Posted in life

Wanita Patah Hati, (series 40an)

Wanita dan pertemanan biasanya berjalan beriringan. Setiap wanita akan selalu menemukan pertemanan di dalam fase hidupnya. Ketika pertemanan itu selalu dirayakan, bagaimana dengan putusnya suatu hubungan pertemanan? Pertemanan diatas sepuluh tahun tidak akan menjadi jaminan untuk langgengnya hubungan ini.

Pertemanan mulai dijalin ketika masing-masing persona sedang merekah layaknya setangkai bunga. Satu-persatu kelopak bunga membuka, menyerap sinar mentari sebagai harapan hidup. Dia tegak berdiri, bukan meminta untuk dikagumi. Panggilan alam sedang menempanya untuk menjadi sosok dewasa. Tidak ada panduan bagaimana cara menghadapi pertemanan dewasa ini akan berakhir.

Anna memilih mundur ketika diserang. Anna tak dapat berucap selain meminta maaf. Anna sadar, segala ketikannya akan sia-sia menghadapi Luna yang penuh emosi. Luna hanya ingin mengetahui siapa orang ketiga diantara mereka, sayangnya Anna tidak dapat memberinya nama.

Luna berhak untuk meradang. Cerita hidupnya telah menjadi konsumsi publik. Luna berhak marah kepada Anna yang seharusnya tidak tahu. Luna merasa dia berhak tahu, dari siapa Anna mendengar berita tersebut.

Anna memilih bungkam. Anna sadar akan ada pertemanan lain yang terancam ketika dia buka mulut. Anna bertahan hanya dengan ucapan maaf, dia akan meminta maaf sebanyak mungkin yang Luna inginkan.

Luna: “Kasih gw satu nama. Udah itu aja yang gw minta.”

Anna: “Maaf Lun, gak bisa. gw gak bisa kasih tau siapa. Yang pasti, dia juga sayang sama elu Lun.”

Luna: “Kalo dia sayang sama gw, gak mungkin dia gosipin gw di belakang kayak gini.”

Anna: “Dia gak gosipin elu, dia cuma minta bantuan gw untuk check up on you.”

Luna: “Emang dia gak bisa ngomong sendiri? Sampe harus nyuruh elu yang kontak gw? Apa bedanya elu sama dia yang sama-sama jadiin gw sebagai bahan gosip. Gw gak nyangka klo ternyata elu kayak gitu. Kecewa gw.”

Anna: “Maaf Lun.”

Luna: “Klo lu beneran temen gw, kasih tau gw siapa orang itu. Della ya? Udah bilang aja klo itu Della yang cerita sama elu. Selama ini gw cuma ngobrol sama Della masalah ini. Gw nanti yang bilang sama Della, kenapa dia bisa sampe bocor ke elu.”

Anna: “Bukan Lun. Bukan Della.”

Yang Luna tidak ketahui, Anna bahkan sudah memblokir nomornya Della lebih dari 5 tahun. Ketika Luna bersemangat cerita tentang segala kebaikan Della, rencana masa depan bersama Della, Anna hanya menjadi bagian tepuk-sorak. Anna tidak merasa dia sejalan dengan Della. Anna tidak pernah menganggap Della sebagai teman, mungkin bisa dibilang hanya sebatas kenalan.

Luna: “Terserah klo lu bilang itu bukan Della. Buat gw, itu pasti Della. Karena cuma dia yang selama ini gw curhatin.”

Anna: “Please Lun, percaya gw! Jangan bawa Della.”

Luna: “Ngapain gw percaya ke elu, klo lu aja ngomongin gw di belakang.”

Maaf Lun.. hanya dapat diucapkan Anna di dalam hati. Ucapan yang tidak dapat diketiknya untuk berbalas pesan di WhatsApp. Ada rasa ingin untuk menelpon langsung, tapi Luna adalah orang yang tidak akan menjawab deringan telepon, selain keluarga inti.

Luna: “Temen macam apa sih lu? Diem lu sekarang? Kecewa gw. Ternyata selama ini kelakuan lu di belakang gw kayak gini. Kalo kayak gini mendingan gak usah terusin temenan aja. Kan lu juga udah gak nganggap gw sebagai temen. Lu apus aja contact gw. Unfollow aja semua sosmed gw.”

Anna: “ya udah Lun klo itu mau lu. Silakan lu blokir akun-akun gw.”

Luna: “ya elu lah yg blokirin akun gw. Kenapa harus gw yang repot. Apus aja semua kontak gw ini juga.”

Anna: “Oke Lun.”

OKE … sebuah kata singkat sebagai tanda putus hubungan. Tidak ada jabat tangan, tiada peluk cium hangat. Hanya OKE! Anna tak sanggup untuk bertahan selain dengan berkata oke. Tombol delete contact ditekan, hapus chat kemudian. Anna baru sadar, selama 5 tahun terakhir, tidak lebih dari dua ribuan obrolan yang hadir diantara mereka.

Anna tidak ingin emosinya terlepas. Karena dia sadar, ketika semua emosinya terlepas, dia akan menusukkan luka lebih dalam pada Luna. Ucapan yang mungkin akan Anna sesali di kemudian hari. Perkataannya yang pedas tidak untuk ditujukan kepada Luna yang sedang emosi, karena sesungguhnya Luna adalah sosok lembut. Tutur kata Luna biasanya tertata dengan alunan nada yang merdu, dan tatapan mata sayu sendu.

Pertemanan yang hanya tersisa alunan sumbang. Pertemanan sudah tumbang. Air mata turun untuk emosi berkubang. Pipi disusut untuk menutup hati berlubang. Waktu akan menempa kedua wanita itu untuk kembali berkembang.

Posted in Uncategorized

Wes yo, Aku Moleh

Sudah lewat seminggu dari kedukaan yang melanda keluarga besar kami. Bapaknya simas meninggal dunia pertengahan bulan November ini. Tidak butuh waktu lama untuk Bapak bergelut dengan penyakit diidapnya. Bapak meninggal di RS.

Kamis malam, kami dikabarkan oleh keluarga Surabaya klo Bapak sesak napas dan dibawa ke IGD di RS langganan Bapak-Ibu. Hasil tes darah Bapak serupa raport merah untuk anak sekolah. Banyak komponen dari hasil tersebut yang di luar batas normal, baik batas atas ataupun bawah.

Keputusan yang dihasilkan oleh para dokter, Bapak dirujuk ke RS lain yang siap untuk melakukan operasi pemasangan ring jantung. Jumat pagi, Bapak dirujuk, dan langsung dilaksanakan operasi pada pagi itu juga. Alhamdulillah operasi berjalan lancar, sebelum jumatan seluruh rangkaian operasi telah berhasil dilakukan, Bapak pun dipindah ke ruang ICCU.

