Barakallah Bunda :)

Barakallah Bunda calon anak kita, selamat ulang tahun 🙂

Seperempat abad, bukan waktu yang pendek. Ayah yakin, ada banyak cerita di sana, yang dibangun dengan cinta, kasih, sedih, senyum maupun kedipan mata. Apalagi setahun ini, di medio April 2014 – April 2015, begitu banyak energi dan emosi terkuras bersama. Alangkah bahagianya.

Di bulan Mei kita menikah, memutuskan sebuah perikatan suci dan insya Allah dalam keberkahan. Masih seumur jagung, masih belia, namun Bunda telah menunjukkan sebuah semangat dan pengorbanan tinggi. Saat-saat seperti ini adalah medan ujian dan pembelajaran bagi kita, sembari mempersiapkan segala sesuatu untuk malaikat kecil kita yang kini masih terus menendang-nendang di dalam rahimmu 🙂

Terima kasih, atas bakti dan khidmahmu pada suami, pada kedua keluarga, dan tentunya yang terpenting kepada Allah, di tangan kecil tapi terampilmu, semua pekerjaan di rumah bisa diatasi dengan baik. Engkau sangat sadar, bahwa ini tak mudah, namun tetap engkau pikul beban-beban itu. Engkau terkadang capek, tapi tetap engkau selesaikan berbagai persoalan itu. Engkau terkadang ingin berbaring, tapi tugas itu tak bisa ditinggalkan. Insya Allah, semua itu tetap menjadi kerihoan bagiku, suamimu.

Terima kasih, atas kerelaanmu mewujudkan cita-cita kita untuk segera memiliki momongan. Dengan ikhlasnya engkau menjaga janin cinta kita, aku yakin itu tak mudah. Tengah malam engkau tak bisa tidur, hanya karena si dedek yang terus terjaga, sehingga engkau pun ikut terbangun. Saat suamimu ini mengatakan capek seharian bekerja, dengan ikhlas engkau memijit, padahal saat itu engkaupun kelelahan. Lelah setelah seharian mengurus rumah; mencuci pakaian, memasak untuk keluarga, menyapu lantai, dan segala keribetan lain. Saat aku mulai tergolek tertidur, engkau masih menyempatkan untuk merapikan kamar. Betapa engkau istri yang diberkahi Allah, insya Allah.

Terima kasih, atas kegigihan dan ketekunan itu. Sosok istri yang penuh pengetahuan, engkau memudahkan sebagian hal yang seharusnya menjadi domain suami. Mari terus bersama-sama membangun keluarga kecil kita.

Esok, 01 April 2015, genaplah 25 tahun usiamu. Barakallah, semoga Allah melimpahkan keberkahan atasmu. Sampai saatnya nanti, insya Allah engkau akan segera dipanggil Bunda oleh anak kita. Masih sekitar 1 bulan lagi. Sebulan lagi waktu yang masih akan engkau jalani dengan janin kita di rahimmu, sebulan lagi rasa tidak nyaman yang engkau rasakan. Tapi yakinlah, ikhtiar ini tak akan sia-sia. Terbayang nama itu kelak telah disandang oleh bocah kecil di tengah-tengah kita.

Rasanya, tak ada kado yang setimpal dengan rasa syukur dan terimakasihku untuk engkau. Semoga tulisan pendek ini bisa sedikit mewakili. Ada doa terpanjat di tulisan ini, dan di doa-doa kita yang lain. Selamat ulang tahun Lisa Rusmalina, semoga panjang umur dan diberkahi. Panjatkanlah doa-doamu, aku akan senantiasa mengaminkan 🙂

 ayahanak005

Mengantar Istri ke Dokter Kandungan

Berani berbuat harus berani bertanggung jawab !! 😀

Ungkapan itu harus diterapkan untuk para suami. Berani berbuat harus berani bertanggung jawab, berani membuat anak harus berani mengantar istri ke dokter kandungan. Sebuah premis yang mutlak bin absolut. Untuk kalian para jomblo dan yang masih main PhP-PhPean (baca: pacaran) mungkin belum mengerti. Hehe

Salah satu mata rantai dari adegan mesra di ranjang adalah keberanian untuk datang ke dokter kandungan. Itu jelas, tidak bisa ditawar lagi. Yang semacam ini tentu tidak semudah kalian pergi ke bioskop atau dinner bareng pasangan di cafe. Mengantar istri ke dokter kandungan menunjukkan level tinggi yang dicapai seorang pria.

