Leben in Deutschland

Hallo!

Last week I finally completed the “Integrationskurs” in Germany. This course consist of 600 hours of language course (until B1 level) and 100 hours of “Leben in Deutschland” course. The test certificate later can be used to get a permanent residence permit, or even as a requirement to apply for the citizenship. I obligated to take this course due to the nature of my immigration process. When we applied for German visa from Ireland, thankfully I can come together with my husband as a dependent without having to proof my language competence. I heard that when you come as a dependent from Indonesia, you should at least have a A1/A2 certificate to get the visa.


So, what do we learned in “Leben in Deutschland (LIB)” course?

Well, at the first glance, the subject sounds pretty boring: politics, history and society. I learned about German constitution, election, political parties, history of Nazi, WWII, west and east Germany, reunification, EU, etc. In other words, Sejarah + PPKn, the subjects that I was not really good at school.

But, contrary to my first impression, I found that I enjoyed this course more than the language course. The language course was very demanding with lots of homework. However, the LIB course was very relax. We didn’t focus on dates, but on why things happened. Gradually, we are also getting better at speaking German (I think!), since there were lots of discussion about our opinion on certain subjects and how things go in our home country.


Acculturation model

In one of the class, we got a visit from a Psycholog and we discussed lots of things about culture, “typisch Deutsch”, etc. In one segment, she told us about acculturation and she drew something like this:

So, basically acculturation is an act of adopting new culture where we live in. The lady said that the best form of acculturation is “integration”, where we adopt new culture without forgetting our roots. But unfortunately, people in the host country sometimes confuse “integration” with “assimilation”, where immigrant should builds a new identity based on the new culture and leave their original values behind. Hmm…

Perhaps this session is the most difficult part of this course for me. After a decade of living abroad, I often feel like I don’t belong in anywhere. Abroad, I definitely look different, face lots of challenges, but somehow it feels like home. When having a holiday in Indonesia, I look local and communicate easily, yet I feel out-of-date, find myself frustrated with lots of things and can’t wait to go back “home”.


About speaking new language

On the last day of the LIB, the teacher asked about our next plan after the course. Everyone is having a wonderful plan, and I hope that we can all succeed in Germany. At that opportunity, I said that I would like to find a job, maybe first get some advice from Agentur für Arbeit (Employment Agency) and learn Deutsch a bit more since I am still afraid of speaking. The teacher then asked why do I feel that way. My simple answer unexpectedly turned into a long discussion.

I told her that I had bad experiences here, mostly because of the language barriers. From being ignored by the saleswoman at the store, scolded by the locksmith and had my language fluency critized by my son’s pediatrist (while she supposed to address more important matters there). Somehow, those experiences lower my confidence a lot. Over time, I also see myself turning bitter.

My teacher (one of the very kind, gentle and patient Deutsche I’ve ever known) said that bad people are everywhere (the problem is why I found them a lot here in my short time in Germany, lol) and we should feel better since we are smarter and speak more languages than them. So, chin up and cheer up!

Natürlich that’s easier said than done. I wish more and more people realized that being an immigrant is not easy. Of course it is important to learn the language of your host country to show respect and be able to tackle everyday’s problem. Unfortunately, learning language is hard and could take years. If possible, without a doubt, I would take a pill and be able to speak other language instantly, rather than spending 600 years of my life learning YOUR language, to only ended up with this so-so proficiency.


I believe wherever we live, it’s important to find something that we grateful for. Otherwise, our negative thoughts towards the place will prevent us from enjoying our daily life. There are plenty of things that I am grateful for, like: the work-life balance, Arbeitsschutz (employment protection), the cycling infrastructure in this little city, the clean air, the safety, the free education, the ease of travel within Europe, etc.

So yeah (walaupun aku hanya manusia biasa yang hobi misuh-misuh), overall I am happy as can be. May our daily life get easier day by day and we can all thrive in Germany!

