Feeds:
Pos
Komentar

Terlahir Sebagai Imam

Saat sholat Maghrib di Masjid Raudatul Ibadah (masjid terdekat ke rumahku) pada tanggal 1 Januari 2011 untuk kedua kalinya sejak pulang dari Tanah Suci (8 Desember 2010) aku merasa seperti sedang berada di Padang Arafah/Mina. Sensasi pertamanya pada tanggal 18 Desember 2010, juga saat sholat Maghrib di Raudatul Ibadah. Betapa tidak, karena imam sholat adalah Uztadz Jailani Mawardi.

Saat melaksanakan ibadah haji (lebih kurang 40 hari), petugas kloter terdiri dari Ketua Kloter, Pembimbing Ibadah, Dokter, dan Tenaga Medis 2 orang. Yang bertugas sebagai Pembimbing Ibadah adalah Ustadz Jailani Mawardi. Pada banyak kesempatan sholat, beliau menjadi imam, seperti di pesawat udara, di bandara Jeddah, di hotel/apartemen Mekkah, saat wukuf di Arafah, dan selama 3 hari berada di Mina. Tapi diantara beliau menjadi imam pada sholat-sholat itu, yang paling berkesan adalah saat berada di Arafah dan Mina. Suara bacaan sholat beliau yang khas sangat mengesankan. Menjadi makmum beliau, rasanya sholatku menjadi ibadah yang begitu menarik.

Dalam perjalanan pengalaman hidupku, tidaklah banyak imam yang membuat sholatku jadi begitu indah. Ada yang bacaan fatihahnya terasa kurang menarik, pilihan ayatnya terasa terlalu panjang, gerakan sholatnya terasa terlalu lambat atau terlalu cepat. Tapi saat imam adalah Ustadz Jailani Mawardi, semua bacaan, pilihan ayat, gerakan, terasa pas, indah, dan mengesankan.

Aku tidak dapat menjelaskan kenapa? Bacaan Fatihah beliau sebetulnya tidaklah terlalu merdu, masih ada imam lain yang lebih merdu. Pilihan ayatnya juga biasa-biasa saja. Mungkinkah seseorang memang ditakdirkan jadi imam kaumnya. Imam yang pas itu sepertinya memang dilahirkan.

Selamat Tahun Baru 2011

Detik, menit, jam, hari, minggu, dan bulan-bulan di tahun 2010 yang penuh kenangan pun kita lewati. Mari kita sambut tahun 2011 dengan penuh harapan. Selamat tahun baru.

Selamat jalan 2010 yang penuh kenangan. Selamat datang 2011 yang penuh harapan. Selamat tahun baru.

Perpisahan tanpa ada harapan untuk berjumpa lagi. Betapa sedihnya, tapi itulah yang harus terjadi antara kita dan tahun 2010. Selamat jalan 2010. Selamat tahun baru 2011.

Rasanya banyak sekali yang ingin kuungkapkan di akhir tahun ini, di awal tahun  ini. Rasa sedih dan haru meninggalkan (atau ditinggalkan) 2010. Banyaknya kenangan, peristiwa, suka, duka, sedih, gembira, senang, sedih, menyenangkan, menjengkelkan, silih berganti menghiasi 2010.

Banyak bencana di tanah air ini: gempa di tasikmalaya, banjir bandang di wasior, letusan merapi di jawa tengah, tsunami di mentawai, …  mungkinkah itu hukuman, peringatan, ataukah hanya ujian bagi bangsa ini.

Hiruk pikuk politik, hukum, korupsi, HAM, teroris, timnas sepakbola sangatlah terasa meramaikan tahun 2010.

Bagiku pribadi, pengalaman religi paling mengesankan tentulah perjalanan ibadah haji. Tak terkatakan pengalaman rohani berada di tanah suci selama lebih kurang 40 hari. Rangkaian pelajaran kehidupan yang kudapatkan harusnya dapat menjadikanku lebih baik dalam bersikap. Ya Rabbi bimbinglah aku…..

