Bukan lautan hanya kolam susu .. Katanya
Tapi kata kakekku, hanya orang-orang kaya yang bisa minum susu.
Kail dan jala cukup menghidupimu, tiada badai tiada topan kau temui .. Katanya.
Tapi kata kakekku, ikannya diambil nelayan-nelayan asing.
Ikan dan udang datang menghampirimu .. Katanya.
Tapi kata kakekku, ssstt.. ada udang di balik batu.

Sepenggalan puisi yang dibacakan seorag bocah dalam film karya Deddy Mizwar, Tanah Surga (Katanya)[1], menambah ingatan tentang tanah air yang kita tempati saat ini, Indonesia. Kekayaan alam, budaya, bahasa, suku, sumberdaya manusia dan masih banyak lainnya merupakan bukti dari kemakmuran negara yang dijuluki zamrud khatulistiwa ini. Belum lagi letak geografis Indonesia yang sangat strategis membuatnya dilalui jalur perdangan internasional. Berbagai hal tentang itu semua telah kita kenal sejak sekolah dasar.
Kekayaan yang sangat melimpah itu nampaknya belum mencukupi semua kebutuhan seluruh masyarakat Indonesia. Terlihat kemiskinan masih banyak dialami oleh mereka yang berada di pinggiran kota dan pedesaaan. Meskipun data yang disampaikan BPS menyatakan sampai dengan tahun 2011, tingkat kemiskinan nasional telah dapat diturunkan menjadi 12,49 persen dari 13,33 persen pada tahun 2010, namun hal ini tampak menjadi permainan politik orang-orang yang masih ingin mendapatkan jabatan pemerintah di tahun-tahun mendatang. Gambaran kondisi masyarakat dalam film Laskar Pelangi[2], Tanah Surga (Katanya), Alangkah Lucunya Negeri Ini[3], dan film-film lainnya sudah cukup menggambarkan kondisi sosial masyarakat yang benar-benar ada di Negara Indonesia.
Masalah pengangguran pun menjadi bagian dari masalah kemiskinan dengan jumlah pengangguran yang tidak sedikit. BPS (Badan Pusat Statistik) pada tahun 2011 sudah melansir jumlah pengangguran di negeri ini mencapai 8% dari jumlah angkatan kerja. Sekitar 12,8 juta jiwa masyarakat Indonesia menganggur, baik pengagguran terbuka maupun pengangguran paruh waktu. Sedangkan tahun 2012 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) usia muda, 15-29 tahun, di Indonesia mencapai sudah 19,9% atau tertinggi di kawasan Asia Pasifik. Sehingga dapat disimpulkan adanya penambahan jumlah pengangguran dari tahun ke tahun disamping dengan bertambahnya lulusan yang keluar dari berbagai lembaga pendidikan dan pertumbuhan peduduk yang semakin meningkat.
Julukan negara maritim, agraris dan seribu pulau seharusnya menjadikan negeri ini kaya akan berbagai sumber daya alamnya. Darat menjadi sumber hasil pertanian, laut dan perairan lainnya menjadi sumber hasil perikanan. Belum lagi hasil tambang yang dimiliki Indonesia. Hitungan kasar menunjukkan tambang emas Freeport yang telah dibuka dari tahun 1998 telah mengasilkan 7,3 juta ton tembaga dan 724,7 juta ton emas. Hasil tambang tersebut jika diuangkan dapat menjadi 217.410 biliun rupiah[4]. Seharusnya dari tambang emas ini saja kita dapat melunasi hutang Indonesia US$178 miliar di tahun 2009.
Namun, apakah memang kekayaan yang Indonesia miliki itu belum cukup untuk menyejahterakan seluruh masyarakat Indonesia? Sebuah pertanyaan yang perlu dikaji lebih mendalam, kemana dan untuk apa kekayaan itu digunakan? Seharusnya kekayaan itu dapat digunakan untuk mengatasi segala permasalahan bangsa. Pemerintah yang paling bertanggung jawab untuk mengelola semua kekayaan alam untuk dipergunakan demi kepentingan rakyat tampaknya belum dapat memaksimalkan kinerjanya. Anggota DPR pun memiliki banyak catatan hitam, meskipun kita tak dapat memungkiri masih banyak tokoh di DPR sebagaimana Gordon di tengah kekacauan yang terjadi di kota Gotham[5]. Belum lagi kisah para pejabat daerah yang kotor dengan intrik-intrik politiknya, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan yang diinginkan.
