan konflik kelas Marx. Weber melihar perkembangan masyarakat Barat yang modern sebagai suatu hal yang menyangkut peningkatan yang mantap dalam bentuk rasionalitas. Peningkatan ini tercermin dalam tindakan ekonomi individu dan bentuk-bentuk organisasi sosial. Bagi Weber birokrasi modern karena adanya otoritas yang berdasarkan pada komitmen terhadap seperangkat peraturan yang diundangkan secara resmi dan diatur secara impersonal yang ini kemudian dikenal sebagai otoritas legal-rasional. Tipe otoritas ini berbeda dengan otoritas tradisional dan karismatik.

Birokrasi modern menurut Weber merupakan organisasi sosial yang paling efesien, sistematis dan dapat diramalkan dan birokrasi modern ini dilihatnya sebagai tipe ideal.

3. Karl Marx

Marx melihat kondisi masyarakat melalui kaca mata konsep pertentangan kelas sosial. Dalam teorinya Materialisme Historis dan Materialisme Dialektis Marx membagi masyarakat kepada dua kelompok: kelompok borjuis dan kelompok proletas. Kelompok borjuis adalah kelompok yang menguasai modal dan alat produksi sedangkan kelompok proletar adalah kelompok yang tidak memiliki modal dan alat produksi. Kelompok proletar jumlahnya sangat besar dibandingkan kelompok borjuis akibatnya terjadi kesenjangan sosial diantara keduanya dan ini semua menurutnya diakibatkan oleh sistem ekonomi yang kapitalis.

Bagi Karl Marx bentuk masyarakat ideal adalah masyarakat komunis dimana sudah tidak ada lagi konflik antar kelas karena kaum proletar dapat menikmati sebagian besar kelimpahan material yang dihasilkan oleh industrialisasi. Hal itu bisa terwujud setelah tercapai perubahan sosial meluli revolusi.

Selain dari tokoh-tokoh yang ada di atas tadi, masih ada lagi banyak tokoh sosiologi yang mempunyai teori-teori dan gagasan-hagasan mengenai masyarakat yang saling kompleks dengan yang lainnya. Sehingga menjadikan sosiologi adalah ilmu yang komples kajian studinya dan sangat berperan besar dalam kehidupan manusia yang bernasyarakat. namun demikian tak banyak orang dari kalangan non sosisl (studi) mengetahui sosiologi. sering kali sosiologi tidak dikenal oleh masyarakat luas. Seperti misalnya, Biologi, Fisika dan Kimia, semua orang tahu jika itu merupakan Ilmu alam. Namun bila disebut Sosiologi, tak banyak orang tahu bahwa itu adalah ilmu sosial yang mempelajari semua aspek dalam kehidupan. walaupun demikian sosiologi bukanlah bagian dari ilmu pasti seperti misal 2+2 = 4, dalam sosiologi itu belum pasti. 2+2 dalam sosiologi bisa saja lebih dari itu, munkin lebih banyak, mungkin juga kurang dari itu, dengan kata lain sosiologi adalah ilmu yang tak pasti dan selalu brkembang dalam masyarakat.

h1

“ARTIS TERJUN KE DUNIA POLITIK”

Januari 17, 2010

ARTIS JADI  POLITIKUS

Sebuah fenomena yang cukup mengherankan dan mengagetkan bagi kita , dimana para artis di Indonesia saat pemilu berbondong-bondong alih profesi menjadi politikus maupun caleg di negeri ini. baik mewakili daerahnya maupun mengikuti partai yang memintanya untuk jadi salah satu calonnya. Patut di pertanyakan alasan mereka untuk  mengambil keputusan tersebut, apakah mereka sudah merasa tergusur oleh para pendatang baru untuk tampil di layar kaca sesuai pekerjaanya saat ini? Atau mereka memanfaatkan aji mumpung ketenarannya sebagai selebritis? Atau mungkin juga mereka memang layak dan pantas secara kualitas untuk menjadi pemimpin dan wakil rakyat di negeri ini.  bahkan mereka sendiri yang di manfaatkan oleh suatu partai politik utk meraih suara terbanyak karena memandang figur keartisannya yang tenar . semoga saja bukan hanya karena ada kesempata untuk mempertenarkn dirinya, akan tetapi karena itu memang panggilan hatinya untuk dapat mengabdikan diri pada rakyat atau bangsa Indonesia ini.

Melihat para artis ini ingin menjadi wakil rakyat yang berhasil membawa negeri ini keluar dari “keterpurukan” yang berkepanjangan, bisa di lihat dari para artis sebelumnya yang sudah dulu terjun ke dunia politik, seperti Alm. Sopan Shopian, dan Adjie Massaid. mereka memberikan kinerja yang bagus di dunia politik. Namun apakah ada kontribusi ataupun kinerja mereka yang baru saja terjun ke dunia politik ini sama seperti pendahulunya? jawaban dari pertenyaan itu belum dapat kita pastikanPasalnya, sekarang ini mereka yang terpilih sebagai legislatif itu kini tebngah bekerja kurang dari setahun. Yang pasti, seiring jalannya waktu, pastilah kinerja dan kontribusi yang mereka berikan akan terlihat dan dapat kita nilai bersama-sama.   Di khawatirkan dari para artis ini adalah bilamana bakat actingnya itu di bawa ke dunia nyata, yaitu di dunia politik dan dunia penuh intrik yang dilakoninya pada saat ini. apakah mereka juga akan ber actinjuga dalam bekerja di politik nanti?  Akan seperti apa sandiwaranya di depan “sidang”  bilabakat dan keahliannya ber acting digunakan di dunia politik yang ia jalani sebagai pekerjaannya sekarang.