Waktu tenang

Aku (A): ssst, denger deh, suara mesin cuci dari rumah tetangga!
Suami (S): … mmm, iya
A: terdengar kan samar-samar?
S: iya, sedikit
A: berarti apa-apa ga ya kalau aku nyuci hari Minggu? Suaranya kan terdengar walaupun cuma pas spin doang
S: ya gapapa kali, emang ada manusia yang triggered denger suara mesin cuci?
A: ya gatau kan keanehan warga lokal kayak gimana
S: eh kamu tau ga, di Swiss ada orang diprotes tetangganya karena di rumah gapake sendal jadi terdengar suara kalau dia jalan?
A: what the…? Di Swiss juga gitu?
S: German part of Swiss sih
A: ooo pantes… Tapi dipikir-pikir pas di Swedia, kita juga diprotes tetangga bawah kan karena bocil jalannya gedebak gedebuk. Padahal mah karena dia baru bisa jalan kan, belum balance jadi sering jatuh juga :))


Begitulah secuil obrolan suami istri di tengah keheningan senja di kota kecil di Jerman.

Di bulan pertama kami di Jerman, kami menempati apartemen sementara yang disediakan oleh kantor suami. Dari sekian banyaknya aturan apartemen, seperti soal kebersihan, sampah, keamanan, dan lain-lain, agen relokasi justru sangat menekankan pada peraturan tentang waktu tenang.

Ruhezeiten / quiet periods / waktu tenang adalah peraturan tertulis dalam Hausordnung (house rules) yang merupakan bagian dari kontrak sewa apartemen. Ruhezeiten umumnya berlaku di malam hari dan hari libur, namun detilnya tergantung area dan tempat tinggal masing-masing. Khususnya di apartemen kami, Ruhezeiten berlaku pada pukul 22.00 – 06.00, sepanjang hari Minggu, dan sepanjang hari libur (tanggal merah). Selain itu, ada juga Mittagsruhe yang berlaku pada pukul 13.00 – 15.00 (apakah warga Jerman juga menganut tidur siang yorobun???). Di waktu-waktu tersebut, kita dilarang untuk membuat kebisingan, misalnya memvakum rumah, bermain musik, memotong keramik, mengebor dinding, atau seperti obrolan kami di atas, melakukan hal yang potentially bising.

Read More

Rumah baru, alhamdulillah

Hallo!

Seiring kepindahan kami ke Jerman di pertengahan tahun lalu, bulan-bulan pertama kami di Jerman tentunya disibukkan dengan pencarian tempat tinggal. Alhamdulillah kantor suami menyewakan apartemen sementara untuk maksimum tiga bulan, sehingga kami memiliki waktu yang cukup untuk mencari.

Setelah setahun sebelumnya “digembleng” dalam pencarian rumah di Ireland dan menyadari bahwa housing market di sini tidak seburuk di Ireland, dalam pencarian kali ini kami merasa lebih tenang dan tidak terlalu panik. Kami mencari rumah lewat situs online immobilienscout24 dot de. Dengan kriteria filter (lokasi, harga, luas, fasilitas) yang kami tentukan, alhamdulillah masih banyak pilihan rumah-rumah yang disewakan. Response rate kami saat ini pun jauuuh lebih baik daripada sebelumnya. Saking baiknya, kami sampai dapat memilih-milih dan bahkan menolak tawaran, tidak seperti sebelumnya di mana kami sangat desperate jungkir balik mau nangis menunggu sampai ada landlord yang merespon dan mau menerima kami.

Saat itu, kami mendapat cukup banyak balasan untuk viewing dan akhirnya setuju untuk datang ke tujuh di antaranya. Enam dari tujuh rumah yang kami lihat cukup menarik, dan dua diantaranya menerima kami jadi tenant. Alhamdulillah.

Tidak lama setelah viewing apartemen terakhir, kami mendapatkan tawaran kontrak dan peraturan lainnya setebal hampir 40 halaman dalam bahasa Jerman. Semuanya tentu dengan sabar saya scan dan masukkan ke Google translate (huhu). Setelah korespondensi bolak-balik melalui pos* selama hampir dua minggu (landlord mengirim kontrak ke kami – kami tanda tangan, kirim balik – landlord kirim balik, tanda tangan) dan membayar deposit serta uang sewa pertama, akhirnya kami resmi jadi tenant alias kontraktor! \o/

Read More

Go raibh maith agat

Go raibh maith agat (baca: guh rev mah ahgat) = thank you!

My last photo of Ireland, surprisingly captured the country perfectly: kecil, mendung, banyak sawah

Setahun belakangan jarang banget posting di blog karena beberapa major life changes yang terjadi dalam waktu sempit aka. bikin stress: pusing cari rumah, dapat rumah, dapat preschool, saya dapat kerja, suami dapat kerjaan baru, saya resign, persiapan pindah, “graduation” bocil dari preschool, pindahan, cari rumah lagi, cari sekolah lagi.