Persoalan korupsi tampaknya dapat menjadi salah satu jawaban atas pertanyaan larinya hasil kekayaan yang Indonesia punya. Indonesian Corruption Watch (ICW) mengungkapkan selama tahun 2011 pelaku korupsi banyak yang berlatar belakang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tersangka berlatar belakang pegawai negeri menempati urutan teratas dengan jumlah 239 orang diikuti oleh direktur atau pimpinan perusahaan swasta dengan 190 orang, serta anggota DPR/DPRD dengan jumlah 99 orang.
Masalah korupsi dan berbagai masalah pada banyak sektor stategis bangsa di Indonesia akan bersinggungan dengan karakter kepemimpinan yang dimiliki para pemangku jabatan publik. Seorang pemimpin seharusnya memiliki karakter kejujuran disamping kemampuan memimpin yang baik. Maka sebuah pertanyaan besar terhadap karakter kejujuran para pemimpin kita di saat banyak yang terjebak kasus korupsi. Belum lagi adanya kasus-kasus yang berhubungan dengan moral juga menimpa para pengambil kebijakan. Mulai dari issu pelecehan seksual sampai perselingkuhan tidak jarang terdengar di dalam media pemberitaan[6]. Terlepas dari kebenaran berita tersebut, namun itulah yang kurang lebih terwajahkan pada sosok pimpinan kita.
Ironis rasanya melihat Indonesia yang notabene sebagian besar -bahkan hampir semua- masyarakatnya Muslim tapi para pemimpinnya tidak mencerminkan karakter seorang pemimpin yang islami. Setidaknya hal itu terlihat dari apa yang telah dibahas sebelumnya terkait masalah-masalah kepemimpinan sang pejabat negara.
Solusi Kepemimpinan
Islam mengajarkan kepada kita bahwa seorang pemimpin seharusnya memiliki karakter Islami yang semuanya dicontohkan oleh Rasulullah dan para Sahabat. Karakter Iman dan tauhid menjadi karakter dasar seorang pemimpin yang Islami. Kita akan merindukan hadirnya sosok pemimpin sebagaimana seorang Abu Bakar r.a. yang memiliki akidah yang kokoh dan kuat, memiliki tujuan akhirat pada apa yang dilakukannya, dan senantiasa tawakkal terhadap apa yang telah beliau ikhtiyarkan. Demikian pula dengan sosok Umar r.a. yang senantiasa meneladani apa yang telah diajarkan Rasul kepadanya, selalu merujuk pada syariah Allah SWT, dan tidak menguduskan ijtihad manusia. Atau sosok Utsman r.a. dan Ali r.a. yang senantiasa istiqomah meskipun fitnah banyak menimpa dirinya, tidak melupakan interaksi dengan Al-Quran dan Sunnah, dan berusaha mengikat diri dengan akhirat. Akhlaq para Khulafaaur Rasyidin meneladani sepenuhnya apa yang dicontohkan Rasulullah. Sikap mereka luhur terhadap sesama muslim dan orang-orang yang di luar muslim, bahkan terhadap para musuhnya.
Para Khulafaaur Rasyidin tidak hanya memiliki kapasitas seorang pemimpin secara eksternal saja, tetapi mereka juga berhasil mengiternalisasi nilai-nilai Islam dalam setiap langkah kepemimpinannya. Kepemimpinan mereka tak diragukan lagi karena berhasil mencetak sejarah yang sangat berpengaruh pada perkembangan Islam hingga saat ini. Abu Bakar memulai untuk menghimpun Al-Quran yang nantinya dibukukan pada zaman Utsman bin Affan, Umar bin Khattab yang akhirnya dapat menaklukkan Persia sebagaimana janji Allah lewat Nabi Muhammad SAW, dan Ali bin Abi Thalib yang mulai menerapkan hukum Qishas. Masih banyak prestasi yang mereka torehkan dalam sejarah Islam.
