Alumnus Gajah? And Then?

Alhamdulillah sudah di tahun 2022, tahun dengan angka cantik untuk mengabadikan momen-momen cantik nih, sebut saja tangal 02 02 2022 atau 20 02 2022, ihihihi. Oke maaf cukup basa basi unfaedahnya ya :D.

Tahun 2022 yang dimulai dengan Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog dengan tema pengenalan diri dan juga sebagai mamah gajah. Di awal penetapan tema bulanan tersebut sempat membuat saya semangat menulis di awal (ceritanya resolusi mengurangi jiwa deadliner), namun sayang ternyata semua hanya berakhir di dalam draft #selftoyor.

Saya….

Kebetulan di blog onyeth ini ada page berjudul “Saya???”, nah…sebenarnya saya hanya bisa mendeskripsikan siapa saya ya seperti itu, lebih ke biodata ya itu sih, hahaha. Nih ya, untuk mencari tahu hobi saya saja, saya wajib berpikir keras tanpa ada jawabannya pula, nah ini diminta menceritakan tentang diri saya sendiri #mumet.

Saya? Menurut saya nih ya, yang lebih tahu siapa saya harusnya suami saya sendiri. Sepertinya beliau lebih mengenal saya dibanding diri saya sendiri hehe.

Hmm..yang saya tahu persis, saya idealis. Namun, jiwa idealis ini sepertinya perlahan sedikit memudar semenjak saya menyandang status ibu, karena demi kewarasan bersama, idealisme ibu sempurna harus dikurangi dari standar ideal pada umumnya. Sifat ini jelas turun dari Bapak saya. Bedanya, idealisme Bapak saya sudah menghasilkan ‘sesuatu’, lah kalau saya sampai saat ini hanya menjadi sebatas sifat yang berefek negatif untuk orang di circle saya #tepokjidat.

Alumnus Gajah

Kok semacam lulusan pelatihan kebun binatang ya judul headingnya :D.

Institut Teknologi Bandung

Alhamdulillah saya bisa masuk ke dalam kandang gajah dan akhirnya keluar dari kandang gajah tersebut setelah 8 tahun ‘bermain’ di dalamnya. Lalu..dengan label alumnus gajah atau sekarang lebih tepatnya mamah gajah, ada pengaruh besar kah untuk kehidupan saya pribadi? Tentu ada donk, baik itu pengaruh positif maupun negatif.

Pengaruh negatifnya dulu ya. Pengaruh negatifnya ini berhubungan dengan status saya saat ini, I-bu ru-mah tang-ga. Sepertinya titel mamah gajah ini tidak pernah akur dengan status ibu rumah tangga (dalam kehidupan saya lho ya). Banyak orang (termasuk saya) beranggapan bahwa tujuan awal masuk ITB agar mudah dapat pekerjaan, bergaji besar, pasangan yang ‘setara’, dan beberapa anggapan ajaib lainnya. Bagi saya itu hanya anggapan di awal sampai tahun pertama bekerja saja, namun setelah saya mendapatkan itu semua (ya alhamdulillah saya sempat merasakan semua privileges tersebut), saya mulai jenuh dan tujuan hidup saya semakin tidak jelas.

Sampai pada akhirnya saya melahirkan anak pertama dan saya sungguh sangat yakin bahwa saya akan berhenti bekerja, dengan alasan yang akhirnya menjadi tujuan hidup saya juga, bahagia bersama anak dan suami saya. Jeng jeng jeng…keputusan saya inilah yang akhirnya menjadi buah bibir para maktizen di circle kakek neneknya anak-anak saya.

Lulusan ITB kok di rumah ajah….

Sekolah sampe S2 berapa lama tuh, ujung-ujungnya di rumah juga….

Cape-cape orang tua nyekolahin tinggi-tinggi, eh..sekarang hidup tergantung nafkah suami doank….

DAN MASIH BANYAK LAGI………

Saya ngetik ini saja masih merinding nih, terlalu menusuk kalau saya ingat lagi awal-awal mendengar statement tersebut, lebih tepatnya pasca melahirkan anak pertama.

Lanjut langsung saja ke pengaruh positifnya ya.

Menjadi orang baik. Dengan segala kekurangan saya, saya berani mengatakan bahwa saya orang baik, kenapa? Karena lingkungan saya pun terdiri dari orang-orang baik. Bukan berarti selain lulusan ITB itu tidak baik ya, toh di ITB ini ada kok dan banyak juga orang-orang yang tidak baik atau memang salah pergaulan. Sejak masuk kampus ini, ditambah lagi kenal dengan grup ITB Motherhood, saya merasa waktu hidup saya akan terbuang percuma jika harus mendengarkan semua toxic statements di atas tadi, jadi lebih baik saya sibuk dengan komunitas yang beraura positif saja. Eh tapi beneran lho, maktizen di atas itu tidak ada yang berstatus mamah gajah tentunya ;).

Menjadi pribadi tangguh. Saya kurang jelas nih ketangguhan dalam diri saya ini karena lulusan ITB atau lulusan IMG hahaha. Yang saya salut dengan para mamah gajah ini adalah, tidak sedikit lho yang berstatus LDM, bahkan ada yang sampai beda benua bertahun-tahun, dan mereka bertahan, they did it. Bagi saya mereka semua tangguh dan ketangguhan ini menular lho walau hanya dengan membaca kisah mereka ini.  