Suara terompet bersahutan menandakan tahun baru untuk WITA menyadarkan aku bahwa 2011 benar-benar telah tiba. Selamat Jalan 2010. Selamat Datang 2011……

Selamat Tahun Baru 2010

Detik, menit, jam, hari, minggu, dan bulan-bulan telah terlewati. Tak terasa perjalanan di tahun 2009 berakhir sudah. Ada keberhasilan, kegagalan, kesuksesan, kemerosotan, kemakmuran, kemiskinan, kejayaan dan kejatuhan, datang silih berganti. Kadang kita berada di atas dan di saat lain berada di bawah.

Kini waktunya meninggalkan yang lalu untuk berjalan terus ke depan dengan semangat dan optimisme baru, target baru, amunisi baru dan tentunya strategi baru.

SELAMAT TAHUN BARU 2010.

Memang ternyata sangat banyak lagu yang tak terlupakan. Mendengarkan lagu-lagu kenangan seperti menyusuri kembali lintasan waktu yang sudah terlewati. Ada suka ada duka. Ada senyum ada lara. Ada yang manis ada yang pahit. Ada yang indah ada yang pilu. Ada yang biasa-biasa saja, tapi ada pula yang mengharubirukan perasaan. Tapi, ternyata begitulah kehidupan.

81. Rindu Yang Terlarang – Broery Pesolima & Dewi Yullbroery
82. Melati Dari Jayagiri – Bimbo
83. Widuri – Bob Tutupoli
84. Ingat Kamu – Dina Mariana
85. Biarlah Sendiri – Eddy Silitonga
86. Takut – Anggun C. Sasmi
87. Flamboyan – Bimbo
88. Aku Cinta Dia – Chrisyedewi-yull
89. Rinduku Tiada Yang Tahu – Endang S. Taurina
90. Astaga – Bill and Brod
91. Kau Tercipta Untukku – Betharia Sonata
92. Sahabat Pena – Boy Sandy
93. Anak Sekolah – Chrisye
94. Tak Ingin Sendiri – Dian Piesesha
95. Adakah Cinta Abadi – Eddy Silitonga
96. Senja Di Batas Kota – Ernie Djohaneddy-silitonga
97. Badai Pasti Berlalu – Eros Djarot, Chrisye, Berlian Hutauruk
98. Aku Melangkah Lagi – Vina Panduwinata
99. Anak Jalanan – Gito Rollies
100. Bimbang – Andi Meriam Matalatta
101. Maria – Julius Sitanggang
102. Hasrat – Andi Meriam Matalatta
103. Usah Kau Lara Sendiri – Katon Bagaskara
104. Lihat Air Mata – Grace Simoneuis-darliah
105. Tak Bisa Pindah Ke Lain Hati – Katon Bagaskara
106. Teluk Bayur – Ernie Djohan
107. Kau Yang Kusayang – Mawi Purba
108. Berdiri Bulu Romaku – Hetty Koes Endang
109. Dinda Dimana – Katon Bagaskara
110. Tirai – Rafika Duri
111. Selamat Malam – Grace Simon
112. Jangan Kau Dustai Cinta Kita – Rano Karno & Nella Regar
113. Symphony Rindu – Meriam Bellinanicky-astria
114. Borobudur – Nola Tilaar & Euis Darliah
115. Gantengnya Pacarku – Nini Carlina
116. Terlena – Ramona Purba
117. Jarum Neraka – Nicky Astria
118. Dia Sahabat Karibku – Nia Daniaty
119. Judul-judulan – PMR
120. Pilar – Rafika Duri

Ternyata demikian banyak lagu tak terlupakan. Sangat sulit jika harus membatasinya dalam jumlah tertentu. Karena itu saya coba susun dalam bentuk volume. Sampai berapa, saya juga belum tahu. Biarkan lagu-lagu tak terlupakan mengungkit kenangan, menembus ruang dan waktu.