Jadi setelah melewati satu bulan pertama di Ireland yang super stressful karena drama pencarian kontrakan dan first impression Ireland yang kurang oke karena masalah housing-nya, ditambah lagi dengan tranportasi publiknya yang buruk dan tata kota yang car dependency-nya sangat tinggi, plus masalah childcare yang sangat terbatas dan tidak terjangkau (lah banyak amat ya komplainnya hahaha), sesungguhnya saya dan suami jadi berpikir dua kali untuk menetap di sini.

Postingan kali ini ditujukan untuk mengenang hal-hal baik yang saya rasakan, karena let’s be thankful for what had happened and be excited for what’s coming alias mari bersyukur banyak-banyak.

Read More

Mengurus utility bill di Ireland

Postingan ini sudah dibuat sejak November 2021, tapi lalu terbengkalai di draft, kebiasaan. . . . .


Selamat buat keluarga sendiri karena akhirnya punya rumah (kontrakan)! 🥳🥳🥳

Now, what?

Jadi sebagai tenant, selain berkewajiban untuk membayar sewa, kami juga berkewajiban untuk mengurus utility sendiri. Hal-hal yang mesti kami urus diantaranya yang utama yaitu listrik, gas, dan internet. Untung biaya sampah dan parkir sudah termasuk di dalam biaya sewa apartemen. Ini sih salah satu enaknya tinggal di apartemen dan faktor yang membuat kami lebih memilih tinggal di apartemen daripada rumah. Beberapa biaya biasanya sudah termasuk di biaya maintenance apartemen. Sampah terserah mau buang kapan, ga usah ngikutin jadwal. Halaman, jendela dan koridor dibersihkan rutin. Dan kalau ada apa-apa pun biasanya ada maintenance service-nya alias ga usah cari tukang sendiri.

Okay back to the topic. Hmm, seumur-umur kan kami belum pernah ya mengurusi hal-hal seperti ini, misalnya sekarang masih tinggal sama ortu dan perlu nelpon dokter aja kayaknya bakal tetep minta tolong emak walaupun sudah tua begini. Sungguh adulting is hard! Yang lebih membingungkan lagi, ternyata provider listrik dan gas di Ireland itu buanyak buangettt. Kalau internet mah sudah biasa ya banyak pilihan, tapi listrik? Seumur-umur taunya kalau butuh listrik ya PLN hahaha.

Honestly menurut gw untuk luas daerah yang cimit dan penduduk yang hanya 5 juta, pilihan provider listrik/gas ini terlalu banyak sih.

Untuk memilih provider listrik, gas dan internet, kami menggunakan bantuan website comparison bernama Bonkers (bonkers dot ie) dan Switcher (switcher dot ie). Di sana, kita bisa melihat provider apa yang saat ini paling murah dan memberikan cashback paling besar. Oiya, saking tingginya persaingan provider listrik/gas/internet di sini, bukan hal yang asing kalau setiap rumah setahun sekali ganti provider supaya mendapatkan promo terbaik.

Read More

Pengalaman viewing tempat tinggal di Irlandia

Warning TL;DR 4% informatif, 62% curhat, 34% sambat.

Setelah menuliskan proses pencarian tempat tinggal di Ireland, di postingan kali ini saya akan menceritakan pengalaman viewings 13 rumah yang kami lakukan. Isinya merupakan dokumentasi lokasi, proses dan perasaan kami dari viewing ke viewing. Sejak proses ini masih dijalani, sebenarnya jari-jari ini sudah gatal sekali ingin curhat karena pengalaman ini sungguh mengaduk emosi. Tapi, rasanya sangat tidak sreg kalau sambat ini disalurkan sebelum dapat rumah. I don’t wanna jinx it. 😬


(1) River Towers: Informasi mengenai apartemen ini kami dapat dari teman yang dapat dari milis kantor. Kebetulan tenant saat itu pernah bekerja di calon lab suami, dan dia akan pindah ketika kami sampai di Ireland. Jodoh banget! Kami melakukan virtual viewing ini di tengah slow day di aparthotel yang menjadi tempat tinggal sementara kami di Swedia. Kami belum bisa membayangkan neighborhood-nya seperti apa, tapi apartemennya terlihat nyaman dan sepanjang waktu saya sudah bisa membayangkan nanti setiap ruangnya mau didekor seperti apa. We are still waiting for our visa but we are so excited to move already!