Simas menemani Bapak sejak Sabtu. Keluar masuk ICCU, bertukar tanya ke pihak perawat, dan ya sesekali mengajak Bapak ngobrol. Bapak belum diperbolehkan untuk banyak dijenguk dan ngobrol banyak. Masih berteman dengan ambu bag dan alat pacu jantung, sehingga Bapak harus lebih banyak istirahat.

Waktu berlalu, Simas pun harus kembali ke Jogja. Bapak sudah jauh lebih baik, akan dipindahkan ke ruang rawat biasa. Simas sudah menandatangani rencana terapi lanjutan, dan prosedur pemindahan ruangan. Simas bertolak ke stasiun, karena tiket kereta sudah di tangan.

Garis takdir berkata lain, kereta menghentak roda dan bergerak ke arah barat. Another phone call rang, “Mbak, mas dimana? Mbak, mas bisa turun di Wonokromo gak Mbak? Aku ditelpon rumah sakit, Bapak kritis. Mas tak telponi gak diangkat.”

JDAAARRRR!!!! Simas belum ada 1 jam meninggalkan Surabaya. Stasiun Mojokerto baru saja dilewati. Keputusan diambil, Simas akan turun di Kertosono dan berganti kereta kembali ke timur.

Simas kembali ke RS untuk serah terima surat kematian dan jasad Bapak. Ambulan menghantarkan Bapak untuk kembali ke rumah. Hujan deras tumpah, tak ubahnya perasaan duka kami.

Rabu pagi, Bapak dimakamkan. Di situ aku sadar, banyak orang yang selama ini terbantu dengan adanya Bapak. Ketika Simas mengurus surat kematian dari kelurahan, pihak kelurahan pun berkata, Bapak adalah sosok yang selalu maju untuk mengurusi segala perkara administrasi dari RW. Secara de jure Bapak adalah sekretaris RW, tapi de facto Bapak adalah Pak RW itu sendiri.

Tamu yang melayat tidak berhenti sejak hari pertama hingga seminggu kemudian. Jam 6 pagi hingga jam 10 malam, akan selalu ada tamu yang datang ke rumah. Dari segala kalangan, dari segala jurusan.

Bapak mungkin sosok yang paling ekstrovert di keluarga Surabaya. Lebih mudah untuk menemukan Bapak kongkow di Pos Ronda ketika siang hari, dan bertugas di Kantor RW setiap malamnya. Entah sudah berapa tahun Bapak menjabat jadi pejabat kampung ini, selama 18 tahun menjadi mantunya Bapak, selama itu pula kulihat Bapak selalu aktif di kampung.

Ibu pernah terlibat aktif juga di kampung, tapi itu tidak lama. Yang kuingat, pernah suatu ketika, Bapak adalah sekretaris, dan Ibu adalah bendaharanya. Entah tingkatan RT atau RW. Bisa dibilang keduanya ada sosialita di kampung.

Ya gambaran itulah yang kudapatkan, tak jarang ketika siang, ada orang bertamu di rumah, bertanya tentang keberadaan Bapak. Dan akan selalu dijawab, “Bapak cakruk”. Tak lama kemudian, Bapak akan masuk rumah, dengan kaos tersampir di bahu, kemudian membubuhkan cap di kertas seperti yang diminta oleh orang tersebut.

Ketika Bapak meninggal, tentu saja urusan utang-piutang menjadi tanggung jawab para ahli waris. Simas bertanya kepada teman/rekan Bapak. Termasuk masalah tanggung jawab keuangan RW. Karena Bapak sempat ngomong, “Mas, itu nanti token listrik kantor RW.”

Menurut Pak RW, justru Bapak yang selama ini sering mbayari teman-temannya. Salah satu rutinitas Bapak tiap pagi adalah, nongki di warung soto daging bersama geng-nya. Sampai kemarin itu ada beberapa bapak-ibu yang menyatakan sering ditraktir Bapak untuk sarapan, entah itu berupa soto daging atau nasi campur madura yang isinya penuh jeroan. Bapak pula yang menanggung biaya servis TV di kantor RW, ketika TV itu sudah lama teronggok karena rusak. Dan, Bapak tidak mengharapkan balas.

Bapak adalah sosok yang memang Ibu butuhkan. Selama kami di Surabaya, Ibu selalu berkata, “biasanya Bapak yang nyepakno makan. Aku tinggal makan”. Ibu yang ditinggal (meninggal) oleh bapaknya sejak bayi, merasa disayang penuh oleh Bapak. Bapak tidak pernah absen mengantarjemput Ibu kemanapun. Bahkan Kamis pagi, sebelum masuk RS, Bapak masih sempat mengantarjemput cucunya ke sekolah. Bukan hal yang aneh jadinya banyak orang kaget ketika diberi kabar bahwa Bapak meninggal di RS.

Perkara makanan ini juga jelas Bapak memperlakukan hal yang sama ke kami, yang ke Surabaya hanya untuk berlibur. Setiap sarapan, Bapak pasti sudah menyiapkan entah gorengan dengan petis atau lontong balap. Kami tinggal makan saja. Pun, ketika memesan makanan, semisal di pasar atau di ujung jalan, pasti ada yang bertanya. “Orang anyar yo Mbak? koq gk tau liat”. Jawaban ultimate, “Mantunya Pak Budoyo”. Dan semua orang akan langsung mengangguk,”oalah mantune Pak Bud, yo wes mbak tinggalen wae, ngkok lak Pak Bud rene”. Bapak hafal jadwal Mbak Nur si bakul rujak, dan Aa Batagor yang lewat di waktu malam. Tak jarang, Bapak yang sengaja mencegat Mbak Nur, demi mantunya.

Hari ketiga setelah kematian, Bapak datang ke mimpi Simas. Ucapan Bapak simpel dan padat, “Wes yo Yud, aku moleh“. Bab tentang Bapak di kehidupan kami pun akan kami tutup, seiring dengan lambaian tangan Bapak sembari membuka pintu dan kemudian melangkah pergi di mimpi Simas.

Posted in Uncategorized

40 Wanita 40an, (1)

Seorang wanita bimbang, haruskah dia meneruskan langkah kaki menuju jalan tanah berbatu atau berbalik badan dan kembali menyusuri jalan beraspal mulus. Dia berada di ujung jalan, kakinya sibuk menendang kerikil untuk mengisi kekosongan hatinya. Gundah akan masa depan tak ubahnya pilihan yang harus dihadapinya sore ini.

Wanita itu, di usia menjelang paruh baya. Bukan quarter life crisis yang kini menghantuinya. Justru dirinya telah terlenakan oleh masa lalu, dan sekejap lupa bahwa hidup akan terus melangkah maju. Entah dia siap atau tidak.

