Sosiologi sebagai satu disiplin yang membicarakan struktur sosial mengandaikan sebuah bentuk yang ideal. Perubahan sosial yang sangat cepat di masyarakat sangat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh ilmu dan teknologi serta pertumbuhan berbagai sistem kepercayaan dan pandangan hidup.
Sekalipun perubahan merupakan hal yang pasti karena sebagai mana sebuah adigium bahwa di dunia ini tidak ada yang berubah selain perubahan itu sendiri, perubahan juga meniscayakan adanya sebuah bentuk idela yang menjadi acuan bagi masyarakat untuk mengejar dan mencapai bentuk ideal itu.
Tidak dapat dipungkiri bahwa para pakar sosiologi (sosiolog) senantiasa melaihat kondisi sosial berdasarkan sudut pandang yang berbeda sesuai dengan latar belakang akademik dan pengalaman hidupnya. Namun bagi masyarakat beragama, mempecayai bahwa kitab sucinya juga telah menggariskan satu bentuk ideal masyarakat sebagai acuan umat beragama dalam kehidupan sosial.
Sosiologi sendiri mengkaji dan juga mempelajari suatu system dan nilai yang ada dan berkembang didalam masyarakat. Sosiologi adalah suatu ilmu yang tidak menilai sebuah fenomena social dalam masyarakat berdasarkan benar dan salahnya, sosiologi membahasnya berdasarkan pada sudut pandang yang luas, menilai berdasarkan baik dan buruknya berdasarkan setiap sudut pandang masyarakat yang berbeda later belakang, baik dari sudut pandang ras, etnis, suku bangsa, agama dan budaya. Suatu yang dinilai baik dalam satu masyarakat belum tentu baik di masyarakat lainnya. Sosiologi selalu terbuka terhadap barbagai hal, baik itu baru maupun lama. Namun sosiologi begitu cermat dan teliti dalam mengamati hal yang ada didalamnya.
Sosiologi ini mempunyai peran yang sangat besar dalam masyarakat. Semua aspek kehidupan masyarakat selalu ada dalam kajian sosiologi, mulai dari hal yang kecil sampai hal yang besar dalam masyarakat.
Hal ini terbukti dari teori para tokoh-tokoh sosiologi yang selalu membahas tentang masyarakat dan apa saja yang ada didalamnya. Tokoh tersebut antara lain, yaitu:
1. Emile Durkheim
Durkheim mengkaji masyarakat ideal berdasarkan konsep solidaritas sosial. Solidaritas sosial menunjuk pada satu keadaan hubungan antara individu dan atau kelompok yang berdasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. Ikatan solidaritas sosial menurutnya lebih mendasar daripada hubunga kontraktual yang dibuat atas persetujuan rasional, karena hubungan-hubungan serupa itu mengandaikan sekurang-kurangnya satu derajat konsensus terhadap prinsip-prinsip moral yang menjadi dasar kontrak itu. Solidaritas sosial ini terbagi kepada dua bagian : solidaritas mekanik dan solidaritas organik.
Solidaritas mekanik pada suatu “kesadaran kolektif” bersama, yang menunjuk pada totalitas kepercayaan-kepercayaan dan sentimen-sentimen bersama yang tergantung pada individu-individu yang memiliki sifat-sifat yang sama dan menganut kepercayaan dan pola normatif yang sama pula. Karena itu, individualitas tidak berkembang; individualitas itu terus-menerus dilumpuhkan oleh tekanan yang besar sekali untuk konformitas. Ciri khas yang penting dari solidartas mekanik adalah bahwa solidaritas itu didasarkan pada suatu tingkat homogenitas yang tinggi dalam kepercayaan, sentimen dan sebagainya. Homogenitas serupa itu hanya mungkin kalau pembagian kerja sangat minim.
