Posted: August 29, 2012 in Uncategorized

d_baonk's avatarTonk Kosonk Baonk Bunyinya

Pada bagian pertama, kita sudah belajar mengenali pokok cerita.
Entah apakah anda sudah menemukan atau menciptakan ide cerita anda sendiri, tapi anggaplah demikian.

Maka, mari kita sekarang melanjutkan perencanaan cerita pada step berikut : menentukan timeline.

Mengapa timeline?
Mengapa bukan karakter, alur cerita, atau hal-hal lainnya?

Saya ndak tahu teknik orang lain seperti apa. Satu penulis besar pada jamannya malah mengatakan “menulis saja sampai selesai.”
Anda bisa saja melakukan itu, atau melakukan rancangan dengan pola anda sendiri. Saya akan memberikan alasan, mengapa timeline menjadi penting.

Timeline, alur waktu cerita, pada hakikatnya akan memberikan banyak hal yang mendasari cerita anda.

Katakan misalnya anda memberikan timeline tahun 1990-an pada cerita anda, dimana tokoh anda dewasa (usia 25 th) di tahun 1990. Ini jelas memberikan dasar penting, bahwa tokoh anda akan lahir di tahun 1965. Menjalani masa kecil (0-5 th) di periode 1965 – 1970, menjalani masa sekolah dasar (6 – 12 th)…

View original post 1,134 more words

Dramaturgi

Posted: February 28, 2011 in bedah cerpen, elemen cerita

Sekilas mengenai dramaturgi

Pertama-tama, agar bahasan ini cukup lengkap untuk memberikan wacana tentang pentingnya dramaturgi dalam sebuah cerpen, ada baiknya kita mengenali apa itu dramaturgi.

Dalam karya seni yang berbasis tulisan, istilah dramaturgi dikenal secara umum. Pengertian sederhananya, dramaturgi adalah alur emosi dalam sebuah cerita. Ada yang mengistilahkan dengan naik-turunnya plot, atau naik-turunnya alur cerita, atau sesuai dengan kata dasarnya “drama – dramatik” dapat diartikan dramaturgi adalah naik turunnya sensasi dramatik dalam sebuah cerita.

Pengertian ini merupakan pengertian dalam konsep yang bebas, dan bukan mengacu pada telaah akademik.
Untuk telaah akademik, pengertian istilah dramaturgi dapat dilihat di sumber tulisan berikut : Dramaturgi : hiburansunyi.blogspot.com.

Jika kita sering menonton film, kita akan dapat menangkap apa itu dramaturgi dengan cukup mudah. Para sineas biasanya membuat adegan-adegan dalam alur cerita yang memancing emosi pemirsa dalam sebuah alur tangga yang naik turun. Paling gampang misalnya kita ambil contoh film James Bond sebagai satu contoh klasik.

Dalam film-film James Bond, polanya selalu sama. Menit-menit awal film biasanya pemirsa disuguhkan adegan-adegan aksi (action) yang seru. Hanya dalam hitungan satu dua menit pertama, gairah suspense / ketegangan dalam diri penonton di pacu melalui aksi sang tokoh, James Bond dalam sebuah konflik singkat. Entah mengejar tokoh jahat dalam cerita, mencegah sebuah bom meledak, atau bahkan menghabisi sekelompok musuh melalui adegan-adegan aksi yang menegangkan.

Selepas konflik singkat itu mencapai klimaks, pola para sineas yang meproduksi film-film James Bond kemudian akan mendamaikan ketegangan yang telah terbentuk dalam diri pemirsa, melalui adegan judul film (opening title), sutradara, pemain, dan kru pendukung lain, yang disuguhkan dengan gambar-gambar abstrak dilatarbelakangi lagu yang menjadi theme song film tersebut.

Dari titik klimaks kecil itulah film yang sebenarnya seperti “baru dimulai” ketika sineas akan menyuguhkan adegan-adegan yang mulai membangun dramatikanya dari bawah kembali, untuk kemudian alur dramatikanya terus dibangun kembali ke puncak. Meskipun banyak pola yang bisa dimainkan dalam membangun dramaturgi, rumusan seperti diterapkan dalam film James Bond, sering dapat kta temukan menjadi sebuah pola umum yang dianut banyak sineas.

Penggalan deskripsi di atas adalah gambaran sederhana bagaimana sosok dramatika dalam sebuah cerita.

Konsepnya sederhana, dramatika berjalan dalam sebuah alur yang bisa berupa grafik menaik sampai pada puncak, atau sebaliknya grafik menurun sampai ke dasar. Bila dalam sebuah cerita yang cukup panjang seperti novel dan film, alurnya seringkali dibentuk turun-naik begitu rupa yang memancing emosi, ketegangan, perhatian, kesedihan, atau naluri tertawa dalam pemirsa atau pembaca terpacu silih berganti.

Satu hal penting untuk menggali pemahaman kita tentang dramaturgi, adalah diwakilkan melalui sebuah pertanyaan : mengapa? Mengapa dramturgi itu menjadi begitu penting?

