Puisi: Sebuah Mimpi

Standar

Di sebuah rumah
Di atas sebuah kasur yang nyaman
Ia memikirkan satu hal;

Es krim vanilla…
dengan lapisan cokelat renyah di atasnya
Ada emboss unicorn di lapisan cokelat es krim itu.

Ia berkali-kali melihat iklannya…
hingga es krim itu berubah menjadi peri di dalam kepalanya

Ketika saatnya ia tertidur,
di dalam tidurnya, ia menikmati es krim vanilla dengan lapisan cokelat renyah itu
tebak apa?
ia menikmatinya di atas punggung unicorn putih dengan rambut warna-warni

Mimpi ini terlalu indah…
Harapnya, semoga esok pagi ia masih ingat mimpinya malam ini.

Yogyakarta, 2 Agustus 2025 06:13
*rev edition

Lovely Runner (2024) Ep. 6 – Plant Parent

Standar

Aku sedang menonton ulang Lovely Runner, K-Drama viral dan favorit banyak orang dari tahun 2024.

Ketika sampai di Episode 6, aku menemukan kesamaan Ryu Geun-deok (Appa-nya Ryu Sunjae) dan Mama MJ (Mamaku).

Ada scene Sunjae menemani ayahnya berkebun di depan rumah hanya karena mau memata-matai kapan Im Sol pulang (setelah bertemu dengan Kim Taesung, mantannya).

Ada momen ketika Sunjae mencabut pohon cabai milik Appa-nya karena nggak konsen sama apa yang dikerjakan.

Appa-nya Sunjae langsung ngomong sama pohon cabainya, “Aigoo aigooosesange… Ini salah kakakmu!” Ini adalah tipikal dari plant-parent. Menganggap tumbuhan hijau yang dirawat adalah anak-anaknya juga.

Jadi, nggak cuma Mama MJ yang ngomong sama ayam-ayamnya seperti ngomong sama anaknya sendiri.

Beda negara, tapi relate dengan kelakuannya para plant-parent ini. He he he

Menonton Ulang K-Drama Viral 2024: Lovely Runner / Sunjae Eobgo Tweeeo (선재 업고 튀어)

Standar

Ini malam kedua aku menonton ulang series 16 episode, Lovely Runner. Aku menonton ini karena sedang ingin menghabiskan waktu dengan drama yang ceria. Aku butuh keceriaan dari suasana yang sedang terasa lebih gloomy akhir-akhir ini.

Ketika menonton ulang di akhir episode kedua, aku menyadari sesuatu. Ternyata drama ini memang bagus dan pantas viral dan mendapat pengakuan luas dari penonton drama. Penerimaan penonton tahun lalu adalah benar-benar organik. Pengakuan ini kurasakan bahkan setelah nonton ulang kedua kali.

Beberapa minggu lalu aku nonton series remaja juga, yaitu Spring of Youth (2025) / Sakyeui Bom (사계의 봄). Series ini terasa biasa aja. Menghibur dan ceria, tapi terasa kurang. Hal ini makin dikuatkan setelah aku menonton ulang Lovely Runner.

Aku merasa akting Byeon Wooseok (sebagai Ryu Sunjae) dan Kim Hyeyoon (sebagai Im Sol) terasa matang. Ini ternyata sangat penting dalam membuat sebuah film bisa dipercaya. Akting yang terasa alami dan bisa dipercaya, sangat memengaruhi kualitas sebuah drama.

Aku jadi nggak heran, kenapa produser atau sutradara suka memilih aktor / aktris tertentu yang usianya sudah lewat jauh, untuk memerankan tokoh utama di series dengan tema anak SMA. Kemampuan aktingnya juga sudah jauh sekali.

Di series Spring of Youth, ada aktor dan aktris yang usianya sudah 30an tapi memerankan peran anak kuliah tahun pertama, yaitu Lee Seunghyub (sebagai Seo Taeyang) dan Seo Hyewon (sebagai Bae Gyuri). Akting keduanya jauh lebih unggul dan matang daripada tokoh utamanya yang berusia awal 20an Ha Yoojoon (sebagai Sagye) dan Park Jihu (sebagai Kim Bom).

Jam terbang tak pernah bohong.

Ngobrolin Air di Sleman vs BSD

Standar

Awal Mei 2025 ini, aku ke BSD dan Jakarta untuk nyekar di peringatan 20 tahun meninggalnya bokap, bertepatan dengan ada event di Kemang yang ingin aku hadiri.