Konsep kepemimpinan Islam seharusnya dapat mengatasi masalah-masalah moral dan taktis dalam dunia pemerintahan. Kehadiran Allah sebagai pengawas abadi dapat membuatnya senantiasa untuk berfikir jernih dalam memutuskan setiap kebijakan. Para khalifah-khalifah terdahulu sudah selesai dengan pertanyaan-pertanyaan terkait aqidahnya sebelum mereka menjadi khalifah, sehingga pelanggaran-pelanggaran hukum pun dapat dikatakan mustahil mereka lakukan karena rasa takut kepada-Nya.
Mencari Sosok Pemimpin
Mencari sosok pemimpin ideal merupakan sebuah PR besar bagi bangsa Indonesia. Kepemimpinan ala Nabi dan para Sahabat yang dapat menjadi solusi atas masalah-masalah kebangsaan perlu ada yang menerjemahkan. Sosok santri mungkin dapat menjadi solusi atas masalah bangsa yang berlarut-larut. Perjalan menimba ilmu agama di Pondok Pesantren dapat menjadi bekal untuk menjalankan roda kepemimpinan di masa mendatang. Pemahaman aqidah yang mendasar seharusnya telah diberikan oleh para kiyainya untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai seorang santri, dimana istilah itu merupakan sebutan bagi sebagai seorang yang pernah mondok di pesantren, dituntut untuk senantiasa survive dimanapun dia berada. Kebutuhan santri dalam aktivitas keseharian senantiasa berkembang pesat, bahkan jauh berubah seiring dengan dunia baru yang dimasukinya. Aktualiasi santri akan bermakna jika mampu merevitalisasi tradisi pesantren yang dilalui sebelumnya dan bukan keluar dari tradisi pesantren. Karena jika keluar dari pesantren maknanya santri akan menjadi sosok yang tidak baik, seperti jarang shalat kalau tidak dibilang malas shalat, jarang puasa, malas jama’ah shalat di masjid, malas mengaji Al-Quran, bahkan tidak puasa, tidak shalat, selalu pacaran.
Kaum santri selama ini harusnya dapat lebih taat memenuhi ajaran agama dan gigih memperjuangkan berlakunya syariah baik secara formal dalam berbagai bentuk perundang-undangan atau pun secara fungsional melalui sosialisasi nilai-nilai moral ke dalam setiap praktik kekuasaan dan kehidupan sosial. Kemampuan aktivis politik dari kaum santri seharusnya melakukan praktik politik yang bukan hanya demokratis, melainkan sekaligus juga bersih, sehat dan bermoral. Namun kesalehan normatif itu memerlukan sejumlah bukti empiris, sehingga meyakinkan publik akan penting dan manfaatnya tujuan ideal politik santri bagi kepentingan orang banyak, melalui praktik politik yang sehat dan bersih tersebut.
Kini saatnya aktivis politik santri itu untuk tampil full-human (hablu min al-naas[7]) sebagai realisasi keyakinan teologisnya dalam mendekati Tuhan (hablu min allah[8]) ketika sistem politik semakin terbuka walaupun seringkali juga membuka maraknya “politik-uang”. Kegiatan politik bagi kaum santri bukanlah sekedar kerja duniawi melainkan sekaligus sebagai ibadah memenuhi perintah-Nya guna memperoleh ridha dari-Nya. Keyakinan itu tentu sudah seharusnya dipahami para aktivis politik dari kaum santri, namun yang amat perlu disadari ialah bagaimana merealisasikan keyakinan itu menjadi sebuah aksi kemanusiaan yang bersih dari cacat moral dan dirasakan manfaatnya oleh rakyat yang memilih tidak terbatas hanya bagi komunitas partainya, tidak terbatas komunitas santri, melainkan bagi sebanyak mungkin warga republik ini.
Praktik politik bermoral ilahi tersebut sekaligus merupakan koreksi terhadap gejala politik sebagai praktik kekuasaan yang kotor secara moral dan culas secara sosial. Seleksi moral ini akan merupakan metodologi atau cara paling kultural agar perjuangan politik berakar teologi memperoleh dukungan politik rakyat kebanyakan sebagai mayoritas pemilih. Dari sini kita bisa membayangkan sebuah kehidupan politik nasional yang menjadi fondasi kemakmuran rakyat dan bangsa yang semakin saleh sebagaimana dicita-citakan Islam.