Semua pengaruh positif di atas jelas disebabkan karena komunitas yang mendukung untuk pembentukan karakter dan network yang luar biasa luas, kasarnya dari petani, penjahit, pengusaha, artis, bahkan sampai politisi pejabat pemerintahan pun ada. Tinggal bagaimana kitanya saja yang harus pintar memilih mana yang pas dengan kepribadian kita.

Oh iya, jangan lupa juga, ada penetelitian kan yang menyatakan bahwa kepintaran anak turun dari kepintaran ibunya. Naaaah..jadi seharusnya tidak akan merugi lah ya mamah gajah yang ‘hanya’ berstatus ibu rumah tangga, yang penting bahagia :).

Dua Ribu Dua Puluh Satu

Sebelum menuju cerita di Tahun 2021, kita flashback dulu ke resolusi untuk 2021. Resolusinya apa? Lancar nyetir mobil! Hahahaha..iya sudah itu saja resolusinya, karena itu sebenarnya resolusi saya lebih dari 5 tahun yang lalu, tapi alhamdulillah baru tercapai di tahun ini. Semua memang bisa terjadi karena the power of kepepet hahaha. Oke sekarang di Tahun 2021 ada apa ya…..?!?

Melek Finansial

Wow…ini sub judulnya berat banget. Hahaha…ga kok tenang saja, saya bukan ahli di bidang ini jadi tidak akan mungkin membahas secara teknis ataupun teoritis. Saya hanya sharing latar belakang dan pengalaman saya saat ini saja untuk masalah finansial ini.

Tahun 2021 termasuk tahun pelajaran hidup untuk saya. Kenapa? Akhirnya kami merasakan efek dari pandemi ini (selain efek stay at home tentunya), kami (atau hanya saya ya :D) mulai merasa harus ada kran income tambahan. Kenapa tadi saya sempat ragu bahwa hanya saya yang merasakan, karena sebenarnya setelah saya resign 5 tahun yang lalu alhamdulillah suami sudah memberikan cukup rezeki untuk kami sekeluarga, alhamdulillah si kakak masih bisa sekolah, kami masih bisa makan enak, kebutuhan kendaraan, bensin, listrik, dkk masih tercukupi, jadi untuk kebutuhan primer keluarga kecil kami ini alhamdulillah kami merasa cukup.

Di sisi lain (saya tidak mau menggunakan kata ‘tapi’ ya), sebelum pandemi datang, suami mendapat income tambahan dari dinas lapangannya yang hasilnya bisa dijadikan sebagai tabungan, investasi, liburan, serta kadeudeuh untuk orang tua. Nah…kebetulan tabungan dan kadeudeuh ini lebih banyak saya yang handle, jadi ini lumayan berasa untuk saya di saat harus membagi pos keuangan, dan suami tidak bisa mendapat income tambahan tersebut selama satu tahun ini.

“Oh…Betapa merdunya suara lakban ini..” suara hati seller online shop

Akhirnya yang awalnya saya jualan kecil-kecilan hanya untuk mengisi waktu dan untuk jajan saya pribadi, akhirnya alih guna menjadi tambahan untuk tabungan atau investasi kami. Untungnya saya pun memang tidak begitu doyan belanja (doyannya liburan, hishhh sama aja yak :p), jadi alhamdulillah tidak terasa berat. Saya pun cukup happy dengan jualan barang-barang PO ini, karena saya masih bisa menemani anak-anak dalam mendapatkan cuan tambahan ini ihihihi.

Investasi dan Tabungan

Setelah penambahan si kran tambahan ini, dilanjut pada tahap pengelolaannya. Ternyata lumayan njelimet ya hahaha. Mungkin kalau kita sehari-hari jajan somay, cuanki 10 ribuan seperti murah kan ya , “ah 5000 doank, 2 porsi Mang!”, lah kalau ini dilakukan seminggu 3x kan lumayan yaaa bahkan besar sekali lho kalo sudah ditotal setiap bulannya. Akhirnya mulai dihilangkan nih hobi ‘jajan’nya ditambah dengan mengubah pola cara menabung.

Dimulai dengan menginstal beberapa aplikasi di telepon genggam, aplikasi Jago, Bibit, dan Ajaib. Jikalau blogtizen (panggilan macam apa ini, hahaha) sudah terbiasa dengan investasi berupa reksadana ataupun saham, pasti sudah tidak asing dengan tiga aplikasi ini. Dulu awalnya saya pikir reksadana dan saham ini hanya untuk kalangan eksekutif dan hukumnya haram, tapi ternyata setelah dipelajari lebih lanjut, alhamdulillah sepertinya semuanya aman dan halal.

Tiga Aplikasi yang Bisa Diunduh di Play Store

Jadi setiap bulan saya dan suami akan menyisihkan pendapatan kami ke dalam reksadana di Bibit dan RDN (Rekening Dana Nasabah) untuk saham di Ajaib. Nah..untuk pengeluaran rutinnya masuk ke aplikasi (bank) Jago. Di Jago inilah saya membuat pos keuangan untuk beberapa kebutuhan yang harganya memang tidak murah, tapi cukup penting, namun tidak begitu mendesak. Saya tidak akan menjelaskan secara detil dari masing-masing aplikasi tersebut ya, karena harus satu blog sendiri itu sih untuk masing-masing aplikasi hihihi.