Salah satu hal yang aku ceritakan ke bestie-ku, bahwa setelah 1.5 tahun di Jakarta dan terkena air Harmoni yang selalu berwarna karat / putih susu / mocca, pas mudik, aku jatuh cinta sama air Sleman. Seger banget mandi siang-siang jam 12 pake air tanah di Sleman. Sejernih dan seseger itu dan enak banget. Itu bikin nggak mau balik ke Jakarta.

Bestie-ku cerita tentang pengalamannya dengan air PAM di BSD, tepatnya di sektor 12. Dulu dia kalau ngerebus telur, pasti ada 1-2 telur yang busuk dari tiap batch/rack telur (isi 10). Setelah dia ganti airnya pakai air Aqua galon, ga pernah terjadi lagi.

Saat ketemu dengan temen lain di BSD, mereka belum pernah ngalamin hal kaya gitu. Temen di sektor 1.6 mengakui air PAM kadang-kadang kotor. Kalau terjadi seperti itu, dia pakai air isi ulang.

Kalau kalian punya pengalaman apa dengan air di daerah masing-masing?

When Life Gives You Tangerine (2025) Ep.16 (Final Episode) – Scene That Makes My Eyes Teary

Standar

Sejujurnya, aku merasa menghabiskan series ini cukup lama. Series bisa sama-sama 16 episodes. Tapi ada yang terasa lama membosankan, ada yang terasa cepat karena ringan. When Life Gives You Tangerine ini terasa lama karena berbobot. Aku berhenti setiap beberapa menit, karena terharu, atau mengambil waktu untuk merenungkan ceritanya.

Air mata ini terasa mengumpul di pelupuk mata ketika adegan Yang Gwan-sik membawa mainan Tamiya, dan aneka gula-gula ke makam anak bungsunya, Yang Dong-myeong. Yang Gwan-sik memainkan Tamiya itu hampir seperti pesawat. Dan gula-gula jadul itu juga disajikan di makam.

Adegan lainnya yang juga bikin air mata “ngembang” adalah adegan ketika Yang Gwan-sik naik tangga menuju rumah sakit, dibantu oleh Oh Ae-sun, beban kesayangannya (katanya). Gwan-sik meminta Ae-sun untuk berhenti di tengah anak tangga, untuk melihat ke atas, ke arah bunga beotkkot (벗꽃) / bunga sakura. Ae-sun yang berbadan “kecil” selalu menunduk ke bawah selama naik tangga, ia benar-benar memperhatikan supaya jangan sampai Gwan-sik (yang tinggi) jatuh ketika sedang naik tangga.

Adegan mengharukan lainnya waktu Yang Gwan-sik di RS dan pamitan sama anaknya Yang Geum-myeong karena merasa umurnya ga panjang lagi.

Jujur, When Life Gives You Tangerine ini bener-bener sukses membuat aku banyak merenung, menulis, mencatat, dan tersentuh. Karena sudah nonton sampai selesai, aku bisa kasih nilai 9/10. Gomawoyo, PD-nim, witer-nim, jakkokka-nim dan semua yg membuat film ini jadi baguss, indah, dan menyampaikan segunung pesan buat penontonnya. Bravo!!

When Life Gives You Tangerine (2025) Ep.15

Standar

Kapan seorang wanita sabar memutuskan untuk bercerai? Bukan ketika badai besar-besarnya, ganas-ganasnya. Tapi ketika badai telah berlalu, dan ia telah punya bekal yang cukup serta arah tujuan.

Itu adalah gambaran singkat dari hidup Park Young-ran (diperankan oleh Jang Hye-jin), istri kedua dari Bu Sang-gil (kapten kapal yang terkenal kasar, KDRT, dan selalu selingkuh). Di Episode 4 kita bisa melihat saat ia muda dan cantik, memiliki bekas luka di bibir karena KDRT dari Bu Sang-gil. Di Episode 14 kita bisa melihat saat ia mengurus mertua perempuannya dengan sabar. Dan buah dari kesabaran dan ketelatenannya ia dihadiahi kebun jeruk oleh mertua perempuannya.

Di episode 15, setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri, suaminya bertemu selingkuhannya ketika sedang bersepeda bersama (untuk pertama kalinya suaminya berupaya romantis di series ini). Ia mengemas barang-barangnya dan bersiap pergi / bercerai. Ia sudah punya rencana, yaitu bekerja menjadi agen properti. Ia bisa memiliki agen properti sendiri setelah menjual kebun jeruk pemberian mertuanya.

Tokoh Park Young-ran tidak serta merta ingin pergi saat dilempar barang di episode x oleh Bu Sang-gil, suaminya yang terbiasa melakukan KDRT sepanjang hidupnya. Ia pergi ketika kantornya sudah siap, dan ada trigger dari Bu Sang-gil ketika bersepeda bersama.

