Pengalaman Karantina 14 Hari dan Swab Dua Kali Bagian 2 : Karantina 14 Hari

Salah satu hal terpenting selama pandemi: jaga mentalmu tetap waras.

What I Felt Along 14 Days.

Aku bersyukur bukan termasuk ke dalam golongan orang yang terdampak Covid-19 secara ekonomi. Meski demikian, ada dampak lain yang sama menyusahkannya gara-gara pandemi ini. Yang pertama, nggak bisa mudik. Meski sekangen apapun, karena udah pernah swab jadi merasa membawa dosa besar ke orang tua kalau berani pulang ketika kurva Covid-19 ngga kunjung turun.Kedua, ada banyak tindakan medis yang jadi ngga bisa dilakukan karena pandemi ini –yang mana penularannya lewat droplet, bahkan sekarang airbone.

Jauh sebelum Covid-19 ada, aku udah berencana Continue reading “Pengalaman Karantina 14 Hari dan Swab Dua Kali Bagian 2 : Karantina 14 Hari”

Pengalaman Karantina 14 Hari dan Swab Dua Kali – Bagian 1: Swab

Jadi, 16 Juni 2020 kantor ngadain rapid test. Tes pertama, reaktif. Tapi garis Ig-G-nya samar banget. Selang 2 jam, aku tes kedua. Selang 10 menit, aku menunggu hasil dan kata dokter negatif. Aku kembali ke ruang kerja. Sekitar jam setengah 4, temanku telpon,”Sa, pulang aja.” Ya elu deg-degan ngga sih kalau tiba-tiba disuruh pulang padahal sebelumnya ngga ada kabar apapun. Lalu aku turun, ambil hasil: reaktif. Sebelum pulang, aku sempat ke meja atasan. Lalu diminta langsung pulang, istirahat, minum banyak vitamin, dan segera tes swab.

Kalut banget, sumpah. Aku langsung kabari temen sekamarku –kekhawatiranku banyak banget ngga sih karena sekamar berdua. Aku dibantu temanku mencari info swab di RSPP Jakarta Selatan. Sampai kos, aku kemas-kemas layaknya udah siap opname di RS. Masih belum ganti baju, aku cari kontak RS rujukan Covid, kucatat apa aja yang perlu kutanyakan. Tapi satupun ngga nyambung. Ah!

Swab di RSPP Jakarta Selatan Continue reading “Pengalaman Karantina 14 Hari dan Swab Dua Kali – Bagian 1: Swab”

Halo Kembali

Halo, aku kembali!
Dari tulisan terakhirku di Oktober 2017 tentang ibu dan resensi terakhir buku What I Talk When I Talk About Running-nya Haruki Murakami, aku memutuskan menulis di blog lagi. Banyak hal terjadi selama aku vakum menulis di blog, kebanyakan diariku hanya berisi curhatan dan beberapa catatan dari buku yang terbaca malah jadi terlewatkan. Sayang. Continue reading “Halo Kembali”

Mom

Whenever I felt mad to my mom, I force myself to think about ’em who had been left by their mom. That enough made me suffered, then felt guilty of being that mad to her

Memoar Murakami tentang Lari

Kalau ada yang mau menulis novel atau cerita dengan pemain utama seorang pelari atau perenang, buku ini aku rekomendasikan untuk dibaca. Juga, sangat cocok dibaca bagi kamu yang ingin serius menggeluti menulis –ataupun sesuatu- secara profesional. Secara non-teknis dan non-teoritis, Murakami menggambarkan derajat beda seseorang yang sekadar ingin, entah karena latah atau motivasi lain, dengan seseorang yang benar-benar serius. Berlari, baik di maraton atau triatlon, dan menulis, bagi Murakami adalah hal yang berhubungan. Tujuan utama Murakami berlari dan mempertahankan kecepatan larinya adalah untuk membangun dan mempertahankan stamina menulisnya. Baginya, berlari dan menulis adalah kembar identik yang tidak bisa dipisahkan dalam praktik kesehariannya. Keduanya berjalan beriringan dan seimbang.