Secara luas, pada hakikatnya dramaturgi merupakan gambaran bagaimana kehidupan alamiah berjalan. Dalam setiap rona kehidupan, manusia selalu  melihat adanya proses drama yang berjalan dalam sebuah alur naik dan turun. Contoh sederhana misalnya fenomena alam seperti bergantinya pagi-siang-sore dan malam. Atau turunnya air hujan.

Suasana pagi dapat kita lihat sebagai awal dari setiap hari kehidupan. Awal dimana grafik emosi alam secara umum berada pada titik awal. Alam mulai “bangun” ketika pagi menjelang, semakin “sibuk” dan memuncak pada siang hari yang panas terik, tensinya akan diturunkan menjelang sore hari, hingga tensi itu akan menemukan klimaks kedamaian pada malam hari.

Hujan, sebagai satu fenomena alam juga bermain dalam pola dramaturgi yang serupa. Ada proses dimana air-air di bumi berubah menjadi gas melalui penguapan, naik ke langit akibat pemanasan, berkumpul menjadi awan, mencapai titik jenuh, hingga kemudian mencapai klimaks dengan turunnya sang titik air kembali ke bumi.

Alur naik turun adalah rumus yang umum dalam kehidupan.

Kehidupan manusia yang berawal dari bayi, berlanjut hingga remaja, dewasa dan memuncak pada usia emas, kemudian matang dan menurunkan emosinya seiring berlanjutnya usia, adalah satu hakikat kehidupan yang menjadi satu penyebab mengapa kemudian dalam karya-karya seni, manusia mengambil pola yang sama ketika menyuguhkan karya keseniannya.

Sesungguhnya bahkan bukan hanya dalam bentuk cerpen, novel atau film. Dalam hampir semua kesenian, alur dramatika dengan pola turun naik ini akan selalu bisa kita lihat. Dalam seni tari, komik, seni panggung, atau bahkan dalam lukisan dan karya kriya (ukir/instalasi), kita bisa melihat adanya perjalanan informasi dan emosi yang dibangun melalui detil-detil kecil, hingga memuncak pada satu titik pusat.

Cara membangun dramaturgi

Bagaimana cara membangun dramatika sebuah cerita?

Detil-detil adalah elemen yang membangun sebuah dramatika.
Dalam lukisan, detil-detil kecil di pinggiran lukisan bisa berfungsi sebagai elemen pembangun sehingga lukisan itu mencapai klimaksnya pada pusat gambar/pemendangan yang dinginkan pelukisnya.

Dalam karya seni berbentuk tulisan, polanya pun sama.
Membangun dramatika adalah dengan menyuguhkan kepingan-kepingan informasi. Kepingan informasi ini yang nantinya akan bermanfaat membangun emosi pembaca hingga ketika cerita sampai pada klimaks, emosi pembaca sudah dituntun sedemikian rupa untuk “bisa” selaras dengan klimkas cerita yang diinginkan.

Contoh paling sederhana justru bisa kita lihat pada cerita humor.
Ambilah satu cerita humor, dan lihat pola si pembuat cerita humor itu bertutur. Dalam sebuah cerita humor yang baik (dan sukses menghadirkan kelucuan) kita akan menemukan bagaimana kepingan informasi disuguhkans edikit-demi sedikit, hingga pada klimaks cerita, pembacanya akan dapat tertawa terbahak-bahak karena emosinya memang sudah dituntun untuk “siap tertawa.”

Pentingnya Dramaturgi

Nilai penting dari sebuah cerita dengan dramaturgi yang terjaga baik, adalah persoalan kenikmatan, dan pemahaman.
Saat kita mengapresiasi sebuah karya seni, maka kita bukan hanya melibatkan pikiran dalam konteks logika, namun juga emosi.

Dramaturgi yang terjaga akan membawa pembaca pada alunan emosi yang sesuai dengan alur cerita yang dibentuk penulis. Pembaca akan merasakan turut terbawa hanyut dalam emosi sang tokoh, dalam kedalaman konflik-konflik yang diciptakan, dan pada akhirnya turut merasakan kepuasan pada klimaks cerita yang disajikan, atau turut merasa gamang apabila penulis memutuskan untuk memberikan akhir cerita dengan anti klimaks, atau bahkan pembaca dapat berkelana dalam imajinasinya sendiri-sendiri ketika penulis menghantarkan akhir cerita dengan klimaks yang menggantung.

Sebaliknya, sebuah cerita dengan dramaturgi yang tidak terjaga, akan memberikan perasaan bingung bagi pembaca untuk dapat menangkap alur cerita, bahkan bisa akhirnya meluputkan pembaca pada pesan-pesan yang ingin ditinggalkan sang penulis.

Ini yang menyebabkan seorang penulis cerita, perlu memperhatikan dramaturgi dalam cerita yang disusunnya.

Bila ia menyodorkan sebuah konflik, maka ia perlu membangun konflik itu dengan uraian-uraian deskripsi atau dialog yang mampu menghadirkan suasana dramatik dalam tensi yang sesuai dengan alur dramaturgi.  Akibatnya, kegagalan seorang penulis untuk memperhatikan sisi dramaturgi, cerita yang dipersembahkannya akan terkesan datar, atau dapat pula campur aduk. tidak ada penekanan klimaks yang disusun secara hati-hati, sehingga pembaca bisa kebingungan ketika tiba-tiba cerita mencapai klimaks tanpa bangunan drama yang tertata.