Lebih Dekat dengan Orang Tua

Yah..siap-siap mewek ini sih kalau membahas tentang orang tua. Banyaknya kematian akibat Cov*d di tahun ini lumayan membuat hidup kurang tenang. Alhamdulillah di keluarga kami tidak ada yang menjadi korban Cov*d ini, namun tetap saja was-was tiada henti. Bapak yang usianya 86 tahun, Mama yang berAsma akut, eaaa horor bukan?! Maka dari itu aturan dari kami para anak yang melarang orang tua untuk keluar dari rumah sungguh sangat wajib dipatuhi. Setiap bulan sebisa mungkin kami penuhi semua kebutuhan mereka, bahkan kami hadirkan sepeda statis di dalam rumah agar tidak perlu ada alasan olahraga di luar rumah.

Kenapa bisa menjadi lebih dekat bukannya malah jadi jarang ketemu ya?! Nah, bagi kami dekat itu ga melulu masalah jarak, ya buat apa juga ketemu setiap hari tapi saat bertemu hanya sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Komunikasi kami selama pandemi malah lebih intens, bertemu pun alhamdulillah masih sering kok meski hanya dadah-dadah dari mobil. Kalau ingin mengunjungi masuk ke rumah orang tua, dipastikan terlebih dahulu 10 hari sebelum berkunjung kami tidak berpelesiran ke suatu tempat atau kalau perlu ya stay at home selama 10 hari sebelum berkunjung.

Alhamdulillah Idul Fitri 2021

Seperti lebaran tahun ini pun kemarin kami sekeluarga ternyata bisa kumpul semua di rumah Mama Bapak, meskipun tanpa para kakak yang tinggal di luar kota karena risikonya terlalu besar pada saat itu. Bisa berkumpul dengan SEHAT di saat pandemi yang tentunya sangat di luar dugaan kita semua ini, MasyaAllah sungguh nikmat yang tidak ternilai. Pandemi tahun ini (jangan ada lagi donk di tahun-tahun mendatang huhuhu) bagi saya pribadi bisa menjadikan saya lebih menghargai waktu kebersamaan dengan keluarga, khususnya orang tua. Seperti selalu saja ada pikiran mau beliin apa untuk orang tua, mau ajak jalan-jalan orang tua ke tempat yang asyik tapi aman, ah pokoknya I want to make them happy.

Penutup

Sekian cerita tentang pelajaran hidup di Tahun 2021 yang juga dibuat untuk memenuhi Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog di Bulan November ini. Semoga rasa syukur selalu menyelimuti kita semua di setiap nafas kita ini. Pandemi memang menghatam segala kehidupan manusia di bumi ini, namun pandemi juga membuat kami pribadi lebih peduli dengan orang terdekat dan tentunya lebih concern dengan pola hidup kami (khususnya masalah finansial) :).

Pencarian Hobi Melalui Komunitas

Wow Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini sebenarnya bagian dari salah satu ocehan beberapa tahun lalu yang masih hibernasi di draft Si Onyeth lho, jadi digabung saja ya antara pencarian hobi dengan komunitas yang saya cintai ;).

Komunitas Saat Berseragam

Siapa yang sepanjang hidupnya tidak memiliki hobi yang spesifik? Saya! Duh kok sedih ya. Jadi kalau saya ditanya tentang hobi, sudah tentu saya puyeng ngejawabnya. Dari TK sampai SD, saya dipaksa (betul..ter pak sa) mengikuti beberapa les/kursus. Les organ, menari, piano, Bahasa Inggris, aritmatika, renang, dan mega brain (metode hafalan). Ini bersamaan semua? Yes, eh kecuali yang organ, karena digantikan dengan piano. Menurut hipotesis saya, saya tidak memiliki hobi karena kegiatan saya tidak dikerucutkan, walhasil saya ga mudeng apa yang sangat saya sukai.

SMP SMA semua kursus dihentikan, hanya fokus pada kegiatan ekstrakurikuler dan bimbingan belajar. Nah..karena cita-cita saya dari kecil adalah dokter, jadi saat SMP saya coba masuk komunitas PMR dan alhamdulillah saya happy dan saya enjoy banget meskipun orientasinya untuk tingkat SMP lumayan membuat saya berpikir: ogah untuk diulang namun indah untuk dikenang :D.

Foto-Foto dengan Kostum Tari saat TK

SMA maunya sih melanjutkan PMR tapi kegiatannya tidak seseru saat di SMP, akhirnya saya memutuskan untuk masuk ke dalam komunitas Seni Sunda, khususnya seni tari. Ya, hanya menari lah kegiatan yang saya suka sejak saya TK. Masuk ITB pun saya sudah berangan-angan masuk LSS, kenyataannya gagal masuk hahaha. Sebagai gantinya selama 1 tahun di awal perkuliahan saya sempat mengikuti privat jaipong dengan almh. Tati Saleh sang maestro jaipongan. Privat ini pun tidak bertahan lama, hanya 1 tarian saja, karena beliau sakit lalu saya pun memutuskan menggunakan hijab, yang menurut saya sedikit tidak elok dipandang apabila masih harus meneruskan jaipongan tersebut. Done! Kegiatan menari saya berhenti di sini, lalu saya mulai ‘pura-pura’ sibuk di komunitas jurusan saya yang tercinta (uhuk..), IMG (Ikatan Mahasiswa Geodesi).