The beginning is always the hardest. Seorang ahli yang dikenal dunia saat ini, pada awalnya ia tetaplah seorang pemula. Ia juga mengalami kesulitan, kesulitan, dan banyak kesulitan. Yang membedakannya dari yang sekadar ingin menjadi ahli adalah usahanya dan daya tahannya. Tekadnya benar-benar diwujudkan dengan menentukan target yang jelas (hlm. 176), membuat jadwal latihan, melakukan evaluasi secara teratur dan memperbaiki teknik (hlm. 174), hingga mencari guru agar dapat membuat peningkatan yang memuaskan (hlm. 175). Sebab Murakami sadar, baik berlari maupun menulis bukanlah sebuah keterampilan yang disandarkan pada bakat semata. Pisau akan tumpul jika tidak rutin diasah, pun dengan bakat. Atau, “Otot sulit dibentuk dan mudah hilang. Lemak mudah dibentuk dan sulit hilang,” canda Murakami (hlm. 59).

Pekerjaan Mental

Kalau kamu juga seorang penonton drama Korea sepertiku, aku mulai nonton drama awal 2016, cobalah untuk beranjak dari cerita romansanya dan memperhatikan detil nilai yang berusaha si penulis sampaikan –meski kadang tanpa sengaja. School 2015 dan Weighlifting Fairy Kim Book Joo adalah dua dari sekian drama berlatar sekolah dan olahraga yang menampilkan atlet renang sebagai tokoh utama, yang dua-duanya dibintangi Nam Joo Hyuk. Ada karakter kuat yang terbentuk, secara refleks dalam waktu yang tidak singkat, saat seseorang belajar berenang –mungkin karena itu juga Rasulullah menganjurkan renang sebagai olahraga yang diutamakan. Seseorang harus bisa mengalahkan rasa takutnya menghadapi air, takut tenggelam, takut paru-parunya kemasukan air, takut matanya pedih saking lamanya berada di dalam air, takut telinganya kebas, dan –dalam kompetisi- takut kalah dari perenang lainnya. Rasa takut jika kram tiba-tiba datang saat berenang, yang bisa membahayakan nyawanya, juga harus dilawan. Seorang perenang akan terbiasa bertindak dengan perhitungan, kapan ia akan menambah kecepatan renangnya, kapan harus mengerem kecepatan untuk menyimpan cadangan tenaga. Pada akhirnya, seorang perenang, pelari, bahkan seorang penulis, akan terlahir sebagai pribadi berkarakter kuat.

Mereka juga akan menyadari bahwa berlari, berenang, bahkan menulis bukan sekadar pekerjaan fisik dan otak, tapi juga pekerjaan mental. Bagaimana mereka akan mengatasi rasa takut, atau bosan, atau buntu dengan tulisannya. Semuanya akan terlihat dari kebiasaan latihannya. Apakah ia pelari atau perenang jarak pendek, menengah, atau jauh, hal itu akan menggambarkan daya tahan fisik, mental, dan karakternya. Sama halnya dengan penulis, apakah ia seorang penulis novel tebal atau penulis ketika sedang ingin saja. Mereka yang terbiasa melakukan sesuatu dalam durasi yang panjang cenderung berkarakter tenang dan lebih mudah menerima kekalahan (hlm. 105). “…semacam tantangan agresif yang memancar dari diri mereka. Kelihatannya mereka terbiasa menyalip dan tidak biasa disalip orang lain.”

Kehebatan dari orang-orang hebat di antara mereka yang ingin menjadi hebat adalah pengaturan waktunya. Pengaturan waktu membuat Murakami tetap fokus dengan target lari dan menulisnya. Dalam seminggu ia bisa menempuh jarak 70-100 km, baik saat berada di Jepang, Cambridge, Yunani, maupun Hawai. “Aku tidak akan berhenti hanya karena sibuk.” (hlm. 83)

Aku berterima kasih pada Murakami telah menulis memoir tentang perjalanan lari yang berkaitan erat dengan kehidupannya sebagai penulis. Dan sangat berterima kasih karena bab dalam buku ini tidak ditulisnya secara urut sehingga bisa kubaca secara acak dari belakang. Sebelumnya aku membaca dari depan dan malah menghabiskan banyak waktu karena bosan –bagian depan panjang-panjang. Qodarullah, buku ini aku selesaikan selang beberapa hari ketika ada beberapa mimpi yang kurevisi. Memperbaiki teknik dan mencari guru, juga jadi kepengin lari keliling Massachusetts.