Reinkarnasi Rasa (2)

Hujan turun seperti kerumunan suara yang tak sabar. Aku berdiri di persimpangan jalan, menggenggam segepok kertas tesis yang penuh luka tinta merah. Seakan-akan kertas itu tubuhku sendiri—disayat, dicoret, dipertanyakan. Aku baru saja keluar dari ruang bimbingan yang terasa seperti arena gladiator. Dosen pembimbingku, dengan tatapannya yang tajam, menyalakan debat panjang, memaksa aku menimbang setiap kata, setiap teori, setiap kemungkinan. Dan kini aku lemas. Tubuhku serupa lampu jalan yang meredup, tersisa cahaya samar yang menggigil di bawah hujan.

Baca lebih lanjut

Lagi-lagi

Rintik gerimis di Solo perlahan menjadi hujan lebat. Aku yang memboncengmu sudah tidak terlihat lagi jalanan. Kita memutuskan berteduh jauh sebelum persilangan menuju rumahmu lagi. Dingin hujan sudah tidak terasa lagi, sebab bukankah kamu mengenggam erat telapak tanganku dengan hati-hati? Malam perlahan hadir seiring hujan yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda reda. Kacamata dengan frame berwarna perak milikmu itu basah kuyup, sebab tentu saja karena melindungi kedua matamu yang indah itu? Malam terlalu romantis untuk kita yang hanya sepasang bayangan dalam gelap. Mungkinkah kamu dihadapku merasa yang sama? Perlahan lagi, aku melihat bibirmu berujar doa demi doa, agar hujan lebat itu segera berhenti, agar kita dapat melanjutkan perjalanan yang lebih panjang lagi?

Baca lebih lanjut

Reinkarnasi Rasa (1)

Jemari kita saling menggenggam erat. Seakan tiada hal lain yang dapat memisahkan jemari kita. Kita menyatu dan bertautan satu sama lain. Kamu mempertanyakan, “Mengapa pada akhirnya kamu baru mengungkapkan rasa yang kamu yakini itu sekarang? Bahkan sebelum kepergianmu yang selama-lamanya?”

Aku yang sekarat tentu saja tak punya kesempatan lebih jauh untuk sekedar membalas tanyamu. Mulutku bisu, meski aku telah berusaha sekuat tenaga untuk sekedar membuka mulut. Semasa aku hidup sedia kala, kita hanya berbincang panjang tentang perdebatan yang tak kunjung usai. Kita saling mencinta dan membenci dalam waktu yang bersamaan, namun bukankah kita tak berani saling mengungkapkan? Aku tahu hari ini adalah hari terakhirku hidup di dunia. Namun perdebatan kita tentang reinkarnasi lalu yang telah membawaku untuk tetap percaya bahwa di kemudian hari barangkali kita bisa bersatu kembali.

Baca lebih lanjut

Sumpah & Kematian Bisma (2)

“Kamu tidak akan pernah mengerti segala kesedihanku, Bisma. Bagaikan segala hal bernama kesedihan ditumpahkan ke dalam jiwaku, betapa tiada adilnya kehidupan,” ujar Dewi Amba penuh dengan isak. “Bukankah tiada hal pantas yang dapat mengalihkan perasaan cintaku padamu, Bisma?”

Bisma diam tak bergeming. Hatinya meronta. Ia ingin segera memeluk Dewi Amba dan mengatakan bahwa sebetulnya betapa ia juga sangat mencintai wanita itu. Betapa alam semesta sebetulnya mengetahui bahwa cinta mereka saling berbalas. Namun bukankah sumpah yang keluar dari mulut Bisma beberapa tahun silam telah memberi sekat untuk cinta mereka yang sejatinya suci itu?

Baca lebih lanjut

Sihir Mata

acapkali kita dapat melihat kesedihan seseorang hanya dari sorot mata, sedikit banyak mata dapat bercerita tentang hal-hal yang tiada dapat terucap dari bibir, di dunia ini ada ribuan macam kesedihan, tapi bukankah tak sesuatupun dari kesedihan itu dapat bersembunyi dari kejujuran sorot mata?

pun dengan keindahan hati seseorang, suatu mata bahkan dapat memancarkan kejernihan hati, pernahkah kamu menimbang seseorang hanya dengan melihat bagaimana cara dia menatapmu? hanya dengan tatapan mata dari jiwa-jiwa yang tengah mencintai dengan ketulusan itu dapat bertemu

Baca lebih lanjut

Sumpah & Kematian Bisma

Detik-detik berlalu, perlahan gerimis mengguyur Tanah Kurusetra. Seiring kematian Bisma; pewaris takhta yang sepatutnya menjadi raja di dalam negerinya sendiri. Derita yang ia pikul selama hidup cukup membuat seluruh alam semesta berkabung. Bagaimanapun semesta telah kehilangan sosok prajurit dan kesatria terbaiknya. Ribuan tombak panah menikam dengan sadis menjemput ajal Bisma. Namun atas kematiannya, tak terelak ribuan cahaya yang berpancar dari tubuhnya, cahaya kedamaian yang seolah menjelaskan bahwa orang mati ini adalah orang baik semasa hidupnya. Seketika perang besar Baratayuda itu terhenti, terdiam khidmat.

Baca lebih lanjut

Selamat Jalan, Eyang Sapardi Djoko Damono

Salah satu part terberat yang aku lalui sepanjang 2020 adalah sewaktu mengetahui bahwa Eyang Dam telah tiada. Kala itu hari minggu, 19 Juli 2020, aku mendengar berita duka itu dari ibuku yang berbincang langsung dengan keluargaku di Jakarta. Sekujur badanku lemas, hingga tak ada yang dapat aku lakukan selain memaku terdiam. Sembari mataku berair, aku segera lekas memasuki kamar, menutupnya erat, dan berusaha untuk menghindari apapun. Bagaimanapun kabar bahwa Eyang Dam telah berpulang sangat membuatku bersedih dan merenungi banyak hal.

Baca lebih lanjut

Sebuah Kota dan Firasat (Cerpen)

Orang-orang berputus asa acapkali mengunjungi kota kesayanganmu itu, barangkali dari mereka ada yang ingin sekedar menghilangkan lelah, ada yang ingin menikmati nostalgia dan bertemu teman lama, ada yang sekedar penasaran, ataupun dengan sengaja membuatnya sebagai peristirahatan terakhir. Kota yang tak pernah ingin kamu tinggalkan, kota yang sebetulnya telah kamu absahkan sebagai milikmu seorang. Kotamu memang termahsyur, terkenal karena labirin kosong, ruang yang senggang, dan sudut-sudut yang sepantasnya patut membuat manusia bersedih.

Baca lebih lanjut

Tentang Menuliskan Novel untuk Seseorang (Cerpen)

Cara terbaik melupakanmu adalah dengan berhenti menuliskanmu. Itu yang aku lakukan selama ini. Agar setidaknya aku mengetahui bahwa kata demi kata tentangmu haruslah segera menguai, hilang dari pikiran hingga tak singgah lagi pada perasaan. Tentu saja, aku melalui hal-hal itu dengan penuh kepayahan. Sekali-sekali aku masih menuliskanmu, seperti kali ini. Sebab, rasa rindu yang aku tahan-tahan itu kerapkali mengendap-ngendap, lalu menyeruak begitu saja, tak dapat lagi aku bendung. Bukankah dulu cara terbaik merindukanmu adalah dengan mulai menuliskanmu?

Baca lebih lanjut