Demikian dari uraian singkat ini, kiranya kita bisa melihat alur dramaturgi dalam cerpen-cerpen yang akan kita bedah.

Sentaby.

Gambaran Umum

Cerpen berjudul “Saritem” ini diambil dari situs Politikana.
Karya seorang member bernama emina.

Seperti tersirat dari judulnya, cerpen ini mengambil setting di Saritem, sebuah nama jalan di Bandung yang terkenal sebagai pusat bisnis seks.

Karenanya, mudah ditebak cerita cerpen ini akan berkisar tentang kehidupan wanita yang berprofesi sebagai pekerja seks komersial.

Konfliknya sendiri berpusar pada kegelisahan Aku, tokoh lelaki dalam cerpen ini yang diam-diam mencintai Nina, seorang PSK yang kebetulan “mangkal” di depan Kedai tempatnya bekerja.

Secara umum, cerpen ini ditulis dengan teknik bertutur yang baik. Menunjukkan penulis cerpen ini cukup banyak membaca dan menulis. Dalam setiap paragraf, kalimat-kalimat yang dibentuk enak dibaca, dan mudah dimengerti.

Satu kelebihan yang menarik, dalam cerpen ini penulis banyak menggunakan style kalimat-kalimat pendek yang bertautan. Kalimat seperti itu memberi kesan patah, tegas, to the point dalam memberikan informasi, namun juga menyelipkan nuansa seni tutur yang menarik.

Misalnya seperti pada akhir paragraf pembuka cerpen,

“Dia juga tidak berdandan seperti mereka. Nina seharusnya tidak berada di sana. Aku tahu itu.”

Atau bahkan sejak awal paragraf pembuka, kalimat dengan style seperti itu telah digunakan dengan kombinasi penempatan koma dan titik yang sama pada dua kalimat, dan rima yang memberi aksen pada akhir kalimat.

“Aku melihatnya pertama kali pada akhir bulan Oktober, pertengahan musim hujan yang suram. Namanya Nina, dan aku mencintainya.“

Apa yang kemudian dapat kita pelajari dari cerpen ini? Ada beberapa poin yang menjadi catatan saya, antara lain : dramaturgi yang terkait dengan konsistensi informasi yang diberikan dalam cerpen ini, jalinan informasi itu sendiri dalam konteks keutuhan sebuah cerpen, teknik penulisan (sudut penceritaan), kemudian beberapa catatan mengenai dialog, dan ending yang diberikan penulis dalam cerpen ini.

Berikut, saya akan mencoba membahasnya secara sistematis.

* * *

Dramaturgi yang tidak terjaga

Sekilas mengenai dramaturgi dapat dibaca pada artikel berikut : Dramaturgi

Bila dibagi dalam segmen-segmen paragraf, cerpen Saritem ini tersusun dalam sekitar 23 paragraf.

Paragraf awalnya sebagaimana diungkapkan di awal bedahan ini, dimulai dengan sebuah klimaks yang menyentak.

Aku melihatnya pertama kali pada akhir bulan Oktober, pertengahan musim hujan yang suram. Namanya Nina, dan aku mencintainya.

Ada sebuah sentakan dalam kepingan informasi yang langsung disodorkan penulis pada pembaca melalui kata-kata, “…dan aku mencintainya.”

Pembaca tidak dituntun untuk mengetahui lebih dahulu mengapa tokoh Aku mencintai Nina, tetapi langsung diberikan informasi tersebut, bahwa : tokoh Aku mencintai tokoh Nina.

Ini bukan pola yang haram dalam dramaturgi. Namun demikian, mengacu pada pola dramaturgi yang umum, tentunya kepingan informasi ini nanti harus dijelaskan oleh penulis agar pembaca bisa memahami mengapa si tokoh aku ini mencintai Nina. Alasan-alasan apa yang menyebabkan seorang tokoh aku sampai pada keputusan untuk “mencintai Nina”

Sayangnya dalam penceritaan kemudian, kita tidak menemukan alasan yang cukup kuat agar pembaca bisa menemukan pemahaman tersebut.

Satu catatan penting yang ingin saya gariskan di sini adalah terkait dengan sudut penceritaan.

Ada dua cara yang umum yang digunakan seorang penulis untuk mengetengahkan ceritanya.
Pertama, sudut pandang orang pertama, dimana si penulis berperan sebagai salah satu tokoh dalam ceritanya. Ini bisa menjadi tokoh utama, atau pula tokoh sampingan.
Yang kedua, adalah sudut pandang orang ketiga, dimana si penulis tidak berperan menjadi tokoh dalam cerita, melainkan menjadi pendongeng yang menceritakan sebuah cerita tentang tokoh A, B, atau C.
Sudut pandang yang ketiga, dalam naskah cerpen jarang atau sulit bisa dibentuk. Sudut pandang ini lebih dikenal umum dalam penulisan puisi, dimana penulis puisi menghadirkan tokoh dirinya secara samar. Penulis akan membahasakan puisinya seperti dialog, dengan pola tengah bercakap-cakap dengan seorang “kamu” atau “engkau”

Yang terpenting dari pengenalan sudut penceritaan ini adalah terkait dengan fungsinya.
Mengapa seorang penulis mengambil sudut penceritaan aku? Dan mengapa memilih sudut penceritaan “dia” (orang ketiga)?