Ironisnya, kehidupan artis itu identik dengan gaya hidup yang  gelamour dan terkesan berfoya-foya dalam kehidupannya, mungkin memang tidak semua artis seperti itu tapi dari pertimbangan-pertimbangan ini di harapkan kita bisa lebih bijak memilih calon figur yg pantas untuk menjadi wakil rakyat atau menjadi pemimpin di negeri ini kedepannya nanti. Jangan hanya di lihat dari ketenarannya, wajahnya, dan karena idola semata, tetapi ini sudah menyangkut seluruh rakyat Indonesia yang  membutuhkan bukti nyata perubahan bangsa ini menjadi negara yg benar-benar  sesuai harapan kita yaitu negara yang makmur, adil dan sejahtera.

Mudah-mudahan dengan adanya fenomena ini akan ada pencerahan untuk suatu perubahan yang baik kedepanya nanti, ada sedikit warna politik di negeri ini dan ada harapan baru yang lebih baik dari kepemimpinan para legislatif artis itu. Dalam kegelapan akan selalu ada setitik cahaya untuk menerangi jalan, menuju kehidupan yang lebih baik untuk seluruh rakyat Indonesia . Kita sudah cukup bosan dengan janji-janji manis dari para calon pemimpin saat mereka berkampanye namunnantinya kita tidak  pernah tahu apakah terealisasi atau tidak, kita sudah lelah dengan arah yang tidak pernah jelas akan kemana negeri ini di bawa.  Saatnya utk lebih dewasa lagi bagi para legislatif  baru (kalangan artis) politikus di Indonesia, jangan lagi permainkan hati seluruh rakyat Indonesia. jalankan niatan suci ini dengan baik. dan semoga mereka menjaga amanah dari rakyat yang percaya kepadaya dengan baik dan benar. Dan  semoga ini adalah awal kebangkitan bangsa Indonesia yang di bangun dan dimeriahkan oleh para selebritis yang berkomitmen.

SUMBER: HARIAN KOMPAS

h1

GLOBAL WARMING

Januari 14, 2010

GLOBAL WARMING

Sebuah Fenomena Alam

Sulit dipahami keadaan bumi saat ini. Akhir-akhir ini yang saya rasakan atau mungkin banyak orang rasakan yaitu suhu udara yang dirasa panas. Kurang bersahabat mungkun, karena ketika kemarau terjadi semua terasa kering dan tandus dan lebih lama dari sebelumnya. Selain itu daerah yang berada di dataran yang tinggi mulai kesulitan air bahkan didaerah dataran rendah pun airnya sudah mulai keruh. Namun ketika pergantuan musim, dari musim kemarau ke musim penghujan banyak terjadi kericuhan dari alam seperti hujan badai, angin puting beliung, gelombang air laut yang tinggi, dan angin yang berhembus sangat kencang. Hujan pun tidak merata dan tidak pasti, bahkan terasa sedang tidak musim hujan.

Banyak orang berpendapat bahwa pada bulan November adalah musim hujan, dan memang pada kenyataannya seperti itu. Tapi itu dulu, karena untuk musim hujan kali ini bulan November belum terjadi secara rutin, hanya sesekali terjadi hujan. Bahkan sampai berakhirnya bulan Desember pun belum nampak akan terjadi musim penghujan. Baru awal Januari ini sudah nampak akan terjadi musim hujan. Mengenai fenomenaini saya berpikir bahwa memang yang memberikan hujan itu bukan bulan November, Desember atau seterusnya, hujan juga tidak tejadwal oleh bulan itu adalah sebuah rahasia dan ketentuan Illahi.

Belakangan ini saya sering mendengar mengenai Global Warming, apa itu? Yang saya tau itu adaah pemanasan global atau bumi. Lama saya berpikir tentang itu, namun setelah saya mencari informasi dari berbagai sumber depat sedikit banyak mengerti tentang global warming atau pemanasan global itu. Setelah mencari informasi dan browsing diinternet melalui wikipepdia saya setidaknya telah tau.

Pemanasan global pada dasarnya merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi

Pemanasan global ini mengakibatkan dampak yang luas dan serius bagi lingkungan bio-geofisik (seperti pelelehan es di kutub, kenaikan muka air laut, perluasan gurun pasir, peningkatan hujan dan banjir, perubahan iklim, punahnya flora dan fauna tertentu, migrasi fauna dan hama penyakit, dan masih banyak lagi).

Sedangkan dampak bagi aktivitas sosial-ekonomi masyarakat meliputi:

(a)    gangguan terhadap fungsi kawasan pesisir dan kota pantai,

(b)   gangguan terhadap fungsi prasarana dan sarana seperti jaringan jalan, pelabuhan dan bandara

(c)    gangguan terhadap permukiman penduduk,

(d)   pengurangan produktivitas lahan pertanian,

(e)    peningkatan resiko kanker dan wabah penyakit, dsb). Dalam makalah ini, fokus diberikan pada antisipasi terhadap dua dampak pemanasan global, yakni : kenaikan muka air laut (sea level rise) dan banjir.