iwanfals41. Astaga – Ruth Sahanaya
42. Balada Seorang Minta Minta – Tetty Kadi
43. Hatimu Hatiku – Titiek Sandhora & Mukhsin
44. Kereta Tiba Pukul Berapa – Iwan Fals
45. Kalau Bulan Bisa Ngomong – Doel Sumbang
46. Hidup Di Bui – D’Lloyd
47. Rambut Sama Hitam – D’Lloyd
48. Hati Lebur Jadi Debu – Jamal Mirdad
49. Kepada Alam dan Pencintanya – Ritta Rubby Hartland
50. Di Batas Kota Ini – Tommy J. Pisa
51. Kemesraan – Iwan Fals
52. Bing – Grace Simon
53. Gubahanku – Broery Pesulimatommyjpisa
54. Suzzana – Bill and Brod
55. Benci Tapi Rindu – Diana Nasution
56. Kupu Kupu Malam – Titiek Puspa
57. Antara Jakarta Penang – Poppy Mercury
58. Si Doel Anak Sekolahan – Rano Karno
59. Cinta Yang Hitam – Jamal Mirdad
60. Oemar Bakri – Iwan Fals
61. Aku Tak Biasa – Alda Rizma
62. Panggung Sandiwara – Achmad Albar
63. Khayal & Tangis – Endang S. Taurina
64. Buku Ini Aku Pinjam – Iwan Fals
65. Burung Camar – Vina Panduwinata
66. Kisah Kasih Di Sekolah – Obbie Mesakh
67. Kisah Insani – Chrisye & Vina Panduwinata
68. Syair Kehidupan – Achmad Albar
69. Semua Jadi Satu – Malyda & Dian Pramana Putra
yunishara70. Jalan Sore – Denny Malik
71. Sakura – Fariz RM
72. Hilang Permataku – Yuni Shara
73. Barcelona – Fariz RM
74. Antara Anyer dan Jakarta – Sheila Majid
75. Galih dan Ratna – Chrisye
76. Juwita – Doel Sumbang
77. Nostalgia SMA – Paramitha Rusady
78. Singkong Dan Keju – Bill and Brod
79. Balada Seorang Biduan – Bimbo
80. Jangan Ada Dusta Di Antara Kita – Broery Pesolima & Dewi Yull

berkelana-iiFilm Rhoma Irama Berkelana II adalah lanjutan Rhoma Irama Berkelana I. Seperti seri pertamanya, film ini juga dibuat pada tahun 1978. Film ini dibintangi oleh Rhoma Irama, Yati Octavia,  Sukarno M. Noor, Rachmat Hidayat,  Chitra Dewi,  Adek Irawan, Dewi Indrawati, Wempy,  Riswan, Hadi, Nasir, Popong, Afip, Rahmat, Udin Labu, Oteng, Mustafa Wirya, Mustafa Kamal. Scenario: Sapto Busono , Juru Kamera: R. Husein, Produser: Dharmawan Susanto, Sutradara: Yung Indrajaya, Studio: Penas, Universal Lab. Hongkong.

Cerita film ini dimulai dari Budi diusir dari rumah Ani (Rhoma Irama Berkelana I). Saat mengelamun sambil jalan, Budi ditabrak motor, tetapi kemudian datang kawan-kawannya. Dia berkumpul kembali bersama ketiga temannya sesama pengamen. Ani pun tahu di mana Budi berada. Hubungan Budi-Ani berjalan secara backstreet. Namun, akhirnya ayah Ani mengetahui hubungan tersebut.

Budi mengajak teman-temannya untuk berhenti mengamen. Menurut Budi, musik bukanlah alat untuk meminta-minta. Budi memilih menjadi sopir taksi, sedangkan ketiga temannya memilih pekerjaan lain, ada yang jual koran dan kuli bangunan.

Sebagai cara untuk ketemu Ani, Budi menyamar sebagai guru piano dan memberi les pada Ani. Saat pertama datang ke rumahnya, Ani sempat tidak mengenali Budi yang menyamar sebagai orang Batak, marga Harahap. Dengan tampilan yang lain dan logat Bataknya, orang tua Ani dapat dikelabuinya.

rhoma_irama2

Suatu hari, taksi Budi ditumpangi oleh seseorang yang memiliki seperangkat alat musik. Mengetahui Budi bisa bermain musik, dia menawarkan alat-alat musiknya untuk dikelola oleh Budi. Budi mengajak teman-teman ngamennya dulu dan membentuk grup musik Soneta.