Positif Hamil, sebuah Reaksi

Untuk kalian yang belum menikah, mungkin belum saatnya berfikir ke arah ini. Tapi untuk yang sudah berkeluarga, yang sudah sangat menantikan hadirnya momongan, ada sebuah hal penting : reaksi atas kehamilan istri 🙂

Waktu itu masih sangat pagi, kedua mata masih berat untuk dibuka. Istriku datang dengan senyum cerah dan menenteng sebatang test-pack dengan sepasang strip. Aku masih bengong. Oh, 2 strip. Eh, 2 strip ?? Allahuakbar !!!

Habis itu ngapain? Ekspresi apa yang pas? Apa tindakan selanjutnya? Sujud syukur? Hehe

Yakinlah, kalian yang belum menikah akan merasakan momen-momen seperti ini kelak. Tak perlu googling atau buka ensiklopedia, biarkan luapan emosi itu datang dengan sendirinya. Respon atas hal seperti ini tak bisa digambarkan, rasakan sendiri. Ekspresi dan kegembiraan yang dirasakan bisa jadi berbeda-beda untuk setiap individu.

Yang wajar sajalah, tak perlu salto atau selfie dengan test-pack di atas tower PLN. Cukup ucapkan syukur Alhamdulillah, selanjutnya boleh saling mentraktir dengan istri atas keberhasilan dan kerja kerasnya.

Dimulainya Tanggung Jawab Baru

Selamat, Anda akan segera menjadi Ayah. Maka tinggalkanlah pernak-pernik gundam, pretelan onderdil motor, dan berhentilah jingkrak-jingkrak di depan panggung JKT 48. Anda terlalu berwibawa untuk itu.

Mulai detik itu, kantong dompet juga harus mulai diperketat. Biasakan membawa bekal makanan, kurangi rokok, dan tega untuk mengurangi jatah belanja make-up istri.

ayahanak004

megapolitan.kompas.com

Salah satu kewajiban yang mulai timbul adalah mengantar istri ke dokter kandungan secara berkala. Ini tak sembarang rutinitas. Nah kali ini saya berikan beberapa tips saat mengantar istri ke dokter kandungan. Simak baik-baik ya, boleh sambil dengerin lagu JKT 48.

Tips 1 : Pilih dokter kandungan yang baik

Dokter kandungan yang baik bukan ditentukan oleh ganteng atau cantik. Anda boleh saja memilih dokter seperti Ryan Thamrin (host dr.OZ Indonesia) asal sudah jelas reputasinya. Tapi saran saya, pilihlah dokter yang tidak terlalu cantik atau tampan, untuk menghindari motivasi lain ketika cek kandungan. :p

Selain itu, pilihlah dokter kandungan yang mudah diajak sharing dan diskusi. Biasanya ketika awal kehamilan akan banyak pertanyaan yang kita ajukan. Jangan sungkan untuk mencari informasi tentang dokter yang handal dari saudara atau teman yang sudah berpengalaman. Masalah apakah dokter itu pria atau wanita, itu subjektif, yang penting bukan dokter gigi.

Tips 2 : Pilih yang tidak terlalu jauh

Jangan memilih seorang dokter kandungan yang tersohor tapi lokasinya 150 km dari rumah kita. Bukan apa-apa, harga premium sekarang sedang tak menentu. Belum lagi kalau kita harus menyempatkan diri untuk mampir makan, bayar tol, terjebak kemacetan dan sampai kemalaman. Nggak enak banget tuh !! Pilih yang dekat-dekat saja ya.

