Feeds:
Posts
Comments

Sebuah green light yang mengembirakan bagi para penerbit koran muncul dari kawasan Lapangan Banteng. Pusatnya adalah di ruangan Menteri Keuangan, gedung Departemen Keuangan, pada hari Jumat (17/10), sekitar pukul 14.45 WIB lalu. Ketika itu, saya bersama para pengurus SPS Pusat –Dahlan Iskan (Ketua Umum), Erick Thohir (Anggota Dewan Pertimbangan), Wim Tangkilisan (Ketua Dewan Pimpinan), M Ridlo ‘Eisy (Ketua Harian), dan Fajar Kusumawardhani (Ketua Bidang Usaha dan Pemasaran)– bertemu dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang saat itu ditemani Mulia Nasution (Sekretaris Jenderal Depkeu), dan Djonifar (Direktur Peraturan Perpajakan Ditjen Pajak).

Isu yang kami sampaikan adalah mengenai pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN) pembelian kertas koran. “Suratkabar harian selama ini dikenakan dua komponen PPN masing-masing untuk pembelian kertas dan iklan. Alangkah sangat bijak jika Pemerintah membebaskan PPN atas pembelian kertas koran itu demi membantu pencerdasan bangsa,” begitu antara lain Dahlan Iskan menyampaikan usulan kepada Menkeu.

Continue Reading »

Dalam waktu hanya sepekan, saya dua kali menginjakkan kaki di bumi Borneo. Masing-masing di Banjarmasin (12 – 13/10) dan Pontianak (15 – 16/10). Saya datang ke Banjarmasin untuk dua urusan sekaligus. Pertama, menghadiri pesta pernikahan putri dari Gusti Rusdi Rusli, Pemimpin Umum harian Banjarmasin Post, yang juga merupakan Anggota Dewan Pertimbangan SPS Pusat, serta untuk mendistribusikan undangan lomba debat dan menulis artikel tentang APBN tk SMA wilayah Banjarmasin dan sekitarnya.

Sementara di Pontianak, saya bersama tiga pengurus SPS Pusat yang lain, hadir untuk menjadi pembicara pada lokakarya manajemen pers bagi penerbit media cetak se-Kalimantan Barat, hasil kerjasama kantor saya dengan Dewan Pers. Kunjungan saya ke Pontianak kali ini adalah untuk pertama kalinya. Karena itu, sejak awal sebenarnya saya sudah sangat bersemangat untuk bersiap-siap seandainya ada waktu cukup guna melancong sebentar ke kota Singkawang, sebuah kota yang dikenal dengan komunitas masyarakat China yang hampir mendominasi populasi daerah itu. Di kota ini pula, sebutan “amoy” sangat populer, untuk menunjuk seorang wanita keturunan Tionghoa yang masih melajang.

Sayang, waktu saya ternyata sangat mepet di Pontianak, karenanya saya pun urung ke Singkawang, meski sudah ditunggu seorang kenalan di sana. Lain kali saya berjanji untuk berusaha menyempatkan diri mendatangi kota itu jika ada acara di Pontianak.

Continue Reading »

Senin (29/9) lalu, saya agak terkejut menemukan “sedikit” formasi anyar dalam manajemen harian Kedaulatan Rakyat (KR). Saat itu, saya yang kebetulan sudah berada di kampung halaman, Wonosari, Gunungkidul, membuka-buka KR yang saya beli dari pengasong di jalanan. Di bagian masthead –sengaja saya buka duluan– saya menemukan Fajar Kusumawardhani kini menjadi Pemimpin Umum KR. Rupanya, pasca wafatnya Sumadi M Wonohito, tanggal 29 Agustus 2008 lalu, kini nakhkoda KR antara lain dikomandani oleh Dhani, panggilan karibnya. Ia juga masih merangkap sebagai Direktur Pemasaran.

Hari ini (9/10), saya luangkan waktu menelepon Dhani, mengucapkan selamat atas promosi yang diterimanya, sekaligus mengucapkan selamat ulang tahun ke-63 KR yang jatuh pada tanggal 27 September silam. Sementara jabatan direktur utama kini dipegang oleh Budi Setyawan, yang sebelumnya adalah direktur produksi. Sepengetahuan saya, Budi Setyawan masih terbilang kakak dari Dhani.