And…, later on just before we pay for the deposit, the landlord call it off. Pfft! -_-

(2) Patrick’s Hill: Our first ‘real’ viewing, bismillah. Akhirnya dari sekian request, ada agen yang membalas email kami, so excited! Lokasinya tepat di tengah kota, di tanjakan St. Patrick’s Hill yang ternama. Namun, begitu masuk, ternyata unitnya sangat kecil, di basement, kurang pencahayaan dan cukup mahal. Mau tau sekecil apa? Hmm, jadi dia tipenya living room + dining room + kitchen jadi satu, tapi saking sempitnya sampai-sampai sofa living room-nya berhadap-hadapan dengan kompor + sink. :”)

Do I need a home? YES. Do I want to pay 1400 EUR for a small dark basement unit? NO.

St. Patrick’s Hill atau yang orang biasa sebut Cork’s own San Francisco.

(3) Sunday’s Well: Ini adalah landlord pertama yang membalas request saya, senangnya bukan kepalang! Sehari sebelum viewing, kami survey lokasi untuk melihat neighborhood-nya. Lokasinya enak dan unitnya pun nampak unik. But, what is exactly a Victorian-style house? Dari luar sih nampak seperti rumah tua, namun foto interior di iklannya sangat mysigt (nyaman), ada backyard-nya pula. 🤩

Keesokan harinya, ketika kami melihat langsung ternyata kondisi unitnya sungguh menyedihkan. Tenant saat itu adalah dua pria dan dari kondisi aktual, jelas mereka sangat tidak apik. Foto di iklan itu pasti dari beberapa tahun yang lalu deh sebelum negara api menyerang! Waw sebagai anak jijikan, setiap membayangkan viewing kali itu, saya otomatis merinding… Selain itu, rumahnya tidak child friendly karena bertangga-tangga sempit. Oh jadi ini maksudnya Victorian-style house… Selain itu, tenant akan menempati lantai 2 dan 3, sedangkan lantai 1 ditinggali oleh landlord. Yah, jadi tidak dapat akses ke backyard deh.

Pengalaman viewing hari ini sungguh discouraging, tapi hari itu akan menjadi hari yang sangaaattt panjang karena kami masih ada dua viewing lain di siang dan malam hari. Hari ini literally menjelajah kota dari utara ke selatan! Rekor jalan kaki hari itu adalah 16 km. Poteque kaki hamba.

Read More

Berburu tempat tinggal

Hallo hallo!

Hal pertama yang kami lakukan di Ireland selain mengurus administrasi tentunya adalah mencari tempat tinggal. Tidak seperti ketika pindah ke Swedia di mana kami sudah mendapatkan apartemen sebelum tiba, saat itu setelah hampir 4 minggu tiba di Ireland, kami masih mencari……

Sesampainya di Ireland, kami disediakan akomodasi selama 3 minggu untuk karantina oleh kantor suami. Alhamdulillah tempatnya sangat nyaman dan strategis (apakah ini trik supaya kami betah di sini? wkwk). Dan Alhamdulillah (lagi), setelah 5 hari, kami bisa berjalan-jalan ke luar karena hasil PCR negatif. Wohoo freedom!

Pemandangan ⭐⭐⭐⭐⭐ dari balkon apartemen River Gold (akomodasi karantina dari kantor suamik). Sejauh ini masih menjadi foto terbaik kota Cork di handphone saya.

By the way, gedung apartemen di sini suka diberi nama gitu, lucuk deh. Misalnya apartemen sementara untuk karantina ini, namanya River Gold (mulai saat ini dan seterusnya mari kita sebut ini saja). Tidak hanya itu saja, di depan rumah pribadi juga terkadang ada “namanya”. Pengen kasih contoh dengan fotoin rumah orang, tapi kok kayaknya kurang sopan ya. Setelah berkeliling cari rumah, jadi kepikiran nanti kalau beli rumah sendiri, mau dikasih nama apa ya? La Casa de Bongi?


Sebelum tiba di Ireland, teman kami yang beberapa bulan sebelumnya juga pindah ke tempat yang sama sudah mewanti-wanti bagaimana sulitnya mencari akomodasi. Kami pun sudah baca-baca bahwa di Ireland sedang terjadi housing crisis sejak tahun 2008 yang menyebabkan tingginya harga sewa dan sulitnya mencari tempat tinggal. Ternyata setelah dijalani, pencarian rumah ini lebih sulit dari yang kami bayangkan!