Tips 3 : Bawa sedikit makanan dan minuman

Wanita yang sedang hamil cenderung mudah lapar dan haus. Anda harus mengantisipasi hal itu, jangan sampai saat antri pasangan anda tiba-tiba memanggil tukang bakso. Selain malu, mungkin akan menimbulkan kegaduhan di ruang tunggu. Tak perlu bawa sebakul nasi juga, cukup beberapa butir kurma atau roti sobek. Jangan lupa membawa sebotol air putih, biar tidak seret saat makan.

Tips 4 : Bawa kamera atau smartphone

Yang satu ini sebenarnya bukan kewajiban, tapi sebagai newbie yang masih awam, kita perlu sedikit mendokumentasikan proses USG. Fokuslah untuk merekam gerakan janin di layar, tak perlu sampai merekam perut istri kita. Pastikan juga baterai terisi penuh, jangan sampai kamera mati ketika sang jabang bayi ingin berekspresi di depan kamera.

Tips 5 : Jangan lupa bawa dompet

Tentu saja dompet dengan uangnya, jangan sampai kita terpaksa ngutang. Setahu saya, belum ada dokter kandungan yang menyediakan mesin gesek kartu kredit atau debit. Belum ada dokter kandungan yang menerima pembayaran via paypal.

***

Yapp, itulah beberapa tips santai ketika kita harus mengantar istri ke dokter kandungan. Sebenarnya ada banyak tips lain yang bisa Anda dapatkan di berbagai situs web (yang lebih serius dan kompeten tentunya), tips-tips di atas hanyalah pengalaman saya selama beberapa bulan ini mendampingi istri ke dokter kandungan.

Apa, ngaco?? Ayolah, Anda harus mampu menjadi pribadi yang bijak. Situasi ketika mempunyai istri sedang hamil adalah sebuah tanggung jawab besar, dan itu tidak mudah. Jadi, ciptakanlah simpul-simpul senyum di diri Anda dan Istri. Buat suasana nyaman, saling support dan jangan terlalu tertekan. Tips-tips di atas adalah masukan bagi kita semua, calon Ayah yang baik, untuk mulai memberikan kenyamanan bagi istri kita yang sedang berjuang siang dan malam mengawal janin di dalam rahimnya.

Jadi, jangan takut untuk menghadapi situasi itu. Motivasi diri kita bahwa kita mampu. 🙂 Selamat berjuang Ayah-Ayah muda 🙂

Merencanakan kehamilan

IMG_0224

“Kak, kita langsung program punya anak kan, gak usah ditunda-tunda ya ?!” 

Kalimat di atas adalah secuil obrolan pada hari-hari pertama pernikahan. Subhanallah, merasa ditantang seperti itu, aku langsung meng-iya-kan. Hehe. Walau mungkin maksud yang ingin disampaikan sedikit berbeda, bagiku itu adalah satu tanda. Tancaaaappp….!!!

Upz. Ternyata tak semudah itu. Bahasa gaulnya “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian”. Butuh kerja keras. Iya, kerja keras. Apesnya, ada banyak faktor yang sangat mempengaruhi tujuan kami untuk program kehamilan ini. Secara umum, ada 2 jenis faktor : internal dan eksternal.

Faktor Internal

Ada begitu banyak faktor yang berasal dari internal, dalam hal ini adalah dalam diri kedua pasangan. Misalnya tentang kesehatan, kebugaran, mood, kualitas sperma dan sel telur, serta kondisi rahim si ibu. Faktor-faktor tersebut biasanya berkaitan dengan kesiapan pasangan untuk melakukan hubungan suami istri.

Untuk para pasangan yang sedang menjalani program kehamilan harus merencanakan hal itu dengan baik, tentu saja disertai dengan persiapan yang memadai.

Faktor Eksternal

Nah, selain berbagai kondisi internal di atas, ada banyak hal dari luar yang bisa sangat berpengaruh pada keberhasilan program kehamilan suatu pasangan. Namun demikian, faktor-faktor eksternal ini juga pada akhirnya akan ditentukan oleh kemampuan diri kedua pasangan. Artinya, faktor-faktor eksternal akan mendukung kesiapan pasangan secara internal.