Tak lain adalah terkait dengan persoalan perspektif dan konteks.

Dalam sudut penceritaan orang pertama, si penulis akan menjadi tokoh aku. Sehingga ia akan memahami betul apa yang berada dalam diri si Aku. Ia akan memahami bagaimana perasaannya, apa yang dipikirkan, dan bagaimana konflik yang dihadirkan dalam cerita mempunyai pengaruh terhadap diri si “aku”

Dengan demikian, sudut penceritaan ini akan sangat bermanfaat ketika penulis berusaha untuk menampilkan sisi-sisi kedalaman seorang tokoh, untuk mendekatkan pembaca dengan posisi sang tokoh. Mendekatkan pembaca dengan pola berpikir si “aku” sehingga pembaca dapat memahami alasan-alasan yang berkembang dalam pikiran si aku terkait konflik cerita yang dihadapi.

Kembali pada naskah cerpen Saritem, paragraf awal cerita ini menyodorkan pada pembaca satu elemen konflik yang penting. Aku dinyatakan mencintai Nina. Mengapa? Pertanyaan itu harus dijelaskan penulis pada pembaca dalam uraian-uraian paragraf berikutnya.

Penulis harus mampu memberikan gambaran bagaimana proses perasaaan dalam tokoh Aku, sehingga pembaca akhirnya bisa memahami mengapa si aku ini mencintai seorang Nina.

Sayangnya, dalam uraian cerpen berikutnya kita tidak menemukan alasan itu digambarkan dengan cukup kuat oleh penulis. Meskipun penulis terlihat jelas cukup mencoba untuk mengetengahkan alasan-alasan itu. Misalnya, dalam paragraf ketiga dituliskan sebuah alasan si aku :

Bagiku, Nina menjadi semacam penghiburan saat aku penat kerja dan aku melongok keluar jendela untuk melihatnya. Dengan melihatnya, aku mendapat kebahagiaan yang menggerakkan semangatku.

Begitupula dalam paragraf kelima dan keenam dituliskan :

Dia tampak begitu cantik. Aku tak akan menyesal seumur hidupku jika harus membuang seluruh uangku untuk bisa melihat wajahnya yang cantik itu.

Nina memiliki sepasang bola mata bercahaya bak kristal yang menakjubkan. Aku suka melihat dia tersenyum dan tertawa -tawa, dan akan ikut sedih jika melihat dia berwajah muram saat keluar dari gedung tempatnya bekerja

Cukupkah?
Sayangnya tidak demikian.

Persoalannya akan kembali pada inti konflik yang dihadirkan : bagaimana seorang lelaki, mencintai seorang perempuan yang bekerja sebagai pekerja seks komersial.

Dalam paragraf ke sepuluh, ada semacam penegasan yang diberikan penulis :

Aku tak peduli dengan keadaannya sekarang -bahwa dia sudah tidur dengan tiap laki -laki yang dia temui. Dia punya alasan melakukan itu, tapi  dia tetap seorang wanita yang mengagumkan.

Kalimat tersebut memberikan penegasan akan keputusan si aku untuk mencintai Nina. Dan memberikan satu alasan : Nina bagi si Aku adalah seorang wanita yang mengagumkan.

Mengapa mengagumkan? Ini tidak dijawab secara cukup jernih.

Pembaca tentunya akan berada dalam posisi gamang ketika membaca cerpen ini. Alih-alih bersimpati dan merasa dekat dengan tokoh Aku, memahami mengapa ia mencintai seorang pekerja seks komersial, pembaca justru bisa terjerumus dalam pemikiran untuk melabelkan predikat “bodoh” pada sang tokoh “aku”.

Hal ini terjadi karena dalam pola etika normal, pola pemikiran yang umum, seorang wanita pekerja seks komersial akan dipandang negatif. Mereka dipandang sebagai sosok yang –meskipun cantik—tetapi tidak memiliki harga diri, tidak memiliki iman yang cukup kuat, dan pandangan-pandangan negatif sejenisnya.

Akibatnya, perlu sebuah alasan yang cukup kuat bagi seorang lelaki untuk dapat mencintai seorang wanita yang berprofesi sebagai Pekerja Seks Komersial.
Alasan itu akan terasa tidak cukup bila hanya didasarkan pada poin:

Nina menjadi semacam penghiburan bagi si tokoh aku.
Nina memberikan kebahagiaan yang menggerakkan semangat tokoh aku.
Kecantikan Nina, ataupun fisiknya yang digambarkan melalui kalimat “
sepasang bola mata bercahaya bak kristal yang menakjubkan

Dan tentunya juga tidak dapat dijadikan sebuah dasar yang kuat bila diungkapkan tokoh Aku suka melihat Nina tersenyum dan tertawa -tawa, dan akan ikut sedih jika melihat Nina berwajah muram.

Mengapa?