Quarter life crisis yang pernah dialaminya terasa sangat ringan jika dibandingkan apa yang sedang dirasakannya sekarang. Usia 27 adalah titik balik untuk quarter life crisis yang dia alami. Dia pernah menangis, hanya untuk alasan kalau minggu depan usianya akan genap 27 tahun.

Life begins at 40, as they said. Sekedar jargon, tapi cukup membuatnya terbebani. Untuk para pria, biasanya ditandai dengan kemapanan karir dan sering dikaitkan dengan sindrom puber kedua. Untuk para wanita, gelombang badai hormonal akan siap menerjang.

Wanita itu berjongkok, tangannya sibuk menghitung kerikil di ujung kakinya. Sejatinya, kerikil itu hanyalah pelarian, otaknya sibuk mengulang memori apa saja yang sudah dilewatinya selama ini. Hanya burung pipit yang bertenggger di batang padi menjadi saksi.

Dia menatap ke depan, seolah putrinya hadir.
“Hai Putriku, kemanakah kamu pergi mengepakkan sayap? Yakinkah kamu akan pilihanmu?”
“Masa depanmu memang milikmu, tapi tak maukah sedikit saja dirimu berbagi kisah dengan ibumu di sini?”

Kehidupan telah lama menempanya untuk menjadi penyendiri. Dia pernah muda, dia melanglang buana. Terjun ke dalam riuhnya pesta pora tidak menjadikannya berteman bahagia. Dia bukanlah seorang wall flower, dia tidak berdiam, dia menjadi ratu pesta. Dentuman musik mengiringi kibasan rambut, melodi menghentak memacu jantung berdetak.

Hanya kehampaan yang dia dapatkan setelah keluar dari lantai dansa. Ayunan tungkai sangatlah lunglai, bukan akibat lelah melantai. Tetapi, dia sadar ada batasan di mana dia harus berhenti menggapai.

Posted in life

Menuai Hasil

Heyyy Hoooo!!!
Being in 40s I am!!! …. mbuh yooo rasane rodo mbruwet, sejalan dengan dengan mudahnya sekarang itu terkena yang namanya sindrom masuk angin. Padahal, dulu tuh ya, terkenal beuudd laahh klo Si Ambu sebagong ini tuh jagoannya jaket kulit, alias gak pake jaket luaran lagi saat anter-jemput sekolah.

HMMMMM…..
Klo sekarang, jangankan jaket hasil nyomot punya simas, bahkan bisa-bisanya pake syal untuk nutupi leher yang amat sangat mudah meradang ini. Aahhh elaah, kena angin malemnya cuma sejam-dua jam, ambruknya bisa seminggu. SUNGGUH FENOMENA DEGRADASI DINI begini namanya…

Kalo tim bola, kena degradasi biasanya jadi pentolan di liga bawahnya… lha menungso bentukan kayak gini, mau gelut di liga mana pula. Jadi pentolan kagaak… makin rajin jajan pentol… OWHH JELAASSS ITU SAYAAAA!!!!

yaaahh… kagak bisa boong deh… begini ini emang namanya menuai hasil kelakuan di masa muda… CIEEEHH!!!! Kemana gw di umur 20an? kayaknya hidup gw jelas berputar di Simas n Ndori. Gw nikah di umur 21, mbrojolin Ndori di umur 24. Hidup berladang dan berpindah macem manusia gua pun terjadi di usia 20an itu.

Di usia 30an, gw itu semacam manen hasil dari fit-nya usia belasan dan awal 20an. OHH YEAHH, H-2 lahiran si Ndori, emak sebiji ini masih bisa mubeng-munyer mall tanpa sesek nafas. Tiap mau kontrol hamil harus jalan kaki sekitar 1,5 km. Sampe ke H-2 lahiran itu, pulang dari kontrol sih naek bis yaaa hehehehe…

Dan hasilnya, gw terlena sama nikmat kokoh-bakoh yang dikandung badan. Jam tidur ajrut-ajrutan, waktu makan yang lebih sering mengikuti mood … owwwhh, APA ITU POLA MAKAN??!!! jelaaas sama sekali tak berpola … Padahal di kampung ndori amat tertata dan berpola. Salah satu yang kuinget adalah, MEATLESS MONDAY. Walo gak 100% meatless, tapi jelas mengurangi konsumsi daging (olahan ye apalagi).

Di umur segini, mencoba bercocoktanam varian baru, baca: OLAHRAGA, langsung badan berasa teriak memberontak … olahraga sehari, DOMS nya seminggu … somplaaaakkk!!!!
gw mau bilang ini faktor U… tapi gw malu sama emak gw sendiri yang masih udar-ider lintas pulau di usia hampir 70…

tapi emang, emak ini gw bikin berkaca siih… apa yang mau gw panen di usia gw nantinya saat umur segitu… siapa sih kan yang gak mau jadi nenek-nenek setrong rajin jalan-jalan kesana-kesini… daripada memberatkan anak untuk “kunjungan wajib”, kenapa gak kitanya aja yang rajin nyambangin anak dan keluarga barunya… aaaamiiin….

sejauh ini, yang udah gw panen adalah… jerawat yang lebih gampang hadir tiap gw memulai untuk berjalan-jalan pagi … belom lagi warna kulit gw yang klo dibilang bilang ndori, “parah siih ambu belangnya.. jadi kaya donat itu ada yg putih ada yg coklat” … dia pasti susah membedakan antara donat menul empuk dan pipi emak yang nyempluk …

hit back the gym belum jadi prioritas gw saat ini… walo pengen sih jelas yaa… gak boong banget emang… kulit gak jadi menggelap tapi badan tetep fit … alasan utamanya, masih agak takut gw nyaa setelah akhir taun lalu kena dislokasi di bahu yang berbuntut frozen shoulder… tapi, cedera gw itu bukan gym-related yaakss, emang idup gw aja yg suka penuh gebrakan dan gabrukan …

jerawat yang hadir adalah kayaknya satu-satunya yang bisa gw pamer klo ternyata GW MASIH MUDA … bwhahahaa… atau menurut pseudoscience kan ceritanya kulit gw lagi detoks, makanya racun-racun keluar lewat jerawat … iya-in ajalah plisss!!! masalahnya ini jerawat lebih gampang nongol di usia gw yang 40 ini daripada pas gw late 30s kemaren…

owwhh apakaahh ini gw puber lagi makanya jerawatan??
gw gak butuh jerawat lah klo misal puber… gw butuh stamina yang sama pas gw di usia puber … bwahahahah

doohhh… ini gw aja atau emang lagi pada ngerasain semuanya sih, klo jaman now ini yang namanya batuk-pilek itu sekali nempel ilangnya LUAMAAAA BYANGEETT!! sekalinya ngilang, ntar cepet lagi baliknya… udah macem orang pacaran tapi gagal move on, jadinya putus nyambung…