Buat pembaca perempuanku, kalau kalian sedang ada di rumah tangga yang abusive, tidak memberikan engkau sayap, siapkanlah landasanmu, siapkan pesawat kecilmu, dan pergilah ketika kau siap. Setiap manusia berhak diperlakukan baik. Semua manusia adalah putra / putri berharga orang tuanya.

When Life Gives You Tangerine (2025) Ep. 11 – Scenes That Broke My Heart

Standar

When Life Gives You Tangerine (2025) ini memang memberi dampak yang dalam ke hati penontonnya. Termasuk aku.

Saat ini aku udah sampe di Episode 11 dan nangis donggg…. Scene Park Yeong-beom nangis di tengah malam di musim dingin yang bersalju. Di saat telah 1 tahun berupaya balikan dengan Yang Geum-myeong. Tapi Geum-myeong dengan tegas menyadarkan Yeong-beom, kondisi mereka nggak bisa balikan selama ada penghalang, yaitu Ibunya Yeong-beom. Akting nangisnya Lee Jun-young di menit ke-56 sangat memilukan hati.

Sejujurnya, aku udah berusaha nggak terlalu mellow / being too sensitive karena udah liat reviewnya banyak yang nangis nonton ini. Aku udah nonton dengan santai, sambil makan dan sebagainya. Tapi tetap nangis juga.

Sebelumnya aku udah nangis 1 kali. Waktu Ibunya Oh Ae-sun (Jeon Gwang-rye) yg sudah hampir meninggal, ninggalin wasiat / permintaan terakhir ke neneknya Ae-sun (mantan mertuanya). Pembicaraan pelan, slow burn, tapi nyesekkkk..

Sekian, dampak k-drama satu ini di hidupku yang flat ini. I’ll be back… Sekarang mau lanjut nonton dulu. Hope you enjoy this k-drama too.

When Life Gives You Tangerine (2025) Ep.9

Standar

Akhirnya aku menyadari, bahwa kesedihan dan irony adalah twin flame seorang seniman.

Dua puluh tiga jam yang lalu, tepat di saat Yang Geum-myeong menangis di kamar kosnya sambil membaca surat dan menatap foto keluarganya di Jeju, di situlah momen aku mulai menulis tentang rumah dan kesepian.

Dari tema ini, aku menulis sekitar 10 tulisan pendek di X, yang masih bertambah jadi 13 tulisan hingga saat ini. Di tema ini aku ingin menulis lebih banyak lagi. Dan aku sudah bertekad untuk membukukannya.

Resolusi 2025, membukukan tulisanku. Bukan tulisan pertama. Tapi buku pertama. Ada atau nggak ada penerbit, akan aku cetak dan jadikan. Itu resolusiku di 2025.

Terima kasih buat WLGYT, terima kasih untuk tokoh Oh Ae-sun si gadis sastra dan writer-nim yang menuliskan tokohnya. Walau fiksi, ia menjadi salah satu trigger untuk perjalanan menulisku.

When Life Gives You Tangerine (2025) – Ep.1

Standar

Beberapa series yang bagus dan dikerjakan dengan matang akan nampak dari episode awalnya. Ini aku temukan di series yang baru kutonton 25 menit di awal. Dari 25 menit di awal saja, aku bisa bilang series ini adalah series yang berbobot.

Aku udah notice ada 3 hal isu sosial yang menjadi pemikiranku, bahkan ketika sebuah series baru di awal. Istilahnya, belum apa-apa. Karena total episodenya ada 16 dengan durasi masing-masing 1 jam.

Ikatan Ibu dan Anak

Drama dimulai dengan alur mundur / flashback kembali ke 60 tahunan yang lalu. Tokoh utamanya bernama Ae-sun saat itu masih SD. Ibunya adalah seorang haenyeo (해녀) / penyelam pencari pauhi (abalone) dan rumput laut.

Ae-sun adalah putri sulung yang pintar & berprestasi di sekolah. Ayahnya sudah meninggal. Ibunya sudah menikah lagi dan memiliki 2 adik yg masih balita. Ia disuruh tinggal di keluarga Oh (keluarga mendiang ayahnya) karena Ibunya hidup pas-pasan dan keluarga Oh lebih “punya” daripada si ibu.

Untuk datang dari rumah keluarga Oh ke rumah ibunya, Ae-sun harus berjalan jauh melewati karang yang licin, tapi ia tetap datang ke rumah yang berkekurangan itu karena ia merasakan cinta walau sang Ibu love language-nya perhatian tersamarkan marah-marah, ketus, nggak bisa kasih gift karena miskin.