Karena poin-poin tersebut lebih tepat menggambarkan suasana seseorang yang sudah jatuh cinta. tetapi tidak cukup kuat menunjukkan alasan “mengapa” tokoh aku bisa begitu mencintainya. Dan karena poin-poin tersebut justru akan menimbulkan pertanyaan dalam diri pembaca : mengapa Nina menjadi penghiburan bagi tokoh aku? Apakah tokoh aku kekurangan hiburan?

Mengapa tokoh Nina memberikan kebahagiaan? Apakah lingkungan kehidupan tokoh aku begitu kekurangan sosok wanita cantik? Dan mengapa tokoh aku bisa turut sedih dan senang seiring rona yang dipancarkan Nina?

Solusi : Pengembangan lebih lanjut paragraf-paragraf tersebut, memberikan informasi lebih lanjut akan suasana dan latar belakang tokoh aku akan mampu menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan tersebut dan memperkuat bangunan cerita.

Terlebih lagi pembaca bisa lebih didekatkan dengan kondisi emosi sang tokoh Aku sehingga pelabelan “bodoh” pada diri sang tokoh Aku bisa dihindarkan.

Menghindari pembaca terjerumus dalam pemikiran yang memberikan stiga buruk/negatif pada tokoh aku, menurut hemat saya sangat penting. Karena dalam pembacaan saya, penulis sesungguhnya ingin menghadirkan pesan cerita agar pembaca tidak jatuh pada penilaian negatif pada seorang pekerja seks komersial. Ia ingin menghadirkan bahwa seorang pekerja seks komersial-pun layak untuk dicintai, layak untuk diperjuangkan, karena mereka juga manusia dan memiliki hak untuk dicintai serta memiliki kelebihan-kelebihan yang juga terdapat pada manusia dengan profesi lainnya. Karenanya, dalam konteks cerpen ini, saya tidak melihat tujuan penulis adalah memang membawa pembaca pada kesimpulan “si aku ini bodoh”.

Dalam tinjauan umum tentang cerita dalam setting seperti ini, umumnya pembaca akan diberikan informasi bagaimana latar belakang seorang pekerja seks komersial, sehingga pembaca dapat “memahami” bagaimana latar belakang itu kemudian memaksa seorang wanita untuk menjadi pekerja seks komersial.

Tapi sayangnya, dengan informasi-informasi yang minim mengenai psikologi sang tokoh aku, pembaca tidak cukup dibimbing untuk dapat memahami mengapa seorang lelaki bisa mencintai seorang pekerja seks komersial.

Apakah karena ia sekadar berhati baik?
Apakah karena latar belakang tertentu dalam pengelaman hidupnya sehingga ia sanggup mencintai seorang wanita sekalipun wanita itu pekerja seks komersial?
Apakah karena ia memang buruk rupa?
Apakah justru ia punya kelainan jiwa?
Apakah ia punya dendam terhadap masyarakat sehingga ia terdorong melawan pakem umum di masyarakat dan membuatnya menjatuhkan cintanya untuk seorang PSK?

Dalam konteks dramaturgi, klimaks yang dihantamkan penulis pada pembaca di awal paragraf terlihat tidak cukup tertata dengan baik.

Paragraf selanjutnya, penulis menurunkan tensi pada bangunan ceritanya dengan mulai mendeskripsikan sosok Nina, dan setting lokasi. Tentunya ini dimaksudkan agar pembaca mulai menangkap informasi yang lebih utuh tentang gambaran sosok Nina.

Dia mengenakan gaun pendek biru muda, turun dari taksi dan masuk ke sebuah bangunan bertingkat dua di jalan itu. Ini adalah kawasan dimana kau yang mengaku diri sebagai manusia baik -baik akan mengutuknya dengan keji. Pada siang hari, kau tidak akan melihat apapun selain kehidupan biasa yang sepi di pinggiran kota. Tapi saat malam tiba, tempat ini menjadi Las Vegas. Tapi Nina tidak seperti kebanyakan wanita-wanita muda yang berdiri di pinggir jalan dan menghentikan mobil bagus yang lewat. Dia juga tidak berdandan seperti mereka. Nina seharusnya tidak berada di sana. Aku tahu itu.

Di paragraf ini sesungguhnya penulis kembali memunculkan sebuah elemen penting yang berkaitan dengan kondisi psikologis sang tokoh aku. Dituliskan “Tapi Nina tidak seperti kebanyakan wanita-wanita muda yang berdiri di pinggir jalan dan menghentikan mobil bagus yang lewat. Dia juga tidak berdandan seperti mereka. Nina seharusnya tidak berada di sana. Aku tahu itu.”

Ada sentakan misteri informasi yang dihadirkan penulis melalui deskripsi dimana tokoh aku begitu yakin bahwa sosok Nina seharusnya tidak berada di sana. Dalam konteks dramaturgi, ini adalah bangunan cerita yang memberikan detil agar dramatika cerita nanti akan mencapai pada klimaks ketika pertanyaan “mengapa tokoh aku begitu yakin Nina seharusnya tidak berada di sana” terjawab.