Karena suhu bumi yang meningkat, maka es di kutub bumi baik di utara ataupun selatan sedikit demi sedikit mencair. Karena mencairnya es di kutub bumi tersebut maka terjadilah peningkatan volume air laut, dengan begitu permukaan air laut akan meningkat atau naik. Kenaikan permukaan air laut secara umum akan mengakibatkan dampak sebagai berikut :

  1. meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir,
  2. perubahan arus laut dan meluasnya kerusakan mangrove,
  3. meluasnya intrusi air laut,
  4. ancaman terhadap kegiatan sosial-ekonomi masyarakat pesisir,
  5. berkurangnya luas daratan atau hilangnya pulau-pulau kecil.

Dampak yang ditimbulkan oleh global warming atau pemanasan global ini sangat luas dan melibatkan semua orang. Selain dari alam, dampak lain yang disebabkan dari pemanasan global ini juga menyerang keadaan sosial-ekonomi didalam masyarakat. Sebagai seorang yang mengerti penyebab maupun dampak dari pemanasan global ini, kita wajib mensosialisasikan tentang keadaan ini serta memberi pengertian pada masyarakat luas bahwa dampak dari ini dapat kita tanggulngi dan atau setidaknya kita lebih siap dalam menghadapinya. Cara tersebut bisa dengan mengadakan seminar dengan mendatangkan pakar atau ahli, memberikan penyuluhan hingga tingkat dusun, menanamkan sikap disiplin dan ramah lingkungan kepada generasi muda dan anak-anak dan masih banyak hal lagi yang masih bisa kita lakukan. Dengan demikin kita bisa lebih siap dalam menghadapi keadaan yang mungkin saja terjadi akibat pemanasan global ini.

h1

BUNUH DIRI (SUICIDE)

Januari 14, 2010

BUNUH DIRI

Realita Dalam Kehidupan Manusia

Belakanga ini kita sering mendengar tentang kasus bunuh diri. Tinggkat kematian akibat dari bunuh diri ini bisa dibilang banyak walaupun tidak mencapai angka yang sangat tinggi. Dari kasus-kasus bunuh diri tersebut terdapat banyak motif didalamnya, bahkan semakin kompleks dan bervariasi. Mulai dari yang menggantung diri, memotong urat nadi atau pembulu darah, terjun dari ketinggian, meminum racun, meledakan dri dengan bom, menusukkan benda tajam ke jantung, menembakkan senjata api di kepala dan masih banyak lagi. Kasus-kasus tersebut adalah kasus bunuh diri yang paling sering terjadi di Indonesia. Hal ini paling sering terjadi didaerah ataupun pada orang yang mengalami  konflik yang jangkauannya sempit (konflik internal dan konflik interpersonal).

Bunuh diri sendiri merupakan sebuah upaya sadar dari dalam dirinya untuk mengakhiri atau menghentikan hidupnya sendiri tanpa bantuan aktif dari orang lain dan atas kemaua sendiri. Motif bunuh diri bermacam-macam, namun biasanya didasari oleh rasa bersalah yang sangat besar, karena merasa gagal untuk mencapai sesuatu harapan. Selain itu karena lemahnya integrasi dari individu tersebut dengan lingkungan yang ada disekitarnya, sehingga menyebabkan timbulnya rasa tersingkir atau terkucil dari lingkungan yang ada disekitarnya. Misalnya saja, ketika seseorang sedang mengalami masalah baik itu berat ataupun ringan dan ia memendam masalah tersebut. Karena begitu lama ia memendam masalah-masalah yang ada pada dirinya tanpa ada komunikasi dengan orang lain atau lingkungannya dan masalah itu akan terasa mebebani dirinya sendiri tanpa ada orang yang tahu dan mengerti dirinya. Sehingga kurangnya komunikasi dengan lingkungan itu membuat individu tersebut  akan merasa tersingkir dan terkucilkan karena adanya masalah didalam dirinya yang dirasa tidak ada orang yang peduli padanya dank arena masalah itu ia merasa putus asa. Setelah itu ia merasa tidak ada orang yang memperhatikannya dan tersudut dari komunitas, dan hal itu membuatnya merasa tidak ada artinya lagi untuk menjalani hidup dan mendorongnya untuk bunuh diri.

Didalam bunuh diri ini integrasi atau penyatuan memang sangat berperan dan berpengaruh. Selain dari integrasi yang sangat lemah, integrasi yang begitu kuat pun bisa menyebabkan terjadinya bunuh diri. Kasus ini bisa dicontohkan dengan kasus “bom bunuh diri”. Didalam bom bunuh diri yang dilakukan oleh kawanan terorris ini biasanya disebabkan karena kuatnya integrasi didalam kawanan tersebut yang mana karena mereka telah “dicuci” otaknya, mereka sampai rela berkorban jiwa demi kelangsungan dari  tujuan kawanan tersebut walaupun itu akan merugikan banyak pihak karena bertujuannya yaitu untuk menghancurkan. Namun lain halnya dengan kasus bunuh diri yang terjadi di daerah-daerah konflik atau perang Negara seperti yang terjadi di Irak atau Afganistan. Disana bom bunuh diri dorong oleh rasa cinta, baik itu dengan keluarga, kerabat, teman dan semua orang yang ada di pihaknya. Karena rasa cintanya itu, ia rela mati dengan bom bersama musuh-musuhnya sehingga orang-orang yang berada di pihaknya dapat terselamatkan dari serangan musuh.