IMG

source: Revanza’s Facebook

IMG ini suatu komunitas yang hmm..berjuta cerita ya ada di sini, dari tangis, tawa, terkapar, tampar (lho :p), sampai ngutang pun ada di sini hahaha. Oke, mari bertestimoni sedikit tentang IMG (inhale exhale). Suatu himpunan yang berisi mahasiswa/i jurusan Teknik Geodesi dan Geomatika ITB yang kalau dicari di mbah gugel pasti masih ada aja tuh berita ga enaknya. Saya bukan membenarkan kekerasan dalam suatu orientasi, namun saya juga tidak menyalahkan adanya ‘kekerasan’ tersebut apabila memang ‘harus’ ada dan memang tepat sasaran. Oh iya ini diluar cerita mbah gugel ya, karena ‘kekerasan’ itu sudah berakhir tepat di angkatan saya (2004), jadi kalau ada berita mengenai hal tersebut setelah tahun 2004, sudah bisa dipastikan itu ‘mengadi-ngadi’ kalau kata netizen zaman now.

Cerita tadi mungkin salah satu daya tarik yang orang luar lihat, namun bagi kami, sepertinya belum ada ya yang menyesal masuk ke dalam IMG ini, hayooo warga IMG ada yang menyesal tidak? Terlalu banyak nilai positf yang bisa kita ambil dan kita jalani tentunya. Negatifnya sudah pasti ada, tapi menurut saya bisa diabaikan bila harus dibandingkan dengan pengaruh positifnya. Bahkan ikatan ini berlanjut sampai ke alumninya, IA-GD (Ikatan Alumni Geodesi). Di komunitas ini pun auranya sama persis dengan IMG, sama-sama horor, bwahahaha engga denk, sama-sama asyik dan seru dengan keberagaman cerita dan pengalaman lintas generasinya. Pada intinya bagi saya pribadi dua komunitas ini (khususnya 2004 ya) merupakan wadah silaturahmi dengan sejuta kenangan dan manfaat yang insyaAllah tidak akan terputus kecuali kita sendiri yang memutuskan untuk hengkang dengan sendirinya hehe.

Reuni 2019

ITB Motherhood

Wuih ini dia nih komunitas titik balik kehidupan saya setelah saya memutuskan resign dan melahirkan si sulung di tahun 2016. Pada tahun 2016 ini lah saya mulai bergabung dengan komunitas ITB Motherhood (ITBMH). Komunitas ini MasyaAllah serius lho, jauh lebih lengkap dan memuaskan dibanding mbah gugel. Mau tanya apa dan butuh apa semua ada di sini. Emak-emak super ‘gercep’ yang multitalent serba bisa serba tahu.

Hebatnya lagi komunitas ini memfasilitasi para mamah yang punya hobi tertentu. Jadi semacam sub komunitasnya ITBMH, salah satu contohnya ya Mamah Gajah Ngeblog (MGN) ini. Lho, memang saya hobi ngeblog? Sebenarnya salah satu alasan utama saya masuk MGN ini adalah untuk menghidupkan blog saya yang sudah berumur lebih dari 10 tahun ini. Pertama kali saya membuat Si Onyeth ini sebenarnya untuk wadah celotehan saya sehari-hari, tapi dengan berjalannya waktu khususnya di saat saya sudah memiliki teman hidup yang tentunya merangkap sebagai tempat pelampiasan segala ocehan saya, Si Onyeth ini mulai dilupakan. Nah..untuk itulah saya gabung dalam MGN ini, berharap menumbuhkan kembali hasrat ngeblog dengan isi yang lebih bermanfaat dan bisa dinikmati oleh banyak orang. Namun entah mengapa sampai saat ini sungguh sulit menemukan waktu khusus untuk mengoprek Si Onyeth ini di tengah para bocils yang alhamdulillah energinya tidak pernah habis :).  

Selain itu juga ada sub komunitas yang khusus untuk suka masak, lari, berkebun, ataupun untuk yang suka bercerita. Selain sub komunitas berdasarkan hobi, ada juga yang berdasarkan area tempat tinggal, jadi sangat memudahkan andaikata ada yang saling butuh info terkait di lingkup area setempat.

Dari ITBMH juga saya mulai berani dan belajar berjualan. Benar-benar pengalaman pertama saya menjual sesuatu ya di komunitas ini. Belajar berinteraksi dengan orang lain, mendapat banyak teman baru, meskipun sampai saat ini belum pernah sekali pun bertemu dengan komunitas ini secara langsung, namun saya yakin mamah-mamah ini semuanya hebat dan baik hati J. Tanpa disadari saya mendapatkan hobi baru dengan bergabung di ITBMH ini, jualan dan belanja barang garselan! Ihihihihihi…sungguh hobi yang tidak berfaedah.

Kesimpulan

Jadi komunitas apakah yang paling saya cintai? Alhamdulillah saat ini saya cinta dengan semua komunitas yang saya masuki, kalau tidak pasti saya sudah keluar dengan sendirinya. Seiring waktu, pasti saya harus fokus dengan satu atau dua minat kegiatan saja, dari sinilah saya ingin bergabung dengan beberapa komunitas sekaligus untuk mencari sebenarnya apa sih yang lebih saya minati, apa sih yang lebih saya cintai :).

Bahasa Saya

Sejujurnya pengalaman berbahasa hampir bisa dikatakan tidak ada, hikz..sedih ya. Maka dari itu Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini sedikit (banyak denk) membuat saya terpaku tanpa draft apapun sampai di penghujung Bulan September ini.

Saya….