gw nulis ini sambil ngempet batuk dan menahan biar si umbel oleleho ini gak mengucur dari idung… batuk ngikil sampe sakit dada dan perut udah… aneka warna umbel udah dialamin juga.. dari sok-sokan RUM, jajan obat bebas berasa ky shopping spree udah, sampe kena 1 cycle antibiotik jg udah… LELAAAHHH!!! huhuhuhuu T_T

jadi ya gaesss….
mumpung masih sehat jagjag bin setrong, mari kita upayakan biar sehat jagjag itu lebih lamaa… bukan untuk orang laen, tapi untuk diri kita sendiri aja fokusnya… klo dibilang setengah baya udah gk boleh bermimpi tu bulsyeett yaa… seiring umur, tujuan hidup juga akan selalu ada… cuma mungkin bergeser atau malah belok kanan bablas…

goals gw untuk 10 tahun mendatang aja yaa… bismillah AAAAMIIIINNN
1. Bisa menghadiri wisuda S1 si ndori dengan jagjag, bisa ngikutin pace acara wisudaan yg ripuh bin pinuh
2. Less grumpy gegara beban boyokan dll berkurang
3. Tetep tegap!! gw gk suka banget liat gw bungkuk tuuh… udah bungkuk, ada perut berlipat pula kan yeeee… I LOVE TO SEE HOW INTIMIDATING I AM 😀

itu aja dulu yang kepikiran pas gw nulis ini sih.. wakakkaka walo aslinya pasti lebih banyak… ya karena mau bikin goal kan gk boleee terlalu muluk-muluk juga… walo jangan sampe ngerendahin diri sendiri…

bismillah… mulai menanam bibit kebiasaan yang uhuuyy biar nanti hasilnya cihuuyyy!!

Posted in Uncategorized

Melonggar Untuk Asing

eitsss…
tenang… gw gak akan ngebahas perkara tarif ekspor-impor apalah apalah… ini perkara obrolan dewasa ajah… cieehh… kayaknya sih layak ini masuk kategori 21+

ada yang bilang, salah satu yang berat dalam hal pertemanan di usia dewasa adalah menjalin pertemanan baru, bukan sebagai kolega atau relasi transaksional… tapi memang ya, berteman pada umumnya seperti kita usia sekolah… terlalu banyak pengalaman hidup (mohon maap, ini bukan cuma perkara asam-garam, tapi juga pedes, kecut, gurih, manis, nyegrak) yang membuat kita semakin pilah-pilih dalam berteman… TAPI, putus pertemanan juga termasuk HAL SYULID yang harus dihadapi para remaja jompo ini…

KADANG, ada orang yang lebih siap untuk putus cinta (suatu fase yang dialami para pemadukasih) dibandingkan ketika harus putus pertemanan. FRIENDSHIP BREAKUPS klo istilah anak jaman now.

Friendship breakups HIT ME HARD! AT 40, I HAD MY BREAKUP.

Should I name it as a breakup? DUNNO!! NO IDEA!!!

PERNAH berada di satu fase dimana KAMI dekat, bukan sekedar obrolan kosong, tapi diskusi tentang pendidikan anak itu salah satu yang membuat kami cukup intens. Ndori mau masuk SD, dan anaknya baru masuk TK.. YUPSSS, it was a long way to trace back!

DAMN COOVEEEDD!! Your presence just made it way worse!!

dibilang lost contact yaa bisa begitu, gw cuma bisa tau kabarnya dari beberapa teman yang 1 sirkel… kabar yang didapatkan memang timbul-tenggelam, seiring dengan keadaan si bliow ini..

5 stages of grief gak berlaku sama urutannya untuk setiap orang… gw udah langsung lompat ke tahap bargaining ‘n acceptance pas denger dari temen klo bliow gak inget gw siapa… gw mikir, ohh oke wajar aja dia gak inget gw… karena gw hadir paling belakangan diantara sirkelan ini… dia masih bisa mengingat temen-temen yang lain, bahkan sampe ke anak-anaknya …

ingatan/memori seseorang akan lebih mudah terikat ke sesuatu yang terjadi ketika umurnya lebih muda, makanya gak heran kadang para lansia sepuh lebih ingat sama orangtua (merasa bahwa dirinya masih lajang) daripada anak-anaknya… CORE MEMORY IT IS! yang bikin gw nrimo ya itu, gw belom sempet masuk ke core memory-nya bliow…

TAPI, ketika gw harus berhadapan langsung sama orangnya… gw gak bisa bohong klo gw ada di tahap denial ‘n depressed… kayak yang selama ini gw alamin itu bertepuk sebelah tangan… apa semua kenangan itu cuma ada di khayalan gw??

gw merutuk diri gw sendiri for being too logical… gw paham semua teori, bisa mengkalkulasi dan mitigasi kemungkinan ini-itu… gw lupa, bahwa gw juga punya hati dan perasaan, dan itu semua akan langsung menghancurleburkan segala perhitungan gw…

there I was… stumbled!!

ketika bliow berucap, “siapa yaa?” …. “aku harus manggilnya apa ya?”

that’s it!! it was a clear, vivid sign, I am just an ordinary NPC … I’m none… I was never been there …

silent breakup it is… there’s no parting word… there’s no goodbye… there’s no farewell … just me trying to cope within, one-sided breakup … I’m grieving still … I’m holding my anger because none of us is to blame …  HER DISEASE is the sole culprit! that’s me being too logical, hormone-controlled entity!!

denial side of me writing this … I can’t bargain it nowhere… tears for my tear, tears for no more shared teas … tears for me escaping hers

merangkak perlahan, terseok, tertahan … berat, tapi itu harus gw lakukan… fase penerimaan yang saat ini gw bisa lakukan cuma itu… gw harus menerima klo emang gw bukan siapa-siapa… gw harus nerima klo status gw cuma temennya-temen …

gw memutuskan bahwa emang gw yang harus mundur… gw harus melonggarkan ikatan, mungkin akan melepaskannya ketika saat itu tiba… gw harus berhenti untuk bertanya kabarnya dan berkirim salam..

biarlah diantara kami menjadi 2 orang asing, yang baru saling bersapa di mall kemarin … dan mungkin tidak akan ada lagi sapaan di waktu dekat ini..

gw memilih untuk menjadikan ini sebagai penutup … dan gak mau berharap apapun di masa depan…

Let me take the evil way, I’m the one waving goodbye ... I know that I was good enough back then … I did no harm for both! gw gak menyesali apa yang udah terjadi … dan gw gk mau untuk menyesali apa yang akan terjadi…

Posted in life, Uncategorized

Lho, Mbak Asty Resign?