Dari sudut pandang sosiologi, bunuh diri atau suicide ini dikaji oleh Emile Durkheim yang disebabkan oleh faktor  sosial dan (buku sosiologi: Teori Sosiologi Klasik dan makalah kuliah TSK saat membahas Emile Durkheim bagian 2) dirumuskan dengan beberapa tipe bunuh diri, yaitu:

  1. Bunuh diri Egoistis, adalah bunuh diri karena urusan pribadi, karena sikapnya yang kurang berinteraksi dengan sekitarnya seperti yang dicontohkan diatas yang individu tersebut terdorong untuk melakukan bunuh diri ini karena timbulnya rasa depresi, stress dan merasa tersisish.
  2. Bunuh diri Altruistik, adalah bunh diri yang disebabkan karena kuatnya interaksi dan integrasi yang ada didalam suatu grup atau kelompok dan menyatunya diri dengan nilai-nilai kelompoknya yang menyebabkan dirinya tidak memiliki apa-apa (termasuk identitas) diluar kelompoknya. Pengorbanan ini dilakukan untuk kelompok atau karena sudah tidak punya ruang atau pilihan lain untuk berubah lebih baik.
  3. Bunuh diri akibat Anomi, adalah moral dimana orang yang bersangkutan kehilangan cita-cita, harapan, tujuan dan norma didalam hidupnya. Hal ini terjadi karena regulasi masyarakat terganggu atau system dari nilai tidak lagi mampu mengatur masyarakat sehingga masyarakat dalam keadaan yang bimbang.
  4. bunuh diri fatalistik, adalah dimana keadaan didalam masyarakat nilai dan normanya telah menindas sehingga tidak memberi ruang lagi pada individu tersebut.

Selain dariketuga bunuh diri diatas masih ada lagu, yaitu bunuh diri Totenisme. Ini adalah sikap pasrah (tidak berbuat apa-apa) erena merasa tidak ada alas an untuk hidup.

Pada dasarnya, segala sesuatu itu memiliki hubungan sebab akibat (sistematika). Dalam hubungan sebab akibat ini akan menghasilkan suatu alasan atau sebab tindakan yang disebut motif.

Secara umum Motif bunuh diri ini ada banyak macamnya. Dapat golongkan dalam kategori sebab, misalkan :

  1. Mengalami keputusasaan dan depresi
  2. Cobaan hidup dan tekanan lingkungan.
  3. Gangguan kejiwaan / tidak waras (gila).
  4. Himpitan Ekonomi atau Kemiskinan (Harta / Iman / Ilmu)
  5. Penderitaan karena penyakit yang berkepanjangan.

Sedangkan dalam pandangan Islam bunuh diri adalah perbuatan yang sangat keji, dan termasuk dosa yang sangat besar. Dimana, kegiatan bunuh diri ini adalah kegiatan manusia-manusia pengecut/pecundang hidup.

Bunuh diri juga di bahas didalam kitab suci Al-Qur’an, yang dalam artian berbunyi:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”

(An-Nisa’ : 29)

“Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al Qur’an).” (QS. Al-Kahfi ; 6)

Dan didalam Hadist Bunuh diri ini juga dibahas, antara lain:

Hadits 86. (Shahih Muslim) Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw., bersabda : “Siapa yang bunuh diri dengan senjata tajam, maka senjata itu akan ditusuk-tusukannya sendiri dengan tangannya ke perutnya di neraka untuk selama-lamanya; dan siapa yang bunuh diri dengan racun, maka dia akan meminumnya pula sedikit demi sedikit nanti di neraka, untuk selama-lamanya; dan siapa yang bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari gunung, maka dia akan menjatuhkan dirinya pula nanti (berulang-ulang) ke neraka, untuk selama-lamanya.”

Hadits 88. (Shahih Muslim) Dari Tsabit bin Dhahhak ra, Nabi saw., bersabda : “Siapa yang bersumpah menurut cara suatu agama selain Islam, baik sumpahnya itu dusta maupun sengaja, maka orang itu akan mengalami sumpahnya sendiri. “Siapa yang bunuh diri dengan suatu cara, Allah akan menyiksanya di neraka jahanam dengan cara itu pula.”

Begitu banyak hal yang melatarbelakangi bunuh diri, namun yang sering terjadi yaitu karena keputus-asaan. Namun  bagi orang yang tidak berputus asa dan bersedia tetap menjalani kehidupan seberat dan seburuk apapun, maka orang itu tidak akan pernah melakukan tindakan bunuh diri ini. Sebab ia sadar, bahwa hidup ini memang penuh cobaan-cobaan yang juga berat dan pahit, jadi bunuh diri baginya hanyalah tindakan yang sia-sia dan pengecut. karena masih banyak hal-hal yang bisa dilakukan dalam hidup ini, dan segala sesuatu pastilah ada batasnya. Dan seberat apapun persoalan atau masalah itu, tetap saja ia memiliki batas akhir (penyelesaian), meski permasalahan itu harus selesai dalam jangka waktu yang tidak bisa dipastikan.

h1

PEMILWA

Januari 14, 2010

DEMOKRASI YANG TERASA TELAH HILANG DALAM

“PEMILWA”

Indonesia adalah Negara demokasi yang bisa dikatakan terbesar dalam pelaksanaanya. Demokrasi tersebut antara lain dalam menyelenggarakan pemilihan umum atau yang sering disebut pemilu. Dari pelaksanaannya ini Indonesia mendapat banyak perhatian dari dunia dan penilaian yang baik.