Adapun faktor-faktor tersebut misalnya asupan nutrisi, lingkungan tempat tinggal, tekanan dari luar, pengetahuan tentang kehamilan, perangkat-perangkat pendukung (misal: alat tes masa subur) dan dukungan dari orang-orang di sekitar.

Sekali lagi, berdasarkan pengalaman, faktor-faktor eksternal tersebut akan mendukung kesiapan pasangan secara internal. Ambil contoh : Nutrisi. Nah, tanpa nutrisi yang cukup, badan kita akan cenderung kurang sehat dan bugar, hal ini tentu saja akan berpengaruh terhadap aktivitas seks pasangan. Kemudian misalnya, pengetahuan seputar masa subur istri. Pengetahuan seperti ini diperlukan sebagai penentu kapan waktu yang pas untuk melakukan hubungan suami-istri.

Tips Kehamilan

Nah, kali ini aku akan memberikan sedikit tips untuk para pasangan yang sedang merencanakan kehamilan. Secara umum, kehamilan bisa terjadi dalam waktu 1-12 bulan setelah pernikahan. Pasangan yang satu dengan yang lain tentu saja berbeda, ada yang harus menunggu 3 bulan, 6 bulan, 10 bulan, 1 tahun bahkan 5 tahun baru bisa hamil. Aku dan istri baru bisa mendapatkan hasil di bulan ke-4 setelah menikah.

Tips 1 : Niat

Salah satu hal terpenting dalam mempersiapkan kehamilan adalah niat. Kedua pasangan harus mempunyai niat yang sama. Sebagai seorang muslim, saya sendiri mempunyai niat untuk mempunyai keturunan yang sholeh, mampu menjadi penerus kami, dan insya Allah menjadi pejuang-pejuang di jalan Allah. Hal ini tentu saja perlu didiskusikan dengan pasangan, untuk menyamakan frekuensi niat tersebut, jangan sampai hanya sekedar keinginan tanpa arah.

Dengan niat yang baik, semoga Allah akan memberikan kemudahan dan jalan yang lapang terhadap keinginan untuk mempunyai keturunan tersebut. Niat ini pula yang pada akhirnya nanti akan menentukan pola pengasuhan dan bagaimana cara mendidik anak. Pasangan yang sudah memantapkan niat tentu saja akan diikuti dengan langkah-langkah nyata menyongsong kehadiran buah hati, salah satunya adalah dengan menentukan metode pendidikan anak.

Tips 2 : Jaga Kesehatan

Bukan rahasia lagi jika aktivitas seks membutuhkan energi dan kebugaran yang prima dari kedua pasangan. Kondisi yang sehat akan menghasilkan badan yang bugar, dan tentu saja ini akan berpengaruh secara fisik maupun mental.

Secara fisik, badan yang sehat akan mendorong hubungan suami istri lebih nyaman dan optimal. Berdasarkan pengalaman beberapa kawan, biasanya hubungan seks yang nyaman dan mampu dinikmati kedua pasangan lebih besar kemungkinan berhasilnya. Selain itu, secara mental, badan yang sehat akan menghasilkan mood yang baik ketika bercumbu. Rasa lelah, bosan, tertekan ataupun stress akan menurunkan rasio keberhasilan program kehamilan.

Tips 3 : Ketahui Masa Subur

Salah satu hal yang sering diabaikan pasangan adalah pengetahuan tentang masa subur istri. Hal ini penting untuk menentukan waktu yang tepat melakukan hubungan seks.

Masa subur ditandai oleh kenaikan Luteinizing Hormone secara signifikan sesaat sebelum terjadinya ovulasi (pelepasan sel telur dari ovarium). Kenaikan LH akan mendorong sel telur keluar dari ovarium menuju tuba falopii. Didalam tuba falopii ini bisa terjadi pembuahan oleh sperma. Masa-masa inilah yang disebut masa subur, yaitu bila sel telur ada dan siap untuk dibuahi. Sel telur berada dalam tuba falopi selama kurang lebih 3-4 hari namun hanya sampai umur 2 hari masa yang paling baik untuk dibuahi, setelah itu mati.