Soneta menjadi terkenal. Wajah Budi yang tak lain adalah Rhoma muncul di sampul majalah dan dilihat oleh keluarganya di Bandung. Keluarga Rhoma meminta tolong kepada ayah Ani untuk bertemu dengan seorang penyanyi bernama Budi. Terkejutlah keluarga Ani karena ternyata Budi adalah Rhoma.

Lagu-lagu yang menghiasi film Rhoma Irama Berkelana II, sesuai urutan dalam filmnya, adalah sebagai berikut:

1. Nasibku – Rhoma Irama
2. Termenung – Rita S.
3. Pantun Cinta – Rhoma Irama & Rita S.
4. Banyak Jalan Menuju Roma – Rhoma Irama
5. Jatuh Cinta – Rhoma Irama & Rita S.
6. Perjuangan dan Doa – Rhoma Irama
7. Piano – Rhoma Irama & Rita S.

berkelana-iDari berbagai sumber informasi tentang film Rhoma Irama, termasuk http://www.rajadangdut.com, ada empat film yang diproduksi pada tahun 1978, yaitu: Rhoma Irama Berkelana I, Rhoma Irama Berkelana II, Rhoma Irama Raja Dangdut, dan Begadang. Tetapi sejauh ini belum ada informasi yang valid mengenai urutan pembuatannya. Saya juga tidak dapat memastikan manakah urutan yang benar.  Akan tetapi dengan memperhatikan pemeran pendukung, khususnya Yati Octavia dan Ida Royani, dan juga lagu-lagu yang menghiasi keempat film ini, maka sementara ini saya menyimpulkan bahwa film Rhoma Irama yang keempat adalah Rhoma Irama Berkelana I, disusul dengan film Rhoma Irama Berkelana II, Begadang, dan Rhoma Irama Raja Dangdut.

Film Rhoma Irama Berkelana I dibintangi oleh Rhoma Irama, Yati Oktavia, Rachmat Hidayat,  Sukarno M. Noor, Chitra Dewi,  Ade Irawan, Dewi Indrawati, Rachmat, Hasan Dollar Cs, Oteng, Mustafa Wirya, Mustafa Kamal, dan Soneta Group. Cerita: Saptobusono, Skenario: Rhoma Irama, Asisten Sutradara: Bachroem Halilintar, Script Girl: Marietje dan A. Karim, Studio: Penas dan Universal Lab. Hong Kong, Producer: Dharmawan Susanto, Sutradara: Yung Indrajaya.

rhoma-irama-berkelana-iFilm ini bercerita tentang Rhoma yang tidak disukai Pak Subrata, ayahnya, karena kegemarannya bermain musik. Karena sikap ayahnya itu, Rhoma tidak bersemangat dalam belajar dan tidak betah di rumah. Puncaknya tatkala Rhoma mendendangkan lagu Pedih. Gitar kesayangannya dihancurkan oleh ayahnya dan dia diusir dari rumahnya.

Rhoma pergi ke Jakarta. Dia bertemu dengan sekelompok pengamen: Dani, Edi, Popong, dan Iwan. Rhoma sendiri mengaku bernama Budi. Rhoma alias Budi bergabung dengan empat sekawan itu. Karena Dani sakit, Budi menggantikannya Dani menyanyi. Ternyata sakitnya parah. Dokter yang memeriksanya memutuskan untuk mengoperasi. Karena Budi tidak berhasil mendapatkan uang dari ayahnya untuk membiayai operasi Dani, dia nekad merampas tas seorang gadis. Tas itu berisi sejumlah uang dan surat-surat penting. Karena itu, Budi bermaksud mengembalikan tas beserta isinya setelah diambil sebagian untuk biaya operasi. Si gadis yang bernama Ani itu membatalkan niatnya untuk membawa Budi ke polisi. Ani malah minta diantar ke tempat Dani dirawat. Sampai di rumah sakit, ternyata Dani sudah meninggal.