Sebaliknya solidaritas organik muncul karena pembagian kerja bertambah besar. Solidaritas itu berdasarkan pada tingkat saling ketergantungan yang tinggi. Saling ketergantungan itu bertambah sebagai hasil dari bertambahnya spesialisasi dalam pembagian pekerjaan, yang memungkinkan dan juga menggairahkan bertambahnya perbedaan di kalangan individu. Munculnya perbedaan-perbedaan di tingkat individu ini merombak kesadaran kolektif itu, yang pada gilirannya menjadi kurang penting lagi dasar untuk keteraturan sosial dibandingkan dengan saling ketergantungan fungsional yang bertambah antara individu-individu yang memiliki spesialisasi dan secara relatif lebih otonom sifatnya. Bila diskemakan maka dua solidaritas itu bisa dilihat dari skema di bawah ini :
| Solidaritas mekanik | Solidaritas organik |
| – Pembagian kerja rendah
– Kesadaran kolektif kuat – Hukum represif dominan – Individualitas rendah – Konsensus terhadap pola-pola normatif penting – Keterlibatan komunitas dalam menghukum orang yang menyimpang – Secara relatif saling ketergantungan rendah – Bersifat primitif-pedesaan |
– Pembagian kerja tinggi
– Kesadaran kolektif lemah – Hukum restitutif dominan – Individualitas tinggi – Konsensus pada nilai-nilai abstrak dan umum penting – Badan-badan kontrol sosial yang menghukum orang yang menyimpang – Saling ketergantungan tinggi – Bersifat industrialis – perkotaan |
Demikian perhatian utama Durkheim dalam struktur sosial (masyarakat) lebih ditekankan pada bentuk-bentuk integrasi atau solidaritas sosial. Dab bila diperhatikan Durkheim juga sependapat dengan Comte dan Sorokin mengenai ide dasar konsensus intelektual dan moral yang perlu sebagai dasar untuk keteraturan sosial yang bersifat harmonis dan terintegratif.
2. Max Weber
Weber memberikan perhatian tentang masyarakat ideal berdasarkan konsep rasionalitas. Konsep ini sama pentingnya dengan konsep solidaritas untuk Durkheim, dan konflik kelas Marx. Weber melihar perkembangan masyarakat Barat yang modern sebagai suatu hal yang menyangkut peningkatan yang mantap dalam bentuk rasionalitas. Peningkatan ini tercermin dalam tindakan ekonomi individu dan bentuk-bentuk organisasi sosial. Bagi Weber birokrasi modern karena adanya otoritas yang berdasarkan pada komitmen terhadap seperangkat peraturan yang diundangkan secara resmi dan diatur secara impersonal yang ini kemudian dikenal sebagai otoritas legal-rasional. Tipe otoritas ini berbeda dengan otoritas tradisional dan karismatik.
Birokrasi modern menurut Weber merupakan organisasi sosial yang paling efesien, sistematis dan dapat diramalkan dan birokrasi modern ini dilihatnya sebagai tipe ideal.
3. Karl Marx
Marx melihat kondisi masyarakat melalui kaca mata konsep pertentangan kelas sosial. Dalam teorinya Materialisme Historis dan Materialisme Dialektis Marx membagi masyarakat kepada dua kelompok: kelompok borjuis dan kelompok proletas. Kelompok borjuis adalah kelompok yang menguasai modal dan alat produksi sedangkan kelompok proletar adalah kelompok yang tidak memiliki modal dan alat produksi. Kelompok proletar jumlahnya sangat besar dibandingkan kelompok borjuis akibatnya terjadi kesenjangan sosial diantara keduanya dan ini semua menurutnya diakibatkan oleh sistem ekonomi yang kapitalis.
Bagi Karl Marx bentuk masyarakat ideal adalah masyarakat komunis dimana sudah tidak ada lagi konflik antar kelas karena kaum proletar dapat menikmati sebagian besar kelimpahan material yang dihasilkan oleh industrialisasi. Hal itu bisa terwujud setelah tercapai perubahan sosial meluli revolusi.
Selain dari tokoh-tokoh yang ada di atas tadi, masih ada lagi banyak tokoh sosiologi yang mempunyai teori-teori dan gagasan-hagasan mengenai masyarakat yang saling kompleks dengan yang lainnya. Sehingga menjadikan sosiologi adalah ilmu yang komples kajian studinya dan sangat berperan besar dalam kehidupan manusia yang bernasyarakat. namun demikian tak banyak orang dari kalangan non sosisl (studi) mengetahui sosiologi. sering kali sosiologi tidak dikenal oleh masyarakat luas. Seperti misalnya, Biologi, Fisika dan Kimia, semua orang tahu jika itu merupakan Ilmu alam. Namun bila disebut Sosiologi, tak banyak orang tahu bahwa itu adalah ilmu sosial yang mempelajari semua aspek dalam kehidupan. walaupun demikian sosiologi bukanlah bagian dari ilmu pasti seperti misal 2+2 = 4, dalam sosiologi itu belum pasti. 2+2 dalam sosiologi bisa saja lebih dari itu, munkin lebih banyak, mungkin juga kurang dari itu, dengan kata lain sosiologi adalah ilmu yang tak pasti dan selalu brkembang dalam masyarakat.