Secara garis besar Masa Subur Wanita dibedakan antara masa puncak masa subur dan masa subur biasa. Masa puncak subur wanita adalah 13 hari sesudah hari pertama Haid (Hari Pertama Menstruasi + 13 hari). Sedangkan masa Subur Biasa pada wanita adalah; Masa Puncak Subur -3 hari sampai dengan Masa Puncak Subur + 3 hari. Sebagai contoh mudah penjelasan Masa Subur wanita adalah, apabila hari pertama Menstruasi adalah tanggal 10 maka tanggal Masa Puncak Subur anda pada tanggal 23, dan masa subur awal tanggal 20 dan masa subur akhir tanggal 26.

Salah satu cara mengetahui masa subur adalah dengan menggunakan alat pendeteksi masa subur, misalnya Baby Test, atau bisa ditanyakan ke apotek.

Tips 4 : Posisi Hubungan Intim

Banyak orang yang percaya, bahwa posisi hubungan intim sangat berpengaruh terhadap terjadinya kehamilan. Para pakar berpendapat bahwa posisi pria di atas cenderung memiliki prosentase keberhasilan yang besar. Pasca ejakulasi, sebaiknya posisi wanita tetap di bawah, bahkan disarankan untuk mengangkat kaki ke atas dan mengganjal pinggul dengan bantal. Hal ini agar sperma tidak mengalir keluar.

Tips 5 : Asupan Nutrisi dan Vitamin

Kami banyak mengkonsumsi vitamin E dari suplemen yang banyak tersedia di apotek, juga memperbanyak konsumsi bahan makanan yang mengandung vitamin E, contohnya tauge. Selain itu, pola makan yang baik juga akan sangat mendukung kondisi tubuh seperti pada tips nomor 1.

Tips 6 : Istiqomah dan Doa

Hal yang tidak boleh dilupakan adalah usaha yang terus menerus disertai dengan keyakinan bahwa Allah akan memberikan ijinnya kepada kita untuk mempunyai keturunan. Banyak pasangan yang merasa usahanya kurang maksimal, hal ini cenderung mengurangi semangat mereka untuk terus berusaha. Tentu saja, doa harus terus dipanjatkan agar Allah segera memberikan kehamilan kepada istri. Banyak pula pasangan yang terus istiqomah dan intens berdoa setelah bertahun-tahun tidak dikaruniai anak, pada akhirnya diberi keturunan karena usaha dan doa yang mereka panjatkan.

Menjadi Orang Tua

Nah, itulah beberapa hal yang bisa saya sharing seputar bagaimana mempersiapkan kehamilan. Bisa jadi, setiap pasangan mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang berbeda antara satu dengan yang lain. Yang lebih penting adalah bagaimana kita mempersiapkan segala sesuatunya setelah kehamilan yang diinginkan tersebut tiba. Bahwa menjadi orang tua adalah sebuah tanggung jawab yang besar.

Belajar, belajar, dan terus belajar. Itulah yang kini sedang kami lakukan. Tantangan dan perjuangan itu masih sangat panjang dan berliku. Mempersiapkan kehamilan adalah sebuah pixel kecil dari sebuah layar kehidupan. Mengawal sang buah hati akan menjadi serpihan besar dari proses itu. Hari ini, aku terus berdoa untuk sang jabang bayi yang kian hari kian berkembang di dalam rahim istriku. Kami percaya yang terbaik akan dikaruniakan kepada kami. Allahumma aamiin 🙂

Abi, Ayah, Bapak

ayahanak001

Assalamualaykum wr wb

Alhamdulillahirobbil ‘alamin, Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad. Teriring rasa syukur dan kegembiraan atas nafas di hari ini, detik ini, dalam keIslaman dan kesehatan yang tak terhitung lagi banyaknya. Teringat akan sebuah ayat di dalam Kitabullah : “fabi ayyi ala i rabbikuma tukazziban” 

“Maka Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang Kamu Dustakan?” Disebut 31 kali dalam Surah Ar Rahman, secara ritmik dan merdu jika dibacakan. Tapi tentu sangat sulit untuk mengaplikasikan secara istiqomah dalam kehidupan kita. Bahwa jiwa ini masih sangat rapuh untuk terkungkung dalam nafsu, bahwa untuk dapat meresapi ayat itu benar-benar membutuhkan tekad yang kuat.