Karena itu menjadi penting bagi kaum santri untuk bersedia menunda pemenuhan kepentingan sesaat dan kepentingan dirinya sendiri, atau menjadikan pemenuhan kepentingan itu sebagai bagian integral kepentingan ilahiah. Aktivis politik santri harus bisa menjadikan dirinya sebagai wajah Islam dalam dunia politik seperti model Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan indahnya Islam. Aksi dan agenda politik kaum santri harus bisa dibedakan dari kebersihan moralnya dan kepeduliannya kepada kepentingan rakyat banyak, bukan sekedar bagi kepentingan politik golongannya sendiri, terlebih bukan hanya untuk mencari keuntungan ekonomi sang aktivis.
Seluruhnya terpulang kepada para aktivis politik santri untuk bersedia melakukan praktik politik yang bukan sekedar meraih kekuasaan dan bukan sekedar menjadikan kekuasan hanya untuk memenuhi selera materi. Bisa jadi praktik politik santri tidak lebih hanya bentuk hubbuddunya wa karoohiatul maut[9]; mencintai kehidupan dunia secara berlebihan, tetapi takut mati jika hanya takut tidak memperoleh keuntungan ekonomi semata. Hal ini harusnya menjadi evaluasi yang mendalam bagi mereka (para santri) yang berilmu dan memiliki hati nurani. Perlu disadari bahwa Allah akan memihak kaum santri manakala mereka memihak pada kepentingan rakyat banyak (innallaaha fi ‘aunil abdi ma kaanal ‘abdu fi ‘auni akhiihi[10]).
Mencari Inspirasi Dari Sang Ahli
Tidak sedikit kaum santri yang memutuskan untuk berkiprah dalam pentas kepemimpinan (politik) nasional. Pengalaman, prestasi, dan kesalahan mereka seharusnya dapat dijadikan pelajaran untuk dapat diimplementasikan dalam kehidupan yang akan datang. Karena sosok santri menjadi salah satu harapan untuk memecahkan segala macam permaslahan bangsa yang makin parah.
Salah satu tokoh santri yang telah banyak berkiprah di pentas perpolitikan nasional adalah KH. Abdurrahman Wahid. Mantan presiden Indonesia Abdurrahman Wahid, yang kerap dipanggil Gus Dur ini, menjadi orang nomor satu Indonesia dari tahun 1999 sampai 2001. Ia adalah presiden yang terpilih, setelah jatuhnya rezim Soeharto yang sebelumnya telah memerintah selama 32 tahun dan akhirnya lengser pada tahun 1998. Ulama nyentrik ini memangku tahta kekuasaan di Indonesia setelah mengalahkan Megawati Sukarnoputri, yaitu putri dari Presiden Soekarno, pada Oktober 1999.
Mantan presiden yang pernah menjadi santri di Pesantren Krapyak, Pesantren Tegalrejo, dan Pesantren Tambakberas di Jombang memiliki banyak prestasi di masa kepemimpinannya. Ia mendapat penghargaan dari Simon Wiesenthal Center, sebuah yayasan yang bergerak di bidang penegakan Hak Asasi Manusia. Wahid mendapat penghargaan tersebut karena menurut mereka ia merupakan salah satu tokoh yang peduli terhadap persoalan HAM yang salahsatunya meredam konflik GAM. Dibalik kotroversi kasus bulogate, berbagai ide segar dan terobosan dilakukan di Bulog dan telah membuat performa Bulog yang sebelumnya rusak menjadi bagus. Agustus 2001 Bulog memiliki triliunan rupiah di kas Bulog yang telah ramping dan lebih transparan.
Tokoh santri lain yang memiliki catatan perjalanan politik yang gemilang adalah Prof. Dr. Muhammad. Amien Rais, MA. yang lebih populer dikenal Amien Rais. Beliau merupakan sosok pemimpin terpercaya di republik ini. Sebelum banyak beraktifitas di berbagai bidang Amien Rais sempat mengikuti pendidikan agama di Pesantren Mamba’ul Ulum. Ia juga pernah menjadi santri di Pesantren Al Islam. Sebagai ilmuwan dan akademisi sekaligus Guru Besar Ilmu Politik di Universitas Gadjah Mada, Amien Rais berperan sebagai dosen dalam beberapa mata kuliah. Selain itu, Amien Rais mengelola Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan (PPSK)[11]. Konsistensi Amien Rais dalam menolak sikap lembek bangsanya terhadap intervensi asing dan budaya koorporatokrasi yang menjagal hak-hak dasar hajat hidup bangsa Indonesia sendiri terekam jelas dalam buah pikirnya pada buku: Selamatkan Indoenesia; Agenda Mendesak Bangsa.