Petang ini, komplek tempat tinggal ngadain buka puasa bersama, sekaligus khataman dan memperingati Nuzulul Quran. Seperti biasanya, sesi mbadog-membadog adalah waktu yang tepat untuk saling bertanya dan meng-update kehidupan sesama tetangga.

“Mbak, lho katanya kemaren ke Malang. Pulang kapan?” tanya salah satu tetangga. Kujawab, kira-kira jam 2 pagi sampe di rumah.

Suasana cair, obrolan terus mengalir. Yah namapun emak-emak dikasih wadah pertemuan dengan sajian aneka panganan, bukan cuma lapar haus dahaga yang tertuntaskan dengan berbuka, tapi juga perasaan hangat dengan melihat tetangga sehat. Kecepatan jatuhnya air hujan di sore itu mendadak tidak sebanding kalo dibandingkan sama kecepatan obrolan diantara emak-emak.

Ada seorang tetangga, Mbak M, yang bercerita tentang mahalnya biaya overtime di daycare anaknya. “Aku njemputnya telat tuh gak sampe 10 menit, kan soalnya ujan toh. Dimana-mana macet. Hwayooo… Jebule aku kena 60 ribu ikk”. (yang familiar dengan berbagai dialek bahasa jawa mesti paham ini gimana intonasi nadanya)

Mbak M: Mbak, anaknya umur brapa toh? (nunjuk Ndori)

A: 15 tahun dia, udah kelas 3 SMP.

M: Weee lah, kemaren ke Malang tuh nyari SMA?

A: HO OH! Ikut ujian masuk di MAN 2 Malang. Doain yaa Mbak…!!

M: Lha ini SMP nya dimana?

A: di situ…. ke barat lagi dari sini.

M: lho ini berarti Mbak Asty yang anterin tiap pagi?

A: Iyaaa… klo pulangnya, misal dia pas gak ada eskul apa-apa tuh kan setengah 3 tooohh… kemaren-kemaren setengah 3 itu kan PUANASNYA ASTAGHFIRULLAH! Nah, aku males njemput, dia naek gojek aja lah pulangnya.

M: Lha, biasanya tiap hari Mbak Asty yang jemput?

A: iyaaa… aku yang anter jemput tiap hari. Kadang nerus les, ya kadang pulang.

M: Lha Mbak Asty ngantornya dimana toh? Deket sini? Jam 2an gitu izin terus balik kantor? Atau emang pulang jam 3?

A: Hah? ngantor? Aku gak ngantor Mbak…

M: LHO? MBAK ASTY UDAH RESIGN? Sengaja resign pas anaknya kelas 3 ini? Atau ngajuin cuti panjang?

A: heee?? aku gak pernah ngantor Mbak.

M: HAAHH?? aahh mosookk??? lho Mbak Asty selama ini di rumah terus? Ibu rumah tangga?

A: IYEEESSSS…. tanya aja ini sama anaknya…. aku dari duluu, belom pernah kerja kantoran. Bahkan jamannya ni bocah blom nongol juga aku gak ngantor.

M: Tenaaaaaaneee Mbaaaaaakkk??!!! Selama ini aku mikirnya Mbak Asty tuuu orang kantoran lhoo… lha wong klo ngobrol kaya gini, Mbak Asty tuu gk keliatan kayak yang orang di rumah aja.

Yaaaaakksss…. jatuh satu korban lagi yang terjebak dengan persona gw!! Sebenernya ada yang pernah bikin gw lebih kaget. Abang tukang ikan langganan, sampe saat ini bersikeras klo GW ADALAH WARTAWAN. Alasannya adalah, karena gw sering pake vest/jaket buntungan yang di bagian depan banyak kantong. Ketika lebih dari seminggu gw gak belanja ikan, si Abang akan langsung komen, “Abis luar kota ya Mbak?”.

Yang cukup bikin syok dari si Mbak M ini adalah, ya karena selama ini gw merasa gak pernah menutup-nutupi status gw yang emang ibu rumah tangga, tapi gk ngerjain tugas beberes rumah. Di lingkungan komplek ini, bisa dibilang gw cukup bergaul koq, terbukti sampe udah 2x ganti ketua paguyuban, gw tetep jadi sekretaris di grup ibu-ibu faktor laen karena emang gk ada orang lagi.

Mungkin, yang diliat oleh tetangga ini semua adalah, TENTANG JARANGNYA GW ADA DI RUMAH. Selain itu, gw ini jamaah laundriyah, alias cucian baju dicuciin sama jasa laundry kiloan. Tas laundry yang silih berganti di teras rumah gw, bisa jadi penanda KLO GW ITU SIBUK BANGET. Sampe, cucian baju keluarga yang sudah beranak aja sampe diambil alih laundry. Ibu pekerja kantoran, bahkan masih sempet untuk tandang-gawe umbah-umbah dewe.. agak laen emang emaknya ndori ini…!!

Kalo dibilang jarang ada di rumah ya nggak juga. Sering terjadi, semingguan lebih gw cuma jadi Macan Ternak, tanpa nglayp. Tapi memang, ketika sekalinya gw keluar rumah (di luar urusan anter jemput Ndori), gw akan menghabiskan waktu yang sangaat panjaaaang. Mungkin itu yang dilihat oleh para tetangga, sehingga mereka sangatlah husnuzon klo gw ini emak-emak kantoran.

Padahal, klo di-cek isi WA gw dengan beberapa orang, ketika ditanya, “lagi dimana?”. Jawaban “KASUR“, itu pasti adalah suatu hal sangatlah sering terjadi. Sampe dibilang,

Anaknya Sobat Obah, Mbokne Sobat Mamah tur Rebah!!

Posted in Uncategorized

Perempuan, Para Mpu Kehidupan

Hidup kita semua gak bisa lepas dari yang namanya perempuan kan. Minimal banget,  kita lahir lewat rahim seorang perempuan. Perempuan yang mau merelakan sebagian dirinya hilang untuk menemui sesosok makhluk yang dia tidak kenal.

Kalo kita mengenal konsep TRIMURTI, maka kata perempuan itu bisa menjelma sebagai perwujudan dari trimurti tersebut. Perempuan yang pertama kali kita lahir ke dunia. Perempuan yang menemani selama perjalanan di dunia. Perempuan yang akan memandikan ketika gw berjubah kain kafan.

Mbok Pikul di Pasar Bringharjo

Ketika challenge cuma memperbolehkan bercerita tentang satu sosok perempuan, tentu saja kutak sanggup. Karena, tak terbilang jumlah perempuan yang terlibat dalam membentuk diriku yang sekarang.

I’m cherry-picking, INDEED!!!

Gw akan selalu mengingat dan menjadikan their best personal traits sebagai titik acuan bin sumber panutan. Gw toh gak bakal menjadi orang yang naif, ketika gw lihat ada keburukan. Mau berbilang betapa buruknya mereka, tetep aja their bests that makes me in awe!!