Wasyukurillah, saat ini aku menunggu kelahiran sang buah hati. Di usia kehamilan 8 bulan ini, aku dan istri semakin antusias menyambut kelahiran anak pertama kami. Rasa penasaran, rasa bahagia, cemas, excited dan semacamnya bercampur aduk menjadi satu. Apalagi sang bundanya, dia begitu ceria dan kadang menjadi sangat hebring ketika membayangkan wajah imut anak kami nanti. 🙂

Saat ini, kami ibarat menunggu sebuah kiriman spesial dari Allah SWT, di mana kami harus menjaga, mendidik dan mentarbiyah kiriman itu. Kami mempersiapkan diri untuk menerima amanah yang besar.

Blog ini, semoga istiqomah, adalah media belajarku menjadi seorang ayah. Menjadi seorang kepala sekolah. Menjadi imam bagi keluarga kecil kami. Saat nanti waktu kelahirannya tiba, aku akan dipanggil ayah. Atau Abi. Atau Bapak. Insya Allah, banyak hal yang akan aku tuliskan di blog sederhana ini, berharap diberikan kemudahan, hingga kelak saat anak kami dewasa, ia akan melihat catatan-catatan kecil yang menggambarkan perjalanannya terlahir di dunia.

Suatu saat, aku dan istri membicarakan tentang panggilan apakah yang paling tepat untuk kami dari si buah hati : Ayah-Ibu, Ayah-Bunda, Ibu-Bapak, Abi-Umi, Mamak-Bapak atau Mami-Papi ? Mungkin tak hanya kami, berjuta pasangan yang lain pasti pernah juga dihampiri pertanyaan semacam itu. Banyak hal yang harus dipertimbangkan, mulai dari kenyamanan, kemesraan, kebiasaan di lingkungan dan keluarga, ataupun pertimbangan lain.

Panggilan abi dan ummi mungkin terdengar keren, syar’i, dan beda dari yang lain. Tapi sejauh ini kami belum sreg, kami lebih memilih ayah-bunda. Selain sudah cukup familiar dan bukan hal yang aneh lagi di masyarakat, dari awal kehamilan istriku telah memposisikan dirinya dengan panggilan bunda ketika berdialog sendiri dengan janin di perutnya. Hehe.

Bukan sebuah rahasia lagi, jika panggilan semacam mamak-bapak, bapak-ibu, romo-biyung dan panggilan bernuansa Jawa sekarang ini kian tak populer. Pernah terpikir juga untuk menggunakan sapaan itu, namun nampaknya kami sejauh ini cukup senang dengan panggilan “Ayah-Bunda”. 🙂

Semoga blog ini bisa membawa manfaat bagi sekalian pembaca. Sedikit menjadi curahan rasa syukurku atas beragam kenikmatan yang diberikan kepada kami dari Allah SWT.  Doakan kami, agar mampu melewati hari-hari menjelang persalinan itu, diberikan kelancaran prosesnya, diberikan kekuatan untuk menjalani hari-hari pertama kedatangan buah hati kami. Semoga Allah merahmati kami dengan kemampuan mendidiknya, menjadikannya anak yang sholeh, menjadi ahli agama, yang akan menggenggam tangan kami kelak di akhirat untuk dituntun ke dalam Jannah-Nya. Aamiin.

Nuun, demi pena dan apa yang mereka tuliskan. Wallahul muwafiq ila aqwamit thariq.

Wassalamualaykum wr wb