KR akhirnya kini berada dalam posisi dinasti ketiga keluarga Wonohito, yang bersama H Samawi, adalah dua pendekar pendiri KR, pada 27 September 1945. Mirip-mirip dengan Suara Merdeka, yang kini juga tengah bertransisi menuju pewaris tahta ketiga.

Continue Reading »

Cakram pun tutup…(???!!!)

Saya menuliskan judul seperti di atas karena merasa masygul, prihatin, sedih, tak percaya, dan seabreg rasa senada yang membuat hati jadi bertanya-tanya. Mengapa majalah CAKRAM, yang diterbitkan oleh Matari Advertising, akhirnya harus “bangkrut”????!!! Sejak awal pekan ini, saya mendapat kabar dari sejumlah kolega, jika CAKRAM edisi Oktober 2008, adalah edisi paripurna majalah yang terbit sejak 1996 itu. Saking masih belum percaya, pagi ini saya menyempatkan mengontak Gunawan Alif, Pemimpin Perusahaan CAKRAM.

Ia pun mengamini jika CAKRAM telah tutup. Confirm…!!!!!!!! Dannnnnnn…. CAKRAM pun kini adalah sebuah sejarah. Adalah kebetulan saya merupakan salah satu orang yang pernah berada dalam lintasan sejarah majalah kesayangan alm Ken T Sudarto, pendiri Matari Advertising. Mungkin ada puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang yang memiliki perasaan seperti saya terhadap CAKRAM.

Salah satu pangkal soal yang disebut-sebut sejumlah kawan, antara lain kawan-kawan saya eks karyawan CAKRAM adalah adanya perubahan drastis positioning CAKRAM yang hendak dibawa menjadi majalah “life style”. Jelas itu merupakan kesalahan fatal..!!!!!!!! CAKRAM, dari sononya, adalah trade magazine, yang harus “rela dan ikhlas” melayani segmen pembaca dan pengiklannya di industri periklanan dan media.

Continue Reading »

Meski puasa, tetap berkarya. Hehehehe… Kayak semangat 45 gitu dech yang saya lakukan bersama kawan-kawan di kantor ketika menerima permintaan teman-teman Perpustakaan Nasional RI, guna melakukan pelatihan menulis dan PR bagi sebagian staf mereka. Jadilah kemudian, 17 orang dari berbagai bagian di Perpustakaan Nasional, kami ajak ke Cipayung – Bogor, untuk sebuah workshop bertajuk “How to develop writing skills and understanding the media” selama tiga hari, 18 – 20 September 2008.

Tiga pembicara dari kalangan media kami hadirkan. Mereka adalah Linda Tangdialla (Redaktur Pelaksana Bisnis Indonesia), Wahyu Muryadi (Redaktur Eksekutif Majalah TEMPO), dan Budiono Darsono (Pemimpin Redaksi Detikcom). Saya sendiri ikut berbicara, memberikan share kepada kawan-kawan Perpusnas ini, mengenai Peta Industri Pers Nasional serta UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik.

Adapun Linda, membawakan materi mengenai Menulis Opini dan Menulis Berita Pendek. Sementara Wahyu Muryadi, saya minta membawakan presentasi tentang Teknik Wawancara dan Teknik Menulis Features. Sedangkan Budiono Darsono, menampilkan materi tentang Jurnalisme Online dan Menulis Rilis di Media Online.

Continue Reading »

Birokrasi Award dari Indo Pos

Malam itu, Kamis (11/9), saya merasakan tengah berada dalam sebuah “pesta” keluarga besar Jawa Pos Grup. Meski tak mendapat undangan resmi, saya hadir bersama dua kawan dari kantor, pada acara yang digelar Institute of Bureaucracy Reform (IBR) yang dikelola Indo Pos, di Hotel Borobudur selepas buka puasa. IBR dan Jawa Pos Grup, malam itu menggelar penganugerahan Birokrasi Award 2008. Sebuah forum penghargaan yang diberikan kepada para birokrat eselon I, yang dinilai oleh sebuah tim bentukan IBR. Para petinggi Jawa Pos Grup, dan pimpinan anak-anak perusahaan mereka dari Sumatera hingga Sulawesi, saya lihat ada di tengah-tengah “pesta” malam itu.