rhoma_iramaAyah Ani yang juga sudah mengikhlaskan uang yang dicuri menerima Budi sebagai sopir mobil Ani. Penampilan Budi yang sopan membuat hati Ani tertarik. Suatu hari Ani mengajak Budi ke danau. Ani hampir saja tenggelam di danau karena sampan yang ditumpanginya bocor. Beruntung Budi segera menolongnya. Dalam perjalanan pulang dari danau, Budi dan Ani saling menyatakan cinta.

Bersamaan dengan kepergian Ani dan Budi ke danau, di rumah Ani datang keluarga Pak Subrata yang atasan ayah Ani. Namun, ayah dan ibu Ani tidak mengetahui bahwa Pak Subrata adalah ayah Budi. Pak Subrata bermaksud menjodohkan Ani dengan anaknya, Rhoma. Karena keluarga Subrata harus segera pulang ke Bandung, mereka tidak dapat berjumpa dengan Ani.

Ditanya soal kesediaannya menikah dengan Rhoma, Ani menerangkan bahwa dia belum mau memikirkan soal kawin. Ani mengadukan hal ini kepada Budi yang benar-benar disayanginya. Mengetahui bahwa Ani mencintai Budi, keluarga Ani mengusir Budi. Budi alias Rhoma kembali berkelana.

Lagu-lagu yang menghiasi film Rhoma Irama Berkelana I, sesuai urutan dalam filmnya, adalah sebagai berikut:

1. Pedih – Rhoma Irama
2. Terpaksa – Rhoma Irama
3. Kelana – Rhoma Irama
4. Syahdu – Rhoma Irama & Rita S.

soetta-etape-2Seperti telah diceritakan sebelumnya, kami (aku, Rudi, dan Budi), pada Etape I Menyusuri Jalan Soekarno Hatta yang merupakan jalan terpanjang di Bandung, memulai perjalanan dari perempatan Jalan Soekarno Hatta, Jalan Rajawali, dan Jalan Sudirman, tidak jauh dari Terminal Elang, dan berakhir di Terminal Leuwi Panjang. Berikut ini adalah cerita perjalanan Etape II yang dimulai dari Terminal Leuwi Panjang sampai ke daerah Gede Bage, dekat Terminal Peti Kemas, tepatnya Jalan Rumah Sakit. Penyusuran ini kami lakukan pada hari Sabtu tanggal 3 Januari 2009.

Pagi itu sekitar jam 08.00 kami janjian ketemu di depan kampus Unpad, Jalan Dipati Ukur, karena kami merencanakan menuju Terminal Leuwi Panjang menggunakan bis kota. Saat menunggu bis kota dekat Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) itu, kami jadi ingat beberapa hari sebelumnya, saat malam tahun baru 2009, kami juga merayakan saat-saat pergantian tahun dengan duduk-duduk di tengah keramaian sambil makan ketela rebus dan minum coca cola. Barangkali itu menu perayaan tahun baru paling aneh yang pernah ada :-).

img_01821Tidak lama bis jalan, naik seorang pengamen dengan gitarnya, lalu mendendangkan lagu Camelia yang dipopulerkan oleh Irwansyah. Sebuah lagu dengan melodi yang indah, tapi liriknya mengenaskan. Ternyata Camellia zaman sekarang hanyalah nama wanita selingkuhan. Dulunya, dalam nyanyian Ebiet G. Ade dan Rhoma Irama, Camellia adalah seorang gadis yang demikian mulia, dipuja-puja, meski menderita dan terabaikan. Di relung hati terdalam aku protes dengan pencipta lagu Camellia versi Irwansyah ini.