Dramatika ini yang seharusnya dijaga cukup baik dalam aliran cerita di paragraf-paragraf berikutnya. Pembaca harus dibimbing agar mampu memahami alasan sang tokoh aku memiliki keyakinan tersebut. Namun sayang, alur daramatika ini seperti tertinggal karena hingga akhir cerita, penulis seperti kehilangan fokus untuk menjelaskan misteri informasi yang diselipkannya di dua paragraf awal.

Paragraf ketiga, penulis memberikan kepingan informasi baru pada pembaca ketika menuliskan :

Aku selalu mengamati tiap laki-laki yang selalu membawa Nina dari kejauhan. Bagiku, Nina menjadi semacam penghiburan saat aku penat kerja dan aku melongok keluar jendela untuk melihatnya. Dengan melihatnya, aku mendapat kebahagiaan yang menggerakkan semangatku.  Aku ingin juga menemuinya dan berbicara dengannya. Kesempatan itu datang saat sebelum tengah malam Nina keluar dari gedung sendirian. Dia menundukkan wajahnya sambil memeluk jaket kulitnya. Dia sepertinya buru-buru, tapi aku menghadangnya di trotoar saat dia hendak menyetop taksi.

Dalam alur dramatika, kepingan informasi yang diberikan dalam paragraf ini malah seperti menjadi titik dramatika yang mengulang kembali dari titik dasar.

Ada pengulangan pembangunan emosi ketika pembaca disodorkan pada deskripsi bagaimana tokoh aku selalu mengamati dari kejauhan, ada pengulangan pemberian misteri informasi ketika penulis menggambarkan bagaimana melihat Nina sang tokoh aku mengalami sensasi penghiburan, kebahagiaan dan merasa bersemangat. Tetapi tidak diklimakskan dalam sebuah gambaran mengapa hal itu terjadi.

Alaih-alih menyelesaikan konflik-konflik kecil yang dibangun, penulis mengalirkan ceritanya langsung pada pertemuan. Ada informasi lain yang diberikan “Dia sepertinya terburu-buru”, tetapi dalam dialog selanjutnya tidak dijelaskan mengapa terburu-buru. Apakah karena sudah ada janji dengan lelalki lain? Atau ditunggu anaknya? atau sebab-sebab lain yang bisa dikembangkan untuk mendukung elemen cerita yang menyampaikan pesan penulis tentang sosok wanita PSK yang sejatinya juga seorang manusia.

Satu poin lagi yang tercecer, penulis seperti lupa (atau mungkin sengaja) untuk menunjukkan satu elemen penting : darimana tokoh Aku mengetahui wanita itu bernama Nina.

Dalam dialog singkat yang dituliskan, pembaca tidak memperoleh informasi tersebut.

“Kamu punya uang berapa?” tanya Nina. Aku memang tidak membawa mobil. Aku hanya punya sepeda motor.
” Tidak banyak, tapi kita bisa mengobrol saja, aku…”
“Kalau kamu tak punya uang, tolong jangan buang -buang waktuku, ok? Mengobrol saja? Kamu pikir aku tukang ngobrol?”

Dalam dialog ini ada satu catatan penting terkait konsistensi dalam sudut penceritaan. Kalimat [“Kamu punya uang berapa?” tanya Nina] dalam konteks sudut pandang penceritaan menunjukkan tokoh pencerita mengambil sudut pandang orang ketiga. Karena jika konsisten dengan sudut penceritaan orang pertama, seharusnya “tanya Nina” berbentuk “tanyanya” atau “ia bertanya dengan nada sedikit kesal” misalnya.

Satu catatan penting tentang kepingan informasi, dalam dialog singkat ini penulis memberikan informasi mengenai latar-belakang ekonomi sang tokoh Aku.Informasi ini penting, karena dalams ebuah bangunana cerpen kepingan-kepingan informasi akan menjadi kepingan puzzle yang nantinya membentuk gambaran utuh mengenai tokoh-tokoh di dalamnya, dan mengenai jalinan cerita yang disuguhkan secara keseluruhan.

Dari titik ini, pembaca akan mulai memahami bahwa tokoh Aku bukan berada dalam kondisi kemapanan ekonomi yang cukup. Yang penting untuk diingat, kepingan-kepingan informasi yang dibuat dalam pengembangan tokoh aku ini nanti seharusnya menuju pada satu titik : penjelasan mengapa tokoh aku bisa mencintai seorang pekerja seks komersial.

 

(bersambung deh… waktunya sudah habis)

 

 

NO Catatan
1. Aku melihatnya pertama kali pada akhir bulan Oktober, pertengahan musim hujan yang suram. Namanya Nina, dan aku mencintainya. Sentakan klimaks : aku mencintainya.
2. Dia mengenakan gaun pendek biru muda, turun dari taksi dan masuk ke sebuah bangunan bertingkat dua di jalan itu. Ini adalah kawasan dimana kau yang mengaku diri sebagai manusia baik -baik akan mengutuknya dengan keji. Pada siang hari, kau tidak akan melihat apapun selain kehidupan biasa yang sepi di pinggiran kota. Tapi saat malam tiba, tempat ini menjadi Las Vegas. Tapi Nina tidak seperti kebanyakan wanita-wanita muda yang berdiri di pinggir jalan dan menghentikan mobil bagus yang lewat. Dia juga tidak berdandan seperti mereka. Nina seharusnya tidak berada di sana. Aku tahu itu. 