Gw bakal mulai nge-list beberapa nickname yang akhir-akhir ini hadir dalam kehidupan gw. TIDAK UNTUK MENGECILKAN peran perempuan yang lain, tapi kalo gw list semua. Niscaya, jempol gw yang gagal kecil 😅😅 *nangseebb go-blog by hape

  • Duo mabuk: ini sebenernya sebuah grup trio, bareng gw. Ketika ada meme yang bilang kalo grup WA bertiga itu kayak jualan musang. Ya itulah kami. Percaya atau nggak, gw pernah kirim parcel buah, dengan notasi pengirim grup mabuk-mabukan 🤣🤣 2 orang lain yang terjebak hingga doyan mabuk jajan bin dolan adalah Maklel n Tjimol.
  • Maklel: the real entrepreneur berbonus lieur bener 😆😆😆 ups-downs dunia bisnis udah kemlekaren kayaknya. Dari bisnis perintis, maupun sebagai pewaris. Yet, dia bisa ngader anak mbarepnya untuk mulai jadi pebisnis.
  • Tjimol: apa yang kalian bayangkan tentang kata Cimol? Yaks, seperti itulah dia. Kenyal chewy-nya cimol itu bisa untuk menggambarkan betapa resilient-nya dia untuk ambil jalur uji nyali for being a PhD Mama. Being cherished n flavorful is indeed her persona. Tambahan mecin kehidupan kalo pas nontonin dia live di IG.
  • MakZida: begitu simas menyebutnya. Seorang fighter-single mom donatur daster dan segala macam pakaian, dari luaran hingga daleman 😌 gak usah gw tulis panjang, soalnya dia hobi mbenduli matanya dengan menangis semalaman.
  • Ulil: Bunda yang berjibaku ngrumat 3 anak lelaki plus 1 anak bontotnya mertua. Perkara itung-itungan bisnis sama dia ini, wih sungguh realistis. Dia jelas mengusahakan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya.
  • Ndori: udahlah yaaa… I can’t thank her enough! Bocah ngeyel dan banyak mau ini yang demen banget nge-skakmat emaknya.
  • Ndoro Njai Ika: an avid Bu Tedjo fan. Gw sering tektokan perkara gosip panas terbaru sampe minta bocoran gosip lainnya 🤣🤣 having her thoughts sebagai budhe yang ngematke pendidikan para ponakan, jelas nambahin POV untuk gw.
  • Mbokne Jimbul: ketika idup kurang tantangan, maka dia tantangin. Sobat ngglinding aspal, bersangu tolak angin. Sesuk, aku cukup mbok critani wae, yo opo rasane jadi maba di usia 40.
  • Kucrit: being wibu to the max. Mak Cilok yang tau apa yang terbaik for her family sanity. Bukan cuma anak dan suami, tapi makbapak (alias makbapaknya gw juga), sampe ke ade iparnya juga dia turut andil. Thanks, Crit, untuk utangannya 😆😆
  • Walas ndori kelas 9: Halo, Miss! Teriebak dalam quarter life crisis gak membuatmu down. Tanganmu pernah dingin, mukamu pernah pucat. Tapi, semangat untuk membersamai bocah yang mulai banyak ulah, tidak membuatmu lelah.

Perempuan sebagai panutan. Tema yang sebenarnya beban untuk gw. Karena gw adalah perempuan. Seorang perempuan yang masih sering kali goyah dan mudah lelah. Sungguh bukan tipe panutan.

Mungkin gw memang belom qualified untuk menjadi panutan. Tapi, percayalah gw sosok yang cocok untuk menggambarkan nundutan 😏😏😏 (*nundutan = ngantukan, gampang ngantuk dalam bahasa sunda)

Posted in life

Bocah Kinderjoy

Mengawali hari dengan #30HariBerceritaSepuluh … kemaren2 post d ig aja, sebagai feeds… tapi ini karena bertema, kayaknya enakan di blog 😆😆

——————-

Sepuluh tahun bisa dibilang waktu yang lama atau bahkan sebentar untuk mengenal orang. Kepindahan kami ke Jogja di medio 2013, otomatis umur pertemanan dan relasi yang terbentuk ada di kisaran sepuluh tahun juga.

Sebagai emak beranak, BIASANYA lingkungan pertemanan terdekat ada dari lingkungan sekolah. Tapi, seiring berjalan waktu pertemanan macan ternak (mama cantik anter anak) ini juga akan mengalami pemekaran, anak-anak yang terpisah sekolah dan kepentingan. Pemekaran di bodi emaknya, BISA DIPERTIMBANGKAN 😌😌

Pertemanan organik lain yang mungkin terbentuk adalah dari sesi kopi darat di arena medsos. Nah, dari pertemanan medsos inilah gw kenal Si Bocah Kinderjoy (kita sebut aja demikian 🤣🤣). Awalnya pasti karena gw temenan duluan sama emaknya lah ya, dan si Kinderjoy ini bisa dibilang sebaya lah sama Ndori. Umurnya cuma dua tahun dibawah Ndori.

Pertemuan sama Bocah Kinderjoy ini cukup intens ketika si Bocah menginjak TK dan SD awal. Dan, bisa dibilang lost contact ketika masa pandemi. Selama 4 tahun gak pernah ketemu blass sama ni bocah tengil satu. Kalo sama maminya, masih sempet ketemu beberapa kali. Karena, memang mamak-mamak ini seringkali curi-curi waktu ketemuan di kala anak-anaknya bersekolah 😆😆

Gw inisiatif untuk ngontak lagi ketika ni bocah kelas 6 SD. Bocah yang terlatih jadi “anak kost” sejak SD. Oh tentu dengan bantuan si Ndori, kusuruh Ndori yang mintain nomor WA si Bocah.

Hal yang kurasa berbeda (dan cukup bikin kaget) ketika ngajak ketemuan adalah, “Mbu, aku tu sekarang anak pemalu. Aku gk mau ketemuan klo sendirian aja”.

Seorang Bocah Kinderjoy, yang biasanya sugar-rush, impulsif, dan hayuk-gas poll ketika diajak jalan, seketika menjelma jadi anak pemalu. Entah, apakah faktor pubertas atau ada faktor lainnya. Gw berusaha mengerti, jadi sengaja nyari waktu yang pas Ndori juga libur, jadi bisa bertigaan ketemunya. Karena dia ngaku, dia bingung klo cuma berduaan sama si ambu, dia gak tau mau ngapain.

Pas ketemu, udah bisa diduga, beneran pemalu banget dia. Kek mana, gw yang kenalnya sebagai bocah ketawa ngakak, tetiba dia klo ketawa mulutnya pun ditutup. Owww Man, I LOST THE OLD YOU Lee!!!!I

Did puberty hit you hard, Leee??!! Atau kehilangan sosok Kaik yang selalu menemanimu di rumah?

