2025 yang Berkabung

Malam ini tanggal 31 Desember 2025, hari terakhir di tahun 2025. Setelah sekian lama dianggurin, akhirnya saya menulis lagi di blog ini ^^. Bukan tanpa alasan akhirnya saya nulis lagi di blog. Seperti yang tersirat dari judul postingan, tahun ini saya mengalami beberapa momen orang yang saya kenal mendadak meninggal dunia. Ada yang relatif masih keluarga, ada juga yang hanya kenal secara profesional, ada juga teman yang awalnya kenal secara profesional dan berujung (semi) personal. Orang yang terakhir ini yang bisa dibilang menjadi alasan saya menulis postingan ini, karena kejadiannya paling tak terduga, dan saya masih (terkadang) merasa sebenernya teman saya itu hanya pergi ke luar kota saja alih-alih ke alam lain. Ketika saya ceritakan keresahan ini, My Bojo menyarankan supaya tulis saja di blog atau media sosial untuk menuangkan, hitung-hitung sebagai obituari kepada ybs (dia kenal almarhum juga). Meskipun saya tidak yakin juga apakah postingan ini bisa dikategorikan sebagai obituari atau bukan. Saya cuma mencoba menuliskan beberapa kenangan dengan orang-orang yang saya kenal yang telah meninggalkan saya lebih dulu di tahun 2025 ini.

Awal tahun 2025 diawali dengan meninggalnya mantan bos saya di awal-awal saya baru mulai kerja, hampir 15 tahun yang lalu. Kenangan yang membekas dengan beliau adalah, beberapa hari setelah masuk kerja, saya dan teman saya sesama anak baru ketika itu langsung diberi bahan untuk dijahitkan menjadi seragam (waktu itu kantor kami masih pakai seragam). Mungkin beliau mengasihani kami yang waktu itu terlihat miskin dan bingung sebagai anak baru ^^. Selain itu, kebetulan anak beliau adalah teman kantor saya juga, masuk bersamaan dengan saya tetapi di divisi yang berbeda. Saya agak menyesal karena saat itu tidak sempat melayat karena bersamaan dengan saya ke luar kota.

Bulan Mei, sepupu saya meninggal karena terkena stroke di kamar mandi. Sepupu saya itu 10 tahun lebih tua dari saya, dan karena tinggal di kota tetangga, saya berkesempatan melayat ke rumah dukanya. Sebenarnya saya tidak kenal terlalu dekat juga dengan dia, selain bahwa dulu kami sering bertemu di momen lebaran di rumah nenek ketika nenek kami masih hidup. Ibunya adalah kakak ayah saya, yang rumahnya di kampung juga menjadi tempat tinggal nenek tempat berkumpul saudara-saudara yang lain ketika lebaran. Tetapi kenangan paling berkesan saya terhadap almarhum adalah dia sempat memberi saya tumpangan tempat tinggal sesaat ketika saya harus mengurus administrasi pendaftaran kerja di kota ini dulu, sekitar 15 tahun lalu. Posisi saya saat itu masih berbasis di Jogja. Dalam momen singkat 2 hari tersebut, saya sempat diajak dia (beserta istri dan 2 anaknya) menghadiri kondangan nikahan temannya. Dulu saya tidak terlalu paham kenapa saya diajak kondangan, tapi setelah dipikir-pikir mungkin itu cara dia untuk tidak membiarkan tamunya kelaparan di malam hari ^^.