 

3. Aku selalu mengamati tiap laki-laki yang selalu membawa Nina dari kejauhan. Bagiku, Nina menjadi semacam penghiburan saat aku penat kerja dan aku melongok keluar jendela untuk melihatnya. Dengan melihatnya, aku mendapat kebahagiaan yang menggerakkan semangatku.  Aku ingin juga menemuinya dan berbicara dengannya. Kesempatan itu datang saat sebelum tengah malam Nina keluar dari gedung sendirian. Dia menundukkan wajahnya sambil memeluk jaket kulitnya. Dia sepertinya buru-buru, tapi aku menghadangnya di trotoar saat dia hendak menyetop taksi.
4 “Kamu punya uang berapa?”tanya Nina. Aku memang tidak membawa mobil. Aku hanya punya sepeda motor. 

” Tidak banyak, tapi kita bisa mengobrol saja, aku…”

“Kalau kamu tak punya uang, tolong jangan buang -buang waktuku, ok? Mengobrol saja? Kamu pikir aku tukang ngobrol ?”

5 Dia tampak begitu cantik. Aku tak akan menyesal seumur hidupku jika harus membuang seluruh uangku untuk bisa melihat wajahnya yang cantik itu. Dia semakin cantik saat menolakku seperti itu. Aku merasa harus mengasihani diriku sendiri yang miskin. Tapi malam itu tak akan kulupakan, aku baru pertama kali melihatnya dari jarak dekat seperti itu. Dia meninggalkanku saat hujan rintik -rintik mulai turun. Dia naik taksi dengan cepat, lalu pergi.
6 Nina memiliki sepasang bola mata bercahaya bak kristal yang menakjubkan. Aku suka melihat dia tersenyum dan tertawa -tawa, dan akan ikut sedih jika melihat dia berwajah muram saat keluar dari gedung tempatnya bekerja. Aku ingin memastikan dia baik -baik saja. Tiap dia hendak pulang menjelang subuh dari gedung itu, aku mengikuti taksi-nya dari belakang. Tapi kadang -kadang aku kehilangan jejaknya saat dibelokan atau terkena lampu merah.
7 Suatu malam aku tertidur di meja kerjaku. Dan entah pukul berapa, aku mendengar suara sirine dan suara-suara gaduh di luar. Aku melihat dari jendela. Ya Tuhan, polisi ! Aku berlari keluar dan melihat orang -orang berhamburan dari dalam gedung tempat Nina bekerja. Polisi merazia tempat itu, dan menangkap semua pekerja-nya. Beberapa orang wanita, atau…apakah dia pria, entahlah, dengan dandanan minim di seret -seret dimasukkan paksa ke dalam mobil. Sebagian lagi berjejer di depan mobil, dan masuk satu -persatu ke dalamnya.
8 Bagaimana nasib Nina -ku? Aku mencemaskan dia, dan berharap dia sedang berada di luar malam itu. Aku berusaha lebih mendekat lagi agar bisa melihat para wanita itu dengan jelas. Tapi aku tak melihat Nina.
9 Seminggu setelah itu, aku tidak lagi melihat dia. Apakah dia ikut tertangkap dan mereka melakukan sesuatu yang buruk padanya? Tapi, di suatu minggu siang yang panas, saat sedang sibuk melayani pembeli, sekilas aku melihat seorang wanita bertubuh ramping melintas di depan kedaiku. Aku mengenal cara jalannya. Itu Nina. Itu pasti dia! Aku memanggil dia, dan dia menoleh ke arahku. Ternyata memang dia Nina, dan dia tampak sangat baik -baik saja. Baru kali itu aku berjumpa denganya di bawah sinar matahari bulan Nopember yang menyengat.
10 Nina, berdiri di trotoar dengan sweter krem-nya sambil tersenyum kecil padaku. Tiba -tiba aku membayangkan dia menjadi istriku dan kami hidup bahagia di kota ini. Tidak, aku akan membawanya ke kota lain, ke kota kelahiranku. Di sini mungkin terlalu banyak hal yang akan membuat dia sedih, jadi dia pasti lebih senang jika berada jauh dari sini. Aku tak peduli dengan keadaannya sekarang -bahwa dia sudah tidur dengan tiap laki -laki yang dia temui. Dia punya alasan melakukan itu, tapi  dia tetap seorang wanita yang mengagumkan. Dia tentu bisa berhenti melakukan ini, dan aku bisa menjamin semua kekhawatiran keuangannya. Aku akan mengumpulkan banyak uang, aku akan menolongnya keluar dari pekerjaan ini, dan aku yakin dia akan lebih bahagia jika tidak lagi menjadi seorang wanita panggilan kan?
11 “Sok tahu”jawab Nina saat beberapa hari kemudian dia datang ke kedaiku untuk makan siang. Dia bilang kalau dia butuh beberapa minggu untuk tidak lagi datang ke gedung itu. Saat semuanya sudah beres, dia akan mencari tempat kerja baru. Dia ikut tertangkap malam itu,tapi dia tak pernah mau bercerita apa yang terjadi dan bagaimana dia bisa keluar dari kantor polisi.
12 “Berhentilah melakukan pekerjaan itu, selalu ada pilihan lain yang lebih baik”kataku. 