Pemilwa atau Pemilihan Mahasiswa di kalangan civitas akademik tingkat universitas pun diselenggarakan demi terciptanya budaya demokrasi di kalangan penerus bangsa ini. Diadakan memilihan mulai dari HIMA (Himpunan Mahasiswa), BEM (badan Eksekutif Mahasiswa) Fakultas, sampai BEM Universitas. HIMA merupakan Ormawa atau Organisasi Mahasiswa yang tingkatnya paling kecil dan yang dilibatkan hanyalah mahasiswa satu jurusan atau dalam program studi saja, missal: HIMA Pendidikan Sosiologi, maka yang terlibat didalamnya termasuk pemilih dan pengurusnya adalah dari Mahasiswa Pendidikan Sosiologi itu sendiri. Sedangkan tingkat BEM Fakultas pengurus dan pemilihnya dari satu fakultas yang sama dan dari semua jurusan atau program studi/prodi yang ada di fakultas tersebut. Misalkan saja: BEM FISE (Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi), semua pemilihnya adalah mahasiswa dari fakultas tersebut. Sedangkan BEM tingkat universitas pemilihan dan pengurusannya dari semua mahasiswa dari seluruh fakultas yang ada Universitas. Di UNY sendiri melaksanakan pemilwa da mengadopsi system pemilu di Indonesia ini untuk menanam dan memupuk rasa demokrasi dikalangan mahasiswa yang mana kegiatan ini sering disebut politik kampus yang mengajarkan mahasiswa untuk belajar politik.

Tapi dari tujuan itu, nampaknya telah melenceng jauh dalam pelaksanaanya sekarang ini. Organisasi yang tidak resmi (dari luar Universitas) telah merasuk dan memberi pengaruh besar dalam pelaksanaan Ormawa. Organisasi ini memiliki ideology yang secara umum para anggotanya untuk dapat mengikutinya.. Sehingga kesan demokratis pun telah diragukan lagi. Perbedaan agama kurang dihargai bagi yang minoritas. Organisasi “Besar” sebut saja demikian yang merangkul mahasiswa dan mengatasnamakan agama itu telah merangkul banyak anggota. Hingga masuk ke UKMF keagamaan (Unit Kegiatan Mahasiswa fakultas) yang dulunya bersifat netral, tidak berpolitik dan menjadi penengah kini secara terselubung telah berubah fungsi dan menjadi yang paling atas diantara Ormawa, dengan demikian bisa mengendalikan semua Ormawa yang ada.

Sebuah konspirasi politik telah terjadi ketika pemilwa di selenggarakan, pasalnya organisasi “besar” itu telah berhasil membuat jaringan hingga ke tingkat universitas, sehingga semuafakultas di universitas berada dibawah kendali para anggotanya. Bagaimana tidak, pemilwa belum dilaksanakan saja sudah diketahui siapa pemenangnya. Kenapa bisa separti itu? Jelas saja karena mereka (calon dalam pemilwa) lebih memiliki kesempatan banyak untuk tampil didepan umum jauh hari sebelum pemilwa dilaksanakan, sehingga secara tidak langsung mereka telah kampanye dan dia mendapat didukung dari orang-orang yang berada di ormawa (BEM) yang telah menadi anggota organisasi “besar” tersebut, sedangkan sebagian besar dari Ormawa itu telah menjadi anggotanya.  Dan untuk orang luar organisasi “besar” tidak mempunyai kesempatan yang sama untuk kampanye seperti orang yang mengikuti organisasi “besar” tersebut. Hal ini menimbulkan banyak protes sehingga sehari sebelum pemilwa dilaksanakan terjadi demo, pendemo sendiri dari orang-orang netral (luar organisasi “besar”) yang menuntut keadilan dan pesamaan hak sehingga demokrasi di kampus dapat dijunjung tinggi. Akibat dari itu ada 2 partai politik (universitas) dari 4 partai tidak ikut serta pemilwa dan memilih mundur karena mereka merasa demokrasi yang seharusnya dijunjung tinggi, telah dipermainkan dalam pemilwa.

Bagaimana tidak, saat saya membaca EKSPEDISI Edisi khusus PEMILWA 15 Desember 2009 disebutkan bahwa dalam pembentukan KPU saja tidak ada sosialisasinya, pengumumannya pun sangat minim. Sepertinya orang-orang dari kalangan tertentu yang dapat masuk menjadi pengurus. Belum lagi dalam pembentukan Panwaslu yang tidak jelas. Apakah masih dibawah naungan KPU atau secara independent? Dalam pelaksanaan pemilwa di UNY saja tidak terlihat kinerja Panwaslu. Dibentuk karena memang diperlukan atau hanya sekedar formalitas saja. Ini terlihat saat pamflet-pamflet calon peserta yang berisikan tulisan atau testimony atas nama organisasi, sebut saja BEM ReMa dan organisasi “besar” itu. Jika memang atas nama individu, buat apa nama organisasinya? Penting ya? Saya rasa tidak. Lebih baik tulis saja nama, jurusan serta angkatan. Disini BEM tidak netral lagi karena telah diraski oleh orang-orang dari organisasi “besar”. Sedangkan peran Panwaslu disini tidak terlihat.