Terlepas dari itu, dia sempet-sempetnya nantangin gitu, “Mbu, aku makannya banyak lho. Aku 5 porsi ya boleh ya Mbu?”. TERSERAH Lee… TERSERAH, asal kau bahagia 🤣🤣🤣 dan akhirnya menyerah di ronde ketiga 😆😆😆

Sekian bulan kemudian, bisa ketemu lagi sama dia di Bali. Karena dia pindah ke Denpasar, dan pas gw kebagian jaga gawang si cilok.

Perbedaan kali ini SANGAT KENTARA, dia balik ke setelan Bocah Kinderjoy yang meluap-luap dan penuh energi. Ternyata, dia butuh tempat baru untuk bertumbuh. Tapi, menurut dia, karena dia di Bali ini sering jadi anak pantai 😆😆 yaa gmana, jaman di Jogja dia anak gunung, buka pintu rumah kost langsung terhampar perkebunan salak dan Merapi dengan gagah ngajedog di sana 😅😅

Dan, dia mulai bisa menentukan pilihan. Ketika bulan Mei ditanya, mau makan apa dan dimana, dia akan jawab, “terserah Ambu aja”.

Tapi, ketika di bulan Agustus, dia dikasih pilihan, dia bisa jawab, “Mbu, kalo gacoan aja gimana Mbu? Aku belom pernah lhoo makan gacoan. Tapi, yang gak pedes ya Mbu.”

Gacoan date bersama Bocah Kinderjoy

Dan, sepulang dari Gacoan, mampirlah kami ke indoalpa (sebenernya lupa sih mampir ke merk yang mana). Dia pun mborong kinderjoy 🤣🤣 pas lagi diskon kalo gak salah waktu itu. Kinderjoy itu jadi syarat utama kalo mau ngajak dia nge-date 🤣🤣 Kagetnya, ini bocah SMP koq bisa-bisanya tetiba ngoleksi maenan Kinderjoy. Si produk coklat olahan yang biasanya jadi inceran bocil-bocil usia TK.

Sepuluh tahun waktu yang dilewati dengan ups-downs pertemanan cewek-cewek. Mungkin dia bingung kenapa circle-an ceweknya yang jaman dulu tersisa si Ndori doang. Dari bocah playgroup, sekarang kesemuanya udah jadi anak SMP.

Lee, gak semua hal harus dipahami dan dimengerti. Kadang, dengan kita gak tau, malah bisa jadi lebih baik.

Lee, makasih udah mau lepas dari hape pas jaman dulu di Gokana, dan ikutin permainan yang ambu bikin.

Lee, makasih untuk jadi anak kuat. Makasih untuk gak melepas mimpi. Dan makasih untuk mau terus mewujudkan mimpi.

Lee… keren lho mau nabung uang saku demi Kinderjoy!! Karena, sesuatu yang diusahakan hasilnya akan terasa lebih manis. Walo, diomelin mami karena jajan kinderjoy terus 🤣🤣🤣

Lee… tetaplah jadi kaya Kinderjoy!! Bentuk dan rupa boleh sederhana, tapi selalu membawa sesuatu yang manis dan bikin surprise.

Ingat Lee, penting untuk menjadi sesuatu yang mahal, karena pastinya orang akan mau berkorban untuk mendapatkannya.

Dengan seizin Bocah Kinderjoy
Posted in Uncategorized

Pendakian Terjal Jalur Pendidikan

Uhuyyy… berasa uwaaboott yaa judul e… sebagai emak-emak (dan ortu pada umumnya), rasanya urusan pencarian sekolah ini teu anggeus-anggeus…  AINGAAAHHH!!! Internal growling

Bukan hal aneh yaks, semester 1 ini belom juga berakhir, sedangkan beberapa sekolah hits dan gawooll SUDAH MENUTUP pendaftaran untuk tahun ajaran baru. Yang mana nih yaaa… tahun ajaran baru kan baru mulai di Juli yaa Sisstaaahh…

Apakah hal itu bener? Yaa bener-bener aja sih… yg gak bener klo harus disuruh segera bayar 🤣🤣 SETUJU TIDAAKK BOEEBOOO 🤣🤣 sebenernya udah tau sih bakalan ditagih juga, cuma tetep ada rasa beraatt 🤣🤣

Pada umumnya, semua orangtua pasti pengen pendidikan terbaik sesuai versinya masing-masing untuk anak-anaknya. Daaaann, jreeng… SEKOLAH yang biasanya jaminan mutu, harganya juga menusuk jantung menghujam kantong… bukan cuma harga eksplisit kayak uang pangkal, SPP, dkk… justru pengeluaran non-eksplisit yang gak punya limit batas atas…

Kenapa sih pada pengen di sekolahan yang bagus? Bukan cuma masalah deliver materi ajar antara guru-murid, tapi ortu kepengen anknya dapat lingkungan yang bisa nyokong kehidupan anak ke depannya. Klo istilah anak jaman now, CIRCLE.

Relasi-koneksi ini yang sebenarnya JAUH LEBIH MAHAL BAYARANNYA dibanding sama uang SPP itu. Entah untuk si anak atau malah berpengaruh ke ortunya sendiri. Untuk anak mungkin akan kerasa pengaruhnya ketika mereka dewasa.

Gw sendiri ngerasain MANFAAT dari yg namanya circle ini ketika udah dewasa. Ya minimal bisa dapet gratisan soto lah ya di warung temen 🤣🤣 walo pada akhirnya, lebih sering gk bilang ke dianya klo gw mampir warungnya.

HARGA YANG DIBAYAR UNTUK sirkelan oke di masa depan, KADANG NYAKITIN 😅😅 Klo hiking-trekking naek gunung jelas lah, minimal ya betis dan paha membara… Nah, gimana ketika pergaulan remaja ini lintas kelas sosial? Kemungkinan untuk jatuhnya korban itu amat sangat mungkin terjadi. Yang sering terlihat adalah, ketika anak-anak beasiswa yang masuk ke sekolah elit, mereka akan menjadi korban dari pergaulan. Entah dari sekedar pamer barang, ataupun bahkan sampe power abuse dari si tajir. Karena, mereka paham anak beasiswa itu gak akan berulah. (PLISS PLISS … RAPI JALI 1-2 by Dewi Dee itu sangat relate untuk hal ini)

Apakah tidak ada korban dr si kaya? Owwhh tentu saja ada… mereka harus menurunkan standar  kenyamanan untuk bergaul sama si miskin (jahat ya bahasa gw, tp bingung untuk menentukan diksi lainnya) mereka yang biasa nginep di hotel bintang 5, bahkan sudah dikenal oleh segenap staf hotel karena ortunya merupakan reguler/member dari hotel berbintang, ketika acara dari sekolah, mereka harus bisa ngerasa nyaman dengan hotel bintang 3. Ketika terbiasa disupiri kelas Alphard, njomplang kan rasanya harus berombongan umpel-umpelan naek Xenia/Avanza.