Bulan Juni, seorang profesor di Belanda yang salah satu karyanya menjadi salah satu daftar pustaka di skripsi saya meninggal dunia. Kalau hanya masuk di daftar pustaka mungkin tidak terlalu berkesan, tetapi saya pernah bertemu dengan beliau secara langsung, pada 3 kali kesempatan pula: 1 kali di Belanda dan 2 kali di Indonesia, sehingga saya punya cukup kesan terhadap beliau. Meskipun saya tidak yakin juga apakah beliau tetap mengingat saya setelah tiga momen tersebut ^^. Momen di Belanda adalah ketika saya dan bos saya saat itu “membujuk” beliau untuk menjadi narasumber ahli di event yang diprakarsai bos saya. Bos saya saat itu (bukan yang meninggal di awal tahun ini) memang kenal dengan beliau. Momen di Indonesia adalah ketika beliau menghadiri event itu. Momen lainnya di Indonesia adalah ketika beliau menjadi pengajar di sebuah workshop yang saya ikuti. Kenangan saya akan beliau yang paling berkesan adalah ketika beliau menceritakan soal Netherland Antilles yang saat itu baru melakukan demo ketika Ratu Belanda datang, konon karena perbedaan pandangan mengenai pernikahan sesama jenis, berakhir dengan pandangannya (saat itu) mengenai iparnya yang gay (saya pernah membuat postingan tentang itu ^^). Kenangan lain adalah di momen beliau menjadi pengajar di workshop yang saya ikuti, lokasinya di Yogyakarta saat itu dan ada kegiatan lapangannya. Beliau dengan jenaka menunjukkan bahwa peta topografi lama jaman Belanda lebih tepat dalam menuliskan nama kampung ketimbang peta rupabumi buatan Republik Indonesia yang lebih baru ^^. Mengenai kabar meninggalnya Prof O tersebut, saya juga baru tahu sebulan setelahnya ketika ngobrol-ngobrol dengan teman kantor saat makan siang.

Bulan Agustus mertua saya meninggal, ayah dari My Bojo. Sebenarnya ini tidak terlalu mengejutkan karena sudah 1,5 tahun beliau bedridden setelah terserang stroke. Kondisi setelah terkena stroke badannya lumpuh sebelah dan tidak bisa bicara ataupun berjalan. Meskipun demikian, ibu mertua saya tetap mengusahakan pengobatan yang bisa dilakukan, dan ketika tiba waktunya beliau meninggal tetap saja ada kesedihan yang dirasakan.

Bulan September, salah satu teman sekantor saya meninggal. Ini cukup mendadak dan mengejutkan untuk saya. Mengejutkan (dan sedihnya) karena saya dan beberapa teman lain menemukannya dalam kondisi tak sadarkan diri di rumahnya, untuk kemudian meninggal di hari berikutnya (diagnosanya karena penyakit gula). Teman saya itu masuk kantornya seangkatan dengan saya, meskipun awalnya di divisi yang berbeda tapi kami sempat di divisi yang sama selama beberapa tahun. Di awal-awal saya tinggal di kota inipun, dia adalah tetangga kosan saya dan beberapa teman seangkatan, bahkan bisa dibilang teman sekosan karena sering main ke kosan kami. Dulu kami beramai-ramai beberapa kali main sekadar ke Nirwana Bogor, karaoke, nonbar bola di Depok, motoran ke Kota Tua, juga menghadiri pernikahan teman. Di divisi di mana kami ditempatkan bersama, kami cukup sering berinteraksi baik urusan kerjaan maupun non kerjaan (meskipun lebih sering bergosip tentang kantor atau main PES ramai-ramai kalau jam kosong). Mungkin karena kami relatif sepantaran sehingga saya merasa nyaman saja ngobrol banyak hal dengan dia. Pendek kata, saya merasa dia berada di lingkaran yang relatif dekat dalam pertemanan saya, meskipun saya tidak tahu juga apakah dia juga menganggap demikian atau tidak ^^. Meskipun pernah satu divisi, saat itu saya cukup jarang terlibat dalam kegiatan urusan pekerjaan bersamanya. Teman saya ini cukup aktif di bidang pekerjaannya, dan saking aktifnya saya harus akui beberapa rekan kerjanya menganggap ybs agak bossy ^^. Kesan saya terhadap ybs (ditambah cerita-cerita dari rekan-rekannya) adalah, dia akan cukup setia kawan dan baik pada orang yang memang dianggap teman, serta berusaha profesional untuk orang yang dianggap rekan meskipun terkadang bisa agak menyebalkan. Jadi saya cukup jarang terlibat secara profesional murni dengan ybs (dan saya memaklumi kalo ada yang sebel dengan ybs ^^), tapi kami (saya dan beberapa teman sedivisi lain yang sepantaran) cukup sering nggosip kantor dan mengobrolkan hal-hal lain seperti sepakbola atau gadget dengan almarhum (ybs fans MU jadi beberapa tahun terakhi sering dibully ^^). Salah satu kenangan saya terhadap almarhum adalah dia menyumbang suara di acara pernikahan saya, meskipun saya lupa lagu apa ^^. Kenangan lainnya ketika saya bertanya tentang formula excel untuk tugas saya, dia dengan segera merespon meskipun beda zona waktu. Saat itu belum ada chatgpt dan saya terlalu pusing untuk googling, sehingga saya berinisatif tanya ke teman saya itu karena saya anggap dia cukup tech savvy dibanding saya ^^. Dia juga cukup sering mentraktir kami (teman-teman nggosip dan main PES yang pernah sedivisi dengannya) makan siang di luar kantor, dan saya merasa sedih karena belum sempat membalas traktirannya. Sebenarnya ada banyak kenangan lain dari saya terhadap almarhum, tapi saya tidak ingat satu per satu dan bingung menuliskannya, jadi saya akhiri dulu bagian kenangan ini.