Hampir jam 09.00 ketika kami memulai langkah dari Terminal Leuwi Panjang ke arah timur. Tidak jauh dari perempatan Jalan Leuwi Panjang, Jalan Soekarno Hatta, dan Jalan Cibaduyut, di seberang jalan kami melihat ada Lembaga Pemasyarakatan Kelas II Banceuy. Kemudian kami melihat suasana di perempatan yang merupakan perpotongan Jalan Soekarno Hatta dan Jalan Mohammad Toha. Kami juga membuat foto gedung PT PLN Distribusi Jawa Barat dan Banten APJ Bandung dan PT LEN Industri.

img_0187Di sepanjang perjalanan kami juga banyak melihat gedung-gedung sekolah dan perguruan tinggi, di antaranya:  STIE INABA (Indonesia Membangun), Politeknik Komputer Niaga, Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia,  STT Mandala, SMK MedikaCom, SMK Negeri 9 Bandung Kelompok Pariwisata, SMK Negeri 7 Bandung, SMK Tadika Puri, Politeknik Al Islam, dan STMIK Jabar. Mungkin masih ada gedung sekolah dan Perguruan Tinggi yang terlewat dari pengamatan kami.

Menyusuri Jalan Soekarno Hatta ini sebetulnya tidak semenarik menyusuri jalan-jalan lainnya di kota Bandung. Pemandangan di sisi kanan kiri jalan tidak istimewa, pepohonan tinggi yang meneduhi img_0216jalan hampir tidak ada. Terasa gersang. Sangat beda dengan Jalan Ir. H. Juanda misalnya, yang indah dan segar dengan banyak pepohonan. Beda jauh sekali dengan Jalan Cipaganti dengan pepohonan tinggi dan rimbun yang sangat menyegarkan. Yang sangat menantang dari Jalan Soekarno Hatta adalah panjangnya jalan ini, yang merupakan jalan terpanjang di Bandung.

Beberapa kantor, gedung, dan bangunan penting lainnya yang sempat kami amati di perjalanan ini adalah Hotel Bumi Asih Jaya, Rumah Makan Sari Sunda, Balitbangda, Bank Mandiri, BPMD (Badan Pemberdayaan Masyarakat Daerah), PKPRI Kota Bandung, Asrama Transito Induk, BP3TKI, Dipenda Jabar, Balai Pengelolaan Jalan, Kantor Disnakertrans, Badan Perpustakaan Daerah, Compact Microwave Indonesia, Puskowan Provinsi Jawa Barat, Mail Processing Center Kantor Pos, Dinas Pertambangan dan Energi, Dewan Pendidikan Jawa Barat, Badan Pertanahan Nasional, Metro Indah Mall, Jasa Raharja, Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Bulog Divisi Ragional Jabar, Bali World img_0233Hotel, Panitia Pengawas Pemili Jawa Barat, Rumah Sakit Al Islam, Perumahan Putera Gading Regency, Dinas Kehutanan Provinsi Jabar, KPP Madya Bandung, Pinus Regency, Pengadilan Tinggi Agama Bandung, dan Terminal Peti Kemas Bandung.

Di perjalanan kami juga menjumpai perempatan perpotongan Jalan Soekarno Hatta dan Jalan Buah Batu, perempatan perpotongan Jalan Soekarno Hatta dan Jalan Kiara Condong (Jalan H. Ibrahim Ajie). Di samping itu ada beberapa jalan kecil yang membetuk pertigaan atau perempatan dengan Jalan Soekarno Hatta, seperti Jalan Sriwijaya, Jalan Cijagra, Jalan Kawaluyaan, dan Jalan Cisaranten Wetan.

Jam 12.11 kami sampai di persimpangan Jalan Soekarno Hatta dan img_0337Jalan Rumah Sakit. Karena matahari yang sangat terik dan kami rasa sudah cukup lelah, maka kami memutuskan untuk berhenti disini dan mengakhiri Episode II penyusuran kami di Jalan Soekarno Hatta. Setelah bertanya pada tukang ojek kami mengetahui sebetulnya ujung jalan Soekarno Hatta hanya sekitar 4 km lagi. Kami kemudian naik angkot tujuan Dago. Perjalanan pulang yang cukup jauh, lebih dari 1 jam.

franky-janeMeskipun tidak bisa menyanyi, saya tidak bisa mengingkari kalau saya sangat menikmati banyak lagu. Sekali menyenangi sebuah lagu, sepertinya selamanya saya akan mengingat lagu itu. Setidaknya kalau mendengar kembali lagu itu saya pasti ingat sesuatu. Lagu-lagu berikut ini termasuk dalam daftar imajiner saya yang tak terlupakan.