Read More

Fáilte go hÉireann

Hallo hallo!

Tiga bulan yang lalu, saya dan keluarga pindah ke Irlandia karena pekerjaan suami. Proses pindahan dari Swedia ke Irlandia ini sungguh mengaduk emosi; mulai dari proses visa yang tertunda karena pandemi, proses pencarian akomodasi yang sungguh melelahkan, ditambah proses settling in dan juga penyesuaian di tempat baru.

Untuk saya sendiri, proses meninggalkan Swedia cukup emosional karena walaupun masih belum sepenuhnya terintegrasi, berbicara bahasa Swedia masih terbata-bata, sungguh saya merasa betah dan sangat nyaman dengan sistem di sana, terutama kehidupannya yang sangat family and child-friendly. Selama hampir dua tahun menetap di sana, seringkali saya dan suami membayangkan beli apartemen di kota dan mengisinya dengan furnitur bergaya Skandinavia, membayangkan liburan menjelajahi alam atau berburu aurora di Lapland, membayangkan musim panas di sommarstuga (summer cottage) seperti warga setempat, lebih dari itu saya sudah bisa membayangkan menua dan pensiun di sana. Waw sungguh halu memang tidak ada batasnya.

Sayangnya, belum jodoh.

Saat ini, tiga bulan kemudian, saya sedang masih berada di tahap menerima kenyataan. Bahwa hidup ini penuh ketidakpastian, bahwa kami bisa berencana A namun berakhir di B. Hidup memang penuh dengan pilihan; pilihan sesederhana nanti siang mau makan apa atau serumit mau kerja apa dan tinggal di mana. Saat ini, tinggal di Ireland adalah pilihan yang kami tentukan, dan hal yang bisa kami lakukan sekarang adalah menjalaninya dengan sebaik mungkin. Semoga dengan pengalaman ini, kami bisa menghargai setiap keputusan yang kami ambil dan berlapang dada bahwa hidup tidak selalu berjalan seperti yang kami mau.

Jadi…,

Fáilte go hÉireann! Welcome to Ireland!


Note: Fáilte go hÉireann (Welcome to Ireland) adalah welcome greetings buat pendatang di negara ini. Kalimat tersebut menggunakan bahasa Gaeilge (Irish) yang tercantum di mana-mana tapi tidak ada yang menggunakannya dalam keseharian. Sehari-hari masyarakat sini menggunakan bahasa Inggris, dan saya sendiri pun ragu kalau warga lokal bisa berbicara bahasa Gaeilge walaupun selama sekolah mempelajarinya di kelas.

Tidur siang

Setelah lihat-lihat gallery handphone, saya baru sadar kalau foto anak yang lumayan banyak adalah pose dia sedang tidur di stroller.

Oh iya, saya udah pernah bilang belum sih kalau di daycare bocil di Swedia tidak ada sleeping room seperti saat di KAUST? Instead, anak-anak tidur di luar, di stroller masing-masing.

Source: insider.com

Pas awal-awal saya agak sedih, hah hah tega amat sih, kasian anak aku dong huhuhu. Apa nyaman bobo di stroller? Terus kalau lagi musim dingin gimana? Kalau lagi hujan gimana dong? Tapi, setelah lihat beberapa sekolah lain di sekitar rumah menerapkan hal yang sama, saya jadi “oyaudahlahya mungkin emang gitu di sini, pasti mereka tau apa yang mereka lakukan hahaha”. LOL ibu macem apa, bentar banget sedihnya.

Read More

Ibu mertua

Hari ini ketika sedang chatting bersama ibu mertua, saya scroll up obrolan kami yang isinya tidak lain tidak bukan seputaran bocil dan drama Korea, hahaha. Sambil membaca ulang teksnya, saya jadi sangat bersyukur memiliki ibu mertua seperti beliau. Mungkin ini adalah anugerah yang sering saya taken for granted: ibu mertua yang luar biasa baik dan pengertian di mana saya bisa menjadi diri saya sendiri di depan dia, memiliki interest yang serupa, bisa saling cerita tentang apapun, no jaim-jaim.

Ini potongan chat-nya. Fix image hamba sebagai menantu demam drama koriya.
Read More