Dalam pemilwa yang terlihat paling bersih dan sportif hanyalah dalam pemilihan ketua HIMA maupun dalam kepanitiaannya. Kendati ruang lingkupnya sempit dan hanya jurusan atau prodi saja akan tetapi demokrasi disini dijunjung tinggi serta lebih menghargai perbedaan atau multikulturalisme diantara mahasiswa tanpa membedakan atar belakang agama, maupun ras. Disini yang lebih saya spesifikan tentang HIMA Pendidikan Sosioligi. Mulai dari seleksi para calonnya, pelaksanaan kampanye hingga sampai pada terpilihnya ketua dan pengurus. Semua itu tidak ada konspirasi.

h1

PENDIDIKAN MULTIKULTRAL

Desember 31, 2009

PENDIDIKAN MULTIKULTRAL
SEBGAI SARANA MEMBENTUK KARAKTER BANGSA
(DALAM PRESPEKTIF SOSIOLOGI PENDIDIKAN)
Oleh: Prof. Dr. Farida Hanum. M.Si

Pendahuluan
Karakter banga adalah ciri khas dan sikap yang tercantum pada tingkah laku dan pribadi warga suatu Negara. Sikap tersebut dapat dipengaruhi oleh suatu yang given (sudah ada dari lahir atau kodrat) dan ada pula karena willed (yang di usahakan karena kemauan)
Ada tiga tiang uatama jati diri bangsa Indonesia yang tidak boleh digerogoti dengan cara apapun. Pertama, Indonesia sebagai suatu kebangsaan. Sejak Sumpah Pemuda tahun 1928 yang mengesahkan bahwa Indonesia adalah satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa. Kedua, Indonesia adalah suatu nrgara yang diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945, manusia-manusia Indonesia menyatakan menyatakan dirinya hidup dalamsatu Negara yaitu Indonesia. Ketiga, Indonesia adalah suatu wilayah kesatuan. Satu kesatuan Indonesia mencakup wilayah darat, laut, udara dan kekayaan alam. Bermacam-macam suku bangsa, agama dan ras diikat dalam satu semboyan, yaitu Bhineka Tunggal Ika.

Pendidikan Multikultural dan Perilaku Bangsa
Karakter dan jatidiri bangsa sangat penting disosialisasikan pada peserta didik sejak dini untuk membentuk perilaku bangsa. Ada sebuah ungkapan, “jumlah anak-anak (generasi muda) hanya 25% dari jumlah penduduk suatu bangsa akan tetapi mereka telah dapat menentukan 100% masa depan bangsa. Hal ini menunjukan bahwa maju mundurnya suatu bangsa sangat bergantung pada kualitas generasi muda sebagai penerus kelangsungan bangsa. Hal yang sangatpenting dalam merintis implementasi pendidikan multikultural disekolah dalam membangun perilaku bangsa agar di masa yang akan dating generasi penerus memiliki perilaku yang mampu dan cerdas dalam menyikapi kemajemukan yang mereka dapat dalam kehidupan Negara Indonesia yang multikultural.
Setiap individu dibesarkan dalam lingkungan budaya masing-masing, yang mungkin saja membuat mereka berbeda dalam cara berfikir, minat, tingkah laku, bahasa, maupun kemampuan akademik. Perbedaan ini bila tidak dikelola dengan baik menjadi hambatan psikologis maupun sosiologis pada warga sekolah dan tidak jarang dapat menimbulkan konflik dan praktek diskriminasi disekolahbaik oleh pengurus sekolah, guru maupun siswa.
Dalam knteks kehidupan yang multikultural, pemahaman berdmensi multikultural harus dihadirkan untuk memperluas waana manusia yang selama ini masih memperhatikan “egoisme” kebudayaan, agama maupun kelompok. Secara ideal, pluralisme atau multkulturalisme berarti penolakan terhadap kefanatikan, purbasangka, rasisme, tribalisme dan menerima secara inklusif keanekaragaman yang ada.
Melalui pendidikan, sikap penghargaan terhadaerbedaan direncana dengan baik, generasi muda dilatih dan disadarkan akan pentingnya penghargaan terhadap orang lain dan budaya lain. Oleh sebab itu, sangat penting nilai-nilai dan pendidikan multikulturalisme mewarnai proses belajar dikelas. Dalam pendidikan multicultural seorang guru tidak hanya dituntut menguasai mampu secara professional mengajar mata pelajaran/kuliah yang diajarkan tetapijuga harus mampu menanamkan nilai-nilai dari pendidikan multikultural seperti demokrasi, humanism, keadilan gender, kemampuan berbeda pendapat dan pluralisme budaya.
Melalui pendidikan multikultural sekak dini diharapkan anak mampu menerima dan memahami perbedaan budaya yang berdampak pada usage, folkways, mores dan customs. Dengan pendidikan multikultural mampu menerima perbedaan, kritik, dan emiliki rasa empati, toleransi pada sesame tanpa memandang golongan, status sosial, agama dan kemampuan akademik. Pendidikan miltikulturl bermakna sebagai proses pendidikan cara hidup menghormati, tulus, toleran terhadap keragaman budaya.