01. Mungkinkah – Kris Biantoro
02. Perjalanan – Franky & Jane
03. Janji – Andi Meriam Matalatta
04. Jangan Lagi Kau Menangis Untukku – Rano Karno
rano-karno05. Cinta – Vina Panduwinata
06. Anak – Freddie Aguilar
07. Bukit Berbunga – Uci Bing Slamet
08. Biarkan Aku Menangis – Tommy J. Pisa
09. Sepanjang Jalan Kenangan – Tetty Kadi
10. Tragedi Buah Apel – Anita Serawak
11. Risau – Atiek CB
12. Antara Hitam Dan Putih – Helen Sparingga
13. Hati Selembut Salju – Jamal Mirdad
14. Senyum Di Musim Bunga – Uci Bing Slamet
15. iis-soegianto-jangan-sakiti-hatinyaJangan Sakiti Hatinya – Iis Soegianto
16. Ibu – Iwan Fals
17. Esok Milik Kita – Kiki Maria
18. Kisah Sedih Di Hari Minggu – Koes Plus
19. Biar Sinar – Nicky Astria
20. Denpasar Moon – Maribeth
21. Lembah Biru – Andi Meriam Matalatta
22. Racun Asmara – Elly Sunarya
23. Antara Aku, Kau, Dan Bekas Pacarmu – Iwan Fals
24. Antara Bendi Dan Rindu – Ratih Purwasih
25. Madu dan Racun – Arie Wibowo
26. Arti Kehidupan – Mus Mujiono
27. Rinduku Tiada Yang Tahu – Ratih Purwasih
28. Kasih – Ermi Kulit
29. Apanya Dong – Euis Darliah
30. Pamit (Selamat Tinggal) – Broery Marantikaiwan-fals-antara-aku
31. Mama – Eddy Silitonga
32. Musafir – Panbers
33. Pasrah – Ermi Kulit
34. Dia – Harvey Malaiholo
35. Mulanya Biasa Saja – Meriam Bellina
36. Gelas Gelas Kaca – Nia Daniaty
37. Dansa Reagge – Nola Tillar
38. Pak Penghulu – Dina Mariana
39. Nona Manis – Richie Ricardo
40. Seandainya Aku Punya Sayap – Rita Butar Butar

Hari ini, Minggu tanggal 1 Februari 2009, saya dan teman kuliah: Rudi dan Budi, akhirnya berhasil menyelesaikan penyusuran dengan berjalan kaki jalan terpanjang di Bandung, Jalan Soekarno Hatta.  Konon, menurut informasi yang kami ketahui, jalan ini panjangnya 40 km. Sayangnya kami belum punya perangkat untuk memastikan berapa sebenarnya jarak yang telah kami jelajahi.

soetta-etape-1Perlu tiga etape bagi kami untuk menyelesaikan penyusuran jalan ini. Etape I, kami lakukan pada hari Sabtu tanggal 20 Desember. Kami memulai penyusuran dari salah satu ujung Jalan Soekarno Hatta yang berada di perempatan Jalan Soekarno Hatta, Jalan Rajawali (Jalan Elang), dan Jalan Sudirman yang memotong kedua jalan tadi. Lokasi perempatan ini tidak jauh dari Terminal Elang. Etape I ini berakhir di Terminal Leuwi Panjang. Penyusuran kami lanjutkan kembali pada hari Sabtu tanggal 3 Januari 2009. Pada Etape II ini kami bergerak dari Terminal Leuwi Panjang sampai ke Gede Bage, dekat Terminal Peti Kemas. Karena sudah siang dan kelelahan kami berhenti dan naik angkot, belok kiri di Jalan Rumah Sakit. Dan hari ini, Etape III, mulai dari Jalan Rumah Sakit itu sampai ujung Jalan Soekarno Hatta di pertigaan jalan Soekarno Hatta,  Jalan Raya Cibiru, dan Jalan Raya Cipadung (A.H. Nasution). Hari ini kami bahkan meneruskan penyusuran sampai ke Jatinangor, mampir di Kampus IPDN dan Universitas Pajajaran. Agar tidak terlalu panjang, maka kisah penyusuran ini akan saya bagi jadi tiga bagian sesuai etape tadi. Berikut adalah cerita dari Etape I.

