Beberapa series yang bagus dan dikerjakan dengan matang akan nampak dari episode awalnya. Ini aku temukan di series yang baru kutonton 25 menit di awal. Dari 25 menit di awal saja, aku bisa bilang series ini adalah series yang berbobot.
Aku udah notice ada 3 hal isu sosial yang menjadi pemikiranku, bahkan ketika sebuah series baru di awal. Istilahnya, belum apa-apa. Karena total episodenya ada 16 dengan durasi masing-masing 1 jam.
Ikatan Ibu dan Anak
Drama dimulai dengan alur mundur / flashback kembali ke 60 tahunan yang lalu. Tokoh utamanya bernama Ae-sun saat itu masih SD. Ibunya adalah seorang haenyeo (해녀) / penyelam pencari pauhi (abalone) dan rumput laut.
Ae-sun adalah putri sulung yang pintar & berprestasi di sekolah. Ayahnya sudah meninggal. Ibunya sudah menikah lagi dan memiliki 2 adik yg masih balita. Ia disuruh tinggal di keluarga Oh (keluarga mendiang ayahnya) karena Ibunya hidup pas-pasan dan keluarga Oh lebih “punya” daripada si ibu.
Untuk datang dari rumah keluarga Oh ke rumah ibunya, Ae-sun harus berjalan jauh melewati karang yang licin, tapi ia tetap datang ke rumah yang berkekurangan itu karena ia merasakan cinta walau sang Ibu love language-nya perhatian tersamarkan marah-marah, ketus, nggak bisa kasih gift karena miskin.
Sedangkan di rumah keluarga Oh, Ae-sun diperlakukan seperti pesuruh, walaupun ia adalah cucu dari keluarga itu. Ketika 5 orang anggota keluarga makan ikan croaker, ia tidak. Saat mengunjungi ibunya, ia menceritakan hal itu.
Suami Benalu
Suami dari Jeon Gwang-rye adalah seorang benalu, tipe suami yang tidak bekerja. Tapi ketika dilihat lebih dalam, suaminya ini adalah tipe orang yang baik, psikisnya sehat, adil, dan mendukung istrinya dalam sisi emosional.
Di hidupnya yang berat, suami Gwang-rye ini sedikit menghibur hati istrinya, dan membantu istrinya melihat hidup dari sudut pandang yang sehat dan praktis.
Berdandan Berlebihan
Gwang-rye sampai rela bekerja membajak sawah dan memanen wijen selama 2 hari tanpa dibayar demi meminjam kalung mutiara, hadiah pernikahan iparnya untuk pergi ke sekolah Ae-sun.
Sebagai orang modern yang mengklaim diri kepercayaan diri berasal dari dalam, agak sulit melihat orang memaksakan diri berdandan tidak seperti dirinya sendiri. Hal ini sedikit menyedihkan, karena seolah dirinya sendiri apa adanya saja tidak cukup.
Tapi, di sisi lain, aku bisa melihat bahwa untuk melakukan negosiasi, seseorang perlu menggunakan outfit yang rapi dan terhormat agar pendapatnya bisa lebih diterima. Hal ini sebenernya sesuai dengan teori Authority dari buku Influence: The Psychology of Persuasion oleh penulis Robert B. Cialdini, Ph.D
Selain 3 hal itu, masih ada isu sosial yang aku lihat di sini. Tapi 3 itu saja dulu yang mau aku tulis, karena paling berkesan.
Bye now, mau lanjut nonton!