Jadi, dari berbagai peristiwa meninggalnya seorang kenalan, saya merasa bahwa dengan teman saya ini adalah yang paling tidak disangka-sangka. Dengan mantan bos, sepupu saya, prof O, ataupun mertua saya, semuanya relatif tidak mendadak jika dibandingkan dengan teman saya. Mungkin karena selain teman saya itu, almarhum lainnya usianya lebih tua (jauh bahkan) dari saya, sehingga di alam bawah sadar saya merasa wajar saja kalau mereka meninggal lebih dahulu dari saya. Nah untuk teman saya ini cukup mendadak. Kami sudah tidak sedivisi, dan terakhir kali saya bertemu dia adalah ketika makan siang di luar kantor (ditraktir oleh teman kami yang lain) sebelum almarhum pergi tugas ke luar pulau (saat itu sekitar bulan Juli). Setelah kembali pun kami belum sempat bertemu, karena saya dan teman di divisi kami cukup sibuk dengan pekerjaan, sementara almarhum mengambil cuti untuk istirahat. Ditambah fakta bahwa saya sempat menemukan dia dalam kondisi tak sadarkan diri, kadang pikiran saya usil mengkhayal yang tidak-tidak kalau teman saya hanya sedang sakit dan berobat ke luar kota, menghindari fakta bahwa saya ikut hadir ke pemakamannya dan memanggul jenazahnya di keranda.

Apapun itu, saya hanya bisa mendoakan para almarhum yang telah berpulang mendahului saya, wabil khusus agan FY, tenang-tenang di sana, Bro.

Beberapa Pemikiran yang Tak Lagi Sama

Sekitar lima tahun yang lalu saya sempat menonton sebuah video Q and A salah satu youtuber yang berbasis di Inggris. Salah satu jawaban yang menurut saya menarik kurang lebih seperti ini,

Your current thought/opinion is not you. You are you. Consider your opinion as something that you put in front of you, not inside you. Whenever you acquire new knowledge or wisdom, you can always put your (old) opinion away.

Tidak tepat seperti itu sih, tapi kurang lebih maknanya demikian, saya terlalu malas untuk mengecek lagi videonya ;p. Nah saya kurang lebih sependapat sih. Apa-apa yang katakanlah 5 tahun lalu saya anggap benar atau berharga, bisa jadi saat ini tidak lagi demikian. Namanya hidup, konon tidak ada yang tetap karena yang tetap adalah perubahan itu sendiri.

Berangkat dari pemikiran itu, saya jadi coba-coba mendaftar beberapa hal yang dulunya saya pikir “gue banget”, tetapi seiring dengan bertambahnya usia ternyata ngga gitu-gitu amat. Beberapa hal itu adalah:

Saya suka belajar.

Ternyata tidak, sodara-sodara, saya tidak suka belajar ;p. Berawal ketika di masa kuliah, selepas suatu kelas salah satu teman saya bilang kalau dia suka belajar dan masih penasaran dengan matkul tersebut. Spontan saya membeo dengan pedenya mengatakan, “Ya, saya juga suka belajar!” karena ingin dianggap nyambung dengan si teman itu. Beberapa tahun kemudian saya menyadari kalau untuk mempelajari sesuatu, saya butuh komitmen dan konsistensi, dua hal yang saya lebih sering tidak punya kalau hal yang saya pelajari tidak benar-benar menarik minat saya. Jadilah saya yang sekarang cukup malas mempelajari hal-hal baru kalau memang tidak benar-benar butuh atau menarik minat saya ;p.

Suka dengan sesuatu pastilah ahli tentang sesuatu tersebut.