Ada delapan kategori penilaian yang dilakukan —Statemanship, integrity, visionary, leadership, followership, kompetensi teknis, kompetensi manajerial, dan kategori kompetensi sosial. Dua dari delapan penghargaan itu disabet oleh dirjen di lingkungan Departemen Keuangan. Mereka adalah Hery Purnomo, Dirjen Perbendaharaan Negara (kategori leadership), dan Anwar Supriyadi, Dirjen Bea dan Cukai (kategori kompetensi teknis). Adapun Basuki Jusuf Iskandar, Dirjen Postel, salah satu dirjen yang cukup populer dalam pemberitaan media, memperoleh anugerah untuk kategori visionary.

Di tengah citra buruk birokrasi Indonesia yang sedemikian mengental di kalangan publik, hajatan ini, sebagaimana disampaikan Dahlan Iskan, CEO Jawa Pos Grup, merupakan sebuah upaya untuk mendorong perbaikan dalam kinerja birokrasi di tanah air. “Selain terus-menerus kita kritik lewat media massa, kita juga perlu memberi apresiasi bagi para birokrat yang memiliki kinerja baik,” ujar Dahlan.

Continue Reading »

Sebuah sms mengejutkan masuk ke ponsel saya, Jumat (29/8) sekitar pk. 21.00 WIB, ketika baru saja turun dari pesawat yang menerbangkan saya dari Batam. Intinya, mengabarkan berita wafatnya Sumadi M Wonohito, Direktur Utama BP SKH Kedaulatan Rakyat, Jogjakarta. Beliau wafat sekitar pukul 19.00 di Jogjakarta. Terus terang saya rada terkejut mendapati berita ini.

Ketika itu, saya langsung mengonfirmasi ikhwal berita duka tersebut kepada Octo Lampito, Pemimpin Redaksi Kedaulatan Rakyat (KR). Diseberang telpon, ia mengiyakan berita yang saya tanyakan itu. Beberapa pengurus kantor saya, antara lain Dahlan Iskan (Jawa Pos), Jakob Oetama (Kompas), M Ridlo ‘Eisy (Galamedia), Syafik Umar (Pikiran Rakyat), serta Kukrit (Suara Merdeka), saya kabari pula via sms.

Rasa terkejut saya sebenarnya masuk akal, meski saya tahu bahwa kondisi pak Madi –begitu almarhum biasa disapa– jelas sudah tidak 100 persen fit pasca operasi jantung beberapa bulan lalu di Singapura. Ikhwal kesehatan beliau ini, sempat saya tanyakan langsung kepada salah satu putrinya yang juga menjabat Direktur Pemasaran KR, Fajar Kusumawardani. Saya bertemu mbak Dani –sapaan karibnya– pada Selasa (26/8) siang, di hotel Quality Jogjakarta, saat makan siang, sebelum ia saya minta untuk membuka forum workshop tentang Etika dan Independensi Media dalam Pemberitaan Pemilu 2009, bagi redaktur koran harian se-Jawa di hotel itu. Kebetulan, mbak Dani juga salah salah pengurus harian SPS Pusat, menjabat sebagai Ketua Bidang Usaha dan Pemasaran.

Continue Reading »

Petisi Jogja

Manjutkan serial workshop tentang Etika dan Independensi Media dalam Pemberitaan Pemilu 2009 di dua kota sebelumnya, yakni Palembang dan Balikpapan, selama tiga hari dari tanggal 26 – 28 Agustus lalu, kantor saya menggelar hal serupa di Jogja yang juga disponsori oleh Friedrich Ebert Stiftung (FES). Kali ini, diikuti oleh 30 redaktur koran harian se Pulau Jawa minus Jakarta.

Yang membedakan event di Jogja kali ini dengan event di dua kota sebelumnya, adalah hadirnya dua jurnalis asal Jerman. Mereka adalah Christina Schott dan Anett Keller. Yang pertama, Christina –akrab dipanggil Tina– sebenarnya adalah koresponden sebuah harian di Jerman yang sejak tahun 2002 telah menetap di Jogja. Sementara Anett, merupakan jurnalis di Jerman, yang kebetulan tengah cuti, mengikuti suaminya yang memperoleh pekerjaan riset di Jogja hingga awal Oktober mendatang.

Keduanya memberikan materi mengenai pengalaman liputan media di Jerman dalam Pemilu 2005 dan juga pemilu di sejumlah negara Eropa. Antara lain Macedonia, Perancis, dan Italia. Salah satu hal menarik dalam konteks pemilu di Jerman, misalnya, rupanya Dewan Pers Jerman menganggap Pemilu adalah sebuah hal biasa, sepertihalnya peristiwa-peristiwa lainnya yang diliput media. Yang penting –sama seperti dalam liputan apapun– media di Jerman harus tetap tunduk pada etika jurnalistik. Tak lebih dan tak kurang.

Continue Reading »

Masyarakat di Jakarta, tentu mengenal dengan baik Odong-odong. Sebuah permainan anak-anak yang dibuat di atas becak yang dimodifikasi khusus, untuk didesain mainan kuda-kudaan atau mobil-mobilan di atasnya. Setiap anak biasanya dikenakan tarif Rp 1000 – 2000 sekali main yang berdurasi kira-kira tiga menit. Si abang pemilik Odong-odong, mengayuhkan kakinya untuk menciptakan gerakan naik turun dan maju mundur bagi mainan yang dinaiki anak-anak itu.

Entah kenapa kini diksi atau terminologi tentang “Odong-odong” ditujukan kepada perilaku sejumlah media yang dikenal melakukan tindak “pemerasan” kepada narasumber berita dan para pejabat (publik maupun privat). Begitu banyak keluhan mengenai sepak terjang mereka dari para profesional public relations (PR) selama ini. Beberapa diantaranya kembali muncul tatkala kantor saya menyelenggarakan workshop How to Handle Press Well, bagi para PR lembaga pemerintahan, di Garut, 21 – 23 Agustus lalu.

Selama tiga hari itu, saya dan sejumlah narasumber memberikan berbagai ilustrasi mengenai cara terbaik dalam mengelola hubungan dengan media, tanpa harus mengikuti kemauan wartawan dan media yang tidak jelas alias odong-odong tadi.

Workshop kali ini, merupakan serial dari workshop serupa yang juga dilangsungkan kantor saya di Kuningan, Jawa Barat, 13 – 15 Juni lalu. Hanya saja, konsentrasi pada dua kegiatan itu yang dibedakan. Jika di Kuningan para peserta memperoleh konsentrasi cara membuat Press Release dan menyelenggarakan Press Conference, maka di Garut tekanannya adalah pada Public Speaking dan Hak Jawab.

Continue Reading »

Mengukur media “dewasa”

Ada sebuah diksi yang sebenarnya tak asing namun belakangan ini kerap dipergunakan oleh –terutama– Dewan Pers dalam berwacana tentang media, yakni media “dewasa”. Itu adalah sebuah terminologi khusus untuk menyebut media-media cetak yang mengeksplorasi “sensualisme dan pornografi” dalam lembar-lembar halaman produk mereka. Di tengah sebagian masyarakat, memang muncul semacam kegusaran luar biasa terhadap maraknya media-media cetak yang dinilai mengandung muatan pornografi.

Pada awal 2006, bahkan muncul sebuah kontroversi berkepanjangan terhadap ikhwal ini saat DPR RI hendak merumuskan RUU tentang Antipornografi dan Antipornoaksi. Kedua pihak yang saling berlawanan pandangan, sempat menggelar berbagai aksi yang dipusatkan di kawasan bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Beberapa minggu sebelum tanggal 9 Februari 2006, aparat penegak hukum juga melakukan sweeping terhadap media-media yang dinilai beranasir pornografi itu.

Namun sayang seribu sayang…. Definisi pornografi dan pornoaksi di dalam media, hingga kini tak pernah tuntas. Pendapat Dewan Pers, misalnya, juga masih kabur, yang hanya bersandarkan pada dualisme hardcore pornography dan softcore pornography. Dalam konteks softcore pornography, Dewan Pers berpendapat ada hak sementara orang untuk mengonsumsinya, meskipun harus diatur peredaran atau distribusinya agar anak-anak dan konsumen yang belum berhak menikmatinya bisa dilindungi. Intinya, majalah-majalah yang bermuatan sofcore pornography oleh Dewan Pers dipandang boleh diedarkan secara terbatas, agar anak-anak di bawah umur tak bisa mengaksesnya.

Tapi, bagaimana dengan akses pornografi di internet? Ini memang soal tersendiri.

Continue Reading »

Design a site like this with WordPress.com
Get started