Alhamdulillah saya dari lahir tidak pernah dihadapkan dengan lingkungan yang terlalu berbeda yang mengharuskan saya untuk beradaptasi dalam hal berbahasa. Saya lahir dan besar di Jakarta sampai saya berumur 14 tahun, lalu pindah ke Bandung yang ternyata bahasa sehari-hari pun masih dengan menggunakan Bahasa Indonesia, kecuali kalau kita masuk ke dalam komunitas tertentu yang memang sudah dengan luwesnya berbahasa sunda baik itu ‘sunda halus’ maupun ‘sunda kasar’.

Untuk ke negeri orang, saya baru merasakan saat umroh which is berbahasa Inggris dan pernah sedikit menapakkan kaki di Jepang yang memang butuh effort lebih dalam berkomunikasi karena warga setempat sungguh sulit dalam berbahasa Inggris, tapi tetap saja saya tidak merasa terlalu kesulitan di sana. Alhamdulillah semua warga yang saya temui begitu toleran jadi saya pun masih merasa nyaman tanpa ada rasa takut atau malu.

Hmmmm….saat saya masih menggeluti dunia survey, saya diberi kesempatan untuk ke luar Pulau Jawa beberapa kali, salah satunya di Pulau Buton dan Pulau Konawe selama 1 bulan. Saya pikir (dan saya harap) akan mendapatkan beberapa kendala ataupun penglaman menarik dalam berkomunikasi, ternyata tidak juga, karena mereka pun menggunakan Bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari. Kalau memang ada yang berbeda mungkin hanya menambahkan beberapa suku kata di belakang kata asli dengan intonasi khas mereka, namun sungguh itu semuanya masih dapat saya mengerti karena memang kata-katanya masih jelas Bahasa Indonesia bukan bahasa daerah.

Eh iya..saya pernah lho berada di masa kami menggunakan bahasa gaul rahasia untuk berkomunikasi agar sekitar kami tidak mengerti dengan apa yang kami bicarakan. Saya pun pernah sedikit sharing di blog ini kok. Penggunaan bahasa ini digunakan saat saya SD sampai SMP lah ya, eh kayaknya sih sampai SMA pun masih deh, bahkan terkadang sekarang suka iseng sama suami bicara dengan bahasa ini, meskipun suami rada ndak mudeng ihihi. Lucunya bahasa gaul rahasia ini ya tidak bisa menjadi rahasia lagi kalau semuanya pun sudah mengerti dengan aturan penggunaan bahasa ini, hahaha.

Jadi saya harus cerita apa lagi yaaaaa???

Bahasa Inggris VS Bahasa Indonesia

Kalau ada yang tanya ke saya lebih susah mana, Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris, sudah pasti akan saya jawab Bahasa Indonesia. Mari tengok contoh standar seperti beberapa meme yang beredar belakangan ini, JATUH. Bahasa Inggrisnya jelas fall. Nah kalau di Indonesia kan jelas beda ya, “Oi..Tukiyem jatuh tuh!!!”. Respon pertama biasanya si pendengar akan tanya balik, “Jatuh gimana?”. Ya ga? Ya karena jatuh itu berbagai macam bentuk dan ada istilahnya sendiri lagi. Terjungkal, terpeleset, tumbang, bahkan jatuh hati #eh. Sebuah kata ‘jatuh’ ini bahkan ada karya ilmiahnya sendiri lho.

source: google

Kalau untuk Bahasa Sundanya jatuh juga sudah banyak yang tahu kan? Contohnya seperti meme yang banyak berseliweran di media sosial di bawah ini:

source: id.quora.com

Betapa kayanya ragam bahasa negeri kita ini sampai sukses membuat nilai Bahasa Indonesia saya saat UAN SMA menjadi yang terendah di antara 2 mata pelajaran lainnya, eaaa.

Bahasa Keluarga

Mama asli Sunda, Bapak wong Jowo, tapi bahasa sehari-hari mereka kepada anak-anaknya tetap Bahasa Indonesia. Nah…kecuali kalau sudah kumpul keluarga besar, beda cerita. Di keluarga Mama akan full of Sundanese, keluarga Bapak ya jelas akan full of Javanese, anak-anaknya ya bengong lah, hahaha. Untuk saya pribadi, saya lebih common dengan Bahasa Sunda, karena Keluarga Mama jauh lebih sering kumpul dan personil milenialnya (angkatan 80-90 anggap milenial saja lah ihihi) pun lebih banyak.

Dikarenakan saya ‘tidak sengaja berkenalan’ dengan Bahasa Sunda melalui para sepupu ini, walhasil hancurlah pengetahuan Bahasa Sunda saya. Tahu dari mana hancur? Ya sejak saya pindah ke Bandung. Sewaktu di Jakarta mungkin tidak ada yang sadar kalau Bahasa Sunda saya salah ataupun kalau memang ada yang tahu ya mereka memaklumi karena saya orang Jakarta. Jeng..jeng….pindahlah saya ke Bandung. Ternyata Bahasa Sunda saya selama ini kasar semuanya, bahkan terbawa sampai sekarang, sungguh sulit untuk diubah.