dsc01367Sabtu pagi tanggal 20 Desember 2008, belum jam 06.00 kami naik angkot Ciumbuleuit – St. Hall. Kemudian pindah lagi ke angkot jurusan St. Hall – Cimahi. Sampai di Terminal Elang sekitar jam 06.25. Kami kemudian jalan ke perempatan Jalan Soekarno Hatta, Jalan Rajawali, dan Jalan Sudirman yang terusan. Pemandangan di perempatan ini dapat dilihat pada foto. Sebelumnya kami sudah menyusuri jalan Sudirman dimulai dari ujung Jalan Asia Afrika, dekat Pasar Baru, sampai ke Batas Kota Cimahi. Kisah penyusuran Jalan Sudirman ini akan saya ceritakan di lain kesempatan.

Tidak banyak pemandangan bagus, bangunan penting, atau hal-hal menarik lainnya di sepanjang etape I penyusuran kami di Jalan Soekarno Hatta ini. Menjelang perempatan, atau tepatnya perpotongan Jalan Soekarno Hatta dan Jalan Pasir Koja dapat saya tampilkan papan nama sebuah perusahaan Civil Engineering dan General Contractor seperti pada foto.

dsc01377dsc01379Selanjutnya, di antara perempatan Jalan Soekarno Hatta dan Jalan Pasir Koja dengan perempatan Jalan Soekarno Hatta dan Jalan Kopo, kami melihat sebuah bangunan yang cukup menarik perhatian seperti Pusat Khitanan, seperti bisa dilihat pada foto.

dsc01388dsc01390Di sepanjang Jalan Soekarno Hatta juga banyak terdapat pool bis AKAP (Antar Kota Antar Provinsi), misalnya bus  PM TOH yang melayani trayek sampai ke Banda Aceh. Saya sendiri pernah naik bis ALS tujuan Medan yang poolnya juga berada di Jalan Soekarno Hatta ini saat mau pulang kampung ke Baturaja, Sumatera Selatan.

Kami juga melewati Pasar Caringin, sebuah Pasar Induk di Bandung, yang pernah terkenal dengan permasalahan sampahnya.

dsc01391Saat kami menyusuri Etape I Jalan dsc01394Soekarno Hatta ini adalah 2 hari menjelang dimulainya uji coba pengoperasian bus kota Trans Metro Bandung (TMB), sehingga kami melihat proses pembangunan halte yang masih berjalan. Trayek TMB ini memang direncanakan sepanjang Jalan Soekarno Hatta. Uji coba memang jadi dilaksanakan pada hari Senin, 22 Desember. Akan tetapi mendapat penolakan dari para supir angkot dengan trayek yang dilalui oleh TMB. Terjadi demo besar-besaran, sampadsc01404i ada bis DAMRI yang dirusak. Pada akhirnya pengoperasian TMB ditunda sampai bulan Maret 2009.

Bangunan lain yang menarik perhatian adalah Graha Sucofindo Bandung yang bersatu dengan Bank BNI.

Perjalanan kami pada Etape I Jalan Soekarno Hatta ini berakhir di Terminal Leuwi Panjang sekitar jam sekitar jam 08.00. Kami kemudian sarapan Kupat Tahu di kaki lima dekat terminal. Selanjutnya naik bis kota Damri trayek Leuwi Panjang – Dago. Selesailah Etape I penyusuran Jalan Soekarno Hatta. Kisah penyusuran pada Etape II segera menyusul.