Ini lebih ke pencerahan, sih, buat sayanya. Masih bermula di masa kuliah juga, saya mengulang ujian di kelas statistik. Ketika ngobrol dengan salah seorang teman sekelas (bukan yang suka belajar), dia memaparkan kalau dia suka statistik. Menurutnya dari statistik kita bisa menarik suatu “insight” atas suatu fenomena dengan cara yang elegan. Saya yang masih sibuk memikirkan remidi ujian statistik tentu merasa “wah” dengan pernyataan teman saya itu. Kemudian saya tanya berapa nilai ujian statistiknya kemarin, ternyata dia akan ikut remidi bareng saya minggu depannya ;D. Dengan tertawa dia bilang, “Ya, saya memang suka statistik, tapi kan bukan berarti saya ahli di bidang statistik.” Jadilah saya semakin mantap untuk menganut paham yang sama dengan dia ;p.

Saya suka kopi arabika, dan bakal enjoy minum espresso.

Dulu saya selalu menganggap kalau kopi arabika lebih superior dibandingkan kopi robusta. Apalagi dari sisi harga kopi arabika relatif lebih mahal dibandingkan kopi robusta, dan kesan yang selalu saya tangkap saat itu, lebih mahal -> kualitas lebih bagus -> lebih enak. Tetapi seiring berjalannya waktu di mana sekarang hampir tiap hari saya menyeduh kopi, dengan rendah hati saya akui selera saya lebih cocok ke kopi robusta. Kopi arabika cenderung asam, dan saya lebih bisa menoleransi rasa pahit kafein ketimbang asam dalam minuman saya. Hal yang sama berlaku ke espresso, dulunya saya kira saya bakal bisa minum espresso dengan nikmat, pikir saya cuma segelas kecil gitu aja. Tapi ternyata, untuk kopi tanpa tambahan apapun, saya lebih suka seduh manual pakai V60. Kalaupun yang mendekati espresso, biasanya americano atau minuman berbasis espresso lain yang ditambah susu. Mungkin di kemudian hari nanti saya akan berubah pandangan lagi mengenai espresso, tetapi setidaknya untuk saat ini saya belum bisa menikmati minum espresso tanpa campuran apapun ;p.

Saya menganggap backpacking itu keren dan ingin melakukannya.

Saya masih menganggap backpacking itu hal yang pantas dikagumi secara wajar, tapi tidak ingin melakukannya. Pernah suatu ketika saya dan teman-teman pergi liburan semi backpacking di suatu tempat. Salah seorang teman bilang, “Asyik ya, kita ini backpacker, bukan turis!”, spontan saya bilang, “Ngga ah, aku lebih suka jadi turis daripada jadi backpacker. Kalo boleh milih dan biaya bukan masalah mending nginep di hotel daripada di hostel.”. Saat itu kami menginap di rumah warga lokal yang dijadikan penginapan, dengan penerangan remang-remang dan air keran yang sempat mati. Sekarang ini, kalau ada kesempatan untuk bepergian untuk berlibur saya lebih suka mencari kenyamanan dari sisi akomodasi dan transportasi. Ibaratnya sudah susah-susah cari waktu buat liburan, kalau masih harus memikirkan ngegembel ala backpacker di lokasi tujuan, mending ngga usah ke luar kota/negeri sekalian liburannya.

Saya bisa pindah dan menetap ke mana saja.

Itu pemikiran gejolak masa muda. Dulu saya selalu terkesima dengan orang-orang yang bisa hidup nomaden, atau setidaknya berpindah-pindah domisili untuk urusan pekerjaan. Dengan usia yang tak lagi muda tapi belum tua-tua amat, saya mendapati pindah domisili, apalagi sampai ke luar negeri, adalah hal yang melelahkan dan merepotkan. Sudah ada banyak sekali hal yang harus dipertimbangkan jika harus pindah dan menetap di suatu tempat. Jangankan menetap, jika saya ditugaskan kantor untuk pergi ke luar kota lebih dari satu minggu saja rasanya sudah malas. Semakin bertambah umur, semakin kuat keinginan untuk hidup santai sewajarnya saja. Hal yang tampaknya cukup sulit dicapai oleh saya jika masih harus berpindah-pindah domisili.