“Semua orang berkata begitu”sahut Nina dengan tenang. Dia tersenyum, “kenapa kamu bisa menyimpulkan seperti itu? Aku melakukan ini karena ini pilihanku. Apakah kamu pikir semua itu bisa dilakukan dengan mudah seperti kamu sudah bosan bekerja di kedai ini, lalu kamu tinggal mengajukan surat pengunduran diri dan pergi begitu saja? Jangan memberikan hal -hal yang utopia kepadaku”

13 “Tapi kamu bisa mengusahakannya” 

“Apakah harus percaya pada seorang laki -laki yang datang padaku lalu bilang ‘aku mencintaimu, menikahlah denganku, dan kita akan hidup bahagia’? aku tidak percaya. Aku tidak percaya cinta, karena aku tidak tahu benda macam apa itu. Laki -laki akan mengikatku dengan kuat dalam kepatuhan dan ketundukan, untuk apa? Untuk memuaskan penilaian masyarakat bahwa dia sudah bisa melakukan tugas -tugas manusiamu -menikah punya anak, menyimpan aku dalam gelas kaca dan memamerkannya pada masyarakat dan keluarga?”

14 “Lagipula kamu miskin sekali. Dengan apa kita akan hidup? Cinta? Apa kita bisa makan dengan benda itu? Kita akan butuh rumah, kita akan butuh perabotan, kita akan butuh uang untuk pendidikan anak -anak. Kita butuh uang untuk merawat diri dan kesehatan kita. Apa itu cukup dengan hanya bilang ‘aku mencintaimu’ ? Apa bisa bertahan dengan mempertahankan romantisme setiap saat dengan kata -kata murahan dari cinta dan terus memimpikan dunia utopia dalam dongeng ‘bahagia selama -lamanya’? “
15 “Apa itu bahagia? Kamu tidak tahu apa yang membuatku bahagia. Kamu tidak tahu apa yang kurasakan dengan penghakiman masyarakat. Masyarakat! Jangan konyol. Kita tak bisa memiliki manusia manapun di dunia ini. Kita tak akan pernah bisa memahami orang lain dengan baik, kecuali kamu hidup dengan caranya, berpikir dengan caranya, dan menghirup udara dengan cara dia melakukannya**”
16 “Tapi aku bahagia saat melihatmu tersenyum, Nina”kataku. 

“Terima kasih. Apa kamu juga akan bahagia dengan apa yang kupilih dan kupikirkan?”

Sebenarnya aku tidak terlalu bahagia dengan pekerjaannya. Aku tak bisa bahagia dengan melihatnya bersama para laki -laki yang berganti -ganti. Menyerahkan tubuhnya begitu saja. Bagaimana kalau dia sakit?

“Tidak kan?”Nina tertawa. “Itu tidak apa -apa, kok. Lagipula aku melakukannya dengan aman”dia terbahak -bahak.

19. Aku bekerja keras siang dan malam pada beberapa bulan ini. Aku mengumpulkan uang yang lumayan. Lalu aku membeli sebuah sepatu  mungil untuk Nina. Sepatu yang sengaja kubeli dari sebuah butik paling terkenal dengan harga selangit  buatku. Sepatu itu kuberikan padanya,dan dia berkata “aku akan menerimanya dengan senang hati, tapi tolong jangan ikuti aku lagi”.
20 Aku tak bisa berkata apa -apa. Tapi aku khawatir jika tidak melihatnya lagi. Pada suatu malam yang cerah aku melihat dia masuk ke sebuah nite klab dan aku menunggunya keluar di pinggir jalan. Dingin sekali, tapi aku tidak peduli. Dan, tiba -tiba saja, aku mendengar suara ribut -ribut dari seberang jalan. Aku melihat beberapa pengendara motor berhelm hitam sedang berputar -putar di sekitar trotoar. Aku ingat peringatan adikku di rumah: geng motor yang meresahkan masyarakat. Sepertinya ini sudah tengah malam. Tapi aku terlambat.
21 Aku ingat, menjelang akhir tahun, aku semakin menua. Dan sepertinya Tuhan tidak menginginkanku hidup lebih lama dari itu. Saat aku hendak berlari, motor -motor itu mengejarku. Geng motor bisa mengejar siapa saja tanpa alasan, dan aku tahu aku bisa saja mati dengan mudah. Aku tidak ingat apa -apa lagi setelahnya, hanya rasa sakit dan perutku yang berdarah -darah.
22 Dunia ini, oh Tuhan, sudah melingkupiku dengan banyak kebahagiaan dan penderitaan. Samar -samar sebelum kesadaranku hilang, aku seperti melihat  bayangan Nina di hadapanku. Oh Nina, aku tetap mencintainya sampai saat itu. Dia berkata dengan dingin “sudah kubilang jangan mengikutiku lagi. Dasar bodoh. Tapi sepatunya sangat bagus dan mewah, terima kasih ya”.
23 Keesokan pagi, koral lokal kota itu memuat berita pada bagian bawah headline-nya : seorang laki -laki muda ditemukan tewas dipinggir jalan karena dikeroyok geng motor.