Contohnya nih, lebok! Ini tuh seriiiing sekali diucapkan para sepupu jika memang sedang bermain dan ditujukan kepada yang kalah, jadi pada saat itu saya mengartikan lebok itu sebagai syukurin!. Setelah saya pindah ke Bandung baru tahu kalau lebok ini sunda kasar yang artinya makan. Ya mungkin pada saat main itu artinya jadi seperti, makan tuh! Kebayang kan bagaimana komunikasi saya saat pertama kali pindah ke Bandung, hadeeeeh… Untung saya mendapatkan komunitas yang menyenangkan yang mau memperbaiki segala kosakata sunda kasar saya. Jadi sekarang pun andaikata mau berbahasa sunda dengan tetangga (biar akrab gimanaaaa gitu hehe), sebelumnya harus dipikirkan dulu, karena lebih baik berbahasa Indonesia saja dibanding terucap sunda kasar dari mulut saya ini huhuhu.

Namun tidak bisa dipungkiri berkomunikasi dengan sunda kasar atau apapun jenis bahasa yang bukan bahasa formal memang seperti menjadi identitas kedekatan dalam komunitas tertentu. Sama seperti di drama Korea (cmiiw), jenis panggilan dan cara berbicara dapat menjadi parameter seberapa dekat hubungan mereka. Jadi menurut saya kita bebas berekspresi dalam berbahasa, namun tetap harus beretika, tahu tempat, tahu suasana, jangan sampai menyinggung perasaan atau budaya orang lain.  

Fungsi atau Gengsi?

Setelah bulan kemarin berusaha untuk melucu, Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini kembali pada topik agak serius. Budayakan hidup tanpa bajakan, wow banget kan temanya. Dalam rangka merayakan Kemerdekaan Indonesia, tema ini dipilih dengan tujuan agar kita bisa lebih mencintai Indonesia, salah satunya dengan mencintai dan menghargai produk orisinil. Suatu langkah kecil, tapi efeknya pasti akan berasa untuk para pemikir handal yang sudah berhasil menciptakan suatu ‘maha karya’.

Awalnya saya sempat berpikir untuk menyerah dengan tema ini, karena sejujurya (bodohnya sih lebih tepatnya) setelah saya mendengar kata ‘bajakan’ yang terpikir oleh saya hanya sebuah perangkat lunak komputer (_ _”). Lah wong hampir 6 tahun saya vakum ngutak ngatik komputer, jadi saya ga akan ngerti dengan dunia bajakan perangkat lunak dalam kurun waktu 6 tahun belakangan ini.

Berawal dari…..

Sepertinya para wanita (atau hanya saya, heuheu) masih lebih familiar dengan kata ‘kw’ dibanding bajakan. Alhamdulillah sampai sekarang saya belum pernah punya atau memakai produk kw ini. Alhamdulillah lagi saya memang dibesarkan di keluarga yang memang sedikit brand minded, jadi keluarga saya percaya ada harga ada kualitas, dan biasanya merk-merk ternama yang harganya sudah menjulang itu kualitasnya memang oke dan tahan lama. Wih..jadi Ayu semua barangnya bermerk semua donk?!? Aiiiihhhh..tentu tidak, bwahahahaha.

Source: Freepik

Dulu waktu saya tinggal di Pondok Indah Jakarta, saya SD lah ya..oke saya akui yang saya pakai dari atas sampai bawah, luar sampai dalam, itu semua bermerk, minimal Guess Kids lah, tapi ya itu karena didandani orangtua, dan efeknya ke saya apa? Ga ada tuh selain untuk kepuasan mata para sosialita di lingkungan kami saja. Nah..setelah ada musibah menimpa kami sehingga kami pun pindah ke Bandung, mulai berasa tuh perbedaannya, khususnya dari gaya hidup. Jujur, saya lebih bahagia di Bandung. Kenapa?

Simplenya begini, (ini salah satu contoh saja ya) sewaktu saya di Jakarta, tempat main saya hanya satu, Pondok Indah Mall atau PIM (dulu cuma ada 1 dan itu hanya perlu nyeberang dari komplek rumah saya). Kalau ada yang pernah masuk PIM pasti tahu, ga ada donk satu pun tenant yang harganya murah (terjangkau oleh saya saat itu mungkin iya, tapi tidak murah), paliiiiiing mungkin saya datangi itu hanya Gramedia dan fotobox. Mau ngemil cantik ke Wendys which is ya eta ge mahal pan. Naaaaaah…saat di Bandung, saya cabcus tuh ke BIP (Bandung Indah Plaza) wuidiiiiih..berasa surga hahahaha. Kios makanan murah meriah banyak, bahkan harga baju di Matahari pun masih sangat jauh tergolong murah jika dibandingkan dengan Metro PIM kan. Maka dari itu saya bahagia, ihihihi.

Source: Tempo

Di sini lah pola gaya hidup saya pribadi mulai terbentuk (alhamdulillah bukan saat di Jakarta). Kadang Ibu saya pun ‘gemash’ saat melirik anaknya yang satu ini ga bergaya sama sekali, udah mah ogah dandan, geli lihat perhiasan (apalagi untuk dipakai, hiiiii…), dan rada anti sama barang bermerk (paling merinding kalau disuruh masuk ke tenant lantai dasar TSM). Kenapa? Ya karena di otak saya cuma ada satu alasannya:

UNTUK APA?