PENDIDIKAN MULTIKULTURAL
Hakekat Pendidikan Multikultural
Dalam kehidupan yang multikultural, pemahaan yang berdimensi multikultural harus dihadirkan untuk memperluas wacana pemikiran manusia yang selama ini masih mempertahamkan “egoisme” kebudayaan dan keagamaan. Multikultural dapat pula diartikan sebagai pluralitas kebudayaan dan agama. Pluralitas kebudayaan adalah interaksi siosialdan politik antara orang-orang yang berbeda cara hidup dan berpikirnya dalam suatu masyarakat. pluralisme atau multkulturalisme berarti penolakan terhadap kefanatikan, purbasangka, rasisme, tribalisme dan menerima secara inklusif keanekaragaman yang ada. Multikulturalisme memfokuskan pada pemahaman dan hidup bersama dalam satu konteks sosial budaya yang berbeda. Pendidikan multikulturalisme merupakan suatu rangkaian kepercayaan (set of beliefs) dan penjelasan yang mengekui dan menilai pentingnya keragaman budaya dan etnis didalam membentuk gaya hidup, pengalaman sosial, identitas pribadi, kesempatan pendidikan dari indivdu, kelompok maupun Negara.

Sejarah Perkembangan Multukultural di AS dan Luar AS
Strategi pendidikan multikultural adalah pengembangan dari studi intelektual dan multikulturalisme. Dalam perkembangannya, studi ini menjadi studi khusus tentang pendidikan multikltural yang pada awalnya bertujuan agar populasi mayotitas dapat bersikap toleran terhadap imigran.
Roh dan nafas dari pendidikan multikulturalisme ini adalah demokrasi, hiumanisme dan pluralisme yang anti terhadap adanya control, tekanan yang membatasi dan menghilangkan kebebasanmanusia. Pendidikan multikultural ini justru menjadi motor penggerak dalam penegakan demokrasi, humanisme dan pluralisme yang dilakukan melalui sekolah-sekoah, kampus, adan institusi-institusi lainnya seperti halnya di AS.
Pendidikan multikultural kini telah mengalami perkembangan, baik teoristis maupun prakteksejak konsep paling awal muncul tahun 1960-an yang pertamakali dikemukakan oleh Banks. Pada saat itu konsep pendidikan multikultural lebih pada supermasi kulit putih di AS dan diskriminasi yang dialami kulit hitam.
Pendidikan multikultural berkembang di masyarakat AS antar budaya etnis yang besar, yaitu budaya antar bangsa. Terdapat empat jenis dan fase perkembangan pendidikan di AS (Banks, 2004), yaiti: (1). Pendidikan yang bersifat segregasi yang memberi hak berbeda antara kulit hitam dan kulit putih terutama pada kualitas pendidikan (kulit putih lebih diunggulkan). (2). Pendidikan menurut konsep Salad Bowl, masing-masing kelompol etnis berdiri sendiri, mereka hidup bersamaan selama tidak salig mengganggu. (3). Konsep eting pot, masing-masing kelompok etnis dengan budayanya sendiri menyadari danya perbedaan antara sesamanya . walaupun berbeda tetapi kepentingan Negara diatas kepentingan kelompok, ras dan budaya sehingga hal tersebut dapat menyetukan mereka. (4). Pendidikan multikultural mrlahirkan pedagogik baruserta pandangan baru engenai preksis pendidikan yang memberi kesempatan serta penghargaan yang saama terhadap semua anak tanpa membedakan asal-usul serta agamanya. Studi kultural embahas secara luas mengenai arti budatya dalam kehidupan manusia.
Pendidikan multicultural di Inggris berkembang sejalannya dengan datangnya kaum imigran, yang mendapatkan perlakuan diskriminatifoleh pemimpin dan kaum mayoritas Inggris, sehingga menimbulkan gerakan yang berlatar belakang budaya. Gerakan politikyang didukung liberal, demokrasi, dan gerakan kesetaraan manusia.
Pendidikan multikultural di Jerman tak jauh beda dengan yang di AS dan Inggris, bersifat antarbudaya etnis yang besar, yaitu antarbangsa. Hal yang sama juga terdapat di Kanada dan Australia.