Kurang lebih itu beberapa perubahan yang dapat saya ingat saat ini. Bisa jadi di kemudian hari saya akan berubah pandangan lagi mengenai hal-hal tersebut, atau mengenai hal-hal lainnya. Sudah pasti, apa yang saya alami bisa jadi berbeda dengan pengalaman orang lain. Jadi kalau ada di antara pembaca yang budiman merasa kurang pas pengalamannya, ya sah-sah saja, silakan tulis di kolom komentar. 😀

Han Xin dan Tim-Tim Semenjana

Belakangan ini saya sedang menonton drama seri Mandarin di Netflix yang berjudul King’s War, berlatar akhir Dinasti Qin dan perseteruan Liu Bang dan Xiang Yu di awal mula pembentukan Dinasti Han. Nah, di sekitaran episode 60-an akhir atau 70-an awal ada menceritakan Pertempuran Jingxing antara pasukan Kerajaan Han di bawah pimpinan Han Xin dan pasukan Kerajaan Zhao yang dipimpin Chen Yu. Mengenai pertempurannya sendiri saya pernah bikin postingan soal ini, menceritakan kehebatan Han Xin mengatasi pasukan Zhao yang jumlahnya jauh lebih banyak. Pasukan Han bertempur dengan mode bertahan habis-habisan memunggungi sungai, sambil sesekali menyerang balik (tak lupa menyiapkan sebagian kecil pasukan untuk memasang bendera Han di kamp Zhou).

Pola demikian cukup bikin frustrasi lawannya, apalagi lawan yang di atas kertas lebih unggul baik dari segi jumlah maupun pengalaman. Sialnya, saya sering melihat pola demikian di pertandingan-pertandingan Liverpool kalau melawan tim-tim yang di atas kertas seharusnya bisa diatasi sepanjang musim ini, terutama pada paruh musim kedua. Ambil contoh ketika seri melawan Newcastle Sabtu 24 April 2021 kemarin, meskipun kebobolan gol cepat Mo Salah di menit ke-3, Newcastle bisa mempertahankan skor tetap 1-0 sampai turun minum. Oleh komentator dibilang bahwa Steve Bruce (pelatih Newcastle) adalah orang yang bahagia dengan hasil di babak pertama tersebut karena berhasil bertahan tidak sampai kebobolan lebih banyak. Nah di babak kedua Liverpool masih tidak bisa menuntaskan banyak peluangnya menjadi gol, sehingga situasi justru semakin lama semakin merugikan bagi Liverpool. Newcastle secara sporadis menyerang balik dan di penghujung laga bisa menyamakan kedudukan (bahkan bisa menang kalau VAR tidak berulah) sehingga skor akhir 1-1.

Situasi pertandingan demikian juga terlihat ketika Liverpool melawan Leeds United di pekan sebelumnya, juga ketika melawan Burnley di beberapa pekan sebelumnya lagi. Malah pas lawan Burnley komentator (kalau ngga salah Jim Beglin) bilang kalau Burnley tinggal bertahan aja asal jangan sampai kebobolan di babak pertama, moral tetap terjaga sehingga di babak kedua cepat atau lambat bisa melancarkan serangan balik mematikan. Ditambah dengan mandulnya pemain-pemain Liverpool di depan gawang, situasi semakin menguntungkan Burnley. Ketika akhirnya Burnley dikasih pinalti tentu saja tidak disia-siakan untuk akhirnya menang 0-1 di Anfield.

Ketidakmampuan mengkonversi peluang menjadi gol berbuah fatal bagi Liverpool, seperti halnya ketidakmampuan Chen Yu dari Zhao untuk mengeksploitasi kelemahan pasukan Han Xin (kalah jumlah pasukan, kebanyakan prajurit masih baru, perbekalan tinggal sedikit). Alih-alih bertahan menunggu pasukan Han Xin kehabisan perbekalan, Chen Yu malah “bermain” agresif dengan menyerang pasukan Han dengan membabi-buta. Sebelas-dua belas dengan Liverpool, unggul kualitas pemain tetapi tidak mampu memaksimalkan peluang yang tercipta, dengan kondisi lini belakang belum solid-solid amat ya terima nasib saja kalau sering dikadalin tim-tim semenjana. Bisa dibilang taktik Han Xin ini cukup ampuh diterapkan tim-tim kecil ketika melawan tim-tim besar (yang keasyikan menyerang).

OK, cukup sekian rutukan saya karena kembali nonton Liverpool yang bikin deg-degan setelah cukup dimanja dengan “garansi” menang di musim sebelumnya 😛



Design a site like this with WordPress.com
Get started