Buat apa lu bayar sebuah tas dengan harga puluhan juta yang fungsinya jelas sama saja dengan tas yang ratusan ribu. Ya..seanti-antinya saya tapi ga se’gembel’ itu juga sih. Saya akui kok ada harga ada kualitas, saya juga punya beberapa barang bermerk, tapi jelas harganya masih wajar, dan memang terbukti oke kualitasnya jadi pasti akan awet ;). “Ah Yu, bilang aja emang lu ga ada duitnya kan buat belanja?!” Hahahaha..ya bisa jadi, karena saya juga ga tau ya nanti kalau saya punya milyaran apakah setiap mau belanja saya masih cek pricetag setiap barang atau tidak :)).

Kalau saya sih…….

Sekarang ini UMKM Indonesia sedang gencar ya untuk (eh atau sudah) merajai pasar bahkan tidak sedikit yang sudah berkualitas ekspor. Nah ini..makin tidak ada alasan untuk saya pribadi membeli barang kw. Memang balik lagi ke alasan kita membeli barang tersebut untuk apa? Untuk fungsi atau gengsi? Jelas itu beda jauh. Saya tidak heran orang berbondong-bondong beli barang kw untuk kepentingan ‘sosial’. Ya biarkanlah itu hak mereka, itu pun uang mereka. Di pikiran saya, kalau saya beli barang kw lalu sialnya saat itu ada orang yang mengerti dan mampu mengenali perbedaan si kw dengan si asli, huwaduh..skakmat donk saya. Jadi ya lebih baik saya gunakan barang lokal saja kan, ihihihi.

Source: Pinterest

Celotehan Netizen Memperkuat Imun

Prakata

Jujur, dari semua tantangan bulanan emak gajah, ini tema Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog yang paliiiiing susah. Temanya cerita lucu. Huwaduuuuh…pelawak aja kadang bisa merasa garing sendiri kok saat mereka bercerita lucu, lah ini gimana saya.

Sebenarnya standar lucu di keluarga saya bisa dikatakan mendekati kronis, jadi bagi kami baru disebut lucu kalau ada hinaan, celaan, ataupun beberapa kebodohan yang layak untuk ditertawakan, tentunya tetap dalam batas kewajaran dan kesopanan karena jelas dalam lingkup keluarga bisa-bisa kalau terlalu kurang ajar bisa dicoret dari KK kan gawat ya :D. Oleh karena itu, sungguh sulit mencari kejadian lucu di kehidupan saya pribadi tanpa ‘mengorbankan’ orang lain, huwahahaha.

Akhirnya saya putuskan sharing sesuatu yang hampir tidak pernah gagal membuat saya senyum-senyum sendiri bahkan sampai ‘ngikik guling-guling’ :D.

Celotehan Netizen

Pasca lahiran anak kedua itu tanpa disadari stress level saya meningkat tajam. Kenapa bisa ga berasa lagi stress, karena melihat hal receh saja saya bisa ngakak guling-guling. Nah..salah satu booster oksitosin saya saat itu adalah scrolling instagram. Akun instagram yang sukses membuat saya cekikikan, bahkan sampai sekarang kok, adalah..akun di bawah ini: @fashion_nagitaslavina

Awalnya saya ngepoin akun ini ya sesuai dengan nama akun tersebut, penasaran dengan printilan yang dipakai Istri Sultan Andara ini :D. Nah..saat klik foto, pasti kebaca kan tuh beberapa komen yang memang dipin ataupun yang banyak dilike oleh netijen budiman. Jeng-jeng….ketagihan deh hobi baca komentar-komentar yang berseliweran di akun terebut :p. Nih ya saya ss beberapa celotehan netijen tersebut.

Sebenarnya harga mesin kopinya menurut saya wajar banget sih ya harga segitu (hmmm ga juga sih, yang lebih murah banyak kok bwahaha), tapi tanggapan para netizennya ini lho yang lucu. Nih ya, ada contoh lainnya lagi:

Bisa-bisanya kepikiran si iler yang galau bakalan netes atau engga di spreinya Mbak Gigi JJ. Ada benarnya juga sih, wong saya mau beli sprei di atas 100rb aja galau, makanya salah satu barang inceran di market day adalah garselan sprei yang mana rebutannya juga beuuuuu :D….

Ada juga celotehan yang memang relate banget sama kehidupan kita, contohnya ini:

Hahaha…ini benar-benar terjadi nih sama saya atau ada yang pernah ngerasain juga dimarahi sama nyonya besar karena gelas pecah atau tupperware hilang? :D.

Saya pikir mereka berkomentar lucu seperti itu hanya karena barang-barang tersebut mempunyai harga selangit, tapi barang murah pun bisa mereka komentari lho:

Sungguh lho baca komentar mereka itu hiburan tersendiri untuk saya, karena saya lebih senang baca komentar seperti ini, daripada komentar-komentar yang beraura negatif, seperti “duh sombong banget ya”, “ih mending juga dizakatin”, dan lain sebagainya. Sungguh yang komen seperti itu menurut saya sih kurang hiburan, hidupnya seperti kurang bahagia sampai harus menilai orang lain sebegitunya hanya dengan melihat di layar kaca.

Di masa pandemi seperti sekarang yang mengharuskan kita semua untuk hidup sehat dan waras, tentunya harus lebih pintar dalam menyaring mana yang layak kita baca, kita hempas, dan kita cerna. Imun kita ini sungguh sangat disayangkan apabila harus terbuang percuma karena hal-hal yang tidak penting namun kita cerna terlalu dalam. Selow aja gaesss… Kalau kata keponakan-keponakan saya sih :D.