Ada obrolan sama guru di sekolah, ngebahas tentang wealth gap gitu. Menurutnya, sebenernya si anak kadang gk merasa keberatan untuk menurunkan standarnya, TAPI tentangan bin tantangan besarnya justru datang dari orangtua. Blio pernah ditelpon sama ortu, untuk memindahkan kamar hotel anaknya ke kamar hotel yang minimal bintang 4. Ataupun, pernah juga itinerary perjalanan si anak itu dianggaplah amat outdated bin jadul. Si ortu mengkhawatirkan si anak yang nantinya gak bisa bikin konten untuk sosmed, karena tempat tujuan di perjalanan adalah bukan tempat-tempat yang FYP.

Sebagai ortu yang anaknya berada di celah wealth gap gini… jujur aja gw baru bisa ngerasa ada di “dunia lain” bidang pendidikan yang seperti ini … dan jadinya balik lagi pada tujuan awal…

Misi yang bisa gw jejelin k ndori untuk naek kelas ini yang paling mungkin itu ada di sektor pendidikan. Dan, ketika si ndori memilih jalur pendidikan lanjut yang gk cuan‐oriented apakah gw merasa salah dan kalah? Gw bisa jawab tegas, NGGAK!!! Ketika, dia bisa didukung oleh pihak guru di masa SMP ini untuk menjadi IDEALIS MENTOK dan being uniquely herself. Gw anggap itu REWARD MAHAL dari semua yang udah kita bayar price wise dan EMOTIONALLY!!!

Hayoooo semangat para orang tua… Sekolah untuk menjadi orangtua itu gak ada… yang ada cuma PEMBELAJARAN SEUMUR HIDUP!!!

Posted in Uncategorized

AKU BERARTI, AKU BERHARGA

Namanya mau akhir taun kan yee, suka ada aja gebrakan dan GABRUKANNYA… udahlah November sampe awal Desember itu rasanya…. hwwiiiiii…. kayak naek kora-kora di seat paling belakang, tapi ngampet jejeritan bin teriakan… mau teriak, tapi cuma bisa mangap ….

Episode Gabrukan, kututup sudah. Walo, lebih tepatnya kututup paksa dan sepihak. YOU’RE NOT WORTHY FOR MY ENERGY yet time!!! Alhamdulillah punya anak dan suami yang ngebantu emak yang saklar emosiannya setebal tungsten lampu pijar 5 watt untuk tetep bersikap wajar, konslet dikit bisa makin gahar 🤣🤣🤣

GEBRAKAN ini yang kayaknya bisa bikin gw ni semakin banyak bersyukur dan ngurangin banyak mau 🤣🤣 walo susyeee yah bookk 😅😅😅

Alhamdulillah, pengabdian Simas yang sejak Agustus digagas, dibahas, sampe ngerahin mahasiswa untuk bertugas… RAMPUNG SEMUA per tanggal 11 Desember kemaren… sekalian ngepas-in sama Hari Disabilitas … karena apa, event nya emang pengabdian untuk para siswa Tuli (yaa klo jaman old nyebutnya Tunarungu) … Tuli di sini ditulis dengan T kapital.

Gak mudaaahhh untuk ngejalanin program ini, karena selain pesertanya spesifik (siswa Tuli usia remaja), dan posisi SLB yang tersebar di segala penjuru… 3 SLB di Sleman, dan 1 SLB di Bantul…

Posisi di Sleman pun jangan dibayangkan Sleman bagian UGM ataupun Jakal bawah… Sleman hampir perbatasan sama Magelang yang ada 🤣🤣 ataupun Sleman yang harus keluar gedung untuk dapet sinyal hape yang oke 😆😆 …. fun fact: gw pernah sampe lintas provinsi cuma perkara mau nyari puteran di Jalan Magelang untuk ke SLB 😄😄😄

Tujuh kali pertemuan ke masing-masing SLB, kemudian ditutup dengan Hackathon yang mengumpulkan semua peserta pelatihan.

Di hari H pas pelaksaan Hackathon, seperti biasa gw berperan sebagai pemaen gobak sodor, alias mengisi bagian mana aja yang kosong dan kekurangan orang. Sebagai LO iya, sebagai administrasi iya, sebagai keuangan iya 🤣🤣🤣 CUMA KAGAK BISA JADI PEMATERI SAMA JURI DOANG GW TUU 😂😂😂

Daripada LO, sebenernya gw lebih jadi temen ngobrol untuk para kepala sekolah dan kolega simas yang kantornya menggelontorkan duit untuk acara ini.

Don’t ask me how, pokoknya seperti yang udah-udah, gw tuh gampang nyutik orang untuk ngobrol banyak, tanpa gw perlu banyak effort untuk ngobrol 🤣🤣🤣

Naahh, GONG BANGET DI SINI untuk gw!!! Ketika ngobrol sm seorang kolega yang juga booeeboo ini, si ibu ini bilang,

“Mbak, makasih ya ini, saya tau Pak Yudhi pasti banyak dibantu sama istrinya. Dari awal Pak Yudhi berangkat (taun lalu k kampung ndori), sampe Bapak harus bolak-balik Jakarta. Ini pasti Mbaknya yang handle semua kerjaan Pak Yudhi di Jogja. Saya liat Pak Yudhi itu passionate banget ini ngerjainnya, dan beliau tetep bisa keluar kota sambil project ini tetap jalan”

HWAAAA….. RASANYAA GW MAU MEWEK DI TEMPAT!!! Apalaahh arti one-way 25 km  untuk ke SLB klo dapet apresiasi kayak gituu… si ibu ini tau banget brapa jumlah nominal yang diglontorkan, dan menurut dia TIDAK CUKUP BESAR… Yang dia liat, effort-nya Simas GAS POL LOSS DOLL untuk acara ini…

Gw yang sempet ngerasa kecil gegara geger gabrukan di awal Desember, itu jadi kayak langsung digrojog saweran nobel bidang kemanusiaan….

Di situ gw makin yakin,

GW BERHARGA, GW BERARTI …

Gw gak perlu koar-koar tentang apapun… AKAN SELALU ADA ORANG YANG BISA LIAT VALUE KITA. Kalo kata simas,

Terserah orang mau bilang kita miskin, selama kita solid, kita punya integritas, punya visi misi… MEREKA SEMUA WORTHLESS

Dandan kayak gini jadi dipanggil MBAK sm mahasiswa n kepsek2 🤣🤣