Amien Rais yang juga dikenal sebagai Bapak Reformasi mendapatkan jabatan sebagai Ketua MPR RI di tahun 1999. Dalam posisi paling atas lembaga tertinggi negara itu, Amien Rais menjadi king maker regulasi demokrasi nasional. Bahkan dengan kepiawaian dan kecerdasan politiknya, Amien Rais menggulirkan gagasan Poros Tengah untuk membangun jalan baru dari dua titik ekstrim dalam kubu politik yang cenderung berlaku zero some game sebab tersandung kebekuan hubungan politik, sampai kemudian berhasil mencalonkan, mengawal dan sekaligus mengantarkan Abdurrahman Wahid ke tampuk kursi Presiden ke-4 RI.
Satu lagi tokoh santri yang pernah berkiprah di pentas perpolitikan Indonesia, yaitu DR. H. M. Hidayat Nur Wahid, MA. Ia politisi, ustadz dan cendekiawan yang bergaya lembut serta mengedepankan moral dan dakwah. Sosoknya semakin dikenal masyarakat luas setelah ia menjabat Presiden Partai Keadilan (PK), kemudian menjadi Ketua Umum Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Partai ini memperoleh suara signifikan dalam Pemilu 2004 yang mengantarkannya menjadi Ketua MPR 2004-2009. Hidayat Nur Wahid menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat setelah mengalahkan Sucipto dengan selisih hanya dua suara dalam pemilihan yang berlangsung secara demokratis dalam Sidang Paripurna V MPR tanggal 6 Oktober 2004. Setelah memimpin MPR itulah nama Hidayat Nur Wahid dikenal luas sebagai tokoh yang sederhana dan sebagai ikon anti KKN.
Santri lulusan Pondok Pesantren Walisongo Ponorogo dan Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo ini juga memiliki berbagai prestasi dalam kepemimpinannya. Sebuah keyaninan yang kuat dimilikinya tentang politik, jika sejak awal dasarnya bukan ditujukan semata-mata untuk meraih kekuasaan, tetapi untuk mengartikulasikan gagasan melayani umat, dan mengartikulasikan organisasi sebagai sarana penyebaran dakwah, tentu dengan mudah konflik bisa dihindari.
Sebuah Tantangan
Beberapa tokoh santri yang sudah malang melintang di dunia politik atau kepemimpinan nasional telah menunjukkan kontribusinya. Kemampuan santri pun masih dapat dibandingkan dengan mereka yang tidak berlatar belakang sebagai seorang santri. Bahkan pengetahuan tentang agama dan kedekatannya kepada sang Raja segala Raja dapat dinilai sebuah sisi keungggulan bagi seorang santri yang menjadi seorang pemimpin. Namun tampaknya masyarakat masih belum percaya sepenuhnya kepada santri-santri untuk dapat memimpin.
Masih terekam dalam memori kita bagaimana sampai akhirnya seorang Gus Dur dilengserkan dari jabatan Presiden karena berbagai kebijakan kontrofersial yang dikeluarkan. Atau Amien Rais yang namanya malah meredup setelah jabatan ketua MPR dan Hidayat Nur Wahid yang gagal dalam bursa pencalonan DKI-1. Kekuatan politik Gus Dur, Amien Rais dan Hidayat Nur Wahid tampaknya belum mampu mengalahkan konspirasi politik dari orang-orang yang tidak menyukai Indonesia semakin berkembang menjadi negara maju. Oleh karena itu butuh sebuah konsolidasi besar-besaran antar para santri dan ulama Islam untuk dapat membangun bangsa Indonesia. Kemenangan Masyumi pada tahun 1955 dapat menjadi pecutan semangat bahwa umat Islam di Indonesia seharusnya dapat bersatu untuk turut serta membenahi permaslahan bangsa.