Penutup

Keluarga Raffi Ahmad ini memang selalu jadi bahan perbincangan di jagad hiburan tanah air, ada saja celah untuk menggunjingkan keluarga mereka, tapi menurut saya mereka ini memang seperti dibentuk menjadi keluarga penghibur (dalam arti positif lho ya) Rakyat Indonesia. Saya sih ga kebayang ya apa rasanya keluarga yang dijadikan bahan konsumsi publik. Saya salut banget dengan mental keluarga ini. Semoga berkah dan pahala selalu mengalir untuk mereka yang ‘belum’ lelah menghibur kami emak-emak yang butuh tertawa receh.

ULASAN: THE MITCHELLS VS THE MACHINES

Sebelumnya untuk info saja, blog ini mengandung spoiler ya…..

Tema Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini seru hehe. Sama serunya dengan tantangan bulan lalu sih sebenarnya. Hobi nonton film, tapi bingung film mana yang layak untuk diulas di blog onyeth ini :D. Dengan tema keluarga, wuih…pastinya banyak pilihan yang bergentayangan di pikiran saya, apalagi dengan banyaknya ‘platform’ tontonan seperti Netflix, Disney, Viu, dll yang memang memudahkan kita menikmati berbagai macam film ataupun serial khususnya di masa pandemi seperi sekarang ini. HUWAAAAAAAA….rindu bioskop (T.T)!!!!! #curcol

read more….

Resep Teruntuk Nasi Sisa

Latar Belakang Pemilihan Resep

Memasak. Hmmm..Sebenarnya tema ini bukan tema yang sulit, tapi menjadi sulit di saat harus memilih salah satu resep andalan. Alhamdulillah dikaruniai suami dan anak-anak yang belum pernah menolak segala jenis masakan saya, alhamdulillah semua dibilang enak dan selalu ludes. Di sisi lain, saya jadi bingung yang layak ‘tampil’ yang mana (swombhong uwamat dah, hahaha :D).

Awalnya mau share resep menu lebaran, tapi dikarenakan lebaran ini perdana masak sendiri, beneran sendiri, jadi kebayang lah ya..bisa selesai dan rasanya enak aja udah alhamdulillah banget, jadi ga kepikiran buat foto-foto (padahal beneran enak lho endingnya, syeudih tidak ada dokumentasinya). Akhirnya diputuskan untuk sharing resep andalan di saat masih ada nasi sisa yang hampir mengering, bahkan dijadikan nasi goreng pun sudah tak mungkin, kami menamakannya Cireng Sehat. Kenapa Cireng Sehat? Karena makan ini ya kayak makan berat aja, jadi bisa banget buat cemilan bocils yang lagi ogah makan nasi, dibikin ini saja.

Mau tahu resepnya? Cussss…. *Eh iya tapi saya ga pernah nakar bahan, jadi ini saya main feeling saja ya, ihihihihi.

read more….

BIG MAGIC “Perburuan Menemukan Kehidupan Kreatif”

Latar Belakang Pemlihan Buku

Buku ini dibeli tahun 2019, jadi sekitar 2 tahun yang lalu. Baru dibaca seminggu yang lalu :D, jangan ditiru ya.. Maka dari itu beruntung ada Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog, karena kalau tidak..entah bagaimana nasib si buku ini.

Latar belakang dahulu..saya membeli buku ini karena judul dan penampakan covernya eye catching banget. Pada saat itu memang seolah-olah saya membutuhkan suntikan inspirasi agar lebih berfaedah dalam menjadi ibu rumah tangga. Semenjak resign dari dunia konsultan yang mana saya termasuk orang lapangan, hidup saya hanya di rumah dengan rutinitas yang sama dengan emosi yang kadang tak terbendung. Saya mulai merasa minim kreativitas, useless, dan gamang akan tujuan hidup. Saat pertama melihat buku ini, langsung ngeblink, langsung order. Oh iya, ini juga buku pertama yang saya beli dalam kategori non fiksi, yap..saya pencinta novel fiksi, jadi memang cukup aneh dan membutuhkan waktu yang lama untuk membuka buku ini ya karena itu, karena pada awalnya saya kurang tertarik, tapi butuh (eaaaaaaa…).

read more….

Harus ITB!!!

Cita-cita saya dari jaman masih main perosoton (sekarang juga masih denk :D) sampai SMA kelas 3 tuh tidak pernah berubah sedikitpun: DOKTER. Kenapa mau jadi dokter? Hmmm..entah ya, tapi tapi tapi kayaknya sih ini ya, lupa lupa ga inget soalnya ;p, karena dari kecil orangtua dan segala sanak saudara hamba dari penjuru negeri doyan banget ngasih kado yang berbau-bau kedokteran. Ya jubah dokter mainan lah, stetoskop mainan, ya pokoknya segala macam peritilan dokter-dokteran itu. Oh iya, selain itu orangtua hamba tuh terkadang nyelipin doktrin kasat telinga kalau di keluarga kami ini belum ada yang berprofesi sebagai dokter, meskipun mereka sendiri yakin sih katanya kalau anak perempuannya ini ga akan pernah bisa jadi dokter (lieur nyak?!? tossss :D), kenapa??? Karena jari saya panjang ramping, dimana-mana dokter tuh jarinya bantet katanya (kata emak babeh saya lho yaaa, entahlah riset macam apa yang telah mereka lakukan :))). Ya pokoknya begitu lah sedikit sejarah kenapa cita-cita tunggal saya pada saat itu pingiiiin..banget jadi dokter.

read more….