Pendidikan Multikultural di Indonesia
a. Kondisi Sosial Politik
Multikultural di Indonesia ersifat antaretnis yang kecil yaitu budaya antarsuku bangsa. Keragaman budaya dating dari dalam bangsa Indonesia sendiri. Hal ini dapat menjadi modal yang kuat bag keberhasilan pelaksanaan pendidikan multikultural di Indonesia. Semangat Sumpah Pemuda dapat enjadi Roh yang kuat untuk memarsatukan warga egara Indonesia yang berbeda budaya. Masarakat Indonesia sangat beragam dan tinggal di pulau-pulau yang tersebar berjauhan. Halini menyebabkan interaksi dan integrasi sulit berjalan dengan lancer. Keajuan ekonomi kurang merata, sehingga terdapat ketimpangan kesejahteraan masyarakat, ini sangat rentan sebagai awal rasa ketidakpuasan yang berpotensi menjadikan konflik.
Sektor pendidikan politik dan pembinaan bangsa kurang mendapat perhatian. Pada saat itu masyarakat takut berbeda pandangan, sebab kebebasan dalam mengeluarkan pendapat tidak diberi tempat, kebebasan berpikir ikut terpasung, pembinaan kehidupan dalam keragaman nyaris berada pada titik nadir.
Gerakan reformasi Mei 1998 untuk mentransforasikan otoriter Orde Baru menuju transisi demokrasi sebaliknya telah menyemaikan berkembangnya kesadaran baru tentang pentingnya otonomi masyarakat sipil. Pendidikan multikultural sangat diperlukan sebagai landasan pengembangan system politik yang kuat endidikan multikultural sangat menekankan pada pentingnya akomodasi hak setiap kebudayaan dan masyarakat sub-nasional untuk memelihara dan mempertahankan identitas ebudayaan dan masyarakat nasional.
b. Prespektif dan Tujuan Pendidikan Multikultural
Prespektif mltikulturalisme didalam pendidikan: (1). Prespektif “cultural assimilation”, (2) Prespektif “cultural pluralism”, (3). Prespektif “cultural synthesis”.
Yang pertama, suatu model transisi dalam system pendidikan yang menunjulkan proses asimilasi anak atau subjek didik dari berbagai kebudayaan ke dalam “core society”.
Yang kedua, suatu system pendidikan yang menekankan pada pentingnya hak bagi semua kebudayaan dan masyarakat sub-nasional untuk memelihara danmempertahankan identitas cultural masing-masing.
Yang ketiga, menekankan pada entingnya proses terjadinya elektisisme dan sintesis didalam diri anak didik atau masyarakat dan terjadinya perubahan dalam berbagaik kebudayaan dan masyarakatsub-nasional.
Tiga tujuan prespektif penidikan, yaitu: tujuan “attitudinal”, tujuan “kognitif” dan tujuan “instruksional”.
Attitudinal, fungsi untuk menyemai dan mengembangkan sensitivitas cultural, pengembangan budaya , penghormatan pada identitas cultural, pengembangan sikap budaya responsive dan keahlian untuk melakukan penolakan dan revolusi konflik.
Kognitif, pendidikan multicultural mempunuai tujuan dalam pencapaian pengetahuan akademik, pengembangan pengetahuan tentang kemajemukan budaya, kompetensi untuk melakukan analisis dan interpretasi perilaku cultural dan mis informasi tentang kelompok-kelompok etnis dan kultural yang dimuat didalam buku dan media pembelajaran, menyediakan strategi untuk menjalani hidup didalam multikultural, mengembangkan ketrampilan kmunikasi interpersonal, menyediakan teknik-teknik untuk melakukan evaluasi dan menjelaskan tenteng dinamila perembangan kebudayaan.

Impementasi Pendidikan Multikultural
1. Pendekatan Kontribusi (the contributions approach). Tingkatan ini paling sering dilakukan dan paling luas dipakai dalam fase pertama dari gerakan kebangkitan etnis. Cirinya, dengan memasukan pahlawan dari bangsa/etnis dan berbeda-beda budaya kedalam pelajaran yang sesuai.
2. Pendekatan aditif (adtif approach). Penambahan materi, konsep, tema, prespektif terhadap kurikulum tanpa mengubah struktur tujuan dan karakteristik dasarnya.
3. Pendekatan Transformasi (the transformation approach). Mengubah asumsidasar kurikulum dan menumbuhkan kompetensi deasar siswa dalam melihat konsep, isu, tema dan masalah dari beberapa prespektif dan sudut pandang etnis.
4. Pendekatan Aksi Sosial (the social action approach). Mencakup semua elemen dari pendekatan transformasi, namun menambah komponen yang mempersyaratkan siswa membuat aksi yang berkaitan dengan konsep, isu atau masalah yang dipelajaridalam unit.

Impementasi Pendidikan Multikultural di Kelas
1. Implementasi pendekatan kontribusi di kelas.
Pada siswa TK dan SD kelas awal seperti kelas I, II, III. Substansi pendidikan multikultual pada tahap ini adalah menanamkan pada siswa bahwa manusia yang ada disekitarnya dan tempat lain di dunia ini sangatlah beragam.
2. Implementasi pendidikan aditif di kelas.
Implementasi pada siswa SD kelas atas (IV, V, VI) dan tingkat SMP. Rasa ketertarikan akan keragaman yang diperoleh didalam kelas akan memotivasi siswa untuk tahu lebih banyak dengan membaca, melihat internet, berkunjung, bertanya pada yang lebih tahu dan sebagainya.
3. Implementasi pendekatan transformasi dikelas.
Pengalaman pembelajaran ini dapat melatih siswaq bersikap sportif terhadap kelebihan dan kekurangan baik dari diri sendiri maupun orang lain. Siswa juga dilatih menghargai , mengakui dan mau mengambil hal-hal pisitif dari pihak lain walau itui dari kelompok minoritas, baik dikelas meupun Negara.
4. Implementasi pendekatan aksi di kelas
Tujuan dari pendekatan ini adalah menyiapkan peserta didik untuk memiliki pengetahuan, nilai, ketrampilan bertindak dan peran aktif dalam perubahan social, baik dalam skala regional, nasional dan global. Dalam pendekatan ini pendidik berperan sebagai agen perubahan social yang meningkatkan nilai-nilai demokratis, humanis, dan kekuatan siswa.

Pendidikan multicultural di Indonesia relatif masih belum dokenal sebagian besar guru-guru. Oleh sebab itu sosialisasi tentang pendidikan multicultural penting untuk terus dilakukan, baik berbentuk seminar, penataran, workshop dan dengan penyadiaan buku-buku penunjang. Masyarakat Indonesia yang sangat beragap sangat tepat dikelola melalui pendekatan nilai-nilai multicultural agar anteraksi dan integrasi dapat berjalan dengan damai, sehingga dapat menumbuhkan sikap kebersamaan, toleransi, humanis, dan demokratis.

h1

Hello world!

Desember 17, 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai