Wanita dan pertemanan biasanya berjalan beriringan. Setiap wanita akan selalu menemukan pertemanan di dalam fase hidupnya. Ketika pertemanan itu selalu dirayakan, bagaimana dengan putusnya suatu hubungan pertemanan? Pertemanan diatas sepuluh tahun tidak akan menjadi jaminan untuk langgengnya hubungan ini.
Pertemanan mulai dijalin ketika masing-masing persona sedang merekah layaknya setangkai bunga. Satu-persatu kelopak bunga membuka, menyerap sinar mentari sebagai harapan hidup. Dia tegak berdiri, bukan meminta untuk dikagumi. Panggilan alam sedang menempanya untuk menjadi sosok dewasa. Tidak ada panduan bagaimana cara menghadapi pertemanan dewasa ini akan berakhir.
Anna memilih mundur ketika diserang. Anna tak dapat berucap selain meminta maaf. Anna sadar, segala ketikannya akan sia-sia menghadapi Luna yang penuh emosi. Luna hanya ingin mengetahui siapa orang ketiga diantara mereka, sayangnya Anna tidak dapat memberinya nama.
Luna berhak untuk meradang. Cerita hidupnya telah menjadi konsumsi publik. Luna berhak marah kepada Anna yang seharusnya tidak tahu. Luna merasa dia berhak tahu, dari siapa Anna mendengar berita tersebut.
Anna memilih bungkam. Anna sadar akan ada pertemanan lain yang terancam ketika dia buka mulut. Anna bertahan hanya dengan ucapan maaf, dia akan meminta maaf sebanyak mungkin yang Luna inginkan.
Luna: “Kasih gw satu nama. Udah itu aja yang gw minta.”
Anna: “Maaf Lun, gak bisa. gw gak bisa kasih tau siapa. Yang pasti, dia juga sayang sama elu Lun.”
Luna: “Kalo dia sayang sama gw, gak mungkin dia gosipin gw di belakang kayak gini.”
Anna: “Dia gak gosipin elu, dia cuma minta bantuan gw untuk check up on you.”
Luna: “Emang dia gak bisa ngomong sendiri? Sampe harus nyuruh elu yang kontak gw? Apa bedanya elu sama dia yang sama-sama jadiin gw sebagai bahan gosip. Gw gak nyangka klo ternyata elu kayak gitu. Kecewa gw.”
Anna: “Maaf Lun.”
Luna: “Klo lu beneran temen gw, kasih tau gw siapa orang itu. Della ya? Udah bilang aja klo itu Della yang cerita sama elu. Selama ini gw cuma ngobrol sama Della masalah ini. Gw nanti yang bilang sama Della, kenapa dia bisa sampe bocor ke elu.”
Anna: “Bukan Lun. Bukan Della.”
Yang Luna tidak ketahui, Anna bahkan sudah memblokir nomornya Della lebih dari 5 tahun. Ketika Luna bersemangat cerita tentang segala kebaikan Della, rencana masa depan bersama Della, Anna hanya menjadi bagian tepuk-sorak. Anna tidak merasa dia sejalan dengan Della. Anna tidak pernah menganggap Della sebagai teman, mungkin bisa dibilang hanya sebatas kenalan.
Luna: “Terserah klo lu bilang itu bukan Della. Buat gw, itu pasti Della. Karena cuma dia yang selama ini gw curhatin.”
Anna: “Please Lun, percaya gw! Jangan bawa Della.”
Luna: “Ngapain gw percaya ke elu, klo lu aja ngomongin gw di belakang.”
Maaf Lun.. hanya dapat diucapkan Anna di dalam hati. Ucapan yang tidak dapat diketiknya untuk berbalas pesan di WhatsApp. Ada rasa ingin untuk menelpon langsung, tapi Luna adalah orang yang tidak akan menjawab deringan telepon, selain keluarga inti.
Luna: “Temen macam apa sih lu? Diem lu sekarang? Kecewa gw. Ternyata selama ini kelakuan lu di belakang gw kayak gini. Kalo kayak gini mendingan gak usah terusin temenan aja. Kan lu juga udah gak nganggap gw sebagai temen. Lu apus aja contact gw. Unfollow aja semua sosmed gw.”
Anna: “ya udah Lun klo itu mau lu. Silakan lu blokir akun-akun gw.”
Luna: “ya elu lah yg blokirin akun gw. Kenapa harus gw yang repot. Apus aja semua kontak gw ini juga.”
Anna: “Oke Lun.”
OKE … sebuah kata singkat sebagai tanda putus hubungan. Tidak ada jabat tangan, tiada peluk cium hangat. Hanya OKE! Anna tak sanggup untuk bertahan selain dengan berkata oke. Tombol delete contact ditekan, hapus chat kemudian. Anna baru sadar, selama 5 tahun terakhir, tidak lebih dari dua ribuan obrolan yang hadir diantara mereka.
Anna tidak ingin emosinya terlepas. Karena dia sadar, ketika semua emosinya terlepas, dia akan menusukkan luka lebih dalam pada Luna. Ucapan yang mungkin akan Anna sesali di kemudian hari. Perkataannya yang pedas tidak untuk ditujukan kepada Luna yang sedang emosi, karena sesungguhnya Luna adalah sosok lembut. Tutur kata Luna biasanya tertata dengan alunan nada yang merdu, dan tatapan mata sayu sendu.
Pertemanan yang hanya tersisa alunan sumbang. Pertemanan sudah tumbang. Air mata turun untuk emosi berkubang. Pipi disusut untuk menutup hati berlubang. Waktu akan menempa kedua wanita itu untuk kembali berkembang.