Kiprah santri dalam bidang politik tentu akan membuat warna berbeda di tengah kelamnya pentas politik nasional. Seharusnya para santri dapat membawa cahaya penerang untuk mengatasi berbagai masalah yang semakin menumpuk. Idealisme seorang santri pun harus tetap dibawa hingga akhirnya ajal datang menjelang. Al-Quran dan Sunnah juga menjadi landasan utama dalam berpolitik, melaksanakan perintah-Nya untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar[12].
Kampus: Kawah Candradimuka Jilid II
Dunia kampus merupakan dunia yang serba bebas dan, demokratis. hal inilah yang dapat menjadikan mahasiswa santri lebih nyaman dalam mengaktualisasikan dirinya ketimbang di ranah pesantren yang cukup banyak “memasung” kreativias. Di era sekarang pesantren sudah banyak berubah dan ada yang mengembangkan kreativitas terentu, namun di ranah politik tidaklah terlalu dahsyat. Hal ini disebabkan etos kerja santri layaknya seekor bebek yang senantiasa ikut majikannya, santri tidak jauh beda dengan kyainya, sang pemimpin pesantren. Berbeda sedikit dengan sang kyai, acapkali santri dihukum dan bahkan lebih dari itu bisa dimakzulkan.
Santri mahasiswa memiliki kelebihan dibanding mahasiswa lain yang bukan santri. Perbedaan dimaksud adalah adanya gembelangan yang baik di bidang etika, nilai-nilai keagamaan dan pelajaran kehidupan dalam masyarakat pesantren di mana ia berada.
Santri yang menjadi mahasiswa nantinya akan dapat memberikan warna baru dalam perpolitikan. Nilai-nilai ketuhanan (rabbaniyah) dan sosial kemasyarakatan dapat diaktualisasikan dalam menata kehidupan. Seiring dengan semangat kebersamaan dan keteuladanan bersama, maka kehidupan politik akan menjadi suatu yang baik. Hal ini hanya tinggal menunggu waktu untuk dibuktikan oleh para santri yang telah memiliki kapasitas dan kesadaran untuk berkontribusi lebih banyak.
Saatnya santri turun tangan!
[4] 217.410 biliun = 217.410.000.000.000.000.000
[5] Tokoh pahlawan manusia biasa dalam film Batman yang berjuang demi keadilan mengatasi berbagai kejahatan dengan pasukan polisi yang dipimpinnya.
[6] Kita dapat melihat berita tersebut di berbagai infotaiment
[7] Hubungan sesama manusia, hubungan kerjasama atau pergaulan dan sosialisasi yang dilakukan dengan sesama manusia
[8] Hubungan dengan Allah, kedekatan kepada Allah dengan ibadah ritual dan kerohanian
[9] Cinta dunia dan takut mati
[10] Sesungguhnya Allah akan membantu hamba-Nya selama dia membantu saudaranya
[11] lembaga yang konsen dalam kegiatan pengkajian dan penelitian sebagai bentuk keprihatinan atas terbatasnya produk kebijakan menyangkut masalah-masalah strategis yang berorientasi pada penguatan pilar-pilar kehidupan masyarakat
[12] Berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran
referensi
Ath-Thahthawi, Ahmad Abdul ‘Aal. 2009. The Great Leaders: Kisah Khulafaur Rasyidin. Jakarta: Gema Insani.
As Suwaidan, DR. Thariq M. dan Basyarahil, Faisal Umar. 2005. Sukses Menjadi Pemimpin Islami. Jakarta: Maghfirah Pustaka.
Barton, Greg. 2003. Biografi Gus Dur, The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid. Jakarta: LKis.
Kusuma, Yoga. 2007. Pemikiran Politik Hidayat Nur Wahid: Penerapan Syariat Islam dalam Negar Demokrasi. Makalah Individu Mata Kuliah Pemikiran Politik Indonesia. Universitas Indonesia.
Mulkhan, Abdul Munir. 2004. Politik Bagi Rakyat Politik Bermoral Ilahi. Suara Muhammadiyah Edisi 1.
Muzakki, Akh. M.Ag. 2004. Mengupas Pemikiran dan Politik Amien Rais, Sang Pahlawan Revolusi. Jakarta: PT. Lentera Basritama.