Sedangkan di rumah keluarga Oh, Ae-sun diperlakukan seperti pesuruh, walaupun ia adalah cucu dari keluarga itu. Ketika 5 orang anggota keluarga makan ikan croaker, ia tidak. Saat mengunjungi ibunya, ia menceritakan hal itu.

Suami Benalu

Suami dari Jeon Gwang-rye adalah seorang benalu, tipe suami yang tidak bekerja. Tapi ketika dilihat lebih dalam, suaminya ini adalah tipe orang yang baik, psikisnya sehat, adil, dan mendukung istrinya dalam sisi emosional.

Di hidupnya yang berat, suami Gwang-rye ini sedikit menghibur hati istrinya, dan membantu istrinya melihat hidup dari sudut pandang yang sehat dan praktis.

Berdandan Berlebihan

Gwang-rye sampai rela bekerja membajak sawah dan memanen wijen selama 2 hari tanpa dibayar demi meminjam kalung mutiara, hadiah pernikahan iparnya untuk pergi ke sekolah Ae-sun.

Sebagai orang modern yang mengklaim diri kepercayaan diri berasal dari dalam, agak sulit melihat orang memaksakan diri berdandan tidak seperti dirinya sendiri. Hal ini sedikit menyedihkan, karena seolah dirinya sendiri apa adanya saja tidak cukup.

Tapi, di sisi lain, aku bisa melihat bahwa untuk melakukan negosiasi, seseorang perlu menggunakan outfit yang rapi dan terhormat agar pendapatnya bisa lebih diterima. Hal ini sebenernya sesuai dengan teori Authority dari buku Influence: The Psychology of Persuasion oleh penulis Robert B. Cialdini, Ph.D

Selain 3 hal itu, masih ada isu sosial yang aku lihat di sini. Tapi 3 itu saja dulu yang mau aku tulis, karena paling berkesan.

Bye now, mau lanjut nonton!

Per April 2025, Aku Berhenti Menggunakan DANA

Standar

Sudah sejak awal menggunakan Seabank, dan bank digital lain, aku menggunakan jasa DANA sebagai perantara. Dengan fasilitas free transfer ke bank apapun sebanyak 10 kali per bulan, aku bisa memindahkan uang dari bisnis helm yg masuk dari BCA, ke Seabank. Karena rekening agennya menggunakan Mandiri. Ribet? Iya, memang.

Tidak ada makan siang yang gratis. Kalau mau gratis, ya mau ribet dikit.

Sebenernya aku selalu meninggalkan saldo Rp50.000 di DANA. Fungsinya untuk sewaktu-waktu aku bisa pakai kalau mau cashback under 10K ke customer helm, atau untuk sewaktu-waktu ada promo diskon di merchant terdekat jika menggunakan pembayaran melalui DANA.

Pada Maret 2025, saldo tersebut terpotong 2 kali, yaitu sebesar Rp500 dan Rp1.000 pada tanggal 24 dan 26 Maret 2025. Alasan itu terpotong dijelaskan di T&C bahwa Aku telah melebihi 10 kali free yang diperbolehkan. Hal itu tidak benar. Karena Sebelum tanggal 24 Maret, aku baru melakukan TOP UP sebanyak 5 kali, dan transfer ke Seabank sebanyak 4 kali. Kuotanya masih ada 6 kali, tapi terpotong.

Karena sudah terpotong 2 kali, aku nggak mau lagi pake DANA. Yang bikin kehilangan kepercayaan sebenarnya karena potongannya bersifat diam-diam. Tidak terlihat di mutasi / Activity. Cuma terlihat dari saldo yang nggak utuh. Hati-hati buat teman-teman yang punya saldo nggak bulat. Pasti nggak sadar bahwa saldonya terpotong pas. Karena aku memang punya saldo utuh Rp50.000 bulat, jadi ketahuan kalau ada potongan yg tidak terlihat. Angka saldonya jadi nggak bulat lagi.

Sekarang sebagai solusi, aku pakai fasilitas 10 kali free transfer VA dari BCA ke Neo-Bank. Dari Neo Bank baru aku transfer ke Seabank.

Semoga pengalaman ini berguna buat kalian, ya. Be careful dengan saldonya, ya!

Sebenarnya, potongan ini termasuk kecil, dibanding dengan teman-teman yang sudah terbiasa menggunakan bank BUMN seperti Mandiri, BRI, dan BNI. Potongannya jauh lebih besar. Tapi, buatku, selama masih ada yang free, kenapa nggak aku pake dulu yg free. (˵ ¬ᴗ¬˵)